← Daftar isi Imamat (1) · bab 7/20

KURBAN BAKARAN— KRISTUS UNTUK KEPUASAN ALLAH (5)

MENGALAMI KRISTUS DALAM PENGALAMAN-NYA DAN

MEMPERSEMBAHKAN KRISTUS YANG TELAH KITA ALAMI,

DAN MEMPERSEMBAHKAN DIA KEPADA

ALLAH SEBAGAI KURBAN BAKARAN

MENURUT PENGALAMAN KITA ATAS DIA

(1)

Banyak dari apa yang telah kita bahas dalam beritaberita yang lalu mengenai kurban bakaran bersifat doktrinal. Karena itu, saya berbeban supaya kita melihat kurban persembahan ini berdasarkan pengalaman. Dalam berita ini kita akan membahas Kristus dalam pengalaman-Nya sebagai kurban bakaran bagi Allah. Dalam berita selanjutnya kita akan membahas pengalaman kita atas Kristus dalam pengalaman-Nya.

Bagian kedua dari judul berita ini tidak lazim, bahkan khas: “Mengalami Kristus dalam Pengalaman-Nya dan Mempersembahkan Kristus yang telah Kita Alami, dan Mempersembahkan Dia kepada Allah sebagai Kurban Bakaran menurut Pengalaman Kita atas Dia.” Judul ini memiliki tiga butir. Butir pertama adalah mengalami Kristus dalam pengalaman-Nya; butir yang kedua adalah mempersembahkan Kristus yang telah kita alami; dan yang ketiga adalah mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban bakaran menurut pengalaman kita atas Dia. Di sini kita akan menekankan fakta bahwa kita tidak dapat mempersembahkan Kristus yang belum kita alami kepada Allah. Jika Anda mencoba mempersembahkan Kristus yang belum Anda alami sebagai kurban bakaran kepada Allah, Anda akan menemukan bahwa ini tidak mungkin. Apa yang kita persembahkan dari Kristus sebagai kurban bakaran harus menurut pengalaman kita. Jika kita mengalami Kristus sebagai lembu, kita dapat mempersembahkan Dia sebagai lembu. Namun, jika kita mengalami Kristus hanya sebagai dua ekor burung merpati, kita tidak dapat mempersembahkan Dia sebagai lembu, karena kita belum mengalami Dia sebagai seekor lembu. Kita tidak dapat mempersembahkan Kristus yang lebih besar daripada Kristus yang kita alami sebagai kurban bakaran kepada Allah. Kita harus mempersembahkan Kristus kepada Allah, tetapi kita harus mempersembahkan Kristus menurut pengalaman kita atas Dia.

I. KRISTUS DALAM PENGALAMAN-NYA

SEBAGAI KURBAN BAKARAN BAGI ALLAH

Sekarang mari kita membahas Kristus dalam pengalaman-Nya sebagai kurban bakaran bagi Allah, dengan membaca sejumlah ayat yang mewahyukan berbagai aspek pengalaman Kristus. Kristus mengalami banyak hal agar dapat menjadi kurban bakaran bagi Allah.

A. Dibawa ke Pembantaian

Yesaya 53:7 menubuatkan bahwa Kristus akan dibawa untuk disembelih. Dia “seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian.” Penggenapan nubuat ini dapat dilihat dalam Matius 27:31. Di sana kita diberi tahu bahwa tentara “membawa Dia ke luar untuk disalibkan.”

Ayat Perjanjian Baru lainnya yang menyebutkan Kristus dibawa ke pembantaian adalah Filipi 2:8, ayat yang memberi tahu kita bahwa Kristus taat “sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Kristus taat ketika Dia dibawa ke luar kota ke tempat pembantaian, Golgota.

B. Disembelih

Setelah Pilatus menghakimi Tuhan Yesus dan tidak menemukan kesalahan apa-apa pada Dia, Pilatus ingin melepaskan Dia. Namun, rakyat berteriak, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” (Luk. 23:21), dan suara mereka menang. Karena takut dan ingin menyenangkan orang banyak, Pilatus menghukum mati Tuhan Yesus. Kemudian Tuhan dibawa ke tempat pembantaian dan dibunuh di kayu salib. Dalam Kisah Para Rasul 2:23 Petrus menyebutkan hal ini. “Dia . . . telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka.” Karena mereka membunuh Tuhan Yesus berarti mereka menyembelih Dia.

Bertahun-tahun yang lalu saya membaca artikel tentang bagaimana orang Yahudi menyembelih domba pada hari Paskah. Menurut artikel itu, seekor domba diikatkan pada dua potong kayu yang diatur membentuk salib, dengan dua kaki diikat pada satu tiang dan dua kaki diikat pada kayu lintang. Kemudian domba itu dibunuh. Ini menunjukkan bahwa penyaliban Tuhan menjadi penggenapan cara, lambang penyembelihan domba Paskah.

C. Dikuliti (Dilucuti)

Kristus juga dikuliti, dilucuti penampilan lahiriah-Nya berupa kebajikan-kebajikan insani-Nya. Satu contoh pengulitan ini terdapat dalam Matius 11:19. “Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum.” Perkataan demikian tentang Tuhan Yesus melucuti penampilan kebajikan-kebajikan-Nya. Dia bukan seorang pelahap atau peminum; sebaliknya, Dia adalah manusia yang tepat dengan perilaku yang tepat.

Contoh lain dari dikuliti, dilucuti, terdapat dalam Markus 3:22 dan Yohanes 8:48. Dalam Markus 3:22 ahli Taurat berkata tentang Tuhan Yesus, ’”Ia kerasukan Beelzebul,’ dan, “Dengan pemimpin setan Ia mengusir setan.’” Beelzebul berarti “dewa lalat” dan mengacu kepada Satan, Iblis. Lalat hidup, tetapi najis. Ahli Taurat seolah-olah mengatakan bahwa Tuhan Yesus najis dan Dia mengusir setan oleh raja lalat. Sungguh menghujat! Dalam Yohanes 8:48 orang Yahudi berkata kepada Dia, “Bukankah benar kalau kami katakan bahwa Engkau orang Samaria dan kerasukan setan?” Seorang Samaria adalah seorang yang memiliki darah campuran. Maka, Tuhan Yesus dituduh seorang campuran dan kerasukan setan. Ini juga semacam pelucutan. Dalam Matius 26:65, imam besar berkata kepada Tuhan Yesus, “Ia menghujat Allah . . . Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya.” Ini juga pelucutan ekspresi luaran dari kebajikan-kebajikan insani Tuhan.

Akhirnya ketika Tuhan Yesus akan dibunuh, pakaian-Nya ditanggalkan (Mat. 27:28). Betapa memalukan hal ini! Selain itu, ketika tentara menyalibkan Dia, “. . . mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi” (ayat 35). Ini telah dinubuatkan dalam Mazmur 22:19 dan hal ini digenapkan dalam kehadiran Tuhan ketika Dia disalibkan. Pelucutan yang dialami Tuhan Yesus sangat luar biasa!

D. Dipotong Menurut Bagian-bagian Tertentu

Kapan dan di mana Tuhan Yesus dipotong menurut bagian-bagian tertentu? Saya percaya bahwa hal ini terjadi ketika orang membicarakan hal jahat kepada Dia ketika Dia tergantung pada kayu salib. Perhatikan Markus 15:29-32. “Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata, ‘Hai Engkau yang mau meruntuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!’ Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olok Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata, ‘Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu sekarang supaya kita lihat dan percaya.’ Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga.’” Orang-orang yang lewat memutarbalikkan perkataan Tuhan mengenai bait dan menyuruh Dia menyelamatkan diri-Nya. Bukankah ini semacam pemotongan? Ya, inilah pemotongan. Tuhan Yesus juga mengalami pemotongan ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencemooh Dia, menyuruh Dia turun dari salib supaya mereka lihat dan percaya. Bahkan orang-orang yang di-salibkan bersama Dia mencela Dia dan karenanya berbagian dalam pemotongan.

Pemotongan ini dinubuatkan dalam Mazmur 22:17 dan 18. “Sebab anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku . . . mereka menonton, mereka memandangi aku.” Nubuat ini digenapkan selama tiga jam pertama dari enam jam Tuhan Yesus disalibkan. Sebelum Dia dihakimi oleh Allah karena perbuatan kita selama tiga jam kedua, Dia dipotong oleh manusia selama tiga jam pertama. Karena itu, Kristus disembelih, dikuliti, dan dipotong menurut bagian-bagian tertentu.

E. Pengalaman-Nya dalam Hikmat (Kepala)

Pengalaman Kristus dalam hikmat dilambangkan oleh kepala kurban bakaran. Sebagai anak-anak, Tuhan Yesus bertumbuh dan dipenuhi hikmat (Luk. 2:40), dan bertambah hikmat-Nya (ayat 52). Pada perjalanan ministri-Nya, Tuhan Yesus mengucapkan banyak peribahasa dan perkataan hikmat. Sebagai contoh, dalam Markus 9:40 Dia berkata, “Siapa saja yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita,” dan dalam Matius 12:30 Dia berkata, “Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.” Perkataan ini tidak bertentangan. Peribahasa dalam Markus 9:40 membicarakan keserasian luaran dalam pelaksanaan dan berkaitan dengan orang yang tidak menentang Dia; peribahasa dalam Matius 12:30 membicarakan kesatuan tujuan batiniah dan berkaitan dengan orang yang menentang Dia. Untuk mempertahankan kesatuan batiniah, kita perlu melaksanakan perkataan dalam Injil Matius; dan untuk keserasian luaran kita harus melaksanakan perkataan dalam Injil Markus, mentoleransi kaum beriman yang berbeda dengan kita.

Peribahasa dalam Markus 9:40 disampaikan dalam peristiwa adanya orang yang bukan pengikut Tuhan dan murid-murid, namun mengusir setan-setan dalam nama-Nya. Murid-murid melarang dia karena dia tidak mengikuti mereka (ayat 38). Ketika Tuhan Yesus mendengar hal ini, Dia berkata, “Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorang pun yang telah mengadakan mukjizat demi nama-Ku dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Siapa saja yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (ayat 39-40). Murid-murid tidak perlu melarang orang itu mengusir setan-setan dalam nama Tuhan. Mengenai keserasian luaran dalam pelaksanaan, orang yang tidak melawan Tuhan dan murid-murid-Nya adalah membantu mereka.

Peribahasa dalam Matius 12:30 lain lagi latarnya. Orang-orang Farisi, yang menentang Tuhan Yesus, telah menuduh Dia mengusir setan “dengan Beelzebul, pemimpin setan” (ayat 24). Karena itu, mengenai orang-orang Farisi, orang-orang yang menentang Dia, Dia berkata, “Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan Aku.” Mereka tidak bersama Dia, tetapi bersama Iblis. Karena itu, perkataan Tuhan di sini menyinggung tentang kesatuan batiniah atas sasaran.

Perkataan Tuhan sangat berhikmat! Dalam sejarah manusia tidak ada ahli filsafat yang mengucapkan kata-kata hikmat seperti itu. Perkataan Tuhan sederhana, tetapi pemikiran-Nya ajaib. Hanya Dia yang memiliki hikmat untuk mengucapkan perkataan demikian.

Tuhan Yesus mengucapkan perkataan hikmat lain ketika Dia ditanyai oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa itu tentang kuasa-Nya (Mat. 21:23). Dia menjawab pertanyaan mereka dengan pertanyaan. “Aku juga akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu dan jikalau kamu memberi jawabnya kepada-Ku, Aku akan mengatakan juga kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Dari manakah baptisan Yohanes? Dari surga atau dari manusia?” (ayat 24-25a). Para penentang memperbincangkannya di antara mereka, katanya, “Jikalau kita katakan: Dari surga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapa kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi” (ayat 25b-26). Maka, mereka memutuskan untuk berdusta dan berkata, “Kami tidak tahu” (ayat 27a). Sebab itu, Tuhan Yesus menjawab, “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu” (ayat 27b). Tuhan Yesus memakai kata “jika demikian” menunjukkan bahwa Dia tahu bahwa mereka berdusta. Tuhan seolah-olah hendak berkata, “Tidak benar kalian tidak tahu. Kalian tahu, tetapi kalian tidak mau memberi tahu Aku. Sekarang, Aku juga tidak memberi tahu kalian dengan kuasa siapa Aku melakukan hal-hal ini. Kalian berdusta tetapi Aku berkata benar.” Betapa berhikmatnya Tuhan Yesus!

Tuhan memperlihatkan hikmat-Nya sekali lagi dalam Matius 22:15-22. Orang-orang Farisi menyuruh murid-murid mereka bersama-sama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” (ayat 16-17). Pertanyaan yang menjebak ini menaruh Tuhan Yesus ke dalam satu dilema. Membayar pajak kepada Kaisar ditentang oleh semua orang Yahudi. Jika Dia katakan bahwa membayar pajak adalah wajib dilakukan, Dia akan melukai orang-orang Yahudi, yang dipimpin oleh orang-orang Farisi. Jika Dia katakan tidak wajib, orang-orang pendukung Herodes, yang memihak pemerintah Romawi akan memiliki dasar yang kuat untuk menuduh Dia. Dalam hikmat-Nya, Dia berkata kepada mereka, “Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu” (ayat 19a), dan mereka memperlihatkan satu dinar kepada-Nya. Tuhan Yesus tidak memperlihatkan koin orang Romawi, tetapi meminta mereka memperlihatkan satu koin kepada Dia. Karena mereka memiliki satu koin orang Romawi, mereka tidak berkutik. Kemudian Dia bertanya, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” (ayat 20). Mereka menjawab, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Dia berkata kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan

kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (ayat 21). Ketika mereka mendengar perkataan hikmat ini, mereka heran lalu pergi meninggalkan Dia.

Kita menemukan contoh lain dari hikmat Kristus dalam Matius 22:34-40. Seorang ahli Taurat, mencobai Dia dengan bertanya, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (ayat 36). Tuhan Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (ayat 37-40). Tuhan berhikmat, dan jawaban-Nya singkat, sederhana, mengena pada sasaran, dan penuh hikmat.

F. Pengalaman-Nya dalam Hal Diperkenan Allah (Lemak)

Tuhan Yesus juga memiliki banyak pengalaman dalam perkenan Allah, seperti dilambangkan oleh lemak. Dia diperkenan oleh Allah. Ketika Tuhan Yesus keluar dari air baptisan, suatu suara dari surga berkata, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepadaNyalah Aku berkenan” (Mat. 3:17). Perkataan yang sama dikatakan ketika Dia bersama tiga murid-Nya di atas gunung perubahan (17:5). Selain itu, Yesaya 42:1 mengatakan, “Lihat, itu hamba-Ku . . . orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan.” Nubuat ini digenapkan dalam Matius 12. “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan” (ayat 18). Kristus adalah pilihan Allah, perkenan Allah.

Dalam Yohanes 6:38 Tuhan Yesus berkata, “Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku melainkan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” Betapa Pengutus, yaitu, Bapa, dipuaskan oleh Orang yang demikian, Orang yang datang bukan untuk melakukan kehendak-Nya sendiri, tetapi kehendak Dia yang mengutus-Nya.

“Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku . . . tetapi siapa saja yang mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya” (Yoh. 7:16, 18). Ini menunjukkan bahwa ketika Tuhan Yesus ada di bumi, Dia mutlak untuk Allah. Karena tidak ada sesuatu di dalam Dia yang bukan untuk Allah, maka tidak ada yang tidak benar pada Dia. Kalau kita tidak mau menyerahkan diri untuk Allah, kita tidak benar, karena Allah menciptakan kita untuk diri-Nya. Dilihat dari segi kebenaran, kita seharusnya untuk Dia. Jika kita bukan untuk Allah, kita tidak benar. Dalam Tuhan Yesus tidak ada ketidakbenaran, karena Dia mutlak untuk Allah. Ini adalah pengalaman-Nya dalam hal diperkenan oleh Allah.

G. Pengalaman-Nya dalam Batin-Nya

Sekarang kita sampai pada pengalaman Kristus dalam batin-Nya. Sebagai seorang manusia, Kristus memiliki batin insani dengan berbagai fungsinya. Pengalaman Kristus dalam batin-Nya adalah pengalaman-Nya dalam pikiran, emosi, tekad, jiwa, hati, dan roh-Nya, termasuk kasih, kedambaan, perasaan, pikiran, keputusan, motivasi, dan perhitungan.

Sejumlah ayat mewahyukan pengalaman Kristus dalam batin-Nya. Menurut Lukas 2:49, ketika Tuhan Yesus berumur dua belas tahun, “Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Ini juga dapat diterjemahkan, “Aku harus memikirkan urusan Bapa-Ku.” Pikiran Tuhan tertuju pada urusan Bapa-Nya. Pikiran-Nya diduduki oleh urusan Bapa. Di sini kita memiliki fungsi pikiran Tuhan, dan kita melihat betapa Dia secara batiniah hidup untuk Bapa.

Yohanes 2:17 membicarakan kegairahan Tuhan. “Cinta untuk rumah-Mu akan menghanguskan Aku.” Gairah adalah perkara emosi. Gairah di dalam Tuhan Yesus menyala, membara untuk bait Allah. Di sini kita melihat Tuhan menggunakan emosi-Nya.

Dalam Matius 26:39 Tuhan Yesus berdoa, “Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Ini adalah doa-Nya di Taman Getsemani ketika Dia ditangkap dan dibawa untuk dibunuh. Dia menerima kehendak Bapa, karena kehendak-Nya tunduk kepada kehendak Bapa. Ini adalah fungsi dari tekad Tuhan.

Yesaya 53:12 menubuatkan Tuhan Yesus dalam kematian-Nya di kayu salib: “Ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut.” Tuhan Yesus kehilangan nyawa-Nya, dengan sukarela menyerahkan nyawa-Nya ke dalam maut. Sungguh, ini adalah fungsi jiwa-Nya.

Mengenai Kristus, Yesaya 42:4 mengatakan, “Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai.” Ini membicarakan tentang kondisi hati Tuhan. Hati-Nya tidak pernah putus asa; Dia tidak pernah kecewa.

Markus 2:8 mengatakan, “Yesus, mengetahui dalam roh-Nya” (Tl.). Tuhan Yesus memakai Roh-Nya, dan Dia tahu hal-hal dalam Roh-Nya. Dalam situasi apa pun, Dia tahu situasi ini melalui melatih Roh-Nya. Dia memakai Roh-Nya untuk Allah dan untuk menjadikan diri-Nya kurban bakaran.

H. Pengalaman-Nya dalam Perjalanan-Nya (Betis)

Perjanjian Baru juga membicarakan perjalanan Tuhan, yang dilambangkan oleh betis kurban bakaran. Lukas 24:19 mengatakan, “Yesus . . . yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami.” Ini berarti bahwa dalam pekerjaan dan perkataan, Dia sempurna di hadapan Allah dan seluruh bangsa itu.

Dalam Yohanes 8:46 Tuhan Yesus bertanya, “Siapa di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” Ketika Dia berdiri di hadapan penentang, Dia begitu sempurna. Tidak ada kegagalan di dalam Dia.

I. Dijaga oleh Roh Kudus dari Pencemaran

Kita telah menekankan bahwa dalam Imamat 1, betis dan isi perut kurban bakaran harus dibasuh. Pembasuhan ini melambangkan pengalaman Kristus dijaga oleh Roh Ku-dus dari pencemaran. Sebagai contoh, Roh Kudus menjaga Dia dari pencemaran ketika Dia dicobai oleh Iblis “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari Sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ empat puluh hari lamanya Ia dicobai Iblis” (Luk. 4:1-2a). Roh Kudus di dalam Tuhan Yesus menjaga Dia dari pencemaran oleh pencobaan itu.

Dalam membicarakan Kristus sebagai Imam Besar, Ibrani 7:26 memakai frase “tanpa noda”. Sekalipun Tuhan Yesus harus berkontak dengan banyak hal yang najis ketika Dia ada di bumi, Dia tidak pernah dicemari. Roh Kudus di dalam Dia menjaga Dia dari pencemaran ini dalam segala cara.

Jika kita menjajarkan semua aspek pengalaman Kristus yang telah dibahas dalam berita ini, semua pengalaman dari dibawa ke pembantaian sampai dibasuh, kita akan melihat bahwa Dia adalah kurban bakaran yang sempurna dan lengkap. Apa yang kita miliki di sini bukan doktrin, melainkan gambaran dari Kristus dalam pengalaman-Nya.