BERITA TUJUH
MANUSIA YANG BAGAIMANAKAH YANG BISA TINGGAL BERSAMA DENGAN ALLAH BAGI KEDAMBAAN HATI-NYA DAN KERELAAN KEHENDAK-NYA?
Pembacaan Alkitab: Mzm. 15—16
Di dalam berita ini, kita sampai kepada pasangan lainnya dari mazmur, yaitu Mazmur 15 dan 16. Kita telah melihat bahwa Mazmur 1 dan 2 secara berdaulat disusun sebagai satu pasangan. Mazmur 1 mengatakan bahwa orang yang suka akan taurat Yehovah akan diberkati (ay. 1-2). Mazmur 2 mengatakan bahwa orang yang berlindung di dalam Putra akan diberkati (ay. 12). Jadi, kita melihat konsep manusia tentang diberkati karena memelihara hukum taurat versus konsep ilahi tentang diberkati karena berlindung di dalam Putra. Perbandingan di dalam Mazmur 1 dan 2 ini adalah perbandingan di antara hukum taurat dan Kristus.
Mazmur 15 dan 16 juga menyajikan satu perbandingan. Akhir dari Mazmur 15 mengatakan, “Siapa saja yang melakukan hal-hal ini tidak akan goyah untuk selama-lamanya.” Hal-hal ini mengacu kepada hal-hal baik menurut hukum taurat di dalam ayat-ayat sebelumnya. Di lain pihak, Mazmur 16:8b mengatakan, “Karena Dia ada di sebelah kanan-Ku, Aku tidak akan goyah.” Mazmur 15 mengatakan bahwa jika Anda melakukan semua hal baik menurut hukum taurat, maka Anda tidak akan pernah goyah. Kemudian Mazmur 16 mengatakan mengenai Kristus bahwa karena Allah ada di sebelah kanan-Nya, Dia tidak akan goyah. Tidak diragukan lagi, Mazmur 15 dan 16 ini disusun bersama-sama untuk menunjukkan kepada kita satu perbandingan antara memelihara hukum taurat dan mengambil bagian di dalam Putra. Apakah kita memelihara hukum taurat atau apakah kita mengambil bagian di dalam Kristus? Apakah kita memelihara hukum taurat atau apakah kita menikmati Kristus sebagai porsi kita?
Pada poin ini, saya ingin agar kita membaca Mazmur 15 dan 16 bersama-sama supaya kita bisa melihat konsep-konsep yang berbeda-beda di dalam mazmur-mazmur ini. Setelah itu, kita akan meliputnya dengan lebih terperinci.
Pada permulaan dari Mazmur 15, pemazmur bertanya, “O Yehovah, siapakah yang dapat singgah di kemah-Mu? Siapakah yang dapat tinggal di gunung-Mu yang kudus.” Kemah di sini mengacu kepada rumah Allah, bait. Daud mengatakan bahwa orang ini adalah “Ia yang berjalan dalam kejujuran Dan melakukan keadilbenaran Dan membicarakan kebenaran dari hatinya. Ia tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya; Ia tidak berbuat jahat terhadap temannya, Tidak menikmpakan cela kepada tetangganya. Yang memandang hina orang yang tersingkir, Tetapi ia memuliakan orang yang takut akan Yehovah. Ia harus berpegang kepada sumpah, walaupun rugi. Ia tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang melakukan hal-hal ini tidak akan goyah untuk selama-lamanya (ay. 2-5). Ini mungkin kelihatan seperti satu mazmur yang unggul, tetapi sebenarnya ini adalah satu mazmur di dalam garis pohon pengetahuan baik dan jahat.
Di pihak lain, Mazmur 16 adalah satu mazmur yang mewahyukan manusia-Allah, yaitu Kristus. Mazmur 16:1 tidak mengatakan, “Peliharalah aku, O Allah, karena aku memelihara hukum taurat, dan merenungkan hukum taurat itu siang dan malam.” Ini mutlak salah. Mazmur 16:1 mengatakan, “Peliharalah aku, O Allah, karena aku berlindung di dalam Engkau.” Ini seolah-olah pemazmur itu mengatakan, “Aku tidak peduli hukum taurat; aku mempedulikan Engkau dan aku menikmati Engkau.” Kemudian Mazmur 16:2 melanjutkan, “O jiwaku, engkau mengatakan kepada Yehovah, Engkau adalah Tuhanku; Tidak ada yang baik bagiku selain Engkau.” Ketika Tuhan Yesus adalah seorang manusia di bumi, Dia selalu memegang sikap yang demikian yaitu mengakui Allah Bapa sebagai Tuhan-Nya. Sikap-Nya terhadap Bapa bisa diekspresikan dengan perkataan-Nya, “Aku tidak memiliki kebaikan selain Engkau. Aku tidak memiliki berkat, kesenangan, dan kenikmatan selain Engkau.”
Ayat 3 mengatakan, “Orang-orang kudus yang ada di tanah ini, merekalah orang mulia yang selalu menjadi kesukaanku.” Tuhan Yesus mengasihi Allah Bapa. Dia juga memiliki kesukaan-Nya kepada orang-orang kudus, kepada kaum beriman, kepada anggota-anggota Tubuh-Nya. Dia tidak suka kepada perintah-perintah dari hukum taurat, melainkan suka kepada anggota-anggota Tubuh-Nya, yaitu orang-orang kudus di dalam kerajaan Allah.
Ayat 4 mengatakan, “Bertambah besar kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan kurban curahan mereka yang dari darah, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka di bibirku.” Nama-nama mereka mengacu kepada nama-nama berhala-berhala, nama-nama allah-allah lain.
Ayat 5 mengatakan, “Yehovah adalah bagian warisan-Ku dan cawan-Ku; Engkau memelihara bagian-Ku.” Allah adalah bagian yang terdiri dari dua hal: warisan dan cawan. Warisan mengacu kepada substasi dari bagian itu, dan cawan mengacu kepada kenikmatan akan Allah sebagai berkat kita. Di meja Tuhan, kita minum cawan berkat (1 Kor. 10:16a). Bait 3 dari Kidung...menunjukkan bahwa di dalam cawan ini, Allah adalah bagian kita. Jadi, kita memiliki Allah sebagai porsi/bagian bagi warisan kita dan bagi kenikmatan kita. Allah Bapa adalah bagian yang sesungguhnya dari dua hal ini bagi Kristus sebagai seorang manusia di bumi ini. Ayat 5a mengatakan, “Engkau memelihara bagian-Ku.” Bagian ini adalah porsi warisan itu.
Ayat 6a mengatakan, “Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai.” Untuk memahami ayat ini, kita harus membaca Mazmur 2:8, yang mengatakan bahwa Allah akan memberikan bangsa-bangsa kepada Kristus sebagai warisan-Nya dan batas-batas bumi sebagai harta milik-Nya. Batas-batas ini adalah tali-tali pengukur Allah di dalam ekonomi ilahi-Nya. Allah telah mengukur bumi ini. Apa saja yang diukur Allah akan menjadi harta milik Kristus. Tali-tali pengukur ini telah jatuh di tempat-tempat yang permai bagi Kristus.
Hari ini seluruh bumi bukanlah satu tempat yang permai, bukanlah satu tempat yang menyenangkan. Sekalipun orang-orang berusaha untuk mendapatkan hiburan-hiburan mereka, tetapi itu bukanlah kesenangan yang sesungguhnya. Bumi hari ini adalah satu bumi yang kacau, bukan satu bumi yang menyenangkan. Di dalam Kejadian 2, bumi ini adalah satu taman yang menyenangkan, tetapi setelah kejatuhan manusia, taman yang menyenangkan ini menjadi satu bumi yang kacau. Tetapi ketika bumi ini diukur dan diberikan kepada Kristus, maka bumi ini akan menjadi satu bumi yang menyenangkan. Ayat 6b mengatakan, “Sesungguhnya warisan itu indah bagi-Ku.” Semua bangsa dengan bumi ini bukan hanya akan menjadi menyenangkan melainkan juga menjadi indah bagi Kristus sebagai orang yang mewarisi warisan Allah.
Ayat 7a mengatakan, “Aku akan memberkati Yehovah, yang menasehati Aku.” Apakah Anda suka mempunyai seseorang sebagai penasehat Anda? Menerima nasehat orang lain itu menyiratkan kerendahan hati. Seorang yang rendah hatilah yang mau menerima nasehat dari orang lain. Tuhan Yesus memberkati Yehovah, yaitu Dia yang menasehati Dia. Yesaya 50:4 memberi tahu kita tentang sikap Kristus sebagai Hamba Yehovah: “Tuhan Yehovah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Dia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” Kristus, di dalam penghidupan insani-Nya, memiliki lidah seorang murid, dan Dia mendengar seperti seorang murid. Dia mengambil Allah Bapa sebagai penasehat-Nya.
Mazmur 16:7b mengatakan, “Sesungguhnya pada waktu malam batin-Ku mengajar Aku.” Ini menunjukkan kepada kita bahwa ketika Allah menasehati Kristus sebagai seorang manusia, batin Kristus mengajar Dia. Batin Kristus bersatu dengan Allah. Allah menasehati, dan batin mengajar. Ini adalah pengalaman kita yang tepat pada hari ini. Di satu pihak, Allahlah yang menasehati kita. Di lain pihak, batin kitalah yang mengajar kita. Batin kita mengajar kita kebanyakan pada waktu malam ketika kita tenang. Pada waktu malam, dari jam empat sampai jam enam pagi, saya menerima banyak hal dan banyak pengajaran dari Tuhan. Kebanyakan terang yang saya tulis di dalam gari-garis besar untuk berita-berita ini datang selama waktu-waktu ini. Ini adalah satu pengalaman dari batin kita yang mengajar kita pada waktu malam.
Ayat 8a mengatakan, “Karena Dia ada di sebelah kanan-Ku, Aku tidak akan goyah.” Karena Bapa ada di sebelah kanan Kristus, Dia tidak akan goyah. Keamanan kita bukanlah memelihara hukum taurat, melainkan memilik Yehovah, persona itu, di sebelah kanan kita. Kita tidak akan goyah karena kita memiliki Dia sebagia keamanan kita.
Ayat 9 mengatakan, “Karena itu hati-Ku bersukacita dan kemuliaan-Ku bersorak sorai; Bahkan daging-Ku akan tinggal dengan tentram.” Kemuliaan di sini mengacu kepada roh kita. Ayat ini meliput jiwa kita, yang termasuk di dalam hati kita; roh kita, yang adalah kemuliaan; dan tubuh kita, yang adalah daging. Yang ada di dalam ayat ini terjadi di dalam kematian Kristus. Ketika Dia ada di Alam Maut, Dia mengatakan, “Hatiku bersukacita, roh-Ku bersorak-sorai, dan bahkan tubuh-Ku akan tinggal dengan tentram.” Tubuh-Nya tinggal di satu kuburan yang aman.
Ayat 10 mengatakan, “Karena Engkau tidak akan menyerahkan jiwa-Ku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat liang kubur.” Kristus tidak terganggu berada di dalam Alam Maut, di dalam dunia orang mati. Alam Maut adalah dari bahasa Yunani, dan dunia orang mati adalah dari bahasa Ibrani. Keduanya mengacu kepada hal yang sama. Septuagint menterjemahkan liang kubur sebagai kebinasaan. Ini berarti bahwa tubuh Kristus tidak akan melihat kebinasaan. Tubuh ini tidak akan rusak. Ini disebabkan karena dalam tiga hari, tubuh-Nya dibangkitkan dari kuburan, dan jiwa-Nya dibangkitkan dari Alam Maut.
Ayat 11 mengatakan, “Engkau memberitahukan kepada-Ku jalan hayat.” Jalan hayat adalah jalan kebangkitan. Allah Bapa memberitahukan kepada Kristus jalan kebangkitan. Ayat 11 melanjutkan, “Di hadirat-Mu ada kepenuhan akan sukacita.” Ini adalah di dalam kenaikan Kristus. Di dalam hadirat Allah di surga ada kepenuhan akan sukacita. Akhirnya ayat 11 mengatakan, “Di tangan kanan-Mu ada kesenangan-kesenangan untuk selama-lamanya.” Di tangan kanan Allah di dalam kenaikan, Kristus sedang menikmati kesenangan-kesenangan untuk selama-lamanya.
Kita perlu memperhatikan bahwa di dalam seluruh mazmur ini, yaitu Mazmur 16, tidak disinggung sesuatu mengenai baik dan jahat. Wahyu di dalam Mazmur 16 ini jauh melampaui pemahaman alamiah kita.
Mulai dari hari kita dilahirkan, kita selalu diajar untuk memperhatikan baik dan jahat. Kita diajar bahwa kita perlu berbuat baik dan meninggalkan kejahatan. Di dalam setiap kebudayaan di seluruh benua, hal yang sama ini diajarkan. Kita mungkin adalah orang-orang yang berbeda warna kulitnya, tetapi di dalam pemikiran kita mengenai baik dan jahat, kita benar-benar sama. Kita adalah “burung-burung dengan ciri-ciri khusus yang sama” di dalam alamiah kita, yaitu konsep insani tentang yang baik dan jahat. Mazmur 15 ini penuh dengan konsep baik dan jahat. Namun, di dalam Mazmur 16, tidak ada baik dan jahat. Sebaliknya yang menggantikan yang baik dan jahat ini adalah Tuhan itu sendiri, yaitu persona itu.
Di dalam berita selanjutnya, saya akan mempersekutukan mengenai garis-garis, prinsip-prinsip, dan roh dari Alkitab. Supaya kita membaca dan mempelajari Alkitab dengan tepat, kita harus mengenal dua garis di dalam Alkitab, prinsip-prinsip di dalam Alkitab dan roh dari Alkitab.
Di dalam Alkitab ada dua garis. Setelah Allah menciptakan manusia, Allah membawa manusia ke dalam taman itu dan menaruh dia di depan dua pohon. Kedua pohon ini bukanlah satu pohon tentang yang baik dan satu pohon tentang yang jahat. Baik dan jahat berasal dari satu pohon. Kita tidak boleh melupakan hal ini. Di mata Allah, baik itu sama dengan jahat. Keduanya dianggap sebagai satu unit, sebagai satu pohon. Pohon lainnya adalah pohon hayat. Jadi, ada pohon pengetahuan baik dan jahat dan pohon hayat (Kej. 2:8-9).
Pada pohon pengetahuan baik dan jahat ini, ada pengetahuan, baik, jahat, dan maut. Jadi, pengetahuan, baik, jahat, dan maut semuanya adalah satu keluarga. Jika Anda berada di dalam keluarga baik, maka Anda ada di dalam keluarga jahat. Di mana ada kebaikan, di sana ada kejahatan; di mana ada kebaikan dan kejahatan, maka pengetahuan ada di sana; dan di mana pengetahuan, maka maut ada di sana. Keluarga ini sangat rumit dan menyulitkan. Ini mencakup pengajaran-pengajaran yang baik dari Konfusius dan perbuatan-perbuatan jahat dari para perampok bank. Keluarga apakah ini? Ini adalah keluarga tentang yang baik dan jahat. Tetapi di dalam keluarga pohon hayat, hanya ada satu hal: hayat, hayat, hayat, hayat! Tidak ada kebaikan, melainkan hayat; tidak ada kejahatan melainkan hayat; tidak ada pengetahuan, melainkan hayat; tidak ada maut, melainkan hayat. Inilah pohon hayat.
Pohon pengetahuan baik dan jahat dan pohon hayat adalah dua sumber, yang menghasilkan dua garis. Kedua garis ini dimulai dari Kejadian 2 dan menelusuri seluruh Perjanjian Lama dan Baru sampai mencapai dua ujung. Ujung yang satu bagi pohon pengetahuan baik dan jahat adalah telaga api, dan ujung lainnya bagi pohon hayat adalah Yerusalem Baru. Telaga api penuh dengan api yang menyala-nyala, sedangkan kota kudus penuh dengan air, yang mengalir dan meleraikan dan penyiraman dan penjenuhan. Jika Anda berasal dari sumber kebaikan dan kejahatan dan selalu berjalan di dalam garis baik dan jahat, maka Anda akan sampai ke telaga api. Hanya ada dua ujung di seluruh alam semesta ini: telaga api dan kota air.
Wahyu ilahi dari Alkitab menunjukkan kepada kita dua permulaan, dua sumber, dua garis, dan dua ujung, yaitu dua hasil. Jika kita bisa melihat dua garis ini, maka itu akan menjadi prinsip-prinsip yang mengendalikan kepada kita di dalam pemahaman kita akan Alkitab. Kita akan dikendalikan dan dijaga dari membuat kesalahan apa pun. Selama bertahun-tahun, di seluruh berita yang telah kita berikan, kita telah dikendalikan oleh dua prinsip ini sebagia dua garis utama di dalam Kitab suci.
Kita perlu melihat kitab Mazmur di dalam terang dari kedua garis ini. Jika kita adalah orang-orang yang mengapresiasi hukum taurat, seperti Daud di dalam Mazmur 1, maka kita berada di garis baik dan jahat. Orang-orang mungkin membayangkan apa salahnya dengan baik dan jahat. Tetapi jika kita menelurusi garis ini sampai akhir Alkitab, kita akan sampai di telaga api. Ketika Anda “mengemudikan” dan sampai pada akhir dari wahyu ilahi tentang garis ini, maka Anda tahu bahwa Anda salah. Garis baik dan jahat memimpin ke telaga api.
Persona di dalam Mazmur 2 berlindung di dalam Putra dan mencium Putra, yaitu mengasihi Putra (ay. 12). Orang ini sungguh berada di garis hayat yang memimpin kepada Yerusalem Baru. Kita perlu menjadi orang-orang yang berada di garis hayat. Persona di dalam Mazmur 15 berada di garis baik dan jahat. Namun, Mazmur 16 mewahyukan Kristus sebagai manusia-Allah. Dia telah, tetap, dan selalu akan berada di garis hayat. Kita yang berada di garis hayat ini pada akhirnya akan menjadi Yerusalem Baru, yaitu kota air hidup.
Setelah kejatuhan manusia, Alkitab memberi tahu kita bahwa Adam mempunyai dua orang anak laki-laki. Sebenarnya, saya percaya Adam mempunyai lebih banyak anak laki-laki, tetapi hanya dua orang anak laki-laki yang tercatat di dalam Alkitab karena kedua anak ini mewakili dua garis. Anak yang pertama adalah Kain, dan anak yang kedua adalah Habel. Kain adalah wakil dari baik dan jahat. Pada mulanya, ia baik. Ia mempersembahkan kurban-kurba dari jerih lelah tangannya sendiri kepada Allah. Ini adalah baik menurut cara kain, tetapi ia ditolak. Allah menolak kejahatan manusia. Allah juga meniolak kebaikan manusia seperti halnya kejahatan. Kemudian ketika Kain ditolak oleh Allah, maka ia segera berubah ingin membunuh saudaranya. Ini adalah jahat (Kej. 4:1-8). Di satu pihak, ia melakukan sesuatu yang baik. Di lain pihak, ia melakukan sesuatu yang jahat. Baik dan jahat ada di dalam garis yang sama. Kain ada di garis pohon pengetahuan baik dan jahat. Namun, Habel tidak ada di dalam garis ini. Ia menikmati Kristus sebagai kurban bakarannya untuk mengontaki Allah dan menerima Allah sebagai bagiannya. Habel berada di garis hayat.
Judul dari berita ini adalah satu pertanyaan. Ini adalah pertanyaan yang diajukan oleh Daud di dalam Mazmur 15—“Orang yang bagaimanakah yang dapat tinggal bersama dengan Allah bagi kedambaan hati-Nya dan kerelaan kehendak-Nya?” Kita mungkin mengira bahwa orang yang baik bisa tinggal bersama dengan Allah, tetapi orang yang jahat tidak bisa demikian. Baik dan jahat adalah dua garis kita. Guru-guru filosofi dan mereka yang berasal dari banyak agama semuanya mengatakan bahwa jika ada Allah, hanya orang baiklah, bukan orang jahat, yang bjsa tinggal bersama dengan-Nya. Mereka semua akan memegang konsep yang sama. Tetapi terima kasih kepada Tuhan, di dalam Alkitab, yang adalah wahyu ilahi-Nya, kita memiliki satu pasangan mazmur, yaitu Mazmur 15 dan 15, yang menunjukkan kepada kita orang yang bagaimanakah yang Allah inginkan. Allah tidak menginginkan seorang jahat atau seorang yang baik. Allah menolak orang baik seperti halnya orang jahat. Mereka berasal dari sumber yang sama, berada di dalam sifat yang sama dan di dalam kesatuan yang sama. Mereka ada di garis yang sama dan akan sampai pada ujung/akhir yang sama. Hanya manusia-Allahlah yang bisa memuaskan kedambaan Allah dan memenuhi kerelaan kehendak-Nya.
I. KONSEP DAUD—MAZMUR 15
A.
Menurut Hukum Taurat yang Diberikan oleh Allah di Gunung Sinai di sisi Garis Sentral dari Ekonomi Allah
Di dalam Mazmur 15, konsep Daud adalah menurut hukum taurat yang diberikan oleh Allah di gunung Sinai di sisi garis sentral dari ekonomi Allah. Konsepnya di dalam mazmur ini bukanlah di Sion di dalam garis sentral dari ekonomi Allah. Melainkan di Sinai. Apakah Anda mengasihi nama Sinai? Menurut Galatia 4, Sinai melambangkan satu sumber yang menghasilkan hamba-hamba, yang ditolak oleh kasih karunia Allah (ay. 24:31). Hukum taurat yang diberikan oleh Allah di Sinai berjalan di sisi garis sentral dari ekonomi Allah. Garis sisi ini selalu berjalan secara paralel dengan garis sentral.
Satan selalu ada di mana Allah ada. Kitab Ayub menunjukkan bahwa Satan bahkan pergi ke tempat kudus di surga di mana Allah ada (1:6-7). Sebelum kita akan mengadakan satu sidang, saya berdoa dengan sungguh-sungguh, meminta Tuhan mengusir segala kegelapan, segala roh najis, dan segala roh jahat. Ini disebabkan karena di mana Allah ada, Satan pun ada. Ke mana garis sentral pergi, maka garis sisi ini akan berjalan bersama untuk mengganggu dan mengalihkan Anda.
B.
Manusia yang Sempurna menurut Hukum Taurat
Mazmur 15:2-5 menunjukkan bahwa konsep Daud di dalam mazmur ini adalah bahwa manusia yang sempurna menurut hukum taurat bisa tinggal bersama dengan Allah bagi kedambaan hati-Nya dan kerelaan kehendak-Nya. Maka, ayat 5 mengataka bahwa siapa saja yang melakukan hal-hal ini tidak akan goyah untuk selama-lamanya.
II. WAHYU ILAHI—MAZMUR 16
Setelah Mazmur 15, kita melihat wahyu ilahi di dalam Mazmur 16.
A.
Menurut Ekonomi Allah
Wahyu ilahi di dalam Mazmur 16 adalah menurut ekonomi Allah dengan Kristus sebagai sentralitas dan universalitasnya, yang ditentukan oleh Allah di dalam kekekalan (Ef. 3:9, 11).
B.
Manusia-Allah, Kristus
Mazmur 16 mewahyukan manusia-Allah, yaitu Kristus, bukan mewahyukan manusia yang baik. Allah tidak mendambakan seorang manusia yang baik, melainkan mendambakan seorang manusia-Allah. Dia tidak mendambakan seorang manusia dengan dua huruf “o” seperti dalam kata good, melainkan seorang manusia dengan satu huruf “o” seperti dalam kata God. Mazmur 16 menunjukkan tentang Kristus di dalam empat tahap-Nya: tahap penghidupan insani, kematian, kebangkitan, dan kenaikan. Hanya Allah dengan Roh-Nya bisa menuliskan satu mazmur yang demikian. Pikiran manusia tidak akan pernah bisa menyusun tulisan yang demikian.
1.
Di Dalam Penghidupan Insani-Nya
Mazmur 16:1-8 mewahyukan tentang manusia-Allah, Kristus, di dalam penghidupan insani-Nya. Dia bukan hanya seorang manusia yang baik, melainkan seorang manusia-Allah. Allah menjadi seorang manusia dan hidup di bumi ini selama tiga puluh tiga setengah tahun. Dia tinggal di Nazaret sampai usia tiga puluh tahun. Kemudian Dia melayani selama tiga setengah tahun. Dia adalah Allah yang menempuh kehidupan insani di satu wilayah yang kecil secara geografis. Tanah Palestina di zaman Yesus adalah satu bidang tanah yang sangat kecil dan sempit. Dia dibesarkan di satu desa yang kecil di Nazaret di tempat yang hina di Galilea selama tiga puluh tahun. Betapa sabarnya Dia! Kemudian Dia keluar untuk bepergian di dalam ministri-Nya. Tentunya, tidak ada sarana transportasi modern seperti yang kita nikmati pada hari ini. Yesus harus bepergian dengan berjalan kaki di tanah Palestina itu.
Empa Injil menunjukkan kepada kita penghidupan insani yang menakjubkan dari manusia-Allah. Tidak ada biografi yang bisa dibandingkan dengan kehidupan Yesus. Jutaan pembaca dari empat Injil ini telah diilhami oleh perjalanan di mana Yesus Kristus hidup di bumi. Setelah penghidupan insani-Nya, Dia masuk ke dalam kematian selama tiga hari dan tiga malam. Kemudian Dia keluar dari kematian dan masuk ke dalam kebangkitan. Terakhir, Dia naik ke surga di mana Allah Bapa berada. Hari ini Dia ada di dalam kenaikan di sebelan kanan Allah Bapa. Mazmur 16 adalah satu mazmur yang pendek, tetapi mazmur ini mencakup Persona yang demikian ajaib di dalam empat tahap-Nya: penghidupan insani-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kenaikan-Nya.
a.
Menyiratkan Inkarnasi-Nya
Penghidupan insani-Nya secara spontan menyiratkan inkarnasi-Nya. Jika Dia tidak berinkarnasi dan tidak memiliki sifat insani dengan satu tubuh insani, maka Dia tidak bisa hidup di bumi. Karena Dia benar-benar berada dalam keinsanian, maka Dia tidak menakutkan siapa pun. Bahkan anak-anak kecilpun bisa datang kepada-Nya (Luk. 18:15-16). Dia begitu ajaib—karena Dia adalah Allah yang lahir untuk menjadi seorang manusia. Di dalam manusia ini, di dalam keinsanian ini, Allah hidup di bumi.
Penghidupan insani-Nya menyiratkan inkarnasi-Nya di mana Dia menjadi seorang manusia dan membawa keilahian ke dalam keinsanian (Yoh. 1:14a). Sebelumnya, yaitu sebelum inkarnasi, keilahian itu terpisah dari keinsanian. Tetapi ketika Yesus lahir, keilahian dibawa masuk ke dalam keinsnaian, dan keilahian dan keinsanian ini dibaurkan bersama untuk menghasilkan seorang manusia-Allah.
b.
Berlindung di dalam Allah dan Bersandar di dalam Pemeliharaan Allah
Kristus berlindung di dalam Allah dan bersandar di dalam pemeliharaan Allah (Mzm. 16:1). Kita bisa berdoa, “Tuhan Yesus, lindungilah kami; peliharalah kami.” Ketika Kristus seorang manusia di bumi ini, Allah yang di dalam-Nya Dia bersandar juga adalah pemelihara-Nya.
c.
Mengambil Allah sebagai Tuhan-Nya dan Tidak Memiliki Kebaikan selain Allah
Kristus mengambil Allah sebagai Tuhan-Nya dan tidak memiliki kebaikan selain Allah (Mzm. 16:2). Hari ini setiap orang di bumi, bahkan orang yang paling berdosa pun, menuntut hak-haknya. Tetapi Tuhan Yesus, ketika Dia adalah seorang manusia di bumi ini, tidak menuntut hak apa pun bagi Diri-Nya sendiri. Dia mengambil Allah sebagai Tuhan-Nya. Setiap orang memerlukan Allah sebagai Tuhannya. Tanpa Tuhan, kita tidak tahu siapa Pemilik kita itu. Para orang tua kita atau istri-istri kita bukanlah pemilik kita. Kristus Tuhan adalah Dia yang memiliki kita. Dia adalah Pemilik kita. Kristus di dalam penghidupan insani-Nya tidak memiliki kebaikan selain Allah. Kebaikan-Nya adalah Allah itu sendiri sebagai bagian-Nya.
d.
Memiliki Kesukaan di dalam Orang-orang Kudus, yaitu Keunggulan di Bumi
Kristus memiliki kesukaan di dalam orang-orang kudus, yaitu umat yang unggul di bumi ini (Mzm. 16:3). Orang-orang kudus menyiratkan gereja, Tubuh Kristus. Mengapa Kristus suka kepada orang-orang kudus? Ini disebabkan karena orang-orang kudus adalah anggota-anggota yang menyusun Tubuh-Nya, yaitu gereja. Ketika kita berkumpul di dalam sidang-sidang, banyak orang lainnya berkumpul bersama untuk berhubungan dengan hiburan duniawi dan kesenangan-kesenangan yang penuh dengan dosa. Siapakah kelompok yang unggul di mata Allah? Oleh belas kasihan Tuhan, kita adalah kelompok yang unggul itu. Di pandangan Kristus, kita adalah satu umat yang khusus dan unggul. Kristus suka akan umat Allah, dan Dia telah membuat kita menjadi unggul.
e.
Tidak Berhubungan dengan Allah-allah Lain dan Kurban-kurban Mereka, ataupun Menyebut-nyebut Nama-nama Mereka di Bibir-Nya
Kristus dalam penghidupan insani-Nya tidak berhubungan dengan allah-allah lain dan kurban-kurban mereka, ataupun Dia menyebut-nyebut nama-nama mereka di bibir-Nya (Mzm. 16:4). Dia tidak menyebut nama-nama berhala-berhala apa pun. Dia bahkan tidak menyebut nama-nama para penyembah berhala. Itu akan mencemarkan bibir-Nya.
f.
Mengambil Allah sebagai Bagian dari Warisan-Nya dan Cawan-Nya, dan Bersandar di dalam Allah yang Memelihara Bagian-Nya
Kristus mengambil Allah sebagai bagian dari warisan-Nya dan cawan-Nya (Mzm. 16:5). Warisan mengacu kepada satu harta milik, dan cawan mengacu kepada kenikmatan. Di dalam penghidupan insnai Kristus, Allah menjadi harta milik-Nya dan juga kenikmatan-Nya. Allah adalah warisan-Nya dan cawan-Nya. Pada warisan ini, ada satu bagian, dan pada cawan ini, juga ada satu bagian. Bagian dari warisan kita dan dari cawan kita pada hari ini adalah Kristus. Selain itu, Kristus bersandar di dalam Allah yang memelihara bagian-Nya (ay. 5). Hari ini seluruh bumi adalah satu kekacauan. Kelihatannya tidak ada pengharapan bagi bumi ini. Kita mungkin mengira bumi itu tiada harapan, tetapi Allah tetap memeliharannya bagi Kristus. Akhirnya, Kristus akan mewarisi bumi sebagai harta milik-Nya.
g.
Mengapresiasi Harta Milik yang Diberikan oleh Allah kepada-Nya di bawah Tali-tali Pengukur di Tempat-tempat yang Permai dan Warisan yang Indah yang Diberikan oleh Allah kepada-Nya
Kristus mengapresiasi harta milik yang diberikan oleh Allah kepada-Nya di bawah tali-tali pengukur di tempat-tempat yang permai dan warisan yang indah yang diberikan oleh Allah kepada-Nya (Mzm. 16:6; 2:8; Why. 11:15). Bumi yang kacau ini akan menjadi satu bola bumi yang menyenangkan bagi Kristus ketika Dia datang kembali untuk mewarisinya.
h.
Memberkati Allah Yang Menasehati Dia, dan Diajar oleh Batin-Nya Pada waktu Malam (melalui Kontak-Nya dengan Allah)
Kristus memberkati Allah yang menasehati Dia, dan diajar oleh batin-Nya pada waktu malam melalui kontak-Nya dengan Allah (Mzm. 16:7; Luk. 6:12).
i.
Menaruh Allah di hadapan-Nya secara Terus Menerus dan Tidak Goyah Karena Allah Ada di Sebelah Kanan-Nya
Kristus menaruh Allah di hadapan-Nya secara terus menerus dan tidak goyah (cf. Mzm. 15:5b) karena Allah ada di sebelah kanan-Nya (Mzm. 16:8; Kis. 2:25). Di dalam Yohanes 8:29 Tuhan mengatakan bahwa ketika Dia ada di bumi ini, Dia tidak pernah sendirian, karena Allah Bapa selalu menyertai Dia. Di dalam penghidupan insani Yesus, Allah Bapa menyertai Dia.
2.
Di Dalam Kematian-Nya
Di dalam Mazmur 16:9-10, kita melihat wahyu tentang manusia-Allah, Kristus, di dalam kematian-Nya (Kis. 2:26-27).
a.
Hati-Nya Bersukacita dan Roh-Nya dengan Lidah-Nya Bersorak Sorai
Mazmur 16:9a mengatakan bahwa hati Kristus bersukacita dan kemuliaan-Nya bersorak sorai. Ini berarti bahwa hati-Nya bersukacita di Alam Maut. Kata Ibrani untuk kemuliaan di dalam ayat 9 ini bisa ditafsirkan sebagai roh atau lidah. Kata Ibraninya berarti kemuilaan, tetapi Septuagint Yunani menterjemahkan kata Ibrani untuk kemuliaan ini menjadi lidah. Ketika Petrus mengutip Mazmur 16:9 ini dari Septuagint di dalam Kisah Para Rasul 2, ia mengatakan, “Lidah-Ku bersorak sorai” (ay. 26). Beberapa versi lainnya menterjemahkan kata Ibrani untuk kemuliaan sebagai mulut. Jadi, ada tiga hal yang diacukan oleh kata kemuliaan ini: roh kita, lidah kita, dan mulut kita. Di dalam kematian Kristus hati-Nya bersukacita, dan roh-Nya dengan lidah-Nya bersorak sorai.
Kita harus melatih roh kita, mulut kita , dan lidah kita di dalam sidang-sidang. Ini berarti bernubuat. Banyak kaum saleh datang ke sidang-sidang dan duduk dengan tenang. Mereka itu seperti “marmer Maria” yang ada di luar beberapa katedral Katholik. Saya ingin bertanya kepada mereka, “Di manakah roh Anda? Di manakah mulut Anda? Di manakah lidah Anda?” Di dalam sidang-sidang roh mereka tidak dilatih, mulut mereka tidak dilatih, dan lidah mereka tidak dilatih. Ketika kita berada di dalam sidang-sidang, kita harus melatih roh kita, mulut kita, dan lidah kita untuk berbicara bagi Tuhan. Dengan demikian kita akan menjadi mulia; kita akan berada dalam kemuliaan. Bila kita tidak berlatih secara demikian, maka kita berada di dalam kondisi yang rendah. Kita perlu melatih roh kita, mulut kita, dan lidah kita untuk membicarakan Kristus kepada seorang dengan yang lainnya di dalam sidang-sidang. Maka kita akan mulia karena kita melatih tiga bagian dari kemuliaan kita: roh, mulut, dan lidah.
Hati Kristus bersukacita dan kemuliaan-Nya, roh-Nya dengan lidah-Nya bersorak sorai menunjukkan bahwa Kristus taat kepada Allah bahkan sampai mati dan sampai mati di kayu salib (Flp. 2:8). Dia taat sampai mati, bukan kematian yang biasa, melainkan satu kematian yang khusus, kematian salib. Ini juga menunjukkan bahwa Kristus rela dan gembira untuk mati bagi penggenapan ekonomi Allah. Dia memberi tahu kita di dalam Yohanes 10:17-18 bahwa tidak ada seorang pun yang mengambil nyawa-Nya, melainkan Dia menyerahkannya. Dia juga memiliki otoritas untuk mengambil nyawa-Nya kembali. Dia mati bagi penggenapan ekonomi Allah.
b.
Daging-Nya (Tubuh Fisik-Nya) Tinggal dengan Tentram
Di dalam kematian-Nya, daging Kristus (tubuh fisik-Nya) tinggal dengan tentram (Mzm. 16:9b). Ini menunjukkan bahwa tubuh Kristus dikuburkan di satu kuburan yang aman (Mat. 27:59-60). Ini juga menunjukkan bahwa Kristus secara fisik beristirahat di dalam kuburan-Nya menunggu untuk dibangkitkan.
c.
Jiwa-Nya Pergi ke Dunia Orang Mati (Alam Maut) dan Tetap Tinggal Di Sana selama Tiga Hari
Jiwanya pergi ke dunia orang mati (Alam Maut) dan tetap tinggal di sana selama tiga hari (Mzm. 16:10a; Ef. 4:9).
Tidak Melihat Kebinasaan (Kebusukan) pada Tubuh Fisik-Nya
Dia tidak melihat kebinasaan (kebusukan) pada tubuh fisik-Nya (Mzm. 16:10b). Ini menunjukkan kematian dan penguburan-Nya.
3.
Di Dalam Kebangkitan-Nya
Sekarang kita sampai kepada tahap ketiga dari Kristus di dalam Mazmur 16—kebangkitan-Nya (Mzm. 16:10-11a; Kis. 2:27-28a).
a.
Allah Tidak Menyerahkan Jiwa Kristus ke Dunia Orang Mati
Allah tidak akan menyerahkan jiwa Kristus ke dunia orang mati, ataupun membiarkan Dia sebagai Orang Kudus Allah melihat kebinasaan, kebusukan (Mzm. 16:10; Kis. 2:31). Ini menunjukkan bahwa jiwa Kristus akan dibangkitkan dari Alam Maut dan juga bahwa tubuh fisik Kristus akan dibangkitkan dari kuburan (Mat. 28:6; Yoh. 20;5-9).
b.
Allah Memberitahukan kepada Kristus Jalan Hayat—Kebangkitan
Allah akan memberitahukan kepada Kristus jalan hayat—kebangkitan (Mzm. 16:11a; Mat. 28:6). Di dalam inkarnasi-Nya, Kristus membawa keilahian ke dalam keinsanian; di dalam kebangkitan-Nya, Dia membawa keinsanian ke dalam keilahian. Di dalam inkarnasi-Nya, Kristus membuat sesuatu yang ilahi menjadi insani; di dalam kebangkitan-Nya, Dia membuat sesuatu yang insani menjadi ilahi.
Di dalam kebangkitan, Kristus juga diperanakkan dari Allah untuk menjadi Putra sulung Allah (Mzm. 2:7; Kis. 13:33; Rm. 8:29). Melalui inkarnasi-Nya, Kristus mengenakan keinsanian. Di dalam kebangkitan-Nya, Dia membawa bagian insani-Nya ke dalam keilahian untuk diperanakkan dari Allah agar Dia bisa menjadi Putra sulung Allah. Di dalam kekekalan yang lampau dan sebelum kebangkitan-Nya, Dia adalah Putra tunggal Allah (Yoh. 3:16). Tetapi di dalam kebangkitan, Putra tunggal ini menjadi Putra sulung Allah dengan memiliki keinsanian-Nya diperanakkan dari Allah.
Di dalam kebangkitan Kristus, kaum beriman dilahirkan kembali untuk menjadi banyak putra Allah dan banyak saudara Kristus (1 Ptr. 1:3; Ibr. 2:10; Rm. 8:29). 1 Petrus 1:3 mengatakan bahwa melalui kebangkitan Kristus, Allah melahirkan kita kembali, yaitu semua kaum beriman. Sebenarnya, kita bukan dilahirkan kembali ketika kita percaya. Itu hanyalah menurut perkiraan kita. Menurut fakta ilahi, kita semua dilahrkan kembali bersama-sama hampir dua ribu tahun yang lalu. Ketika Kristus dalam keinsanian-Nya diperanakkan dari Allah untuk menjadi Putra sulung Allah, maka semua kaum beriman-Nya juga diperanakkan dari Allah untuk menjadi banyak putra Allah. Jadi, sekarang melalui kebangkitan Kristus, Allah memiliki sekelompok putra-putra, satu keputraan yang korporat. Sebagai putra-putra Allah, kita perlu menyadari bahwa keilahian dibawa masuk ke dalam keinsnaian kita dan sekarang keinsanian kita sedang dibawa masuk ke dalam keilahian Kristus. Kristus secara ilahi menjadi insani, dan kita secara insani menjadi ilahi. Jadi, kita sama dengan Dia dalam hayat dan dalam sifat, tetapi tidak dalam Keallahan.
4.
Di Dalam Kenaikan-Nya
Terakhir, Mazmur 16 mewahyukan tentang manusia-Allah, Kristus, di dalam kenaikan-Nya (ay. 11b & c; Kis. 2;28b).
a.
Di Hadirat Allah Mengambil Bagian dalam Kepenuhan akan Sukacita
Kristus di hadirat Allah mengambil bagian dalam kepenuhan akan sukacita, yang menunjukkan bahwa Kristus telah naik ke surga bagi pencapaian-pencapaian-Nya dan perolehan-perolehan-Nya (Mzm. 16:11b; Kis. 1:11; Flp. 2:9-11). Di dalam kenaikan-Nya, di antara banyak hal lainnya, Dia mencapai jabatan raja, jabatan Tuhan, dan kepemimpinan yang memerintah dan kelayakkan untuk menjadi seorang Penyelamat untuk menyelamatkan orang lain (Kis. 5:31). Dia juga memperoleh banyak hal di dalam kenaikan-Nya.
b.
Di Sebelah Kanan Allah Menikmati Kesenangan-kesenangan untuk Selama-lamanya
Di dalam kenaikan-Nya, Kristus sedang menikmati kesenangan-kesenangan untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, yang menunjukkan bahwa Kristus juga ada di sebelah kanan Allah di dalam kenaikan-Nya untuk mengungguli segalanya bagi penggenapan ekonomi kekal Allah mengenai gereja, yaitu Tubuh Kristus (Mzm. 16:11c; Ef. 1:20b-23). Ini adalah manusia-Allah yang ajaib yang dilukiskan di dalam Mazmur 16.
Kita perlu melihat wahyu ilahi tentang persona yang ajaib di dalam Mazmur ini. Kita mungkin seperti orang buta yang disembuhkan oleh Tuhan di dalam Markus 8. Setelah Tuhan meletakkan tangan-Nya ke atasnya, Dia bertanya kepada orang ini apakah ia melihat sesuatu. Orang buta itu menjawab bahwa ia melihat orang-orang seperti pohon-pohon yang berjalan. Tuhan harus meletakkan tangan-Nya ke atas orang ini lagi supaya ia bisa melihat dengan jelas (ay. 22-25). Kita mungkin seperti orang ini karena mata kita belum sepenuhnya terbuka. Tetapi ketika kita masuk ke dalam Mazmur ini minggu demi minggu, maka mata kita akan menjadi lebih terbuka, dan kita akan melihat lebih banyak lagi.
Mata kita perlu dibuka sampai kita memiliki satu visi yang penuh, satu wahyu yang penuh, mengenai persona yang ajaib ini. Dia adalah Firman Allah, bahkan Allah itu sendiri. Dalam kekekalan yang lampau, Dia penuh dengan keilahian tetapi tanpa keinsanian apa pun. Tetapi pada satu hari dalam waktu, Dia datang untuk berinkarnasi dan mengenakan keinsanian. Dia menjadi seorang manusia-Allah dengan satu tubuh insani dan hidup di bumi ini selama tiga puluh tiga setengah tahun. Kemudian Dia masuk ke dalam kematian untuk menggenapkan penebusan Allah menurut rencana kekal Allah, ekonomi Allah.
Kristus keluar dari kematian dan masuk ke dalam kebangkitan. Di dalam kebangkitan ini, Dia membawa keinsanian-Nya ke dalam keilahian untuk diperanakkan dari Allah untuk menjadi Putra sulung Allah, dan Allah melahirkan kembali semua kaum beriman-Nya untuk menjadi banyak putra Allah. Selain itu, di dalam kebangkitan ini, Dia menjadi Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45b). Sebagai Roh pemberi hayat, Dia sekarang ada di dalam kaum beriman-Nya sebagai hayat mereka dan suplai hayat mereka.
Dia naik ke surga untuk mencapai banyak kedudukan dan memperoleh banyak kelayakkan. Di dalam kenaikan-Nya, Dia menjadi Tuhan, Raja, Penguasa, Penyelamat, dan bahkan Kristus bagi penggenapan ekonomi Allah agar Allah dapat menghasilkan satu organisme, yaitu, Tubuh Kristus di dalam kebangkitan sebagai gereja.
Inilah Kristus yang diwahyukan di dalam Mazmur 16. Inilah manusia yang bisa singgah di kemah Allah dan tinggal di gunung kudus Allah. Manusia yang demikian ini bukanlah seorang yang baik menurut hukum taurat, melainkan seorang manusia-Allah menurut Allah itu sendiri sebagai hayat dan suplai hayat.
SEJARAH DARI MAZMUR 1—16
Dari Mazmur 1 sampai Mazmur 16, ada satu sejarah yang perlu kita lihat. Sejarah ini dimulai di dalam Mazmur 1 dengan seorang yang mengapresiasi hukum taurat, memustikakan perihal memelihara hukum taurat, dan sangat mengapresiasi penjagaan dari hukum taurat. Kemudian di dalam Mazmur 2, Allah datang untuk mengumumkan bahwa Kristus adalah Yang Diurapi-Nya. Allah mengurapi Dia dan mengangkat Dia menjadi Raja. Allah juga memperanakkan Dia di dalam keinsanian-Nya untuk menjadi Putra sulung Allah. Maka, kita semua harus berlindung di dalam Dia, percaya ke dalam-Nya. Kita juga harus mencium Dia, mengasihi Dia. Ini adalah tahap kedua dari sejarah itu.
Setelah Mazmur 2 ditulis, Daud, pengapresiasi hukum taurat ini, melakukan dosa yang paling “kasar dan buruk.” Ia melakukan percabulan dengan istri Uria dan membunuh Uria (2 Sam. 11). Kita telah melihat sebelumnya bahwa karena dosa yang mengerikan itu, ia melanggar lima perintah yang terakhir (Kel. 20:13-17). Ia membunuh Uria, melakukan perzinahan, merampas Uria dari istrinya, berdusta kepada Uria, dan mengingini istri Uria.
Judul dari Mazmur 3 mengatakan bahwa mazmur ini ditulis ketika Daud melarikan diri dari Absalom, anaknya. Daud melarikan diri dari anaknya karena anaknya memberontak terhadapnya. Pemberontakan ini adalah akibat dari dosa perzinahan dan pembunuhan Daud. Karena dosa ini, Allah membiarkan perzinahan dan pembunuhan terjadi di dalam keluarga Daud di antara anak-anaknya. Salah seorang dari anak-anak Daud melakukan perzinahan dengan anak perempuannya, dan kemudian Absalom membunuh anak yang melakukan ini (2 Sam. 13). Akhirnya, Absalom memberontak terhadap Daud (2 Sam. 15).
Di sini saya ingin menambahkan sesuatu supaya kita bisa melihat. Pada waktu Daud melakukan dosanya yang mengerikan ini, Allah menarik tangan-Nya yang menopang dari Daud. Jika Allah menginginkan, Dia bisa mengatur situasi supaya Daud tidak akan pernah melihat istri Uria. Ada semacam keadaan yang memberikan kesempatan kepada Daud untuk berdosa. Allah membiarkan hal ini terjadi kepada Daud. Kita perlu mempertimbangkan mengapa Allah mengizinkan hal ini. Daud mengapresiasi hukum taurat dan bahkan sangat memuji dirinya sendiri. Karena itu, Allah menarik tangan-Nya yang menopang dari Daud supaya Daud bisa sepenuhnya disingkapkan, bukan hanya bagi dirinya sendiri melainkan juga bagi semua anak-anak Tuhan sepanjang generasi sampai hari ini.
Daud disingkapkan sampai pada puncaknya. Saya tidak percaya bahwa ada seorang dari kita yang telah sepenuhnya disingkapkan atau disadarkan dari dosa kita. Ini disebabkan karena Allah dalam belas kasihan-Nya belum menyingkapkan kita sampai sedemikian rupa seperti Dia menyingkapkan Daud. Sulit untuk dipercaya bahwa seorang hamba Allah yang demikian saleh seperti Daud bisa melakukan dosa yang demikian mengerikan. Dia berkomplot untuk membunuh salah seorang dari prajurit-prajuritnya, dan kemudian ia merampas orang ini dari istrinya! Siapa yang bisa percaya bahwa seorang raja yang demikian saleh seperti Daud bisa berbuat demikian? Allah mengizinkan hal itu terjadi. Allah menarik tangan-Nya yang memelihara, melindungi, dan menopang dari Daud untuk sejangka waktu. Daud mengira bahwa ia memelihara hukum taurat, tetapi Allah mengatur satu lingkungan untuk menunjukkan kepadanya bahwa ia tidak bisa memelihara hukum taurat. Satu lingkungan ada di sana yang sesuai dengan daging Daud yang penuh dengan dosa, dan membiarkan dagingnya untuk keluar dan sepenuhnya menyingkapkan dirinya.
Daud melakukan dosa besar ini kira-kira seribu tahun sebelum Kristus. Bertahun-tahun kemudian, Perjanjian Baru masih mengacukan dosa ini. Bahkan di dalam silsilah Kristus, Matius 1:6 mengatakan, “Daud memperanakkan Salomo dari istri Uria.” Betapa satu catatan yang buruk! Bagaimana seseorang bisa memperanakkan seorang anak dari istri orang lain? Dauh disingkapkan bahkan sampai hari ini.
Ia disingkapkan, dan kemudian ia diuji dengan pemberontakan Absalom. Ketika Absalom mengejar dia, Daud menyampaikan doa-doa yang dicatat di dalam Mazmur 3—7. Setelah mempertimbangkan Mazmur 3—7 di dalam terang dari ekonomi Perjanjian Baru Allah, kita melihat bahwa mazmur-mazmur ini tidak seharusnya diambil sebagai contoh-contoh bagi doa kita. Di dalamnya, kita melihat penderitaan-penderitaan Daud, kedambaannya untuk membalas dendam kepada seteru-seterunya, dan kebenaran dirinya. Kita tidak melihat pertobatan, pengakuan apa pun dari kesalahannya, atau menghukum diri sendiri. Ini adalah sejarah dari seorang yang mengapresiasi hukum taurat dan yang disingkapkan. Tidak ada petunjuk atau indikasi bahwa ia merendahkan diri, bahwa ia penuh dengan penyangkalan ego, atau bahwa ia menghukum diri sendiri. Ia berada dalam pengujian selama pemberontakan Absalom, dan pengujian itu tidak menghasilkan sesuatu yang positif di dalam mazmur-mazmur ini.
Kemudian di dalam Mazmur 8, Allah datang untuk memberi ilham kepada Daud. Mazmur ini adalah pujian Daud yang memberi ilham tentang keunggulan Kristus. Setelah Mazmur 8, sejarah ini dilanjutkan dengan Mazmur 9—14, yang menunjukkan kepada kita konsep insani Daud mengenai penghakiman Allah atas musuh-musuhnya dan konsepnya mengenai kondisi manusia di hadapan Allah. Kemudian Mazmur 15 membicarakan tentang konsep Daud tentang seorang yang sempurna menurut hukum taurat bisa tinggal bersama dengan Allah bagi kedambaan hati Allah. Tetapi di dalam Mazmur 16, ada wahyu ilahi bahwa satu-satunya orang yang bisa tinggal bersama dengan Allah bagi kedambaan hati Allah adalah manusia-Allah, Kristus. Kristus manusia Allah di dalam penghidupan insani-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kenaikan-Nya adalah sentralitas dan universalitas dari ekonomi Allah, manusia yang dapat tinggal bersama dengan Allah bagi kedambaan hati-Nya dan kerelaan kehendak-Nya. Saya harap kita bisa mengingat sejarah dari keenam belas mazmur ini. Dengan demikian kita bisa memahami makna yang sesungguhnya.