KURBAN SAJIAN HIDUP GEREJA
Pembacaan Alkitab:
1 Kor. 1:2, 9, 18, 22-24, 30; 2:2-4, 12; 3:16; 5:6-8; 6:5, 17, 19;
7:20, 24, 40; 9:22, 26-27; 10:16-17, 23-24, 31; 11:27-29; 12:3,
4, 11, 18, 24, 27; 13:4-7; 14:26, 40; 15:9-10; 16:13
Surat 1Korintus memperlihatkan satu macam hidup gereja (church life). Karena hidup gereja yang diwahyukan di sini memiliki begitu banyak aspek, kita kesulitan meringkas hidup gereja ini dalam frase atau klausa atau bahkan kalimat. Jika kita diterangi mengenai kurban sajian yang menggambarkan kehidupan Tuhan Yesus di bumi, kita akan mampu melihat bahwa hidup gereja yang digambarkan dalam Surat 1Korintus berhubungan dengan kehidupan Tuhan Yesus. Kehidupan ini adalah bentuk kurban sajian, dan hidup gereja yang disajikan dalam Surat 1Korintus dapat disebut kurban sajian hidup gereja.
Kita telah melihat bahwa kurban sajian berisi empat unsur: tepung halus, minyak, kemenyan, dan garam. Tepung halus melambangkan keinsanian Kristus, minyak melambangkan Roh Allah, kemenyan melambangkan aroma kebangkitan Kristus, dan garam melambangkan salib Kristus, yang secara subyektif, menanggulangi semua hal negatif dalam kehidupan kita.
Kita juga telah melihat bahwa kurban sajian tidak mengandung ragi maupun madu. Ragi melambangkan dosa dan semua hal negatif. Madu melambangkan hayat alamiah dalam aspek baiknya, termasuk kasih alamiah.
Jika kita membaca keempat Injil, kita akan melihat bahwa empat unsur kurban sajian adalah unsur-unsur dari kehidupan Kristus di bumi dan menyebabkan Dia menjadi kurban sajian yang sejati. Sebagai orang Kristen, kita harus menempuh macam kehidupan yang sama yang ditempuh Tuhan Yesus. Ini berarti, dengan tegas, kehidupan orang Kristen harus menjadi kurban sajian.
KEHIDUPAN DENGAN KEINSANIAN TERTINGGI
Supaya kehidupan kristiani kita menjadi kurban sajian, kehidupan ini harus menjadi kehidupan dengan keinsanian tertinggi. Inilah alasan Paulus memerintahkan orang Korintus, katanya, “Jadilah manusia dewasa” (1Kor. 16:13 Tl. LAI: Bersikap beranilah). Menurut konteks Surat 1Korintus, menjadi manusia dewasa berarti kita harus memiliki keinsanian tertinggi, dipertinggi. Jika kita memiliki keinsanian yang demikian, kita akan memiliki pengendalian diri. Ini ditunjukkan oleh perkataan Paulus dalam 1Korintus 9:26-27. “Sebab itu, aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Ayat-ayat ini mewahyukan bahwa Paulus memiliki keinsanian yang tinggi dan dia memiliki karakter yang kuat dan sangat baik. Dia tidak berlari tanpa tujuan atau meninju sembarangan, tetapi melatih tubuhnya dan menguasainya. Dia adalah manusia sejati dengan standar moralitas yang tinggi dalam kehidupan insaninya.
Satu Korintus 13:4-7 adalah penjelasan kasih. Penjelasan ini sebenarnya memperlihatkan kepada kita keinsanian yang lembut (halus). Ayat 4 mengatakan, “Kasih itu sabar; kasih itu baik hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” Dalam keinsanian kita yang lemah, kita hanya memiliki kesabaran yang terbatas, tetapi kasih itu panjang sabar. Selain itu, kita mudah cemburu dan iri hati, tetapi kasih itu tidak cemburu. Tambahan pula, kasih tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kasih tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan (1Kor. 13:5-6a), tetapi karena kebenaran. Kasih menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu (1Kor. 13:6b-7). Di sini kita memiliki penjelasan keinsanian yang lembut dan karakter insani yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa Surat 1Korintus adalah surat yang membicarakan keinsanian yang dipertinggi.
Dalam 16:13 Paulus tidak mengatakan, “Jadilah seorang pahlawan”, tetapi mengatakan, “Jadilah manusia dewasa(Tl.).” Dari setiap sudut dan setiap sisi, kita harus menjadi manusia dewasa. Dari sudut etika, kita harus menjadi manusia dewasa. Dari sudut menguasai diri, kita harus menjadi manusia dewasa. Dari sudut hikmat dan kasih, kita harus menjadi manusia dewasa. Ini adalah memiliki keinsanian yang dipertinggi. Dalam Surat 1Korintus, kita dapat melihat tepung halus yang asli. Surat ini sebenarnya menyajikan kurban sajian hidup gereja.
Dalam kurban sajian hidup gereja, butir pertama adalah keinsanian yang halus (lembut), yang dipertinggi. Jika kita mau memiliki hidup gereja yang tepat, kita semua perlu memiliki karakter yang kuat. Namun, karakter kuat ini harus seimbang, karena keinsanian yang tidak seimbang adalah keinsanian yang kabur. Karena itu, kita harus kuat juga lembut. Jika dalam hidup gereja kita kuat tanpa lembut, kita akan melukai orang lain. Walaupun kita perlu menjadi lembut juga kuat, kita seharusnya tidak begitu lembut. Mereka yang terlalu lembut seperti bakmi. Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita dapat menegakkan bambu, tetapi tidak dapat menegakkan bakmi. Kita tidak dapat memiliki hidup gereja yang tepat jika kaum beriman terlalu kuat atau terlalu lembut. Kita perlu seimbang. Untuk hidup gereja, kita perlu menjadi seorang manusia dengan keinsanian yang halus, seimbang, dan dipertinggi.
KRISTUS—MANUSIA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA OLEH ALLAH
Satu Korintus pasal 1 mewahyukan Kristus adalah manusia yang diberikan kepada kita oleh Allah. Ayat 2 mengatakan bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah “Tuhan mereka dan Tuhan kita.” Kristus adalah milik Anda dan milik saya. Seperti Yohanes 3:16 memberi tahu kita, Allah mengasihi dunia, umat manusia yang jatuh, dan memberikan Anak Tunggal-Nya kepada kita. Sekarang Kristus adalah milik kita, dan kita telah dipanggil ke dalam persekutuan Anak Allah, Yesus Kristus Tuhan kita (1Kor. 1:9). Sekarang kita dapat menikmati Dia, berbagian dalam Dia, dan membagikan Dia kepada orang lain.
Selain itu, 1Korintus 1:30 mengatakan, “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita, dan juga kebenaran dan pengudusan dan penebusan” (Tl.). Allahlah yang membuat kita berada di dalam Kristus Yesus, dan Kristus telah menjadi hikmat kita. Kristus yang demikian telah diberikan kepada kita. Kristus adalah hadiah, pemberian Allah untuk kita. Hadiah ini adalah satu persona; Dia adalah Anak Allah dan juga Manusia-Allah. Allah juga telah memanggil kita ke dalam kenikmatan atas karunia ini dan membuat karunia ini menjadi hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan kita. Ini adalah Kristus sebagai manusia yang diwahyukan dalam 1Korintus 1.
ROH ALLAH
Unsur kedua dalam kurban sajian adalah minyak, yang melambangkan Roh Allah. Surat 1Korintus banyak membicarakan Roh itu. Paulus membicarakan Roh Allah dalam pasal 2 dan 3. Dalam 1Korintus 2:4 dia berkata bahwa perkataan dan pemberitaannya adalah “dengan bukti Roh” (Tl.), dan dalam ayat 12 dia memberi tahu kita bahwa kita telah menerima “roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita.” Kemudian dalam 1Korintus 3:16 dia mengatakan, “Tidak tahukah kamu bahwa kamu sekalian adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa mereka adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah tinggal di dalam mereka. Tahukah Anda bahwa dalam kehidupan setiap hari Anda ada Dia yang tinggal di dalam Anda? Sadarkah Anda bahwa Roh Allah mengambil Anda sebagai tempat tinggal-Nya? Roh itu telah dikaruniakan kepada kita, dan sekarang Dia tinggal di dalam kita.
Dalam 1Korintus 6:17 Paulus berkata, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Ini menunjukkan perbauran Tuhan sebagai Roh itu bersama roh kita. Karena kita adalah satu roh dengan Tuhan, kita adalah bagian dari Dia. Ini tidak berarti kita adalah bagian dari Allah sebagai obyek penyembahan; ini berarti kita adalah bagian dari Tuhan dalam pengalaman hayat kita. Dalam roh, kita bersatu dengan Roh ilahi. Kita diminyaki dengan Roh itu, dan kita telah diikatkan pada Roh itu. Kita tidak hanya telah menerima Roh Kudus, kita bersatu dengan Dia. Jika kita tidak bersatu dengan Roh itu, kita tidak dapat memiliki hidup gereja. Hidup gereja adalah kehidup-an keinsanian yang diminyaki oleh Roh Kudus dan dengan Roh Kudus. Kita bersatu dengan Roh Kudus, dan kita perlu tetap tinggal dalam keesaan ini.
KRISTUS DALAM KEBANGKITAN
Dalam Surat 1Korintus kita juga memiliki kemenyan, yaitu, Kristus dalam kebangkitan. Sebenarnya, seluruh pasal 15 membicarakan perkara kebangkitan. Karena itu, dalam Surat ini kita benar-benar memiliki aroma Kristus yang bangkit.
Ada orang Kristen telah ditipu oleh Iblis dengan mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati. Paulus membantah mereka, katanya, “Seandainya tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih daripada itu, kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan bahwa Ia telah membangkitkan Kristus, padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, andaikata benar bahwa orang mati tidak dibangkitkan. Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan” (1Kor. 15:13-16).
Dalam 1Korintus 15:9-10 Paulus membicarakan mengenai pengalamannya atas kebangkitan Kristus. Pertama, dalam ayat 9 dia mengacukan dirinya sendiri sebagai “yang paling hina dari semua rasul.” Kemudian dalam ayat 10 dia berkata, “Tetapi karena anugerah (kasih karunia) Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku.” Dalam ayat ini anugerah Allah sama dengan kebangkitan, sama dengan Kristus yang bangkit. Anugerah Allah yang kita nikmati hari ini adalah Kristus dalam kebangkitan. Dari pihak Paulus, kita dapat mengatakan bahwa bukan aku, melainkan anugerah Allah; bukan aku, melainkan Kristus dalam kebangkitan.
Dalam 1Korintus 15:58 Paulus memberi kita sepatah kata dorongan. “Karena itu, Saudara-saudaraku yang terkasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” Jerih payah kita tidak sia-sia karena kita berjerih payah bukan dalam hayat alamiah kita, melainkan dalam kebangkitan Kristus. Jerih payah kita untuk Tuhan dalam kebangkitan-Nya tidak pernah sia-sia.
TETAP TINGGAL DALAM KEADAAN
PADA WAKTU KITA DIPANGGIL
Dalam 1Korintus 7, Paulus menyuruh kaum beriman untuk tetap tinggal dalam keadaan pada saat mereka dipanggil. “Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil” (ayat 24). Dia memakai hamba (budak) sebagai contoh. “Apakah engkau hamba waktu engkau dipanggil? Itu tidak apa-apa! Tetapi jikalau engkau mendapat kesempatan untuk dibebaskan, pergunakanlah kesempatan itu. Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang merdeka, milik Tuhan. Demikian pula orang merdeka yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya” (1Kor. 7:21-22). Paulus tidak melakukan pekerjaan emansipasi, melainkan mendorong kaum beriman yang adalah hamba untuk tetap tinggal sebagai hamba, seperti keadaan waktu mereka dipanggil, menempuh hidup yang dapat tahan dalam perhambaan dan mengatasinya. Hamba memiliki kesempatan khusus untuk menyatakan realitas kebangkitan dan memuliakan Kristus dengan menempuh kehidupan yang melampaui perhambaan. Kehidupan yang demikian adalah kesaksian yang indah!
Prinsipnya sama dengan kehidupan pernikahan. Paulus berkata, “Supaya seorang istri jangan bercerai dari suaminya” (1Kor. 7:10). Dalam 1Korintus 7:12-13 dia selanjutnya berkata, “Kalau ada seorang saudara seiman beristrikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia.” Ini memerlukan keinsanian yang tinggi. Alasan adanya begitu banyak perceraian hari ini adalah karena keinsanian manusia begitu lemah. Tetap tinggal bersama suami atau istri yang sulit diajak hidup bersama dan yang tidak kita sukai menuntut kita “menjadi manusia dewasa” dan memiliki keinsanian yang dipertinggi.
Saya mengenal sepasang suami istri, yang sebelum beroleh selamat, telah memutuskan untuk bercerai. Mereka tidak mengasihi satu sama lain, dan mereka memutuskan untuk bercerai. Namun, mereka mendengar Injil, menerima Tuhan Yesus, dan beroleh selamat. Sejak saat itu, mereka memiliki Kristus sebagai persona lain yang hidup di dalam mereka, dan Dia mempertinggi keinsanian mereka dan mengubah karakter mereka. Mereka membuang niat untuk bercerai dan memulai hidup bersama dalam kemanisan, dalam aroma kebangkitan Kristus. Orang yang mengontak mereka dapat merasakan aroma hayat kebangkitan Kristus.
Cara Paulus dalam 1Korintus 7 sangat khusus (tidak biasa), juga sangat berhikmat. Dia tidak memaksa seorang saudara untuk tetap tinggal bersama istrinya. Sebaliknya, dia menyuruh kaum beriman untuk tetap tinggal di dalam Allah dalam keadaan waktu mereka dipanggil. Mereka yang menikah tidak boleh meninggalkan istrinya atau suaminya, sebab meninggalkan pasangan hidup sebenarnya adalah meninggalkan Allah. Kaum beriman yang menikah harus tetap tinggal bersama pasangannya di hadapan Allah.
Titik masalah di sini adalah kaum beriman seharusnya tidak mengharapkan perubahan dalam status mereka. Mengenai hal ini, kita dapat mengambil Paulus sebagai contoh. Dia, seorang Yahudi, dilahirkan di bawah penjajahan Romawi. Namun, dia tidak pernah mendorong orang Yahudi untuk beremansipasi dari orang-orang Romawi. Sebaliknya, dalam Roma 13 dia menyuruh kaum beriman untuk tunduk kepada pemerintahan Kekaisaran Romawi. Ini menunjukkan bahwa dia mendorong mereka untuk tidak mengubah keadaan mereka, melainkan tetap tinggal dalam keadaan sewaktu mereka dipanggil.
Semakin buruk keadaan seseorang, makin banyak kesempatan orang itu untuk memperhidupkan Kristus. Mereka yang dalam perhambaan dapat memperhidupkan Kristus dalam kebangkitan ketika mereka ada dalam perhambaan. Inilah yang dimaksud menjadi manusia dewasa. Kita semua dapat menjadi orang yang diminyaki dengan Roh itu dan diikatkan kepada Roh itu menjadi satu roh, dan kita dapat sepenuhnya berada dalam kebangkitan, menyatakan aroma kebangkitan Kristus.
SALIB KRISTUS
Unsur keempat kurban sajian, garam, dapat juga ditemukan dalam Surat 1Korintus. Ketika menulis surat untuk orang-orang Korintus, Paulus berbicara mengenai salib Kristus dan Kristus yang disalibkan, “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan” (1Kor. 1:22-23a). Paulus tidak mengatakan bahwa dia memberitakan Kristus yang dimuliakan; dia berkata bahwa dia memberitakan Kristus yang disalibkan. Paulus tidak memberitakan mukjizat atau hikmat, dia memberitakan Kristus yang disalibkan.
Kristus yang disalibkan adalah Kristus yang tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri. Ketika Tuhan Yesus dipaku di atas salib, “Imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olok Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata, ‘Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu sekarang supaya kita lihat dan percaya!” (Mrk. 15:31-32a). Tidak peduli berapa banyak Dia ditentang, Tuhan Yesus tetap tinggal di atas salib, tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri. Kepada orang-orang Korintus, Paulus memberitakan Kristus yang disalibkan. Untuk orang-orang Yunani, yang membanggakan kebudayaan dan hikmat mereka, pemberitaan ini adalah kebodohan. Situasinya sama dengan hari ini. Orang masih membanggakan kebudayaan dan hikmat mereka, dan kita perlu memberitakan Kristus yang disalibkan kepada mereka. Satu Korintus 1:18 mengatakan, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” Melalui memberitakan Injil, pemberitaan salib dapat menyelamatkan orang. Jika kita mau memiliki kekuatan dalam memberitakan Injil, kita perlu menempuh kehidupan tersalib. Kita harus belajar menempuh kehidupan tersalib, disalibkan setiap hari. Kita dapat mengalami hal ini dalam kehidupan pernikahan kita, karena setiap istri adalah salib untuk suaminya dan setiap suami adalah salib untuk istrinya. Pengaturan ini, yang adalah untuk menggarami kita, adalah kedaulatan Allah.
Kita digarami bukan saja dalam kehidupan pernikahan kita, tetapi juga dalam hidup gereja. Dalam hidup gereja ada sesuatu yang disebut digarami. Di satu pihak, dalam hidup gereja kita bergembira. Di pihak lain, kita juga mengalami yang tidak menyenangkan yang datangnya dari penggaraman. Dalam lubuk batin, saudara-saudara mungkin merasa bahwa mereka digarami, disalibkan, oleh saudari-saudari. Saudari-saudari mungkin memiliki perasaan yang sama terhadap saudara-saudara. Dalam hidup gereja penggaraman terbesar sedang terjadi. Dalam Surat 1Korintus, Paulus tidak mengajar kita untuk dimuliakan. Dia mengajar kita untuk disalibkan. Tanpa salib, tidak ada hidup gereja. Jika tidak ada garam, tidak ada kurban sajian. Kurban sajian harus digarami.
MENANGGULANGI RAGI— DOSA DAN HAL-HAL YANG NEGATIF
Kita telah menekankan bahwa dalam kurban sajian tidak ada ragi ataupun madu. Dalam Surat 1Korintus, ragi, dosa dan hal-hal yang negatif dan madu, hayat alamiah, keduanya ditanggulangi. Dalam 1Korintus 5:6b-8 kita memiliki penanggulangan atas ragi. “Tidak tahukah kamu bahwa sedikit ragi membuat seluruh adonan mengembang? Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebagaimana kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita, yaitu Kristus, juga telah disembelih. Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.” Di sini kita melihat bahwa ragi tidak ditoleransi dalam hidup gereja.
MENANGGULANGI MADU—HAYAT ALAMIAH
Satu Korintus 15:10 menunjukkan bahwa dalam pengalaman Paulus, madu, hayat alamiah, ditanggulangi. Ingatlah bahwa dalam ayat ini Paulus berkata, “Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku.” Jerih lelah Paulus bukan berdasarkan aku, bukan berdasarkan hayat alamiah, bukan berdasarkan madu. Paulus jelas bukan orang yang memiliki karakter lemah. Sebelum dia beroleh selamat, karakternya sangat kuat, memimpin untuk menganiaya kaum beriman. Namun, setelah dia beroleh selamat, dia menjadi rasul dan lebih berjerih lelah dibandingkan rasul lainnya. Namun, jerih lelah ini bukan dalam hayat alamiah.
Dalam hidup gereja, hayat alamiah dan perasaan alamiah harus ditanggulangi. Ini berarti seharusnya tidak ada madu dalam hidup gereja. Kita semua senang bersikap alamiah dan menempuh kehidupan alamiah, tetapi dalam hidup gereja hayat alamiah tidak boleh ada. Hayat alamiah harus diletakkan pada kematian. Madu hayat alamiah harus dibunuh oleh garam, oleh salib Kristus. Kita seharusnya tidak menaruh ragi atau madu dalam kurban sajian. Ini berarti dalam hidup gereja kita seharusnya tidak memiliki hal-hal negatif atau hayat alamiah.
SATU ROTI
Hidup gereja adalah kurban sajian korporat yang dilambangkan oleh satu roti dalam 1Korintus 10:17, “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.” Roti ini, atau roti bundar, melambangkan kehidupan korporat. Kita menikmati hayat korporat ini ketika kita berbagian dengan meja Tuhan. Apakah Anda mengambil roti dan cawan oleh diri Anda sendiri? Tentu tidak! Anda mengambil bagian dalam roti dan cawan bersama kaum beriman. Ini adalah perkara persekutuan. Ini adalah alasan 1Korintus 10:16 mengatakan, “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?” Karena ini adalah perihal persekutuan, maka kita mengambil bagian dalam roti dan cawan secara korporat. Mengambil bagian secara korporat ini adalah tanda hidup gereja; ini juga adalah kesaksian hidup gereja.
Semua butir yang disinggung dalam Surat 1Korintus berhubungan dengan hidup gereja, kehidupan korporat. Menurut surat ini, untuk kehidupan korporat ini kita perlu menjadi manusia yang diminyaki dengan Roh Kudus, yang menempuh kehidupan di bawah salib dengan kebangkitan Kristus sebagai kemenyan, dan yang tidak memiliki ragi atau madu. Inilah hidup gereja sebagai kurban sajian. Seluruh hidup gereja adalah kurban sajian. Dalam kurban sajian ini bagian terbaik adalah untuk kenikmatan Allah, dan sisanya untuk kita nikmati sebagai makanan kita setiap hari dalam pelayanan kita kepada Allah. Karena itu, kita adalah kurban sajian, sebagai makanan untuk kepuasan Allah dan untuk merawat orang lain.
Allah ingin memiliki kurban sajian di setiap lokal. Dia ingin setiap gereja lokal menjadi kurban sajian yang memuaskan Dia dan sepenuhnya menyuplai kaum saleh setiap hari. Rasa lapar kita bukan hanya dipuaskan oleh Kristus, tetapi juga oleh hidup gereja. Hidup gereja memuaskan kita karena hidup gereja adalah kurban sajian korporat, dengan bagian terbaik untuk Allah dan sisanya untuk kita. Karena itu, kita diberi makan oleh dan dengan hidup gereja. Hidup gereja adalah kurban sajian untuk menjadi suplai kita setiap hari. Haleluya untuk kurban sajian hidup gereja!