← Daftar isi Imamat (1) · bab 6/20

KURBAN BAKARAN— KRISTUS UNTUK KEPUASAN ALLAH (4)

Pembacaan Alkitab: Im. 1:5-17; 6:10-11; 7:8

Butir yang sangat penting untuk kita jelaskan dan pahami tentang kurban bakaran adalah perbedaan cara mempersembahkan kurban bakaran. Bertahun-tahun, pengajar-pengajar Alkitab telah menekankan perbedaan ukuran kurban persembahan itu: lembu ukuran terbesar; domba atau kambing, ukuran besar kedua; dan sepasang burung , ukuran terkecil. Kita mudah melihat perbedaan ukuran, tetapi tidak mudah melihat perbedaan cara mempersembahkan, sekalipun perkara ini dengan jelas dicatat dalam Imamat 1. Bahkan jika kita melihat perbedaan dalam cara mempersembahkan kurban bakaran, mungkin kita masih sulit memahami makna perbedaan ini.

Untuk memahami kurban bakaran, kita perlu memahami bahwa ketika kita mempersembahkan kurban bakaran, kita menengok kembali pengalaman dalam hidup kita setiap hari. Karena kurban bakaran, secara subyektif, sepenuhnya berhubungan dengan kehidupan kita setiap hari, dengan tindakan kita setiap hari, maka penyajian kurban bakaran adalah suatu peragaan, pameran pengalaman kita setiap hari. Jika kita setiap hari dan setiap jam menempuh hidup yang mengalami Kristus, kita akan memiliki Kristus sebagai kurban bakaran untuk dipersembahkan kepada Allah. Namun, jika kita tidak mengalami Kristus dalam kehidupan kita setiap hari, kita tidak akan memiliki Dia sebagai kurban bakaran. Lalu kita dapat mempersembahkan Kristus terutama sebagai kurban penebus salah. Yang penting di sini adalah kita tidak dapat mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakaran jika kita tidak memperhidupkan Kristus dan mengalami Kristus dalam kehidupan kita setiap hari.

Mari kita memperhatikan pengalaman tiga saudara. Yang pertama mengalami Kristus sebagai lembu, yang kedua mengalami Kristus sebagai domba atau kambing, dan yang ketiga mengalami Kristus sebagai sepasang burung. Saudara yang mengalami Kristus sebagai lembu memperhidupkan Kristus setiap waktu, dalam segala sesuatu, dan terhadap setiap orang. Dalam memperhidupkan Kristus, dia lebih dulu mengalami penyaliban Kristus; dia mengalami Kristus yang dibunuh di atas salib. Ini adalah pengalaman sejati atas kematian Kristus, pengalaman sejati diserupakan dengan kematian Kristus (Flp. 3:10). Saudara ini mengalami kematian Kristus dalam hubungannya dengan orang tua, istri, dan anak-anaknya. Dalam kehidupannya setiap hari ia benar-benar diserupakan dengan kematian Kristus.

Ketika saudara ini mengalami kematian Kristus secara demikian, dia juga akan mengalami Kristus yang kecantikan luaran-Nya dilucuti. Dalam keempat Injil kita melihat bahwa sementara Tuhan kita hidup di bumi, kecantikan luaran-Nya dilucuti. Ini berarti ekspresi luaran dari kebajikan-kebajikan insani-Nya dilucuti, suatu perkara yang sangat erat kaitannya dengan kematian-Nya. Karena itu, ketika seorang saudara mengalami diserupakan dengan kematian Kristus, dia dengan spontan mengalami Kristus yang kecantikan luaran-Nya dilucuti. Pengalaman ini sebenarnya sama dengan diumpat (2Kor. 6:8). Tuhan Yesus diumpat di mana-mana, dan umpatan itu melucuti penampilan luaran kebajikan-kebajikan insani-Nya.

Selain itu, ketika seorang saudara diserupakan dengan kematian Kristus, dia juga akan dipotong menurut bagian-bagian tertentu. Ini berarti dia akan memiliki pengalaman atas Kristus yang dipotong menurut bagian-bagian tertentu. Pengalaman demikian mungkin berkebalikan dengan dugaan kita. Kita mungkin berpikir bahwa semakin kita mengasihi Tuhan dan takut akan Allah, semakin banyak berkat yang kita dapatkan. Perhatikan situasi Yohanes Pembaptis, pelopor Tuhan Yesus. Bukannya menerima berkat, Yohanes malah dipenjarakan dan dipenggal. Perhatikan kelanjutan situasi Tuhan Yesus sendiri. Berapa banyakkah berkat yang Dia terima? Bukankah Dia dipotong menurut bagian-bagian tertentu? Kitab Injil menyingkapkan bahwa ditinjau dari keinsanian-Nya, Tuhan Yesus dipotong menurut bagian-bagian tertentu dalam berbagai cara. Tidak ada satu aspek dari kehidupan insani-Nya yang tetap utuh; sebaliknya, setiap bagian dari kehidupan insani-Nya dipotong menurut bagian-bagian tertentu. Karena itu, Tuhan Yesus adalah contoh yang unik dari orang yang dipotong menurut bagian-bagian tertentu dalam berbagai cara.

Dipotong menurut bagian-bagian tertentu juga akan menjadi pengalaman mereka yang mengikuti Tuhan Yesus hari ini. Inilah alasannya Paulus berkata, “Mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Flp. 3:10). Menempuh hidup yang diserupakan dengan kematian Kristus memerlukan kuasa kebangkitan-Nya, karena ketika kita mengalami diserupakan dengan kematian-Nya, kita akan dipotong menurut bagian-bagian tertentu. Seluruh diri kita dan seluruh hidup kita akan dipotong menurut bagian-bagian tertentu. Saudara yang mengalami Kristus sebagai lembu tentu mengalami pemotongan ini.

Ketika seorang saudara menempuh hidup yang diserupakan dengan kematian Kristus dan dipotong menurut bagian-bagian tertentu, dia akan menyadari bahwa dia benar-benar memerlukan hikmat. Orang yang bodoh tidak dapat menempuh kehidupan yang mengalami hayat Kristus. Menempuh kehidupan yang demikian memerlukan hikmat yang tinggi. Hikmat manusia tidak memadai; tidak berguna. Kehidupan semacam ini memerlukan hikmat yang dengannya Kristus menempuh hidup ketika Dia di bumi. Keempat Injil menyingkapkan bahwa Tuhan Yesus adalah orang yang paling berhikmat yang pernah hidup. Segala sesuatu yang Dia lakukan adalah benar dan dilakukan tepat pada waktunya. Dia tidak pernah mengucapkan perkataan sia-sia, dan Dia tidak pernah melakukan sesuatu secara sia-sia, bodoh, atau tanpa makna. Dia adalah Yang menempuh kehidupan sepenuhnya dalam hikmat.

Hikmat ini dilambangkan oleh kepala lembu yang digunakan untuk kurban bakaran. Saudara ini menempuh kehidupan yang mengalami hayat Kristus, dia mengalami pengalaman kepala Kristus; maksudnya, dia akan mengalami hikmat Kristus. Di bawah kedaulatan Allah, keluarga saudara ini, termasuk orang tua, istri, dan anak-anaknya, mungkin sulit untuk ditanggulangi. Karena dia hidup dalam lingkungan demikian, maka dia menyadari bahwa dia memerlukan hikmat Kristus. Dalam hubungannya dengan anggota-anggota keluarganya, dia dengan spontan mengalami kepala, hikmat Kristus. Hikmat yang Kristus perhidupkan dalam berhubungan dengan keluarga-Nya menjadi pengalaman saudara ini dalam kehidupannya setiap hari.

Saudara yang mempersembahkan Kristus sebagai lembu juga akan mengalami pembasuhan betis dan isi perut kurban bakaran. Ini berarti pembasuhan terus-menerus dari Roh Kudus seperti air akan menjaga dia dari pencemaran lahiriah dan batiniah. Karena dia menempuh hidup yang diserupakan dengan kematian Kristus, dia akan mengalami penjagaan, pemeliharaan, dan perlindungan Roh Kudus dari pencemaran. Pembasuhan Roh Kudus akan menjaga dia dari pencemaran lahiriah, dan pembasuhan ini juga akan membatalkan faktor pencemaran segala sesuatu yang masuk dari luar.

Ketika saudara ini datang ke sidang gereja untuk mempersembahkan Kristus, dia akan mempersembahkan Kristus bukan saja sebagai kurban penebus salah, tetapi juga sebagai kurban bakaran. Ketika saudara itu menyajikan kurban bakarannya, dia akan menyembelihnya, mengulitinya, memotongnya menurut bagian-bagian tertentu, dan membasuh betisnya dan isi perutnya. Penyembelihannya atas kurban bakaran akan menjadi peninjauan kembali pengalamannya akan kematian Kristus. Pengulitannya atas kurban bakaran dan pemotongannya menurut bagian-bagian tertentu akan menjadi penyataan, penyajian pengalamannya dalam kehidupannya setiap hari akan penderitaan Kristus. Pembasuhannya atas kurban persembahan akan seperti peninjauan kembali pengalamannya atas pembasuhan Roh Kudus secara lahiriah dan batiniah, yaitu, pengalamannya atas pembasuhan yang Kristus alami ketika Dia di bumi. Karena itu, cara saudara ini mempersembahkan kurban bakaran akan merupakan pameran pengalamannya; akan menjadi peninjauan kembali pengalamannya setiap hari. Tanpa setiap hari mengalami, tidak akan ada peninjauan kembali yang demikian, sebab tidak akan ada sesuatu yang dipamerkan atau dinyatakan. Segala sesuatu yang saudara ini lakukan dalam mempersembahkan kurban bakaran adalah peninjauan kembali, pameran, dan penyataan pengalamannya atas Kristus setiap hari. Namun, dia tidak mempersembahkan pengalamannya kepada Allah; dia mempersembahkan Kristus yang dia alami.

Imamat 1:4 mengatakan bahwa kurban persembahan dari lembu akan diperkenan untuk “mengadakan pendamaian baginya”. Ayat 5 selanjutnya mengatakan bahwa setelah orang yang mempersembahkan menyembelih kurban bakaran, imam-imam itu “mempersembahkan darah lembu itu dan menyiramkannya pada sekeliling mezbah yang di depan pintu Kemah Pertemuan.” Penyiraman darah ini adalah untuk pendamaian, yang diperlukan oleh setiap orang yang mempersembahkan. Karena kita masih ada kekurangan dalam pandangan Allah, kita semua perlu diperdamaikan. Jadi, hal pertama yang kurban bakaran lakukan untuk orang yang mempersembahkan adalah mengadakan pendamaian untuk dia, supaya Allah dapat berkenan dan senang terhadap orang yang mempersembahkan.

Seorang saudara yang mempersembahkan Kristus sebagai domba atau kambing tidak memiliki pengalaman sebanyak saudara yang mempersembahkan Kristus sebagai lembu, tetapi kurban persembahannya masih sangat baik. Penyembelihannya atas kurban persembahan menunjukkan bahwa dia juga mengalami penyaliban Kristus. Namun, pada kurban persembahannya tidak ada yang dikuliti. Karena menguliti melambangkan melucuti ekspresi luaran dari kebajikan-kebajikan insani, maka kekurangan menguliti dari orang yang mempersembahkan menunjukkan bahwa saudara ini tidak mengalami penanggalan Kristus atas kecantikan luaran-Nya, menanggalkan ekspresi luaran dari kebajikan-kebajikan insani-Nya. Mengenai perkara ini, saudara ini tidak memiliki sesuatu untuk ditinjau kembali atau dinyatakan ketika dia mempersembahkan kurban bakarannya. Walaupun demikian, kurban persembahan saudara ini dipotong menurut bagian-bagian tertentu, melambangkan bahwa sampai tingkat tertentu, dia memiliki pengalaman dipotong menurut bagian-bagian tertentu. Selain itu, dia memiliki sedikit pengalaman atas kepala Kristus, hikmat Kristus. Karena itu, persembahannya atas Kristus adalah peninjauan kembali, pameran, dan penyataan pengalamannya atas Kristus setiap hari.

Sekarang mari kita perhatikan situasi seorang saudara yang mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakaran yang dilambangkan oleh burung tekukur atau anak burung merpati. Saudara itu mungkin baru saja beroleh selamat. Dia sangat bergairah, dan dia datang ke semua sidang gereja. Namun, dalam kehidupannya setiap hari, tidak ada apresiasi atas fakta bahwa demi dirinya Kristus menempuh hidup yang mutlak untuk Allah. Akhirnya dia mempelajari sesuatu dari Kristus sebagai Dia yang menempuh hidup demikian, dan dia mulai mengapresiasi Kristus dalam hal ini. Karena dia sekarang memiliki sedikit apresiasi atas Kristus sebagai Dia yang menempuh hidup yang mutlak untuk Allah, dia membawa kurban persembahan ke sidang-sidang, tetapi kurban persembahan ini adalah sepasang burung. Imam-imam yang melayani kemudian memulas kepala burung tersebut, menyingkirkan tembolok dan bulunya, dan mencabik burung itu pada pangkal sayapnya. Ini menunjukkan bahwa ketika saudara ini datang untuk mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakarannya, dia tidak memiliki sesuatu untuk ditinjau kembali atau dinyatakan.

Pada Sidang Meja Tuhan, kita jarang mendengar orang berdoa dalam cara seperti mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakaran dengan peninjauan kembali, penyajian, dan penyataan yang kaya dari pengalamannya akan Kristus setiap hari. Alasan untuk kekurangan ini adalah tidak banyak di antara kita yang memiliki pengalaman yang kaya atas Kristus dalam hal disalibkan, dalam hal dilucuti, dan dalam hal dipotong menurut bagian-bagian tertentu. Karena pengalaman kita atas Kristus tidak memadai, kita tidak memiliki banyak hal untuk ditinjau, disajikan, dan dinyatakan. Sebaliknya, sering kali pujian pada meja Tuhan terdiri atas doa-doa dari orang-orang muda yang bergairah mempersembahkan Kristus sebagai sepasang burung tanpa peninjauan kembali atas penyembelihan, pengulitan, dan pemotongan menurut bagian-bagian tertentu.

Mereka yang mempersembahkan kurban bakaran dalam sidang-sidang gereja bukan mempersembahkan dirinya sendiri atau pengalamannya. Paulus, sebagai contoh, tidak mempersembahkan dirinya atau pengalamannya atas kurban bakaran; dia mempersembahkan Kristus yang dia alami. Ketika kita mempersembahkan kurban bakaran, kita seharusnya tidak mempersembahkan diri kita atau pengalaman kita kepada Allah. Sebaliknya, kita harus mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban bakaran kita, namun kurban persembahan ini seharusnya bukan Kristus semata-mata, tetapi seharusnya Kristus yang telah kita alami. Kita tidak dapat mempersembahkan Kristus yang tidak kita alami sebagai kurban bakaran kepada Allah. Di satu pihak, kita tidak seharusnya mempersembahkan diri kita sendiri dan pengalaman kita; di pihak lain, kita seharusnya tidak mempersembahkan Kristus saja. Kita perlu mempersembahkan Kristus yang kita alami dalam hidup kita setiap hari kepada Allah sebagai kurban bakaran.

Kita telah menunjukkan bahwa penyembelihan, pengulitan, dan pemotongan menurut bagian-bagian tertentu, dan pembasuhan merupakan pengalaman orang yang mempersembahkan atas apa yang Kristus alami dan lalui dalam kehidupan-Nya di bumi dan dalam kematian-Nya di salib. Ketika orang yang mempersembahkan menyajikan Kristus sebagai kurban bakarannya, dia meninjau kembali pengalamannya. Apa yang dia tinjau kembali akan serasi dengan apa yang dia alami atas Kristus. Dia mengalami Kristus sampai tingkat tertentu, dan peninjauan kembalinya akan sama tingkatannya. Namun, bukan dirinya yang dipersembahkan. Sebaliknya, peninjauan kembali orang yang mempersembahkan atas pengalamannya akan menentukan ukuran kurban persembahannya, dan pengalamannya juga akan menentukan cara dia mempersembahkannya.

Mempersembahkan kurban bakaran memerlukan langkah tertentu yang diambil oleh setiap pihak. Langkah pertama diambil oleh orang yang mempersembahkan, dan langkah kedua diambil oleh imam-imam. Orang yang mempersembahkan selalu mengambil langkah pertama untuk membawa kurban persembahan ke Kemah Pertemuan dan dalam kasus kurban-kurban persembahan dari lembu dan dari kambing domba, melakukan apa yang diperlukan untuk mempersiapkan kurban persembahan yang akan dipersembahkan. Namun, sebagaimana orang yang mempersembahkan tidak memiliki hak untuk menyiramkan darah, dia tidak memiliki hak untuk secara riil mempersembahkan kurban persembahan. Ini adalah pelayanan imam yang mempersembahkan, yang menempatkan kurban persembahan di atas api untuk dibakar. Karena kita sudah membahas perkara penting dari berbagai cara mempersembahkan kurban bakaran, kita dapat memperhatikan beberapa aspek lain dari kurban bakaran.

VI. AIR, API, DIBAKAR, DAN MENJADI ABU

A. Air

Air (Im. 1:9, 13) melambangkan Roh hayat (Yoh. 7:38-39). Ketika Tuhan Yesus menempuh hidup insani-Nya di bumi, Roh hayat ini, Roh Kudus, senantiasa menjaga Dia dari faktor-faktor pencemaran. Inilah alasannya Tuhan Yesus tidak pernah tercemar atau terkontaminasi oleh segala sesuatu yang Dia kontaki. Roh Kudus sebagai air hidup di dalam Dia menjaga-Nya tetap bersih.

Menurut Imamat 1:9 dan 13, orang yang mempersembahkan harus membasuh isi perut dan betis kurban persembahannya dengan air. Ini tentu tidak berarti Kristus perlu dibasuh oleh mereka yang mempersembahkan Dia sebagai kurban bakaran. Penyembelihan kurban persembahan oleh orang yang mempersembahkan adalah peninjauan kembali pengalaman orang yang mempersembahkan dalam hidup sehari-hari atas penyaliban Kristus. Prinsipnya sama dengan membasuh kurban bakaran. Pembasuhan adalah peninjauan kembali dari pengalaman orang yang mempersembahkan atas kehidupan Kristus, kehidupan yang di dalamnya Dia dibasuh oleh Roh Kudus yang menghuni diri-Nya dari faktor pencemaran. Roh Kudus, di sini dilambangkan oleh air, memelihara Kristus terhadap pencemaran dari perkara-perkara luaran yang Dia kontaki ketika Dia di bumi. Orang yang mempersembahkan telah mengalami hal ini dalam kehidupan sehari-hari, dan karena itu dia meninjau kembali dan menyajikan hal ini pada saat dia mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakarannya.

B. Api

1. Melambangkan Allah yang Kudus

Sejumlah ayat dalam Imamat 1 membicarakan api (ayat 7, 8, 9, 12, 13, 17). Api di sini melambangkan Allah yang kudus. Ini dibuktikan oleh Ibrani 12:29, yang mengatakan, “Allah kita adalah api yang menghanguskan.”

2. Pada Kurban Bakaran, Api Adalah Api yang Memperkenan untuk Kepuasan Allah

Pada kurban bakaran, api adalah api yang memperkenan untuk kepuasan Allah (ayat 9, 13, 17). Api dalam Imamat 1 dapat dianggap mulut Allah yang dengannya Dia menerima dan memperkenan apa yang kita persembahkan kepada-Nya.

3. Pada Kurban Penghapus Dosa, Api Adalah Api Penghakiman untuk Penebusan Manusia

Pada kurban penghapus dosa, api adalah api penghakiman untuk penebusan manusia. Membakar kurban penghapus dosa adalah tanda penghakiman Allah. Hal ini disebutkan dalam 4:12.

Kelihatannya api kurban bakaran dan api kurban penghapus dosa adalah dua api yang berbeda. Sebenarnya hanya ada satu api dengan dua fungsi yang berbeda, fungsi memperkenan dan fungsi menghakimi.

4. Api Kurban Bakaran Tidak Boleh Padam

Menurut 6:12 dan 13, api kurban bakaran tidak boleh padam. Ini berkebalikan dengan api kurban penghapus dosa, yang tidak dibakar terus-menerus.

C. Dibakar

Dalam Imamat 1, ayat 9, 13, 15, dan 17 membicarakan tentang pembakaran, yaitu pembakaran kurban bakaran dalam asap.

1. Dibakar sebagai Bau Harum Ukupan

Membakar kurban bakaran adalah sebagai bau harum ukupan (Kel. 30:7-8; Im. 16:12-13). Kata Ibrani yang diterjemahkan “mempersembahkan dalam asap”, istilah khusus yang dipakai untuk membakar di atas mezbah kurban bakaran, menyiratkan perkara ukupan. Jadi, membakar di atas mezbah kurban bakaran adalah membakar sebagai bau harum ukupan. Pembakaran ini menghasilkan bau harum yang naik ke Allah untuk kesenangan dan kepuasan-Nya.

2. Berbeda dengan Membakar Kurban Penghapus Dosa dan Kurban Penebus Salah

Membakar kurban bakaran berbeda dengan membakar kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah (Im. 4:12).

3. Membakar Kurban Bakaran Tidak Boleh Berhenti Sepanjang Malam Sampai Pagi

Imamat 6:9 mengatakan, “Perintahkanlah kepada Harun dan anak-anaknya: Inilah hukum tentang kurban bakaran. Kurban bakaran itu haruslah tinggal di atas perapian di atas mezbah semalam-malaman sampai pagi, dan api mezbah haruslah dipelihara menyala di atasnya.” Di sini kita melihat bahwa membakar kurban bakaran tidak boleh berhenti. Untuk menjamin api ini menyala terus-menerus, imam-imam perlu menambahkan kayu ke dalam api.

D. Menjadi Abu

1. Satu Tanda Allah Memperkenan Kurban Persembahan—Menjadi Abu

Menjadi abu adalah satu tanda Allah memperkenan kurban bakaran. Bila Allah memperkenan kurban bakaran, Dia akan membuatnya menjadi abu. Mengenai hal ini, Mazmur 20:4 mengatakan, “Kiranya diingat-Nya segala kurban persembahanmu, dan disukai-Nya kurban bakaranmu.” Kata Ibrani yang diterjemahkan “disukai” di sini sebenarnya berarti “menjadi abu”. Ketika kurban persembahan kita menjadi abu, ini adalah tanda kuat bahwa kurban ini diperkenan Allah.

Biasanya orang tidak menganggap abu sebagai sesuatu yang menyenangkan. Namun, bagi kita yang mempersembahkan kurban bakaran, abu tentu saja menyenangkan, bahkan berharga, karena abu adalah tanda yang memberi kita jaminan bahwa kurban bakaran kita diperkenan Allah.

Kata Ibrani yang diterjemahkan “disukai” dapat diterjemahkan bukan hanya “menjadi abu”, tetapi juga “diperkenan seperti lemak,” “membuat lemak,” dan “menjadi seperti lemak”. Agar Allah memperkenan kurban bakaran kita, bukan hanya mengembalikannya ke abu tetapi juga menerimanya seperti lemak, sesuatu yang manis dan menyenangkan Dia. Di mata kita, kurban persembahan telah dibakar menjadi ke abu, tetapi di mata Allah, kurban persembahan adalah lemak; kurban ini menyenangkan dan memuaskan Dia seperti lemak.

Kurban bakaran menjadi abu berarti Allah dipuaskan dan karena itu kita bisa merasa damai. Jika kita memahami hal ini, kita akan menyadari bahwa dalam kehidupan kristiani kita harus ada tumpukan abu.

2. Diletakkan ke Samping Mezbah Sebelah Timur

Abu tidak dibuang, malah diletakkan ke samping mezbah sebelah timur (1:16; 6:10), tempat abu. Sebelah timur adalah sisi matahari terbit. Meletakkan abu ke samping mezbah sebelah timur sebenarnya adalah satu kiasan kebangkitan.

3. Membawa ke Luar Perkemahan ke Suatu Tempat yang Tahir

Imamat 6:11, membicarakan perkataan imam, “Kemudian haruslah ia menanggalkan pakaiannya dan mengenakan pakaian lain, lalu membawa abu itu ke luar perkemahan ke suatu tempat yang tahir.” Sekali lagi kita melihat bahwa abu tidak dibuang. Ini menunjukkan bahwa kita harus menghargai hasil dari perbuatan kita mempersembahkan kurban bakaran kepada Allah. Kita tidak boleh membuangnya.

VII. KULIT

Seluruh kurban bakaran dibakar, kecuali kulitnya.

A. Satu Bagian untuk Imam yang Mempersembahkan

Kulit kurban bakaran adalah bagian untuk imam yang mempersembahkan. “Imam yang mempersembahkan kurban bakaran seseorang, bagi dia juga kulit kurban bakaran yang dipersembahkannya itu” (7:8).

B. Melambangkan Ekspresi Cantik Luaran Kristus

yang Diberikan kepada Orang yang Melayani

Kulit kurban bakaran melambangkan ekspresi cantik luaran Kristus yang diberikan kepada orang yang melayani. Semakin kita mempersembahkan Kristus sebagai lembu, kita akan semakin mengalami ekspresi cantik luaran Kristus sebagai milik kita. Kemudian kita akan dikenakan pakaian dengan ekspresi luaran dari kebajikan-kebajikan insani Kristus.