← Daftar isi Imamat (1) · bab 17/20

KURBAN PENDAMAIAN— KRISTUS MENJADI PENDAMAIAN ANTARA ALLAH DENGAN UMAT ALLAH, AGAR MEREKA SALING MENIKMATI DALAM PERSEKUTUAN

Pembacaan Alkitab: Im. 3:1, 5-7, 12; 6:12; 7:37

Firman dalam Kitab Imamat mengenai kurban-kurban persembahan dibicarakan oleh TUHAN dalam kemah yang kecil, Kemah Pertemuan. Di padang gurun, terpisah dari jutaan orang yang sibuk mengerjakan banyak hal, Allah yang menciptakan alam semesta masuk ke sebuah kemah kecil. Apa yang Allah Tritunggal katakan di sana berlaku untuk selamanya. Melalui pembicaraan Allah yang ajaib, Kemah Pertemuan yang kecil ini berangsur-angsur akan menjadi Yerusalem Baru. Setiap aspek dari pembicaraan mengenai Kristus ini dan kenikmatan kita atas Kristus dalam kebersamaan dengan Allah akan digenapkan dalam Yerusalem Baru. Di dalam Yerusalem Baru kita pasti melihat Kristus adalah kurban bakaran, kurban sajian, kurban pendamaian, kurban penghapus dosa, kurban penebus salah, kurban unjukan, dan kurban timangan. Semua kurban persembahan ini akhirnya akan menghasilkan Yerusalem Baru.

Dalam Kitab Imamat, kurban-kurban persembahan ada dalam urutan khusus. Pertama kita memiliki kurban bakaran, kemudian kurban sajian, lalu kurban pendamaian. Kurban bakaran melambangkan bahwa kita harus mutlak untuk Allah; kurban sajian menunjukkan bahwa Kristus adalah makanan kita setiap hari. Ketika kita mutlak untuk Allah dan hidup berdasarkan makan Kristus, hasilnya adalah damai sejahtera. Kita berdamai dengan Allah dan dengan orang lain. Ini berarti ketika Kristus memuaskan kita, Dia menjadi pendamaian antara kita dengan Allah. Hari ini kita berada dalam damai sejahtera ini, yang adalah Kristus.

Kristus adalah Orang yang berdasarkan-Nya dan melalui-Nya kita mutlak untuk Allah dan bagi Allah. Kristus juga Orang yang kita makan setiap hari. Dia adalah makanan kita setiap hari. Sekarang, Kristus ini adalah damai sejahtera yang kita nikmati bersama Allah dan dengan orang lain. Karena itu, kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban pendamaian adalah kurban-kurban persembahan dasar agar kita dapat menikmati Kristus sebagai damai sejahtera Allah dan orang lain. Demikianlah makna urutan ketiga persembahan ini.

Di luar Kristus, kita tidak ada damai sejahtera. Jika kita kekurangan damai sejahtera, kita kekurangan Kristus. Jumlah damai sejahtera yang kita miliki tergantung pada berapa banyak Kristus yang kita miliki. Memiliki damai sejahtera adalah satu ukuran yang memperlihatkan kepada kita sampai di mana kita menikmati Kristus.

Tidak ada alasan untuk orang-orang dalam gereja tidak memiliki damai sejahtera. Kita seharusnya tidak mencoba memiliki damai sejahtera melalui usaha kita sendiri. Semakin kita mencoba dalam diri kita sendiri untuk memiliki damai sejahtera, kita malah akan kehilangan damai sejahtera. Satu-satunya cara untuk memiliki damai sejahtera adalah menikmati Kristus setiap hari. Pada pagi hari kita harus mengambil Kristus sebagai kurban bakaran kita dan mempersembahkan Dia untuk kepuasan Allah. Kemudian kita harus menerima Dia sebagai makanan kita setiap hari untuk keperluan khusus sepanjang hari itu.

Kita harus menikmati Kristus hari ini dan melupakan tentang hari kemarin dan besok. Kemarin telah lewat, dan kita bukan berada di hari esok. Karena kemarin telah lewat, tidak ada seorang pun dari kita dapat tetap tinggal di dalamnya. Entah kita gagal atau sukses pada hari kemarin, kemarin telah lewat. Sebagai orang Kristen kita tidak memiliki hari esok; kita hanya memiliki hari ini. Jangan khawatir tentang hari esok, hiduplah hari ini! Apa yang kita miliki hari ini? Kita memiliki Kristus. Kristus adalah hari ini. Kita telah melihat makna urutan tiga kurban persembahan ini. Sekarang mari kita memperhatikan sejumlah perkara yang berhubungan dengan kurban pendamaian.

I. DIILUSTRASIKAN OLEH LEMBU TAMBUN SEBAGAI KENIKMATAN

YANG PENUH DAMAI ANTARA ALLAH YANG MENERIMA

DAN ANAK YANG HILANG DALAM LUKAS 15:23-24

Kurban pendamaian diilustrasikan dalam Lukas 15:23-24 oleh lembu tambun sebagai kenikmatan yang penuh damai antara bapak (Allah) yang menerima dan anak hilang yang kembali (orang berdosa). Anak yang hilang pulang dalam keadaan sangat buruk, tetapi sang bapak penuh kasih, dan dia dengan segera menjadi bapak yang menerima. Setelah sang bapak menerima anak yang hilang, lembu tambun disembelih untuk kenikmatan mereka. Lembu tambun ini adalah gambaran dari Kristus sebagai kurban pendamaian kita untuk kita nikmati bersama Allah kita yang menerima. Bapak dan anak yang pulang memiliki kenikmatan yang limpah atas kurban pendamaian.

II. HUBUNGAN KURBAN PENDAMAIAN

DENGAN KURBAN BAKARAN DAN KURBAN SAJIAN

A. Kurban Pendamaian Berdasar pada Kepuasan

Allah atas Kurban Bakaran

Kurban pendamaian berdasar pada kepuasan Allah atas kurban bakaran. Kurban pendamaian yang Allah dan kita nikmati hari ini berdasar Kristus yang adalah kurban bakaran. Ini ditunjukkan oleh Imamat 3:5 dan 6:12. Membicarakan kurban pendamaian, Imamat 3:5 mengatakan, “Anak-anak Harun harus membakarnya di atas mezbah, yakni di atas kurban bakaran yang sedang dibakar di atas api, sebagai kurban api-apian yang baunya menyenangkan bagi TUHAN.” Di sini kita melihat bahwa kurban bakaran adalah dasar agar kurban pendamaian diterima oleh Allah. Dengan kurban bakaran sebagai dasar, Allah menerima kurban pendamaian.

B. Kurban Pendamaian Adalah Hasil dari Kenikmatan Allah dan Manusia atas Kurban Sajian

Kurban pendamaian adalah hasil dari kenikmatan Allah dan manusia atas kurban sajian (Im. 7:37). Di satu pihak, kurban pendamaian berdasar pada kurban bakaran; di pihak lain, kurban pendamaian adalah hasil dari kenikmatan atas kurban sajian.

Ini bukan perkara doktrin tetapi pengalaman. Jika kita mau menikmati Kristus sebagai damai sejahtera secara riil setiap hari, pertama-tama kita harus menerima Dia sebagai kurban bakaran kita untuk kepuasan Allah. Kemudian kita harus makan Dia sebagai kurban sajian, menikmati Dia sebagai makanan kita. Dengan segera Kristus akan menjadi kurban pendamaian kita. Saya percaya bahwa kita semua pernah mengalami ini.

Walaupun kita telah mengalami Kristus sebagai kurban-kurban persembahan, kita mungkin belum mengenal gambaran-gambaran dalam Kitab Imamat. Dalam menyajikan gambar-gambar ini, Kitab Imamat memakai sejumlah istilah teknis. Banyak dari kita telah mengalami Kristus tanpa mengenal istilah teknis ini. Salah satu dari istilah teknis ini adalah kurban bakaran. Pada pagi hari, kita dapat berdoa, “Allah Bapa, aku mengasihi Putra-Mu, dan aku mau mempersembahkan Dia kepada-Mu.” Kita menikmati Kristus begitu manis dan mempersembahkan Kristus ini kepada Allah agar Dia senang. Ini adalah mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban bakaran.

Setelah mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban bakaran, kita dapat berkata, “Oh Tuhan, Engkau adalah suplaiku setiap hari. Tanpa Engkau aku tidak dapat hidup.” Inilah yang dimaksud dengan menerima Kristus sebagai kurban sajian, sebagai suplai hayat. Kurban sajian adalah istilah teknis dari suplai hayat. Ketika kita menerima Kristus sebagai kurban bakaran dan sebagai kurban sajian, kita memiliki damai sejahtera. Kita memiliki perasaan bahwa sesuatu di dalam kita penuh sukacita dan kita benar dengan Allah dan diperkenan Dia. Dulu Anda mungkin memiliki masalah dan akibatnya tidak berdamai dengan Allah, tetapi sekarang tidak ada masalah, dan Anda merasa damai. Ini adalah kenikmatan atas Kristus sebagai kurban pendamaian. Kita semua dapat memiliki pengalaman dan kenikmatan ini setiap hari.

III. BERBAGAI JENIS KURBAN PENDAMAIAN

Dalam Kitab Imamat kita melihat bahwa ada berbagai macam kurban pendamaian. Sebagaimana kurban bakaran memiliki ukuran yang berbeda-beda, demikian juga kurban pendamaian memiliki banyak macam.

A. Bukan Tergantung pada Kristus,

tetapi Tergantung pada Perbedaan Keadaan Kenikmatan

Orang yang Mempersembahkan Kristus

Fakta bahwa kurban pendamaian berbeda-beda macamnya, bukan tergantung pada Kristus, tetapi tergantung pada perbedaan keadaan kenikmatan orang yang mempersembahkan Kristus. Kadang-kadang kita menikmati Kristus yang besar. Di saat lain terjadi sesuatu, mungkin sedikit gangguan dalam kehidupan keluarga kita, yang membatasi kenikmatan kita atas Kristus. Ini tidak berarti Kristus menjadi lebih kecil; ini berarti keadaan kita menikmati Kristus menjadi sempit dan kecil. Iblis berusaha membatasi kenikmatan kita atas Kristus dan mempersempit keadaan kita dalam menikmati Kristus. Karena itu, kita harus belajar untuk mengatasi segala macam keadaan, bahkan berdoa di “tempat tersembunyi” (Mat. 6:6) untuk menghindari gangguan, supaya kita bisa berada dalam keadaan yang lebih baik dan lebih tinggi untuk menikmati Kristus yang lebih besar.

B. Dari Lembu, Jantan atau Betina

1. Jantan

Imamat 3:1 mengatakan, “Jikalau persembahannya merupakan kurban pendamaian (LAI: keselamatan), maka jikalau yang dipersembahkannya itu dari lembu, seekor jantan atau seekor betina, haruslah ia membawa yang tidak bercela ke hadapan TUHAN.” Jantan melambangkan orang yang mempersembahkan yang lebih kuat, yang menikmati Kristus sebagai lembu jantan.

Bukan Kristus yang berbeda dalam kuat atau lemahnya, melainkan kitalah yang berbeda dalam kuat atau lemahnya. Jika kita kuat, kita menikmati Kristus yang lebih kuat. Jika kita lemah, kita menikmati Kristus yang lemah; bukan Kristus yang lemah dalam diri-Nya sendiri, tetapi yang lemah menurut pengalaman kita dikarenakan kelemahan kita. Ketika kita lemah atau kecewa, kita bisa memiliki kenikmatan yang lemah atas Kristus yang kuat. Karena kita lemah, Dia lemah dalam pengalaman kita.

2. Betina

Betina melambangkan lebih lemahnya orang yang mempersembahkan, yang menikmati Kristus sebagai lembu betina. Sebenarnya, semua lembu itu kuat. Kristus sendiri itu kuat. Entah kita menikmati Kristus yang kuat atau Kristus yang lemah tergantung pada keadaan kita. Jika keadaan kita kuat, kita akan menikmati Kristus yang kuat. Jika keadaan kita lemah, kita akan menikmati Kristus yang lemah.

C. Dari Kawanan, Domba atau Kambing

1. Domba

Imamat 3:6-7 mengatakan, “Jikalau persembahannya untuk kurban pendamaian (keselamatan) bagi TUHAN adalah dari kambing domba, seekor jantan atau seekor betina, haruslah ia mempersembahkan yang tidak bercela. Jikalau ia mempersembahkan seekor domba sebagai persembahannya, ia harus membawanya ke hadapan TUHAN.” Domba melambangkan ada orang menikmati Kristus dalam kesempurnaan dan kecantikan-Nya. Saya percaya bahwa kita semua memiliki pengalaman semacam ini, menikmati Kristus dalam kesempurnaan dan kecantikan-Nya.

2. Kambing

Imamat 3:12 mengatakan, “Jikalau persembahannya seekor kambing, ia harus membawanya ke hadapan TUHAN.” Kambing di sini melambangkan bahwa ada orang menikmati Kristus sebagai kambing, tidak banyak yang menikmati Kristus dalam kesempurnaan dan kecantikan-Nya.

Menurut Matius 25, domba itu baik dan kambing itu jahat. Lalu mengapa kadang-kadang kita dapat mengalami Kristus sebagai domba dan kadang-kadang sebagai kambing? Jika keadaan kita kasihan, kita tidak akan menikmati Kristus sebagai domba dalam kesempurnaan dan kecantikan-Nya. Sebaliknya, kita akan menikmati Dia sebagai kambing tanpa kesempurnaan dan kecantikan. Andaikata seorang saudara mencoba menikmati Kristus setelah cekcok dengan istrinya. Pada saat demikian kenikmatannya atas Kristus akan miskin; dia akan menikmati Kristus bukan sebagai domba, tetapi sebagai kambing. Ini menunjukkan bahwa dalam perasaan kita kepada Kristus berbeda menurut keadaan kita. Sungguh, bukan Kristusnya yang berbeda. Kitalah yang berbeda dalam perasaan kita berdasarkan keadaan kita.

IV. TIDAK BERCELA

Kurban pendamaian tidak bercela (Im. 3:1, 6). Ini menunjukkan keadaan tanpa dosa dan pelanggaran. Sebagai kurban pendamaian kita, Kristus itu sempurna. Dia tidak bercela.

V. MELETAKKAN TANGAN DI ATAS KEPALA KURBAN PERSEMBAHAN

Orang yang mempersembahkan kurban pendamaian meletakkan tangannya di atas kepala kurban persembahan (Im. 3:2, 8, 13). Ini melambangkan kesatuan antara orang yang mempersembahkan dengan kurban persembahan. Daripada kata “kesatuan”, mungkin kita harus menggunakan kata “penyamaan (identifikasi).” Melalui meletakkan tangan, orang yang mempersembahkan disamakan dengan kurban persembahan.

Mengenai ini, kita harus berhati-hati mengatakan bahwa Kristus menggantikan kita. Hubungan kita dengan Kristus bukan perkara penggantian; ini adalah perkara penyamaan. Ini bahkan bukan kesatuan. Maka kata “kesatuan” tidak dapat sepenuhnya menyampaikan kebenaran mengenai persekutuan kita dengan Kristus. Persekutuan kita dengan Kristus adalah perkara penyamaan, perkara kita menjadi Dia dan Dia menjadi kita. Kita dan Kristus adalah satu. Kita menjadi Dia dan Dia menjadi kita. Karena itu kita harus mengubah konsepsi kita mengenai penggantian. Diganti oleh Kristus berarti kita dibuang sepenuhnya. Hubungan kita dengan Kristus di sini bukanlah diganti, melainkan disatukan dengan Dia.

VI. DISEMBELIH DI DEPAN PINTU KEMAH PERTEMUAN

Kurban pendamaian disembelih di depan pintu Kemah Pertemuan (Im. 3:2, 8, 13). Ini melambangkan bahwa Kristus dibunuh di bumi, dan di hadapan Allah. Hari ini kita dapat menikmati Kristus di sini di bumi. Jangan menunggu pergi ke surga untuk menikmati Kristus. Nikmatilah Kristus di bumi, tempat Anda hari ini berada. Ada satu amsal yang mengatakan bahwa air yang jauh tidak dapat memuaskan haus kita. Jika Kristus hanya ada di surga, Dia tidak ada hubungannya dengan kita. Hari ini kita menikmati Kristus di bumi, di tempat kita berada.

VII. MENYIRAMKAN DARAH PADA MEZBAH SEKELILINGNYA

Darah kurban pendamaian disiramkan pada mezbah sekelilingnya (Im. 3:2, 8, 13). Ini menunjukkan bahwa darah adalah untuk pendamaian dalam hati nurani orang yang mempersembahkan. Darah ini tidak dibawa ke dalam tempat maha kudus untuk meredakan Allah; darah disiramkan di sekeliling mezbah di mana orang yang mempersembahkan berdiri. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa darah kurban pendamaian memberi kita damai sejahtera dan jaminan. Ketika kita melihat darah kurban pendamaian, kita memiliki jaminan bahwa dosa-dosa kita telah dibasuh. Darah kurban itu dicurahkan untuk kepentingan kita, dan darah ini sekarang ada di hadapan mata kita. Karena itu, kita dapat berkata, “Terima kasih, Tuhan. Dosa-dosaku telah diampuni. Aku tahu ini karena aku melihat darah-Mu. Darah adalah bukti bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosaku.”

VIII. SEGALA LEMAK YANG MENYELUBUNGI ISI PERUT,

KEDUA BUAH PINGGANG DAN LEMAK YANG MELEKAT PADANYA, UMBAI HATI,

DAN SEGENAP EKORNYA YANG BERLEMAK DIBAKAR PADA MEZBAH

Segala lemak yang menyelubungi isi perut, kedua buah pinggang dan lemak yang melekat padanya, umbai hati, dan segenap ekornya yang berlemak dibakar pada mezbah (Im. 3:3-5, 9-11, 14-16). Ini melambangkan bahwa Allah harus menjadi penikmat yang pertama, menikmati lebih dulu bagian terbaik dari kurban persembahan. Bagian terbaik dari kurban pendamaian adalah bagian Allah.

IX. SEBAGAI SANTAPAN BERUPA KURBAN API-APIAN

“Imam harus membakar semuanya itu di atas mezbah sebagai santapan berupa kurban api-apian menjadi bau yang menyenangkan” (Im. 3:16). Ini mlambangkan bahwa kurban pendamaian adalah semacam kurban bakaran (Im. 1:9, 13, 17), sebagai makanan Allah untuk kepuasan dan kenikmatan-Nya.

X. DADA DAN PAHA KANAN KURBAN PERSEMBAHAN UNTUK IMAM

Dada dan paha kanan kurban persembahan adalah untuk imam (Im. 7:30-34). Ini melambangkan bahwa semua orang beriman yang melayani Allah sebagai imam-imam dapat menikmati Kristus bersama Allah dan dapat menikmati Dia sebagai kekuatan untuk mengasihi dan tenaga untuk berdiri. Ketika kita makan dada Kristus, kita memiliki kekuatan-Nya untuk mengasihi, membuat kita mengasihi orang lain dan memperhatikan mereka dalam kasih. Ketika kita makan paha kanan Kristus, kita memiliki tenaga untuk berdiri.

XI. LEMAK DAN DARAH KURBAN PERSEMBAHAN TIDAK BOLEH

DIMAKAN OLEH IMAM

Lemak dan darah kurban persembahan tidak boleh dimakan oleh imam. “Inilah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun di segala tempat kediamanmu: janganlah sekali-kali kamu makan lemak dan darah” (Im. 3:17). Tidak makan lemak dan darah melambangkan bahwa bagian terbaik dari Kristus adalah untuk kepuasan Allah dan bahwa darah-Nya untuk penebusan kita memuaskan permintaan Allah. Maka di alam semesta hanya darah Yesus yang dapat dimakan oleh kaum beriman-Nya.

Im. 2:1-2, 4, 11, 13; Luk. 1:35; Mat. 1:18, 20; Luk. 3:21-22; 4:1; 23:14;

Mat. 12:46-50; Mrk. 10:38; Yoh. 12:24; 7:6, 16-18;

Rm. 8:2, 3, 6, 9-11, 13; 1Kor. 10:17