← Daftar isi Mazmur (1) · bab 8/42

GARIS, PRINSIP, DAN ROH DARI ALKITAB MENGENAI KRISTUS DAN HUKUM TAURAT

Pembacaan Alkitab: Kol. 1:15-19; Rm. 5:20a; 10:4a; 6:14

Untuk membantu kita memahami kitab Mazmur, bahkan seluruh Alkitab, kita perlu melihat garis, prinsip, dan roh dari Alkitab mengenai Kristus dan hukum Taurat. Roh Alkitab bukan mengacu pada Roh Kudus, Roh Allah, secara langsung. Alkitab sebagai satu kesatuan memiliki rohnya sendiri.

Kitab Mazmur terdiri dari seratus lima puluh mazmur, adalah kitab yang terpanjang di antara enam puluh enam kitab dari Alkitab. Lagipula, setiap mazmur bukan hanya suatu cerita, sejarah, atau semacam pengajaran, nasehat, atau instruksi. Setiap mazmur adalah pembicaraan manusia kepada Allah. Dalam Mazmur kita melihat doa, ucapan syukur, atau pujian kepada Allah. Maka, kitab ini bukanlah kita biasa. Banyak pembaca Alkitab dengan spontan dan alami mengasihi kitab ini, tetapi mereka tidak tahu mengapa kitab ini begitu terkasih. Mazmur sangat manis bagi kita karena kitab ini adalah pembicaraan manusia kepada Allah. Judul Mazmur 18 mengatakan bahwa mazmur ini adalah mazmur yang Daud “katakan kepada Yehova”. Mazmur ini bukan hanya doa, ucapan syukur, atau pujian Daud, tetapi pembicaraannya kepada Allah. Ketika kita berdoa, itu adalah waktu yang termanis karena kita berbicara kepada Allah.

Namun, di dalam pembicaraan kita yang manis kepada Allah, kita membuat kesalahan. Kita mungkin salah, tetapi pembicaraan kita kepada Allah tetap sangat manis. Suami dan isteri dapat berbicara satu sama lain dengan cara yang penuh kesalahan, tetapi pembicaraan mereka satu sama lain tetap sangat manis. Agar kita memahami kitab yang manis seperti Mazmur yang penuh baik dengan konsep ilahi maupun konsep insani dengan kesalahan manusia, kita perlu melihat cara untuk memahami Alkitab. Untuk memahami Alkitab, kita perlu memahami garis prinsip, dan roh dari Alkitab.

I. DUA GARIS MENGENAI

EKONOMI KEKAL ALLAH DI DALAM MAZMUR

SEPERTI DI DALAM SELURUH KITAB SUCI

A. Garis Hayat berlawanan dengan

Garis Pengetahuan Baik dan Jahat

Untuk melihat dua garis dari Alkitab, kita perlu kembali kepada permulaan wahyu ilahi pada penciptaan manusia. Kitab Kejadian mewahyukan Allah menciptakan manusia sehingga Dia memiliki bejana untuk menampung Dia bagi ekspresi-Nya (1:26-28; 2:7-9). Setelah Allah menciptakan manusia, Dia tidak memberi manusia daftar perintah yang panjang. Dia tidak berkata kepada manusia, “Manusia, kamu harus tahu bahwa Aku adalah Allahmu. Kamu harus mendengar-Ku, mengasihi-Ku, dan menaati-Ku. Selanjutnya, Aku akan membuat kamu seorang isteri, kamu akan melahirkan anak, dan kamu harus mendengar kepada-Ku sehingga kamu dapat mengambil cara yang terbaik untuk membesarkan mereka”. Allah tidak melakukan hal ini.

Setelah Allah menciptakan manusia di dalam gambar-Nya dan menurut rupa-Nya sendiri, Dia tidak memberitahu manusia apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Sebaliknya, Allah membawa manusia ke dalam taman, menandakan maksud Allah pada manusia bagi penggenapan ekonomi-Nya memerlukan situasi yang menyenangkan, lingkungan yang menyenangkan. Bahkan untuk melaksanakan hidup gereja, kita perlu situasi yang menyenangkan. Jika ada banyak keluhan, argumen, debat, gosip, dan beralasan di antara kita, hidup gereja tidak dapat dilaksanakan. Taman di bumi ini hari ini, adalah tempat dimana umat Allah berkumpul ke dalam nama Tuhan.

Allah membawa Adam ke dalam taman, ke dalam lingkungan yang menyenangkan, dan meletakkan dia di depan dua pohon—pohon hayat dan pohon pengetahuan baik dan jahat (Kej. 2:9). Allah berkata kepada Adam bahwa ia bebas untuk makan buah dari setiap pohon yang ada di dalam taman, termasuk pohon hayat, tetapi Ia memperingatkan Adam untuk tidak makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat (ay. 16-17). Allah sangat bijaksana sewaktu memberitahukan Adam bahwa semua buah dari pohon yang ada didalam taman adalah baik untuk dimakan. Perhatian-Nya adalah untuk menekankan kepada Adam bahwa pohon hayat sangat bagus sebagai makanan. Kemudian Allah memperingatkan Adam untuk tidak makan buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat, mengatakan pada Adam jika ia memakannya, ia pasti mati.

Kita perlu menyadari bahwa seluruh Alkitab ditulis berdasarkan pada dua pohon ini. Seluruh wahyu ilahi adalah perkembangan dari maksug dua pohon ini. Kejadian menunjukkan pada kita, manusia berada di taman yang menyenangkan dengan pohon hayat di hadapannya. Lalu di dalam kitab Wahyu, di akhir wahyu ilahi, kita melihat pohon hayat lagi (22:2). Pohon hayat tidak hanya berada di dalam taman, tetapi juga akan berada di dalam kota yang kekal, Yerusalem Baru. Garis pohon hayat menyusuri seluruh Alkitab dari kitab Kejadian sampai mencapai pasal terakhir dari kitab Wahyu.

Seseorang mungkin bertanya, “Apa yang Alkitab ajarkan?” Pertanyaan ini dapat dijawab dengan banyak cara. Kita dapat berkata bahwa Alkitab mengajarkan ekonomi Allah atau Alkitab mengajarkan Kristus. Dalam berita ini, saya ingin berkata bahwa Alkitab mengajarkan pohon hayat. Alkitab adalah kitab yang mendefinisikan pohon hayat. Sepanjang garis utama pohon hayat, ada garis lain, garis pohon pengetahuan baik dan jahat.

Ketika saya masih sangat muda, saya mengira bahwa Allah membuat suatu kesalahan dengan membiarkan Satan ada. Jika Dia tidak membiarkan Satan ada, segala sesuatu baik-baik saja. Lagipula, setelah Allah menciptakan manusia, Dia tidak menaruh manusia di depan satu pohon. Jika hanya ada satu pohon, pohon hayat, Adam tidak akan mungkin jatuh, bahkan jika ia menginginkan untuk jatuh. Mengapa Allah membiarkan di sana ada dua pohon—pohon hayat dan pohon pengetahuan baik dan jahat? Kita mungkin berkata bahwa jika kita adalah Allah, kita hanya akan memiliki satu-satunya pohon di taman itu. Kita mungkin mengira, “Betapa baik jadinya jika di seluruh alam semesta ini, hanya ada satu Allah, tetapi tidak ada Satan”. Kita mungkin berpikir demikian, tetapi hal ini tidak menurut pemikiran Allah. Tanpa Satan, keunggulan, keagungan, hikmat, dan poin-poin ajaib, indah dari Allah tidak akan pernah dapat dipamerkan. Allah dan Satan adalah dua sumber di alam semesta.

Dua pohon didirikan di hadapan manusia setelah penciptaan manusia menandakan Allah dan musuh Allah, penentang-Nya. Allah positif, dan Satan negatif. Dari dua sumber ini, ada dua aliran, dan dua aliran ini menjadi dua garis. Sebuah garis juga adalah sebuah jalan. Pohon hayat adalah jalan, dan pohon pengetahuan baik dan jahat juga adalah jalan. Pohon dimana kamu hidup olehnya juga adalah jalan dimana kamu hidup. Hidup oleh pohon hayat juga adalah hidup oleh jalan hayat. Hidup oleh pohon pengetahuan baik dan jahat adalah hidup oleh jalan pengetahuan baik dan jahat.

Selama enam ribu tahun telah berlalu sejak waktu Adam, dan hari ini seluruh dunia mengambil jalan pengetahuan baik dan jahat. Keluarga-keluarga, masyarakat, dan bangsa-bangsa di dunia dibentuk bukan oleh jalan hayat, tetapi oleh jalan pengetahuan baik dan jahat. Tetapi syukur pada Tuhan bahwa kita adalah sekelompok orang yang telah dipanggil ke luar dari kelompok mereka yang hidup oleh jalan pengetahuan baik dan jahat, jalan kerumitan.

Namun banyak waktu, daripada hidup oleh jalan hayat, kita hidup oleh jalan pengetahuan baik dan jahat. Hari demi hari, kita, para orang tua membesarkan anak-anak kita untuk menanggulangi tiga hal—pengetahuan, baik, dan jahat. Para ibu mengajar para anak-anak mereka dengan pengetahuan akan apa yang baik dan yang jahat. Anak-anak diajarkan di dalam rumah dan sekolah mereka untuk mengambil pengetahuan yang tepat untuk melakukan yang baik dan membenci yang jahat. Pengadilan hukum dan pemerintahan manusia didirikan menurut konsep pengetahuan baik dan jahat. Bahkan Kekristenan dan banyak agama lain telah jatuh ke dalam “sangkar” yang sama dari jalan pengetahuan baik dan jahat. Tetapi kita perlu menjadi mereka yang berada di luar sangkar ini. Kita tidak mempedulikan pengetahuan baik dan jahat. Kita hanya mempedulikan hayat.

Kain dan Habel mewakili dua garis ini, yang adalah dua jalan. Saya percaya Adam memperanakkan banyak anak, tetapi Alkitab di dalam Kejadian 4:1-2 mencatat hanya dua anak Adam—Kain dan Habel. Baik Kain maupun Habel datang untuk menyembah Allah dengan mempersembahkan sesuatu kepada Allah. Kain adalah petani. Jerih lelahnya menghasilkan hasil panen, sehingga ia mempersembahkan buah-buahan dari hasil panennya kepada Allah. Kelihatannya Kain bekerja bagi Allah dan menghargai Allah dengan mempersembahkan sesuatu kepada Allah. Namun, Allah menolak persembahan Kain. Ketika saya muda, saya tidak dapat memahami mengapa Allah melakukan ini. Habel adalah seorang gembala yang mempersembahkan yang sulung dari ternaknya kepada Allah. Allah disenangkan dengan persembahan Habel.

Dua saudara ini dari orang tua yang sama mewakili dua garis dari Alkitab. Yang pertama Kain, memilih jalan pengetahuan baik dan jahat, dan yang kedua, Habel, memilih jalan hayat. Ras Adam menjadi dua kelompok. Satu kelompok adalah Kain, dan kelompok lain adalah Habel. Dalam kelompok Habel ada Enos, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, dan Yakub yang pada akhirnya menjadi Israel. Ini adalah garis positif di dalam Perjanjian Lama. Di kelompok Kain ada semua yang jahat. Pada akhirnya Nimrod bangkit di dalam kelompok yang jahat ini. Dia adalah manusia yang berkuasa yang membangun Babel (Kej. 10:8-10a). Dia juga membangun Asyur dengan Niniwe sebagai ibukotanya (ay. 11-12; bandingkan Mikha 5:6).

Sejarah manusia dalam Perjanjian Lama adalah dua kelompok, dua garis, yang berasal dari dua sumber. Daud termasuk kelompok yang mana—kelompok Kain atau kelompok Habel? Menurut wahyu yang telah kita lihat sejauh ini, Daud berada di keduanya. Dalam Mazmur 1, 3-7, dan 9-15, ia berada di dalam kelompok Kain. Dalam mazmur-mazmur ini, ia berdoa kepada Allah, memuji Allah, bersyukur pada Allah di dalam kelompok Kain. ia takut akan Allah, mengasihi Allah, dan menyembah Allah, tetapi dengan cara yang salah.

Kita telah melihat bahwa di dalam mazmur-mazmur ini ia membenarkan dirinya sendiri dan sering menyebutkan keadilbenarannya. Ia minta Tuhan mendengarkannya dan mengingatnya karena keadilbenarannya. Kita perlu bertanya apakah keadilbenaran Daud seperti persembahan kepada Allah dari hasil panen, seperti dari Kain, atau dari ternak, seperti dari Habel. Doa, ucapan syukur, dan pujian Daud di dalam Mazmur 1, 3-7, dan 9-15 mungkin baik, tetapi itu adalah pengetahuan baik dan jahat. Ada dua macam buah dari pohon yang sama—buah yang baik dan buah yang jahat. Sangatlah mungkin berdoa kepada Allah, mengasihi Allah, memuji Allah, dan bekerja bagi Allah menurut garis pengetahuan baik dan jahat. Kain adalah penyembah Allah yang mempersembahkan sesuatu kepada Allah, tetapi apa yang dia persembahkan menurut caranya tidak dapat diterima Allah. Daud mempersembahkan keadilbenarannya kepada Allah, tetapi kita tahu bahwa keadilbenaran manusia seperti pakaian compang-camping dalam pandangan Allah (Yes. 64:6).

Namun, di dalam Mazmur 2, 8, dan 16, Daud berada di dalam kelompok Habel, di dalam garis hayat. Kita boleh berkata bahwa pada saat Daud adalah “Kain”, Kain yang baik, Kain yang positif, bukan Kain yang jahat. Dia adalah Kain yang baik, bukan Kain yang jahat. Tetapi kadangkala, Daud berpaling kepada kelompok yang lain, kelompok Habel. Dalam kelompok ini, dia tidak menyebutkan keadilbenarannya atau apa yang dapat dia lakukan. Dia berbicara tentang berlindumg di dalam Putra (Mzm. 2:12) dan tentang allah menyembunyikan dia di bawah sayap Allah (Mzm.17:8). Dalam Mazmur 27 Daud berada pada garis hayat, berkata bahwa dia damba untuk berhuni di dalam rumah Yehova untuk memandang keelokan Yehova (ay. 4). Dalam Mazmur 36, Daud berkata bahwa di dalam rumah Allah, ada lemak, sungai kesenangan Allah, sumber hayat, dan terang (ay. 8-9). Ini adalah Allah sebagai kenikmatan kita. Oleh karena itu, kita dapat melihat bahwa pada satu saat, Daud bersama kelompok Kain di garis pengetahuan baik dan jahat, tetapi pada saat yang lain, Allah memalingkan dia untuk bersama kelompok Habel di garis hayat.

Sekarang kita perlu bertanya, “Untuk tujuan bagaimanakah kelompok kita?” apakah kita berada pada kelompok Kain atau kelompok Habel? Apakah kita anggota kelompok Kain atau anggota dari Habel, dan di waktu lain kita mungkin meninggalkan kelompok habel dan bergabung dengan Kain. Ketika kita berusaha keras melakukan banyak hal dalam diri kita sendiri, dengan diri kita sendiri dan untuk diri kita sendiri, kita adalah anggota Kain. Kita perlu mengakui bahwa hari ini kita lebih banyak menjadi “Kain” berada di garis pengetahuan baik dan jahat. Sangat jarang kita menjadi “Habel” di dalam garis hayat. Kita lebih banyak hidup dengan pohon pengetahuan baik dan jahat, bukan dengan pohon hayat.

Sekarang saya ingin agar kita menyadari apakah Abraham bersama dengan kelompok Kain atau Habel. Sesungguhnya, Abraham terkadang bersama dengan kelompok kain dan terkadang bersama Habel. Allah telah menjanjikan seorang anak laki-laki kepada Abraham, tetapi Abraham dan isterinya sudah sangat tua, dan mereka sudah tidak memiliki kemampuan manusia untuk menghasilkan anak-anak. Sarah kemudian mendesak Abraham untuk mengambil Hagar hamba perempuannya, sehingga mereka dapat memiliki seorang putera (Kej.16). Sebelum mengambil Hagar untuk menghasilkan Ismael, Abraham ada bersama Habel. Tetapi ketika Abraham mengambil Hagar, ia menjadi seorang yang mendukung Kain, dan hal itu melukai hati Allah. Allah tidak menampakkan diri-Nya kepada Abraham selama tiga belas tahun setelah Ismael dilahirkan (Kej.16:16-17:1).

Abraham berjalan bersama Allah dalam garis pohon hayat, tetapi ia berada dibawah ujian Allah. Allah menjanjikannya seorang putera, tetapi dengan berlalunya waktu ia menjadi sangat tua, ia masih belum memiliki seorang putera. Isterinya sangat memperhatikan perkara ini dan memberikan Hagar kepada Abraham untuk menghasilakan seorang putera yang bernama Ismael. Bagaimanapun kehendak Allah bukanlah anak ini. Ismael dilahirkan ketiak Abraham berusia delapan puluh enam tahun (Kej 16:16). Tiga belas tahun kemudian, ketika Abraham berusia sembilan puluh sembilan tahun, Allah menampakkan diri lagi kepadanya (Kej 17:1), dan Ishak, Anak yang dijanjikan Allah dilahirkan ketika Abraham telah berusia seratus tahun (Kej. 21:5). Abraham kembali lagi pada garis hayat. Ismael dihasilkan menurut garis pengetahuan baik dan jahat. Ishak dihasilkan menurut garis hayat.

Ketika keturunan Abraham menjadi bangsa Israel, Allah membawa mereka ke Gunung Sinai. Di Gunung Sinai Allah melatih mereka untuk menjadi umat-Nya untuk melayani Dia dengan Tabernakel, dengan keimaman, dan dengan berbagai macam kurban persembahan. Tabernakel, keimaman dan kurban persembahan ada di garis pohon hayat. Tetapi umat israel tidak mengerti tujuan mereka. Mereka selalu berpikir seperti Kain.

Allah sebelum membuat Tabernakel, mengumumkan Hukum Taurat, dan hukum taurat berada dalam garis benar dan salah. Kita telah melihat bahwa hukum taurat adalah garis lain. Garis utama adalah garis dari pohon hayat dengan tabernakel, dengan keimaman dan dengan kurban persembahan. Tetapi umat Israel memilih untuk mengambil jalan lain, jalan hukum taurat, jalan baik dan jahat. Mereka bersumpah kepada Allah bahwa mereka akan melakukan apapun yang Ia katakan (Kej 19:8; 24:3). Allah tentu saja tahu bahwa apa yang mereka bicarakan adalah hal yang bodoh. Ketika Musa berada di atas gunung bersama Allah menerima perintah hukum taurat, mereka membuat patung lembu emas untuk mematahkan hukum taurat. Kemudian Musa naik lagi keatas gunung. Kali ini Allah memberikannya pola Tabernakel. Ia juga memperlihatkan Musa keimaman dengan semua kurban persembahan. Tabernakel, keimaman, dan semua kurban persembahan melambangkan Kristus. Inilah jalan hayat, Melalui seluruh sejarah Israel dalam Perjanjian lama dari jaman Musa, kita dapat melihat dua garis ini—garis hukum taurat dan garis tabernakel, keimaman dan kurban persembahan yang adalah garis hayat.

Daud memustikan hukum taurat dan berusaha untuk memeliharanya, tetapi ia telah sangat gagal. Ia memerlukan Tabernakel, keimaman dan kurban persembahan. Melalui tabernakel, keimaman dan kurban persembahan, Daud diampuni. Mazmur 51 memperlihatkan kepada kita bahwa ketika Daud bertobat, ia adalah “Habel” yang kuat. Mazmur 51 adalah sebuah mazmur pertobatan dan pengakuan Daud, ini adalah mazmur yang paling rohani. Pada akhir pertobatannya, ia meminta kepada Allah untuk melakukan perkara yang baik kepada Sion dan untuk membangun tembok Yerusalem (ay.18). Kemudian ketika Daud melarikan diri dari Absalom, Daud kembali lagi pada kelompok Kain, seperti yang kita lihat pada Mazmur 3-7.

Sekarang kita dapat melihat bahwa dalam kitab Mazmur, sama seperti dalam seluruh Alkitab, ada dua garis. Pada akhir Mazmur, pemazmur-pemazmur berada penuh pada garis hayat. Pada bagian kesimpulan kitab Mazmur penuh dengan puji-pujian, penuh dengan “haleluya”. Pada saat itu pemazmur tidak memuji hukum taurat, tetapi memuji Kristus. Kita telah melihat dua garis dalam kitab Mazmur. Pada saat kita membaca Mazmur, kita seharusnya tidak setuju dengan Daud ketika ia adalah “Kain-Daud.” Kita perlu tinggal dengan “Habel-Daud.” Kita harus berdiri bersama “Habel-Daud” pada mazmur 51. Kita seharusnya memustikan seluruh yang berhubungan dengan Kristus dan garis hayat pada kitab Mazmur. Kita perlu keluar dari kelompok Kain, kemudian masuk kedalam dan tinggal dengan kelompok Habel.

Ketika kita mempelajari kitab Ayub, kita dapat melihat banyak “Kain” disana, dan juga beberapa “Habel”. Beban saya adalah untuk membantu kita untuk mengenal dua garis, dua jalan di dalam Alkitab. Banyak diantara orang Yahudi berada dalam perjanjian lama, Disana ada jalan yang ajaib dari tabernakel, keimaman, dan kurban-kurban persembahan. Disana juga ada jalan hukum hayat. Umat Israel tidak dapat menemui Allah melalui memelihara hukum taurat; mereka bertemu dengan Allah dalam tabernakel.

Setiap saat kita berusaha untuk merempungkan sesuatu dengan diri sendiri seperti Kain, kita tidak memiliki pengurapan di dalam. Kita perlu berdoa kepada Allah,”Tuhan, Aku dapat melakukan apa saja dan aku tidak mau untuk melakukan apa pun. Aku hanya ingin menikmati-Mu, untuk mengambil bagian dalam-Mu, untuk mengalami-Mu, untuk memperhidupkan-Mu dan untuk mengekspresikan-Mu.” Kletika kita berdoa demikian, kita seperti Habel dan kita akan penuh dengan pengurapan yang didalam. Dengan demikian, kita dapat melihat dua sumber, dua garis dan dua jalan dengan dua hasil. Hasil yang pertama adalah Allah tidak menyertai, dan hasil yang lain adalah penyertaan Allah.

B. GARIS UTAMA

SEBAGAI GARIS SENTRAL EKONOMI ALLAH

MENGENAI KRISTUS DAN GEREJA

Garis utama Alkitab adalah garis sentral dari ekonomi Allah mengenai Kristus dan Gereja. Ini adalah garis hayat. Kristus adalah pusat dan universalitas dari ekonomi kekal Allah. Gereja adalah Tubuh Kristus (Ef 1:22-23), Jodoh Kristus, pelengkap Kristus, menjadi tempat kediaman Allah di bumi, yang dilambangkan dengan tabernakel (Kel 25:8-9; Yos 18:1; 1 Sam 1:3) dan Bait Suci (1 Raja 6:1), keduanya dipertimbangkan sebagai rumah Allah (Hak.18:31b; Maz 5:7). Garis utama adalah gunung Sion didalam surga (Maz 2:6; Why 14:1) yang dilambangkan dengan Gunung Sion diatas bumi (Maz 3:4; 9:11, 14; 14:7; 15:1b); dan kaum beriman Perjanjian Baru sudah datang ke Gunung Sion di dalam surga (Ibr. 12:22) pada garis utama dari ekonomi Allah.

C. GARIS LAIN MENGENAI HUKUM TAURAT

Garis yang lain dalam Kitab Suci adalah garis sisi mengenai hukum taurat. Ini adalah garis pengetahuan baik dan jahat. Hukum Taurat ditambahkan disepanjang garis utama ekonomi Allah (Rm 5:20a). Garis sisi adalah Gunung Sinai dimana hukum taurat diberikan. Kaum beriman Perjanjian Lama, yang hidup bagi hukum taurat, adalah budak dari Gunung Sinai ini (Gal 4:24).

Pemazmur, yang hidup bagi hukum taurat, tinggal dalam kebodohan di Gunung Sinai pada garis sisi ini. Sesekali dan tidak disadari mereka berbalik pada Gunung Sion sebagai garis utama, seperti yang disingkapkan pada Mazmur 3:4; 9:11,14; 14:7; Dan 15:1b. Di dalam Gunung Sion mereka menikmati rumah, bait suci Allah, seperti yang disingkapkan pada Mazmur 5:7 dan 11:4, Ini adalah kemajuan yang tidak disadari pemazmur dalam mencari Allah.

Pemazmur dalam Mazmur 15 menanyakan siapakah yang berdiam dalam kemah Allah dan siapa yang tinggal dalam gunung kudus Allah. Jawaban berdasarkan konsep Daud adalah manusia sempurna dalam garis sisi hukum taurat (az 15:2-5). Tetapi jawaban berdasarkan dengan wahyu ilahi adalah Manusia-Allah Kristus (Maz 16:1-11) sebagai yang sulung Putera Allah dengan banyak saudara sebagai banyak putera Allah dalam garis utama dari ekonomi Allah (Rm. 6:14).

II. PRINSIP

Terdapat banyak prinsip dalam Alkitab dan dari Alkitab yang dapat membentu kita untuk memahami Alkitab dengan cara yang tepat. Sangat sulit bagi banyak pelajar Alkitab untuk memahami Alkitab karena mereka tidak mengetahui prinsip dari Alkitab. Untuk memahami apakah prinsip-prinsip ini, Saya ingin untuk memperlihatkan beberapa ilustrasi.

Sejak jaman Martin luther, gereja katolik mengajarkan bahwa untuk diselamatkan dan dibenarkan oleh Allah, seseorang harus melakukan pekerjaan yang baik dan memelihara hukum taurat. Kemudian Luther bangkit dan berkata bahwa pembenaran adalah oleh iman. Iman adalah salah satu prinsip dalam Perjanjian Baru. Kejadian 15 mengatakan bahwa Abraham percaya kepada Allah dan hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran (ay. 6). Allah memperhitungkan iman Abraham sebagai kebenaran. Hal ini memperlihatkan bahwa kita tidak perlu melakukan apapun untuk membangun kebenaran kita sendiri. Kita hanya perlu dengan sederhana percaya pada Kristus.

Kitab Habakuk menceritakan tentang orang-orang babilonia datang untuk menghancurkan seluruh negara Israel. Dalam kitab ini ada ayat yang mangatakan, “1tetapi aorang yang benar itu akan 2hidup oleh imannya”(2:4). Iman adalah prinsip yang besar dalam Alkitab. Berdasarkan seluruh isi Alkitab, iman dalam sisi negatif adalah kita berhenti melakukan sesuatu. Dalam sisi positifnya, iman adalah percaya pada Tuhan. Iman adalah kita berhenti melakukan sesuatu dan percaya pada apa yang dilakukan-Nya.

Prinsip iman berhubungan dengan prinsip sabat. Prinsip sabat adalah demikian; Kamu harus menghentikan pekerjaanmu karena Allah adalah segala sesuatu bagimu. Jika kamu memerlukan sesuatu untuk dikerjakan, Allah yang bekerja bagi kamu. Itulah artinya menikmati sabat. Sabat memiliki prinsip yang sama seperti iman. Percaya yang sejati, iman yang sejati, berarti berhenti melakukan sesuatu. Apa pun yang kamu lakukan merupakan penghinaan kepada Allah. Dalam prinsip sabat dan prinsip iman, kamu tidak perlu bekerja atau melakukan apapun, karena Allah melakukan segala sesuatu dan mengerjakan segala sesuatu bagi kenikmatanmu. Kamu hanya perlu percaya di dalam-Nya dan percaya pada apa yang Dia lakukan, pekerjaan-Nya. Inilah iman.

Mazmur 1 mengatakan bahwa jika kamu memelihara hukum taurat, kamu akan diberkati (ay 1-2), tetapi Mazmur 2 mengatakan bahwa Diberkatilah orang yang berlindung di dalam Putera (ay.12). Satu-satunya cara bagi kita untuk berlindung di dalam Putera adalah berhenti melakukan apa pun. Kita perlu mengambil perlindungan didalam Yesus, untuk percaya ke dalam-Nya. Inilah prinsip iman. Menurut pengajaran katolik, kamu harus bekerja, berjerihlelah, dan menderita untuk dibenarkan oleh Allah. Kemudian Martin Luther menemukan bahwa prinsip keselamatan Allah bukan dengan melakukan sesuatu, bukan dengan mengerjakan sesuatu, tetapi dengan percaya ke dalam Allah dan percaya pada semua yang telah Dia kerjakan dan yang sedang Dia kerjakan. Inilah mengambil perlindungan dalam pekerjaan Allah dan menghentikan pekerjaan kita. Prinsip iman ini seharusnya memerintah dalam seluruh penghidupan Kristiani kita.

Disatu sisi, kita perlu untuk menghentikan pekerjaan kita. disisi lain, kita masih perlu berjerihlelah, tetapi jerihlelah ini bukan dalam diri kita sendiri dan bukan dengan diri kita sendiri. Paulus berkata, “aku telah dbekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi 2bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku.” (1 kor. 15:10). Kasih karunia Allah adalah Kristus. Paulus berkata, “tetapi bukan aku, melainkan kasih karunia Allah.” Ini sama seperti dalam Galatia 2:20, ketika Paulus berkata bahwa ia telah disalibkan bersama Kristus dan bukan lagi aku yang hidup, tetapi Kristus yang hidup didalamku. Ini adalah perhentian, memelihara hari sabat, mengambil perlindungan dalam Putera, percaya ke dalam Dia. Seluruh kehidupan kristiani kita seharusnya berdasarkan prinsip sabat dan prinsip iman ini.

Iman adalah salah satu dari banyak prinsip dalam Alkitab. Paulus menjelaskan mengenai prinsip iman dalam suratnya. Ia berkata bahwa tidak ada daging yang akan dibenarkan melalui pekerjaan hukum taurat (Rm 3:20; Gal 2:16; 3:11). Masih banyak lagi prinsip-prinsip lain dalam Alkitab.

Alkitab terdapat dua perjanjian—Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Untuk memahami Perjanjian Lama, Kamu perlu memegang satu prinsip; dan untuk memahami Perjanjian Baru, kamu perlu memegang prinsip yang lainnya. Hari ini Pantekosta sama seperti Katolik, memahami Alkitab secara campur aduk. Mereka tidak memegang prinsip dari Perjanjian Lama dan prinsip dari Perjanjian Baru. Jika engkau mempergunakan apa pun dalam Perjanjian Lama, kamu harus menemukan prinsipnya dengan cara yang rohani, bukan dengan cara yang jasmaniah.

Berikut ini adalah perbedaan antara praktek Yudaisme dan praktek ekonomi Perjanjian Baru Allah. Torah, kelima kitab pertama dalam Perjanjian Lama, telah menjadi suatu berhala bagi agama Yahudi. Mereka tidak memperdulikan Allah dalam realitasnya tetapi memperdulikan untuk surat-surat dari Torah mereka. Bahkan tabut Allah menjadi sesuatu yang takhayul bagi anak-anak Israel. Ketika mereka berperang melawan bangsa Filistin, mereka membawa tabut Allah bersama mereka. Kemudian, Mereka terpukul kalah dan tabut Allah diambil (1 Sam 4:3-5, 10-11). Anak-anak Israel juga mendirikan Bait Suci, dan bait suci kemudian menjadi berhala bagi mereka. Mereka lebih percaya pada bait suci daripada pada Allah sendiri. Kemudian Bangsa Babilonia datang menghancurkan bait suci mereka.

Dua garis dalam Alkitab adalah garis hayat dan garis pengetahuan baik dan jahat. Bersamaan dengan kedua garis ini, terdapat prinsip Alkitab. Selama sesuatu hal itu bukan Allah, entah itu baik atau jahat, maka tidak ada hayat. Hanya Allah sendiri yang adalah pohon hayat.

Hari ini orang-orang menuntut hak mereka, tetapi mereka melanggar prinsip ministri Allah. Paulus membicarakan pemisahan antara laki-laki dan perempuan dalam surat kirimannya (1 Kor 11:2-15; 1 Tim 2:9-15). Ulangan 22:5 berkata, "Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan, sebab setiap orang yang melakukan hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.” Bagi seorang perempuan yang memakai pakaian laki-laki atau bagi seorang laki-laki yang memakai pakaian perempuan melanggar prinsip Allah. Kita harus memelihara prinsip. Setiap bagian, bab, paragraf, kalimat dan klausa dalam Alkitab harus di terjemahkan menurut prinsip yang tepat.

Menurut prinsip dalam Perjanjian Lama, kaum beriman pada Perjanjian Lama harus memelihara hari Sabat, hari yang ke tujuh. Tetapi ketika Tuhan Yesus datang, Ia mengakhiri jaman Perjanjian Lama. Untuk mengakhiri artinya untuk menyimpulkan dan untuk menggenapkan. Kristus menggenapkan, menyimpulkan, mengakhiri, Perjanjian Lama. Sekarang menurut kitab Ibrani, Kristus adalah segala sesuatu. Dalam Perjanjian Baru, Kristus adlah Sabat kita (Mrk. 2:27-28; Kol 2:16-17).

Sekarang kita berada dalam jaman Perjanjian Baru, kita harus memelihara prinsip ini mengenai Kristus. Prinsip dalam Perjanjian Lama adalah untuk memelihara hari Sabat. Prinsip dalam Perjanjian Baru mengenai hari Sabat adalah untuk percaya ke dalam Allah, untuk memiliki perhentian di dalam Allah, dan untuk menikmati Allah. Hari ke tujuh pada kaum Adven bercampur aduk antara prinsip Perjanjian Lama dengan prinsip Perjanjian Baru. Mereka salah dalam prinsip. Yang menjadi perhatian mereka mungkin baik, tetapi prinsipnya salah.

A. PRINSIP DALAM PERJANJIAN LAMA

Kita perlu melihat kedua prinsip Alkitab baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tabernakel (Kel.25:8-9; 40:1-2) sebagai pelopor bagi bait Allah (1 Raja 6:1), Keimaman (Kel 28:1), dan kurban-kurban persembahan (Im. 1-7), Semuanya itu adalah lambang dari Kristus, yang ditentukan oleh Allah untuk menjadi garis utama bagi umat pilihan Allah untuk menyembah Allah, melayani Allah, mengontak Allah, dan bagian dari Allah sampai Kristus datang sebagai penggenapan semua perlambangan (Ibr.9:8-12).

Hukum taurat sebagai kesaksian Allah (Maz 78:5) diberikan oleh Allah untuk menjadi garis sisi disepanjang garis utama untuk menjaga umat pilihan Allah sampai Kristus datang sebagai akhir dari hukum taurat (Rm 10:4a; Gal 3:23-25).

B. PRINSIP DALAM PERJANJIAN BARU

Allah telah menentukan Kristus untuk menjadi pusat dan universalitas dari ekonomi-Nya untuk menggenapkan rencana kerelaan-Nya (Eph 3:8-11; 1:9-12). Hukum Taurat sebagai faktor pendamping telah diakhiri oleh Kristus (Rm. 10:4a), dan kaum beriman tidak lagi berada di bawah hukum taurat (Rom 6:14).

III. ROH DARI ALKITAB

Kolose 1:15-19 memperlihatkan bahwa roh Alkitab meninggikan Kristus. Kelima ayat ini adalah ayat yang unik dalam Alkitab dalam meninggikan Kristus. Kristus harus menduduki tempat yang pertama; Ia harus menduduki tempat yang utama. Kristus menduduki tempat yang utama di dalam ke-Allahan karena di dalam ke-Allahan, Dia adalah gambar Allah, perwujudan Allah, dan ekspresi Allah. Dia ada di tempat yang pertama, bahkan di dalam ke-Allahan. Kemudian di dalam ciptaan lama, Dia adalah makhluk ciptaan yang pertama, Yang Sulung dari segala ciptaan (Kol. 1:15). Di dalam ciptaan baru, di dalam kebangkitan, Dia juga yang pertama. Dia adalah yang lebih utama. Lagipula, di dalam Tubuh Kristus, Kristus adalah yang pertama. Dia adalah yang pertama di dalam segala sesuatu.

Karena Dia menduduki tempat yang pertama di dalam segala sesuatu, kita harus memberi Dia tempat yang pertama di dalam diri kita dan di dalam segala yang kita lakukan. Dia harus menjadi yang pertama di dalam pernikahan kita, di dalam membelanjakan uang kita, dan di dalam sikap kita. Dalam cara kita berpakaian, kita harus memberi Kristus tempat yang utama. Roh Alkitab hanya meninggikan Kristus. Ketika kita mempelajari kitab Mazmur, kita harus menyadari hal ini. Kita harus sadar bahwa kita tidak dapat meninggikan sesuatu lebih tinggi dari Kristus. Jika kita meninggikan seseorang atau sesuatu selain Kristus, kita merusak roh Alkitab. Jika kita ingin menafsirkan lambang atau menjelaskan perumpamaan manapun, kita harus memperhatikan rohnya. Roh Alkitab adalah meninggikan Kristus.

Roh Alkitab meninggikan Kristus yang ditakdirkan oleh Allah untuk menduduki tempat yang utama (tempat yang pertama) di dalam ciptaan lama, di dalam ciptaan baru, di dalam Tubuh Kristus, dan di dalam segala sesuatu (Kol. 1:15-19). Juga roh Alkitab tidak memberikan kedudukan ortodoks kepada hukum Taurat (Gal. 4:21-25) yang diberikan oleh Allah di samping ekonomi Allah (Rm. 5:20a).

Banyak pengajaran dalam kekristenan hari ini keluar dari jalur karena mereka tidak memperdulikan garis, prinsip-prinsip, dan roh Alkitab. Kita harus tinggal dalam garis pohon hayat. Baik atau tidak kita membicarakan pembicaraan Allah tergantung pada apa yang kita bicarakan. Seorang nabi adalah dia yang menerima firman dari Allah. Lalu dia membicarakan firman di dalam garis pohon hayat, di dalam prinsip yang tepat, dan di dalam roh meninggikan Kristus. Di dalam apapun yang kita katakan, kita harus memiliki roh yang meninggikan Kristus.

Dalam dua tahun terakhir ini, kita telah melepaskan berita Yesaya, Daniel, Zakharia, dan Yeremia. Tidak mudah untuk melihat Kristus di keempat kitab ini. Berapa banyak orang melihat ekonomi Allah di keempat kitab ini dengan Kristus sebagai sentralitas dan kesemestaan? Kapankala kita mempelajari satu kitab dari Alkitab, kita harus menjaga garis, prinsip, dan roh dari Alkitab. Lalu terang datang. Jika kita membaca Alkitab tanpa melihat garis, prinsip, dan roh Alkitab, kita tidak akan tahu apa yang dibicarakan.

Ketika kita mempelajari kitab Mazmur di dalam terang dari garis, prinsip, dan roh Alkitab, kita dapat melihat konsep insani dan konsep ilahi. Kita dapat melihat Kristus di dalam ekonomi Allah berlawanan dengan hukum Taurat yang diapresiasi manusia. Kita mengira bahwa semua mazmur adalah mazmur yang baik, karena mereka adalah mazmur doa, mazmur ucapan syukur, dan mazmur pujian. Tetapi, ketika kita melihat garis, prinsip, dan roh Alkitab, kita akan melihat bahwa banyak mazmur mungkin baik, tetapi mereka baik dengan cara yang salah.

Daud berkata bahwa karena keadilbenarannya, Allah mendengarkan dia. Hal ini bukan hanya salah, tetapi kesalahan yang fatal. Ini melawan prinsip Alkitab. Bagaimana mungkin Allah mendengar kita karena keadilbenaran kita? Alkitab berkata, bahkan keadilbenaran kita yang terbaik adalah seperti pakaian compang-camping (Yes.64:6). Tidak ada daging yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat. Ini adalah prinsipnya. Kita tidak dapat dibenarkan dan menyenangkan Allah oleh karena keadilbenaran kita.

Kain mempersembahkan buah dari hasil jerih lelahnya kepada Allah. Kelihatannya hal ini adalah semacam penyembahan kepada Allah, tetapi sebenarnya hal ini menghina Allah. Hal ini menghina Allah karena Allah tidak memerlukan kita untuk melakukan sesuatu bagi Dia. Kita memerlukan Dia untuk melakukan sesuatu baki kita. Dia menginginkan kita untuk menghentikan perbuatan kita, beristirahat di dalam Dia, dan berlindung di dalam Dia. Dengan melakukan demikian, kita menghormati Allah. Ini adalah prinsipnya.

Kita mungkin mengasihi orang dan membantu orang, tetapi kasih dan bantuan kita dapat berarti menghina Allah. Apakah kita mengasihi orang atau membantu orang oleh diri kita sendiri atau oleh Kristus? Jika hal itu oleh diri kita sendiri, ini adalah kebaikan yang berasal dari pohon pengetahuan baik dan jahat. Jika kita membenci orang, ini adalah kejahatan yang berasal dari pohon yang sama. Kita mungkin berkata, kita melakukan segala sesuatu dengan pengetahuan yang terbaik. Ini berarti bahwa perbuatan kita menurut pohon pengetahuan, bukan pohon hayat.

Kita harus memiliki sikap bahwa meskipun kita dapat melakukan sesuatu oleh diri kita sendiri, kita tidak akan melakukannya. Kita tidak suka bertindak oleh diri kita sendiri karena Allah membencinya. Allah membenci segala sesuatu yang berasal dari kita, segala sesuatu oleh kita, dan segala sesuatu melalui kita. Kita perlu menghentikan perbuatan kita dan beristirahat di dalam Dia, mempercayai perbuatan-Nya. Inilah menghormati Allah dan membawa masuk berkat-Nya.

Seringkali hal-hal baik dapat menjadi pencobaan, jerat, dan jebakan sesungguhnya bagi kita. Ketika kita melakukan hal-hal yang baik, kita harus mengecek siapa yang melakukannya. Apakah kita yang melakukannya ataukah Kristus yang melakukannya? Bahkan hal terbaik yang dilakukan hanya oleh manusia adalah suatu penghinaan kepada Allah. Hanya dilakukan oleh Kristus sebagai hayat kita dan hanya hal-hal yang digenapkan oleh Allah sebagai kenikmatan kita ada di dalam garis pohon hayat. Ketika kita bertindak di dalam garis pohon hayat, hal ini ada di dalam garis yang tepat, di dalam menjaga prinsip yang tepat, dan di dalam roh yang meninggikan Kristus.

Ketika kita melihat garis, prinsip, dan roh Alkitab, kita memiliki keberanian mengatakan bahwa mazmur ini adalah pohon hayat dan mazmur itu bukan. Tidak peduli betapa baiknya sesuatu, Allah hanya mempedulikan siapa yang melakukannya. Allah ingin kita memperhidupkan Dia, tetapi bukan oleh diri kita sendiri. Allah ingin kita mengekspresikan Dia, tetapi bukan oleh diri kita sendiri. Kita harus menghentikan ekspresi kita. Kita harus meletakkan kepercayaan kita di dalam Dia dan membiarkan Dia hidup di dalam kita dan tertampil dari kita. Kemudian apapun yang kita lakukan akan menjadi suatu kehormatan dan kemuliaan bagi Allah. Jika tidak, apapun yang kita lakukan, meskipun itu baik, adalah suatu penghinaan bagi Allah.