← Daftar isi Mazmur (1) · bab 4/42

BERITA EMPAT

KONSEP DAUD MENGENAI SATU KEHIDUPAN YANG SALEH DALAM PERBANDINGAN DENGAN PUJIANNYA YANG MEMBERI ILHAM TENTANG KEUNGGULAN KRISTUS

(1)

Pembacaan Alkitab: Mzm. 3—7

Sejauh ini, kita telah meliput Mazmur 1 mengenai hukum taurat di dalam apresiasi manusia dan Mazmur 2 mengenai Kristus di dalam ekonomi Allah. Kita telah melihat bahwa Mazmur disusun secara demikian ini mutlak oleh Roh Kudus. Misalnya kita adalah para penyusun dari seratus lima puluh mazmur ini. Mazmur manakah yang akan kita taruh sebagai mazmur yang pertama? Cara Tuhan adalah cara yang terbaik. Dia pertama-tama menaruh Mazmur 1, di mana kita melihat hukum taurat di dalam apresiasi manusia. Kemudian kita melihat Kristus di dalam ekonomi Allah di dalam Mazmur 2. Apakah selanjutnya di dalam Mazmur 3—7? Adalah menarik bahwa setelah Mazmur 1 dan 2, ada lima mazmur yang menunjukkan kepada kita konsep Daud mengenai satu kehidupan yang saleh.

Judul Mazmur 3 berbunyi, “Mazmur Daud, ketika ia lari dari Absalom, anaknya.” Absalom adalah seorang anak yang memberontak. Mazmur disusun secara demikian untuk menunjukkan kepada kita bahwa Daud perlu dikoreksi dan didisiplinkan. Daud sangat mengapresiasi hukum taurat di dalam Mazmur 1, tetapi apakah ia memelihara hukum taurat itu? Apakah ia seperti sebuah pohon yang berdiri di tepi aliran sungai dengan setia? Di dalam Mazmur 3, ia tidak ditanam di tepi aliran sungai. Sebaliknya, ia melarikan diri dari anaknya yang memberontak itu.

Sejak masa muda saya, saya suka Mazmur 51. Ini adalah satu mazmur tentang pertobatan Daud setelah dosanya yang besar yang tercatat di dalam 2 Samuel 11. Daud melakukan pembunuhan yang disengaja, dengan memakai kuasa dan otoritasnya sebagai seorang raja untuk melaksanakan konspirasinya membunuh Uria, salah satu dari pejuang-pejuangnya. Setelah pembunuhan itu, ia merampas istri Uria. Lima perintah yang terakhir dari hukum taurat adalah melarang pembunuhan, perzinahan, pencurian, berdusta, dan mengingini. Daud melanggar lima perintah yang terakhir itu. Ia membunuh Uria, melakukan perzinahan, mencuri istri Uria, berdusta kepada Uria, dan mengingini istri Uria. Hal itu melukai Allah sampai pada puncaknya (1 Raj. 15:5). Allah segera mengutus Natan untuk menegur Daud, seperti yang tercatat di dalam 2 Samuel 12. Daud menjadi tunduk, dan ia bertobat. Kemudian ia menulis Mazmur 51 ini. Itu adalah satu mazmur yang indah. Standar dari mazmur ini tinggi; mazmur ini penuh dengan hayat dan penuh dengan roh. Mazmur ini bahkan memperhatikan ekonomi Allah. Akhir dari mazmur ini menunjukkan bahwa setelah pengakuan akan dosa-dosanya sendiri, Daud masih mengingat Sion dan Yerusalem. Di dalam ayat 18, Daud mengatakan, “Lakukanlah kebaikan dalam kesukaan-Mu kepada Sion: Bangunkanlah tembok-tembok Yerusalem.”

Mazmur itu sangat baik dan sangat tinggi. Tetapi sulit dipercaya bahwa kira-kira tiga tahun kemudian, ia menulis Mazmur 3—7, yang penuh dengan konsep manusia. Setelah Daud melakukan pembunuhan dan perzinahan, Allah mendisiplinkan dia dengan membiarkan ada kesulitan di antara anak-anaknya (2 Sam. 12:11). Salah seorang dari anak-anak Daud melakukan perzinahan dengan salah seorang dari anak-anak perempuannya. Kemudian orang yang melakukan perzinahan itu dibunuh oleh anak Daud lainnya, yaitu Absalom (2 Sam. 13:1-36). Setelah membunuh saudaranya, Absalom lari ke Gesur dan tinggal di sana selama tiga tahun (ay. 37-39). Kemudian setelah tiga tahun, ia kembali kepada Daud, dan kemudian ia memberontak. Kemudian Daud melarikan diri. Di dalam pelariannya dari anaknya yang memberontak itu, ia menulis Mazmur 3—7. Kita harus mengenal sejarah dari mazmur-mazmur ini untuk melihatnya di dalam terang dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Beberapa orang Kristen China mengatakan bahwa jika Anda ingin belajar bagaimana untuk berdoa, Anda harus mempelajari Mazmur 1, tetapi saya ingin mengatakan bahwa kita tidak boleh melakukan ini. Mazmur 3—7 semuanya tentang doa, tetapi doa-doa itu adalah contoh yang salah dari bagaimana untuk berdoa karena doa-doa itu adalah menurut konsep insani Daud bagi kepentingan pribadinya. Orang-orang Kristen China juga mengatakan bahwa jika Anda ingin belajar bagaimana memberitakan, maka Anda harus mempelajari Amsal. Tetapi saya ingin mengatakan bahwa jika Anda ingin menjadi seorang pemberita yang baik, maka Anda harus mempelajari keempat belas surat-surat kiriman Paulus. Selain itu, jika Anda ingin belajar berdoa, maka Anda harus pergi kepada Paulus. Paulus memberikan kepada kita dua contoh doa di dalam satu kitab, yaitu kitab Efesus. Di dalam Efesus 1, ia mengatakan bahwa ia meminta kepada Bapa, yaitu Allah Tuhan kita Yesus Kristus, supaya memberikan roh hikmat dan wahyu agar kita dapat mengenal apa pengharapan dari panggilan-Nya, apa kekayaan kemuliaan warisan-Nya di dalam orang-orang kudus, dan apa kebesaran kuasa-Nya yang unggul terhadap kita (ay. 17-19). Kemudian di dalam Efesus 3, Paulus mengatakan, “Aku berlutut kepada Bapa..supaya Dia memberi karunia kepadamu…untuk dikuatkan dengan kuasa melalui Roh-Nya ke dalam manusia batiniah, supaya Kristus dapat membuat rumah-Nya di dalam hatimu…supaya kamu dapat dipenuhi kepada seluruh kepenuhan Allah” (ay. 14-19). Jika kita membandingkan dua doa dari rasul Paulus ini dengan doa-doa di dalam Mazmur 3—7, maka kita akan menyadari bahwa doa-doa di dalam mazmur-mazmur ini tidak seharusnya menjadi contoh-contoh dari bagaimana kita harus berdoa.

Di dalam berita ini saya ingin menguraikan poin-poin utama di dalam lima mazmur ini. Kita perlu mengevaluasi mazmur-mazmur ini poin demi poin di dalam terang dari ekonomi Perjanjian Baru Allah. Doa-doa di dalam Mazmur 3—7 ini semuanya terlibat dalam penderitaan-penderitaan, dalam baik dan jahat, dan bahkan terlibat dalam pembalasan dendam, kebenaran diri, dan menuduh orang lain. Tidak ada poin di dalam mazmur-mazmur ini yang menunjukkan hayat, pertobatan, menghukum diri sendiri, atau penyangkalan ego. Selain itu, tidak ada poin yang menunjukkan banyak persekutuan dengan Allah, menjamah Allah atau dijamah oleh Allah, dan menjadi rendah hati dan menyesal di dalam roh. Ketika kita mempertimbangkan mazmur-mazmur ini, kita perlu melihat poin-poin ini.

I. KONSEP-KONSEP DAUD MENGENAI SATU KEHIDUPAN YANG SALEH DI DALAM MAZMUR 3—7

Seperti yang telah kita tunjukkan, Mazmur 3—7 menunjukkan konsep Daud mengenai satu kehidupan yang saleh. Saya memakai kata saleh karena ini adalah kutipan saya dari Mazmur 4:3. Konsep-konsep Daud tentang kehidupan yang saleh demikian di dalam Mazmur 3—7 dalam perbandingan dengan doanya yang memberi ilham tentang keunggulan Kristus di dalam Mazmur 8.

A. Lima Mazmur Ini Ditulis oleh Daud dalam Pelariannya dari Pemberontakan Absalom, Anaknya

Lima mazmur ini ditulis oleh Daud dalam pelariannya dari pemberontakan Absalom, anaknya, yang adalah hasil/akibat dari dosa-dosa Daud dalam membunuh dan merampas istri orang lain (Mzm. 3 judulnya).

B. Daud, Yang Mengapresiasi Hukum Taurat dengan Penjagaannya di dalam Mazmur 1, Membunuh Uria dan Merampas Istrinya

Daud, yang mengapresiasi hukum taurat dengan penjagaannya di dalam Mazmur 1, membunuh Uria dan merampas istrinya (2 Sam. 11:14-27). Di dalam Mazmur 1, ia sangat meninggikan dan menjunjung hukum taurat dengan penjagaannya. Namun, dalam dosanya yang besar, ia melanggar kelima perintah yang terakhir, yang menuntut orang-orang untuk memiliki kebajikan-kebajikan yang mengekspresikan atribut-atribu ilahi Allah. Apakah Daud, seorang yang menulis Mazmur 1 ini, memelihara hukum taurat? Saya tidak percaya bahwa banyak pembaca Mazmur pernah memikirkan tentang hal ini. Mereka setuju dengan Daud meninggikan hukum taurat di dalam Mazmur 1. Mereka tidak pernah memikirkan bahwa Mazmur 1 itu salah dalam hal memustikakan dan meninggikan hukum taurat.

Guru yang terbesar di dalam Perjanjian Baru, yaitu Paulus, memberi tahu kita bahwa tidak ada daging yang dibenarkan karena memelihara hukum taurat (Gal. 2:16; 3:11). Tidak mungkin bagi manusia yang telah jatuh untuk memelihara hukum taurat. Meminta manusia untuk memelihara ukum taurat itu seperti meminta seekor burung yang lumpuh untuk terbagi dari Los Angeles ke New York. Roma 8:3 mengatakan bahwa hukum taurat tidak bisa melakukan apa yang dituntut Allah karena lemah melalui daging. Hukum taurat itu baik dalam sifatnya (Rm. 7:12), tetapi hukum taurat tidak bisa memberikan hayat kepada kita (Gal. 3:21); hukum taurat tidak bisa menyalurkan kekuatan yang dinamis, kekuatan hayat, kekuatan yang organik, ke dalam kita.

Daud mengapresiasi hukum taurat di dalam Mazmur 1, tetapi ia melakukan pembunuhan, perzinahan, pencurian, berdusta, dan mengingini yang bertentangan dengan hukum taurat. Akhirnya, ia melarikan diri dari anaknya yang memberontak. Karena Daud melakukan pembunuhan dan perzinahan, maka Allah menghajar dia melalui pemberontakan anaknya. Anak-anaknya menjadi satu kekacauan. Di antara mereka, juga ada pembunuhan dan perzinahan. Jika kita melihat gambaran ini, kita akan diyakinkan untuk tidak memustikakan dan meninggikan hukum taurat. Kita tidak seharusnya mengapresiasi hukum taurat. Semakin kita mengapresiasi hukum taurat, semakin kita akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum taurat.

C. Daud Bertobat dan Diampuni oleh Allah

Setelah Yehovah menegur dia melalui nabi Natan (2 Sam. 1:1-12), Daud bertobat dan diampuni oleh Allah (2 Sam. 12:13; Mzm. 51:1-17).

D. Lima Mazmur ini Disusun menurut Konsep-konsep Daud tentang satu Kehidupan yang Saleh

1. Meminta Allah untuk Membereskan Seteru-seterunya dan Menjadi satu Perisai yang Mengelilinginya, Kemuliaannya dan Dia Yang Mengangkat Kepalanya

Mazmur 3—7 disusun menurut konsep-konsep Daud tentang satu kehidupan yang saleh. Di dalam mazmur-mazmur ini, Daud meminta Allah untuk membereskan seteru-seterunya and menjadi satu perisai yang mengelilinginya, kemuliaannya dan Dia yang mengangkat kepalanya (Mzm. 3:1-3, 6-8). Apakah meminta kepada Allah untuk membereskan seteru-seterunya itu berhubungan dengan pengajaran Perjanjian Baru? Tentunya, ini bertentangan dengan pengajaran Perjanjian Baru. Perjanjian Baru mengajar kita untuk mengasihi musuh-musuh kita dan berdoa bagi orang-orang yang menganiaya kita (Mat. 5:44; Luk. 6:27, 35; Rm. 12:20).

Saya telah berada di dalam pemulihan Tuhan selama enam puluh tahun. Di dalam enam puluh tahun ini, saya telah menghadapi penentangan dan bahkan pemberontakan. Bagaimanakah kita bereaksi terhadap penentangan yang demikian? Sebagai keturunan Adam, kita akan meminta kepada Tuhan untuk membereskan semua penentang ini bagi kita. Tetapi jika kita berada di dalam realitas dari Perjanjian Baru, kita tidak akan berani berdoa secara demikian. Kita tidak bisa berdoa secara demikian kepada Tuhan karena Dia menyuruh kita untuk mengasihi musuh-musuh kita.

Daud juga meminta kepada Tuhan untuk menjadi satu perisai pelindung di sekelilingnya. Apakah ini baik atau buruk? Apakah salahnya meminta Allah untuk melindungi kita? Saya ingin mengatakan bahwa ini tidak baik ataupun buruk. Pada peristiwa itu ketika ia melarikan diri dari anaknya, Daud menyampaikan doa yang demikian. Mengapa ia tidak berdoa, “Tuhan Engkau tahu, aku melakukan dosa yang menyebabkan anakku menjadi memberontak. Tuhan, janganlah menghukum dia. Tuhan, hukumlah aku. Aku bertobat. Aku ingin memiliki satu waktu untuk mengatakan kepada anakku, ‘Anakku, ampunilah aku. Penyebab kesulitan hari ini bukanlah kamu, melainkan aku.’ Tuhan, bereskanlah hatiku.” Ini adalah satu doa yang rohani. Tetapi sebaliknya, Daud meminta Tuhan untuk menjadi satu perisai yang mengelilingi dia. Sebagai seorang pembunuh dan orang yang melakukan perzinahan, apakah Daud layak untuk dilindungi? Ia juga meminta Allah untuk menjadi kemuliaannya dan Dia yang mengangkat kepalanya. Bukankah Daud seharusnya merasa malu meminta ini kepada Allah ketika ia melarikan diri dari anaknya, dihajar oleh Allah karena pembunuhan dan perzinahannya?

2. Berseru kepada Yehovah dan Percaya Bahwa Dia Akan Menjawabnya dari Gunung-Nya yang Kudus

Daud juga berseru kepada Yehovah dan percaya bahwa Dia akan menjawabnya dari gunung-Nya yang kudus (Mzm. 3:4).

3. Berdoa pada Malam Hari supaya Ditopang oleh Yehovah

Daud juga berdoa pada malam hari supaya ditopang oleh Yehovah (Mzm. 3:5). Hampir semua pelajar Alkitab dan guru-guru Alkitab menyebut Mazmur 3 ini sebagai mazmur tentang doa malam. Apakah berdoa di malam hari itu baik atau buruk? Ini semua tergantung kepada bagaimana kita berdoa. Jika Daud benar-benar di dalam roh, ia akan mempertimbangkan situasi ia berada pada waktu itu. Ia melarikan diri dari anaknya yang memberontak. Ia seharusnya memikirkan apa yang menyebabkan anaknya memberontak. Maka ia akan berdoa pada malam itu, “Allah, ampunilah aku. Akulah yang menyebabkan anakku memberontak. Akulah yang membunuh Uria, memakai kuasa dan kedudukanku sebagai raja untuk melaksanakan konspirasi dan pembunuhan. Betapa memalukan aku bahkan merampas istri Uria.” Ketika ia melarikan diri dari anaknya, Daud seharusnya merasa malu dan bertobat di hadapan Allah.

4. Meminta Allah untuk Membela Kebenarannya

Daud meminta Allah untuk membela kebenaranya berdasarkan pengalaman doanya di masa lampau. Ia meyakinkan orang lain bahwa ia adalah seorang yang saleh yang disisihkan Allah bagi Diri-Nya dan yang berseru kepada Yehovah dan yang didengar oleh Yehovah ketika ia berseru kepadanya. Ia juga menasehati orang lain agar tidak berdosa ketika marah melainkan mempertimbangkannya di dalam hati mereka di tempat tidur mereka dan berdiam diri (Mzm. 4:1-4). Ketika ia melarikan diri dari anaknya, ia tetap meminta kepada Allah untuk membela dia akan kebenarannya, tetapi di manakah kebenarannya? Daud tidak seharusnya berdoa secara demikian. Sebaliknya, ia harus meminta Allah untuk menerangi dia supaya ia dapat melihat betapa jahat dan penuh dengan dosanya dia itu. Sebagai seorang raja, ia membunuh salah seorang dari pejuang-pejuangnya dengan konspirasinya. Kemudian setelah membunuhnya, ia merampas istrinya. Di manakah kebenarannya?

Ia juga meyakinkan orang lain bahwa ia adalah seorang yang saleh yang disisihkan Allah bagi Diri-Nya. Ia melarikan diri, namun ia menganggap bahaw ia disisihkan oleh Allah. Ini menunjukkan bahwa ia berada di dalam kegelapan. Di dalam mempertimbangkan Mazmur 4 ini, kita perlu ingat bahwa ini adalah satu mazmur yang ditulis oleh Daud pada waktu ia melarikan diri. Pada waktu itu, ia menunjukkan bahwa ia seorang yang saleh yang telah disisihkan Allah bagi Diri-Nya. Apakah itu adalah waktu baginya untuk berdoa secara demikian?

Ini menunjukkan bahwa kita manusia selalu tidak mudah diyakinkan atau ditundukkan di dalam keadaan kita yang berdosa. Sekalipun kita telah membunuh seseorang dan melakukan perzinahan dengan merampas, kita tidak mau diyakinkan. Kita masih mengira bahwa kita ini baik. Kita mungkin membela diri kita dengan mengatakan, “Ya, mungkin aku salah di dalam perkara-perkara tertentu, tetapi aku adalah seorang yang saleh yang telah disisihkan Allah bagi Diri-Nya.” Saya telah mengontaki orang-orang selama enam puluh tahun di dalam pemulihan Tuhan, tetapi saya hampir tidak pernah mempunyai satu waktu dengan seorang yang sepenuhnya diyakinkan oleh Allah akan kegagalan-kegagalannya. Di dalam pengadilan hukum, baik penuntut atau pembela tidak berpikir bahwa mereka itu salah. Mereka tidak bisa diyakinkan bahwa mereka itu salah. Kita semua memerlukan belas kasih Allah untuk melihat kegagalan-kegagalan kita, kedosaan kita, dan kekotoran kita, bahkan sampai berguling-guling di lantai ketika mengaku dosa-dosa kita. Ini berarti bahwa kita telah menerima belas kasihan dan menemukan kasih karunia di hadirat Allah. Selama kita tidak mau diyakinkan akan kedosaan kita, maka kita salah dan berada di dalam kegelapan.

Di dalam Mazmur 4, Daud bahkan menasehati orang lain untuk tidak dosa ketika marah melainkan mempertimbangkannya di dalam hati mereka di tempat tidur mereka dan berdiam diri. Ini adalah satu pengajaran yang baik, tetapi mengapa Daud tidak mengajar dirinya sendiri? Apakah ia adalah seorang yang benar berdoa secara demikian? Jika Anda mengetahui latar belakangnya, maka Anda bisa melihat bahwa ia bukanlah orang yang benar.

5. Menasehati Orang Lain untuk Mempersembahkan Kurban-Kurban Kebenaran dan Percaya kepada Yehovah

Daud juga menasehati orang lain untuk mempersembahkan kurban-kurban kebenaran dan percaya kepada Yehovah (Mzm. 4:5). Perkataan ini sangat baik, tetapi baginya menulis hal yang demikian pada waktu itu dalam situasinya itu tidaklah pantas.

6. Meminta Allah untuk Membiarkan Cahaya Wajah-Nya Menyinari Dia

Daud meminta Allah untuk membiarkan cahaya wajah-Nya menyinari dia, bersyukur kepada Allah karena menaruh sukacita di dalam hatinya lebih daripada sukacita orang lain karena kelimpahan gandum dan anggur baru, dan percaya kepada Allah yang membaringkan dan membuat tidur dengan tentram dan tinggal dengan aman (Mzm. 4:6-8). Melalui ini, kita bisa melihat bahwa Daud tidak memiliki perasaan mengenai situasinya dan kondisinya akan satu kegagalan yang besar. Ia telah menjadi mati rasa. Bagaimana mungkin seorang yang penuh dosa demikian berdoa secara demikian kepada Allah pada waktu ia melarikan diri dari situasi pemberontakan yang disebabkan karena dosanya? Pada saat yang demikian, ia mengatakan bahwa ia akan berbaring dan tidur dengan tentram dan tinggal dengan aman.

7. Berdoa di Pagi Hari dan Berjaga-jaga

Daud adalah seorang yang berdoa di pagi hari dan berjaga-jaga (Mzm. 51-3). Banyak guru Alkitab menyebut Mazmur 5 ini sebagai satu doa pagi. Mazmru 3 adalah doa malam, dan Mazmur 5 adalah doa pagi.

8. Mengenal Bahwa Allah Tidak Suka akan Kejahatan melainkan Membenci Ketidakadilan

Daud mengenal bahwa Allah tidak suka akan kejahatan melainkan membenci ketidakadilan (Mzm. 5:4-6). Jika Daud mengenal hal ini, lalu mengapa ia melakukan dosa yang demikian besar? Hanya mengenal hukum taurat itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Hukum taurat dan pengetahuan Daud tentangnya tidak berkhasiat baginya.

9. Masuk ke dalam Rumah Allah dalam Kelimpahan Kasih Setia-Nya

Daud mengatakan bahwa ia masuk ke dalam rumah Allah dalam kelimpahan kasih setia-Nya dan menyembah ke arah bait kudus Allah dalam rasa takut terhadap-Nya. Pada waktu itu, Daud tidak menyembah di dalam bait Allah, melainkan menyembah ke arahnya (Mzm. 5:7)

Ia meminta Allah untuk memimpinnya di dalam kebenaran-Nya dan membuat jalan-jalannya menjadi rata karena orang-orang yang ingin mencabut nyawanya (ay. 8). Ia mengatakan bahwa orang-orang ini tidak mempunyai sesuatu yang benar di dalam mulut mereka, yang batinnya bobrok dan yang kerongkongannya seperti kubur ternganga, dan yang merayu-rayu dengan lidah mereka (ay. 9). Anak kalimat ini bahkan dikutip oleh Paulus di dalam pemberitaan injilnya (Rm. 3:13).

Daud meminta Alah untuk menahan kesalahan mereka, membiarkan mereka jatuh karena nasehat-nasehat mereka sendiri dan membuang mereka karena banyaknya pelanggaran mereka dan pemberontakan mereka terhadap Allah (ay. 10). Doa ini penuh dengan penghukuman terhadap orang lain, tetapi tidak ada penghukuman terhadap diri Daud sendiri. Kelihatannya bahwa setiap orang itu salah dan penuh dengan dosa kecuali dia. Kita tidak bisa menemukan petunjuk apa pun di sini bahwa Daud mengakui dosanya di hadapan Allah.

10. Meminta Allah untuk Membiarkan Semua Orang Yang Berlindung di dalam-Nya Bersukacita dan Bersorak Sorai Untuk Selama-lamanya

Daud meminta Allah untuk membiarkan semua orang yang berlindung di dalam-Nya bersukacita dan bersorak sorai untuk selama-lamanya sehingga Allah dapat menebarkan satu penudup, satu penudung ke atas mereka untuk membuat orang-orang yang mengasihi nama Allah bergirang di dalam Allah. Ia juga meminta Allah untuk memberkati orang yang benar, mengelilinginya dengan kemurahan seperti dengan satu perisai (Mzm. 5:11-12). Saya tidak tahu mengapa Daud menyampaikan semua doa ini di sini. Bukannya, ia seharusnya berdoa, “Tuhan, ampunilah aku. Tindak tandukku yang penuh dengan dosa menyebabkan anakku memberontak. Tuhan, belas kasihani dia. Gerakkan kami semua untuk bertobat kepada-Mu.” Tidak ada petunjuk di dalam mazmur-mazmur Daud ini yang disadarkan akan kedosaannya.

11. Dalam Penghajaran Allah Meminta Allah untuk Bermurah Hati kepadanya

Di dalam penghajaran Allah, Daud meminta Allah untuk bermurah hati kepadanya, menyembuhkan dia, mengembalikan dia, dan menyelamatkan dia demi kasih setia-Nya (Mzm. 6:1-5). Daud menyadari bahwa ia berada di dalam penghajaran Allah, tetapi tetap tidak banyak pengakuan tentang kegagalannya. Ia mengatakan bahwa ia lesu dengan keluhannya, setiap malam ia menggenangi tempat tidurnya, dan dengan air matanya membanjiri ranjangnya. Matanya mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawannya (ay. 6-7). Saya rasa ini adalah kekesalan Daud. Bisakah seseorang menyebabkan tempat tidurnya tergenang karena air matanya? Apakah kita setuju dengan doa semacam ini? Jika seorang saudara berdoa secara demikian di dalam satu sidang doa, ktia mungkin menasehatinya untuk menghentikan doa semacam ini.

12. Percaya Bahwa Yehovah Telah Mendengar Suara Tangisannya dan Bahwa Semua Musuhnya Akan Dipermalukan dan Sangat Gentar

Daud percaya bahwa Yehovah telah mendengar suara tangisannya dan bahwa semua musuhnya akan dipermalukan dan sangat gentar (Mzm. 6:8-10). Daud tidak bisa melupakan semua musuhnya. Ini berbeda dengan pengajaran Tuhan di dalam Perjanjian Baru.

13. Berlindung di dalam Allah dan Meminta Allah Melepaskan Dia dari Semua Orang Yang Mengejarnya, karena Dia Tidak Melakukan Kesalahan

Daud berlindung di dalam Allah dan meminta Allah untuk melepaskan dia dari semua orang yang mengejarnya. Musuh-musuh, termasuk anaknya sedang mengejarnya. Daud merasa bahwa ia tidak melakukan kesalahan (Mzm. 7:1-5). Bagaimana mungkin seseorang bisa memberi tahu Allah bahwa mereka tidak melakukan kesalahan?

14. Meminta Yehovah untuk Bangkit dalam Amarah-Nya terhadap Murka yang Meluap-luap dari Musuh-musuhnya

Daun memintah Yehovah untuk bangkit dalam amarah-Nya terhadap murka yang meluap-luap dari musuh-musuhnya, dan meminta Yehovah untuk menghakiminya menurut kebenaran dan kejujurannya (Mzm. 7:6-8). Sulit untuk dibayangkan bahwa seorang yang demikian saleh seperti Daud akan menyampaikan doa yang demikian. Ia meminta Allah untuk menghakiminya menurut kebenaran dan kejujurannya. Di manakah kejujurannya? Ia telah melakukan perzinahan dan pembunuhan, yang mengakibatkan pemberontakan anaknya. Bila kita melihat Mazmur 3—7 di dalam terang ini, maka kita bisa melihat betapa butanya kita dalam apresiasi kiat terhadap Mazmur ini.

15. Meminta Allah untuk Meneguhkan Orang yang Benar

Daud meminta Allah untuk meneguhkan orang yang benar dan percaya bahwa perisainya ada pada Allah, yang, sebagai seorang Hakim yang adil benar, menyelamatkan orang yang tulus hatinya (Mzm. 7:9-13).

16. Percaya Bahwa Orang Jahat Susah Payah dalam Kejahatan dan Menggali sebuah Lubang

Daud percaya bahwa orang jahat susah payah dalam kejahatan dan membuat sebuah lubang, dan menggalinya, tetapi ia sendiri jatuh ke dalam pelubang yang dibuatnya. Kelaliman yang dilakukannya kembali menimpa kepalanya (Mzm. 7:14-16). Saya katakan lagi, misalnya seorang saudara berdoa secara demikian di dalam satu sidang doa. Kaum saleh mungkin memintanya untuk menghentikannya.

17. Mengucap Syukur kepada Yehovah menurut Kebenaran-Nya dan Menyanyikan Pujian kepada Nama YehovahYang Mahatinggi

Daud mengucap syukur kepada Yehovah menurut kebenaran-Nya dan menyanyikan pujian kepada nama Yehovah Yang Mahatinggi (Mzm. 7:17). Ini adalah salah satu dari beberapa poin yang baik di dalam Mazmur 3—7. Terima kasih kepada Tuhan bahwa mazmur-mazmur ini memiliki satu akhir yang baik.

Namun, kita bisa melihat bahwa tidak ada sesuatu mengenai ekonomi Allah, kerajaan Allah, kepentingan Allah di dalam Mazmur 3—7. Tidak ada sesuatu mengenai Kristus. Tidak ada roh doa syafaat yang riil, yaitu, tidak ada doa syafaat bagi orang lain di dalam roh. Juga, sedikit sekali suplai hayat kepada para pembacanya. Sebaliknya, mazmur-mazmur ini mendorong, menguatkan, dan meneguhkan para pembaca dalam meminta Allah untuk memperhatikan mereka dan kepentingan mereka. Banyak pembaca Mazmur, yang membaca tanpa pembedaan yang tepat akan konsep insani dan konsep ilahi, telah terdorong untuk memperhatikan keuntungan mereka dan kepentingan mereka.

Setelah melihat Mazmur 3—7 di dalam terang dari ekonomi Perjanjian Baru Allah, kita bisa melihat bahwa mazmur-mazmur ini tdak seharusnya diambil sebagai contoh-contoh bagi doa kita. Di dalamnya, kita melihat penderitaan-penderitaan Daud, kedambaannya untuk membalas dendam terhadap seteru-seterunya, dan kebenaran dirinya. Kita tidak melihat pertobatan apa pun, pengakuan akan kesalahannya atau menghukum diri sendiri. Namun, Mazmur 8, mewahyukan inkarnasi Kristus, kematian dan kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya, dan kerajaan-Nya. Mazmur 3—7 mewahyukan konsep Daud mengenai satu kehidupan yang saleh, sedangkan Mazmur 8 adalah pujiannya yang memberi ilham tentang keunggulan Kristus.