← Daftar isi Mazmur (1) · bab 9/42

KONSEPSI DAUD MENGENAI MANUSIA DAN MENGENAI KERAJAANNYA DI HADAPAN ALLAH BERDASARKAN PADA PEMELIHARAAN HUKUM TAURAT

MENGENAI KONDISI MANUSIA DIHADAPAN ALLAH

DAN PRINSIP BAIK DAN JAHAT

Pembacaan Alkitab: Mzm. 17-21

Dalam berita ini kita sampai pada Mazmur 17-21. Kita boleh berkata bahwa lima mazmur ini adalah lima “burung dengan bulu yang sama”. Cita rasa, selera, roh, dan sikapnya semuanya sama di dalam mazmur ini.

Dalam berita sebelumnya, kita melihat garis, prinsip, dan roh dari Alkitab. Dua garis Alkitab adalah garis pohon pengetahuan baik dan jahat dan garis pohon hayat. Kita melihat bahwa Kain berada dalam garis pengetahuan dan bahwa Habel berada dalam garis hayat. Kita tidak dapat berada di dalam kelompok Kain juga di dalam Kelompok Habel.

Dalam Mazmur 1 tidak ada petunjuk apapun bahwa Daud bersama Habel. Dalam Mazmur ini, setiap aspek dan setiap poin menunjukkan bahwa Daud tinggal bersama Kain di dalam garis pengetahuan. Tetapi ada juga tiga pos di dalam enam belas mazmur pertama dimana Daud bersama Habel di dalam garis hayat. Tiga pos ini adalah Mazmur 2, Mazmur 8, dan Mazmur 16. Mazmur-mazmur ini luar biasa dan besar di dalam menyingkapkan rahasia sentralitas dan kesemestaan Kristus di dalam ekonomi Allah. Setelah enam belas mazmur pertama, kita dapat melihat Daud membuat beberapa kemajuan dan perbaikan di dalam konsepnya.

Dalam Mazmur 17-21 Daud seringkali melompat dari garis pengetahuan. Daud setidaknya memiliki sedikit pencicipan di dalam mazmur ini akan garis hayat. Mazmur 22-24 adalah pos keempat dari garis hayat di dalam Mazmur. Tiga mazmur ini menyingkapkan Kristus kepada kita. Mazmur 22 mewahyukan kematian Kristus, Mazmur 23 menyingkapkan penggembalaan Kristus di dalam kebangkitan-Nya, dan Mazmur 24 menunjukkan Kristus akan menjadi Raja yang menang dan akan datang di zaman pemulihan.

Mazmur 17-21, menunjukkan pada kita konsepsi Daud mengenai dua hal—mengenai manusia di hadapan Allah dan mengenai manusia di hadapan Allah. Konsepsinya berdasarkan pemeliharaan hukum Taurat dan prinsip baik dan jahat. Kita dapat melihat hal ini di dalam terang dari wahyu ilahi di dalam Alkitab, khususnya di dalam Perjanjin Baru.

Wahyu ilahi dalam Alkitab adalah maju. Dalam Galatia 2:20 Paulus berkata, “Aku disalibkan dengan Kristus; dan bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku”. Dalam Filipi 1:2a Paulus berkata, “Karena bagiku, hidup adalah Kristus”. Ayat-ayat ini mewahyukan tahap kemajuan yang besar dari wahyu ilahi. Dalam ketiga puluh sembilan kitab Perjanjian Lama, kita tidak dapat menemukan satu kata pun mengenai penghidupan Kristus di dalam kita dan memperhidupkan Kristus. Konsepsi Daud di dalam Mazmur 1 adalah bahwa seorang yang merenungkan hukum Taurat diberkati, tetapi Paulus berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus”. Jika kita mendambakan berkat dalam Mazmur 1, kita sangat primitif dan terbelakang. Pemahaman kita akan wahyu ilahi Alkitab harus maju.

Dalam Perjanjian Lama, kita tidak dapat menemukan semua rahasia yang diekspresikan oleh Paulus. Ini dikarenakan ministri Paulus adalah melengkapkan firman Allah, rahasia mengenai Kristus dan gereja (Kol. 1:25-26). Jika empat belas Surat Kiriman Paulus diambil dari Alkitab, kita tidak akan tahu ekonomi Allah (1 Tim. 1:4), rahasia Allah, Kristus (Kol. 2:2), dan rahasia Kristus, gereja (Ef. 3:4; 5:32). Tidak ada firman dalam Perjanjian Lama yang berkata, “Bagiku, hidup adalah Kristus”. Ketika kita datang kepada Mazmur, kita harus melihatnya di dalam terang wahyu yang penuh dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.

I. KONSEPSI DAUD MENGENAI MANUSIA DI HADAPAN ALLAH

Dalam Mazmur 17-19, kita melihat konsepsi Daud mengenai manusia di hadapan Allah.

A. Perbaikan Konsepsi Daud

Mazmur 17 menunjukkan pada kita perbaikan konsepsi Daud. Konsepsi Daud diperbaiki dari keadilbenarannya (ay. 1-6) kepada kasih setia Allah yang menakjubkan dan persembunyian Allah di dalam naungan sayap-Nya (ay. 7-9).

Dalam ayat 3 Daud berkata, “Engkau telah menguji hatiku, mengunjungiku pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemukan apapun. Aku telah memutuskan bahwa mulutku tidak akan melanggar”. Daud berkata bahwa pemikirannya tidak melampaui mulutnya dan doanya bukan dibuat dengan “bibir yang menipu” (ay. 1). Yakobus, di dalam Perjanjian Baru, berkata bahwa hal yang paling sulit bagi kita adalah mengendalikan mulut kita (Yak. 3:1-2). A Tetapi di dalam Mazmur 17, Daud memberitahu Allah bahwa dia telah sukses mengendalikan mulutnya. Dalam ayat 5 Daud berkata, “Langkahku tetap mengikuti jejak-Mu, kakiku tidak tergelincir”. Daud berkata bahwa dia tetap pada jejak Allah, seperti kereta api tetap pada relnya.

Dalam ayat 7-9, konsepsi Daud berpaling dari keadilbenaranya kepada kasih setia Allah yang menakjubkan dan persembunyian Allah di dalam naungan sayap-Nya. Di dalam ayat 8 dia berdoa, “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu”. Daud menikmati naungan sayap Allah dan dia bahkan menikmati dipelihara seperti biji mata Allah.

Dalam enam ayat pertama, dia berada di dalam keadilbenarannya. Dia bermegah atas keadilbenarannya. Yakobus berkata bahwa tidak ada seorang pun dapat mengendalikan mulutnya, tetapi Daud berkata bahwa Allah mengujinya dan tidak menemukan apa-apa. Namun, dalam ayat 7-9, dia keluar dari keadilbenarannya. Dia masuk ke dalam mata Allah dan berada di bawah sayap Allah untuk menikmati naungan. Kemegahannya di dalam keadilbenarannya ada di dalam garis pohon pengetahuan, tetapi mata Allah dan sayap Allah ada di dalam garis pohon hayat. Hal ini menunjukkan perbaikan di dalam konsepsi Daud.

Namun, tepat setelah hal ini, Daud memalingkan perhatiannya pada musuhnya. Ayat 10-14 adalah tuduhannya atas musuhnya. Setelah menyebutkan kenikmatan di dalam mata Allah dan di bawah sayap-Nya, dia tidak dapat melupakan musuhnya. Menuduh musuh kita dan meminta Allah menjatuhkan mereka (ay. 13a) bukanlah doa menurut ekonomi Allah. Dalam ekonomi Allah, Allah memberitahu kita untuk mengasihi musuh kita (Mat. 5:44).

Di akhir Mazmur 17, kita dapat melihat perbaikan Daud di dalam kepuasan bersama rupa (hadirat) Allah, namun dia masih tetap di dalam keadilbenarannya di hadapan Allah (ay. 15). Bagaimana mungkin Daud bermegah atas keadilbenarannya ketika dia melakukan perbuatan dosa dengan mengambil Bersyeba dan membunuh suaminya, Uria? Allah mengampuni Daud atas dosa besar ini, tetapi Dia tidak melupakan apa yang Daud lakukan. Satu Raja-raja 15:5 berkata bahwa Daud melakukan apa yang benar di mata Tuhan sepanjang hari-hari hidupnya, kecuali dalam perkara Uria, orang Hitit itu. Kemudian, di dalam Perjanjian Baru, silsilah Kristus di dalam kitab Matius berkata, “Daud memperanakkan Salomo darinya yang telah menjadi isteri Uria” (1:6).

Alkitab memberitahukan kita bawa dalam perjanjian yang baru, Allah mengampuni dosa-dosa kita dan tidak mengingatnya (Ibr. 8:12). Mengapa kemudian Allah mencatat kegagalan Daud dalam silsilah Kristus? Ini memperlihatkan kepada kita bahwa Alkitab tidaklah mudah untuk dipahami. Mazmur 51 memperlihatkan bahwa Allah telah memaafkan Daud, tetapi pada Matius 1 Allah masih menerangkan Uria, berarti bahwa Allah tidak melupakannya.Uria adalah orang Hitti. Matius 1:6 mengatakan bahwa Daud memperanakkan Salomo “dari perempuan yang sebelumnya adalah isteri Uria” untuk menekankan dosa besar Daud, Hal ini memperlihatkan bahwa Kristus sebagai Raja Penyelamat berhubungan bukan hanya dengan orang kafir tetapi juga dengan orang dosa.

Dikarenakan dosa besar Daud, dia berkata dalam Mazmur 17:15, “Tetapi aku, dalam keadilbenaran akan kupandang wajah-Mu”. Dia masih tetap di dalam keadilbenarannya di hadapan Allah, tetapi setidaknya di satu pihak, dia tidak di dalam keadilbenaran. Yakobus berkata, “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya” (Yak. 2:10). Kita telah melihat sebelumnya bahwa Daud, melalui satu pelanggarannya, secara langsung merusak lima perintah terakhir, karena ia membunuh, melakukan perzinahan, mencuri, berdusta, dan mengingini (Kel. 20:13-17). Daud seharusnya berkata bahwa ia memandang ke dalam wajah Allah karena belas kasihan dan kasih setia-Nya. Kasih setia Allah berlawanan dengan keadilbenaran Daud. Apa yang dapat dipercayai—keadilbenaran Daud atau kasih setia Allah? Jika Allah menguji kita sampai puncaknya, bagaimana mungkin kita bertahan? Kita tidak dapat bertahan di hadapan wajah Allah di dalam keadilbenaran kita. Kita harus menyembunyikan diri kita sendiri di bawah naungan sayap-Nya.

Dalam Mazmur 17, kita melihat konsepsi insani Daud, tetapi kita juga melihat perbaikan konsepsinya. Kita melihat perbaikannya dari “Daud-Kain” menjadi “Daud-Habel”.

B. Sebuah Mazmur dari Daud yang Mengekspresikan Konsepsinya

Mazmur 18 adalah mazmur Daud yang mengekspresikan konsepsinya. Judul mazmur ini berkata bahwa Daud berbicara kepada Yehova dengan perkataan nyanyian ini setelah Allah melepaskan dia dari semua musuhnya dan dari Saul. Mazmur ini bukan hanya sebuah doa atau pujian, tetapi suatu pembicaraan dengan Allah.

Saya ingin bertanya apakah kita telah memiliki waktu untuk berbicara dengan Tuhan. Berbicara berarti membuka seluruh diri kita dan melepaskan semua opini kita. Apakah kita pernah memiliki pembicaraan demikian dengan Tuhan Yesus? Mazmur 18 adalah suatu pembicaraan insani dengan Allah yang ilahi. Ini indah. Memiliki kesempatan dan hak istimewa untuk berbicara dengan Allah adalah berkat yang sangat besar. Berbicara dengan seseorang menyiratkan keintiman. Kita harus berhadapan muka, memiliki kontak mata dengan seorang yang kepadanya kita berbicara. Kita perlu pembicaraan yang intim, insani dengan Allah yang ilahi. Dalam pembicaraan Daud kepada Allah, dia memulainya dengan berkata, “Aku mengasihi-Mu, O Yehova, kekuatanku” (ay.1). Ini adalah pembicaraan yang sangat manis.

Mazmur 18 mewahyukan perbaikan konsepsi Daud di dalam kenikmatannya akan Allah yang menyelamatkan sebagai kekuatannya, gunung batunya, kota bentengnya, Pembebasnya, Allahnya, batu karangnya, perisainya, tanduk keselamatannya, dan menara tingginya yang di dalamnya dia berlindung. Sebuah gunung batu adalah sebuah batu karang yang curam, tidak datar. Daud berkata bahwa Yehova adalah gunung batunya dan batu karangnya, yang di dalamnya dia berlindung. Daud mengasihi Yehova karena Yehova adalah segalanya bagi dia. Dia menikmati Yehova sebagai Allah yang menyelamatkannya.

Dalam ayat 6, Daud menyadari bahwa Allah mendengar suaranya dari bait-Nya, dia tidak menggambarkan Allah yang berada dalam bait-Nya tetapi sebagai Allah di dalam kemarahan-Nya dan keagungan-Nya yang menakutkan (ay.7-15). Ini menunjukkan bahwa Daud memperbaiki konsepsinya, tetapi kemudian dia kembali kepada konsepsi alamiahnya.

Dalam ayat 16-18, Daud berpaling kepada keadilbenaran dan ketahirannya karena Allah telah melepaskan dia dari musuhnya. Apakah kamu percaya bahwa Allah melepaskan Daud dari musuhnya karena keadilbenaran dan ketahirannya? Daud salah jika berpikir demikian. Allah baik bagi kita bukan karena keadilbenaran kita. Dia baik bagi kita karena kemurahan-Nya. Kita tidak hanya perlu belas kasihan-Nya, tetapi juga kemurahan-Nya yang jauh mencapai kita untuk menjaga kita.

Bagaimanapun, Daud mengenal bahwa Allah adalah Dia yang menguatkannya, menjadi perisainya, membantu dia, dan memampukan dia untuk berperang, yang membuat kakinya seperti kaki rusa, dan kelemah-lembutan-Nya yang merendah membuat dia besar (ay.29-36). Allah itu unggul, tetapi kelemah-lembutan Allah adalah merendah. Allah ada di atas takhta, tetapi Dia menunjukkan pada kita kelemah-lembutan-Nya dengan turun mengunjungi kita. Maka, Daud bersaksi bahwa dengan Allah demikian, dia mengalahkan musuhnya dan mengalahkan semua yang membencinya.

Pada akhirnya, Daud memuji Allah bahwa Allah telah menolong dia dari perbantahan rakyat dan mengangkat dia menjadi kepala atas bangsa-bangsa, yang melayani dia, menaati dia, dan datang dengan gemetar kepadanya; dan dia memberkati Allah batu karangnya dan meninggikan Allah keselamatannya, yang telah meninggikan dia melampaui musuhnya (ay. 43-49). Di satu pihak, di sini kita melihat banyak perbaikan di dalam konsepsi Daud. Di pihak lain, kita melihat campuran di dalam konsepsinya.

Kesimpulan dari Mazmur 18 adalah bahwa Allah mengaruniakan keselamatan kepada Daud sebagai raja yang diangkat Allah dan menunjukkan kasih setia kepadanya sebagai orang yang diurapi Allah dan kepada keturunannya untuk selamanya (ay. 50). Karunia keselamatan Allah kepada Daud tidak hanya untuk menyelamatkan dia, tetapi untuk menyelamatkan dia untuk membuat dia raja. Dia tidak layak dengan keadilbenarannya untuk menjadi orang yang diurapi Allah. Tetapi Allah mengurapi dia karena kasih setia-Nya. Kristus adalah keturunan Daud untuk mewarisi perjanjian Allah yang dibuat dengan Daud.

C. Pujian Daud dari

Kesaksian Pembicaraan

tentang Alam Semesta dan Penilaiannya akan Hukum Taurat

Memimpin Dia kepada Pencarian yang Lebih Dalam

akan Kesempurnaan di hadapan Yehova

Mazmur 19 adalah pujian Daud dari kesaksian pembicaraan tentang alam semesta dan penilaiannya akan hukum Taurat memimpin dia kepada pencarian lebih dalam akan kesempurnaan di hadapan Yehova.

Ayat 1-6 adalah pujian Daud mengenai alam semesta yang diciptakan Allah. Tidak diragukan, di dalam ayat-ayat ini, Daud ada di dalam garis hayat. Seluruh alam semesta dibicarakan setiap hari, bahkan setiap saat. “Langit menyatakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (ay. 1). Dalam ayat 4b-5, matahari menandakan Kristus sebagai mempelai laki-laki dan sebagai pahlawan. Kita tahu bahwa Kristus dilambangkan oleh matahari karena Daud mengacukan matahari sebagai mempelai laki-laki. Kristus adalah Mempelai Laki bersama mempelai perempuan. Terbitnya Kristus, seperti dilambangkan oleh matahari, adalah suatu sirkuit yang mengelilingi seluruh bumi, dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari panas-Nya (ay. 6). Kata sirkuit di sini menunjukkan bahwa bumi adalah bulat.

Setelah pujian Daud mengenai alam semesta di dalam ayat 1-6, dia menilai hukum Taurat dengan tinggi di dalam ayat 7-11. Di dalam ayat 1-6, dia adalah “Habel”; di dalam ayat 7-11, dia adalah “Kain”. Kita harus memberi Daud kredit di dalam garis hayat dan debet di dalam garis pengetahuan baik dan jahat.

Penilaian Daud akan hukum Taurat sangat tinggi. Ayat 7 berkata, “Taurat Yehova itu sempurna, menyegarkan jiwa; kesaksian Yehova itu setia, memberikan hikmat kepada orang yang sederhana”. Hukum Taurat adalah kesaksian Allah (Kel. 31:18; 32:15). Di dalam ayat 11 Daud berkata ada upah yang besar di dalam memelihara perintah-perintah Allah. Konsep ini tidak sesuai dengan konsep ilahi dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Daud berkata di dalam Mazmur 1 bahwa siapa yang menyukai hukum Taurat akan menjadi sebuah pohon yang ditanam di tepi aliran air (ay. 2-3). Tetapi dalam kitab Injil, Yohanes Pembaptis berkata, “Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api” (Mat. 3:10). Dalam Lukas 3:6-9, Tuhan memberitahukan perumpamaan yang menunjukkan bahwa Allah datang di dalam Putra untuk mencari buah dari orang Yahudi, yang diumpamakan sebagai pohon ara. Jika mereka tidak bertobat dan menghasilkan buah, mereka akan ditebang. Israel seperti sebuah pohon yang ditanam di tepi hukum Taurat sebagai aliran air, tetapi Allah akan menebang mereka jika mereka tidak bertobat dan menerima Kristus. Kita telah melihat bahwa roh dari Alkitab tidak meninggikan hukum Taurat. Roh Alkitab hanya meninggikan Kristus. Di seluruh Alkitab tidak ada bagian lain yang meninggikan hukum Taurat setinggi Mazmur 19:7-11.

Setelah Daud meninggikan hukum Taurat, dia mempersembahkan doa kepada Yehova sebagai batu karangnya dan Penebusnya (ay. 12-14). Di dalam ayat 12, dia meminta Allah untuk menganggulangi kegagalannya yang tersembunyi. Semua dari kita memiliki kegagalan yang tersembunyi yang hanya kita yang tahu. Daud juga berdoa untuk menjaganya dari dosa sombong (ay. 13). Menjadi sombong adalah menjadi terlalu berani tanpa pertimbangan.

Daud berdoa supaya dia diperkenan di hadapan Yehova di dalam ucapan mulutnya secara lahir dan di dalam renungan hatinya secara batin (ay. 14). Kadangkala kamu mungkin diperkenan secara lahir di dalam ucapan mulutmu, tetapi bagaimana dengan renungan hatimu? Doa yang demikian menunjukkan bahwa Daud berusaha memelihara hukum Taurat sampai tahap bahwa dia akan ditanggulangi di dalam kegagalannya yang tersembunyi, di dalam dosa kesombongannya, di dalam ucapan mulutnya, dan di dalam renungan hatinya. Dia ingin menjadi sempurna dan tahir.

Baik atau tidak Daud dapat mencapai kesempurnaan demikian bukanlah sasarannya. Bahkan jika dia dapat menjadi sempurna, apakah hal ini membuat Allah gembira? Dalam mempertimbangkan hal ini, kita harus mempedulikan seluruh prinsip Alkitab. Seluruh prinsip Alkitab memberitahu kita bahwa Allah tidak menginginkan sesuatu dari manusia. Tidak peduli betapa baiknya hal itu, sepanjang itu insani, Allah akan mengesampingkannya. Apa yang Allah inginkan bukanlah seorang manusia yang baik, tetapi manusia Allah. Kedambaan Allah adalah untuk berinkarnasi sebagai manusia dengan nama Yesus, untuk mati di atas salib, untuk bangkit, dan di dalam kebangkitan menjadi Roh pemberi hayat untuk menghuni kita, hidup di dalam kita, dan memperhidupkan Diri-Nya Sendiri dari kita. Ketika Kristus hidup melalui kita, tingkah laku kita bukanlah kebaikan kita, tetapi Kristus. “Bagiku hidup adalah Kristus”. Kita harus menafsirkan Mazmur 19 di dalam pandangan seluruh prinsip Alkitab.

Jika Daud dapat menjadi seorang yang sempurna, dia akan ditinggikan setinggi-tingginya. Tetapi Alkitab tidak meninggikan seseorang, melainkan Kristus. Kristus harus menduduki tempat utama di dalam segala sesuatu. Inilah sebabnya Paulus berkata, “Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20a). Menurut konsep ilahi, kita dapat melihat bahwa Daud salah. Habel diperkenan oleh Allah bukan karena kegagalannya yang tersembunyi dan dosa-dosa kesombongannya ditanggulangi, tetapi karena dia menyadari bahwa dia adalah orang dosa. Dia memerlukan Kristus sebagai persembahannya. Dia mempersembahkan kepada Allah bukan apa adanya dia melainkan Kristus. Maka, dia diperkenan di dalam Kristus. Dia diperkenan oleh Allah bukan di dalam diri sendiri, di dalam apa yang dia lakukan, atau di dalam apa yang dia bangun, tetapi sepenuhnya di dalam Kristus. Namun, di akhir Mazmur 19, Daud tidak berada di dalam garis Habel, tetapi di dalam garis Kain.

Kita mungkin tidak setuju dengan apa yang Kain lakukan di dalam Kejadian 4, tetapi pasti kita setuju dengan doa Daud di akhir Mazmur 19. Ini adalah doa yang sangat dalam. Lebih dari lima puluh tahun yang lalu, saya mendoakan doa Daud di dalam Mazmur 19 setiap pagi sejangka waktu. Kita dapat berdoa doa ini, tetapi tidak seorang pun dapat mencapai standar doa ini. Dalam ayat 12-14, Daud berdoa, “Siapakah yang dapat membedakankesesatannya? Bersihkanlah aku dari kesalahanku yang rahasia. Juga lindungilah hamba-Mu dari dosa-dosa lancang; janganlah mereka menguasai aku! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar. Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, OYehova, batu karangku dan Penebusku”. Doa ini kelihatannya mengagumkan, tetapi sebenarnya Daud berada di dalam garis Kain di sini. Seperti Kain, dia mencoba yang terbaik untuk membawa hasil panennya kepada Allah. Dengan kata lain, dia membawa perbuatannya, pekerjaannya, dan hasilnya kepada Allah, sambil mengesampingkan Kristus. Namun, dalam Mazmur 51, Daud menerapkan Kristus sampai puncaknya karena dia menyadari bahwa dia telah berdosa, bahwa dia telah melakukan dosa besar dan bahwa dia memerlukan Kristus.

II. KONSEPSI DAUD MENGENAI

KERAJAANNYA DI HADAPAN ALLAH

Mazmur 20 dan 21 mewahyukan konsepsi Daud mengenai kerajaannya di hadapan Allah.

A. Berkat Daud di dalam Kerjaannya

Mazmur 20 menunjukkan pada kita berkat Daud di dalam kerajaannya. Dalam yat 1-9, Daud memberkati rakyatnya. Menurut prinsip Alkitab, yang lebih besar memberkati yang lebih kecil (Ibr. 7:7).

Daud memberkati rakyatnya, kiranya Yehova menjawab, meninggikan, membantu dari tempat kudus, menguatkan dari Sion, mengingat semua kurban sajian mereka, dan menerima kurban bakaran mereka (ay. 1-3). Dengan demikian Yehova dapat memberi mereka kedambaan hati mereka dan memenuhi setiap maksud mereka serta agar mereka dapat bersorak kemenangan di dalam keselamatan-Nya dan membangkitkan panji nama Allah mereka (ay. 4-5). Daud memiliki keyakinan bahwa Yehova menyelamatkan yang diurapi-Nya (Raja Daud) dan akan menjawab dia dari surga-Nya yang kudus dengan kuasa keselamatan dari tangan kanan-Nya (ay. 6).

Daud selanjutnya berkata bahwa kita bermegah di dalam nama Yehova Allah kita daripada memegahkan kereta dan kuda, dan kita, bukan musuh kita, bangun dan berdiri tegak (ay. 7-8). Kesimpulan dari berkatnya ada di dalam ayat 9, yang berkata, “Selamatkanlah, O Yehova! Semoga raja menjawab kita ketika kita berseru”. Raja di dalam ayat ini mengacu pada Daud.

Kebanyakan berkat Daud semuanya baik, tetapi kita masih dapat melihat bahwa dia agaknya tetap tinggal di dalam konsepsi lamanya. Namun, Mazmur 20 masih menunjukkan pada kita bahwa Daud telah memperbaiki dan maju di dalam konsepsinya melampaui tiga mazmur sebelumnya. Memberkati lebih tinggi daripada berdoa. Seorang yang memberkati orang lain memerlukan status yang lebih tinggi, kadar yang lebih tinggi di dalam hayat. Tidak ada anak kecil dapat memberkati yang lain. Seorang anak perempuan yang kecil tidak dapat berkata kepada bapanya, “Bapa, aku akan memberkatimu”, tapi dia dapat berkata, “Bapa, saya akan berdoa untukmu”. Anak-anak dapat berdoa dan mendoakan orang tua mereka. Tetapi seorang anak tidak dapat memberkati orang tuanya karena memberkati memerlukan sejumlah kadar di dalam hayat.

Kita harus bertumbuh di dalam hayat untuk mencapai ukuran untuk dapat memberkati orang lain. Fakta bahwa Daud dapat memberkati rakyatnya berarti dia memiliki kadar di dalam hayat. Setelah Yakub menjadi Israel dan berada di masa tuanya, dia pergi ke Mesir dan memberkati orang. Tangannya bukanlah tangan yang bekerja tetapi tangan yang memberkati (Kej. 47:7, 10; 48:15, 20). Semakin lanjut umurmu, semakin kamu dapat memberkati orang lain. Tetapi agar sanggup memberkati yang lain memerlukan bukan hanya umur, tetapi juga kadar di dalam hayat. Memberkati juga lebih tinggi daripada bersyukur atau memuji. Anak kecil dapat memuji Allah, tetapi dia tidak dapat memberkati yang lain.

Berkat Daud dalam Mazmur 20 melibatkan dirinya sendiri, Allah, dan rakyatnya. Ini berarti bahwa di dalam Mazmur 20, dia lebih tinggi, lebih dalam, dan lebih kaya daripada mazmur-mazmur sebelumnya. Konsepsi Daud mengenai kerajaannya telah diperbaiki dari keadilbenarannya kepada tempat kudus Allah, Gunung Sinai, kurban sajian dan kurban bakaran kepada Allah, keselamatan Allah yang penuh kuasa, dan nama Allah. Berkatnya tidak mengatakan sesuatu tentang keadilbenarannya. Jika kita berdiri pada keadilbenaran kita, kita mungkin sanggup berdoa, tetapi tidak dapat memberkati. Untuk memberkati yang lain, kita harus berdiri pada seluruh apa adanya Allah. Kita tidak dapat memberkati orang dengan keadilbenaran kita. kita harus memberkati orang dengan apa adanya Allah dan apa yang Allah miliki.

B. Pujian Daud kepada Yehova untuk Kerajaannya

Dan Penanggulangan Allah yang Hebat terhadap Musuhnya

Dalam Mazmur 21, Daud memuji Yehova untuk kerajaannya dan berbicara tentang penanggulangan Allah yang hebat terhadap musuhnya. Daud memuji Yehova untuk kerajaannya melalui penguatan, keselamatan, berkat, pemahkotaan, memperpanjang hidup, kemuliaan besar, kesemarakan dan kehormatan, dan kasih setia-Nya ( ay. 1-7). Di sini Daud tidak menyebutkan keadilbenarannya. Jika kita bersandar pada keadilbenaran kita, kerajaan kita tidak akan pernah dibangun. Berusaha memelihara hukum Taurat, membuat kita menjadi budak, bukan raja. Menurut Galatia 4, semua anak yang dilahirkan oleh hukum Taurat adalah budak (ay. 24-25). Tetapi anak-anak yang dilahirkan oleh kasih karunia menjadi raja. Bersandar pada kasih setia Allah membangun kerajaan.

Dalam ayat 8-12, Daud berbicara tentang penanggulangan Allah yang hebat terhadap musuh Daud dengan mengganyang mereka dan menghancurkan keturunan mereka. Ini adalah konsepsi Daud. Untuk kerajaannya dia bersandar pada kasih setia Allah. Namun, untuk musuhnya dia menerapkan penanggulangan Allah yang hebat.

Di dalam ayat 13, Daud memberkati Yehova agar Dia ditinggikan di dalam kekuatan-Nya agar Daud sebagai raja dengan rakyatnya akan bernyayi dan memazmurkan kuasa-Nya. Ayat ini menunjukkan pada kita seorang manusia yang tidak hanya memberkati rakyatnya, tetapi juga memberkati Allah. Sebagai seorang raja, dia memberkati rakyatnya. Sebagai seorang yang diurapi oleh Allah, dia memberkati Allah yang mengurapi. Kesimpulan dari Mazmur 21 adalah sangat baik.

Kita dapat melihat banyak perbaikan dari Daud di dalam lima mazmur ini. Dia telah diperbaiki secara bertahap dari Mazmur 17 sampai akhir Mazmur 21. Ini memimpin kita kepada Mazmur 22 mengenai kematian Kristus, Mazmur 23 mengenai penggembalaan Kristus di dalam kebangkitan-Nya, dan Mazmur 24 mengenai pemerintahan Kristus sebagai Raja yang akan datang.