← Daftar isi Imamat (1) · bab 1/20

PENDAHULUAN

Pembacaan Alkitab: Im. 1:1; 27:34

Dalam berita ini kita akan memberikan pendahuluan untuk Pelajaran-Hayat Imamat.

I. KEMAJUAN WAHYU ILAHI

Ketika kita sampai pada Kitab Imamat, pertama-tama kita perlu memiliki pemikiran umum tentang wahyu ilahi. Semua pelajar Alkitab tahu bahwa wahyu Allah dalam Alkitab terus maju. Allah tidak mewahyukan segala sesuatu sepenuhnya hanya dalam satu kitab. Maka, kita tidak dapat melihat pandangan yang lengkap dari wahyu Alkitab dalam satu kitab. Wahyu ilahi maju dari satu tahap ke tahap yang lainnya, dari satu tingkat ke tingkat yang lainnya, dari satu butir ke butir yang lainnya. Hanya ketika kita mencapai pasal terakhir Alkitab, barulah kita memiliki satu pandangan wahyu Allah yang lengkap.

Wahyu ilahi dalam Alkitab terus maju. Alkitab ditulis lebih dari 1500 tahun; dimulai pada zaman Musa dan diakhiri pada zaman Rasul Yohanes. Di dalam rentang waktu yang panjang ini, wahyu ilahi lengkap, dan kitab-kitab dari Alkitab akhirnya disusun dalam urutan yang penuh makna. Mengikuti kemajuan wahyu ilahi, kita perlu mengikuti susunan Alkitab. Sekarang, mari kita perhatikan bagaimana wahyu ilahi maju dalam tiga kitab pertama dari Alkitab-Kitab Kejadian, Keluaran, dan Imamat.

A. Dalam Kitab Kejadian—

Penciptaan Allah dan Kejatuhan Manusia

Kitab Kejadian mewahyukan penciptaan Allah dan kejatuhan manusia. Menurut Kitab Kejadian, manusia jatuh tahap demi tahap: dari Allah ke hati nurani, dari hati nurani ke pemerintahan manusia, dan dari pemerintahan manusia ke pemberontakan. Dalam pemberontakan ini manusia meninggalkan Allah dan berpaling untuk menyembah berhala. Setelah manusia memberontak melawan Allah di Babel, Allah meninggalkan ras ciptaan; tetapi, Dia tidak dapat dan tidak akan meninggalkan kehendak-Nya. Karena itu, setelah meninggalkan ras ciptaan, Allah memanggil satu ras baru, ras pilihan, dimulai dengan Abraham. Kepada Abraham, Allah menjanjikan bahwa di dalam dia semua kaum di muka bumi akan diberkati (Kej. 12:3). Namun, sampai suatu waktu ras yang dipilih dan dipanggil Allah jatuh dari pemilihan dan panggilan Allah, jatuh ke Mesir, yaitu ke dalam dunia.

Dalam Kitab Kejadian kita melihat bahwa manusia jatuh dari Allah ke hati nurani, dari hati nurani ke pemerintahan manusia, dari pemerintahan manusia ke pemberontakan, dan dari pemberontakan ke dunia. Dunia hari ini adalah ekspresi kejatuhan manusia sampai puncaknya, sebab dunia adalah ekspresi akhir dari langkah kejatuhan manusia. Ayat pertama Kitab Kejadian mengatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi,” dan ayat terakhir memberi tahu kita bahwa Yusuf “ditaruh dalam peti mati di Mesir” (50:26). Dalam ayat pertama kita memiliki penciptaan Allah, dan dalam ayat terakhir kita memiliki akibat tahap-tahap kejatuhan manusia-manusia diletakkan dalam peti mati di Mesir. Ini adalah wahyu yang jelas dalam Kitab Kejadian.

B. Dalam Kitab Keluaran—Keselamatan Allah dan Pembangunan Tempat Kediaman-Nya

Kitab Keluaran mewahyukan keselamatan Allah dan pembangunan tempat kediaman-Nya. Ya, manusia yang diciptakan Allah jatuh, dan manusia yang dipilih dan dipanggil Allah juga jatuh. Namun, Allah adalah Allah, dan Dia tidak kecewa. Tidak ada suatu apa pun yang dapat menghentikan Dia atau membatalkan kehendak-Nya. Setelah manusia jatuh sampai puncaknya, Allah datang menolong manusia yang jatuh. Setelah menebus umat-Nya yang jatuh, Allah membawa mereka ke suatu tempat di mana Dia membangun mereka bersama menjadi tempat kediaman-Nya di bumi. Karena itu, dalam Kitab Keluaran kita melihat dua hal utama yaitu penebusan Allah dan tempat kediaman Allah.

Kata “keluaran” di sini, dalam bahasa aslinya berarti “jalan keluar”. Apakah kita melihat bahwa dalam Kitab Keluaran ada jalan keluar dari kejatuhan manusia. Kitab Kejadian diakhiri dengan manusia dalam peti mati di Mesir, tetapi dalam Kitab Keluaran ada jalan keluar dari peti mati ini, jalan keluar dari kotak kematian ini. Jalan keluar ini mencakup penebusan Allah. Penebusan Allah membawa kita keluar dari peti mati, kembali kepada Dia sendiri.

Dalam Kitab Keluaran, mereka yang telah dibawa kembali kepada Allah diperintahkan untuk membangun Kemah Suci, tempat kediaman Allah. Ini menunjukkan bahwa Allah bukan hanya bisa membawa manusia yang jatuh keluar dari kematian, tetapi juga dapat memakai manusia ini untuk membangun tempat kediaman bagi Dia di bumi. Kalau pada akhir Kitab Kejadian ada peti mati yang berisi jenazah, pada akhir Kitab Keluaran ada Kemah Suci yang berisi Allah yang hidup. Ini adalah satu kemajuan yang sangat besar!

Dalam Kitab Kejadian kita melihat penciptaan Allah dan kejatuhan manusia, dan dalam Kitab Keluaran kita melihat penebusan Allah dan tempat kediaman Allah. Kita memuji Tuhan bahwa karena penebusan Allah kita tidak lagi dalam kejatuhan. Melalui penebusan kita telah dibawa ke dalam tempat kediaman Allah, yang bagi kita hari ini adalah gereja. Kemah Suci sebagai tempat kediaman Allah dalam Kitab Keluaran melambangkan gereja. Tempat kediaman Allah hari ini adalah gereja, dan kita ada di dalamnya.

Keluaran 40 membicarakan Kemah Suci, tetapi Imamat 1:1, yang melanjutkan Kitab Keluaran, membicarakan Kemah Pertemuan. Dua istilah ini mengacu kepada hal yang sama. Kemah Suci adalah tempat kediaman, dan Kemah Pertemuan adalah tempat pertemuan. Kemah Suci adalah untuk tempat kediaman Allah, untuk tempat tinggal-Nya, dan Kemah Pertemuan adalah untuk pertemuan umat-Nya. Kemah Suci adalah tempat kediaman Allah, namun tempat kediaman ini juga pusat perhimpunan umat Allah. Maka, Kemah Suci disebut juga Kemah Pertemuan. Kemah Pertemuan adalah tempat pertemuan Allah dengan umat tebusan-Nya. Hari ini gereja adalah Kemah Suci dan Kemah Pertemuan. Allah memiliki tempat kediaman di bumi, dan tempat kediaman ini juga adalah tempat pertemuan untuk kita berhimpun satu sama lain dan bertemu dengan Allah. Apakah gereja? Gereja adalah perhimpunan orang-orang yang beroleh selamat dengan Allah yang menyelamatkan.

Segera setelah Kemah Suci dibangun dan didirikan, Allah datang untuk tinggal di dalamnya (Kel. 40:2, 33-35). Allah yang tinggal di dalam Kemah Suci adalah Allah yang tinggal di antara manusia. Allah tidak lagi hanya di surga. Tidak mungkin kita pergi ke surga untuk bertemu dengan Allah. Namun, Allah datang untuk berkemah di antara kita (Yoh. 1:14 Tl.). Ini berarti Allah berinkarnasi menjadi seorang manusia, dan manusia ini menjadi Kemah Allah di bumi. Allah turun dari surga dan mengambil bentuk seorang manusia, dan sekarang Allah dapat dijamah.

Keempat Kitab Injil mewahyukan bahwa Allah yang semula ada di surga dan yang tidak dapat dijamah, suatu hari menjadi Kemah, seorang manusia di bumi. Setelah turun ke bumi, Dia menyajikan diri-Nya kepada kita bukan dalam bentuk Allah, tetapi dalam bentuk manusia. Siapakah Orang ini? Dia itu manusia atau Allah? Dia adalah Allah-Manusia. Allah kita hari ini bukan saja ada di surga sebagai Allah, sebab Dia, Allah-Manusia, turun ke bumi dalam bentuk manusia untuk menjadi Kemah.

Kemah Suci dalam Kitab Keluaran dapat dimasuki. Melalui berinkarnasi Allah kita bukan saja menjadi seorang manusia; Dia juga menjadi Kemah yang dapat dimasuki. Allah menentukan semua orang Israel menjadi imam (Kel. 19:6) sehingga semuanya dapat memiliki hak dan kehormatan untuk memasuki Kemah Suci, yaitu masuk ke dalam Allah dan tinggal di dalam Allah. Dalam Perjanjian Lama, para imam dapat memasuki Kemah Suci, dan hari ini kita, kaum beriman di dalam Kristus, dapat masuk ke dalam Allah dan tinggal di dalam Dia. Perjanjian Baru membicarakan tinggal di dalam Allah (1Yoh. 4:15, 13; 3:24; 2:6). Tinggal di dalam Allah adalah berhuni di dalam Allah. Allah yang berinkarnasi telah menjadi tempat kediaman kita, rumah kita, sebagai tempat kenikmatan.

C. Dalam Kitab Imamat—Penyembahan dan Kehidupan Orang yang Ditebus

Dalam Kitab Imamat kita bisa melihat penyembahan dan kehidupan orang yang ditebus. Kita tidak seharusnya mengikuti pemahaman umum atas penyembahan. Menurut pemahaman umum, penyembahan adalah membungkuk atau mengadakan satu pelayanan dengan ritual. Namun, arti penyembahan dalam Alkitab bukanlah demikian. Dalam Alkitab, penyembahan menunjukkan kontak kita dengan Allah, menikmati bagian umum bersama Allah, untuk persekutuan kita dengan Dia. Dalam Kitab Imamat penyembahan adalah perkara mengontak Allah melalui menikmati bagian umum bersama Dia. Hasil hal ini adalah persekutuan dengan Dia dan dengan satu sama lain dalam hadirat-Nya. Melakukan hal ini adalah menyembah Allah.

Bertahun-tahun kita telah mencoba melaksanakan penyembahan semacam ini. Namun, saya harus dengan jujur mengatakan bahwa kita belum begitu sukses. Kelihatannya sejak lahir kita telah memiliki konsepsi penyembahan yang agamawi. Selain itu, banyak dari kita dibesarkan dalam lingkungan penyembahan yang agamawi dan belajar melaksanakan penyembahan demikian. Akhirnya penyembahan yang agamawi menjadi bagian dari diri kita. Hal ini menghalangi kita dari memiliki jenis penyembahan yang diwahyukan dalam Alkitab.

Mengenai penyembahan, kita perlu memiliki perubahan konsepsi. Setiap kali kita berkumpul, seharusnya kita memiliki satu jenis penyembahan, yaitu perkara mengontak Allah melalui menikmati Kristus sebagai bagian umum kita dengan Allah dan dengan satu sama lain. Jika kita memiliki pemahaman penyembahan ini, ketika kita bersidang, kita akan sungguh-sungguh membagikan pengalaman dan kenikmatan atas Kristus yang kita miliki dalam kehidupan kita setiap hari. Kita dapat melakukan hal ini melalui memuji, berdoa, atau memberikan kesaksian kita.

Kita perlu membuang cara agamawi dan tradisional untuk menyembah dan melaksanakan cara alkitabiah, yang digambarkan dalam hari raya. Pada hari raya tidak ada penyembahan agamawi. Sebaliknya, ada kenikmatan atas hal-hal yang orang persembahkan kepada Allah. Mereka menikmati persembahan ini dengan Allah dan dengan satu sama lain.

Kita perlu memiliki satu penyembahan yang hidup, sejati, dan kaya di dalam Kristus. Jenis penyembahan ini menuntut kita mengalami dan menikmati Kristus setiap hari. Ini juga menuntut kita melatih roh kita untuk membebaskan setiap hal dari Kristus yang ada di dalam roh kita, supaya kita dapat membaginikmatkan Dia dengan kaum beriman yang lain. Dalam penyembahan yang demikian, Allah menikmati Kristus, dan kita juga menikmati Dia. Ini adalah aspek wahyu ilahi dalam Kitab Imamat.

Andaikata dalam satu sidang kita mengontak Allah melalui menikmati Kristus sebagai bagian umum kita dengan Allah dan dengan satu sama lain, sidang demikian akan menjadikan kita kudus, sebab hasil dari sidang semacam ini adalah kehidupan sehari-hari yang kudus. Kemudian kita tidak saja menjadi penyembah yang kudus; kita juga akan menjadi umat kudus yang menempuh kehidupan sehari-hari yang kudus. Ini juga adalah bagian dari kemajuan wahyu Allah dalam Kitab Imamat.

Menurut kemajuan wahyu ilahi dalam Kitab Kejadian, Keluaran, dan Imamat, kita beranjak dari penciptaan, melalui kejatuhan, menuju penebusan, dan dari penebusan ke tempat kediaman Allah. Di sini kita menyembah Allah melalui mengontak Dia bersama Kristus sebagai bagian kita dan menikmati bagian ini bersama Dia dan dengan satu sama lain. Dari penyembahan ini akan timbul satu kehidupan yang kudus dalam kehidupan kita setiap hari. Maka, dalam Kitab Imamat, Allah tidak hanya mendapatkan tempat kediaman di bumi; Dia juga mendapatkan umat yang menyembah Dia, umat yang mengontak Dia dan menikmati Kristus-Nya sebagai bagian umum dengan Dia dan dengan satu sama lain, yang menghasilkan kehidupan yang kudus untuk mengekspresikan Allah. Ini sungguh-sungguh satu kemajuan wahyu ilahi.

II. SATU PERBANDINGAN

Mari kita sekarang melanjutkan untuk membuat satu perbandingan antara aspek-aspek tertentu dari Kitab Keluaran dengan Kitab Imamat.

A. Allah Berbicara di Gunung Sinai dan Allah Berbicara di Dalam Kemah Suci

Ada banyak perbedaan penting antara Kitab Keluaran dengan Kitab Imamat. Perbedaan pertama yang dapat kita tunjukkan ialah mengenai tempat pembicaraan Allah. Dalam Kitab Keluaran, Allah berbicara di Gunung Sinai, yang adalah satu gunung yang gundul; dalam Kitab Imamat, Allah berbicara di dalam Kemah Suci, yang adalah satu bangunan.

Pada butir ini kita perlu mengajukan satu pertanyaan: Di manakah Allah dalam Kitab Imamat? Dalam Kitab Kejadian, Allah secara umum ada di surga. Beberapa kali Dia datang ke bumi untuk berkunjung, tetapi kemudian Dia kembali ke surga. Dalam Kitab Keluaran, Allah ada di atas Gunung Sinai. Dalam Kitab Imamat, Allah ada di dalam Kemah Suci, Kemah Pertemuan. Dalam Kitab Kejadian, Allah ada di surga. Dalam Kitab Keluaran, Allah turun untuk tinggal di Gunung Sinai untuk melakukan pekerjaan membangun tempat kediaman-Nya di bumi. Dalam pasal terakhir Kitab Keluaran, Kemah Suci didirikan, dan perabotan ditata di dalamnya. Kemudian Allah masuk ke dalam Kemah Suci untuk tinggal di dalamnya. Sekarang dalam Kitab Imamat, Allah ada di dalam Kemah Suci, yang adalah Kemah Pertemuan, dan berbicara di dalam Kemah Pertemuan.

Ayat pertama dan terakhir Kitab Imamat menunjukkan bahwa seluruh kitab ini adalah catatan pembicaraan Allah. Pembicaraan yang dimulai pada 1:1 terjadi bukan di surga atau di Gunung Sinai, tetapi di dalam Kemah Suci. Pembicaraan Allah hari ini juga ada di dalam Kemah Suci-Nya, dan Kemah Suci ini adalah gereja. Menurut prinsip perlambangan di sini, Allah berbicara di dalam gereja sebagai Kemah Suci-Nya, Kemah Pertemuan. Kemah Pertemuan ini adalah jalan keluar Allah, tempat pembicaraan Allah.

Di dalam gereja, Allah selalu berbicara. Suatu perhimpunan dapat dikatakan gereja secara benar dan riil tergantung pada berapa banyak pembicaraan Allah ada di sana. Jika suatu kelompok tidak memiliki pembicaraan Allah, sulit untuk menyebut kelompok itu sebagai satu gereja. Menurut perlambangan, di mana ada Kemah Pertemuan, di sana ada pembicaraan Allah. Bani Israel berkemah di dalam ribuan kemah, tetapi pembicaraan Allah hanya ada dalam satu kemah, kemah yang unik, Kemah Pertemuan. Satu ciri khas Kemah Pertemuan adalah pembicaraan Allah. Kemah Suci sendiri dan semua perabotannya dapat ditiru, tetapi pembicaraan Allah tidak bisa ditiru. Pembicaraan Allah tidak dapat ditiru, disalin, atau diduplikat. Prinsipnya sama hari ini. Banyak hal dalam gereja dapat ditiru, disalin, atau diduplikat oleh orang lain. Namun, satu hal yang tidak dapat ditiru, dan itu adalah pembicaraan Allah. Pembicaraan Allah itu unik. Ini sepenuhnya tergantung pada Allah dan bukan pada manusia.

Andaikata suatu hari Harun tidak senang dengan Musa, yang memimpin di dalam Kemah Pertemuan, lalu mengumpulkan sekelompok orang Israel dan membuat Kemah yang lain. Dalam segala hal Kemah Harun adalah duplikat dari yang aslinya. Dalam warna, bahan, model, dan pengerjaan kedua Kemah itu adalah mirip. Jika Anda ada di sana, ke Kemah yang mana Anda akan pergi, yang didirikan oleh Musa atau yang didirikan oleh Harun? Anda mungkin berkata, “Aku tidak akan pernah pergi ke Kemah Harun; aku hanya akan pergi ke Kemah Musa.” Jawaban ini salah. Cara yang tepat untuk menjawab pertanyaan ini adalah mengatakan, “Aku tidak akan pernah pergi ke Kemah Suci yang tidak memiliki pembicaraan Allah. Aku hanya mau pergi ke Kemah Suci di mana ada pembicaraan Allah. Sebenarnya, aku tidak mau pergi ke Kemah tertentu, aku mau pergi ke pembicaraan Allah. Tanpa pembicaraan Allah, Kemah Suci tidak ada artinya.” Kemustikaan Kemah Suci bukan pada emas di dalamnya. Emas di Mesir jauh lebih banyak dibandingkan dengan emas di dalam Kemah Suci. Kemustikaan Kemah Suci adalah pembicaraan Allah. Sama dengan kemustikaan gereja hari ini. Kemustikaan gereja adalah pembicaraan Allah atau mungkin lebih baik mengatakan, Allah yang berbicara. Puji Tuhan bahwa dalam gereja kita memiliki pembicaraan Allah! Pembicaraan ini sangat berharga untuk kita.

B. Api yang Menyala-nyala dalam Kitab Keluaran

dan Anugerah yang Tak Terbatas dalam Kitab Imamat

Dalam Kitab Keluaran ada api yang menyala-nyala, berdasarkan hukum Taurat yang menyatakan kebenaran Allah. Dalam Kitab Imamat ada anugerah yang tak terbatas, berdasarkan penebusan Kristus yang menyatakan kebenaran Allah. Dalam Kitab Keluaran api menyala-nyala, hukum Taurat ditetapkan, dan kebenaran Allah dinyatakan. Apa yang diwahyukan dalam Kitab Imamat bukan hukum Taurat Allah, tetapi penebusan Kristus, seperti dilambangkan oleh kurban-kurban persembahan. Dalam Kitab Keluaran kita memiliki penghukuman hukum Taurat, tetapi dalam Kitab Imamat kita memiliki penebusan Kristus. Karena itu, dalam Kitab Imamat kebenaran Allah bukan dinyatakan oleh api yang menyala-nyala, melainkan oleh anugerah yang tak terbatas.

Dalam Kitab Keluaran Allah berbicara dari api, tetapi dalam Kitab Imamat Dia berbicara dalam anugerah-Nya. Apa yang kita lihat dalam Kitab Imamat bukan api yang menyala-nyala, melainkan kehadiran Allah sebagai anugerah yang unik diberikan kepada umat tebusan-Nya.

C. Api yang Menyala-nyala Membuat Allah Ditakuti

dan Penebusan Kristus Membuat Allah Bisa Didekati

Dalam Kitab Keluaran api yang menyala-nyala membuat Allah ditakuti orang. Dalam Kitab Imamat penebusan Kristus membuat Allah bisa didekati orang. Dalam Kitab Keluaran Allah adalah Yang ditakuti, dan tidak seorang pun berani datang mendekati Dia. Dalam Kitab Imamat penebusan Kristus bukan saja telah membuat orang mendekati Allah dan menghampiri Allah, tetapi juga makan bersama Dia, yaitu berkomunikasi dengan Dia dan memiliki persekutuan dengan Dia. Dalam gereja hari ini Allah bisa didekati. Kita bisa mengontak Dia, berkomunikasi dengan Dia, dan bersekutu dengan Dia, menikmati Kristus bersama Dia. Ini adalah wahyu dalam Kitab Imamat.

III. SKETSA UMUM

Sekarang kita perlu melihat sketsa umum Kitab Imamat. Sketsa umum ini adalah: Melalui Kemah Suci, dengan kurban-kurban persembahan, dan melalui para imam, umat tebusan Allah dapat bersekutu dengan Allah, melayani Allah, dan menjadi umat kudus Allah yang menempuh kehidupan kudus, yang mengekspresikan Allah. Bersekutu dengan Allah berarti berpesta dengan Allah, menikmati Kristus bersama Allah. Hal ini dimungkinkan melalui Kemah Suci, dengan kurban-kurban persembahan, dan melalui para imam, yang untuk kita hari ini semuanya adalah Kristus. Hasil dari menikmati Kristus bersama Allah adalah kita menjadi umat kudus Allah yang menempuh kehidupan kudus. Kehidupan kudus ini adalah hasil dari kenikmatan atas Kristus. Ketika kita menikmati Kristus bersama Allah, timbul suatu hasil, dan hasilnya adalah kehidupan yang kudus, kehidupan yang di dalamnya segala sesuatu adalah kudus. Sebagai umat tebusan Allah, melalui Kemah Suci, dengan kurban-kurban persembahan, dan melalui para imam, kita dapat mengontak Allah, bersekutu dengan Allah melalui menikmati Kristus, melayani Allah di dalam Kristus, dan menjadi umat kudus di dalam Kristus menempuh kehidupan yang kudus.

IV. POKOK PIKIRAN

Pokok pikiran Kitab Imamat ialah Kristus adalah segala sesuatu dalam persekutuan, pelayanan, dan kehidupan umat tebusan Allah. Dr. C. I. Scofield pernah menekankan bahwa Kristus dapat dilihat di setiap halaman kitab ini. Dalam Kitab Imamat, Kristus adalah segala sesuatu. Dia adalah kurban persembahan, Dia adalah imam besar, dan Dia adalah segala sesuatu dalam kehidupan umat tebusan Allah. Karena itu, Kitab Imamat adalah kitab mengenai Kristus dan penuh dengan Kristus.

V. BAGIAN-BAGIAN

Kitab Imamat dapat dibagi ke dalam lima bagian: ketentuan-ketentuan tentang kurban persembahan (pasal 1— 7), ketentuan-ketentuan tentang pelayanan (pasal 8—10), ketentuan-ketentuan tentang kehidupan (pasal 11—22), ketentuan-ketentuan tentang hari-hari raya (pasal 23), dan ketentuan-ketentuan lain dan peringatan-peringatan (pasal 24—27).