← Daftar isi Imamat (1) · bab 15/20

UNSUR-UNSUR KURBAN SAJIAN UNTUK KEHIDUPAN ORANG KRISTEN DAN HIDUP GEREJA

Pembacaan Alkitab:

Im. 2:1-2, 4, 11, 13; Luk. 1:35; Mat. 1:18, 20; Luk. 3:21-22; 4:1; 23:14;

Mat. 12:46-50; Mrk. 10:38; Yoh. 12:24; 7:6, 16-18;

Rm. 8:2, 3, 6, 9-11, 13; 1Kor. 10:17

Dalam berita ini saya berbeban memberi perkataan lebih lanjut mengenai kurban sajian. Namun, saya tidak berbeban membicarakan mengenai kurban sajian itu sendiri. Sebaliknya, beban saya adalah mempersekutukan dengan kalian mengenai unsur-unsur, komponen-komponen kurban sajian dalam hubungannya dengan kehidupan orang kristen dan hidup gereja (church life).

ROH ITU SEBAGAI REALITAS DARI KURBAN PERSEMBAHAN

BAGI KITA DALAM PENGALAMAN KITA

Dalam berita yang lalu kita telah melihat bahwa realitas semua kurban persembahan adalah Kristus yang direalisasikan sebagai Roh itu. Ini berarti dalam pengalaman kita, Roh itu adalah realitas kurban persembahan. Jika kita tidak memiliki Roh itu secara subyektif, kita tidak akan memiliki realitas kurban persembahan; yang ada hanyalah doktrin mengenai Kristus sebagai kurban-kurban persembahan. Dalam diri-Nya, Kristus adalah realitas kurban persembahan, tetapi Dia tidak dapat menjadi realitas ini bagi kita terpisah dari diri-Nya sebagai Roh pemberi-hayat.

LIMA KURBAN PERSEMBAHAN DASAR

Dalam Kitab Imamat ada lima kurban persembahan dasar: kurban bakaran, kurban sajian, kurban pendamaian, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah. Sulit bagi kita untuk mengatakan kurban yang mana dari antara lima kurban ini merupakan kurban persembahan utama. Ada orang mungkin mengatakan bahwa kurban pendamaian adalah kurban persembahan yang utama, karena menurut Imamat 1—5, kurban ini berada di tengah. Orang lain mungkin berkata bahwa kurban persembahan utama adalah kurban bakaran, yang melambangkan Kristus sebagai Dia yang mutlak untuk Allah. Yang lain lagi mungkin mengatakan, karena kita memiliki masalah dosa dan dosa-dosa dalam kehidupan kita setiap hari, jadi kalau bukan kurban penghapus dosa tentu kurban penebus salah adalah kurban persembahan yang utama. Walaupun kita memerlukan semua kurban persembahan dasar ini, kurban persembahan utama yang terkait dengan mengalami Kristus dalam banyak aspek dan terperinci adalah kurban sajian.

Dalam memahami Kitab Imamat, kita hari ini berdiri di atas bahu banyak guru Alkitab, khususnya guru-guru di antara Kaum Saudara, yang telah mendahului kita. Kita harus menghormati mereka. Walaupun demikian, karena kita ada di atas bahu mereka, kita dapat melihat hal-hal yang belum mereka lihat. Satu dari hal-hal ini adalah perkara menikmati kurban-kurban persembahan, supaya bisa disusun menjadi jenis orang tertentu. Kita menjadi apa yang kita makan. Jika kita makan Kristus sebagai kurban sajian, kita akan disusun dengan Kristus.

Kita perlu mengenal unsur-unsur yang menyusun kurban sajian. Kita perlu menyadari bahwa kurban sajian meliputi empat unsur, tetapi khususnya menolak dua unsur lainnya. Mengenal unsur-unsur ini berarti mengenal Kristus secara riil dan terperinci.

TEPUNG HALUS

Unsur pertama dalam kurban sajian adalah tepung halus. Tepung halus ini melambangkan keinsanian Kristus, yang seimbang dan halus.

MINYAK

Kalau tepung halus dalam kurban sajian melambangkan keinsanian, minyak melambangkan keilahian. Minyak melambangkan Allah. Tepung halus adalah dasar, dan minyak dibubuhkan padanya. Jika kita membaca Imamat 2 secara teliti, kita akan melihat bahwa minyak dibubuhkan pada tepung halus dalam tiga cara. Minyak dapat dibaurkan dengan tepung, atau dituangkan ke atas tepung. Tepung juga dapat dituangi dengan minyak. Cara yang paling penting untuk membubuhkan minyak ke tepung adalah membaurkan tepung dengan minyak. Tepung halus tidak lagi kering, melainkan “diminyaki” di dalam dan di luar.

KEMENYAN

Unsur ketiga adalah kemenyan. Dalam perlambangan kemenyan melambangkan kebangkitan. Harum wangi kemenyan melambangkan bau harum kebangkitan Kristus. Betapa wangi Kristus dalam kebangkitan-Nya!

GARAM

Unsur keempat kurban sajian adalah garam. Dalam perlambangan garam melambangkan kematian, atau salib Kristus. Garam memberikan rasa, membunuh kuman-kuman, dan mencegah pembusukan. Ini adalah pengaruh salib Kristus.

TIDAK ADA RAGI ATAU MADU DALAM KURBAN SAJIAN

Kurban sajian tidak mengandung ragi atau madu. Ragi melambangkan dosa dan hal-hal negatif lainnya. Dalam Kitab Injil, Tuhan Yesus membicarakan ragi orang Farisi, ragi orang Saduki, dan ragi Herodes (Mat. 16:6, 11-12; Luk. 12:1; Mrk. 8:15).

Madu melambangkan hayat alamiah manusia, bukan dalam aspek yang buruk, tetapi dalam aspek yang baik. Kita seharusnya tidak beranggapan bahwa manusia itu selalu buruk, kadang-kadang manusia itu sangat baik; tetapi kebaikan alamiah ini adalah madu. Membenci adalah ragi, tetapi kasih alamiah adalah madu. Demikian pula, sombong adalah ragi, tetapi kerendahan hati alamiah adalah madu.

Madu kelihatannya berbeda dengan ragi. Namun, setelah sejangka waktu madu dapat mengalami peragian (fermentasi), dan peragian ini akan menghasilkan ragi. Ini menunjukkan bahwa entah kita baik atau buruk, hasil akhirnya akan sama. Inilah alasan Kejadian 2 membicarakan pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Kita mungkin baik atau jahat, tetapi dalam kedua kondisi ini, hasilnya adalah ragi.

Kita dapat memakai perceraian sebagai satu ilustrasi peragian dari madu. Banyak pernikahan yang diakhiri dengan perceraian, ini dikarenakan madu, kasih alamiah, mengalami peragian dan menghasilkan ragi. Dari ilustrasi ini kita melihat bahwa hasil membenci, yang adalah ragi, dan kasih alamiah, yang adalah madu, adalah sama. Hal-hal negatif adalah ragi, dan aspek-aspek yang baik dari hayat alamiah yang dilambangkan dengan madu, akhirnya mengalami peragian dan menjadi ragi.

Kehidupan yang ditempuh Kristus di bumi adalah kehidupan tanpa ragi dan tanpa madu, dan hari ini kita harus menempuh kehidupan yang sama. Kita perlu memiliki empat unsur positif, tepung halus, minyak, kemenyan, dan garam, tetapi tidak memiliki dua unsur negatif, ragi dan madu. Jika demikian, kita akan menjadi kurban sajian yang tepat yang disusun dari keinsanian yang diminyaki dengan keilahian dalam kebangkitan melalui kematian Kristus, tanpa ragi dan madu. Jenis kehidupan ini adalah makanan untuk kepuasan Allah dan juga untuk merawat kita sebagai orang yang melayani Allah.

GAMBARAN KEHIDUPAN INSANI KRISTUS DI BUMI DALAM KEEMPAT KITAB INJIL

Dalam keempat kitab Injil, kita melihat gambaran kehidupan insani Kristus di bumi. Dia adalah Allah dalam kekekalan, tetapi melalui inkarnasi Dia menjadi manusia sejati, dan Dia hidup di bumi sebagai manusia.

Roh Itu dalam Kehidupan Insani Kristus

Keinsanian Kristus erat kaitannya dengan Roh Allah. Dia dikandung dari Roh Kudus (Luk. 1:35; Mat. 1:18, 20). Sejak waktu dikandung, yaitu dari awal hidup-Nya sebagai manusia, keinsanian-Nya tidak terpisahkan dengan Roh Kudus. Terpisah dari Roh Kudus, Yesus tidak dapat dikandung dan dilahirkan. Terkandungnya Tuhan dan kelahiran Tuhan sepenuhnya dari Roh Kudus. Keinsanian-Nya dibaurkan dengan Roh Kudus. Kehidupan insani Kristus berdasar pada perbauran ini.

Ketika Tuhan Yesus keluar untuk melayani Allah, Dia terlebih dulu dibaptis. “Ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya” (Luk. 3:21b-22a). Fakta bahwa Roh Kudus turun dalam rupa burung merpati (yang dikenal karena kelembutannya), menunjukkan bahwa Roh Allah adalah persona dan bukan hanya suatu kekuatan, saluran, atau alat. Roh Kudus sebagai satu persona turun ke atas Tuhan Yesus. Ini berarti sama seperti minyak yang dituangkan ke atas tepung halus, Roh Kudus dicurahkan ke atas Tuhan Yesus. Di satu pihak, dalam keinsanian Dia berbaur dengan Roh Kudus; di pihak lain, Roh Kudus dicurahkan ke atas Dia dan mengurapi Dia.

Bagian depan Lukas 4:1 membicarakan “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus.” Dia penuh dengan Roh itu, sepenuhnya diminyaki dengan Roh itu, karena Dia berbaur dengan Roh itu, dan karena Roh itu telah dicurahkan ke atas Dia. Dia berperilaku dan bekerja dalam Roh itu. Segala sesuatu yang Dia lakukan dalam pelayanan-Nya dilakukan dalam Roh itu, dalam Roh esensial dan juga dalam Roh ekonomikal. Dia adalah manusia yang berbaur dengan Roh itu dan dengan Roh itu yang dicurahkan ke atas Dia.

Keinsanian Tanpa Kesalahan— Kehidupan Insani tanpa Ragi

Keinsanian dan kehidupan insani Tuhan Yesus tanpa kesalahan. Dia dibawa ke hadapan Pilatus untuk dihakimi oleh penguasa Romawi, tetapi Pilatus menyatakan bahwa dia tidak menemukan kesalahan di dalam Dia (Luk. 23:14). Tuhan Yesus tidak memiliki dosa. Di dalam Dia tidak ada ragi.

Menyangkal Hayat Alamiah— Hayat Insani tanpa Madu

Pada Tuhan Yesus tidak ada madu. Suatu hari, ketika Dia sedang berbicara kepada orang banyak, “Ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Lalu seseorang berkata kepada-Nya, ‘Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau’” (Mat. 12:46-47). Ketika Dia mendengar ini, Dia berkata kepada orang yang berbicara kepada-Nya, “‘Siapa ibuKu? Siapa saudara-saudara-Ku?’ Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, ‘Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa saja yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku” (ayat 48-50). Ini menunjukkan bahwa pada Dia tidak ada madu, sehingga Dia menyangkal hayat alamiah.

Dalam Kisah Para Rasul 15:36-39 ada masalah antara Paulus dengan Barnabas. Masalah ini disebabkan oleh madu hayat alamiah. Barnabas ingin membawa Markus menyertai perjalanan mereka, tetapi “Paulus dengan tegas berkata bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka” (ayat 38). Hasilnya, “hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah” (ayat 39a). Markus adalah kemenakan Barnabas (Kol. 4:10), dan sepertinya masalah antara Paulus dengan Barnabas disebabkan oleh hubungan alamiah antara Barnabas dengan Markus. Paulus, yang dikuatkan oleh catatan ilahi (Kis. 15:39b-40), tidak setuju dengan madu ini.

Dalam kehidupan kristiani kita, kita perlu belajar dari Tuhan Yesus untuk sebisanya menghindari hayat alamiah. Sebagai kaum beriman, kita benar-benar perlu mengasihi orang lain, tetapi kita harus hati-hati, jangan sampai mengasihi secara alamiah. Betapa mudahnya kita mengasihi orang lain secara alamiah, secara insani! Bahkan dalam hidup gereja kita mungkin mengasihi orang-orang yang secara alamiah sama seperti kita. Mungkin kita mengasihi seorang saudara karena wataknya mirip dengan kita. Jenis kasih ini adalah madu, adalah kasih alamiah.

Dalam Filipi 2:2, Paulus berkata, “Dalam satu kasih.” Dalam satu kasih adalah mengasihi semua orang beriman pada tingkat yang sama. Dalam diri sendiri kita tidak dapat memiliki kasih semacam ini, sebab sifat alamiah kita cenderung mengasihi dengan berbeda-beda. Kasih kita untuk kaum beriman tertentu mungkin lebih tinggi dibandingkan kasih kita kepada kaum beriman yang lain. Ini adalah madu. Kasih Tuhan Yesus tidak seperti ini.

Satu Kehidupan yang Selalu Digarami

Markus 10:38 dan Yohanes 12:24 menunjukkan bahwa Tuhan Yesus selalu digarami, Dia selalu menempuh hidup di bawah bayang-bayang salib. Sebelum Dia betul-betul disalibkan, setiap hari Dia menempuh kehidupan tersalib. Dalam Markus 10:38, Tuhan Yesus bertanya kepada Yakobus dan Yohanes, “Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum atau dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?” Ketika mereka berkata bahwa mereka dapat, Dia selanjutnya berkata, “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima” (ayat 39). Cawan dan baptisan keduanya mengacu kepada kematian Kristus (Yoh. 18:11; Luk. 12:50). Minum cawan Tuhan dan dibaptis dengan baptisan Tuhan adalah mengalami kematian-Nya, menerapkan kematian-Nya pada diri kita dalam pengalaman kita. Kidung yang membicarakan digarami adalah kuning Kidung No. 464. Bait kedua dan koornya mengatakan:

Kristus terbentuk dalamku,

Tersingkirlah diriku;

Hidup bawah naungan salib,

Hidup jiwa terbasmi.

Tanpalah mati, takkanlah hidup!

Mati niscayalah tumbuh, Mati ‘kan hidup.

Kehidupan yang Kristus tempuh adalah kehidupan yang digarami. Mengalami salib hari ini adalah digarami. Kita perlu garam dalam kehidupan kita setiap hari. Jika demikian, kita akan menjadi tepung halus untuk kurban sajian. Dalam Yohanes 12, ketika Tuhan Yesus memasuki Yerusalem, Dia disambut oleh orang banyak. Secara manusia, waktu itu adalah waktu keemasan-Nya. Namun, ketika Dia mendengar bahwa orang-orang mencari Dia, Dia berkata, “Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:24). Perkataan ini menunjukkan bahwa daripada membiarkan Dia sendiri ditinggikan, Tuhan Yesus lebih suka digarami. Dia seolah-olah berkata, “Aku adalah biji gandum. Aku tidak perlu disambut, dimuliakan, dan ditinggikan oleh orang. Aku perlu jatuh ke dalam tanah dan mati.” Kita perlu belajar dari Tuhan Yesus untuk digarami. Ketika orang lain menyambut kita, meninggikan kita, dan memuliakan kita, sangat mudah bagi kita memiliki madu, dan bukan garam. Setiap kali kita disambut atau ditinggikan oleh orang lain, kita harus menerapkan garam pada diri kita sendiri dan menjadi orang yang tidak ingin ditinggikan, tetapi mati. Ini berarti kita harus belajar menerapkan salib Kristus.

Kehidupan dalam Kebangkitan

Karena Tuhan Yesus selalu menempuh kehidupan digarami, menempuh kehidupan di bawah salib, maka Dia selalu dalam kebangkitan. Kehidupan yang Dia tempuh adalah kehidupan dalam kebangkitan. Bagi Tuhan Yesus, hidup dalam kebangkitan berarti Dia menyangkal diri-Nya dan hayat alamiah-Nya; Dia bukan memperhidupkan diri-Nya sendiri, melainkan memperhidupkan Bapa. Kita melihat hal ini dengan jelas dalam Yohanes 7. Dalam ayat 6, Dia berkata, “Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu.” Orang lain memiliki kebebasan untuk pergi ke setiap tempat di setiap saat; tetapi Dia dibatasi, tidak hidup dalam hayat alamiah.

Dalam Yohanes 7:16-18, Dia berkata, “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku. Siapa saja yang mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri. Siapa saja yang berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi siapa saja yang mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya.” Di sini kita melihat bahwa Tuhan Yesus tidak mengucapkan perkataan-Nya sendiri, melainkan perkataan Bapa. Sumber pembicaraan-Nya bukan diri-Nya sendiri, melainkan Bapa. Ini menunjukkan bahwa Dia menolak hayat alamiah-Nya dan hidup berdasarkan hayat Bapa. Inilah kebangkitan. Karena itu, bahkan sebelum Dia disalibkan, Tuhan Yesus menempuh kehidupan di dalam kebangkitan, menyangkal hayat alamiah dan memperhidupkan hayat Bapa.

Kita perlu hidup di dalam kebangkitan dalam kehidupan pernikahan kita dan keluarga kita. Andaikata sesuatu terjadi dalam kehidupan pernikahan kita yang membuat kita tidak bahagia. Jika pada saat demikian Anda memperhidupkan diri Anda sendiri dan hayat Anda sendiri, Anda akan marah-marah. Namun, daripada memperhidupkan hayat Anda sendiri, tempuhlah jenis kehidupan yang diwahyukan dalam Galatia 2:19b-20. Dalam ayat ini Paulus pertama-tama mengatakan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus.” Ini adalah perkara mengalami garam, ditaruh pada kematian, disalibkan. Kemudian Paulus melanjutkan, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Ini adalah kebangkitan.

KEHIDUPAN ORANG KRISTEN— DUPLIKAT KEHIDUPAN KRISTUS

Ketika Tuhan Yesus ada di bumi, Dia adalah tepung halus, Dia diminyaki dengan Roh Kudus, Dia selalu digarami, dan Dia hidup di dalam kebangkitan, memiliki bau kemenyan. Namun, pada-Nya tidak ada ragi ataupun madu. Karena itu, Dia dapat menjadi kurban sajian. Situasi kita hari ini seharusnya sama. Ini berarti kehidupan kristiani kita harus menjadi duplikat, salinan, kehidupan Kristus. Ini jelas diwahyukan dalam Roma 8.

Roma 8 menempatkan Kristus dan kita bersama-sama. Di sini kita memiliki keinsanian Kristus (ayat 3), Roh hayat (ayat 2), salib (ayat 13), dan kebangkitan (ayat 11) dikemas menjadi satu. Ini memperlihatkan kepada kita jenis kehidupan yang harus kita miliki hari ini. Kita harus menempuh jenis kehidupan yang Kristus tempuh. Dia adalah manusia, dan kita juga adalah manusia. Dia diminyaki dengan Roh itu, kita juga sedikitnya diminyaki dengan Roh itu. Kita telah dibaurkan dengan Roh dari Dia yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Kristus digarami, disalibkan, dan kita juga meletakkan alamiah kita kepada kematian. Selain itu, Kristus hidup dalam kebangkitan, dan kita juga dapat hidup dalam kebangkitan.

Roma 8 dengan tegas mewahyukan bahwa kita harus menjadi duplikat Kristus sebagai kurban sajian. Kita harus menjadi salinan, reproduksi, dari Dia dan menjadi sama dengan apa adanya Dia. Kristus menjadi manusia dalam daging, dan kita hari ini adalah orang-orang dalam daging. Sebagai manusia dalam daging, Kristus diminyaki Roh itu. Hari ini kita diminyaki oleh Roh yang berhuni. Roh itu tinggal di dalam kita untuk menggarapkan minyak kepada kita. Karena Roh yang berhuni itu meminyaki kita, maka kita harus meletakkan pikiran kita di atas roh, bukan di atas daging (Rm. 8:6). Kemudian melalui Roh itu kita harus mematikan perbuatan-perbuatan tubuh kita (Rm. 8:13). Jika kita melakukan hal ini, kita akan hidup, dan kehidupan ini akan menjadi kehidupan dalam kebangkitan. Hasilnya, kita akan cocok menjadi kurban sajian untuk kepuasan Allah.

Tujuan kurban sajian adalah memuaskan Allah. Bagian terbaik kurban sajian, bagian yang berisi kemenyan, dibakar dalam api untuk kepuasan Allah. Kristus hari ini adalah realitas kurban sajian. Dia sendiri adalah bau harum yang naik kepada Allah untuk kepuasan-Nya. Di alam semesta, Kristus adalah persona satu-satunya yang dapat dipersembahkan kepada Allah dalam api untuk menghasilkan bau harum yang memuaskan Allah dan membuat Dia senang dan gembira.

Sebagai anggota-anggota Kristus, kita harus menjadi duplikat-Nya dan menempuh kehidupan yang sama seperti Dia. Ini adalah kehidupan insani yang diminyaki Roh Kudus. Hari demi hari kita perlu diminyaki Roh Kudus. Kita juga harus senantiasa digarami; yaitu, kita harus menerima salib Kristus dan meletakkan perilaku alamiah kita kepada kematian. Kemudian kita akan hidup dalam kebangkitan dan memiliki kemenyan untuk kepuasan Allah.

Semua kemenyan dalam kurban sajian dibakar dalam api. Ini menunjukkan bahwa semua kemenyan adalah untuk Allah; tidak satu pun dari kemenyan untuk para imam. Dari sini kita melihat bahwa kemenyan dalam Kristus sebagai kurban sajian dibakar untuk menghasilkan bau harum yang memuaskan Allah. Ini adalah pengalaman Kristus. Karena kita adalah anggota-anggota Kristus, duplikat-Nya, maka hal ini juga harus menjadi pengalaman kita hari ini.

DUA BENTUK KURBAN SAJIAN

Dalam Imamat 2 kita melihat bahwa kurban sajian boleh dipersembahkan dalam beberapa bentuk. Khususnya perhatian kita tertuju pada dua bentuk kurban sajian. Kurban sajian mungkin berupa tepung yang dibaurkan dengan minyak, atau tepung dalam bentuk roti bundar. Tepung kurban sajian melambangkan Kristus yang individual; juga melambangkan orang Kristen yang individual. Roti bundar kurban sajian melambangkan Kristus yang korporat, Kristus dengan Tubuh-Nya, gereja. Perjanjian Baru mewahyukan bahwa Kristus yang individual telah menjadi Kristus yang korporat (1Kor. 12:12) dilambangkan oleh roti bundar. Paulus berkata, “Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor. 10:17). Satu roti ini adalah “roti bundar”.

Pada kurban sajian ada aspek individual, ada juga aspek korporat. Hari ini Kristus tidak hanya hidup secara individual, tetapi juga hidup dengan Tubuh-Nya, gereja. Kristus hidup di hadapan Allah secara korporat. Dia adalah Kepala, dan Dia memiliki Tubuh-Nya dengan anggota-anggotanya. Karena itu, pada kurban sajian dalam bentuk roti bundar, kita memiliki hidup gereja (church life).

Supaya memiliki roti bundar kurban sajian, kita perlu tepung halus yang dibaurkan dengan minyak. Perbauran tepung dengan minyak akan menghasilkan adonan. Adonan kemudian dibakar di dalam wajan dan menjadi roti bundar. Roti bundar ini adalah lambang hidup gereja. Lambang ini menunjukkan bahwa akhirnya kehidupan Kristus dan kehidupan kristiani kita yang individual menjadi satu totalitas, dan totalitas ini adalah hidup gereja.

Hidup gereja bukan kehidupan malaikat, melainkan kehidupan yang penuh keinsanian. Namun, ada orang Kristen yang diajari untuk mencoba menjadi seperti malaikat dan tidak lagi hidup seperti manusia. Konsepsi ini mutlak salah. Jika kita mau memiliki hidup gereja, kita perlu lebih banyak keinsanian. Untuk hidup gereja kita perlu sangat insani. Namun, keinsanian ini tidak boleh terpisah dari Roh Kudus; malahan, keinsanian ini harus dibaurkan dengan Roh Kudus dan dicurahi Roh Kudus. Dengan kata lain, untuk hidup gereja kita perlu menjadi orang-orang yang diminyaki, orang-orang yang diminyaki oleh Roh itu dan dengan Roh itu. Selain itu, kita seharusnya tidak memiliki ragi dan madu, tetapi kita harus memiliki garam dan kemenyan. Kehidupan kita harus dibubuhi banyak garam, kematian salib, dan kita harus penuh dengan kebangkitan. Ini adalah hidup gereja yang tepat.

Jika kita mau memiliki hidup gereja semacam ini, kita harus penuh dengan sifat insani dan hidup seperti manusia, bukan seperti malaikat. Namun, beberapa saudari, dan bahkan beberapa saudara, mencoba hidup seolah-olah mereka adalah malaikat. Kaum beriman ini aneh dan kekurangan sifat insani. Semakin Anda mencoba menjadi malaikat, semakin aneh Anda jadinya. Bukannya menjadi manusia, Anda malah akan menjadi “hantu”. Karena itu, saya katakan sekali lagi bahwa dalam hidup gereja kita perlu penuh dengan sifat insani, tetapi bukan dengan sifat insani yang merdeka dari Roh Kudus.

Kita harus sepenuhnya bersandar pada Roh Kudus, diminyaki dengan Dia secara batiniah dan dicurahi Dia secara lahiriah. Jika kita adalah orang-orang yang demikian, kita akan penuh dengan Roh itu. Kita akan diperhatikan Roh itu dan dimiliki Roh itu. Kita juga akan menempuh kehidupan yang dibubuhi garam dan dalam kemenyan, yaitu, kehidupan yang dibubuhi kematian Kristus dan dalam kebangkitan-Nya. Garam akan menanggulangi ragi, menanggulangi kuman-kuman dosa; garam juga akan menanggulangi madu, meletakkan hayat alamiah pada kematian. Ini adalah cara memiliki kurban sajian hidup gereja.

Kurban sajian hidup gereja dapat dibakar untuk menghasilkan bau harum yang memuaskan Allah, dan sisa kurban persembahan ini akan menjadi makanan kita. Ini berarti kita akan makan hidup gereja kita, sebab hidup gereja akan menjadi suplai kita setiap hari. Jadi, kurban sajian yang adalah suplai kita setiap hari bukan hanya Kristus, tetapi Kristus dengan hidup gereja. Sekarang kita makan Kristus, dan kita juga makan hidup gereja. Kita makan kurban sajian bukan hanya dalam bentuk pertama sebagai tepung, Kristus yang individual; kita juga makan kurban sajian dalam bentuk kedua sebagai roti bundar, Kristus yang korporat, gereja. Saya percaya bahwa di hari-hari yang akan datang dalam semua gereja kita akan melihat kurban sajian hidup gereja, kehidupan yang pertama-tama memuaskan Allah dan kemudian menjadi kehidupan yang merawat kita.