← Daftar isi Imamat (1) · bab 3/20

KURBAN BAKARAN— KRISTUS UNTUK KEPUASAN ALLAH (1)

Pembacaan Alkitab: Im. 1:2-6; Ibr. 10:5-10; 9:14

Dalam berita ini kita akan membahas kurban bakaran, yang adalah Kristus untuk kepuasan Allah. Tidak mudah kita memasuki makna yang sesungguhnya dari kurban bakaran, kita akui bahwa pengalaman kita atas kurban bakaran ini sangat terbatas. Sebetulnya sangat sedikit orang Kristen yang memiliki pengalaman riil atas kurban bakaran. Kita mungkin memiliki banyak pengalaman atas kurban penebus salah dan kurban penghapus dosa, dan juga banyak yang mengalami kurban sajian dan kurban pendamaian, tetapi hanya sedikit orang yang mengalami kurban bakaran.

Lambang-lambang Kristus yang paling lembut dan rinci terdapat dalam Kitab Imamat. Tanpa Imamat 1, kita tidak memiliki jalan untuk menjelaskan dan menegaskan Kristus sebagai kurban bakaran. Memang tepat mengatakan bahwa kurban bakaran adalah Kristus untuk kepuasan Allah. Tetapi bagaimana Kristus dapat menjadi kurban persembahan demikian? Ini tidak mudah dijelaskan. Jika kita mau mengenal Kristus sebagai kurban bakaran, kita perlu mempelajari Imamat 1. Sebelum kita sampai pada pasal ini, bagaimanapun juga, saya hendak membahas Ibrani 10:5-10. Ayat 5 mengatakan, “Karena itu, ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata, ‘Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki, tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagi-Ku.” Di sini “kurban dan persembahan” mengacu kepada totalitas dari berbagai kurban dan persembahan.

Ada perbedaan antara kurban dan persembahan. Kurban adalah untuk dosa-dosa, dan persembahan adalah untuk pemberian (hadiah). Jika kita merasa bahwa kita berdosa dan perlu mempersembahkan sesuatu kepada Allah, persembahan untuk dosa ini, secara tegas, adalah kurban. Namun, jika kita membawa sesuatu kepada Allah bukan untuk dosa tetapi untuk persekutuan, apa yang kita bawa bukan kurban tetapi persembahan.

Ibrani 10:5 mengatakan bahwa Allah tidak mendambakan kurban dan persembahan, tetapi sebaliknya menyediakan tubuh untuk Kristus. Ini menunjukkan bahwa Allah menginginkan Kristus menjadi pengganti semua kurban dan persembahan Perjanjian Lama.

Ayat 6 selanjutnya mengatakan, “Kepada kurban bakaran dan kurban penghapus dosa Engkau tidak berkenan.” Ini kelihatannya merupakan pengulangan ayat 5. Sebetulnya ini adalah satu pemberitahuan dan penjelasan dari “kurban dan persembahan” dalam ayat sebelumnya. Ayat 7-10 melanjutkan, “Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku. Di atas, Ia berkata, ‘Kurban dan persembahan, kurban bakaran dan kurban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya’ meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat,. Kemudian kata-Nya, ‘Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.’ Yang pertama Ia hapuskan untuk menegakkan yang kedua. Karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.” “Gulungan kitab” dalam ayat 7 mengacu kepada Perjanjian Lama. Apakah yang dimaksudkan dengan “kehendak” dalam ayat 7, 9, dan 10, dan apakah makna perkataan “Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu”? Beberapa pengajar Alkitab mengatakan bahwa ini berarti segala sesuatu yang Tuhan Yesus lakukan dan katakan sesuai dengan kehendak Allah. Walaupun demikian, penafsiran ini tidak sesuai dengan konteksnya. “Karena kehendak-Nya” dalam ayat 10 mengacu kembali kepada “kehendak” dalam ayat 7 dan 9. Kehendak Allah dalam ayat-ayat ini adalah meniadakan kurban-kurban binatang dari perjanjian yang lama, agar yang kedua, kurban Kristus dari perjanjian yang baru, dapat ditegakkan. Karena itu, kehendak Allah di sini adalah agar Kristus datang menggantikan kurban dan persembahan Perjanjian Lama. Pada saat Kristus datang, Allah menghendaki Dia menyingkirkan kurban-kurban Perjanjian Lama, kurban domba, kambing, dan lembu dan mendirikan kurban Perjanjian Baru, yang adalah diri Kristus sendiri. Ibrani 10:5-10 dengan jelas menunjukkan bahwa kurban dan persembahan dalam Perjanjian Lama adalah lambang, bayangan dari Kristus. Kristus adalah realitas, tubuh, dari semua kurban dan persembahan itu.

Ibrani 10:5-10 selanjutnya mewahyukan bahwa kurban yang utama adalah kurban bakaran. Ini juga ditunjukkan dalam Kitab Imamat, yang menyebutkan kurban bakaran lebih dulu. Jika kita mau memahami apakah kurban bakaran itu, kita perlu memperhatikan Ibrani 10, yang memberi tahu kita bahwa sebagai kurban bakaran Kristus melakukan kehendak Allah. Kita seharusnya tidak menafsirkan kata “kehendak” dalam pasal ini secara umum, alamiah, atau manusiawi. Allah menghendaki Kristus menggantikan semua persembahan dan kurban Perjanjian Lama. Inilah kehendak Allah, dan Kristus datang melakukannya.

Bukan perkara sederhana bagi Kristus menggantikan persembahan dan kurban dengan diri-Nya sendiri. Bagaimana seorang manusia dapat menggantikan semua persembahan dan kurban? Perhatikan syarat-syarat yang diminta dan jenis orang yang diperlukan. Orang yang menggantikan persembahan dan kurban harus menjadi orang yang mutlak untuk Allah, bahkan dalam setiap hal kecil. Setiap orang yang tidak mutlak untuk Allah dalam semua hal kecil tidak bersyarat melakukan kehendak Allah untuk menggantikan kurban dan persembahan yang lama dengan kurban dan persembahan yang baru, yaitu, menyingkirkan yang pertama dan mendirikan yang kedua. Menyingkirkan yang pertama dan mendirikan yang kedua berarti menyingkirkan perjanjian yang lama dan mendirikan perjanjian yang baru. Kehendak Allah dalam Ibrani 10 adalah menggantikan semua kurban dan persembahan Perjanjian Lama dengan kurban dan persembahan Perjanjian Baru, dan untuk melakukan ini orang harus mutlak untuk Allah.

Kita telah sering membicarakan tentang bertindak dalam roh dan tentang berlatih menjadi satu roh dengan Tuhan. Dalam hal besar mungkin kita mudah menjadi satu roh dengan Tuhan, tetapi tidak mudah dalam hal kecil. Betapa mudahnya hal kecil merusak keesaan kita dalam roh dengan Tuhan! Namun, hal demikian tidak pernah terjadi dengan Tuhan Yesus. Ketika Dia ada di bumi, tidak pernah terjadi satu hal kecil yang menyebabkan Dia kehilangan keesaan-Nya dengan Bapa. Jika keesaan ini dirusak, maka Dia sendiri akan memerlukan seorang Kristus. Selain itu, Dia tidak akan bersyarat menjadi kurban bakaran, memerlukan seseorang untuk menjadi juruselamat-Nya. Namun, Tuhan Yesus mutlak untuk Allah, dan karena itu Dia bersyarat menjadi kurban bakaran. Melakukan kehendak Allah adalah satu hal besar bagi Tuhan Yesus, yaitu menjadi kurban bakaran menggantikan persembahan dan kurban Perjanjian Lama.

Tidak seorang pun dari kita bersyarat menjadi kurban bakaran. Jika kita telah dilahirkan kembali dan tidak pernah jatuh, sulit bagi kita untuk merusak keesaan dengan Tuhan dalam kehidupan kita. Meskipun kita telah dilahirkan kembali, kita masih hidup dalam sifat yang jatuh dan usang. Kita mungkin melatih roh kita untuk menempuh hidup yang bersatu dengan Tuhan, tetapi sering kali hal kecil akan menyebabkan keesaan ini rusak. Kemudian, apakah yang harus kita lakukan? Daripada kecewa, kita harus mengakui bahwa kita memerlukan Kristus. Kita perlu Dia menjadi kurban bakaran kita.

I. MELAMBANGKAN KRISTUS,

TIDAK MENITIKBERATKAN PENEBUSAN DOSA,

MELAINKAN MENITIKBERATKAN HIDUP BAGI ALLAH,

AGAR ALLAH DIPUASKAN

Kurban bakaran melambangkan Kristus tidak menitikberatkan penebusan dosa manusia, melainkan menitik beratkan hidup bagi Allah, agar Allah dipuaskan. Sebagai kurban penghapus dosa, Kristus adalah untuk menebus dosa manusia, tetapi sebagai kurban bakaran Dia adalah mutlak untuk menempuh hidup yang dapat memuaskan Allah sepenuhnya. Sepanjang kehidupan-Nya di bumi, Tuhan Yesus selalu menempuh hidup yang memuaskan Allah. Dalam keempat Injil, Dia disajikan sebagai Dia yang mutlak bersatu dengan Allah. Atribut-atribut ilahi-Nya diekspresikan dalam kebajikan-kebajikan insani-Nya, dan kadang-kadang kebajikan-kebajikan insani-Nya diekspresikan bersamaan dengan atribut-atribut ilahi-Nya. Ketika Dia ditentang, dicobai, dan ditanyai oleh para penentang yang jahat dan licik, ahli Taurat, orang Farisi, orang Saduki, dan golongan Herodian, selama hari-hari terakhir-Nya di bumi, pada saat tertentu kebajikan-kebajikan keinsanian-Nya diekspresikan melalui atribut-atribut ilahi-Nya, pada saat yang lain atribut-atribut ilahi-Nya diekspresikan dalam kebajikan-kebajikan insani-Nya.

Dalam kehidupan Tuhan Yesus tidak ada cacat, noda, atau ketidaksempurnaan. Dia sempurna, dan Dia menempuh hidup yang mutlak untuk Allah. Dia sepenuhnya bersyarat menjadi kurban bakaran. Setelah melalui inkarnasi-Nya, satu tubuh disediakan bagi Dia oleh Allah untuk menjadi kurban bakaran yang sejati (Ibr. 10:5-6), Dia melakukan kehendak Allah (ayat 7-9) dan taat sampai mati (Flp. 2:8). Di salib, Dia mempersembahkan tubuh-Nya kepada Allah sekali untuk selama-lamanya (Ibr. 10:10).

II. DENGAN LEMBU, DOMBA ATAU KAMBING,

ATAU BURUNG TEKUKUR ATAU ANAK BURUNG MERPATI

Imamat 1 membicarakan berbagai kategori dari kurban bakaran: seekor lembu (ayat 3), seekor domba atau kambing (ayat 10), atau burung tekukur atau anak burung merpati (ayat 14). Kurban-kurban persembahan dalam tiga kategori ini berbeda ukuran, dengan lembu sebagai yang terbesar dan burung tekukur dan anak burung merpati sebagai yang terkecil.

A. Menurut Apresiasi dan Kemampuan

Orang yang Mempersembahkan

Ukuran kurban bakaran tergantung pada dan menurut apresiasi dan kemampuan orang yang mempersembahkan. Kita mungkin memiliki apresiasi yang besar, tetapi kita mungkin tidak memiliki kemampuan untuk menyiapkan kurban persembahan yang besar, seekor lembu, tetapi hanya satu yang kecil, burung tekukur atau anak burung merpati. Tentu saja, ini tidak berarti bahwa sebagai kurban bakaran Kristus sendiri memiliki ukuran yang berbeda-beda. Dalam diri-Nya, Kristus selalu sama. Tidak ada Kristus yang besar, Kristus yang kecil, atau Kristus ukuran menengah. Bagaimanapun juga, dalam pengalaman kita, Kristus dapat berbeda. Dalam pengalaman kita, Kristus mungkin berupa kurban bakaran kecil atau menengah, tetapi dalam pengalaman Paulus, Kristus adalah kurban bakaran yang besar, seekor lembu, karena pengalamannya atas Kristus jauh lebih besar daripada kita, dan apresiasi dan kemampuannya untuk mempersembahkan Kristus kepada Allah sangat besar. Karena itu, di dalam diri-Nya, Kristus sendiri adalah sama, tetapi menurut pengalaman kita, Dia berbeda.

B. Hayat yang Dapat Bergerak Menurut Tekadnya

Semua kurban bakaran dalam Imamat 1 adalah hayat yang dapat bergerak menurut tekadnya. Ini menunjukkan bahwa kurban bakaran haruslah berupa sesuatu yang hidup. Orang yang mati tidak dapat taat kepada Allah; hanya orang yang hidup dapat melakukan hal ini. Namun, agar taat kepada Allah, orang yang hidup perlu menaklukkan tekadnya kepada kehendak Allah. Jika Kristus mau menjadi kurban bakaran untuk Allah, Dia harus menjadi orang yang demikian hidup, dengan tekad yang kuat, tetapi dengan tekadnya menaati kehendak Allah.

Jalan terbaik untuk dilindungi adalah menaklukkan tekad kita kepada kehendak orang lain. Ini terutama berlaku bagi orang muda. Jalan terbaik bagi orang muda menerima perlindungan adalah memiliki ketaatan. Karena kehendak Tuhan tunduk kepada kehendak Allah, Tuhan terpelihara dan terlindung dalam kesempurnaan-Nya, dalam diri-Nya yang tanpa cacat. Setiap hayat yang bergerak menurut tekadnya sendiri adalah hayat yang dapat dicemari. Ketika Tuhan Yesus hidup dan bergerak di bumi, Dia tidak pernah tercemar, karena kehendak-Nya tunduk kepada kehendak Allah.

C. Hayat yang Bisa Mengalirkan Darah

Meskipun kurban bakaran bukan untuk penebusan, tetapi kurban bakaran membuat perdamaian untuk kita (Im. 1:4). Karena alasan ini, kurban bakaran harus merupakan hayat yang bisa mengalirkan darah. Setiap lembu, kawanan domba, atau burung-burung memiliki darah untuk dialirkan. Darah diperlukan untuk pengampunan. “Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan” (Ibr. 9:22).

D. Kuat dan Muda

Kurban bakaran adalah kuat dan muda. Ini berarti kurban bakaran penuh tenaga dan segar, tanpa kelemahan dan keusangan. Dalam Imamat 1, jantan melambangkan tenaga, dan muda melambangkan kesegaran. Secara rohani, Kristus adalah laki-laki, penuh tenaga, Dia pun muda, penuh kesegaran. Dia kuat, dan Dia segar. Meskipun Kristus itu purba, tetapi Dia tidak pernah usang. Dia selalu segar dan kuat. Pada diri-Nya tidak ada kelemahan atau keusangan.

E. Tanpa Cacat

Kurban bakaran harus tidak bercacat. Ini berarti kurban bakaran harus tanpa noda dan cacat. Sebagai kurban bakaran, Kristus tanpa noda dan cacat (1Ptr. 1:19; Ibr. 9:14).

III. DIPERSEMBAHKAN DI PINTU KEMAH PERTEMUAN

A. Pelataran Luar Kemah

Kurban bakaran dipersembahkan di pintu Kemah Pertemuan (Im. 1:3), yaitu, di pelataran luar Kemah Suci. Pelataran luar melambangkan bumi.

B. Diperkenan di Hadapan TUHAN

Kurban bakaran yang dipersembahkan di atas mezbah di pelataran luar, diperkenan di hadapan TUHAN (ayat 3). Mezbah melambangkan salib. Salib yang di atasnya Kristus mempersembahkan diri-Nya sendiri ada di bumi, tetapi Dia mempersembahkan diri-Nya sendiri di hadapan Allah. Dia mempersembahkan diri-Nya di bumi, dan Dia diperkenan oleh Allah dan di hadapan Allah.

IV. ORANG YANG MEMPERSEMBAHKAN

Imamat 1:4-6 membicarakan orang yang mempersembahkan.

A. Meletakkan Tangannya di Atas Kurban Persembahan

Imamat 1:4 mengatakan bahwa mengenai orang yang mempersembahkan, “Ia harus meletakkan tangannya ke atas kepala kurban bakaran itu, sehingga baginya persembahan itu diperkenan untuk mengadakan pendamaian baginya.” Orang yang mempersembahkan bukan hanya membawa kurban persembahan, tetapi juga meletakkan tangannya di atas kurban persembahan itu.

1. Melambangkan Kesatuan, Bukan Penggantian

Dalam Alkitab, meletakkan tangan selalu melambangkan kesatuan, penyatuan, bukan melambangkan penggantian. Meletakkan tangan ke atas kurban persembahan berarti kita bersatu dengan kurban persembahan dan menerima kurban persembahan bersatu dengan kita. Jadi, meletakkan tangan membuat kedua pihak menjadi satu.

Melalui meletakkan tangan ke atas Kristus sebagai kurban bakaran, kita disatukan dengan Dia. Kita dan Dia, Dia dan kita, menjadi satu. Kesatuan demikian, penyatuan demikian, menunjukkan bahwa semua kelemahan, cacat, kekurangan, dan kesalahan kita menjadi milik-Nya dan semua kebajikan-Nya menjadi milik kita. Ini bukan penggantian ini adalah kesatuan.

Kita mungkin menyadari bahwa kita sama sekali tidak bersyarat dan tanpa harapan. Ini adalah keadaan kita yang sebenarnya. Namun, ketika kita meletakkan tangan ke atas Kristus, butir kelemahan kita menjadi milik-Nya, dan butir kekuatan-Nya, kebajikan-Nya, menjadi milik kita. Selain itu, secara rohani, melalui kesatuan demikian Dia menjadi satu dengan kita dan hidup di dalam kita. Karena Dia hidup di dalam kita, Dia akan mengulang di dalam kita kehidupan yang pernah Dia tempuh di bumi, kehidupan kurban bakaran. Dalam diri kita sendiri kita tidak dapat menempuh jenis kehidupan demikian, tetapi Dia dapat menempuhnya di dalam kita. Melalui meletakkan tangan ke atas Dia, kita menjadikan Dia satu dengan kita, dan kita membuat kita sendiri satu dengan Dia. Kemudian Dia akan mengulang kehidupan-Nya di dalam kita. Inilah yang dimaksud dengan mempersembahkan kurban bakaran.

2. Untuk Pendamaian

Meletakkan tangan ke atas Kristus sebagai kurban bakaran bukan hanya perkara penyatuan, tetapi juga perkara pendamaian. Pendamaian berarti masalah-masalah kita dengan Allah dan masalah-masalah Allah dengan kita disingkirkan. Meletakkan tangan ke atas Kristus bukan hanya menjadikan kita satu dengan Dia, tetapi juga membereskan masalah-masalah kita, mendamaikan situasi kita dengan Allah, sehingga kita berdamai dengan Allah.

Begitu kita memiliki masalah dengan Allah, Allah pun bermasalah dengan kita. Kristus mendamaikan situasi kita dengan Allah dan menangani masalahnya. Sekarang kita hanya perlu meletakkan tangan ke atas Dia. Ketika kita meletakkan tangan kita ke atas Kristus, masalah-masalah antara kita dengan Allah dan antara Allah dengan kita dibereskan. Karena itu, meletakkan tangan ke atas kurban bakaran adalah untuk pendamaian.

B. Menyembelih Kurban Persembahan di Hadapan TUHAN

“Kemudian haruslah ia menyembelih lembu itu di hadapan TUHAN, dan anak-anak Harun, imam-imam itu, harus mempersembahkan darah lembu itu dan menyiramkannya pada sekeliling mezbah yang di depan pintu Kemah Pertemuan” (ayat 5). Menyembelih kurban persembahan adalah untuk mengalirkan darah agar beroleh pengampunan. Menyiramkan darah di sekeliling mezbah adalah agar Allah memperkenan kurban persembahan yang dibakar di atas mezbah.

C. Menguliti Kurban Persembahan

dan Memotongnya Menurut Bagian-bagian Tertentu

Ayat 6 memberi tahu kita bahwa kurban persembahan harus dikuliti dan dipotong menurut bagian-bagian tertentu. Sebagai kurban bakaran kita, Kristus pernah melalui penganiayaan ini. Dia “dikuliti dan dipotong” menurut bagianbagian tertentu.

1. Menguliti Kurban Persembahan

Kulit kurban bakaran adalah ekspresi luarannya dari keindahannya. Jadi, menguliti kurban persembahan berarti melucuti ekspresi luarannya. Menguliti kurban bakaran ini melambangkan Kristus membiarkan ekspresi luaran kebajikan-Nya dilucuti. Ketika Kristus disalibkan, jubah-Nya ditanggalkan. Ini menunjukkan bahwa Dia “dikuliti”.

2. Memotong Kurban Persembahan Menurut Bagian-bagian Tertentu

Memotong kurban persembahan menurut bagian-bagian tertentu melambangkan Kristus membiarkan seluruh diri-Nya diremukkan tanpa kecuali. Sebagai kurban bakaran kita, Kristus, dengan seluruh kehidupan dan sejarah-Nya, dipotong menurut bagian-bagian tertentu.

Jika kita mengalami Kristus sebagai kurban bakaran kita, kita harus disembelih, dikuliti, dan dipotong menurut bagian-bagian tertentu. Kita perlu merealisasikan hal ini ketika kita mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban bakaran. Kita juga perlu menyadari bahwa Dia disembelih, dikuliti ekspresi luaran-Nya, dan dipotong menurut bagian-bagian tertentu. Semua penderitaan ini adalah agar Kristus dapat melakukan kehendak Allah. Kristus pergi ke salib untuk disembelih, dikuliti, dan dipotong menurut bagian-bagian tertentu. Dengan berbuat demikian, Dia melakukan kehendak Allah.

Jika kita menyadari bahwa kita perlu Kristus sebagai kurban bakaran, maka kita perlu memiliki satu doa yang tepat. Doa yang tepat tidak lain meletakkan tangan kita ke atas Tuhan. Kita seharusnya tidak berdoa, “Tuhan, belas kasihani aku dan lakukanlah sesuatu untukku.” Doa semacam ini bersifat obyektif. Kita perlu meletakkan tangan kita ke atas Tuhan supaya memiliki doa yang subyektif. Dalam doa demikian kita dapat berkata, “Tuhan, aku meletakkan tangan-Ku ke atas-Mu, menyatukan diriku dengan Engkau dan Engkau denganku.” Ketika kita meletakkan tangan kita ke atas Kristus melalui doa yang subyektif, Roh pemberi-hayat, yang adalah Kristus yang ke atas-Nya kita meletakkan tangan kita, akan dengan segera bergerak dan bekerja di dalam kita untuk menempuh kehidupan yang memenuhi syarat menjadi kurban bakaran.