← Daftar isi Mazmur (1) · bab 6/42

KONSEPSI DAUD MENGENAI PENGHAKIMAN ALLAH PADA MUSUH-MUSUH DAUD DARI SELURUH BANGSA

DAN

MENGENAI KONDISI MANUSIA DIHADAPAN ALLAH

Pembacaan Alkitab: Maz. 9-14

Kita telah melihat bahwa lingkungan pada kitab Mazmur ada dibawah pengaturan Allah. Mazmur 1 kelihatannya adalah permulaan yang unggul, tetapi sesungguhnya adalah permulaan yang sangat negatif. Kemudian Mazmur 2 masuk untuk membatalkan apa yang ada di dalam Mazmur 1. Dalam Mazmur 3 sampai 7, lagi-lagi kita melihat konsep insani Daud. Kemudian Mazmur 8 memproklamirkan, “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa 2mulianya anama-Mu di seluruh bumi!” Mazmur ini merupakan inspirasi Daud untuk memuji keunggulan Kristus. Setalah pasal 8, Pasal 9- 15 kembali merosot pada konsepsi manusia. Kemudian pada pasal 16 wahyu itu meningkat, dimana kita melihat Kristuys sebagai manusia-Allah didalam kehidupan insani-Nya, Ketersaliban, kebangkitan dan kenaikan. Mazmur 17-21 merosot dari tingkat pasal 16, tatapi tidak jatuh sejauh pada mazmur pasal 3-7 dan 9-15.

Mazmur 2-24 bangkit untuk menunjukan kepada kita sekali lagi mengenai Kristus. Mazmur 22:1 berkata “1aAllahku, Allahku, mengapa Engkau 2meninggalkan aku?” Perkataan ini adalah seruan Kristus diatas salib(Mat 27:46). Kemudian dalam Mazmur pasal 23 Kristus yang bangkit menjadi gembala kita (ay.1), Dan Gembala ini dalam Mazmur 24 menjadi Raja kita (ay.8-10). Pada Tahun 1969 kita mengadakan suatu sidang mengenai Mazmur , dan beritanya tertulis dalam buku yang berjudul Kristus dan Gereja yang Diwahyukan dan Dilambangkan di dalam Kitab Mazmur. Dalam buku ini terdapat diagram, yang dicetak ulang dalam halaman selanjutnya, memberikan kta sebuah pandangan bagaimana kitab Mazmur ditulis.

Dalam berita berikutnya, kita akn membahas Mazmur 15 dan 16, Mazmur 15:1 mengatakan pada kita “1TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam 2kemah-Mu? bSiapa yang boleh diam di gunung-Mu yang ckudus?” Jawaban Daud adalah – seseorang yang sempurna menurut hukum taurat (ay.2-5). Tetapi dalam seluruh alam semesta hanya ada seorang yang sempurna menurut hukum taurat –Yesus Kristus. Tidak ada yang lain. Semua yang lainnya telah menyangkal hukum taurat. Kita telah melihat bagaimana Daud menjunjung tinggi hukum Taurat, tetapi dengan kegagalannya mengenai Uria, Daud menyangkal lima perintah yang terakhir (Kel.20:13-17). Ia membunuh, ia berzinah, ia mencuri isteri oang lain, ia berbohong pada Uriah, dan ia menginginkan isteri Uriah (2 Sam 11).

Kelima perintah yang terakhir melarang untuk membunuh, berzinah, mencuri, berdusta, dan menginginkan milik orang lain, perintah ini diberikan oleh Allah dengan tujuan agar manusia memiliki kebajikan insani untuk mengekspresikan atribut-atribut Ilahi. Jika pembunuhan, perzinahan, pencurian, dusta, atau menginginkan milik orang lain tidak ada pada kehidupan manusia, maka Kerajaan Surga sungguh-sungguh ada di atas bumi. Koran-koran hari ini melaporkan semua hal hal yang jahat yang terjadi di dunia setiap hari. Bumi telah dipenuhi dengan pembunuhan, perzinahan, pencurian, tipu dusta, dan iri hati.

Tidak ada yang sempurna berdasarkan hukum taurat. Paulus berkata dalam Perjanjian Baru bahwa tidak ada daging yang dapat didamaikan oleh Allah kepada siapa saja yang memelihara hukum Taurat (Rom 3:20; Gal 2:16). Satu-satunya yang dapat dan telah melakukan hukum taurat adalah Seorang yang tidak berselubung pada Mazmur pasal 16. Manusia ini adalah sungguh-sungguh Allah yang menjadi manusia dan hidup pada kehidupan manusia (ay.1-8). Dalam kehidupan insani-Nya, Ia memelihara hukum taurat dengan sempurna. Ia memperhidupkan suatu hayat yang penuh dengan kebajikan-kebajikan insani yang mengekspresikan kebajikan-kebajikan Ilahi. Kemudian Dia mati (ay.9-10) dan telah bangkit (ay.10-11a). Sekarang Ia berada dalam posisi kenaikkan di sebelah kanan Allah (ay.11b&c). Ia adalah Seorang yang dapat berdiam dalam Tabernakel Allah dan tinggal bersama dengan Allah di Gunung Kudus. Kita akan melihat lebih banyak mengenai Mazmur pasal 15 dan 16 pada berita selanjutnya.

Pada berita ini kita akan membahas Mazmur 9-14. Dalam Mazmur pasal 9 kita melihat konsepsi Daud mengenai penghakiman Allah terhadap musuh-musuh Daud diantara bangsa-bangsa. Hari ini semua negara-negara Arab adalah musuh Israel. Sangat disesalkan bahwa Israel belum berpaling kepada Allah, tetapi Alkitab mengatakan kepada kita bahwa meskipun Israel telah memiliki bentuk suatu bangsa, mereka tidak akan berpaling kepada Allah sampai Kristus datang kembali (Zech. 12:10). Hari ini Israel, seperti Daud, diserahkan kepada musuh. Sebagai tambahan pada musuh-musuh yang mengelilingi Daud, Daud memiliki lawan yang hebat dari dalam, bahkan dari rumahnya sendiri. Anaknya Absalom menjadi pemimpin perlawan yang hebat.

Dalam Mazmur pasal 10-14 Daud berbicara mengenai kondisi manusia dihadapan Allah. Sangat sulit untuk menemukan bagian lain dari Alkitab yang menampakan kepada kita gambaran yang lengkap dari kondisi manusia seperti yang ada pada Mazmur ini. ketika Paulus memberitakan injil di Roma, Ia mengutip dari bagian Firman ini (Rom.3:10-12,14)

I. MENGENAI HUKUM TAURAT YANG DIBERIKAN OLEH ALLAH BERDAMPINGAN DENGAN GARIS PUSAT EKONOMI-NYA

Konsepsi Daud pada Mazmur ini adalah mengenai pada hukum taurat yang diberikan oleh Allah berdampingan dengan garis sentral ekonomi-Nya. Allah memiliki sebuah ekonomi, dan dalam ekonomi Allah terdapat garis sentral. Garis sentral ini adalah Kristus diperbesar untuk memiliki pasangan, yaitu Gereja-Nya. Maka, Kristus dan Gereja adalah garis sentral dari ekonomi Allah. Tetapi konsepsi Daud dalam Mazmur pasal 9-14 tidak berada dalam garis ini. konsepsi Daud adalah menurut hukum taurat, garis kedua yang berjalan berdampingan dengan garis sentral. Hukum taurat bukanlah garis sentral. Hukum taurat adalah garis di sisi yang berjalan bersama dengan garis sentral.

II. BERDASARKAN PADA PRINSIP BAIK DAN JAHAT--- PRINSIP DARI POHON PENGETAHUAN BAIK DAN JAHAT

Konsep Daud pada Mazmur ini juga berdasarkan atas prinsip baik dan jahat –prinsip dari pohon pengetahuan baik dan jahat (Kej. 2:9). Mazmur ini memperlihatkan bahwa Daud penuh dengan pengetahuan baik dan jahat. Saya bahkan berkata bahwa dalam Mazmur ini diri Daud sendiri adalah pohon pengetahuan baik dan jahat. Sekarang saya ingin kita untuk mengetahui jenis “pohon” apakah kita. kita semua seharusnya pantas untuk memproklamirkan bahwa kita adalah pohon hayat. kita seharusnya tidak menjadi orang yang meministrikan baik dan jahat kepada orang lain. Kita seharusnya meministrikan Kristus sebagai Hayat. sejak saya memulai ministri di Amerika pada tahun 1962, seluruh berita saya berada pada prinsip pohon hayat.

III. MENGENAI PENGHAKIMAN ALLAH PADA MUSUH-MUSUH DAUD DIANTARA BANGSA-BANGSA

Mazmur 9 menampakan konsepsi Daud mengenai Penghakiman Allah pada musuh-musuh Daud diantara bangsa-bangsa.

A. Allah Duduk diatas Tahta sebagai Raja untuk Menghakimi Dunia dalam Keadilbenaran dan dengan Wajar

Daud berkata bahwa Allah duduk diatas tahta sebagai Raja untuk menghakimi dunia dalam keadilbenaran dan dengan wajar (Mazmur 9:4, 7-8). Kita mungkin merasa bahwa dunia ini adalah baik, tetapi kita perlu menyadarinya dalam terang dari Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, kita diberitahu bahwa Kristus adalah Raja, bahkan Penguasa seluruh raja-raja (Why. 1:5; 19:16), duduk diatas tahta bukan untuk menghakimi tetapi untuk menyelamatkan. Hari ini kita memiliki Raja Penyelamat. Kisah Para Rasul 5:31 mengatakan bahwa Allah menempatkan Kristus di sebelah Kanan-Nya sehingga Ia menjadi Penguasa dan Penyelamat. Pemikiran Daud adalah bahwa Allahnya adalah Raja diatas tahta untuk menghakimi—bukan untuk menyelamatkan dunia dalam belas kasihan dan kasih karunia tetapi untuk menghakimi dunia dalam keadilbenaran dan dengan sewajarnya. Dengan sewajarnya makna sederhananya adalah dengan keadilan. Tetapi konsep ini menurut hukum taurat dan menurut pohon pengetahuan baik dan jahat.

B. Allah Menghardik bangsa-bangsa, membinasakan yang jahat, dan Meruntuhkan Kota-kota mereka

Daud berkata bahwa Allah menghardik bangsa-bangsa, membinasakan yang jahat dan meruntuhkan kota-kota mereka (maz. 9:5-6).

C. Allah membela Hak Daud dan Perkara-perkaranya

Daud juga berkata bahwa Allah membela haknya dan perkara-perkaranya dan melenyapkan musuh-musuhnya (Maz. 9:3-4a). Ini berarti Allah tidaklah baik untuk dunia, tetapi Asllah sangat baik untuk Daud. Daud berpikir bahwa Hakimnya di surga membela perkaranya dan melenyapkan musuh-musuhnya. Hal ini tidak berdasarkan konsep ilahi dalam Perjanjian Baru.

D. Untuk hal ini, Daud Mengucap Syukur kepada Allah dan menceritakan segala perbuatan-Nya yang ajaib dan terpuji

Untuk hal ini, Daud mengucap syukur kepada Allah dan menceritakan segala perbuatan-Nya dan memuji (Maz.9:1, 14a). Perbuatan yang ajaib adalah perbuatan-perbuatan yang luar biasa, dan terpuji disini berarti kebaikan-kebaikan.

E. Allah menjadi tempat perlindungan bagi orang yang terinjak

Daud berkata bahwa Allah adalah benteng perlindungan yang tinggi untuk orang yang terinjak, tidak meninggalkan pencari-pencari-Nya, mengingat yang terbunuh, dan tidak melupakan teriakkan yang tertindas (Maz. 9:9, 10b, 12). Jika Allah mengingat yang telah terbunuh, Daud seharusnya tidak melupakan Uria, seseorang yang dibunuh oleh persengkongkolannya.

F. Daud menasehati yang lainnya untuk meletakan kepercayaan mereka pada Allah

Daud menasehati yang lainnya untuk meletakkan kepercayaan mereka pada Allah, menyanyikan mazmur bagi Dia dan menberitakan perbuatan-Nya diantara orang-orang, dan bersorak-sorak dalam keselamatan Allah (Maz. 9:10-11, 14). Apa yang diperbuat Daud dalam Mazmur pasal 9-14 tidak terdapat pada Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Ini adalah “perjanjian” Daud sendiri.

G. Bangsa-Bangsa Terbenam dalam Lubang yang mereka buat sendiri

Daud berkata bahwa bangsa-bangsa terbenam dalam lubang yang mereka buat sendiri; kaki mereka terjerat dalam jaring yang mereka pasang sendiri; Orang yang jahat terperangkap pada perbuatannya sendiri; dan semua bangsa-bangsa yang melupakan Allah akan kembali ke dunia orang mati (Maz. 9:15-17). Perkataan macam itu seakan-akan seperti mereka telah berada di dunia orang mati. Kemudian Daud berdoa bahwa Allah akan mengirim mereka kembali dan tidak akan membiarkan mereka keluar dari dunia orang mati. Doa macam apakah ini? apakah ini Perjanjian Baru? Lagi-lagi ini adalah “perjanjian” Daud.

H. Orang yang miskin tidak selalu dilupakan

Daud juga berkata bahwa orang miskin tidak akan selalu dilupakan oleh Allah, orang yang sengsara juga tidak selamanya hilang harapan (Maz. 9:18).

I. Daud Memohon Allah untuk melihat kesengsaraannya dan tidak membiarkan manusia merajalela

Daud memohon kepada Allah untuk melihat kesengsaraannya dan tidak membiarkan manusia merajalela, tetapi membiarkan bangsa-bangsa mengetahui bahwa mereka adalah manusia saja (Maz. 9:13a,19,20b). Hal itu seperti Daud mengatakan, “ Allah, Kau harus mengatakan kepada bangsa-bangsa bahwa mereka hanya manusia biasa. Sejak mereka menjadi manusia, mereka tidak dapat merajalela untuk melawan aku karena aku berada dalam perlindunganMu; maka lihatlah kesengsaraanku.” Tetapi bagaimana dengan dosa Daud? Isterinya adalah isteri seorang laki-laki yang ia bunuh. Seribu tahun kemudian, ketika Matius menuliskan daftar nenek moyang Kristus, ia berkata, “Daud memperanakkan Salomo dari perempuan yang adalah isteri Uria” (1:6). Daud, seorang yang diperkenan oleh Allah (1 Sam 13:14; Kis. 13:22), melakukan perbuatan yang benar di mata Tuhan seumur hidupnya kecuali satu kejahatan ini (1 Raja 15:5).

IV. MENGENAI KONDISI MANUSIA DIHADAPAN ALLAH

Mazmur 10-14 memperlihatkan kepada kita konsepsi Daud mengenai kondisi manusia dihadapan Allah.

A. Daud menantang Allah

Daud menantang Allah, berkata “1Mengapa Engkau berdiri ajauh-jauh, ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?” (Maz.10:1). Daud berdoa, tetapi Allah tidak menjawab secara mutlak mengenai apa yang didoakannya, maka hal itu mengesalkan Daud. perkataan itu sama saja jika Daud bertanya kepada Allah, “Mengapa Kau menyembunyikan diri-Mu ketika aku memerlukan-Mu di waktu kesesakkan? Sepertinya semakin aku berteriak pada-Mu, semakin Kau menghilang.”

B. Dosa manusia yang jahat menentang umat dan keangkuhan menentang Allah

Dalam Mazmur 10:2-11 Daud menggambarkan dosa manusia yang jahat melawan umat dan keangkuhan melawan Allah. Manusia yang jahat berfikir bahwa tidak ada Allah, sehingga mereka dapat melakukan apa pun yang mereka suka (ay.4). Ayat 2-11 menggambarkan kondisi manusia. Sesungguhnya, Daud menuduh seluruh umat manusia pada ayat ini.

C. Permohonan Daud kepada Allah

Mazmur 10:12-15 adalah permohonan Daud kepada Allah. Setelah ia menggambarkan kondisi manusia, ia meminta Allah untuk datang untuk menghakimi yang jahat.

D. Pujian Daud kepada Allah

Mazmur 10:14b dan 16-18 adalah pujian Daud. Isi dari pujian ini adalah negatif. Ia berkata, “TUHAN adalah aRaja untuk seterusnya dan selama-lamanya. Bangsa-bangsa lenyap dari tanah-Nya.” (ay. 16). Daud tidak memuji Tuhan untuk bangsa-bangsa diselamatkan oleh kasih karunia Allah, tetapi untuk penghukuman bangsa-bangsa. Menurut wahyu dari Perjanjian Baru, Allah tidak menyukai pujian macam ini.

E. Allah berada di Bait Kudus-Nya, Tahta-Nya berada di Surga, dan Mata-Nya melihat Manusia yang benar dan manusia yang jahat

Dalam Mazmur 11 Daud berkata bahwa Allah berada di bait Kudus-Nya, Tahta-Nya berada di Surga, dan mata-Nya melihat manusia yang benar dan manusia yang jahat. Ayat 6 berkata bahwa Yehova “menghujani orang-orang fasik dengan arang aberapi dan belerang; angin yang menghanguskan, itulah isi piala mereka.” Jika terjadi demikian maka dunia sudah dihancurkan. Tidak ada kemungkinan bagi milyaran manusia untuk hidup diatas bumi. Ayat 7 mengatakan, “Sebab TUHAN adalah adil dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya” Daud mengatakan hal ini, tetapi dirinya sendiri tidak benar. Sesungguhnya, ia berada dalam kegelapan tanpa menyadarinya. Ia tidak berkualifikasi untuk mengatakan hal ini karena ia pembunuh seorang laki-laki dan mengambil istri laki-laki itu.

F. Permohonan Daud dan Keinginan Yehova untuk mengikat perjanjian dengan orang fasik pada mulut dan lidah mereka

Dalam Mazmur 12 kita melihat permohonan Daud dan keinginan Yehova untuk mengikat perjanjian dengn orang fasik pada mulut dan lidah mereka. Dalam ayat 2a Daud berkata, “Setiap orang berkata dusta, yang seorang kepada yang lain,” tetapi Daud tidaklah berbeda dengan mereka; ia juga berkata dusta. Sama seperti semua konsepnya berdasarkan dan dengan hukum taurat dan menurut baik dan jahat.

G. Daud menasehati Allah

Bahwa Ia berkuasa mengalahkan Musuh-Nya

Mazmur 13 menunjukkan bahwa Daud menasehati Allah bahwa ia dapat mengalahkan musuh-Nya. Dalam zaman Perjanjian Baru hari ini, dapatkah kita pergi kepada Allah dan meminta Dia untuk mengalahkan musuh-musuh kita, orang yang membenci kita? Kita tidak dapat melakukan ini karena Perjanjian Baru memberitahu kita untuk mengasihi musuh kita dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (Mat. 5:44; Rm. 12:14, 20). Dalam Mazmur 13:3, Daud berkata, “Pertimbangkanlah dan jawablah aku, O Yehova, Allahku! Berilah penerangan pada mataku, supaya jangan aku tertidur seperti tidur orang mati.” Daud takut bahwa ia akan mati ketika ia sedang tidur. Ia takut tertidur seperti tidur orang mati.

H. Penanggulangan Allah pada Orang Bodoh yang Rusak

dan Keselamatan-Nya pada Umat-Nya

Dalam Mazmur 14 kita melihat konsep Daud tentang penanggulangan Allah pada orang bodoh yang rusak dan keselamatan-Nya pada umat-Nya. Ayat 3 berkata, “Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.” Perkataan ini dikutip oleh Paulus di dalam Roma 3:12. Ayat terakhir di dalam Mazmur 14 adalah suatu nubuat yang baik tentang kembalinya orang Israel dari penawanan—“ Oh, datanglah kiranya dari Sion keselamatan bagi Israel! Apabila Yehova memulangkan umat-Nya yang tertawan, maka Yakub akan bersorak-sorak, Israel akan bersukacita.

Mazmur 9-14 menunjukkan pada kita seorang manusia yang dikira sangat saleh, namun pemikirannya, konsepnya, seluruhnya dibungkus dengan hukum Taurat dan dengan pohon pengetahuan baik dan jahat. Mazmur ini adalah pemikiran Daud tentang kemakmurannya. Dalam prinsipnya, enam mazmur ini adalah sama seperti Mazmur 3-7. Tidak ada satupun di dalam mazmur ini yang berkaitan dengan ekonomi Allah, kepentingan Allah, kerajaan Allah, atau rencana Allah. Tetapi segala sesuatu adalah mengenai keuntungan pribadi, kepentingan pribadi, keamanan pribadi, dan damai sejahtera pribadi Daud. Apakah kamu berpikir bahwa hal ini seharusnya menjadi model bagi kita? Tentu saja seharusnya tidak. Kita harus tinggal di dalam garis pohon hayat, garis yang dibahas dalam Mazmur 2 dan 8.

Saya percaya bahwa belajar Firman demikian, menurut prinsip wahyu ilahi, akan membantu semua dari kita untuk memahami Kitab Suci. Kitab Suci adalah tulisan Allah. Ketika kita membacanya, kita tidak seharunya memahaminya menurut cara kita atau konsep kita. Seseorang mungkin sangat terdidik dan terpelajar, namun tidak menerima sedikitpun wahyu ilahi dari Alkitab. Ini karena ia memahami Alkitab, menafsirkannya, mengapresiasinya, mengajarkannya menurut pemahaman alamiahnya.

Dalam pemulihan Tuhan di antara kita di dalam tujuh puluh tahun terakhir, sejak waktu Saudara Watchman Nee, penafsiran yang tepat dari Alkitab selalu terpelihara di dalam prinsip Alkitab. Orang-orang mungkin mengkritik kita, namun tidak seorang pun dapat menuduh kita dengan mengatakan sesuatu menentang prinsip Firman. Inilah sebabnya saya gembira memiliki pelajaran hayat ini untuk menunjukkan pada kita perbedaan antara Mazmur 1 dan Mazmur 2 dan perbedaan antara Mazmur 3-7 dan Mazmur 8. Sekarang kita telah mempertimbangkan Mazmur 9-14. Berdasarkan pada apa yang telah kita lihat menurut prinsip Alkitab, tidak ada satu poin pun di dalam enam mazmur ini yang sesuai standar wahyu ilahi.

Hari ini di dalam prinsip Perjanjian Baru, Allah memiliki takhta, dan Dia sungguh-sungguh sedang duduk di atas takhta. Tetapi takhta hari ini disebut takhta kasih karunia (Ibr. 4:16). Selanjutnya dari kekekalan lampau sampai kekekalan yang akan datang, maksud Allah adalah untuk mengasihi dunia. Yohanes 3:16 berkata, “Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya ke dalam-Nya tidak binasa, tetapi beroleh hayat yang kekal.” Perkataan di dalam Yohanes 3:16 menunjukkan kejatuhan ras manusia. Allah mengasihi ras manusia yang jatuh, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk mati bagi kita supaya kita tidak binasa melaikan beroleh hayat yang kekal melalui percayanya kita ke dalam Dia. Prinsip dasar Perjanjian Baru adalah bahwa Allah mengasihi manusia jatuh. Jika tidak demikian, tidak seorang pun dari kita dapat diselamatkan. Kita semua telah diselamatkan menurut prinsip bahwa Allah mengasihi ras manusia. Meskipun kita ras manusia, jatuh dan menjadi duniawi, Allah mengasihi kita.

Oleh karena itu, takhta Allah hari ini bukan takhta dari Raja yang berkuasa. Takhta-Nya hari ini adalah takhta dari Juruselamat yang mengasihi. Takhta otoritas ini hari ini telah menjadi takhta kasih karunia. Setiap hari dan bahkan setiap saat, kita dapat datang mendekati takhta kasih karunia ini supaya kita dapat menerima belas kasihan dan menemukan kasih karunia untuk pertologan pada waktunya (Ibr. 4:16). Ini adalah dispensasi kasih karunia hari ini yang didirikan oleh Allah. Perjanjian Lama adalah dispensasi hukum Taurat, tetapi Perjanjian Lama bahkan berbicara tentang belas kasihan Allah. Dalam Hosea 6:6 Allah berkata, “Karena Aku menginginkan belas kasihan, dan bukan persembahan.” Tuhan Yesus mengutip perkataan ini di dalam Matius 9:13. Allah mengasihi belas kasihan karena Dia adalah Allah yang berbelas kasihan, Allah kemurahan, Allah ingin melihat umat disenangkan dengan belas kasihan-Nya, tidak dihakimi oleh diri-Nya yang benar. Ini adalah prinsip di dalam Alkitab. Ketika kita menafsirkan atau mengajarkan Alkitab, kita perlu memperhatikan prinsip yang mengendalikan.