← Daftar isi Imamat (1) · bab 4/20

KURBAN BAKARAN— KRISTUS UNTUK KEPUASAN ALLAH (2)

Pembacaan Alkitab: Im. 1:2-6

Kurban bakaran adalah Kristus yang mutlak untuk kepuasan Allah. Dalam berita ini kita akan melihat dari Imamat 1 bagaimana mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakaran.

Imamat 1 sampai 7 tidak memberi kita rincian mengenai apa adanya Kristus sebagai kurban-kurban persembahan; sebaliknya, pasal-pasal itu menunjukkan jalan untuk mempersembahkan Kristus. Meskipun Imamat 1—7 memberi tahu kita bahwa Kristus sebagai kurban bakaran, kurban sajian, kurban pendamaian, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah, sebetulnya pasal-pasal itu tidak memberi tahu kita bagaimana Kristus sebagai kurban-kurban persembahan itu, melainkan menunjukkan bagaimana mempersembahkan Kristus sebagai kurban-kurban persembahan itu. Imamat 1—7 tidak membicarakan apa adanya Kristus sebagai kurban-kurban persembahan. Sebagai contoh, Imamat 1 tidak membicarakan apa adanya Kristus secara menyeluruh sebagai kurban bakaran, tetapi membicarakan jalan untuk mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakaran. Jika pasal-pasal ini hanya memberi tahu kita apa adanya Kristus secara menyeluruh sebagai kurban-kurban persembahan, maka pasal-pasal ini mungkin hanya pengajaran doktrin-doktrin yang obyektif. Namun, pasal-pasal ini bukan hanya berupa pengajaran obyektif, tetapi juga mewahyukan pengalaman subyektif akan Kristus. Pasal 1 tidak mengajar kita apa adanya Kristus sebagai kurban bakaran, tetapi mengajar kita bagaimana mengalami Kristus dan kemudian bagaimana membawa pengalaman kita akan Kristus kepada Allah. Ini sepenuhnya bukan perkara doktrin, melainkan pengalaman.

Jika kita tidak memahami butir ini, kita akan disusahkan oleh hal-hal tertentu dalam Imamat 1, sebagai contoh, pembasuhan kurban bakaran. Apakah artinya Kristus sebagai kurban bakaran dibasuh? Perkara ini menjadi jelas ketika kita memahami bahwa pasal ini tidak memberi tahu kita tentang Kristus di dalam keseluruhan-Nya sebagai kurban bakaran, melainkan memperlihatkan kepada kita cara mempersembahkan Kristus. Apa yang kita persembahkan bukan Kristus sendiri dalam keseluruhan-Nya, melainkan Kristus yang kita alami.

Dalam Imamat 1, Kristus sebagai kurban bakaran pertama-tama terlihat sebagai seekor lembu (ayat 5), kedua, sebagai domba atau kambing (ayat 10), dan akhirnya, sebagai burung tekukur atau anak burung merpati (ayat 14). Ini menyulitkan saya ketika saya masih muda, sebab saya bingung bagaimana kita dapat memiliki Kristus dalam ukuran yang berbeda. Sungguh, dalam diri-Nya sendiri dan dalam totalitas-Nya Kristus memiliki satu ukuran. Ukuran Kristus bersifat universal; dimensi-Nya adalah lebar, panjang, tinggi, dan dalam (Ef. 3:18). Bahkan seekor lembu tidak dapat mewakili Kristus dalam kebesaran-Nya yang universal, dalam dimensi-Nya.

Meskipun dalam diri-Nya Kristus hanya memiliki satu ukuran, tetapi dalam pengalaman kita Kristus memiliki ukuran yang berbeda-beda. Sebagai contoh, orang yang baru percaya, yang sudah dibantu mengenal Kristus sampai tingkat tertentu dapat mempersembahkan Kristus kepada Allah pada meja Tuhan. Di mata Allah, Kristus yang dia persembahkan mungkin berupa anak burung merpati yang kecil. Namun, seandainya Rasul Paulus dapat hadir dalam sidang itu dan juga mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban bakaran. Di mata Allah, kurban persembahan Paulus mungkin lembu yang besar. Dalam sidang yang sama, orang beriman lain, yang telah percaya selama lima belas tahun dan yang cukup banyak mengalami Tuhan, mungkin juga mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakarannya. Di mata Allah kurban persembahannya mungkin seekor domba. Dalam sidang ini Kristus sebagai kurban bakaran memiliki tiga ukuran. Namun, ini tidak berarti bahwa Kristus sebetulnya memiliki lebih dari satu ukuran. Dalam diri-Nya Kristus memiliki satu ukuran. Lalu, perbedaannya bukan pada apa adanya Kristus melainkan pada apa yang kita alami.

Ketika membaca Imamat 1, kita perlu mengingat bahwa pasal ini tidak mengajar kita mengenai ukuran aktual Kristus dalam totalitas-Nya. Sebaliknya, pasal ini mengajar kita mengenai Kristus yang kita alami. Kristus selama-lamanya besar, tetapi dalam pengalaman saya, Dia mungkin sebesar anak burung merpati. Beberapa tahun kemudian, saya mungkin dapat mempersembahkan Kristus sebagai seekor domba. Jika saya terus bertumbuh, akhirnya Kristus yang saya persembahkan sebagai kurban bakaran akan sama seperti yang Paulus persembahkan, lembu yang besar. Ini adalah perkara pengalaman, bukan doktrin. Fakta bahwa dalam Imamat 1 kurban bakaran memiliki ukuran yang berbeda-beda menunjukkan bahwa apa yang diajarkan dalam pasal ini bukan doktrin, melainkan pengalaman. Sekarang mari kita kembali kepada teks Imamat 1 dan memperhatikan sejumlah perkara penting yang terkait untuk dialami.

BERJERIH-LELAH ATAS KRISTUS,

SUPAYA KITA BISA MEMILIKI SESUATU

DARI KRISTUS UNTUK DIBAWA KEPADA ALLAH

Ketika datang ke Kemah Pertemuan, kita seharusnya tidak datang dengan tangan hampa, melainkan kita harus datang dengan sesuatu dari Kristus. Imamat 1:2 mengatakan, “Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah membawa kurban persembahanmu itu dari kawanan ternak, dari lembu sapi atau dari kambing domba” (Tl.). Perhatikan kata “membawa” di sini. Kata Ibrani yang diterjemahkan “membawa” di sini berarti membawa dekat, membawa sesuatu ke hadapan seseorang. Selain itu, kata ini menyiratkan menyajikan, mempersembahkan.

Andaikata seorang Israel yang memiliki bagian warisan tanah permai adalah orang yang kendur dan malas, tidak menggarap tanah atau menabur benih dan menyiram. Pada masa panen, orang itu tidak akan memiliki apa-apa. Sebagai akibatnya, dia tidak akan memiliki apa-apa untuk dibawa ke hari raya; dia akan datang dengan tangan hampa. Seperti gadis yang bodoh dalam Matius 25, yang ingin meminjam minyak dari gadis yang bijaksana, orang Israel yang malas mungkin mencoba untuk meminjam atau membeli sesuatu dari orang lain untuk dipersembahkan kepada Allah.

Hari ini banyak orang beriman seperti ini. Mereka kendur dan malas dan tidak berjerih lelah atas Kristus, di dalam Kristus, bersama Kristus, dan bagi Kristus. Namun, Paulus berbeda. Dia berkata bahwa dia berusaha, bergumul (Kol. 1:28-29), bekerja lebih keras (1Kor. 15:10), dan bahkan berperang untuk Kristus. Paulus adalah orang yang sibuk; dia berjerih lelah melebihi rasul-rasul lain, namun bukan dia, melainkan anugerah Allah yang menyertai dia. Seperti Paulus, kita perlu berjerih lelah atas Kristus, supaya kita dapat memiliki sesuatu dari Kristus untuk dipersembahkan kepada Allah.

Tentu saja, dalam diri kita sendiri, berdasarkan diri kita, kita bukan apa-apa dan kita tidak dapat melakukan apa-apa. Kita benar-benar harus bergantung kepada hujan yang dari langit. Andaikata langit menurunkan hujan, namun kita tidak berjerih lelah. Apakah yang akan terjadi? Kita tidak akan menuai apa-apa dari Kristus, dan karena itu kita tidak memiliki sesuatu dari Kristus untuk dibawa kepada Allah. Kita perlu berjerih lelah atas Kristus, supaya kita dapat membawa sesuatu dari Kristus kepada Allah. Ini bukan perkara doktrin mengenai Kristus sebagai kurban bakaran, melainkan perkara pengalaman yang berhubungan dengan mempersembahkan Kristus kepada Allah.

Kata Ibrani yang diterjemahkan “kurban persembahan” dalam Imamat 1:2 adalah “corban”, berarti hadiah atau pemberian. Apa yang kita bawa ke hadapan Allah menjadi satu pemberian, satu hadiah. Jika kita mau memberikan hadiah untuk Allah, kita perlu berjerih lelah atas Kristus dan bergumul, berusaha, dan berperang bagi Kristus. Berjerih lelah atas Kristus sebagai tanah permai berarti menggarap tanah, menabur benih, menyirami, dan memelihara tanaman. Inilah bekerja, menggarap dengan rajin sebagai seorang petani. Dua Timotius 2:6 menunjukkan bahwa kita adalah petani, orang-orang yang paling rajin dan tekun. Sebagai petani, kita perlu berjerih lelah atas Kristus. Jika kita berjerih lelah atas Kristus, kita akan memiliki sesuatu dari Kristus sebagai kurban bakaran untuk menjadi hadiah bagi Allah.

MENYEMBELIH KURBAN BAKARAN

Cara mempersembahkan kurban bakaran menyatakan pengalaman kita atas Kristus; ini adalah penyataan dari bagaimana kita mengalami pengalaman Kristus. “Kemudian haruslah ia menyembelih lembu itu di hadapan TUHAN” (Im. 1:5a). Ini menunjukkan bahwa sebagai kurban bakaran Kristus disembelih. Disembelih adalah pengalaman pribadi Kristus ketika Dia ada di bumi. Sebagai pencinta Kristus yang mau mengambil Kristus sebagai kurban bakaran, kita perlu mengalami penyembelihan-Nya. Pernahkah Anda disembelih? Pernahkah Anda mengalami Kristus yang disembelih? Pernahkah Anda menjadikan pengalaman penyembelihan Kristus menjadi pengalaman Anda? Kita perlu membuat pengalaman penyembelihan Kristus menjadi pengalaman kita.

Kita seharusnya memiliki pengalaman ini dalam kehidupan pernikahan kita. Andaikata istri seorang saudara sangat kuat dan merongrong dia. Apa yang harus dia lakukan? Daripada berdebat dengan istrinya, dia harusnya mengalami pengalaman Kristus yang disembelih.

Perhatikan gambar yang disajikan dalam kitab Injil, bagaimana Tuhan Yesus berdiri di hadapan Pilatus, yang akan menjatuhkan hukuman mengenai penyaliban-Nya. Tuhan diserahkan kepada orang-orang jahat yang kemudian membawa Dia ke tempat pembantaian. Dalam peristiwa ini Tuhan Yesus tidak melawan. Jika kita memiliki pengalaman yang riil atas Kristus yang disembelih, kita tidak akan melawan dibawa ke tempat pembantaian oleh suami atau istri kita. Daripada melawan, kita malah mengizinkan suami atau istri kita melatakkan kita di salib.

Jika kita mengalami Kristus yang disembelih, kita akan datang ke meja Tuhan dan memuji Tuhan, boleh jadi dengan air mata, dengan berkata, “Tuhan, syukur kepada-Mu karena memberiku kesempatan untuk mengalami Engkau yang disembelih. Betapa manisnya menjadi satu dengan Engkau dalam hal disembelih!” Ini adalah mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban bakaran. Ini juga menyatakan cara kita mengalami Kristus dalam pengalaman penyembelihan-Nya.

Jika kita dalam gereja-gereja memiliki pengalaman ini, tidak akan ada pertengkaran atau perkelahian, tetapi hanya ada pengalaman dibawa ke tempat pembantaian. Pada meja Tuhan akan ada banyak pujian, mungkin dipersembahkan dengan air mata kepada Tuhan karena memberikan kita kesempatan untuk mengalami Kristus yang disembelih.

Kadang-kadang kita beralasan dengan saudara-saudara atau dengan pasangan kita. Setiap kali kita berbuat demikian, kita meninggalkan salib. Alasan tidak lain adalah melarikan diri dari penyembelihan. Jika kita demikian, maka pada meja Tuhan tidak akan ada puji-pujian kepada Tuhan. Apa yang kita katakan dalam doa atau pujian kita akan tidak berarti apa-apa, karena kita tidak memiliki pengalaman yang riil atas Kristus dalam penderitaan-Nya, dan karena itu, kita tidak memiliki kurban bakaran. Dalam kasus demikian, kita tidak mutlak untuk Allah; kita juga tidak menerima Kristus sebagai kurban bakaran, mengalami apa yang Dia alami dalam penyembelihan-Nya. Inilah sebabnya pada meja Tuhan kita berulang-ulang menyanyi, berdoa, dan memuji, tanpa pengalaman sejati atas apresiasi dan penyajian Kristus yang kita alami.

Jika kita mengalami apa yang dialami Kristus dalam penyembelihan, akan ada banyak pujian kepada Tuhan pada meja Tuhan, tetapi tidak akan ada pertengkaran dalam hidup gereja atau dalam kehidupan pernikahan kita. Beberapa orang mungkin menentang kita atau mengkritik kita, tetapi kita tidak akan bertengkar dengan mereka. Tanpa mengatakan sesuatu, kita hanya membiarkan orang lain membawa kita ke salib dan menyembelih kita. Jika kita mengalami hal ini, kita akan memiliki kurban bakaran yang besar untuk dibawa kepada Allah, dan kita akan memiliki banyak pujian dalam Kemah Pertemuan. Apa yang kita persembahkan kepada Allah akan menjadi satu pernyataan dari mengalami pengalaman penyembelihan Kristus.

MENGULITI KURBAN BAKARAN

Bagian pertama 1:6 mengatakan, “Kemudian haruslah ia menguliti kurban bakaran itu.” Menguliti kurban bakaran melambangkan kerelaan Kristus untuk membiarkan ekspresi luaran dari kebajikan-kebajikan-Nya ditanggalkan. Dalam keempat kitab Injil, kita melihat bahwa Kristus difitnah, keindahan kebajikan-kebajikan-Nya dikuliti. Sebagai contoh, banyak orang berkata, “Bukankah benar kalau kami katakan bahwa Engkau orang Samaria dan kerasukan setan?” (Yoh. 8:48). Yang lain berkata mengenai Dia, “Ia kerasukan setan dan gila; mengapa kamu mendengarkan Dia?” (Yoh. 10:20). Ini menunjukkan bahwa sebagai kurban bakaran Tuhan Yesus “dikuliti”.

Paulus juga mengalami “dikuliti” ini. Dia dikuliti oleh orang-orang Korintus yang menuduh dia mengutus Titus kepada mereka untuk tujuan mengambil uang dari mereka. Paulus mencantumkan tuduhan ini dalam 2Korintus 12:16-18. “Baiklah, aku sendiri tidak merupakan beban bagi kamu, tetapi, kamu katakan, dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya. Pernahkah aku mengambil untung dari kamu melalui seorang dari antara mereka yang kuutus kepada kamu? Memang aku telah meminta Titus untuk pergi dan bersama-sama dengan dia aku mengutus saudara seiman yang lain itu. Apakah Titus mengambil untung dari kamu? Tidakkah kami berdua hidup menurut roh yang sama dan tidakkah kami berlaku menurut cara yang sama?” Beberapa orang Korintus telah menuduh Paulus licik dalam mengambil untung bagi dirinya melalui mengutus Titus untuk menerima sumbangan bagi kaum beriman yang miskin. Perilaku Paulus yang sejati diekspresikan dalam ayat 15. “Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. Jadi, jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi?” Dia mau mengorbankan seluruhnya untuk kepentingan mereka. Namun demikian, dia dituduh memperdayakan mereka dan memakai Titus untuk mencuri uang mereka. Bukankah ini perihal dikuliti?

Dalam 2Korintus 6:3-13, Paulus mencantumkan banyak bukti bahwa dia adalah seorang hamba, seorang pelayan Allah. Ayat 8 mengatakan, “Ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji.” Kita mungkin sulit mempercayai bahwa tersebarnya kabar buruk mengenai Paulus adalah bukti bahwa dia seorang rasul. Kabar buruk ini adalah bukti bahwa Paulus adalah hamba Allah. Kabar buruk adalah perkara menguliti, menanggalkan atau melucuti kecantikan luaran kita.

Tidak ada seorang pun yang senang dikuliti. Selama tahun-tahun saya dalam hidup gereja, banyak orang telah datang meminta saya untuk mengenakan kembali kulit yang telah dikupas. Jika Anda dikuliti oleh suami atau istri Anda, bukankah Anda akan melakukan segala sesuatu sebisanya untuk memperoleh kembali kulit itu? Bukankah Anda akan mencoba memulihkan kebaikan atau nama baik Anda, untuk memulihkan ekspresi luaran kebajikan-kebajikan Anda?

Andaikata Anda adalah orang yang mencoba menempelkan kembali kulit yang sudah dikupas. Ketika Anda datang ke meja Tuhan, dapatkah Anda memuji Tuhan karena membantu Anda melekatkan kembali kulit Anda? Saya tidak yakin ada orang dapat mempersembahkan pujian demikian kepada Tuhan.

Namun, andaikata dalam kehidupan keluarga dan dalam hidup gereja Anda telah berkali-kali dikuliti, maka Anda akan mampu berkata, “Tuhan, aku mengalami pengalaman Engkau dikuliti. Aku mengikuti Engkau dan dikuliti, dilucuti, difitnah, digunjingkan, seperti yang terjadi pada-Mu. Tuhan, apa yang kualami sebenarnya adalah pengalaman-Mu dikuliti.” Jika Anda adalah orang yang mengalami hal ini, pujian yang Anda persembahkan pada meja Tuhan walaupun pendek, akan dengan dalam menjamah sidang itu. Ini adalah mempersembahkan Kristus sebagai kurban bakaran yang sejati, sungguh-sungguh, dan jujur.

Ini bukan mempersembahkan Kristus sepenuhnya sebagai kurban bakaran. Tidak seorang pun, termasuk Paulus, dapat mempersembahkan Kristus sepenuhnya sebagai apa adanya Dia. Sebaliknya, kita hanya dapat mempersembahkan bagian Kristus yang kita alami.

MEMOTONG KURBAN BAKARAN MENURUT BAGIAN-BAGIAN TERTENTU

Imamat 1:6 juga memberi tahu kita bahwa orang yang menyajikan kurban bakaran “memotong-motongnya menurut bagian-bagian tertentu.” Tidak ada seorang pun yang mau dipotong-potong menurut bagian-bagian tertentu. Kita semua mau tetap utuh, lengkap, sempurna. Kita menjaga diri kita sendiri agar tidak dipotong melalui membela diri bahwa kita benar dan orang lain yang salah. Dituduh melakukan suatu kesalahan adalah dipotong menurut bagian-bagian tertentu. Banyak pertengkaran antara suami dengan istri timbul karena pihak pertama mengatakan bahwa pihak kedua salah dan pihak kedua menyanggah bahwa pihak pertamalah yang salah.

Situasinya sama dalam hidup gereja. Seorang saudari mungkin mengeluh bahwa orang lain dalam hidup gereja tidak adil. Ketika ia datang bersidang, mungkin ia memandang orang beriman tertentu tidak adil terhadapnya. Mungkin orang beriman ini juga mempunyai pikiran yang sama terhadap saudari ini. Akibatnya ada pergumulan dalam batin. Lalu, siapakah yang adil, dan siapa yang tidak adil? Yang adil adalah orang yang mau diletakkan di atas salib dan disalibkan.

Masalah-masalah antara suami dengan istri dan antar kaum beriman dapat dibereskan hanya melalui pengampunan. Tahukah Anda makna pengampunan? Mengampuni adalah melupakan. Jika Anda melanggar (bersalah terhadap) beberapa orang beriman dalam hidup gereja, mereka mungkin tidak akan mengampuni Anda seumur hidup mereka. Sikap tidak mau mengampuni ini mempengaruhi pujian-pujian pada meja Tuhan. Jika kaum beriman mengeluh terhadap satu sama lain, sulit sekali memiliki Sidang Pemecahan Roti yang hidup dan membubung.

Bukannya rela dipotong menurut bagian-bagian tertentu, kita malah melindungi diri kita. Selama hidup-Nya di bumi, Kristus terus-menerus dipotong menurut bagianbagian tertentu; kita juga perlu mengalami pemotongan-Nya. Dalam kehidupan pernikahan kita dan dalam hidup gereja kita, kita perlu mengikuti langkah-langkah Tuhan melalui hayat-Nya di dalam kita. Hayat-Nya bukan hayat yang bertengkar. Hayat-Nya adalah hayat yang mau menderita pemotongan. Jika kita mengalami hal ini, kita akan dapat membawa Kristus yang kita alami kepada Allah.

Kita sering membicarakan tentang berjerih lelah atas Kristus, supaya kita memiliki sesuatu dari Kristus untuk dipamerkan dalam sidang-sidang. Berjerih lelah atas Kristus mencakup kerelaan kita untuk dipotong menurut bagian-bagian tertentu seperti Dia. Jika kita berjerih lelah atas Kristus secara demikian, maka kita akan memiliki Kristus yang dipotong-potong menurut bagian-bagian tertentu untuk dipersembahkan kepada Allah.

MEMBASUH KURBAN BAKARAN

Kurban bakaran dibasuh dengan air oleh orang yang mempersembahkan. “Tetapi isi perutnya dan betisnya haruslah dibasuh dengan air” (ayat 9; lihat 13a). Ini tidak berarti Kristus, kurban bakaran kita, kotor. Ketika Tuhan Yesus hidup dan bertindak di bumi, Roh di dalam Dia terus-menerus menjaga Dia, memperhatikan Dia, melindungi Dia, agar Dia tidak menjadi kotor. Dalam kehidupan kita setiap hari, kita perlu memiliki pengalaman yang sama. Kita perlu mengalami Kristus yang bersih, dibasuh oleh Roh Kudus. Kita dapat mengalami ini karena Roh yang membersihkan-Nya ada di dalam kita dari hari ke hari, untuk menjaga kita dari jamahan kenajisan duniawi.

BAU YANG MENYENANGKAN BAGI TUHAN

Setelah kurban bakaran disembelih, dikuliti, dipotong menurut bagian-bagian tertentu, dan dibasuh, kurban bakaran ini dibakar di mezbah. “Seluruhnya itu harus dibakar oleh imam di atas mezbah sebagai kurban bakaran, sebagai kurban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN” (ayat 9). Kata Ibrani yang diterjemahkan “yang baunya menyenangkan” secara literal berarti menikmati perhentian atau kepuasan, yaitu, aroma yang memberi kepuasan kepada ke-Allahan, penerima persembahan itu, dan karena itu diterima dengan senang oleh Dia. Frase ini adalah istilah teknikal untuk bau harum yang ditimbulkan dari kurban persembahan yang dibakar (S. R. Driver). Kata “asap” (dibakar, LAI. Versi lain menerjemahkan “dipersembahkan dalam asap”) dalam ayat ini menunjukkan bahwa kurban persembahan tidak dibakar secara cepat, tetapi perlahan-lahan. Sebagai hasil dari pembakaran perlahan-lahan ini ada bau yang menyenangkan, satu aroma yang membawa kepuasan, damai, dan perhentian. Bau yang menyenangkan demikian adalah satu kenikmatan untuk Allah.

Ketika kita mempersembahkan kurban bakaran dalam asap kepada Allah, bau harum yang menyukakan Allah akan naik kepada Dia untuk kepuasan dan perhentian-Nya. Karena Allah dipuaskan, Dia akan memberikan perkenan-Nya yang manis kepada kita. Itulah makna kurban bakaran.

Kurban bakaran mengacu kepada diri Kristus yang mutlak untuk kepuasan Allah. Cara untuk memuaskan Allah dengan kemanisan, kedamaian, dan perhentian adalah menempuh hidup yang mutlak untuk Allah. Karena kita tidak dapat menempuh hidup yang demikian, maka kita harus menerima Kristus sebagai kurban bakaran. Kita perlu meletakkan tangan kita ke atas Dia untuk menunjukkan bahwa kita damba disatukan dengan Dia, esa dengan Dia, dan menempuh hidup yang Dia tempuh di bumi. Hidup yang demikian melibatkan disembelih, dikuliti, dipotong menurut bagian-bagian tertentu, dan dibasuh. Dengan melalui semua proses ini, kita akan memiliki sesuatu untuk dipersembahkan kepada Allah sebagai kurban bakaran kita, Kristus yang kita alami.