KURBAN BAKARAN— KRISTUS UNTUK KEPUASAN ALLAH (6)
MENGALAMI KRISTUS DALAM PENGALAMAN-NYA DAN
MEMPERSEMBAHKAN KRISTUS YANG TELAH KITA ALAMI,
DAN MEMPERSEMBAHKAN DIA KEPADA
ALLAH SEBAGAI KURBAN BAKARAN
MENURUT PENGALAMAN KITA ATAS DIA
(2)
Dalam berita yang lalu kita membahas berbagai aspek Kristus dalam pengalaman-Nya sebagai kurban bakaran untuk Allah. Dalam berita ini dan berita selanjutnya, kita akan membahas pengalaman kita atas Kristus dalam pengalaman-Nya.
II. PENGALAMAN KITA ATAS KRISTUS DALAM PENGALAMAN-NYA
Kurban bakaran bukan perkara yang remeh, tetapi perkara yang sangat berbobot, penting. Kata Ibrani yang diterjemahkan “kurban bakaran” secara harfiah berarti “yang membubung” dan karena itu menunjukkan sesuatu yang naik ke Allah. Apakah yang ada di bumi ini yang dapat naik ke Allah? Satu-satunya hal yang dapat naik ke Allah dari bumi adalah kehidupan yang ditempuh oleh Kristus, sebab Dia adalah persona yang unik yang menempuh hidup yang mutlak untuk Allah.
Dalam diri kita sendiri, kita tidak dapat menempuh hidup yang mutlak untuk Allah. Baru-baru ini, saya memiliki perasaan yang dalam bahwa bahkan kekudusan kita dan pengakuan dosa kita itu kotor, tidak murni. Kita, manusia, bukan apa-apa, hanyalah kotoran. Apa yang keluar dari diri kita adalah kotor; segala sesuatu yang kita jamah menjadi kotor. Karena itu, menurut perlambangan dalam Alkitab, bahkan ketika kita datang kepada Allah untuk melakukan hal yang paling kudus pun kita masih memerlukan kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah. Setiap kali saya mengucapkan firman kudus, saya benar-benar merasakan bahwa saya memerlukan kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah, dan saya bersandar dalam pembasuhan dan pembersihan Tuhan.
Kurban bakaran menunjukkan satu kehidupan yang mutlak untuk Allah. Kehidupan demikian mutlak berasal dari sumber yang murni, tanpa unsur kejatuhan, tanpa cacat, dan tanpa dosa. Jenis kehidupan ini murni dan kudus. Dalam diri sendiri, kita tidak dapat menempuh hidup semacam ini. Kita telah jatuh sampai tingkat sedemikian bahwa kita telah menjadi dunia, yang kotor sama sekali. Sebenarnya, dunia adalah diri kita sendiri; kita adalah dunia. Setiap bagian dari substansi kita, esens kita, serat kita, dan unsur kita adalah kotor. Kita tidak pernah dapat menjadi kurban bakaran untuk Allah. Karena itu, kita harus menerima Kristus sebagai kurban bakaran. Ditinjau dari situasi kita, kurban bakaran adalah untuk pendamaian (Im. 1:4). Kita perlu pendamaian melalui darah Kristus sebagai kurban bakaran. Untuk menerima Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah kita, kita tidak perlu mengalami apa yang Kristus alami. Namun, untuk menerima Kristus sebagai kurban bakaran, kita perlu mengalami apa yang Kristus alami. Mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakaran tidak akan berkhasiat tanpa kita memiliki pengalaman atas pengalaman-Nya sebagai kurban bakaran. Berapa banyak kita dapat mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakaran, terletak pada berapa banyak kita mengalami Dia sebagai kurban persembahan ini.
Seseorang tidak perlu mengalami Kristus agar dapat mempersembahkan Dia kepada Allah sebagai kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah. Seorang dosa mungkin mendengar Injil, bertobat, dan berkata, “Ya Allah, belas kasihani aku! Aku menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatku.” Orang dosa yang berdoa seperti ini segera diampuni, sebab dia tidak dituntut untuk mengalami Kristus. Orang dosa yang bertobat itu hanya menerima Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban penebus salahnya. Kurban bakaran sama sekali berbeda dengan kedua kurban itu. Kita dapat menerima Kristus sebagai kurban bakaran hanya sampai tingkat kita mengalami Dia dalam pengalaman-Nya.
Saya perlu waktu bertahun-tahun untuk memahami bahwa persembahan kita akan Kristus sebagai kurban bakaran tidak dapat melebihi pengalaman kita atas Dia sebagai kurban persembahan ini. Mengenai perkara ini, Kitab Imamat belum terbuka untuk saya, walaupun hal ini telah dibuka dalam pengertian bahwa saya telah mempelajari pengajaran Kaum Saudara tentang kurban-kurban persembahan. Akhirnya saya diterangi dan melihat bahwa pasal-pasal dalam Kitab Imamat yang membahas kurban-kurban persembahan tidak mewahyukan apa adanya Kristus dalam totalitas sebagai kurban bakaran, tetapi sebaliknya mewahyukan bagaimana mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakaran. Persembahan kita atas Dia adalah berdasarkan pengalaman kita atas Dia. Jika kita tidak mengalami segala sesuatu Kristus dalam pengalaman-Nya sebagai kurban bakaran, kita tidak dapat mempersembahkan Dia kepada Allah sebagai kurban bakaran.
Kristus sebagai kurban bakaran sepenuhnya mengacu kepada kemutlakan-Nya terhadap Allah. Dalam semua pengalaman-Nya sebagai kurban bakaran untuk Allah, Kristus adalah manusia sejati yang mutlak untuk Allah. Inilah alasannya Dia dapat menjadi pengganti semua kurban persembahan. Dia adalah kurban bakaran yang melayakkan-Nya menjadi kurban penghapus dosa. Jika Kristus bukan kurban bakaran, Dia tidak memenuhi syarat untuk menjadi kurban penghapus dosa.
Sebagai kurban bakaran, Kristus disembelih, dikuliti, dan dipotong menurut bagian-bagian tertentu. Mengapa Dia rela dibunuh? Karena Dia mutlak terhadap Allah. Mengapa Dia rela dilucuti dan dipotong menurut bagian-bagian tertentu? Karena Dia mutlak terhadap Allah. Alasan kita tidak mau disembelih, dilucuti, dan dipotong menurut bagian-bagian tertentu adalah karena kita tidak mutlak terhadap Allah.
Mengapa orang-orang Kristen masih bermasalah dalam kehidupan keluarga? Mengapa ada masalah-masalah di antara saudara dan saudari dalam gereja dan di antara para penatua dan sekerja? Kalau kita semua telah beroleh selamat dan mengasihi Tuhan Yesus, seharusnya tidak ada masalah apa pun. Tidaklah aneh kalau ada masalah di antara orang yang belum beroleh selamat dalam masyarakat, tetapi mengapa ada masalah di antara kaum beriman dalam gereja? Alasan kita bermasalah dalam kehidupan pernikahan dan dalam kehidupan gereja adalah kita tidak mutlak untuk Allah.
Bahkan dalam melakukan sesuatu untuk Allah, sepasang suami istri bisa berbantahan dan bertengkar. Seorang saudara dan saudarinya sama-sama mengasihi Tuhan, tetapi mereka masih cekcok, bahkan dalam hal mengasihi Tuhan. Mereka juga berbantahan tentang mempersembahkan uang kepada Allah. Satu pihak mungkin ingin memberi sejumlah uang untuk tujuan tertentu, tetapi pihak lainnya ingin uang itu diberikan untuk tujuan lain. Kadang-kadang seorang saudara tidak sependapat dengan istrinya atas kidung apa yang dipakai dalam memuji Tuhan di sidang kelompok. Karena perbedaan pendapat ini, sidang jadi rusak. Percekcokan ini dikarenakan kurang mutlak untuk Allah.
Dalam Kisah Para Rasul 15 kita melihat bahwa ada masalah di antara Barnabas dengan Paulus (ayat 35-39). Barnabaslah yang membawa Paulus dari Tarsus ke dalam persekutuan Tubuh (Kis. 9:26-28). Barnabas jugalah yang mencari Saulus di Tarsus dan membawa dia ke dalam ministri Perjanjian Baru (Kis. 11:25-26). Namun, dalam Kisah Para Rasul 15, setelah memperoleh kemenangan atas masalah sunat, mereka berpisah satu sama lain. Kita mungkin memberikan alasan yang berbeda untuk perpisahan ini, tetapi di mata Allah, masalah-masalah itu disebabkan oleh satu hal, tidak mutlak terhadap Allah.
Karena Kristus sungguh-sungguh mutlak untuk Allah dan kita mutlak untuk Allah hanya sampai tingkat tertentu, maka kita tidak dapat mengalami Kristus sebagai kurban bakaran kita sampai puncaknya. Kita mungkin merasa mutlak untuk Allah, tetapi kita sebenarnya belum sepenuhnya mutlak untuk Dia. Karena itu, kita hanya dapat mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban bakaran secara terbatas.
Jika kita mau mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban bakaran, kita perlu mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya, dan kemudian, menurut pengalaman kita atas Kristus, mempersembahkan kepada Allah Kristus yang telah kita alami. Andaikata dalam kehidupan per-nikahan kita dan dalam hidup gereja kita, kita mengalami Kristus dalam hal dibawa ke pembantaian, maka tidak akan ada percekcokan dalam kehidupan pernikahan dan masalah dalam hidup gereja kita. Selama kita masih cekcok dengan pasangan kita, kita tidak dapat mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban bakaran dalam sidang-sidang gereja, karena kita tidak mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya disembelih. Jika kita tidak mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya sebagai kurban bakaran untuk Allah, semua pembicaraan kita tentang Kristus sebagai kurban bakaran akan sia-sia. Kita tidak akan memiliki kurban bakaran untuk dipersembahkan kepada Allah tanpa kita mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya. Sekarang mari kita membahas secara rinci pengalaman kita atas Kristus dalam pengalaman-Nya sebagai kurban bakaran untuk kepuasan Allah.
A. Dalam Hal Dibawa ke Pembantaian
Jika kita mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya sebagai kurban bakaran untuk Allah, kita akan menyadari bahwa kita, seperti Kristus, harus dibawa ke pembantaian. Kita dapat menerapkan hal ini kepada kehidupan pernikahan. Dalam percekcokan antara suami dengan istri, jika keduanya, atau salah satu dari mereka, mau mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya dibawa ke pembantaian, percekcokan akan ditelan. Hasil yang sama akan terjadi pada masalah dalam gereja, jika dalam hidup gereja kita mengalami Kristus dalam hal dibawa ke pembantaian.
Jika kita tidak melawan, tetapi membiarkan orang lain membawa kita ke pembantaian, kita akan mengalami Kristus dalam kematian-Nya. Dalam Filipi 3:10 Paulus berkata, “Mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Dibawa ke pembantaian adalah mengambil langkah diserupakan dengan kematian Kristus. Ini berarti memiliki kehidupan yang berbentuk teladan yang diberikan kepada kita oleh Kristus, ketika Dia tidak melawan tetapi berdiam diri membiarkan orang lain membawa-Nya ke pembantaian. Kristus dibawa ke pembantaian di Golgota, tetapi bukan hanya waktu itu Dia dibawa ke pembantaian. Seluruh kehidupan Kristus, khususnya tahun-tahun ministri-Nya, adalah kehidupan yang dibawa ke pembantaian.
Kehidupan orang Kristen seharusnya menjadi kehidupan kurban bakaran. Kurban bakaran ini, tentu saja tidak mengacu kepada diri kita, melainkan kepada Kristus. Karena itu, kehidupan orang Kristen sesungguhnya adalah kehidupan Kristus sebagai kurban bakaran. Paulus menempuh kehidupan demikian. Itulah sebabnya dia dapat berkata, “Ikutilah teladanku, sama seperti aku juga mengikuti teladan Kristus” (1Kor. 11:1). Paulus menempuh kehidupan yang mengulang kehidupan kurban bakaran yang Kristus tempuh ketika Dia ada di bumi. Ini adalah perkara mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya sebagai kurban bakaran.
Dalam Kisah Para Rasul 21, kita melihat bahwa Paulus mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya dibawa ke pembantaian. Paulus pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi gereja di sana. Dia bertemu dengan Yakobus dan semua penatua, menceritakan kepada mereka hal-hal yang Allah kerjakan di antara bangsa bukan Yahudi melalui ministrinya. Kemudian mereka berkata kepada Paulus, “Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka mendengar tentang engkau bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa, sebab engkau mengatakan, supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat istiadat kita” (Kis. 21:20-21). Para penatua selanjutnya mengusulkan Paulus untuk pergi ke bait bersama empat orang yang bernazar, menyucikan diri bersama mereka, dan menanggung biaya mereka supaya semua orang tahu bahwa Paulus bertindak dengan benar, memelihara hukum Taurat (Kis. 21:23-24). Paulus menerima usulan mereka dan pergi bersama empat orang ke Bait Allah. Namun, Tuhan tidak membiarkan situasi itu. Dalam kedaulatan-Nya, Ia mengizinkan kekacauan terjadi yang menyebabkan Paulus dibelenggu oleh orang Romawi. Orang Yahudi dari Asia melihat Paulus di dalam Bait Allah, lalu “menghasut rakyat dan menangkap dia” (Kis. 21:27). Seluruh kota gempar, dan orang menangkap Paulus dan “menyeretnya keluar dari Bait Allah” (Kis. 21:30). Mereka yang menangkap Paulus secara demikian “berupaya untuk membunuh dia” (Kis. 21:31). Akhirnya, kepala pasukan mendekat dan “menangkapnya dan menyuruh mengikat dia dengan dua rantai” (Kis. 21:33) dan karena gaduh, “menyuruh membawa Paulus ke markas” (Kis. 21:34). Seluruh rakyat berbondong-bondong mengikuti dia, sambil berteriak, “Enyahkan dia!” (Kis. 21:36). Di sini kita melihat bahwa Paulus benar-benar mengalami dibawa ke pembantaian; dia mengalami apa yang Tuhan Yesus alami.
Mungkin Anda heran bagaimana Anda dapat mengalami dibawa ke pembantaian. Jika Anda mau menempuh hidup kurban bakaran, Anda mungkin kadang-kadang mengalami dibawa ke pembantaian oleh saudara-saudara dalam gereja. Selain itu, seorang saudara mungkin dibawa ke pembantaian oleh istrinya, dan seorang saudari, oleh suaminya. Hal-hal demikian sering terjadi dalam kehidupan orang Kristen. Jika Anda tidak pernah dibawa ke pembantaian, Anda bukan peniru Kristus. Jika Anda menempuh hidup yang Kristus tempuh, Anda tidak dapat menghindari dibawa ke pembantaian. Anda akan dibawa ke pembantaian lagi dan lagi.
Jika Anda tidak mengalami pengalaman Kristus dibawa ke pembantaian, kurban bakaran Anda hanya berupa dua ekor burung merpati. Namun, semakin Anda memperhidupkan Kristus, Anda akan makin menempuh hidup yang dibawa ke pembantaian. Kristus menempuh hidup semacam itu, dan sekarang Dia hidup di dalam Anda untuk mengulangi kehidupan-Nya. Pengulangan kehidupan-Nya dalam Anda menjadi pengalaman Anda atas Kristus dalam pengalaman-Nya.
B. Dalam Hal Disembelih
Akhirnya, Kristus disembelih; Dia diletakkan ke dalam kematian. Hari ini kita dapat mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya disembelih. Paulus menyebut pengalaman ini dalam 2Korintus 4:11, ketika dia berkata, “Kami . . . terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus.” Diserahkan kepada maut adalah disembelih. Jika kita mengalami Kristus dalam penyembelihan-Nya, kita akan memiliki sesuatu dari Kristus untuk dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban bakaran.
Dalam Filipi 3:10, Paulus membicarakan tentang diserupakan dengan kematian Kristus. Kristus disalibkan, dan hari ini kita disalibkan. Kita disalibkan adalah perihal diserupakan, disesuaikan dengan kematian Kristus. Hari demi hari kita dibunuh. Maka, di satu aspek, seorang Kristen bukan sedang menempuh hidup, tetapi sedang menempuh kematian. Saya pernah membaca buku berjudul “Mati untuk Hidup”. Setiap hari kita mati untuk hidup; kita diletakkan pada kematian supaya kita dapat hidup.
Kita perlu menerapkan kepada situasi kita setiap hari pengalaman Kristus yang dibawa ke pembantaian dan disembelih. Jika kita menerima belas kasihan dari Allah untuk mengalami Kristus dalam hal dibawa ke pembantaian dan disembelih, kita tidak akan memiliki masalah dalam kehidupan keluarga kita atau hidup gereja kita. Alasan kita masih memiliki masalah dengan orang lain adalah kita tidak mau mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya.
C. Dalam Hal Dikuliti
Kita juga dapat mengalami Kristus dalam hal dikuliti, yaitu, dalam dilucuti penampilan luaran dari kebajikan-kebajikan insani-Nya. Menguliti kurban persembahan adalah mengambil penutupnya. Dalan tafsiran rohani dari lambang ini, dikuliti sama dengan difitnah. Contoh dikuliti ini, difitnah, dapat ditemukan dalam Yohanes 8:48 dan Markus 3:22. Dalam Yohanes 8:48 orang-orang Yahudi menjawab Tuhan Yesus, “Bukankah benar kalau kami katakan bahwa Engkau orang Samaria dan kerasukan setan?” Menurut Markus 3:22, ahli-ahli Taurat berkata tentang Dia, “‘Ia kerasukan Beelzebul,’ dan, ‘Dengan pemimpin setan Ia mengusir setan.’” Pada kedua peristiwa ini Tuhan Yesus difitnah, dilucuti penampilan luaran dari kebajikan-kebajikan insani-Nya.
Sejumlah ayat menunjukkan bahwa kita dapat mengalami Kristus dalam hal dilucuti. Kisah Para Rasul 24:5 dan 6 mengatakan, “Kami dapati bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan . . . malahan ia mencoba melanggar kekudusan Bait Allah.” Di sini kita melihat bahwa Paulus dituduh sebagai penyakit sampar, penuh kuman yang menular. Sebenarnya Paulus adalah seorang manusia yang baik yang tidak mau merugikan orang lain. Paulus juga dituduh menimbulkan kekacauan, menyebabkan perpecahan ke mana pun dia pergi. Selain itu, dia dituduh mencoba melanggar kekudusan Bait Allah. Betapa beratnya fitnahan yang dia alami! Dalam 2Korintus Paulus menunjukkan bahwa fitnah tentang dia tersebar luas. Fitnah adalah sesuatu yang mempermalukan, melucuti orang dari ekspresi luaran kebajikan-kebajikan insaninya.
Dalam 2Korintus 12, orang-orang Korintus, anak-anak rohani Paulus yang dilahirkannya melalui Injil, menuduh Paulus licik dalam perkara uang. Mereka menyatakan bahwa dengan tipu muslihat, Paulus mengambil keuntungan dari mereka, memakai Titus sebagai perwakilan untuk mendapatkan uang dari mereka (2Kor. 12:16-18). Di sini kita melihat bahwa Paulus difitnah bahkan oleh anak-anak rohaninya.
“Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (Mat. 5:11). Dengan perkataan ini Tuhan Yesus menubuatkan bahwa pengikut-Nya akan difitnah dan dianiaya dan disalahpahami. Ini benar-benar pengulitan yang sesungguhnya, pelucutan reputasi baik kita yang menyebabkan kita ditelanjangi, tidak memiliki apa-apa untuk menutupi kita. Jika kita menempuh hidup kurban bakaran, kita tidak akan dapat menghindari hal ini. Menurut Perjanjian Baru, nasib kita sebagai pengikut Kristus adalah dikuliti, mengalami Kristus yang dikuliti.
Setiap kali orang lain berbicara negatif tentang Anda, Anda dikuliti. Apa yang akan Anda katakan ketika Anda dikuliti, ketika Anda difitnah? Anda seharusnya tidak berkata apa-apa. Jika Anda mengatakan sesuatu untuk kepentingan Anda, itu adalah tanda bahwa Anda tidak mau mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya dikuliti.
D. Dalam Diri-Nya yang Dipotong
Menurut Bagian-bagian Tertentu
Hari ini kita bahkan dapat mengalami Kristus dalam diri-Nya yang dipotong menurut bagian-bagian tertentu. Satu Korintus 4:13 mewahyukan bahwa Paulus mengalami hal ini. “Kalau kami difitnah . . . kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.” “Kotoran” dan “sampah” adalah sinonim. Kotoran menunjukkan apa yang dibuang dalam pembersihan; limbah. Sampah menunjukkan sesuatu yang disingkirkan; barang buangan. Menjadi sampah dunia dan kotoran segala sesuatu adalah dipotong menurut bagian-bagian tertentu.
Menurut Anda, semakin Anda mengikuti Tuhan Yesus, Anda semakin dihormati dan ditinggikan oleh orang lain? Dalam satu aspek mungkin Anda dihormati, tetapi dalam aspek lain Anda akan diperlakukan seperti sampah dan kotoran. Ini adalah pengalaman Kristus. Murid-murid-Nya menghormati Dia dan menjunjung tinggi Dia, tetapi bagi para penentang, yang memotong Dia menurut bagian-bagian tertentu, Dia adalah sampah dan kotoran. Mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya sebagai kurban bakaran untuk Allah adalah mengalami Dia dalam pengalaman-Nya dipotong menurut bagian-bagian tertentu.