KEMUSTIKAAN SION DAN YERUSALEM DI DALAM PENGALAMAN DAN PUJIAN KAUM SALEH (1)
Pembacaan Alkitab: Mzm. 120—127
Dalam berita ini kita akan mulai mempertimbangkan sekelompok mazmur yang khusus, Mazmur 120 sampai 134, yang dikenal sebagai Mazmur Ziarah.
Mengingat Mazmur 119 berbicara tentang hukum Taurat, di dalam lima belas mazmur ini, hukum Taurat tidak disinggung. Daripada berbicara tentang hukum Taurat, mazmur-mazmur ini menunjukkan perkara penawanan. Umat Israel mengasihi hukum Taurat, tetapi tidak hidup menurut hukum Taurat. Setelah mereka menerima hukum Taurat, dosa, kesalahan, dan pelanggaran mereka bertambah. Mereka bahkan berpaling dari Allah dan menyembah berhala-berhala. Sebagai contoh, Hakim-hakim 17 memberitahu kita ada seseorang yang mendirikan berhala di dalam rumahnya, yang menunjuk salah satu dari anaknya untuk menjadi imamnya, yang kemudia menyewa seorang Lewi untuk menjadi imam di dalam rumahnya. Karena umat Israel ingin menyembah berhala, Allah menyebabkan mereka pergi ke dalam penawanan di negeri berhala. Sebagai umat yang menderita di dalam penawanan, mereka melupakan banyak hal, tetapi mereka tidak dapat melupakan Sion dan Yerusalem.
Pada saat itu, Gunung Sion dan Yerusalem, yang dibangun di atas Sion, adalah satu-satunya tanda yang tertinggal di tanah Allah. Sion adalah tempat dimana Abraham mempersembahkan anaknya Ishak; itu juga adalah tempat yang dipilih Daud. Allah itu tidak terlihat, misterius, dan sangat dalam. Tidak seorang pun telah melihat Dia. Meskipun demikian, Sion dan Yerusalem adalah tanda-tanda bumiah dari keberadaan Allah. Seperti yang ditunjukkan oleh Mazmur 120 sampai 134, Sion, pusat, dan Yerusalem, sekelilingnya, tetap tinggal secara mendalam di dalam pertimbangan umat Israel. Untuk alasan ini, Saya telah memberi judul pada dua berita dari mazmur ini ‘‘Kemustikaan Sion dan Yerusalem di dalam Pengalaman dan Pujian Kaum Saleh’’. Karena pengalaman mereka, kaum saleh tidak dapat melupakan Sion dan Yerusalem, dan di dalam pujian mereka, mereka tidak mengabaikan keduanya.
Kaum saleh tidak memperhatikan ibadah atau penghiburan, tetapi untuk nasib Sion dan Yerusalem. Bangsa Israel pertama kali diserang oleh bangsa Asyur, lalu oleh bangsa Babel. Tidak seperti bangsa Babel, bangsa Asyur tidak menghancurkan kota Yerusalem atau menghancurkan bait. Ketika Mazmur Ziarah ditulis, baik kota maupun bait masih ada, dan kaum saleh di dalam penawanan, mengingat keduanya sebagai tanda, sebagai lambang, dari Allah yang mereka sembah.
Mengapa kelima belas mazmur ini disebut Nyanyian Ziarah? Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu melihat bahwa ketika umat Israel ditawan, mereka berada dalam situasi yang merosot. Untuk kembali ke Yerusalem dan ke Sion adalah untuk berada dalam situasi yang naik. Lagipula, mereka perlu mendaki, menaiki, bukit Sion, dan saat mereka sedang naik, mereka menyanyikan nyanyian ziarah, nyanyian setiap tingkat.
Ketika kita diselamatkan, kita berada dalam situasi yang terangkat sehingga tidak dapat menyanyikan nyanyian ziarah. Namun, mungkin pada akhirnya kita menjadi ‘‘merosot’’ atau ‘‘rehdah’’ untuk sejangka waktu. Pada saat demikian, kita berada di dalam semacam penawanan. Tetapi ketika Tuhan mendapatkan kita sekali lagi, kita dibangunkan, kita akan menyanyikan nyanyian ziarah. Sebagai hasil dari pengalaman kita yang naik dan turun, kita tidak lagi meninggikan hukum Taurat, mengapresiasinya dengan cara alamiah. Kita akan menyadari bahwa hukum Taurat tidak membantu kita. Sebaliknya, hal yang sungguh-sungguh membantu kita adalah Sion dan Yerusalem.
Sekarang marilah kita mempertimbangkan kelima belas mazmur ini satu demi satu.
I. PUJIAN KAUM SALEH
DALAM KENAIKANNYA KE SION MENGENAI
PEMBEBASAN YEHOVA ATAS DIA DARI KESESAKANNYA
Mazmur 120 adalah pujian kaum saleh dalam kenaikannya ke Sion mengenai pembebasan Yehova atas dia dari kesesakannya.
A. Lima Belas Mazmur Ziarah
Menjadi Nyanyian Kesukaan Hizkia
Menurut sejarah, Mazmur 120 sampai 134, lima belas Mazmur Ziarah, adalah nyanyian kesukaan Hizkia (cf. Yes. 38:20). Dia biasanya menyanyikan mazmur ini dengan alat musik petik di dalam bait di Yerusalem.
B. Mesekh, satu Tempat yang Jauh sampai Utara di Asiria,
dan Kedar, satu Tempat sampai Selatan di Arabia
Psalm 120:5 says, ‘‘Celakalah aku, karena harus tinggal sebagai orang asing di Mesekh, karena harus diam di antara kemah-kemah Kedar’’. Di sini kita memiliki dua kata benda yang tepat—Mesekh dan Kedar—mengacu pada dua tempat. Mesekh adalah satu tempat yang jauh sampai utara di Asiria, dan Kedar adalah satu tempat sampai selatan di Arabia (Yes. 21:13, 16; Yeh. 27:21). Keduanya mengacu pada tempat dimana pemazmur ditawan saat penyerangan bangsa Asyur (2 Raj. 18:11; 2 Taw. 32:1). Ini menunjukkan bahwa Mazmur 120 berkaitan dengan penyerangan bangsa Asyur. Bangsa asyur menyerang Israel dan menduduki ibukota Israel, Samaria. Penulis dari mazmur ini berada di antara para tawanan di Mesekh dan Kedar.
C. Penderitaan Pemazmur akan Kesesakan
di dalam Penawanan
Bagaimana mungkin seorang Israel yang saleh berada di Mesekh, satu tempat yang jauh sampai utara, dan di Kedar, satu tempat sampai selatan? Jawabannya haruslah pemazmur berada di antara orang Yahudi yang saleh yang telah dibawa ke dalam penawanan oleh bangsa Asyur. ‘‘Kesesakan’’ dalam ayat 1 mengacu pada penderitaan karena kesesakan dalam penawanan pemazmur. Di sini pemazmur berkata, ‘‘Dalam kesesakanku aku berseru kepada Yehova dan Ia menjawab aku’’. Ayat 6 mungkin menunjukkan bahwa penawanannya adalah untuk waktu yang lama: ‘‘Cukup lama jiwaku tinggal bersama-sama dengan orang-orang yang membenci perdamaian’’. Mereka yang membenci perdamaian pertama adalah bangsa Asyur, kemudian bangsa Babel dan Persia, keduanya menyerang Israel. Penyerangan bangsa Asyur bukanlah untuk perdamaian, tetapi untuk peperangan. Maka, dalam ayat 7 pemazmur selanjutnya berkata, ‘‘Aku ini bagi perdamaian, tetapi apabila aku berbicara, mereka bagi peperangan’’. Karena para penyerang juga adalah para pendusta, pemazmur berdoa, ‘‘O Yehova, lepaskanlah aku dari pada bibir dusta, dari pada lidah penipu’’ (ay. 2). Oleh karena itu, yang pertama dari Mazmur Ziarah, menjelaskan penderitaan pemazmur di dalam penawanannya.
II. PUJIAN KAUM SALEH
DALAM KENAIKANNYA KE SION MENGENAI
PENJAGAAN YEHOVA ATAS DIA DARI YANG JAHAT
Mazmur 121 adalah pujian kaum saleh dalam kenaikannya ke Sion mengenai pejagaan Yehova atas dia semua yang jahat, malapetaka.
A.
Yehova sebagai Pejaga Hizkia
Ayat 5 berkata, ‘‘Yehovalah Penjagamu, Yehovalah naunganmu di sebelah tangan kananmu’’. Menurut sejarah, ‘‘Penjaga’’ di sini mengacu pada Yehova sebagai penjaga Hizkia (2 Raj. 19:14-19). Terlepas dari perlindungan Yehova, tentu saja Hizkia akan disembelih oleh bangsa Asyur.
B. ‘‘Ke Bukit-Bukit’’ Mengacu pada Yehova,
Yang Menciptakan Langit dan Bumi
Mazmur 121:1 dan 2 berkata, ‘‘Aku melayangkan mataku ke bukit-bukit; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari Yehova, yang menjadikan langit dan bumi’’. ‘‘Ke bukit-bukit’’ dalam ayat 1 mengacu pada Yehova, yang menciptakan langit dan bumi, termasuk bukit-bukit (2 Raj. 19:15).
C. Matahari dan Bulan
Menjadi Alat Pemeliharaan Allah
Dalam Mazmur 121:6 pemazmur berkata, ‘‘Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam’’. Di sini ‘‘matahari’’ dan ‘‘bulan’’ mengacu pada ciptaan Allah, dan keduanya menjadi alat pemeliharaan Allah.
Saya mengalami penggenapan khusus dari ayat ini selama penyerangan bangsa Jepang ke Cina di tahun 1937. Saya telah diminta oleh para sekerja untuk kembali dari Hangkow di Cina pusat ke kota kelahiran saya di Chefoo, di ujung Shantung Peninsula. Ini melibatkan perjalanan yang panjang dan rumit dengan kereta api. Negara dalam keadaan kacau, dan karena penyerangan pesawat terbang Jepang, itu adalah hal yang menakutkan untuk menempuh perjalanan dengan kereta api. Ketika langit cerah, pesawat terbang dapat menyerang baik siang maupun malam hari. Kapankala alarm berbunyi, kita harus meninggalkan kereta api dan bersembunyi dalam ladang. Para penumpang terbebaskan bahwa langit berawan selama siang hari. Namun, pada malam hari langit cerah, bulan bercahaya, dan orang-orang takut. Pada saat itu, saya sedang membaca mazmur 121, dan saya memuji Tuhan untuk firman-Nya di dalam ayat 6. Lalu saya bersaksi kepada para penumpang lain, dengan berkata, ‘‘Aku seorang Kristen dan aku baru saja membaca Alkitab, Firman Allah, bahwa matahari tidak akan menyakiti kamu di siang hari atau bulan di malam hari. Aku percaya bahwa Allah akan menjagaku aman. Semua yang bepergian bersamaku juga akan aman. Tenanglah’’. Beberapa dari mereka tertawa kepadaku. Tetapi setelah kita aman menempuh perjalanan panjang ke ibukota Profinsi Shantung tanpa alarm apapun, Saya meminta mereka tengantung apa yang telah saya lakukan,dan mereka mengakui bahwa itu benar. Dalam situasi itu, saya, seperti Hizkia, mengalami Allah sebagai Penjaga saya.
III. PUJIAN KAUM SALEH
DALAM KENAIKANNYA KE SION MENGENAI
KASIHNYA AKAN RUMAH ALLLAH DI YERUSALEM
Mazmur 122 adalah pujian kaum saleh dalam kenaikannya ke Sion mengenai kasih-Nya akan rumah AllahYerusalem. Mazmur yang manis ini mengenai kasih pemazmur akan rumah Allah. Perhatian pemazmur ini bukan untuk hukum Taurat tetapi untuk Sion dan Yerusalem.
A.
Sukacita Pemazmur
Pemazmur bersukacita ketika yang lain berkata kepadanya, ‘‘Mari kita pergi ke rumah Yehova’’ (ay. 1). Hari ini kita yang mengasihi gereja seharusnya bersukacita ketika seseorang berkata, ‘‘Marilah kita pergi bersidang.’’
B.
Pujiannya atas Yerusalem
Dalam ayat 2 sampai 4 kita memiliki pujian pemazmur atas Yerusalem, yang kepadanya suku bangsa Yehova naik.
C. Takhta dari Rumah Daud
Didirikan Di Sana untuk Penghakiman
‘‘Sebab di sanalah takhta didirikan untuk penghakiman, takhta milik keluarga raja Daud’’ (ay. 5). Daud di sini melambangkan Kristus.
D. Doa dan Berkatnya
untuk Damai Sejahtera dan Kesejahteraan Yerusalem
Ayat 6 sampai 9 adalah doa dan berkat pemazmur untuk damai sejahtera dan kesejahteraan Yerusalem. Dalam ayat 6 dia berkata, ‘‘Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: “Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa’’. ‘‘Kamu’’ mengacu pada Yerusalem. Ayat ini mengekspresikan perasaan pemazmur yang intim mengenai Yerusalem. Ayat 7 menunjukkan bahwa pemazmur peduli bukan untuk penghiburan pribadinya, tetapi untuk damai sejahtera dan kesejahteraan Yerusalem. Sehingga, dalam ayat 8 dan 9 dia selanjutnya berkata, ‘‘Oleh karena saudara-saudaraku dan teman-temanku aku hendak mengucapkan: “Semoga kesejahteraan ada di dalammu!” Oleh karena rumah Yehova, Allah kita, aku hendak mencari kebaikan bagimu.’’
IV. PUJIAN KAUM SALEH
DALAM KENAIKANNYA KE SION MENGENAI
BELAS KASIHAN ALLAH PADA PARA TAWANAN YANG KEMBALI
Mazmur 123 adalah pujian kaum saleh mengenai kenaikannya ke Sion mengenai belas kasihan Allah pada para tawanan yang kembali. Ini adalah mazmur pendek, tetapi sangat bermakna.
A.
Melayangkan Pandangannya kepada Yehova
Pemazmur berkata bahwa dia melayangkan pandangannya kepada Yehova, yang bersemayam di surga (ay. 1). Lalu dia selanjutnya berkata bahwa seperti mata para hamba memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada Yehova, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita (ay. 2).
Ayat 3a berkata, ‘‘Kasihanilah kami, O Yehova, kasihanilah kami’’. Dalam mazmur ini, kata yang paling penting adalah ‘‘belas kasihan’’. Ini bukan perkara kasih kita terhadap hukum Taurat Allah, tetapi perkara belaskasihan-Nya pada kita. Belas kasihan lebih dalam daripada rahmat, rahmat adalah luaran sedangkan belas kasihan adalah batini.
B. Karena Penghinaan
dan Olok-olok dari Para Penawan Mereka
Yehova membelaskasihani para tawanan yang kembali karena penghinaan dan olok-olok dari para penawan mereka. Mengenai hal ini, ayat 3b dan 4 berkata, ‘‘Sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghinaan; Jiwa kami sudah cukup kenyang dengan olok-olok orang-orang yang merasa aman, dengan penghinaan orang-orang yang sombong’’. Ini menunjukkan bahwa mereka masih ingat apa yang terjadi pada mereka dalam penawanan mereka. Mereka mengingat bahwa hari demi hari mereka diolok-olok, dipandang rendah, dan diperlakukan dengan penghinaan. Ketika mereka melalui pengalaman demikian, mereka tidak dapat melupakan Sion dan Yerusalem, dan ketika mereka kembali, mereka menaiki bukit Sion.
V. PUJIAN BANGSA ISRAEL
DALAM KENAIKAN MEREKA KE SION MENGENAI
PERTOLONGAN YEHOVA DARI SERANGAN MUSUH-MUSUH MEREKA
Mazmur 124 adalah pujian bangsa Israel dalam kenaikan mereka ke Sion mengenai pertologan Yehova dari serangan musuh-musuh mereka.
A.
Yehova Tidak Menyerahkan Mereka sebagai Mangsa
Ketika musuh-musuh mereka bangkit dalam kemarahan melawan mereka seperti air yang meluap-luap yang menerpa mereka untuk menghanyutkan mereka, Yehova tidak menyerahkan mereka sebagai mangsa bagi gigi mereka (ay. 1-6). Pemazmur berkata bahwa jika Yehova tidak di pihak mereka,
air yang meluap-luap telah menyeberangi jiwa mereka. Lalu, Pemazmur memuji Yehova untuk pertolongan-Nya. ‘‘Terpujilah Yehova yang tidak menyerahkan kita menjadi mangsa bagi gigi mereka’’ (ay. 6).
B.
Pertolongan Mereka Ada di dalam Nama Yehova
C.
Berbicara secara puitis, pemazmur melanjutkan, ‘‘Jiwa kita terluput seperti burung dari jerat penangkap burung; jerat itu telah putus, dan kita pun terluput’’ (ay. 7). Mereka seperti burung-burung yang dijerat oleh para penangkap burung, tetapi karena pertolongan Yehova, mereka melatikan diri dari jerat. Jadi, pemazmur menyimpulkan dengan pernyataan, ‘‘Pertolongan kita adalah dalam nama Yehova, yang menjadikan langit dan bumi’’ (ay. 8).
VI. PUJIAN KAUM SALEH
DALAM KENAIKANNYA KE SION MENGENAI
PENGELILINGAN YEHOVA ATAS UMATNYA
Mazmur 125 adalah pujian kaum saleh dalam kenaikan mereka ke Sion mengenai pengelilingan Yehova atas umat-Nya.
A. Mereka yang Percaya dalam Yehova
Menjadi seperti Gunung Sion
Dalam ayat 1 pemazmur berkata bahwa mereka yang percaya dalam Yehova adalah seperti Gunung Sion, yang tidak dapat goyang, tetapi tetapi tetap untuk selama-lamanya. Mereka mengasihi Gunung Sion dan mereka menyamakan diri mereka dengan Gunung Sion.
B. Yehova Mengelilingi Umat-Nya
dari Sekarang sampai Kekal
Ayat 2 memberitahu kita bahwa sebagai gunung-gunung yang mengelilingi Yerusalem, demikian Yehova mengelilingi umat-Nya dari sekarang sampai kekal.
D.
Yehova Menghakimi dengan Adil Benar
Pemazmur selanjutnya berkata bahwa Yehova menghakimi dengan adil benar mereka yang jujur dalam hati mereka dan mereka yang menyimpang ke jalan yang berbelit-belit (ay. 3-5a). Dalam ayat 4a pemazmur berdoa, ‘‘Lakukanlah kebaikan, O Yehova, kepada orang-orang baik.’’ Ekspresi ‘‘orang-orang baik’’ menunjukkan bahwa konsep pemazmur masih menurut prinsip baik dan jahat. Tidak seorang pun yang baik kecuali Allah (Mrk. 10:18). Lalu, bagaimana pemazmur dapat meminta Allah untuk melakukan kebaikan kepada orang-orang baik? Doa ini menunjukkan pengaruh tradisi lama atas pemazmur.
E.
Memberkati Israel dengan Damai Sejahtera
Mazmur ini diakhiri dengan pemazmur memberkati Israel, dengan berkata, ‘‘Damai sejahtera atas Israel’’ (ay. 5b).
VII. PUJIAN DARI PARA TAWANAN YANG KEMBALI
DALAM KENAIKAN MEREKA KE SION
MENGENAI HAL-HAL BESAR
YANG TELAH DILAKUKAN YEHOVA BAGI MEREKA
Mazmur 126 adalah pujian dari para tawanan yang kembali dalam kenaikan mereka ke Sion mengenai hal-hal besar yang telah dilakukan Yehova bagi mereka.
A. Mereka Menjadi seperti Pemimpi yang Dipenuhi
Sukacita dengan Ketawa di dalam Mulut Mereka
Dan dengan Sorak-Sorai di dalam Lidah Mereka
Pemazmur berkata bahwa ketika Yehova memulihkan penawanan Sion, mereka seperti mereka yang sedang bermimpi. Mulut mereka dipenuhi dengan tertawa dan lidah mereka dengan sorak-sorai (ay. 1-2a). ‘‘Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: “Yehova telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!” Yehova telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita’’ (ay. 2b-3).
B.
Meminta Yehova Mengembalikan Lagi Penawanan Mereka
‘‘Pulihkanlah kami, O Yehova, penawanan kami seperti arus di selatan’’ (ay. 4). Meskipun beberapa orang telah kembali, banyak yang masih tinggal dalam penawanan, dan di sini pemazmur berdoa bagi mereka. Dalam doanya pemazmur meminta Yehova untuk memulihkan lagi penawanan mereka seperti arus di selatan. Berbeda dengan arus di utara, yang mungkin menjadi beku, arus di selatan mengalir.
‘‘Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya’’ (ay. 5-6). Saya percaya bahwa ini mengacu pada para tawanan. Dalam pengertian manusia, penawanan mereka di negeri asing adalah suatu penderitaan. Namun, dalam pengertian ilahi, hal itu adalah penaburan melalui pemberitaan mereka kepada bangsa kafir mengenai Allah. Kelihatannya, umat Allah adalah para tawanan; sebenarnya, mereka adalah para pemberita. Banyak tawanan, seperti Daniel dan teman-temannya, adalah para pemberita yang unggul. Pemberitaan mereka adalah suatu penaburan. Sebagai hasilnya, sejumlah bangsa kafir dipimpin kepada Allah melalui para tawanan ini. sebagai contoh, Nebukadnezar harus mengaku pada Daniel dan teman-temannya bahwa Allah mereka adalah Allah yang sejati (Dan. 2:47; 3:28-29; 4:34-35). Ini menunjukkan bahwa para tawanan menaburkan benih pengetahuan Allah di antara para penyembah berhala.
Ayat 5 dari Mazmur 126 berbicara tentang menuai dengan sorak-sorai, dan ayat 6, tentang pulang dengan sorak-sorai. Sorak-sorai adalah teriakan sukacita, kegaduhan sukacita. Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, mereka pulang dengan sorak-sorai, sambil membawa ‘‘berkas-berkas’’ bersama mereka.
VIII. PUJIAN KAUM SALEH
DALAM KENAIKAN MEREKA KE SION MENGENAI
PERHATIAN DAN BERKAT YEHOVA KEPADA UMATNYA
Mazmur 127 adalah pujian kaum saleh dalam kenaikan mereka ke Sion mengenai perhatian dan berkat Yehova kepada umat-Nya. Nyanyian Ziarah ini ditulis oleh Salomo.
A.
Perhatian Yehova bagi Umat-Nya
Dalam ayat 1 dan 2 kita melihat perhatian Yehova kepada umat-Nya.
1. Yehova Membangun Rumah
Dan Menjaga Kota
‘‘Jikalau bukan Yehova yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan Yehova yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga’’ (ay. 1). Ini adalah kata penghiburan, khususnya bagi para penatua dan bagi mereka yang menganggap diri mereka para penjaga yang melindungi gereja. Jika Tuhan tidak membangun gereja, mereka yang membangunnya berjerih lelah dengan sia-sia. Jika Tuhan tidak menjaga kota—yaitu, menjaga gereja sebagai kerajaan—mereka yang menjaga gereja, berjaga-jaga dengan sia-sia.
2.
Adalah Sia-sia Bersusah Payah untuk Roti
‘‘Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah — sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur’’ (ay. 2). Ini menunjukkan bahwa jika Tuhan tidak melakukan apapun bagi kita, apapun yang kita lakukan akan menjadi sia-sia. Daripada bersusah payah dan bergumul dalam diri sendiri, kita perlu percaya dalam Dia, karena Dia memberi kepada yang dikasihi-Nya bahkan ketika mereka tidur. Apakah kamu percaya bahwa apa yang kamu lakukan berarti sesuatu? Kita perlu menyadari bahwa apapun yang kita lakukan tanpa percaya dalam Tuhan tidak berarti apa-apa. Jika kita menyadari hal ini, kita akan beristirahat di dalam Tuhan.
B.
Berkat Yehova kepada Umat-Nya
Ayat 3 sampai 5 adalah berkat Yehova kepada umat-Nya.
1.
Anak-anak adalah Warisan Yehova
Dalam ayat 3 pemazmur berkata bahwa anak-anak adalah warisan Yehova dan bahwa buah kandungan adalah suatu hadiah.
2. Diberkatilah Menjadi Seorang
Yang Memenuhi Tempatnya dengan Anak sebagai Anak Panahnya
‘‘Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang’’ (ay. 4-5). Ini menunjukkan bahwa daripada bergumul tanpa percaya dalam Tuhan, kita seharusnya dengan sederhana menjadi ayah yang baik menghasilkan anak-anak. Kita tidak dapat mendapatkan banyak dengan susah payah kita, tetapi kita dapat menghasilkan anak-anak. Orang-orang tertentu adalah pandai dan sangat rajin dalam jerih lelah mereka, tetapi mereka tidak memiliki seorang anak pun. Mereka tidak memiliki ‘‘anak-anak panah’’ di dalam ‘‘tempat’’ mereka. Hal ini memalukan. Kita perlu mempertimbangkan apa yang akan kita pilih—bersusah payah atau beristirahat dan menghasilkan anak.
Mazmur 127 adalah sebuah mazmur kelepasan, sebuah mazmur yang melepaskan kita dari jerih lelah. Mazmur ini mengajarkan kita bahwa Allah memperhatikan kita dan memberkati kita. Baik kita berjerih lelah atau tidak, situasinya adalah sama. ‘‘Semuanya sama’’, Dia memberi kepada kita ketika kita tidur. Sebagai tambahan dalam memperhatikan kita, Dia memberkati kita dengan pertambahan, dengan anak-anak. Kita semua perlu mempercayai hal ini. Meskipun saya seorang yang berjerih lelah, saya percaya bahwa hasilnya bukan tergantung pada jerih lelah saya, tetapi pada perhatian dan berkat Allah.
Perkataan Salomo di dalam Mazmur ini ditujukan kepada mereka yang berjerih lelah dan berusaha untuk melakukan sesuatu, tetapi tidak percaya dalam Allah. Daripada berjerih lelah dalam diri sendiri, kamu seharusnya percaya dalam Allah. Dia akan memperhatikan kamu, dan Dia akan memberkati kamu.
Apa yang digambarkan dalam Nyanyian Ziarah perlu menjadi pengalaman kita. Hari ini, kita berbicara tentang pertambahan. Namun, semakin kita berbicara, semakin kita kecewa. Semakin kita mengharapkan untuk memiliki pertambahan, semakin sedikit pertambahan yang kita miliki. Sebagai hasilnya, kita tidak memiliki damai sejahtera dan perhentian, dan kita tidak memiliki Nyanyian Ziarah ini. Oleh karena itu, konsep kita perlu diubah. Pertambahan tidak bergantung pada apa yang kita lakukan—itu tergantung pada berapa banyak Allah memberi. Baik perhatian dan berkat datang dari Dia. Marilah kita belajar untuk menjadi Salomo hari ini, mengenal bahwa apapun yang kita lakukan tanpa percaya dalam Tuhan ada dalam kesia-siaan, tetapi selama kita percaya dalam Dia, akan ada hasil yang baik. Jika kita belajar menjadi Salomo yang demikian, lalu kita akan berdoa, dengan berkata, ‘‘Tuhan, aku tidak memiliki kepercayaan di dalam diriku sendiri. Aku percaya di dalam rahmat-Mu, di dalam berkat-Mu, di dalam hadirat-Mu, dan di dalam Roh-Mu’’. Inilah pengalaman Mazmur 127.