← Daftar isi Mazmur (1) · bab 5/42

KONSEP DAUD MENGENAI KEHIDUPAN YANG SALEH DIBANDINGKAN DENGAN PUJIANNYA YANG BERSEMANGAT AKAN KEUNGGULAN KRISTUS (2)

Pembacaan Alkitab: Mzm. 8

Dalam berita ini kita sampai pada Mazmur 8. Semakin kita membaca mazmur ini, semakin kita harus mengakui bahwa kitab ini sepenuhnya bahasa surgawi. Tidak ada kata manusia yang dapat mengekspresikan konsep ilahi di dalam mazmur ini. Bahasa surgawi di dalamnya harus berasal dari wahyu ilahi.

Dalam berita sebelumnya. Kita melihat konsep Daud mengenai kehidupan yang saleh dalam Mazmur 3-7. Dalam berita ini kita ingin melihat pujiannya yang bersemangat akan keunggulan Kristus di dalam Mazmur 8. Jika kita membaca Mazmur 3-7 dengan banyak doa, kita dApat menyadari bahwa semua pasal ini berada pada tingkat yang sama dan di dalam kategori yang sama. Pasal ini banyak menjelaskan hal yang buruk, menunjukkan bahwa bumi adalah bumi yang kacau. Tetapi ketika kita membaca Mazmur 8, kita merasa bahwa kita tidak berada di bumi yang kacau ini. Ketika kita sampai pada Mazmur 8, nadanya berubah.

Saya akan membaca mazmur ini, sehingga kita dapat mempertimbangkannya ayat demi ayat. Dalam ayat 1 Daud berkata, “O Yehova, Tuhan kami, betapa unggulnya nama-Mu di seluruh bumi! Kemuliaan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan!” Ayat pertama ini membahas baik bumi maupun langit. Dalam pasal 3-7, bumi kacau, tetapi dalam Mazmur 8 ada sesuatu yang unggul di atas bumi. Butir yang unggul ini adalah keunggulan nama Tuhan Yesus. Dia tidak berada di sini hari ini secara fisik, tetapi nama-Nya ada di sini. Hari ini, bumi ini tidak ada apa-apa selain kekacauan. Tetapi, syukur pada Tuhan, setidaknya di bumi ini ada sesuatu yang unggul—nama Yesus! Nama-Nya adalah nama yang ditinggikan, nama yang dimuliakan.

Ayat 1 menyebutkan baik bumi maupun langit. Kita perlu menyadari bahwa mazmur ini mencoba yang terbaik untuk mengikatkan bumi dengan langit dan untuk membawa turun langit ke bumi. Dalam ayat 1 kita dapat melihat ikatan ini. Nama Yehova unggul di seluruh bumi, dan Dia telah mendirikan kemuliaan-Nya mengatasi segala langit. Sebenarnya, langit adalah sumber dari keunggulan. Keunggulan tidak dimulai dari bumi, tetapi dari langit.

Ayat 2 berkata, “Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kaudirikan dasar kekuatan karena seteru-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.” Ayat ini menunjukkan tiga kategori negatif dari persona: seteru, musuh, dan pendendam. Di atas langit ada kemuliaan Allah, dan di bumi nama Yesus unggul, Tetapi di alam semesta ini, masih ada banyak seteru, musuh, dan pendendam. Seteru adalah mereka yang ada di dalam, musuh adalah mereka yang ada di luar, dan pendendam adalah mereka yang lari ke belakang dan ke depan (bandingkan Ayub 1:7). Satan dapat ditandai oleh tiga kategori ini. Pertama, Satan berada di dalam kerajaan Allah. Lalu Satan menjadi musuh di luar, di luar kerajaan Allah. Dia juga adalah pendendam, berlari ke belakang dan ke depan. Di atas langit ada kemuliaan, dan di atas bumi ada nama yang unggul. Tetapi di antara langit dan bumi ada seteru di dalam, musuh di luar, dan pendendam berlari ke belakang dan ke depan.

Apa yang Allah akan lakukan tentang hal ini? Allah melakukan sesuatu dengan cara yang rampung. Dia mendirikan pujian-Nya yang keluar dari mulut bayi-bayi dan anak-anak menyusu, orang yang paling muda, paling kecil, dan paling lemah. Bayi sedikit lebih kuat daripada anak yang menyusu, dan anak yang menyusu agaknya sedikit lebih kecil daripada bayi, tetapi keduanya berada dalam kategori paling kecil dan paling lemah.

Dalam berita ini saya ingin bertanya, apakah kita menganggap diri kita sebagai bayi-bayi dan anak-anak menyusu? Mungkin beberapa dari kita memiliki gelar doktor, atau yang lain adalah para senior sekolah tinggi. Apakah kita senior, atau kita adalah anak-anak yang menyusu? Jika kamu bertanya pada saya, saya akan berkata bahwa saya adalah anak menyusu yang paling kecil. Di dalam kerajaan Allah tidak ada persona yang usang. Tuhan Yesus memberitahu orang, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga” (Mat. 18:3). Dia juga berkata, “Biarkanlah anak-anak kecil itu dan jangan menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku, sebaba orang-orang yang seperti itulah yang empunya kerajaan surga” (19:14). Tuhan menekankan bahwa untuk berpartisipasi dalam kerajaan surga, kita harus menjadi seperti anak kecil. Semua orang yang berada dalam kerajaan surga adalah seperti bayi-bayi. Seorang saudara mungkin berumur lebih dari enam puluh tahun, tetapi di dalam kerajaan Allah dia adalah seorang anak yang menyusu.

Mazmur 8 adalah puisi. Tulisan puisi tidak seharusnya dipahami hanya secara fisik dan literal. Kita harus memahami butir-butirnya menurut cara puisi. Bayi-bayi bukanlah bayi-bayi yang sesungguhnya, dan anak-anak menyusu bukanlah anak-anak menyusu sesungguhnya. Ini adalah anak-anak dari kerajaan surga. Semua orang yang berada dalam kerajaan surga adalah bayi-bayi atau anak-anak menyusu. Jika kita menganggap bahwa kita adalah orang dengan gelar atau status yang tinggi, bahwa kita memiliki gelar doktor, bahwa kita para senior, kita tidak berada di dalam kerajaan. Para saudara dan saudari yang adalah senior di sekolah tinggi tidak seharusnya mengambil pendirian ini di dalam hidup gereja. Kita tidak seharusnya menjadi para senior, tetapi menjadi anak-anak yang menyusu. Maksud pemazmur bahwa kita, anak-anak Allah, semuanya adalah bayi-bayi dan anak-anak menyusu, namun Allah dapat membuat kita memuji Dia.

Mazmur 8:2 berkata bahwa Tuhan telah mendirikan kekuatan yang keluar dari mulut bayi-bayi dan anak-anak menyusu. Kelihatannya, kekuatan bukan mengacu pada sesuatu yang keluar dari mulut. Ketika Tuhan mengutip ayat ini di dalam Matius 21:6, Dia menggunakan kata pujian bukan kekuatan. Orang yang lemah di dalam diri mereka sendiri tidak dapat memuji. Menangis atau meratap tidak memerlukan kekuatan, tetapi untuk memuji memerlukan kekuatan. Ketika kita bergosip, berdebat, atau beralasan dengan orang, hal itu tidak memerlukan kekuatan. Tetapi tanpa kekuatan, kita tidak dapat memuji Tuhan. Beberapa pujian mungkin keluar dari mulut kita, tetapi pujian itu tidak dapat dianggap sebagai pujian yang sempurna, karena pujian itu tidak begitu penuh kekuatan. Memuji harus penuh kekuatan. Seringkali ketika kaum saleh sedang memuji Tuhan, kita dapat melihat kekuatan.

Versi Septuagint dari Mazmur menerjemahkan kata Ibrani untuk kekuatan menjadi pujian di dalam Mazmur 8:2. Terjemahan ini dikutip oleh Tuhan di dalam Matius 21:16. Ini berarti bahwa Tuhan mengakui bahwa terjemahan ini adalah benar. Para pelajar Alkitab yang menerjemahkan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani versi Septuagint melakukannya dengan memiliki beberapa pengetahuan rohani. Memuji adalah memiliki kekuatan di dalam mulut kita. Allah dapat bekerja di dalam penebusan-Nya sampai pada tahap bahwa orang yang paling lemah dan paling kecil dapat memiliki kekuatan untuk memuji Dia. Allah telah mendirikan hal ini.

Kata Ibrani untuk mendirikan adalah kata yang sulit untuk diterjemahkan. Dalam kutipan Tuhan di dalam Matius 21:16, di sana dkatan bahwa Dia telah “menyempurnakan” pujian yang keluar dari mulut bayi-bayi dan anak-anak menyusu. Mazmur 8 berkata bahwa Dia mendirikan kekuatan yang keluar dari mulut bayi-bayi dan anak-anak menyusu, tetapi Tuhan Yesus mengutipnya dengan berkata bahwa Dia menyempurnakan pujian. Apakah pujian kita sempurna? Kita harus mengakui bahwa pujian kita sepenuhnya tidak sempurna. Mazmur 8 bukanlah mazmur yang panjang, tetapi mazmur yang lengkap, disempurnakan, dan sempurna. Jika kita kekurangan kekuatan, kita tidak dapat memuji. Jika kita tidak memiliki kekuatan ekstra, kita tidak dapat memiliki mpujian yang lengkap, disempurnakan, dan sempurna.

Di atas bumi, nama Tuhan unggul; kesemarakan Tuhan, kemuliaan-Nya mengatasi langit. Di antaranya ada seteru, musuh, dan pendendam, yang dihentikan oleh kekuatan pujian yang keluar dari mulut orang yang terkecil dan terlemah. Inilah perampungan ajaib Allah. Perampungan tertinggi dari pekerjaan Tuhan di dalam penebusan-Nya adalah untuk menyempurnakan pujian kepada Dia yang keluar dari mulut orang yang terkecil dan terlemah.

Tuhan melakukan ini karena seterunya, dengan tujuan menghentikan musuh dan pendendam. Terjemahan bahasa Cina menunjukkan bahwa untuk menghentikan musuh dan pendendam berarti menutup mulut mereka. Hari ini di hadapan Tuhan dan Allah, mulut Satan telah ditutup. Di seluruh alam semesta, ada banyak suara. Para seteru memiliki suara mereka, musuh memiliki suaranya, dan pendendam memiliki suaranya. Tetapi semua suara ini telah dihentikan oleh Kristus yang menang. Dia telah mengalahkan semua musuh Allah di alam semesta, maka Dia dapat menyempurnakan pujian kepada Dia yang keluar dari mulut orang yang paling kecil dan paling lemah, untuk menghentikan suara musuh-Nya dan pendendam-Nya.

Ayat 3 berkata, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan.” Daud tidak berkata bahwa dia melihat langit itu, tetapi dia melihat “langit-Mu.” Kita memiliki kidung dari mazmur ini di buku kidung kita (Kidung, # S 3). Di bait kedua dari kidung ini, penulis menunjukkan matahari, bulan, dan bintang-bintang. Penulis menambahkan kata matahari, tetapi ini adalah salah. Dalam Mazmur 8, Daud hanya melihat bulan dan bintang-bintang, bukan matahari. Kita tidak dapat melihat matahari, bulan, dan bintang-bintang pada saat yang sama. Ketika kita melihat bulan dan bintang-bintang, kita tidak dapat melihat matahari.

Bulan dan bintang-bintang di dalam Mazmur 8 menunjukkan bahwa itu ada di malam hari. Di waktu malam, segala sesuatunya gelap. Tetapi pemazmur mangarahkan matanya untuk melihat pada Bapa segala langit. Di malam hari, dia melihat bulan dan bintang-bintang yang telah Allah atur. Para ilmuwan dapat bersaksi untuk pengaturan ini. Pengaturan ilahi bulan dan bintang-bintang adalah sungguh-sungguh ajaib.

Setelah pemazmur mengalihkan pandangannya dari bumi yang kacau ke langit yang cerah, dia berkata, “Apakah manusia fana, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengunjunginya?” (ay. 4). Dia mengalihkan pandangannya dari bulan dan bintang-bintang di langit kembali kepada manusia di bumi. Pertama, Allah mengingat manusia. Kedua Dia mengunjungi manusia. Kita harus memahami hal ini dengan cara puisi. Allah di langit mengingat manusia sebelum Dia berinkarnasi. Kemudian Dia datang untuk mengunjungi manusia dengan menjadi manusia melalui inkarnasi-Nya. Allah Tritunggal datang untuk mengunjungi kita. Sebelum datang kepada kita, Dia mengingat kita. Allah Tritunggal sangat sibuk, namun Dia mengingat kita. Dia berinkarnasi untuk mengunjungi kita.

Sebagai kaum beriman Kristus, pasti kita telah dikunjungi oleh Dia. Setiap hari ketika saya berdoa, saya mengalami kunjungan Tuhan. Dia datang kepada saya dengan cara inkarnasi-Nya; dengan cara penghidupan insani-Nya; dengan cara penyaliban-Nya; dengan cara kebangkitan-Nya; dengan cara kenaikan-Nya; dan dengan cara turun-Nya. Tuhan berada di sana, di ruang belajarku, ketika saya menghabiskan waktu bersama-Nya di dalam doa. Kita semua perlu menikmati kunjungan Tuhan hari demi hari. Jika Tuhan Yesus tidak pernah melalui semua proses ini, bagaimana mungkin Dia menyertai kita hari ini? Sekarang Dia bersama kita. Untuk mengunjungi kita, Tuhan tidak dengan sederhana diturunkan dari langit. Dia menempuh perjalanan yang panjang. Tuhan telah mengingat kita dan juga mengunjungi kita. Dia menyertai kita setiap waktu. Jika kita tidak memiliki kunjungan Tuhan, kita akan sangat kasihan.

Mazmur 8:5 berkata, “Namun Engkau telah membuatnya sedikit lebih rendah daripada malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.” Kata malaikat dalam bahasa Ibrani adalah Elohim, yang biasanya diterjemahkan Allah (Kej. 1:1). Septuagint menerjemahkan Elohim di sini menjadi malaikat. Dalam Ibrani 2:7 Paulus mengutip ayat ini, bukan menurut versi Ibrani, tetapi menurut versi Septuagint. Allah membuatnya sedikit lebih rendah dari malaikat. Siapakah “nya” di dalam ayat ini? “Nya” sesungguhnya mengacu pada manusia Yesus. Allah telah membuat manusia Yesus sedikit lebih rendah daripada malaikat. Untuk membuat Yesus sedikit lebih rendah daripada malaikat mengacu pada inkarnasi-Nya dengan penghidupan insani-Nya. Dalam pengertian menjadi daging. Dia sedikit lebih rendah daripada malaikat.

Setelah penghidupan insani-Nya, Dia bangkit, dan di dalam kebangkitan, Dia dimuliakan. Kemudian Dia terangkat ke surga, dan di dalam kenaikan-Nya, Dia diberi hormat. “Mahkota...dengan kemuliaan dan hormat” menunjukkan atau menyiratkan dua langkah: kebangkitan Kristus dan kenaikan-Nya. Sebelum kebangkitan dan kenaikan-Nya, ada kematian Kristus. Jika tidak ada kematian, tidak ada kebangkitan, jika tidak ada kebangkitan, tidak ada kenaikan. Lebih jauh lagi, tanpa inkarnasi dan penghidupan insani-Nya, Dia tidak bersyarat untuk mati. Dia harus menjadi manusia dan hidup selama tiga puluh tiga setengah tahun. Jadi, dalam Mazmur 8:5 kita dapat melihat semua tahap dari proses Allah Tritunggal: inkarnasi, peghidupan insani selama tiga puluh tiga setengah tahun, kematian, kebangkitan, dan kenaikan.

Ayat 6-8 berkata, “Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala sesuatutelah Kauletakkan di bawah kakinya: Kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang buas di padang; Burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.” Apapun yang melintasi arus lautan adalah binatang-binatang laut selain ikan. Ayat-ayat ini mengacu pada kerajaan dimana Kristus akan memerintah atar segala hal yang diciptakan dan bagi pemulihan kerajaan seribu tahun ini, milenium.

Mazmur 8 adalah mazmur yang pendek, tetapi mencakup dan menyiratkan inkarnasi, penghidupan insani, kematian, kebangkitan, kenaikan Kristus, dan dimahkotainya Dia untuk menjadi Tuhan dan Kristus dan Raja di atas segala raja, Penguasa yang unik dari seluruh alam semesta. Harinya akan tiba ketika Dia akan berada di dalam kerajaan selama seribu tahun untuk memerintah atas segala makhluk hidup. Ini adalah Wahyu dalam Mazmur 8.

Ayat terakhir dalam Mazmur ini mengulangi bagian pertama dari ayat pertama yang mengatakan, “O Yehova Tuhan kami, betapa unggulnya nama-Mu di seluruh bumi!” Di akhir mazmur ini, Daud tidak berkata lebih lanjut tentang langit, karena pada akhirnya bumi akan menjadi seunggul langit.

Sekarang kita telah membaca seluruh Mazmur 8 dengan cara penafsiran, marilah kita mempertimbangkan lebih terperinci poin-poin utama di dalam mazmur ini.

II. PUJIAN DAUD YANG TERINSPIRASI

OLEH KEUNGGULAN KRISTUS

Mazmur 8 adalah inspirasi Daud, pujiannya terinspirasi oleh keunggulan Kristus.

A.

Nama Tuhan Unggul (Agung)

di Seluruh Bumi, dan kesemarakan (Kemuliaan)-Nya

Telah didirikan mengatasi langit

Nama Tuhan Unggul di seluruh bumi, dan kesemarakan-Nya telah didirikan mengatasi langit. Ingin mengatakan sekali lagi bahwa mazmur ini mencoba yang terbaik untuk mengikatkan bumi dengan surga dan untuk membawa surga turun ke bumi, membuat bumi dan surga menjadi satu.

Dalam Mazmur 3-7, ada bumi yang kacau menurut konsep insani Daud. Di sini, di dalam Mazmur 8, nama Tuhan unggul (agung) di bumi menurut wahyu ilahi, dan kesemarakan (kemuliaan) Tuhan mengatasi langit dalam pandangan Daud. Hari ini orang-orang di bumi tidak melihat wahyu ini. Mereka tidak memiliki pandangan demikian , tetapi kita memiliki pandangan surgawi tentang Yesus. Di atas Daud, di surga ada kemuliaan, dan dengan Daud di bumi ini ada nama yang unggul. Maka, pandangannya, visinya, membawa dia keluar dari pandangan bumi yang kacau. Media berita melaporkan semua hal yang buruk yang terjadi di bumi ini setiap hari. Hidup dimana pun di bumi tanpa kehidupan gereja akan mengerikan.

B. Dari Mulut Bayi-Bayi dan Anak-Anak Menyusu

Tuhan Telah Mendirikan Kekuatan (Pujian)

Karena Seteru-Nya

untuk Menghentikan Musuh dan Pendendam

Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak menyusu Tuhan Yesus telah mendirikan kekuatan (pujian—Mat. 21:16) karena seteru-Nya, untuk menghentikan musuh dan pendendam (Mzm. 8:2). Kita telah melihat bahwa bayi-bayi dan anak-anak menyusu adalah yang paling muda, paling kecil, dan paling lemah di antara manusia, menunjukkan perampungan tertinggi dari pekerjaan Tuhan dalam penebusan-Nya. Dalam keselamatan Allah, perampungan yang puncak adalah menyempurnakan yang paling kecil dan paling lemah untuk memuji Allah.

Ketika kita menikmati penebusan Kristus sampai puncaknya, kita akan berani untuk memuji Tuhan. Ketika kita kecewa dan putus asa, kita mungkin mendesah dan mengeluh. Tetapi ketika kita memuji Tuhan, ini adalah pengalaman tertinggi dari kenikmatan kita akan Kristus. Kenikmatan akan Kristus akan membuat kita sangat kuat untuk menyampaikan pujian yang lengkap dan sempurna kepada Tuhan. Kita semua harus belajar bagaimana memuji. Ini adalah perampungan tertinggi yang telah Allah penuhi di dalam penebusan-Nya melalui Kristus.

Kita semua perlu menjadi bayi-bayi dan anak-anak menyusu di dalam kehidupan gereja. Kita mungkin belum terlalu tua di dalam umur fisik kita, tetapi di dalam pengalaman Kristiani kita, kita seperti orang-orang tua yang lelah dan letih. Jika kita masih muda di dalam Tuhan, kita akan memuji Tuhan dalam perjalanan ke dalam sidang. Ketika kita berada di Elden Hall di Los Angeles, seorang saudara berteriak memuji Tuhan ketika dia sedang mengendarai ke dalam sidang. Seorang polisi melihatnya, mengikuti dia, dan memberitahu dia untuk menepi. Polisi itu bertanya pada saudara itu apa yang terjadi dengannya. Kemudian saudara itu berkata, “aku sedang memuji Yesus!” Kemudian polisi itu membiarkannya pergi. Ini adalah cara yang benar untuk datang ke dalam sidang. Ketika kita mengendarai ke dalam sidang, kita seharusnya menyanyi, memuji, berteriak, “Aminrteriak, “Amin! Haleluya! Amin! Tuhan Yesus! Amin!” banyak dari kita tidak melakukan hal ini ketika sudah terlalu tua. Menjadi tua berarti menjadi lemah. Kita perlu berteriak, lebih banyak berkata “Haleluya” lebih banyak berkata “Amin”, lebih banyak memuji. Sidang-sidang kita harus penuh keributan yang penuh sukacita.

Sejumlah saudari di antara kita masih baru berumur dua puluh tahunan, tetapi sifat keletihan mereka membuat mereka kelihatannya seperti mereka telah berumur lebih dari seratus tahun. Bersama mereka tidak ada kesegaran dan tidak ada kekuatan. Bersama mereka tidak ada pagi hari; sebaliknya, segala sesuatu dalam keadaan terbenam. Mereka perlu belajar memuji Tuhan. Yang paling lemah di antara manusia disempurnakan untuk memuji Tuhan menunjukkan perampungan tertinggi dari pekerjaan Tuhan di dalam penebusan-Nya.

Tuhan melakukan pekerjaan rampung demikian karena seteru-Nya. Dia melakukan ini untuk menghina Satan. Seolah-olah Allah berkata “Satan, engkau telah melakukan sedemikian banyak. Biarlah Kutunjukkan padamu berapa banyak yang dapat Aku lakukan. Aku dapat melakukan banyak, lebih banyak daripada yang dapat engkau lakukan. Lihatlah pada semua anak-Ku sekarang. Mereka semua bayi-bayi dan anak-anak menyusu yang memuji-Ku.” Pujian ini menutup mulut Satan. Perkataan musuh dihentikan oleh pujian kita. Tuhan mendirikan kekuatan, menyempurnakan pujian, keluar dari mulut bayi karena seteru-Nya (di dalam), untuk menghentikan musuh dan pendendam (di luar).

C. Daud Melihat Langit Pekerjaan Jari Tuhan,

Bulan dan Bintang-Bintang, Yang Tuhan telah Tetapkan

Daud melihat langit, pekerjaan jari Tuhan, bulan dan bintang-bintang, yang telah Tuhan tetapkan (Mzm. 8:3). Ini menunjukkan bahwa Daud telah mengalihkan pandangan dari melihat bumi untuk menatap langit, di malam hari. Di malam hari, jika kamu melihat bumi, kamu tidak akan melihat apa-apa karena kegelapan. Tetapi jika kamu melihat ke atas untuk menatap langit, kamu akan melihat bulan dan bintang-bintang. Dalam pandangan ini Daud memiliki visi yang murni untuk melihat pekerjaan murni di dalam penciptaan dan penetapan Allah. Di alam semesta tidak hanya ada penciptaan Allah, tetapi juga penetapan Allah.Daud melihat urutan ilahi di alam semesta.

Ini adalah sasaran di dalam penebusan Tuhan—untuk memalingkan kita dari bumi yang kacau kepada langit yang cerah. Sebelum kita diselamatkan kita berada di dalam situasi yang kacau. Tetapi setelah kita diselamatkan, bumi yang kacau menjadi langit yang cerah. Pandangan kita telah dialihkan dari melihat bumi yang kacau kepada melihat langit yang cerah. Ketika berita buruk datang kepada saya, saya melatih untuk mengalihkan pandangan saya untuk melihat pada langit yang cerah. Ketika saya mengalihkan pandangan saya dari berita-berita buruk, dan melihat ke atas, ke langit. Saya dapat memuji. Kita harus belajar mengalihkan pandangan kita. Sasaran di dalam penebusan Tuhan adalah mengalihkan pandangan kita dari bumi ke langit. Bumi itu kacau, tetapi langit cerah.

D. Apakah Manusia, Sehingga Tuhan Mengingat-Nya,

dan Anak Manusia, Sehingga Dia mengunjungi-Nya

Dalam Mazmur 8:4 Daud berkata, ”Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, dan anak manusia sehingga engkau mengunjunginya?” Dalam pandangannya di langit, Daud mengalihkan pertimbangannya pada manusia di bumi. Penetapan bulan dan bintang-bintang adalah ajaib. Lalu bagaimana tentang manusia di bumi ini? Kita tidak seharusnya melupakan bahwa pemazmur di dalam mazmur ini mencoba yang terbaik untuk membawa langit turun dan untuk membawa bumi diikatkan dengan langit. Ini ajaib, tetapi bagaimana dengan manusia? Kita mungkin mengira bahwa manusia kasihan, tetapi menurut pandangan ilahi di dalam mazmur ini, kita salah. Manusia kasihan di dalam Adam, dan di dalam situasi yang jatuh, tetapi hari ini, manusia di dalam Kristus tidaklah kasihan. Manusia di dalam Kristus ajaib.

Tiga bagian Firman, membicarakan hal yang sama tentang manusia—Kejadian 1, Mazmur 8, dan Ibrani 2. Apa yang diwahyukan di dalam Mazmur 8, mula-mula telah dibicarakan di dalam Kejadian 1. Kejadian 1 berkata bahwa manusia diamanatkan dengan otoritas untuk memerintah atas seluruh makhluk ciptaan (ay. 26, 28). Mazmur 8 mengulangi hal ini. Lalu Ibrani 2:6-8, Paulus mengutip Mazmur 8. Tiga bagian Firman ini menunjukkan pada kita bahwa manusia telah berada dalam tiga tahap: penciptaan di dalam Kejadian 1, kejatuhan di dalam Mazmur 8, dan penebusan di dalam Ibrani 2.

Manusia yang ditebus ini tidak lagi di dalam situasi yang kasihan. Dia diikatkan kepada Yesus. Sebenarnya, Yesus, Allah yang berinkarnasi, pertama-tama mengikatkan Diri-Nya Sendiri dengan kita. Sekarang di dalam penebusan-Nya, kita diikatkan dengan Dia. Ada satu kesatuan organik antara Dian dan kita. Kristus telah melewati penghidupan insani, dan Dia mati untuk memecahkan masalah-masalah kita. Lalu Dia bangkit dan naik untuk dimahkotai dan ditakhtai kemuliaan dan hormat. Dia dihembuskan ke dalam kita dan dicurahkan atas kita. Manusia macam apakah kita? Kita adalah manusia yang telah dibaurkan dengan Kristus.

Manusia adalah obyek yang sentral dari Allah di dalam penciptaan-Nya bagi penggenapan ekonomi-Nya untuk memenuhi kedambaan hati-Nya. Kata “manusia” yang pertama di dalam Mazmur 8:4 adalah enosh dalam bahasa Ibrani. Kata “manusia” yang kedua di dalam Mazmur 8:4 adalah adam dalam bahasa Ibrani. Baik enosh dan adam di dalam ayat ini mengacu pada manusia yang diciptakan Allah dalam penciptaan Allah di dalam Kejadian 1:26; manusia yang ditangkap Satan di dalam kejatuhan manusia di dalam Mazmur 8:4; dan Kristus sebagai manusia dalam inkarnasi-Nya bagi penggenapan penebusan Allah di dalam Ibrani 2:6. Kita tidak seharusnya melupakan Kejadian 1, Mazmur 8, dan Ibrani 2. Tiga bagian ini membahas tiga tahap manusia.

Manusia demikian yang Allah ingat di dalam ekonomi-Nya dan kunjungi di dalam inkarnasi-Nya (Yoh. 1:14; Flp. 2:7). Syukur kepada Allah untuk ingatan-Nya, dan syukur kepada Allah untuk inkarnasi-Nya. Dia mengingat kita di dalam ekonomi-Nya, dan Dia mengunjungi kita di dalam inkarnasi-nya.

E. Tuhan Membuat Manusia

Sedikit Lebih Rendah daripada Malaikat

Tuhan telah membuat manusia sedikit lebih rendah daripada malaikat (Mzm. 8:5a; Ibr. 2:7a). Ini mengacu pada inkarnasi Kristus (Yoh. 1:14). Dalam inkarnasi-Nya, Kristus dibuat sedikit lebih rendah daripada malaikat di dalam pengertian menjadi daging. Di dalam daging, Kristus lebih rendah daripada malaikat.

F.

Allah Telah Memahkotai Manusia (Kristus)

dengan Kemuliaan dan Hormat

Allah telah memahkotai manusia (Kristus) dengan kemuliaan dan hormat (Mzm. 8:5b; Ibr. 2:7b). Ini mengacu pada kebangkitan Kristus di dalam kemuliaan-Nya. Melalui kebangkitan, Dia masuk ke dalam kemuliaan; Dia dimuliakan di dalam kebangkitan-Nya (Yoh. 7:39b; Luk. 24:26). Ini juga mengacu pada kenaikan Kristus di dalam kehormatan-Nya (Kis. 2:33-36; 5:31a). Kebangkitan Kristus terutama di dalam kemuliaan-Nya, dan kenaikan-Nya teruma di dalam kehormatan-Nya. Kemuliaan mengacu pada kondisi. Kehormatan mengacu pada posisi. Secara kondisi, Kristus di dalam kemuliaan. Secara posisi, Kristus di dalam kehormatan. Dia memiliki baik kemuliaan di dalam kondisi dan kehormatan di dalam posisi.

Hal ini melalui kematian-Nya yang almuhit (Ibr. 2:9). Tanpa kematian, Dia tidak pernah dapat masuk ke dalam kebangkitan, dan Dia tidak pernah dapat mencapai kenaikan-nya.

G. Allah Membuat Manusia (Kristus)

Untuk memerintah atas Pekerjaan Tangan Allah dan

Telah Meletakkan segala hal di bawah Kaki-Nya

Allah telah membuat manusia (Kristus) untuk memerintah atas pekerjaan tangan Allah dan telah meletakkan segala hal di bawah kaki-Nya: semua domba dan lembu jantan, binatang buas di padang, burung-burung di langit, ikan laut, dan apapun yang melintasi arus laut (Mzm. 8:6-8; Ibr. 2:7b-8a). Firman ini digenapi, pertama di dalam Adam (Kej. 1:26-27). Tetapi firman ini dirusak oleh kejatuhan manusia. Hari ini tidak ada apapun yang tunduk kepada kita. Bahkan nyamuk-nyamuk masih datang untuk mengalahkan kita. Hari ini, tidak ada apapun di bawah kita karena urutannya telah sepenuhnya dihancurkan oleh kejatuhan manusia. Tetapi akan ada suatu waktu, waktu pemulihan, ketika segala sesuatu akan berada di dalam urutan yang baik. Firman ini akan digenapi secara penuh di dalam Kristus di dalam milenium, zaman pemulihan (Why. 20:4-6; Mat. 19:28). Yesaya 11:6-9 dan 65:25 berbicara tentang urutan ilahi yang indah di waktu pemulihan. Ini karena penebusan Kristus.

H. O Yehova Tuhan Kami, Betapa Unggul (Agung)

Nama-Mu di Seluruh Bumi

Mazmur 8:9 mengulangi bagian pertama dari ayat 1 dengan mengatakan, “O Yehova Tuhan kami, betapa unggul nama-Mu di seluruh bumi.” Ini menguatkan pemikiran mengenai keunggulan nama Tuhan di seluruh bumi. Sekarang bumi penuh akan keunggulan Kristus. Sekarang bumi bukan lagi bumi yang kacau, tetapi bumi nyang unggul karena keunggulan nama Kristus yang memenuhi seluruh bumi. Di dalam ayat ini, pemazmur mempertimbangkan bahwa bumi seunggul langit, seperti yang ditunjukkan di dalam bagian pertama doa Tuhan: “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah kerajaan-Mu; jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga” (Mat. 6:9-10).

Saya ingin mengulangi sasaran dari mazmur ini sekali lagi. Sasarannya adalah mengikatkan bumi dengan surga, dan membawa surga turun ke bumi, membuat dua hal ini menjadi satu. Jika kita jaya dan menang setiap hari, inilah realitas kita. Hari ini bersama kita, bumi diikatkan dengan surga, dan surga dibawa turun ke bumi, dan keduanya menjadi satu. Tetapi bersama orang yang tidak percaya dan bersama orang Kristen yang kalah, surga berada sangat jauh dan bumi gelap dan kacau. Inilah sebabnya mengapa orang yang tidak percaya perlu segala macam hiburan duniawi dan kesenangan yang penuh dosa. Tetapi kita tidak memerlukannya. Kita hanya perlu Kristus dan kehidupan gereja.

Ketika kita memperhidupkan Kristus dan menempuh hidup gereja, surga dan bumi menjadi satu. Bersama kita, bumi kita sungguh-sungguh diikatkan dengan surga. Bersama kita, surga selalu di sini. Di sini, di bumi kita memiliki nama Yesus yang unggul. Di bumi ini, hari ini, satu-satunya keunggulan adalah nama Kristus. Haleluya! Ada nama yang demikian Kita memiliki nama yang mustika ini di bumi, dan kita juga memiliki kesemarakan kita, kemuliaan kita, yang mengatasi langit.

Akhirnya, bersama kita, bumi dan surga menjadi satu dengan secara lengkap. Di zaman yang akan datang, di dalam milenium, di zaman pemulihan, langit turun dan bumi naik. Di sana kita akan menikmati keselamtan Allah sampai puncaknya. Di dalam milenium, semua dari kita akan menjadi bayi-bayi dan anak-anak menyusu. Tidak akan ada orang yang lebih tua, tidak ada orang yang letih. Setiap orang akan menjadi segar, muda, hidup, dan penuh kekuatan.

Hari ini banyak orang Kristen menyukai kuasa, tetapi Alkitab di dalam Mazmur 8 membicaran kekuatan. Kita perlu menjadi penuh kekuatan memuji Tuhan, untuk mengekspresikan pekerjaan Allah yang rampung di dalam penebusan-Nya.

I. Sebuah Perkataan Tambahan pada Mazmur 8:2-5

Mazmur 8 mempunyai sembilan ayat. Ayat 1 dan ayat 6-9 agaknya mudah untuk dipahami. Namun, ayat 2-5, adalah sangat membingungkan dan tidak mudah dipahami. Mengapa pemazmur, setelah berbicara tentang bumi dengan keunggulan nama Yehova dan langit dengan kemuliaan, berpaling kepada bayi-bayi dan anak-anak menyusu? Kita perlu melihat bahwa ayat 2-5 menunjukkan pada kita bagamana bayi-bayi dan anak-anak menyusu dihasilkan.

Dalam Mazmur 3-7, Daud mengira bahwa bumi kacau dan penuh masalah, tetapi dalam pandangan Tuhan, nama-Nya unggul di bumi ini. Selanjutnya, Tuhan telah mendirikan kesemarakan-Nya, kemuliaan-Nya, mengatasi langit. Bumi unggul dan langit mulia, tetapi Tuhan memiliki tiga kategori penentang. Yang pertama seteru, yang kedua musuh, dan yang ketiga pendendam. Di bumi, tidak ada masalah; di langit, tidak ada masalah; tetapi bagaimana dengan di udara? Di udara, ada seteru, musuh, dan pendendam. Bagaimana Allah menanggulangi mereka?

Mazmur 8 adalah almuhit. Mazmur ini berbicara tentang bumi, langit, manusia, dan kerajaan yang akan datang. Tetapi, sebagai tambahan kepada bumi, langit, manusia, dan kerajaan yang akan datang, ada seteru, musuh, dan pendendam. Ayat 2 berkata bahwa karena seteru Tuhan, Dia telah mendirikan kekuatan, atau menyempurnakan pujian. Tuhan telah mendirikan kekuatan atau menyempurnakan pujian yang keluar dari mulut bayi-bayi dan anak-anak menyusu bagi tujuan menghentikan seteru, musuh, dan pendendam. Karena seteru, musuh, dan pendendam, Allah membuat bayi-bayi dan anak-anak mneyusu untuk memuji Dia secara lengkap.

Sekarang kita perlu mempertimbangkan siapakah bayi-bayi dan anak-anak menyusu itu. Anak-anak menyusu lebih muda daripada bayi-bayi, karena mereka masih diberi makan pada susu ibunya. Mereka adalah yang paling muda. Bayi dan anak menyusu yang kecil tidak melakukan apapun. Tetapi setelah bertumbuh, mereka melakukan banyak hal. Untuk menghentikan seseorang dari melakukan sesuatu adalah hampir tidak mungkin, karena semua manusia adalah para pelaku. Seluruh bumi dipenuhi dengan perbuatan manusia. Siapakah yang dapat menghentikan hal ini? Hanya Tuhan yang dapat. Tidak ada orang yang belum dilahirkan kembali adalah bayi atau anak-anak menyusu. Kita menjadi bayi-bayi dan anak-anak menyusu oleh kelahiran kembali.

Sebelum saya dilahirkan kembali, saya sangat aktif. Satu hari, ketika saya berumur sembilan belas tahun, saya diselamatkan. Hal itu membuat saya menjadi orang yang sejati. Kelahiran kembali menurunkan aktivitas alami, Saya mulai membenci perbuatan, perkataan, dan pemikiranku. Saya dibuat ulang, diciptakan ulang, oleh Tuhan kelahiran kembali. Setiap kaum beriman yang telah dilahirkan kembali dengan sejati telah mengalami hal yang sama. Ketika seseorang dilahirkan kembali, dia menjadi sejati, tidak ingin bertindak atau berbicara di dalam diri sendiri. Ketika saya dilahirkan kembali, saya hanya ingin membaca Alkitab, berlutut berdoa, merenung pada Allah, dan mempertimbangkan hal-hal dari Tuhan. Saya menjadi bayi sejati dan anak menyusu yang sejati melalui kelahiran kembali. Kita, diri alamiah selalu sibuk, melakukan banyak pekerjaan. Keselamatan yang tepat dan sejati menghentikan perbuatan kita dan membuat kita bayi-bayi dan anak-anak menyusu memuji Tuhan.

Kita juga harus sadar bahwa bagi Tuhan untuk melahirkan kembali kita, Dia harus melalui sejumlah prosedur, atau proses. Dia harus menjadi manusia, hidup di bumi ini, mati, masuk ke dalam Alam Maut selama tiga hari dan tiga malam, dan Dia harus bangkit untuk menjadi Roh pemberi hayat. Sebagai Roh, Dia masuk ke dalam kita untuk melahirkan kita kembali. Maka, kelahiran kembali berasal dari semua prosedur dari Tuhan.

Inilah sebabnya, tepat setelah pembicaraan tentang bayi-bayi dan anak-anak menyusu, pemazmur melanjutkan dengan berkata, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: Apakah manusia ...? (ay. 3-4a). Dalam ayat ini, langit-Mu, buatan, bulan dan bintang-bintang semuanya adalah keterangan tambahan. Dengan tegas, tulisan di sini, di dalam ayat 3-4a tidak lengkap secara tata bahasa. Dari kata Jika sampai kata tempatkan adalah kalimat keterangan yang panjang, tetapi dimanakah kalimat utamanya? Seharusnya kalimat utama mengikuti kalimat keterangan. Tetapi, setelah kalimat keterangan, Daud bertanya, “Apakah manusia?” Tulisan ini tidak lengkap. Daud berkata dengan cara puisi. “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: Apakah manusia?” Ini bukan kalimat yang lengkap.

Pemazmur mungkin telah salah secara tata bahasa, tetapi Roh itu tidak pernah salah. Roh itu menginspirasi Daud untuk menyusunnya dengan cara ini, meninggalkan kata pendahuluan bagi kita untuk memenuhi kalimat utama. Setelah dia berkata, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan,” apa yang seharusnya dikatakan? Kalimat utama dapat dipenuhi. Saya akan mengusulkan empat cara. Mungkin dapat dibaca, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan, aku berkata, Apakah manusia...? Aku berkata adalah kalimat utama. Atau mungkin dapat dibaca, “Jika aku melihat langit-Mu...Aku membayangkan,” atau “Aku mempertimbangkan.” Dapat juga dibaca, “Jika aku melihat langit-Mu...Aku berteriak.” Pemazmur juga dapat berkata, “Jika aku melihat langit-Mu...Aku menangis.” Ini sangat bermakna.

Setelah Daud berkata, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan,” ada keperluan “sela,” berhenti. Kita harus berhenti di sini untuk istirahat untuk mempertimbangkan apa yang kita katakan. Jika aku melihat langit, buatan jari Allah, bulan dan bintang-bintang, saya harus berkata dan saya harus bertanya serta saya harus menemukan—“apakah manusia?” Saya harus mengatakan ini; saya harus menanyakan ini. Saya harus menemukan apakah manusia sehingga Allah mengingatnya dan mengunjunginya.

Dengan cara apa, Allah mengunjungi manusia? Jawabannya mengikuti di ayat 5a—“Engkau telah membuatnya sedikit lebih rendah daripada malaikat.” Hari ini kita memahami bahwa ini adalah inkarnasi. Bagaimana Allah mengunjungi kita? Dia mengunjungi kita dengan berinkarnasi. Dia mengenakan keinsanian dan menjadi seorang manusia untuk menjadi sedikit lebih rendah daripada malaikat. Ini adalah cara Allah mengunjungi kita.

Dia juga dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat (ay. 5b). Kemuliaan mengacu pada kebangkitan-Nya, menyiratkan kematian-Nya. Tanpa kematian, Dia tidak dapat masuk ke dalam kebangkitan. Dimahkotai dengan kemuliaan adalah dimuliakan. Dimahkotai dengan hormat menyiratkan kenaikan. Oleh karena itu, dalam satu ayat, ayat 5, kita melihat inkarnasi Kristus, kematian-Nya yang almuhit tersirat, kebangkitan-Nya bagi pemuliaan-Nya, dan kenaikan-Nya bagi Dia untuk mendapat hormat.

Allah mengunjungi manusia dengan berinkarnasi, hidup di bumi ini, mati, bangkit dari kematian, dan naik ke surga untuk dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat. Maka, Allah mengunjungi manusia melalui perjalanan yang panjang dari proses-Nya untuk menjadi Roh pemberi hayat untuk mencapai kita dan untuk masuk ke dalam kita. Secara ultima, Dia rampung sebagai Roh pemberi hayat. Dia yang berinkarnasi, sekarang adalah Roh pemberi hayat. Dia inilah yang dapat menghasilkan bayi-bayi dan anak-anak menyusu.

Bayi-bayi dan anak-anak menyusu dihasilkan melalui kelahiran kembali dalam tahap permulaan. Selanjutnya mereka dihasilkan secara penuh melalui pengudusan, pembaruan, dan transformasi. Melalui transformasi mereka disempurnakan melalui memuji Tuhan. Inilah pemulihan Tuhan dan kemenangan Tuhan. Allah mengalahkan musuh-Nya melalui bayi-bayi dan anak-anak menyusu. Pekerjaan Kekristenan menghasilkan orang-orang yang aktif; mereka berusaha untuk menghasilkan “raksasa.” Pekerjaan kita adalah untuk menghasilkan bayi-bayi dan anak-anak menyusu.

Ayat 6-8 berkata, “Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala sesuatutelah Kauletakkan di bawah kaki-Nya: Kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang buas di padang; Burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.” Ayat-ayat ini mengacu pada kerajaan. Segala sesuatu akan diperintah oleh Kristus bersama Tubuh-Nya, dan segala sesuatu akan ditaklukkan di bawah kaki-Nya. Ini sungguh-sungguh menyempurnakan pujian, melengkapi pujian, di dalam mazmur ini. Mazmur pendek ini mewahyukan begitu banyak. Mazmur ini berbicara tentang langit, bumi, bayi-bayi dan anak-anak menyusu, tiga kategori musuh, dan inkarnasi, penghidupan insani, kematian, kebangkitan, kenaikan, kedatangan kembali, dan kerajaan Tuhan.

Kita, orang Kristen dapat memuji Tuhan, tetapi pujian kita perlu disempurnakan. Kita perlu memuji Dia bagi kesemarakan-Nya yang mengatasi langit dan keunggulan-Nya di bumi. Lalu kita dapat memuji Dia bagi inkarnasi-Nya, bagi Dia untuk mengunjungi kita. Lalu kita harus maju untuk memuji Dia bagi penghidupan insani-Nya, bagi kematian-Nya, bagi kebangkitan-Nya, bagi kenaikan-Nya, dan bagi kerajaan-Nya. Kita harus memuji Dia dengan semua hal-hal ini. Lalu pujian kita akan disempurnakan, dilengkapi. Pujian ini adalah kekuatan yang keluar dari mulut bayi-bayi dan anak-anak menyusu. Pujian yang disempurnakan ini adalah perampungan ultima dari pekerjaan Tuhan dari inkarnasi, penghidupan insani, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan kedatangan kembali untuk memerintah atas bumi ini.

Ketika kita datang ke meja Tuhan, kita menghentikan segala macam pembicaraan dan perbuatan manusia. Kita menghentikan pekerjaan kita. Kita di sini, di meja hanya melakukan satu perkara—memuji Dia. Untuk memuji Dia, kita harus menghentikan pekerjaan kita. Maka, pada meje Tuhan, kita semua adalah bayi-bayi dan anak-anak menyusu yang sejati. Ketika kita di sini berhenti dari semua perbuatan kita untuk memuji Tuhan, seteru, musuh, dan pendendam, semuanya dikalahkan. Hal ini mempermalukan musuh Allah.

Kita perlu mempertahankan kondisi dan roh meja Tuhan. Kehidupan Kristiani kita seharusnya menjadi seperti meja Tuhan. Ketika kita pulang ke rumah setelah meja Tuhan, kita harus terus menerus memuji Tuhan. Kita harus belajar untuk tidak melakukan terlalu banyak. Di pihak lain, kita tidak seharusnya menjadi malas. Poinnya adalah bahwa kita harus menghentikan perbuatan insani kita dan menjadi mereka yang dengan sederhana memuji Tuhan.