DEFINISI UMUM DARI KURBAN-KURBAN PERSEMBAHAN
Pembacaan Alkitab: Im. 1—7
Dalam berita ini kita akan memberi definisi umum dari kurban-kurban persembahan.
I. HUBUNGAN ANTARA KURBAN-KURBAN PERSEMBAHAN
DENGAN KEMAH SUCI
Kitab Keluaran dan Imamat sangat erat kaitannya. Kitab Keluaran diakhiri dengan mendirikan Kemah Suci (Tabernakel), dan Kitab Imamat dimulai dengan kurban-kurban persembahan. Kemah Suci dan kurban-kurban persembahan adalah lambang Kristus. Fakta bahwa Kitab Keluaran berakhir dengan Kemah Suci dan Kitab Imamat dimulai dengan kurban-kurban persembahan menunjukkan satu kelanjutan langsung. Meskipun Kitab Keluaran dan Imamat berbeda dalam sifat dan dalam butir-butirnya, di antara kedua kitab itu ada hubungan langsung.
A. Kemah Suci Dibangun dan Didirikan;
Kurban-kurban Persembahan
dengan Jabatan Imam Ditetapkan
Dalam Kitab Keluaran, Kemah Suci dibangun dan didirikan. Kemah Suci didirikan bukan saja untuk Allah tinggal di dalamnya, tetapi juga untuk kita tinggal di dalamnya. Dalam Kitab Imamat kurban-kurban persembahan (Im. 1—7) dengan jabatan imam (Im. 8—10) ditetapkan.
B. Kristus sebagai Kemah Suci,
Membawa Allah kepada Manusia;
Kristus sebagai Kurban-kurban Persembahan Membawa Manusia kepada Allah
Karena Kristus kita ajaib dan almuhit, perkataan sederhana tidak memadai untuk mengungkapkan Dia dan menggambarkan Dia. Karena itu perlu ada lambang-lambang, yang sebenarnya adalah gambar-gambar. Kemah Suci dan kurban-kurban persembahan adalah lambang Kristus. Kristus sebagai Kemah Suci, membawa Allah kepada manusia; Kristus sebagai kurban-kurban persembahan, membawa manusia kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa ada lalu lintas dua arah, lalu lintas datang dan pergi. Kristus datang kepada kita sebagai Kemah Suci dan Dia pergi kepada Allah sebagai kurban-kurban persembahan.
Kemah adalah satu tanda, gambar, lambang dari Kristus. Melalui inkarnasi, Kristus datang sebagai Kemah Suci. Firman, yang adalah Allah, menjadi daging dan berkemah di antara kita (Yoh. 1:1, 14). Kristus adalah Allah yang berinkarnasi menjadi seorang manusia; maka, Dia adalah Allah-Manusia, dan Manusia-Allah ini adalah Kemah Suci. Sebagai Kemah Suci, Kristus membawa Allah kepada manusia. Kristus ada di bumi adalah Allah diwujudkan dalam Kemah Suci. Di sini kita memiliki satu aspek dari lalu lintas dua arah, Allah datang kepada kita di dalam Kristus melalui inkarnasi.
Yohanes 1:29 memberi tahu kita bahwa Kristus yang adalah Kemah Suci juga adalah Anak Domba Allah: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” Kristus sebagai Anak Domba Allah adalah totalitas, keseluruhan dari semua kurban persembahan.
Di satu pihak, Kristus adalah Kemah Suci; di pihak lain, Dia adalah kurban-kurban persembahan. Sebagai Kemah Suci, Dia membawa Allah kepada kita. Sebagai kurban-kurban persembahan, Dia sekarang membawa kita semua kepada Allah. Kristus sebagai Kemah Suci adalah perkara inkarnasi. Kristus sebagai kurban-kurban persembahan adalah perkara penyaliban dan kebangkitan. Kristus datang dalam inkarnasi dan Dia pergi melalui penyaliban dan kebangkitan. Ini adalah lalu lintas dua arah yang membawa Allah kepada kita dan membawa kita kepada Allah, menjadikan Allah satu dengan kita dan kita satu dengan Allah.
C. Kemah Membuat Kita Mengalami Allah dan Bersatu dengan Allah;
Kurban-kurban Persembahan Membuat Kita Menikmati Allah dan Berbaur dengan Allah
Kemah Suci membuat kita mengalami Allah, bersatu dengan Allah, dan kurban-kurban persembahan membuat kita menikmati Allah dan berbaur dengan Allah. Mengalami Allah, bersatu dengan Allah, adalah masuk ke dalam Kemah Suci. Ketika Tuhan Yesus masih di bumi, orang dapat mengontak Dia. Akhirnya, murid-murid dibawa masuk ke dalam Dia, ke dalam Allah yang berinkarnasi. Jadi, Kemah Suci membawa Allah kepada kita, supaya kita dapat mengalami Allah, masuk ke dalam Allah, disatukan dengan Allah.
Kemah Suci dan kurban-kurban persembahan melambangkan Kristus. Kemah Suci melambangkan Allah di dalam Kristus untuk kita kontak, jamah, alami, masuki, disatukan dengan Allah. Kurban-kurban persembahan adalah Allah di dalam Kristus untuk kenikmatan kita. Melalui menikmati Kristus sebagai kurban-kurban persembahan, kita dibaurkan dengan Allah. Allah di dalam Kristus adalah Kemah Suci, tempat kediaman, untuk kita dekati, kontaki, masuki, miliki, dan alami. Allah di dalam Kristus juga adalah semua kurban persembahan, supaya kita menikmati Dia, menerima Dia, bahkan memakan, mencerna, dan mengasimilasi Dia, sehingga Dia dapat menjadi susunan kita. Setelah menikmati kurban-kurban persembahan dan memakannya, kita masuk ke dalam Kemah Suci, dan di sana kita menikmati semua apa adanya Allah di dalam Kristus. Ini adalah wahyu ajaib bahwa Tuhan adalah Kemah Suci dan kurban-kurban persembahan. Kita dapat masuk ke dalam Dia, juga dapat menikmati Dia, dapat berbaur dengan Dia.
Kristus sebagai kurban-kurban persembahan adalah untuk kenikmatan kita, karena kurban-kurban persembahan ini dapat dimakan, bukan hanya dapat dimakan oleh Allah, tetapi juga oleh kita. Kita dapat menikmati dan makan Kristus bersama Allah. Saling menikmati ini dapat dibandingkan dengan saling menikmati yang kita miliki dalam pesta di mana kita mendorong satu sama lain untuk menikmati semua jenis masakan. Kenikmatan bersama dalam pesta ini adalah gambaran kita menikmati Kristus bersama Allah. Ketika kita menikmati Kristus pada aspek tertentu, kita boleh berkata, “Bapa, kiranya Engkau juga menikmati bagian Kristus ini.” Kemudian Bapa mungkin menjawab, “Anak, semoga kamu menikmati apa yang Aku nikmati.” Ini adalah persekutuan dari saling menikmati, persekutuan dari kenikmatan bersama.
Apa saja yang kita makan menjadi diri kita. Jika kita memahami butir ini, kita akan melihat bahwa betapa bodohnya orang yang menentang wahyu ilahi mengenai perbauran keilahian dengan keinsanian. Melalui penebusan Kristus dan oleh Roh-Nya, unsur ilahi Kristus menjadi makanan kita. Setelah kita makan makanan ini, makanan ini dicerna dan diasimilasi menjadi serat dan sel kita. Ini benar-benar adalah perkara perbauran.
Alkitab mewahyukan bahwa Allah pencipta menjadi seorang manusia, Manusia-Allah, dan manusia ini menjadi kurban-kurban persembahan-kurban bakaran, kurban sajian, kurban pendamaian, kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, kurban timangan, dan kurban unjukan. Kurban-kurban persembahan ini telah menjadi makanan kita. Ini berarti Allah di dalam Kristus dapat dimakan. Allah menjadi dapat dimakan melalui menjadi kurban-kurban persembahan. Melalui kita makan kurban-kurban persembahan ini, unsur ilahi berbaur dengan keinsanian. Jadi, Kristus bukan hanya tempat kediaman kita; Dia juga makanan kita, agar kita menikmati Allah dan berbaur dengan Allah.
Setiap hari kita dapat menikmati bukan saja kehadiran Allah, tetapi juga unsur-Nya, esens-Nya, bahkan substansi-Nya yang dapat dimakan. Surat Kiriman Paulus menunjukkan bahwa Kristus dapat dimakan, tetapi tidak memberi rincian mengenai makan Kristus. Untuk mendapatkan rincian, kita perlu datang ke Kitab Imamat. Kristus yang diwahyukan dalam Kitab Imamat adalah Kristus yang baik untuk dimakan. Kitab Imamat memberi kita bukan saja “bahan-bahan makanan”, tetapi juga “resep” untuk “memasak” Kristus.
Semua kurban persembahan bukan hanya untuk kita menikmati Allah, tetapi juga untuk memiliki Allah yang diasimilasikan ke dalam diri kita. Asimilasi ini menghasilkan perbauran. Kita perlu melihat bahwa kita sedang dibaurkan dengan Allah dan Allah sedang membaurkan diri-Nya dengan kita. Tuhan Yesus telah menjadi Roh itu dan berada di dalam roh kita, dan setiap hari Dia membaurkan diri-Nya dengan kita. Namun, perbauran ini tergantung pada kita makan Dia, mencerna Dia, dan mengasimilasi Dia. Makanan bergizi mungkin dihidangkan di depan kita, tetapi kita mungkin makan secara salah dan akibatnya salah mencerna. Demikian pula, jika kita makan Kristus secara salah, kita akan salah cerna secara rohani. Dalam kasus sedemikian, kita tidak bisa mengasimilasi Kristus. Kita perlu belajar bagaimana makan Kristus, mencerna Kristus, dan mengasimilasi Kristus. Kemudian kita akan dirawat, dikuatkan, dan dibaurkan dengan Allah.
D. Kemah Suci Adalah untuk Allah Tinggal;
Kurban-kurban Persembahan
Adalah untuk Allah Nikmati
Melalui Apresiasi dan Penyajian Kita
Kemah Suci adalah untuk Allah tinggal; kurban-kurban persembahan adalah untuk Allah nikmati melalui apresiasi dan penyajian kita. Ini sangat menakjubkan, ajaib, dan misterius. Kemah Suci bukan hanya untuk kita masuk, tetapi juga untuk Allah tinggal. Kemah Suci adalah Allah datang kepada kita di dalam Kristus dan melalui Kristus. Kemah Suci ini adalah tempat tinggal Allah untuk Allah tinggal di dalam Kristus. Ini berarti perwujudan Allah adalah tempat tinggal Allah. Allah tinggal di dalam Kristus sebagai perwujudan-Nya.
Kristus sebagai kurban-kurban persembahan bukan hanya untuk kenikmatan kita, lebih-lebih untuk kenikmatan Allah. Kurban bakaran seluruhnya untuk makanan Allah, untuk kenikmatan Allah. Kurban-kurban persembahan bukan hanya agar kita menikmati Allah dan berbaur dengan Allah, lebih-lebih untuk kenikmatan Allah. Karena itu, Allah bukan hanya tinggal di dalam Kristus, Dia juga menikmati Kristus.
Kemah Suci adalah untuk tempat tinggal Allah, dan kurban-kurban persembahan adalah untuk kenikmatan Allah. Apakah ini berarti bahwa Allah tinggal di dalam diri-Nya sendiri dan menikmati diri-Nya sendiri? Jawaban untuk pertanyaan demikian melibatkan rahasia Trinitas. Tuhan Yesus berkata, “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh. 14:10). Kitab Ibrani mewahyukan bahwa Kristus mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah untuk kepuasan Allah. Di sini kita melihat rahasia Allah menjadi seorang manusia untuk mati di salib dan kemudian bangun dalam kebangkitan untuk Allah dan untuk kita.
Kurban-kurban persembahan adalah untuk Allah nikmati melalui apresiasi dan penyajian kita. Tanpa apresiasi dan penyajian kita akan Kristus sebagai kurban-kurban persembahan, Allah tidak dapat memiliki kenikmatan atas kurban-kurban persembahan. Allah telah datang kepada kita di dalam Kristus, menjadi Kemah Suci, tempat tinggal, untuk diri-Nya sendiri. Dia juga telah menjadi semua kurban persembahan untuk kita dan untuk diri-Nya sendiri. Jika kita tidak mengapresiasi kurban-kurban persembahan ini dan menyajikan mereka kepada Allah, Allah tidak akan memiliki kenikmatan atas kurban-kurban persembahan.
Sama seperti orang Israel harus berjerih lelah pada tanah permai untuk memiliki panen guna dipersembahkan kepada Allah, kita pun perlu berjerih lelah atas Kristus supaya kita dapat mempersembahkan Dia kepada Allah. Berjerih lelah atas Kristus adalah berusaha sekuatnya menikmati Dia dan mengalami Dia. Semakin kita menikmati dan mengalami Kristus, kita akan semakin mengapresiasi Dia. Kemudian kita akan menyajikan Kristus kepada Allah untuk kenikmatan-Nya.
E. Persembahan-persembahan Bukanlah Kurban-kurban,
Melainkan Persembahan-persembahan untuk Allah yang Diberikan oleh para Pengapresiasi Kristus
Persembahan-persembahan bukanlah kurban-kurban, melainkan persembahan-persembahan untuk Allah yang diberikan oleh para pengapresiasi Kristus. Imamat 1:2 mengatakan, “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.” Kata Ibrani yang diterjemahkan “kurban persembahan” adalah “corban” dan berarti sajian, pemberian. Kata Ibrani yang diterjemahkan “mempersembahkan” dan “menyajikan” di sini keduanya memiliki akar kata yang sama. Karena itu, persembahan-persembahan dipersembahkan kepada Allah. Bani Israel berjerih lelah atas tanah permai dan kemudian mempersembahkan hasil tanah permai yang mereka nikmati dan apresiasi kepada Allah sebagai persembahan. Lima kurban persembahan utama adalah untuk kita bersekutu dengan Allah. Imamat 1—7 membicarakan tentang persekutuan anak-anak Allah dengan Allah. Untuk persekutuan ini perlu ada persembahan.
Ketika kita datang ke sidang-sidang gereja, kita harus datang bukan dengan kurban-kurban, tetapi mempersembahkan kurban persembahan (hadiah) kepada Allah. Kurban-kurban adalah untuk penebusan, untuk pendamaian, sedangkan persembahan (hadiah) adalah pemberian untuk persekutuan akrab antara kita dengan Allah. Persembahan-persembahan yang kita bawa untuk persekutuan ini seharusnya adalah Kristus yang kita alami. Dengan banyak mengapresiasi Kristus ini, kita seharusnya mempersembahkan Dia sebagai hadiah kepada Allah. Bahkan kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah dapat berupa hadiah yang kita bawa kepada Allah.
Membawa kurban untuk dosa adalah perkara serius. Membawa hadiah kepada teman karib bukanlah hal yang serius, tetapi hal yang manis. Setiap kali kita menghadiri sidang, kita harus merasakan kemanisan datang kepada Allah untuk mempersembahkan hadiah yang mustika untuk kita nikmati bersama Dia. Kita harus mempersembahkan Kristus kepada Allah bukan semata-mata sebagai kurban untuk masalah-masalah kita tetapi juga sebagai hadiah kepada Allah untuk kenikmatan-Nya dan kenikmatan kita bersama Dia.
F. Ketetapan-ketetapan tentang Kurban-kurban
Persembahan Adalah Resep Masakan Ilahi
Ketetapan-ketetapan tentang kurban-kurban persembahan adalah resep masakan ilahi. Kristus adalah bahannya, kita adalah juru masaknya, dan Allah dan kita samasama penikmat yang menikmati Kristus sebagai kepuasan. Ini adalah pandangan sekilas dari Kitab Imamat. Secara rohani, tidak ada sesuatu yang lebih tinggi dibandingkan dengan kenikmatan kita atas Allah Tritunggal di dalam Kristus.
Pernahkah Anda menyadari bahwa sidang gereja adalah sidang memasak, sidang makan? Kita telah berbicara tentang datang ke sidang-sidang untuk makan, dan dalam sidang-sidang kita menyanyikan kidung yang pendek “Mari makan” (kuningSuplemen, 215). Namun, kita mungkin tidak pernah mengira bahwa kita perlu memasak. Bahan-bahan sudah ada, dan yang memakan juga sudah ada, tetapi siapa juru masaknya? Saya memiliki jaminan untuk mengatakan bahwa Allah dan Roh itu bukan juru masak, kitalah juru masaknya. Karena itu, kita semua harus belajar memasak.
Dari lambang-lambang dalam Kitab Imamat, kita dapat melihat bahwa Allah benar-benar damba menikmati Kristus. Dia ingin menikmati Kristus melalui apresiasi kita atas Kristus dan melalui penyajian kita atas Kristus. Namun, bahkan sampai sekarang, kita masih demikian usang, tradisional, dangkal, dan agamawi. Mungkin kita semua melihat bahwa Allah kita damba menikmati Kristus. Kristus seharusnya bukan hanya menjadi makanan kita, tetapi juga makanan Allah melalui apresiasi dan penyajian kita, yaitu melalui kita memasak. Kita semua perlu masak Kristus, supaya kita dapat memberi makan Allah dengan Kristus.
II. KATEGORI-KATEGORI
KURBAN-KURBAN PERSEMBAHAN
Sekarang kita sampai pada kategori-kategori kurban-kurban persembahan. Menurut Kitab Imamat, ada lima jenis kurban persembahan utama, lima jenis pemberian utama: kurban bakaran, kurban sajian, kurban pendamaian, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah. Kita perlu gambaran kurban-kurban persembahan dalam Kitab Imamat untuk merevolusi konsepsi kita mengenai pelayanan, penyembahan, dan pengalaman atas Kristus.
A. Kurban Bakaran
Kurban bakaran adalah Kristus untuk kepuasan Allah (1:1-17; 6:8-13). Kurban bakaran adalah untuk makanan Allah, supaya Allah dapat menikmatinya dan dipuaskan. Kurban persembahan ini dipersembahkan setiap hari, pada pagi dan petang.
B. Kurban Sajian
Kurban sajian adalah Kristus untuk kepuasan umat Allah yang dinikmati bersama Allah (2:1-16; 6:14-23). Kurban bakaran adalah untuk makanan Allah, dan kurban sajian adalah untuk makanan kita. Bagaimanapun, kita makan kurban sajian bersama Allah. Kristus mula-mula harus mutlak untuk kenikmatan Allah, dan kemudian Dia harus menjadi kenikmatan kita supaya kita dapat menikmati Dia bersama Allah. Seperti yang ditunjukkan Imamat 2 kepada kita, sebagian kurban sajian adalah untuk Allah, tetapi bagian terbesar kurban persembahan ini untuk kita. Ini menunjukkan bahwa Kristus adalah untuk kenikmatan kita, supaya kita dapat menikmati Dia bersama Allah.
C. Kurban Pendamaian
Kurban pendamaian adalah Kristus sebagai pendamaian antara Allah dengan umat Allah untuk kenikmatan bersama dalam persekutuan (3:1-17; 7:11-38). Kurban bakaran adalah Kristus untuk kenikmatan Allah, kurban sajian adalah Kristus untuk kenikmatan kita bersama Allah, dan kurban pendamaian adalah Kristus sebagai pendamaian antara Allah dengan umat Allah. Sebagai kurban persembahan yang demikian, Kristus menjadi kenikmatan bersama dari Allah dan umat Allah. Dalam kenikmatan ini ada persekutuan.
D. Kurban Penghapus Dosa
Kurban penghapus dosa adalah Kristus untuk dosa umat Allah (4:1-35; 6:24-30). Maksud Allah adalah ada kenikmatan bersama untuk Dia dan untuk kita. Maksud-Nya adalah supaya kita dapat berdamai dengan Dia untuk menikmati Kristus dengan Dia dalam persekutuan. Bagaimanapun, kita perlu mengingat bahwa kita masih memiliki dosa di dalam sifat kita dan kesalahan dalam perilaku kita. Dosa dan kesalahan kita keduanya dihukum oleh Allah. Karena itu, kita perlu kurban penghapus dosa, yang adalah Kristus untuk dosa di dalam sifat kita. Mengenai hal ini, Kristus telah mengadakan pendamaian.
E. Kurban Penebus Salah
Kurban penebus salah adalah Kristus untuk dosa-dosa (perbuatan dosa) umat Allah (5:1-6:7; 7:1-10). Kristus telah mengadakan perdamaian untuk dosa-dosa kita, kesalahan-kesalahan kita, sebagaimana untuk dosa kita. Dengan Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan sebagai kurban penebus salah, kita tidak lagi memiliki masalah dengan Allah. Kita sekarang dapat dengan tenteram dan damai menikmati Kristus bersama Allah.
Lambang dalam Imamat 1—7 memperlihatkan betapa limpahnya Kristus untuk kita. Pasal-pasal ini memper-lihatkan kepada kita banyak butir mengenai Kristus. Kita perlu belajar dengan cermat mengalami Kristus dalam semua butir baik ini.
F. Kurban Bakaran Adalah Persyaratan untuk Kurban Penghapus Dosa
Kurban bakaran adalah persyaratan untuk kurban penghapus dosa. Sebagai kurban bakaran, Kristus mutlak untuk Allah. Jika Kristus tidak memiliki kemutlakan untuk Allah, Dia tidak memenuhi syarat untuk menjadi kurban penghapus dosa kita. Adam jatuh karena dia tidak mutlak untuk Allah. Seandainya ia mutlak untuk Allah, dia tidak akan tertipu. Adam tertipu karena dia tidak mutlak untuk Allah. Akhirnya Kristus datang; Dia mutlak untuk Allah dan Dia tidak pernah tertipu. Dia yang mutlak ini sempurna dan bersyarat untuk menjadi kurban penghapus dosa kita guna menanggulangi dosa di dalam sifat kita. Kemutlakan Kristus untuk Allah melayakkan Dia menjadi kurban penghapus dosa.
G. Kurban Sajian Adalah Persyaratan untuk Kurban Penebus Salah
Kurban sajian adalah persyaratan untuk kurban penebus salah. Jika Kristus tidak memiliki kesempurnaan dalam keinsanian-Nya, tetapi memiliki banyak cacat, kekurangan, dan kekeliruan, Dia sendiri memerlukan kurban penebus salah dan karenanya tidak bersyarat menjadi kurban penebus dosa kita. Namun, dalam keinsanian-Nya Kristus sempurna, baik, dan seimbang; Dia juga sama sekali tanpa cacat, kesalahan, kekurangan, dan kekeliruan. Kesempurnaan-Nya melayakkan Dia menjadi kurban penebus salah kita.
Kurban bakaran adalah untuk kurban penghapus dosa. Jadi, kedua kurban persembahan ini berkaitan. Demikian pula, kurban sajian adalah untuk kurban penebus salah. Maka, kedua kurban persembahan itu berkaitan satu sama lain. Jika Kristus tidak mutlak terhadap Allah, Dia tidak dapat menjadi kurban penghapus dosa kita untuk menanggulangi dosa dalam sifat kita. Jika Dia tidak sempurna dalam keinsanian-Nya, Dia tidak dapat menjadi kurban penebus salah untuk menyingkirkan kesalahan kita. Kristus mutlak terhadap Allah, dan Dia sempurna dalam keinsanian-Nya. Karena itu, Dia bersyarat untuk menanggulangi dosa kita dan menyingkirkan kesalahan kita.
H. Kurban Pendamaian Adalah Hasil dari Empat Kurban Persembahan Lainnya
Kurban pendamaian adalah hasil dari empat kurban persembahan lainnya. Ini berarti kurban pendamaian adalah totalitas dari empat kurban persembahan lainnya. Kristus adalah empat kurban persembahan ini, yang rampung dalam pendamaian antara Allah dengan umat Allah, dan pendamaian ini adalah Kristus sendiri. Sebagai kurban pendamaian, Kristus adalah makanan yang kita nikmati bersama Allah dan makanan Allah yang dinikmati bersama kita. Di dalam Kristus sebagai kurban pendamaian kita memiliki kenikmatan bersama dalam persekutuan.
Kita perlu membawa semua butir mengenai Kristus ini sebagai kurban-kurban persembahan ke dalam hidup gereja kita, dan mempraktekkan memasak Kristus dan menyajikan Kristus kepada Allah dalam sidang-sidang gereja. Kita semua perlu belajar memasak Kristus dengan lembut, makan Dia dengan lembut, dan menyajikan Dia dengan lembut. Inilah jalan kita mempelajari Kitab Imamat. Kita seharusnya tidak hanya memiliki pengetahuan doktrinal akan butir-butir lembut mengenai Kristus; kita juga harus belajar memasak Kristus, menyajikan Kristus kepada Allah, dan menikmati Kristus bersama Allah sebagai kurban bakaran, kurban sajian, kurban pendamaian, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah. Melalui melakukan hal ini kita akan sepenuhnya disusun ke dalam mereka yang damba masuk ke dalam Kemah Suci dan tinggal di sana untuk menikmati isi Allah Tritunggal.