KURBAN PENGHAPUS DOSA— KRISTUS UNTUK SIFAT DOSA UMAT ALLAH (1)
Pembacaan Alkitab:
Im. 4:1-35; 1Yoh. 1:5-9; Kol. 1:12; Rm. 5:12; 7:17, 20; 8:3;
Yoh. 1:14; 2Kor. 5:21; Yoh. 3:14; Rm. 6:6;
Ibr. 2:14; 4:15; Gal. 5:19-21; Yoh. 12:31
Dalam berita yang lalu kita membahas tiga dari lima kurban persembahan dasar, kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban pendamaian. Kurban persembahan keempat adalah kurban penghapus dosa, dan kurban kelima adalah kurban penebus salah. Dalam berita ini kita akan membahas kurban penghapus dosa.
URUTAN PENGATURAN KURBAN-KURBAN PERSEMBAHAN
Saya mengagumi urutan pengaturan lima kurban persembahan dasar. Urutan ini tidak menurut pikiran manusia, yang akan meletakkan kurban penghapus dosa di urutan pertama. Kita tahu bahwa kita berdosa, dan, sebagai hal pertama, kita ingin dosa kita ditanggulangi. Setelah itu, kita mungkin mengambil kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban pendamaian. Urutan ilahi berbeda dengan ini. Urutan ilahi dibuka dengan kurban bakaran, memperlihatkan kepada kita bahwa hal utama pada kita seharusnya menjadikan kita mutlak untuk Allah. Kurban bakaran diikuti oleh kurban sajian, yang memperlihatkan kepada kita bahwa kita harus menerima Kristus sebagai suplai hayat kita dan hidup berdasarkan Dia setiap hari. Hasil dari menerima Kristus sebagai kurban bakaran dan kurban sajian, kita memiliki damai sejahtera. Walaupun kita memiliki damai sejahtera, kita masih memiliki masalah tertentu, sifat dosa yang di dalam dan dosa-dosa (perbuatan dosa) yang di luar, dan tentu saja hal ini perlu ditanggulangi.
Urutan kurban-kurban persembahan dalam Kitab Imamat sesuai dengan urutan dalam 1Yohanes 1. Ayat 5 mengatakan, “Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.” Ayat 6 memberi tahu kita bahwa “Jika kita katakan bahwa kita mempunyai persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan tidak melakukan kebenaran.” Ayat 7 melanjutkan, “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa.” Ini menunjukkan bahwa ketika kita bersekutu dengan Allah dan menikmati Dia, kita akan melihat bahwa di antara kita dengan Allah ada masalah, dan masalah ini adalah dosa.
Dosa dan Dosa-dosa
Perjanjian Baru membahas masalah dosa dengan memakai kata “dosa” tunggal dan kata “dosa-dosa” jamak. Dosa (tunggal) mengacu kepada dosa yang berhuni, yang dari Iblis (Satan), melalui Adam masuk ke dalam umat manusia (Rm. 5:12). Kata ini dibahas dalam bagian kedua Surat Roma, 5:12 sampai 8:13 (dengan pengecualian 7:5, di mana dosa-dosa disebutkan). Dosa-dosa mengacu kepada perbuatan dosa, hasil dari dosa yang berhuni, yang dibahas dalam bagian pertama Surat Roma, 1:18 sampai 5:11. Namun, dosa tunggal dalam 1Yohanes 1:7 dengan kata bilangan segala, tidak mengacu kepada dosa yang berhuni, melainkan mengacu kepada setiap dosa yang kita lakukan (ayat 10) setelah kita dilahirkan kembali. Dosa ini mencemari hati nurani kita yang sebelumnya murni, sehingga perlu dicuci oleh darah Tuhan Yesus dalam persekutuan kita dengan Allah.
Dosa (tunggal) kita, dosa yang berhuni dalam sifat kita (Rm. 7:17), telah dibereskan oleh Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita (Im. 4; Yes. 53:10; Rm. 8:3; 2Kor. 5:21; Ibr. 9:26). Dosa-dosa (jamak) kita, pelanggaran-pelanggaran kita, telah dibereskan oleh Kristus sebagai kurban penebus salah (Im. 5; Yes. 53:11; 1Kor. 15:3; 1Ptr. 2:24; Ibr. 9:28). Setelah dilahirkan kembali, kita masih perlu menerima Kristus sebagai kurban penghapus dosa seperti ditunjukkan dalam 1Yohanes 1:8 dan sebagai kurban penebus salah kita seperti ditunjukkan dalam ayat 9.
Satu Yohanes 1:8 mengatakan, “Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” Ayat ini membicarakan dosa yang berhuni, dosa yang kita warisi melalui kelahiran kita. Ini adalah dosa yang disebutkan dalam Roma 5:12. Jika kita berkata bahwa setelah kita beroleh selamat dan dilahirkan kembali, kita tidak memiliki dosa, kita menipu diri sendiri. Walaupun kita telah beroleh selamat dan dilahirkan kembali dan walaupun kita mencari Tuhan, mengasihi Dia, dan bersekutu dengan Dia, kita masih memiliki dosa yang berhuni di dalam kita. Ini adalah fakta. Jika kita menyangkalnya, kebenaran tidak ada di dalam kita. Satu Yohanes 1:9 selanjutnya mengatakan, “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Ini mengacu kepada mengakui dosa-dosa setelah kita dilahirkan kembali, bukan mengakui dosa-dosa kita sebelum kita dilahirkan kembali. “Dosa-dosa” di sini menunjukkan perbuatan dosa kita.
Gambar Urutan dalam Surat 1 Yohanes
Urutan kelima kurban persembahan 1Yohanes 1:71Yohanes 1:71Yohanes 1:71Yohanes 1:7 sampai 5 adalah gambar urutan dalam 1Yohanes 1. Kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban pendamaian membawa kita ke dalam persekutuan dengan Allah. Ketika kita menerima Kristus sebagai kurban bakaran kita di hadapan Allah dan ketika kita menerima Dia sebagai suplai hayat kita tiap hari, kita dibawa ke dalam damai sejahtera ilahi, dan dalam damai sejahtera ini kita menikmati Allah Tri tunggal dalam persekutuan. Karena itu, hasil dari pengalaman kita atas ketiga kurban persembahan ini adalah persekutuan dengan Allah, yang adalah terang. Dalam terang kita melihat kegagalan, kekeliruan, dan kesalahan perilaku kita terhadap orang lain. Akhirnya kita paham bahwa kita tidak hanya memiliki dosa-dosa di luar, tetapi juga dosa yang berhuni di dalam daging kita. Kita bahkan memahami bahwa kita sendiri adalah dosa. Kita memiliki pemahaman yang dalam bahwa kita hanyalah dosa, bukan yang lain.
Kita mungkin mencoba untuk bersikap baik dan melakukan apa yang benar. Namun, keadaan kita malah berkebalikan, dan kita belajar berkata seperti Paulus, “Kalau demikian bukan aku lagi yang melakukannya, tetapi dosa yang ada di dalam aku” (Rm. 7:17). Melalui persekutuan kita dengan Allah, yang adalah terang, kita menemukan bahwa kita penuh dosa, kita memiliki perbuatan dosa di dalam dan perbuatan dosa di luar. Secara batiniah kita memiliki “ibu” yang penuh dosa, dan secara lahiriah kita memiliki perbuatan dosa, yang adalah “anak-anak” dari ibu yang penuh dosa ini.
Galatia 5:19-21 membicarakan perbuatan daging. Perbuatan ini mencakup perselisihan, iri hati, percekcokan, dan perpecahan. Dapatkah kita mengatakan bahwa tidak ada percekcokan dan iri hati dalam hidup gereja kita? Kita tidak dapat berkata demikian. Dalam hidup gereja mungkin juga ada perpecahan; yaitu, kaum beriman memihak orang-orang tertentu. Ini adalah keadaan di Korintus. “Masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus” (1Kor. 1:12). Jika dalam hidup gereja atau dalam kehidupan keluarga kita ada iri hati, perpecahan, dan percekcokan, berarti kita hidup dan bertindak di dalam daging. Jika kita berkata bahwa kita memiliki persekutuan dengan Allah dan masih memiliki perbuatan daging ini, kita berjalan dalam kegelapan dan kita menipu diri sendiri. Jika kita memiliki percekcokan, iri hati, perpecahan, dan bergolong-golongan dalam hidup gereja, ini berarti hidup gereja kita ada dalam kegelapan. Demikian juga, jika kita katakan bahwa kita ada dalam persekutuan dengan Allah, tetapi salah dalam bersikap terhadap suami atau istri kita, kita menipu diri sendiri.
Jika kita sungguh-sungguh menerima Kristus sebagai kurban bakaran untuk memuaskan Allah dan sebagai kurban sajian kita untuk menjadi makanan kita setiap hari, kita harus ada di dalam terang dan berjalan di dalam terang. Kemudian di dalam terang ilahi kita akan melihat kegagalan kita dan kekurangan kita. Jika kita memiliki sikap yang tidak tepat terhadap suami atau istri kita, kita akan menyadarinya dan mengaku bahwa itu salah. Jika kita telah mengkritik beberapa saudara atau memihak kaum beriman tertentu, kita akan menyadari bahwa itu juga salah. Oh, kiranya kita semua mau diterangi dan memohon terang dari Tuhan! Jika kita berkata bahwa kita menikmati Tuhan, kita harus ada di dalam terang.
Kolose 1:12 memberi tahu kita bahwa Kristus adalah bagian kaum beriman dalam terang. Kristus bukan bagian kaum beriman dalam kegelapan atau kritik atau bergolong-golongan. Di manakah kita berada, dalam terang atau dalam kegelapan? Kita tidak dapat menikmati Kristus sebagai bagian kaum beriman kalau tidak berada di dalam terang. Setelah kita menikmati Kristus sebagai tiga kurban persembahan pertama, kita perlu Dia sebagai kurban penghapus dosa. Ketika kita menikmati Dia, kita dapat berkata dari lubuk hati kita, “Tuhan, aku bersyukur bahwa aku ada di hadirat-Mu. Aku mengasihi-Mu, Tuhan, dan aku menerima Engkau sebagai makananku setiap hari.” Secara spontan terang akan memancar, menerangi perkataan yang kita ucapkan kepada pasangan kita atau kritik kita kepada seorang saudara. Dengan segera kita akan mengaku dosa dan memohon Tuhan mengampuni kita.
Sering kali, ketika saya menikmati Dia, Tuhan menyoroti cara saya membicarakan kebaikan seseorang dan memperlihatkan kepada saya bahwa pembicaraan saya berasal dari daging saya, dari diri alamiah saya, bukan dari roh saya. Karena itu, saya mengaku dosa kepada Tuhan mengenai membicarakan kebaikan orang lain dan sisi baik mereka. Segala yang bukan di dalam roh, entah itu baik atau jahat, berasal dari satu sumber, daging. Mengkritik orang lain berasal dari daging; membicarakan kebaikan orang lain dari manusia alamiah kita juga daging. Apa yang kita kerjakan melalui bertindak, berbicara, dan bertingkah laku mutlak menurut roh, meletakkan pikiran kita di atas roh (Rm. 8:6), baru bukan berasal dari daging.
Dalam Roma 8:4, Paulus berkata bahwa tuntutan kebenaran hukum Taurat digenapi di dalam mereka yang hidup menurut roh. Paulus tidak mengatakan bahwa ketika kita melakukan hal yang baik, maka tuntutan kebenaran hukum Taurat digenapi di dalam kita; sebab sekadar melakukan hal-hal baik bukan menurut pohon hayat, tetapi menurut pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Janganlah mencoba melakukan yang baik, dengan sederhana hiduplah menurut roh. Jika kita tidak memiliki pengurapan di dalam roh, kita tidak seharusnya berkata bahwa sesuatu itu baik atau buruk. Inilah hidup di dalam roh dan dibebaskan dari daging.
DAGING DAN SALIB
Sejak saya membawa pemulihan Tuhan ke Amerika Serikat, saya menekankan empat hal: Kristus, Roh itu, hayat, dan gereja. Beban mengenai hal-hal ini sangat berat. Namun, dalam berita ini saya berbeban membicarakan tentang daging dan salib. Kita perlu tahu apa itu daging dan bagaimana menanggulanginya melalui salib Kristus. Dalam pemulihan Tuhan hari ini, kita perlu perkataan mengenai daging dan salib. Kenikmatan kita atas Kristus mungkin penuh ragi dan madu dan juga kekurangan garam. Karena itu, saya berbeban untuk melayankan garam, salib, kepada gereja-gereja.
Dalam pembicaraan tentang daging dan salib, perhatian saya bukan pada doktrin, melainkan pada pengalaman. Selama kita hidup dalam tubuh ini, kita masih memiliki daging. Kita perlu berjaga-jaga. Ya, kita telah dikuburkan bersama Kristus dalam baptisan, tetapi Iblis mencoba membangkitkan apa yang telah dikubur. Karena itu, kita perlu berjaga-jaga, khususnya ketika bangun di pagi hari. Setelah menikmati Tuhan dalam persekutuan malam sebelumnya, kita dapat tidur dengan nyaman. Namun, ketika kita bangun di pagi hari, daging jahat mencoba mengikuti kita. Walaupun telah dikuburkan, daging akan terus mencoba menghasut kita untuk berpikir negatif mengenai istri atau suami kita atau saudara-saudara tertentu. Kita perlu menyadari bahwa pikiran demikian adalah daging kita yang dibangkitkan oleh Iblis.
Pada saat demikian kita perlu berdoa, “Tuhan, belas kasihani aku. Aku tidak mau berjalan berdasarkan daging jelek yang dihasut oleh musuhMu. Aku mau menikmati Engkau, Tuhan.” Kemudian, mungkin dengan mencucurkan air mata, kita melanjutkan, “Bapa, aku menerima Putra-Mu, Tuhanku terkasih, sebagai kurban bakaranku. Aku tidak dapat mutlak untuk-Mu, tetapi aku dapat menikmati hidup demikian di dalam Dia. Aku menerima Dia sebagai kurban bakaranku untuk dipersembahkan kepada-Mu, Bapa. Aku juga menerima Dia sebagai makananku setiap hari.” Ini akan membawa kita ke dalam kenikmatan atas Kristus sebagai kurban pendamaian. Kemudian, karena kita ada di hadapan Tuhan, kita akan diterangi dan disingkapkan, dan kita akan melihat orang macam apakah kita. Pada butir ini kita perlu Tuhan Yesus yang terkasih sebagai kurban penghapus dosa kita. Ini adalah menerima Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita yang adalah kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban pendamaian kita. Urutan ini bukan urutan doktrinal. Sebaliknya, urutan ini disusun berdasarkan pengalaman pribadi, setiap hari kita.
Kapanpun kita memiliki pengalaman menikmati damai sejahtera bersama Allah Tritunggal, kita akan menyadari bahwa kita memerlukan kurban penghapus dosa. Kita akan mengaku dosa kepada Tuhan, “Bapa, aku tidak pernah menyadari bahwa aku begitu berdosa. Aku bukan saja berdosa, bahkan aku adalah dosa. Dosa tinggal di dalam dagingku, dan seluruh diriku adalah dosa. Aku benar-benar perlu Tuhan Yesus menjadi kurban penghapus dosaku. Betapa aku memustikakan Dia sebagai kurban penghapus dosaku!”
Apa pun hasil dari daging adalah dosa. Entah kita mengkritik orang lain atau memuji mereka, kalau sumbernya adalah daging, itu adalah dosa. Satu-satunya cara menanggulangi daging ini adalah salib, garam. Kita perlu banyak garam dalam kehidupan kita setiap hari, kehidupan keluarga kita, dan hidup gereja kita. Bila kita memiliki garam, “kuman-kuman” akan mati. Hidup gereja hari ini memerlukan “pengendali hama”, membunuh kuman-kuman melalui mengalami salib. Pembunuhan ini adalah belas kasihan Tuhan; keselamatan Tuhan yang penuh belas kasihan terhadap kita.
DOSA, DAGING, IBLIS, DAN DUNIA
Menurut Perjanjian Baru, ada empat hal yang tidak dapat dipisahkan: dosa, daging, Iblis, dan dunia. Keempat hal ini adalah satu.
Tiga Makna Daging dalam Alkitab
Dalam Alkitab, kata “daging” (flesh) memiliki beberapa makna. Pertama, daging mengacu kepada tubuh daging manusia (Kej. 2:21). Kedua, dalam Kejadian 6:3, daging mengacu kepada manusia yang jatuh. Ini juga ditunjukkan dalam Roma 3:20, di mana Paulus berkata bahwa “Sebab tidak satu daging (seorang, LAI, 1997) pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat.” Ketiga, daging mengacu kepada tubuh yang rusak (Rm. 7:18). Allah menciptakan tubuh manusia, tetapi setelah tubuh dirusak, tubuh menjadi daging. Berkebalikan dengan manusia rohani (yang hidup di dalam roh), dan manusia alamiah (yang hidup di dalam jiwa), manusia daging hidup di dalam hawa nafsu daging (1Kor. 3:1, 3; 2:14).
Firman Menjadi Daging
Yohanes 1:14 mengatakan, “Firman itu telah menjadi daging” (Tl.). Apakah arti daging di sini? Menurut konteks seluruh Injil Yohanes, daging dalam 1:14 berarti manusia yang jatuh, berdosa. Allah, Sang Firman, telah menjadi manusia yang jatuh, berdosa, tetapi hanya dalam rupa luaran. Paulus menjelaskan hal ini ketika dia berkata dalam Roma 8:3 bahwa Allah mengutus “Anak-Nya sendiri dalam rupa daging dosa” (Tl.). Ini membuktikan bahwa daging dalam Yohanes 1:14 adalah daging dosa. Inkarnasi berarti Allah menjadi manusia berdosa dalam rupa luaran. Dalam catatannya pada ayat ini, Dr. Ryrie mengatakan, “Yesus Kristus adalah unik, sebab Dia adalah Allah dari kekekalan, namun menyatukan diri-Nya sendiri dengan keinsanian yang berdosa dalam inkarnasi.”
Lambang ular tembaga (Yoh. 3:14; Bil. 21:4-9) menunjukkan bahwa Kristus tidak memiliki daging dosa, tetapi hanya rupa daging dosa. Ketika bani Israel berdosa terhadap Allah, mereka dipatuk ular dan mati. Saat itu, di mata Allah, mereka telah mati. Allah menyuruh Musa untuk meninggikan ular tembaga untuk kepentingan mereka karena penghakiman Allah, supaya melalui memandang ular tembaga itu mereka beroleh selamat dan hidup. Ular tembaga adalah juruselamat mereka. Ini adalah lambang. Dalam Yohanes 3:14, Tuhan Yesus menerapkan lambang ini kepada diri-Nya sendiri, memperlihatkan bahwa ketika Dia ada dalam daging, seperti yang dikatakan Paulus, Dia ada dalam rupa daging dosa, yang berbentuk ular tembaga. Ular tembaga memiliki bentuk ular, tetapi tidak memiliki bisa atau racun. Kristus dibuat menjadi serupa dengan daging dosa, tetapi Dia tidak berbagian dalam dosa daging (2Kor. 5:21; Ibr. 4:15). Ular tembaga melambangkan Kristus sebagai Juruselamat kita. “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:14-15).
Anak Domba Allah, Ular Tembaga, dan Biji Gandum
Dalam Injil Yohanes ada tiga tanda yang dipakai untuk menggambarkan Kristus dalam kematian-Nya: Anak Domba Allah (Yoh. 1:29), ular tembaga (Yoh. 3:14), dan biji gandum (Yoh. 12:24). Ketiga tanda ini menggambarkan ketiga aspek Kristus sebagai Juruselamat kita. Dalam menanggulangi dosa, Dia adalah Anak Domba. Dalam menanggulangi Iblis, si ular tua, Dia adalah ular tembaga, yang memakai rupa daging dosa. Dalam membebaskan hayat ilahi untuk menghasilkan banyak anak Allah, Dia adalah biji gandum. Karena itu, Dia adalah Anak Domba Juruselamat, Dia adalah Ular Tembaga Juruselamat, dan Dia adalah Biji Gandum Juruselamat. Kita memiliki Dia sebagai Juruselamat dalam tiga aspek, untuk menanggulangi dosa kita, menghancurkan ular tua, dan menghasilkan kita sebagai anak-anak Allah.
Saya percaya bahwa Adam, manusia yang diciptakan oleh Allah, adalah tampan. Sebaliknya, Tuhan Yesus tidak tampan atau semarak dan tidak menarik secara lahiriah (Yes. 53:2). Dia adalah seorang yang sering mengalami kesengsaraan (Yes. 53:3). Tuhan kita menjadi manusia yang jatuh dalam rupa luar-Nya. Namun, ketika Tuhan Yesus di atas salib, Allah menganggap keserupaan itu sebagai yang sejati.
Dosa dalam Daging, Manusia Lama, Iblis,
dan Dunia Ditanggulangi Melalui Kematian Kristus di Atas Salib
Perjanjian Baru menekankan fakta bahwa Kristus disalibkan dalam daging dan mati dalam daging. Dia tidak mati dalam hal yang lain selain dalam daging yang dihukum Allah. Roma 8:3 mengatakan, “Dengan mengutus Anak-Nya sendiri sebagai manusia yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa dan untuk menghapuskan dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging.” Ketika Tuhan Yesus disalibkan dalam daging, Allah menghukum dosa dalam daging. Dosa bukan hanya satu perkara; dosa adalah satu persona, dan persona ini perlu dihukum. Melalui kematian Tuhan di atas salib, Allah menghukum dosa dalam daging. Ini berarti ketika daging disalibkan, dosa dalam daging dihukum. Roma 6:6 mengatakan bahwa manusia lama kita turut disalibkan dengan Kristus. Manusia lama kita ada di dalam daging. Karena Kristus disalibkan dalam daging, manusia lama kita, yang ada dalam daging, turut disalibkan dengan Dia. Manusia lama kita disalibkan bersama Kristus dalam daging.
Melalui kematian Kristus bukan hanya dosa yang dihukum dan manusia lama kita disalibkan, tetapi Satan, si Iblis pun dihancurkan (Ibr. 2:14). Selain itu, melalui salib Kristus, dunia dihakimi dan penguasa dunia dicampakkan (Yoh. 12:31). Karena itu, melalui kematian Kristus di atas salib empat hal ditanggulangi: dosa dalam daging, manusia lama, Iblis, dan dunia. Ini berarti melalui kematian Kristus dalam daging-Nya segala hal negatif ditanggulangi. Kita perlu memiliki pemahaman ini setiap kali kita menerima Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita. Kurban penghapus dosa berarti dosa dalam daging telah dihukum, manusia lama kita telah disalibkan, Iblis telah dihancurkan, dan dunia telah dihukum dan penguasa dunia telah dicampakkan. Kita semua perlu belajar menerima Kristus sebagai kurban penghapus dosa yang demikian. Ketika kita masuk ke dalam persekutuan dengan Allah Tritunggal melalui Kristus sebagai kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban pendamaian, kita perlu menerapkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa kita.