← Daftar isi Imamat (1) · bab 13/20

KURBAN SAJIAN— KRISTUS UNTUK KEPUASAN UMAT ALLAH YANG DINIKMATI BERSAMA ALLAH (3)

Pembacaan Alkitab: Im. 2:4-7, 13-16

Dalam berita ini kita akan membahas aspek selanjutnya dari kurban sajian.

IX. TIDAK BERAGI

Tidak ada ragi dalam kurban sajian (Im. 2:4-5). “Suatu kurban sajian yang kamu persembahkan kepada TUHAN janganlah diolah beragi” (Im. 2:11a). Tidak beragi melambangkan di dalam Kristus tidak ada dosa atau sesuatu yang negatif (1Kor. 5:6-8).

X. TIDAK ADA MADU, YANG AKAN MERAGI

Dalam kurban sajian tidak ada madu, yang akan meragi (Im. 2:11). Ini melambangkan bahwa di dalam Kristus tidak ada perasaan atau kebaikan alamiah. Ada dua hal dalam pemulihan Tuhan yang mengganggu saya. Yang satu adalah ambisi, yang saya anggap sebagai ragi. Yang lain adalah perasaan alamiah, yang saya anggap sebagai madu. Beberapa orang beriman mungkin mengaku bahwa kasihnya kepada satu sama lain sesuai dengan perintah Tuhan (Yoh. 13:34). Sebenarnya, kasih mereka adalah perkara perasaan alamiah dan tidak ada hubungannya dengan perintah Tuhan.

Tidak ada yang merusak hidup gereja, ministri Tuhan, dan pekerjaan Tuhan melebihi ambisi dan perasaan alamiah. Ambisi menjadi pemimpin adalah ragi, dan ragi mendatangkan kerusakan. Perasaan alamiah adalah madu, dan madu mendatangkan kebusukan.

Ambisi berhubungan erat dengan perasaan alamiah. Andaikata seorang saudara memiliki ambisi khusus. Jika ambisinya terpenuhi, dia akan senang. Jika tidak terpenuhi, dia akan tidak senang. Dia akan mengasihi setiap orang yang membantu dia mendapatkan apa yang dia dambakan. Namun, setiap orang yang menghalangi dia memenuhi ambisinya akan dianggap sebagai musuh olehnya.

Jika kita ingin melayani Tuhan untuk waktu yang lama, kita harus mohon Tuhan memurnikan kita dari ambisi dan perasaan alamiah. Tidak peduli betapa baik perlakuan kaum beriman tertentu, dan tidak peduli betapa dekat kita atau betapa lama kita telah bersama-sama, kita tidak seharusnya menjalin persahabatan dalam hidup gereja. Sebaliknya, kita harus memandang semua orang beriman sama, sebagai saudara dan saudari di dalam Tuhan. Kita seharusnya tidak berambisi, dan kita seharusnya tidak memiliki perasaan alamiah, karena perasaan demikian akan mendatangkan kebusukan.

Kurban sajian seharusnya tidak mengandung ragi atau madu. Kita harus menerima Kristus sebagai tepung halus tanpa menambahkan ragi atau madu. Kita perlu memohon Tuhan memurnikan kita supaya dalam kehidupan kita tidak ada ragi dan madu.

XI. DIBUBUHI GARAM

“Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa kurban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari kurban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam” (Im. 2:13). Garam di sini tidak umum; ini adalah garam perjanjian Allah, perjanjian yang tidak dapat dirusak dan diubah. Garam dibubuhkan, membunuh kuman-kuman, dan melindungi (menahan pembusukan).

Apakah makna rohani garam dalam kurban sajian? Sampai di sini, dalam kurban sajian kita telah melihat Roh itu (minyak), kebangkitan Kristus (kemenyan), dan keinsanian Kristus (tepung halus), tetapi kita belum melihat kematian Kristus. Kematian Kristus, salib, dilambangkan oleh garam. Karena itu, garam dalam kurban sajian mengacu kepada kematian Kristus, salib.

Dalam gereja banyak ambisi dan perasaan alamiah karena garamnya terlalu sedikit. Kita kekurangan salib Kristus, kekurangan penerapan kematian Kristus. Jika kita memiliki garam yang memadai dalam gereja, ambisi dan perasaan alamiah akan disalibkan. Selama ada salib, di sini ada garam; dan selama ada garam, kuman-kuman akan mati. Selama ada salib, ambisi dan perasaan alamiah akan disalibkan. Saya harap ini akan menjadi pengalaman kita semua. Kita seharusnya tidak memiliki ambisi, dan kita tidak seharusnya memiliki perasaan alamiah. Kita seharusnya hanya memiliki penyaliban kematian Kristus. Kemudian kita akan memiliki kerendahan hati yang murni dan kasih yang murni. Kita akan menjadi murni, dan kita akan menempuh kehidupan seperti yang ditempuh Tuhan Yesus ketika Dia di bumi, kehidupan yang tanpa ragi dan madu, tetapi penuh garam.

XII. ROTI BUNDAR DARI TEPUNG HALUS

“Apabila engkau hendak mempersembahkan persembahan berupa kurban sajian dari apa yang dibakar di dalam pembakaran roti, haruslah itu dari tepung yang terbaik, berupa roti bundar yang tidak beragi, yang diolah dengan minyak, atau roti tipis yang tidak beragi, yang diolesi dengan minyak” (Im. 2:4). Roti bundar dari tepung halus melambangkan keinsanian Kristus menjadi makanan Allah dan orang-orang yang melayaniNya.

Tepung halus tidak berbentuk, sedangkan roti bundar itu padat dan memiliki bentuk tertentu. Roti bundar ini menunjukkan pengalaman yang kuat atas Kristus. Kita boleh mengalami Kristus sebagai tepung halus, sebagai sajian tanpa bentuk. Kita boleh juga mengalami Kristus sebagai roti bundar, sebagai sesuatu yang padat dan yang berbentuk tertentu.

A. Butir Terbesar Kurban Sajian

Roti bundar dari tepung halus adalah butir terbesar dari kurban sajian. Jadi, roti bundar melambangkan bagian terbesar Kristus dalam pengalaman kita atas Dia. Dari hal ini kita melihat bahwa pengalaman atas kurban sajian berbeda-beda tingkatannya. Anda mungkin memiliki bagian dari ukuran tertentu, dan kaum beriman lain mungkin memiliki bagian dari ukuran yang berbeda.

B. Dilubangi, atau Ditusuk

Roti bundar dari tepung halus dilubangi, atau ditusuk. Pelubangan ini, penusukan ini, melambangkan jenis penderitaan Kristus dalam kehidupan insani-Nya. Dalam kehidupan insani Tuhan ada berbagai jenis penderitaan, dan pelubangan atau penusukan roti bundar, melambangkan sejenis penderitaan Kristus.

C. Tidak Beragi

Roti bundar dari tepung halus tidak beragi. Tidak beragi melambangkan tanpa dosa atau segala sesuatu yang negatif.

D. Diolah dengan Minyak

Roti bundar dari tepung halus diolah atau dibaurkan dengan minyak. Dibaurkan dengan minyak melambangkan dibaurkan dengan Roh Kudus. Keinsanian Kristus selalu dibaurkan dengan keilahian-Nya. Dalam pengalaman dan kenikmatan kita hari ini, kurban sajian tidak dapat dipisahkan dari Allah Sang Roh.

XIII. ROTI TIPIS

Kurban sajian juga dapat berupa “roti tipis yang tidak beragi, yang diolesi dengan minyak” (Im. 2:4b).

A. Berlubang, Mudah Dimakan

Roti tipis itu berlubang dan mudah dimakan. Ini melambangkan Kristus dalam keinsanian-Nya dinikmati dan dialami oleh kaum beriman muda. Kristus sebagai roti bundar baik untuk orang-orang yang kuat, dan Kristus sebagai roti tipis baik untuk orang-orang muda. Dia tersedia untuk semua umur. Puji Tuhan karena dia begitu mudah dimakan!

B. Tidak Beragi

Sekali lagi, tidak beragi melambangkan bahwa Kristus sebagai kurban sajian adalah tanpa dosa atau segala sesuatu yang negatif.

C. Diolesi Minyak

Roti tipis diolesi minyak, melambangkan bahwa Kristus diurapi dengan Roh Kudus, memiliki Roh Kudus dicurahkan di atas Dia.

XIV. TEPUNG HALUS DI ATAS PANGGANGAN

“Jikalau persembahanmu merupakan kurban sajian dari yang dipanggang di atas panggangan, haruslah itu dari tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, berupa roti yang tidak beragi. Kurban itu harus dipotong-potong, lalu kautuangkanlah minyak ke atasnya; itulah kurban sajian” (Im. 2:5-6). Dalam jenis kurban sajian ini, tepung halus adalah tanpa bentuk, bahkan bukan adonan, tetapi tepung halus di atas panggangan.

A. Tidak Beragi

Sekali lagi, tidak beragi melambangkan tanpa dosa atau hal-hal negatif.

B. Diolah dengan Minyak

Tepung halus diolah bukan dengan air, tetapi dengan minyak. Walaupun pengolahan atau perbauran ini tidak menghasilkan adonan, perbauran ini menyebabkan kurban sajian menjadi satu keping utuh. Di sini sekali lagi, dibaurkan dengan minyak melambangkan dibaurkan dengan Roh Kudus.

C. Dipotong-potong

Kurban sajian ini dipotong-potong. Ini melambangkan bahwa keinsanian Kristus adalah sempurna, tetapi tidak pernah tetap utuh. Kurban sajian ini selalu dipotong-potong. Dipotong-potong ini mengacu kepada jenis lain dari penderitaan yang Kristus lalui dalam keinsanian-Nya.

D. Dipotong-potong dengan Dituangkan Minyak di Atasnya

Dipotong-potong dengan dituangkan minyak di atasnya melambangkan Kristus diurapi dengan Roh Kudus. Di sini kita memiliki satu gambar pengalaman Kristus atas Roh Allah. Mula-mula, Dia dilahirkan dari Roh Allah (Mat. 1:18, 20). Ini adalah perkara diri-Nya dibaurkan dengan Roh. Kemudian, pada usia tiga puluh tahun, Dia diurapi dengan Roh Allah. Roh Kudus dicurahkan ke atasNya setelah Dia keluar dari air baptisan (Mat. 3:16). Karena itu, bahkan dalam kurban sajian kecil ini kita dapat melihat dua aspek dari pengalaman Kristus atas Roh Kudus.

XV. TEPUNG HALUS DI DALAM WAJAN

“Jikalau persembahanmu merupakan kurban sajian dari yang dimasak di dalam wajan, haruslah itu diolah dari tepung yang terbaik bersama-sama minyak” (Im. 2:7). Tepung halus di dalam wajan melambangkan keinsanian Kristus dalam penderitaan lainnya. Semua butir lain dalam kurban persembahan ini sama dalam makna seperti mempersembahkan tepung halus yang di panggangan.

XVI. BULIR GANDUM

Dalam ayat 14-16 kita membaca kategori lain dari kurban sajian, bulir gandum.

A. Dihasilkan dari Tuaian atas Jerih Lelah di Ladang

Bulir gandum dihasilkan dari tuaian atas jerih lelah di ladang. Ini melambangkan jerih lelah kita atas Kristus menghasilkan tuaian dengan bulir gandum. Bulir gandum sangat lembut, segar, dan enak.

B. Sebagai Hulu Hasil Bulir-bulir Gandum

Hulu hasil bulir-bulir gandum melambangkan kenikmatan yang segar atas Kristus dalam kebangkitan-Nya. Kristus adalah gandum yang ditabur ke tanah; Dia mati dan bertumbuh dalam kebangkitan untuk menghasilkan bulir-bulir gandum (Yoh. 12:24). Bulir-bulir gandum ini adalah hulu hasil kebangkitan-Nya.

C. Ditumbuk

Imamat 2:14 membicarakan “emping gandum baru”. Menurut bahasa aslinya lebih tepat diterjemahkan “gandum baru yang ditumbuk” (Red.). Kata “ditumbuk” melambangkan ditanggulangi oleh salib Kristus. Bulir-bulir gandum harus ditumbuk; yaitu, harus melalui penyaliban kematian Kristus. Ini menunjukkan bahwa jika kita mau menempuh kehidupan Kristus sebagai kurban sajian, kita tidak dapat menghindari salib. Kita perlu mengalami penumbukan; ini adalah pengalaman disalibkan melalui kematian Kristus.

D. Dengan Minyak di Atas Kurban Sajian

“Haruslah kaububuh minyak dan kautaruh kemenyan ke atasnya; itulah kurban sajian” (Im. 2:15). Minyak di atas kurban sajian melambangkan Roh Kudus dicurahkan ke atas keinsanian Kristus.

E. Dengan Kemenyan di Atas Kurban Sajian

Kemenyan ditaruh di atas kurban sajian. Seperti sudah kita tekankan, ini melambangkan keharuman kebangkitan Kristus di atas keinsanian-Nya.

F. Sebagian Emping Gandum, Sebagian Minyak, dan Seluruh Kemenyan Dibakar di Atas Mezbah

“Haruslah imam membakar sebagai ingat-ingatannya, sebagian dari emping gandumnya (gandum yang ditumbuk) dan minyaknya beserta seluruh kemenyannya sebagai kurban api-apian bagi TUHAN” (Im. 2:16). Pembakaran sebagian emping gandum, sebagian minyak, dan seluruh kemenyan di mezbah melambangkan bahwa keinsanian Kristus dalam kesegarannya, dengan Roh Kudus dan keharuman kebangkitan Kristus, dipersembahkan kepada Allah sebagai makanan untuk kepuasan-Nya. Sekali lagi kita melihat bahwa bagian kurban sajian bagian terbaik adalah untuk makanan Allah.

G. Sebagai Ingat-ingatan

Bagian Allah atas kurban sajian dipersembahkan sebagai ingat-ingatan. Ini adalah satu ingat-ingatan karena efek kepuasannya. Bagian ini begitu memuaskan rasa Allah sehingga menjadi satu ingat-ingatan.