← Daftar isi Mazmur (1) · bab 37/42

KRISTUS—REALITAS HUKUM TAURAT SEBAGAI KESAKSIAN DAN FIRMAN ALLAH

Pembacaan Alkitab: Mzm. 119

Dalam berita ini kita sampai pada Mazmur 119. Mazmur ini tidak memiliki sebuah judul yang memberitahu kita siapa penulisnya, namun secara umum dipahami oleh pengajar-pengajar Alkitab bahwa mazmur ini ditulis oleh Daud.

Mazmur 119 adalah salah satu dari mazmur abjad, atau sanjak. Huruf pertama dari setiap kelompok dari delapan ayat di dalam mazmur ini mengikuti urutan abjad Ibrani. Jadi dua puluh dua bagian dari mazmur ini berkaitan dengan dua puluh dua huruf dari abjad Ibrani. Lagipula, semua ayat di bagian tertentu dimulai dengan beberapa huruf Ibrani yang sama. Sebagai contoh, dalam bagian Aleph (ay. 1-8) setiap ayatnya dimulai dengan huruf Ibrani Aleph.

Judul dari berita ini adalah ‘‘Kristus—Realitas dari Hukum Taurat sebagai Kesaksian dan Firman Allah’’. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru ada dasar yang kuat untuk mengatakan bahwa hukum Taurat dengan realitasnya adalah Kristus. Jika kita ingin melihat bahwa Kristus adalah realitas hukum Taurat, kita perlu menganggap hukum Taurat, seperti yang Mazmur 119 lakukan, sebagai kesaksian Allah dan sebagai firman Allah. Mazmur ini tidak berisi kata ‘‘Kristus,’’ tetapi mazmur ini berisi sejumlah sinonim dari Kristus, seperti ‘‘kesaksian’’ dan ‘‘firman,’’ yang juga bersinonim dengan ‘‘hukum Taurat’’. Kita tidak seharusnya menganggap hukum Taurat hanya sebagai perintah, aturan, dan peraturan. Melainkan, kita harus menganggap hukum Taurat sebagai kesaksian Allah. Hukum Taurat diberikan di atas Gunung Sinai, tetapi diletakkan ke dalam sebuah tabut kecil yang disebut ‘‘tabut kesaksian’’ (Kel. 25:16). Kemudian tabut ditempatkan ke dalam ‘‘kemah kesaksian’’ (38:21). Jadi, hukum Taurat berada di dalam tabut kesaksian, dan tabut kesaksian berada di dalam kemah kesaksian.

Pada poin ini kita perlu bertanya sebuah pertanyaan yang sangat khusus: Dalam perlambangan, siapakah hukum Taurat? Ini sebuah pertanyaan bukan tentang apakah hukum Taurat itu melainkan tentang siapakah hukum Taurat itu. Kita tidak dapat menjawab pertanyaan mengenai siapakah hukum Taurat itu dengan mengatakan bahwa hukum Taurat adalah Sepuluh Perintah. Sepuluh Perintah bukanlah persona, tetapi adalah gambaran dari seorang persona. Hukum Taurat selalu adalah gambaran dari persona yang membuatnya. Hukum-hukum yang ditetapkan oleh pembuat-pembuat hukum hari ini adalah gambaran dari pembuat hukumnya. Prinsipnya sama dengan hukum Taurat Allah. Hukum Taurat Allah—Sepuluh Perintah dengan banyak ketetapan, peraturan, dan penghukuman—adalah sebuah gambaran dari persona Allah.

I. KRISTUS MENJADI REALITAS HUKUM TAURAT,

DITANDAI OLEH:

A. Kesaksian Allah, Menandakan Kristus

sebagai Gambaran yang Hidup dari Apa Adanya Allah

Kristus adalah realitas dari hukum Taurat sebagai kesaksian Allah. Kesaksian Allah menandakan Kristus sebagai gambaran yang hidup dari apa adanya Allah (Kol. 2:9; 1:19).

Sepuluh Perintah itu singkat, tetapi mereka memberi kita gambaran dari Allah. Mereka memperlihatkan kepada kita bahwa Allah adalah Allah yang cemburu, bahwa Dia tidak dapat mentoleransi allah-allah lain. Dalam hal ini, Dia seperti seorang suami yang cemburu terhadap isterinya. Juga, Allah adalah Allah kasih, terang, kudus, dan adil-benar. Di sini kita memiliki lima kata penting—cemburu, kasih, terang, kudus, dan adil-benar.

Kesepuluh perintah Allah ditulis pada dua loh batu, masing-masing loh batu berisi lima perintah. Dengan cara ini, Sepuluh Perintah dibagi menjadi dua kelompok masing-masing lima perintah. Tiga perintah yang pertama berhubungan dengan Allah. Perintah yang pertama berkata bahwa Tuhan adalah Allah dan bahwa kita tidak seharusnya memiliki allah-allah lain di hadapan-Nya (Kel. 20:2-3); perintah yang kedua, bahwa kita tidak seharunya membuat berhala atau menyembah berhala; dan perintah yang ketiga, kita jangan mengambil nama Allah dengan sia-sia (ay. 7). Perintah keempat meminta kita untuk memelihara Sabat (ay. 8-11). Perintah ini menunjukkan bahwa Allah adalah kasih. Karena Dia mengasihi kita, Dia ingin agar kita memiliki satu hari perhentian. Perintah kelima adalah perintah untuk menghormati orang tua kita (ay. 12). Perintah ini dikelompokkan dengan keempat perintah yang pertama yang berhubungan dengan Allah. Alasan untuk pengelompokan ini melibatkan sumber kita sebagai manusia. Dalam Lukas 3 silsilah manusia semuanya kembali kepada Adam, lalu kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa ketika kita menghormati orang tua kita, kita menghormati sumber kita, yang secara ultima adalah Diri Allah Sendiri. Ketika kita menghormati orang tua kita, kita mengenal fakta bahwa melalui mereka, kita dapat menemukan jejak sumber kita kembali pada Allah. Mereka yang tidak menghormati orangtua mereka tidak menghormati Allah.

Lima perintah pada kelompok yang kedua semua berhubungan dengan keinsanian. Ini adalah perintah-perintah mengenai jangan menbunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan bersaksi dusta, dan jangan iri hati. Kita dapat menggunakan lima kata untuk merangkum kelima perintah ini: pembunuhan, perzinahan, pencurian, pendusta, dan iri hati. Siapa saja yang tidak membunuh, tidak berzinah, tidak mencuri, tidak berdusta, atau tidak iri hati adalah seorang yang sempurna.

Kita telah menunjukkan bahwa Sepuluh Perintah menggambarkan Allah sebagai Dia yang adalah Allah yang cemburu, kasih, terang, kudus, dan adilbenar. Lima perintah yang terakhir berhubungan dengan kekudusan dan keadilbenaran Allah. Sebagai contoh, seseorang yang mencuri atau berdusta adalah tidak benar.

Allah adalah Allah yang cemburu, yang kasih dan terang, dan yang kudus dan adil-benar terwujud di dalam Kristus. Untuk alasan inilah, Kristus adalah kesaksian Allah. Kristus adalah cemburu, kasih, dan penuh dengan terang. Dia juga kudus dan adil-benar. Dia adalah realitas dari hukum Taurat, yang adalah gambaran dari Allah.

B. Firman Allah, Menandakan Kristus

sebagai Firman Allah yang Hidup yang Dihembuskan oleh Dia

Kristus adalah realitas dari hukum Taurat bukan hanya sebagai kesaksian Allah, tetapi juga sebagai firman Allah, menandakan Kristus sebagai firman Allah yang hidup yang dihembuskan oleh Dia (Why. 19:13b; 2 Tim. 3:16-17). Yohanes 1:1 mengatakan bahwa pada mulanya adalah Firman (Kristus), firman itu bersama-sama dengan Allah dan firman itu adalah Allah. Menurut Wahyu 19:13b, ketika Kristus datang kembali untuk menghakimi, nama-Nya akan disebut ‘‘Firman Allah’’. Sepuluh perintah Allah, dengan semua ketetapan, peraturan, dan penghukuman, juga disebut firman Allah. Terjemahan harafiah dari terjemahan Ibrani ‘‘sepuluh perintah’’ di dalam Keluaran 34:28 menjadi ‘‘sepuluh firman’’. Jadi Sepuluh Perintah adalah firman Allah, dihembuskan oleh Dia.

Kata ‘‘hukum Taurat’’ digunakan dua puluh lima kali dalam Mazmur 119 (ay. 1, 18, dst.). Sejumlah sinonim yang berbeda untuk ‘‘hukum Taurat’’ juga digunakan dalam mazmur ini, termasuk ‘‘kesaksian’’ (satu kali, dalam ay. 88), ‘‘kesaksian-kesaksian’’ (dua puluh dua kali, dalam ay. 2, 14, dst.), ‘‘firman’’ (tiga puluh enam kali, dalam ay. 9, 11, dst.), ‘‘firman-firman’’ (enam kali, dalam ay. 57, 103, dst.), ‘‘perintah’’ (sekali, dalam ay. 96), ‘‘perintah-perintah’’ (dua puluh satu kali, dalam ay. 6, 10, dst.), ‘‘ketetapan-ketetapan’’ (dua puluh satu kali, dalam ay. 5, 8, dst.), ‘‘peraturan-peraturan’’ (tujuh belas kali, dalam ay. 7, 13, dst.), ‘‘penghukuman’’ (tiga kali, dalam ay. 75, 120, 137), dan ‘‘titah-titah’’ (dua puluh satu kali, dalam ay. 4, 15, dst.). Semua istilah ini dari ‘‘hukum Taurat’’ sampai ‘‘titah’’ rampung menjadi ‘‘jalan’’ (empat kali, dalam ay. 14, 27, 32, 33) atau ‘‘jalan-jalan’’ (tiga kali, dalam ay. 3, 15, 37), menandakan Kristus sebagai jalan Allah bagi umat-Nya.

Mazmur 119 adalah sebuah mazmur dengan seratus tujuh puluh enam ayat menjelaskan Kristus, yang adalah realitas dari hukum Taurat, perintah-perintah, peraturan-peraturan, ketetapan-ketetapan, titah-titah, dan penghukuman. Secara total, Dia adalah firman Allah. Firman-firman dari Mazmur 119 adalah firman-firman Allah yang tertulis, tetapi Kristus adalah firman Allah yang hidup. Firman-firman yang tertulis adalah huruf-huruf, tetapi Firman yang hidup adalah Roh itu, yang adalah realitas dari huruf-huruf.

Sekarang kita dapat melihat bukan hanya apakah hukum Taurat itu tetapi juga siapakah hukum Taurat itu. Siapakah hukum Taurat? Hukum Taurat adalah persona Kristus, dan persona Kristus adalah Roh. Roh adalah realitas dari apa adanya Allah. Maka, sebagai Roh itu, Kristus adalah Realitas dari hukum Taurat. Sesungguhnya, hukum Taurat ini, persona ini, rampung menjadi jalan (Yoh 14:6). Ketika kita memiliki Dia, kita tidak hanya memiliki kasih dan terang, tetapi juga memiliki jalan. Inilah Kristus menjadi realitas dari hukum Taurat sebagai kesaksian dan firman Allah.

II. DUA ASPEK DARI HUKUM TAURAT

Ada dua aspek dari hukum Taurat—aspek hukum yang tertulis dan aspek Roh. Dalam 2 Korintus 3:6 Paulus mengatakan bahwa ‘‘sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan’’. Apakah kamu memiliki hukum tertulis yang mematikan atau hukum yang memberi hidup tergantung pada sikapmu. Jika sikapmu ketika datang kepada hukum Taurat hanya memperhatikan perintah-perintah secara hurufiah dan menyadari bahwa kamu tidak dapat memenuhi perintah-perintah ini, maka kamu memiliki hukum Taurat dalam aspek hukum yang tertulis. Namun, jika kamu mengambil setiap bagian dari hukum Taurat—semua perintah, peraturan, ketetapan, titah, dan penghukuman—sebagai firman yang dihembuskan oleh Allah yang kamu kasihi, maka kamu akan memiliki hukum Taurat dalam aspek Roh. Lalu, daripada gemetar di hadapan hukum yang tertulis, kamu akan senang untuk diberi makan dengan setiap bagian dari hukum Taurat sebagai firman, hembusan, dari Allah.

III. DUA ASPEK DARI FUNGSI HUKUM TAURAT

Sama seperti hukum Taurat itu sendiri memiliki dua aspek, demikian juga fungsi hukum Taurat memiliki dua aspek.

A. Aspek Negatif

1. Sebagai Perintah-Perintah Allah yang Menyingkapkan Dosa Manusia

Sebagai perintah-perintah Allah, hukum Taurat menyingkapkan dosa manusia (Rom. 7:7b; 3:20b; 5:20a; 4:15b). Setiap butir dari hukum Taurat dengan ketetapan dan peraturannya menyingkapkan kekurangan, cacat, ketidakjujuran, dan ketidaksetiaan kita. Sebagai contoh, perintah mengenai jangan menyembah berhala dapat menyingkapkan fakta bahwa banyak hal yang adalah berhala bagi kita. Bagi beberapa orang sebuah pena atau sebuah berlian adalah berhala. Juga, perintah mengenai memelihara hari Sabat dapat menyingkapkan perhentian kita yang tidak teratur menurut penetapan Allah. Dengan gagal untuk memiliki perhentian yang tepat, kita gagal untuk menikmati kasih Allah yang diekpresikan melalui perintah untuk memelihara hari Sabat.

2. Senbagai Regulasi Allah

dengan Ketetapan, Peraturan, Ritualnya

untuk Menjaga Umat Pilihan Allah menjadi Tawanannya

Supaya Mereka Dapat Dipimpin kepada Kristus

Sebagai regulasi Allah dengan ketetapan, peraturan, dan ritualnya, hukum Taurat berfungsi untuk menjaga umat pilihan Allah menjadi tawanannya supaya mereka dapat dipimpin kepada Kristus (Gal. 3:23-24). Hukum Taurat menjaga umat pilihan Allah dalam tawanan, sebagai wali, dengan cara yang tepat sampai Kristus datang. Kaandang domba di dalam Yohanes 10 menandakan penawanan hukum Taurat. Tuhan Yesus adalah pintu dari kandang domba itu (ay. 9), dan melalui Dia semua yang ada di dalam kangdang domba dapat keluar. Jadi, di sisi negatif hukum Taurat menjaga umat pilihan Allah sampai Kristus datang.

B. Aspek Positif

1. Sebagai Kesaksian Allah yang Hidup

untuk Meministrikan Allah yang Hidup kepada Para Pencari-Nya

Sebagai kesaksian Allah yang hidup, fungsi hukum Taurat adalah untuk meministrikan Allah yang hidup kepada para pencari-Nya (Mzm. 119:2, 88). Jika kita memandang hukum Taurat hanya sebagai hukum yang tertulis, maka hukum Taurat akan menjadi sangat negatif bagi kita. Namun, jika kita memandang hukum Taurat sebagai kesaksian Allah, sebagai gambar Allah, dan jika kita menganggap bahwa setiap perkataan dari hukum Taurat adalah sesuatu yang dihembuskan keluar oleh Allah, maka bagi kita hukum Taurat akan menjadi firman Allah yang hidup dan terkasih. Hari ini, jika ini adalah sikap kita terhadap Alkitab, maka kapanpun kita datang pada Alkitab kita akan memiliki perasaaan yang dalam di batin bahwa kita bersama dengan Allah. Maka saat kita membaca Alkitab, kita akan menjamah Allah, mengetahui bahwa Ia adalah terkasih dan bahwa pasti ini layak bagi kita untuk mengasihi Dia dan untuk mencari Dia. Inilah aspek positif dari hukum Taurat sebagai kesaksian Allah.

2. Sebagai Firman Allah yang Hidup

untuk Menyalurkan Hayat dan Terang Allah kepada Para Pengasihnya

Sebagai firman Allah yang hidup, fungsi hukum Taurat adalah untuk menyalurkan hayat dan terang Allah ke dalam mereka yang mengasihi hukum Taurat (ay. 25, 116, 130). Kita seharusnya memandang Alkitab sebagai firman Allah yang hidup yang menyalurkan diri Allah sendiri ke dalam kita sebagai hayat dan terang kita. Apakah hal ini pengalaman kita atau tidak bergantung pada apakah kita mencari Allah dan mengasihi Dia. Ini berarti bahwa apa adanya Alkitab bagi kita bergantung pada sikap kita terhadap Alkitab.

IV. DUA MACAM ORANG DALAM HUBUNGANNYA DENGAN HUKUM TAURAT

Ada dua macam orang dalam hubungannya dengan hukum Taurat.

A. Pemelihara Hukum Tertulis,

Diilustrasikan oleh Para Penganut Agama Yahudi dan Saulus dari Tarsus

Macam yang pertama adalah pemelihara hukum tertulis, diilustrasikan oleh para penganut agama Yahudi dan Saulus dari Tarsus (Flp. 3:6b). Para penganut agama Yahudi, yang bergairah bagi Yudaisme, adalah suatu kerusakan bagi Tuhan Yesus di dalam kitab Injil, bagi para rasul di dalam Kisah Para Rasul, dan bagi kaum beriman di dalam Surat Kiriman. Paulus, sebelum dia diselamatkan, adalah seorang penganut agama yahudi yang kental. Dalam Filipi 3:2 Paulus mengacukan para penganut agama Yahudi sebagai ‘‘anjing-anjing’’ dan ‘‘pekerja-pekerja jahat,’’ mengatakan, ‘‘Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat itu.’’

B. Para Pencari Allah, Diilustrasikan oleh Pemazmur

Macam yang kedua adalah para pencari Allah, diilustrasikan oleh pemazmur, khususnya penulis dari Mazmur 119.

1. Mencari Allah

‘‘Berbahagialah orang-orang yang memegang kesaksian-kesaksian-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati’’ (ay. 2). Penulis dari mazmur ini adalah seorang yang mencari Allah dengan segenap hatinya.

2. Mencintai Nama-Nya dan Mengingatnya

Ayat 132 mengatakan, ‘‘Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebagaimana sepatutnya terhadap orang-orang yang mencintai nama-Mu.’’ Ayat ini menunjukkan bahwa pemazmur mencintai nama Allah. Ayat 55 mengatakan, ‘‘Pada waktu malam aku ingat kepada nama-Mu, O Yehova; Dan telah memegang Taurat-Mu.’’ Ketika pemazmur bangunpada waktu malam, ia teringat nama Allah. Semoga kita semua mencintai nama Allah dan mengingat nama-Nya.

3. Memohon Wajah-Nya

Pemazmur juga memohon wajah Allah (ay. 58). Untuk mencari wajah seseorang, mukanya, sebenarnya mencari kemurahannya. Jika kita mencari wajah Allah, kita akan menerima karunia. Seringkali anak kecil akan dengan sungguh-sungguh mencari wajah ibunya. Bagi mereka tidak ada yang lebih mustika daripada memandang wajah ibunya. Kita juga seharusnya mencari Allah dengan cara yang intim. Jika kita mencari Allah dengan cara ini, kita tidak akan memperhatikan hukum Taurat sebagai huruf tetapi sebagai gambaran Allah yang mengemban wajah-Nya.

4. Meminta Wajah-Nya Bersinar pada Mereka

‘‘Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.’’ (ay. 135). Disini kita melihat bahwa pemazmur dengan kasih mencari Allah dengan cara yang intim, bahkan meminta Allah untuk membuat wajah-Nya bersinar kepadanya.

5. Berjalan dalam Hadirat-Nya

‘‘Aku berpegang pada titah-titah-Mu dan kesaksian-kesaksian-Mu, sebab seluruh hidupku terbuka di hadapan-Mu.’’ (ay. 168). Ini menunjukkan bahwa pemazmur berjalan dalam hadirat Allah.

6. Menganggap Hukum Taurat Allah

untuk Menjadi Firman-Nya

Ayat17 dan 18 mengatakan, ‘‘Lakukanlah kebajikan kepada hamba-Mu ini, supaya aku hidup, dan aku hendak berpegang pada firman-Mu. Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.’’ Ini menunjukkan bahwa pemazmur menganggap hukum Taurat Allah adalah firman-Nya. Ini juga ditunjukkan oleh apa yang pemazmur katakan di dalam ayat 28 dan29: ‘‘Jiwaku menangis karena duka hati, kuatkanlah aku sesuai dengan firman-Mu. Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan karuniakanlah aku Taurat-Mu.’’ Ayat-ayat ini membuktikan bahwa pemazmur berpikir tentang hukum Taurat Allah sebagai firman-Nya yang hidup dan terkasih yang dihembuskan dari mulut Allah.

7. Firman Allah Menjadi Lebih Manis

daripada Madu bagi Mulut Mereka

Bagi Pemazmur firman Allah lebih manis daripada madu bagi mulut mereka (ay. 103).

8. Firman Allah Menjadi Lebih Mustika

daripada Emas Murni bagi Mereka

‘‘Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintah-Mu lebih dari pada emas, bahkan dari pada emas tua.’’ (ay. 127). Ini menunjukkan bahwa bagi pemazmur firman Allah lebih berharga daripada emas murni.

9. Firman Allah Menjadi seperti Pelita bagi Kaki Mereka

dan Terang bagi Jalan Mereka

Firman Allah adalah pelita bagi kaki pemazmur dan terang bagi jalan mereka (ay. 105).

V. SIKAP PARA PENCARI ALLAH TERHADAP HUKUM TAURAT ALLAH

SEBAGAI KESAKSIAN ALLAH DAN FIRMAN ALLAH

Dalam Mazmur 119 banyak kata kerja yang berbeda digunakan untuk mengekspresikan sikap dari para pencari Allah terhadap hukum Taurat Allah sebagai kesaksian Allah dan firman Allah.

A. Memilihnya

Mazmur 119:30 mengatakan, ‘‘Aku telah memilih jalan kesetiaan, telah menempatkan peraturan-peraturan-Mu di hadapanku.’’ Ayat 173 mengatakan, ‘‘Biarlah tangan-Mu siap menolongku, sebab aku memilih titah-titah-Mu’’. Seperti para pemazmur, kita semua seharusnya memilih firman Allah, membuat sebuah keputusan yang kuat untuk menyukai firman Allah.

B. Mempercayainya

Menganggap hukum Taurat untuk menjadi firman-Nya, pemazmur percaya di dalam firman. Ayat 66 mengatakan, ‘‘Ajarkanlah kepadaku daya pembeda dan pengetahuan yang tepat, sebab aku percaya dalam perintah-perintah-Mu’’. Kita semua harus percaya kesejatian, ketepatan, kekuasaan,dan kuasa dari firman Allah.

C.Menaikkan Tangan Mereka Kepadanya

‘‘Aku menaikkan tanganku kepada perintah-perintah-Mu yang kucintai’’ (ay. 48a). Menaikkan tangan kita kepada firman Allah adalah menyambutnya. Oleh karena itu, menaikkan tangan kita ke atas firman Allah menunjukkan bahwa kita menerimanya dengan hangat dan senang dan bahwa kita mengatakan ‘‘amin’’ terhadapnya.

D. Mengasihinya

Seringkali penulis mazmur ini menyatakan bahwa dia mengasihi firman Allah (ay. 47, 48, 97, 113, 119, 127, 140, 159, 163, 165, 167). Kita seharusnya sanggup bersaksi bahwa kita mengasihi firman Allah.

E. Menyukainya

Pemazmur juga menyukai firman Allah (vv. 16, 24, 35,47, 70, 77, 92, 174). Dia menikmati firman Allah dan menemukannya sebagai sumber kesukaan. Setiap hari kita harus memiliki waktu untuk menyukakan diri kita di dalam Firman.

F. Mengecapnya

‘‘Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku!’’(ay. 103). Bagi pemazmur, hukum Taurat bukan sekadar daftar perintah-perintah; itu juga firman yang penuh kenikmatan dan suplai hayat. Untuk alasan ini, firman-firman Allah manis bagi mulutnya. Jika kita menganggap hukum Taurat Allah tidak lebih dari perintah-perintah Allah, itu tidak akan akan menjadi manis bagi kita. Tetapi jika kita menganggap hukum Taurat sebagai firman-Nya bagi perawatan kita dan suplai hayat kita, kita akan menikmati kemanisannya.

G. Bersukacita di dalamnya

Ketika kita mengecap firman Allah, kita akan bersukacita didalamnya. Ini adalah pengalaman pemazmur, yang bersaksi lagi dan lagi bahwa ia bersukacita dalam firman Allah (ay. 14, 111, 162).

H. Menyanyikannya

‘‘Ketetapan-ketetapan-Mu adalah nyanyian pujianku di rumah yang kudiami sebagai orang asing’’ (ay. 54). Ini menunjukkan bahwa pemazmur bahkan menyanyikan firman Allah.

I. Menghormatinya

Dalam ayat 6 pemazmur berkata bahwa dia menghormati perintah-perintah Allah, dan dalam ayat 117, dia menghormati peraturan-peraturan Allah. Ini berarti dia menghormati firman Allah. Jika kita pencari allah sejati, kita harus menghormati firman-Nya.

J. Memiliki Suara Hati di dalamnya

Pemazmur juga memiliki suara hati, atau hati yang baik, di dalam firman Allah (ay. 80).

K. Inclining Their Heart unto It

Dalam ayat 36 pemazmur berdoa, ‘‘Condongkanlah hatiku kepada kesaksian-kesaksian-Mu, dan jangan kepada laba’’. Lalu dalam ayat 112 dia menyatakan, ‘‘Telah kucondongkan hatiku untuk melakukan ketetapan-ketetapan-Mu, untuk selama-lamanya, sampai saat terakhir’’. Ayat-ayat ini menunjukkan pada kita bahwa kita perlu satu hati yang dicondongkan kepada firman Allah. Kadangkala saat kita sedang membaca Alkitab, hati kita dicondongkan kepada sesuatu yang lain. Karena hati kita memiliki kecenderungan meninggalkan firman Allah, kita perlu berdoa supaya hati kita dikembalikan kepada firman Allah dan dicondongkan kepadanya.

L. Mencarinya, Mendambakannya,

dan Berharap di dalamnya dengan Doa

Pemazmur juga mencari firman Allah (ay. 45, 94), mendambakannya (ay. 20, 40, 131), dan berharap di dalamnya dengan doa (ay. 43,74, 114, 147).

M. Percaya di dalamnya

Dalam ayat 42 pemazmur menyatakan bahwa dia percaya dalam firman Allah.

N. Merenungkannya

Dalam beberapa ayat dari penulis Mazmur 119 memberitahu kita bahwa dia merenungkan firman Allah (ay. 15, 23, 48, 78, 99, 148). Merenungkan firman adalah mencicipinya melalui pertimbangan yang hati-hati. Jadi, merenungkan adalah semacam kenikmatan. Saya dapat bersakasi bahwa kebanyakan terang yang saya terima datang dari merenungkan Firman di pagi hari. Saat saya merenungkan Firman, saya memikirkannya dengan banyak pertimbangan dengan suatu cara yang rinci.

O. Mempertimbangkannya

Dalam ayat 95b pemazmur berkata, ‘‘Aku mempertimbangkan kesaksian-kesaksian-Mu’’. Mempertimbangkan Firman adalah memikirkannya dengan sangat hati-hati. Mengenai hal ini, kita boleh menggunakan kata memikirkan. Mempertimbangkan Firman adalah memikirkannya, bahkan mempelajari dan menyelidikinya.

P. Menghargainya untuk menjadi Benar dalam Segala Sesuatu

‘‘Itulah sebabnya aku hidup benar sesuai dengan segala titah-Mu’’ (ay. 128a). Di sini kita melihat pemazmur menghargai firman Allah untuk menjadi benar—untuk menjadi benar, lurus, tepat—di dalam segala sesuatu.

Q. Mempelajarinya

‘‘Tangan-Mu telah menjadikan aku dan membentuk aku, berilah aku pengertian, supaya aku dapat belajar perintah-perintah-Mu.’’ (ay. 73). Ini menunjukkan bahwa Allah telah menciptakan kita dengan cara demikian supaya kita dapat memiliki pemahaman atas firman-Nya dan mempelajari-Nya. Dalam ayat 71 penulis mengatakan, ‘‘Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.’’ Ini menunjukkan penderitaan dan kesengsaraan dapat membantu kita belajar firman Allah.

R. Memustikakannya

Pemazmur juga meustikakan firman Allah. Dia memustikakannya seperti segala harta (ay. 14), seperti banyak jarahan (ay. 162), lebih baik daripada emas dan perak (ay. 72, 127), dan sebagai warisan selamanya (ay. 111).

S. Memustikakannya di dalam Hati Mereka

Dalam ayat 11 kita diberitahu bahwa pemazmur memustikakan firman Allah di dalam hatinya. Paulus menyuruh kita untuk membiarkan firman Allah tinggal dengan kayanya di dalam kita (Kol. 3:16). Kita tidak seharusnya hanya menghafal firman Allah dan memeliharanya di dalam kita—kita seharusnya memustikakannya di dalam hati kita.

T. Mengingatnya dan Tidak Melupakannya

Dalam Mazmur 119:52 pemazmur menunjukkan bahwa dia mengingat firman Allah. Jika kita memustikakan firman di hati kita, kita akan mengingatnya; kita akan mengingat kembali,atau mengingat, kenikmatan kita terhadapnya. Dalam ayat 16b penulis menyatakan, ‘‘firman-Mu tidak akan kulupakan,’’dan dalam ayat 93 ia berkata, ‘‘Untuk selama-lamanya aku tidak melupakan titah-titah-Mu, sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku.’’

U. Gemetar terhadapnya

`

Dalam ayat 161b pemazmur berkata, ‘‘tetapi hanya terhadap firman-Mu hatiku gemetar.’’ Pemazmur juga berkata bahwa ia takut terhadap penghakiman Allah (ay. 120). Seperti pemazmur, kita juga seharusnya gemetar terhadap firman Allah.

V. Berpaut padanya

Dalam ayat 31 pemazmur berkata kepada Allah, ‘‘Aku telah berpaut pada kesaksian-kesaksian-Mu.’’ Kita juga perlu berpaut pada firman Allah.

W. Tidak Meninggalkannya,

Tidak Berbelok darinya, Tidak Berpaling darinya,

Dan Tidak Menyimpang darinya

Lagipula, pemazmur berkata bahwa dia tidak meninggalkan firman Allah, tidak berbelok darinya, tidak berpaling darinya, dan tidak menyimpang darinya (ay. 87, 51, 157, 102, 110).

X. Melangkahkan Kaki Mereka Terhadapnya

‘‘Aku memikirkan jalan-jalanku, dan melangkahkan kakiku menuju kesaksian-kesaksian-Mu.’’ (ay. 59). Daripada berpaling dari hukum Taurat, kita, seperti pemazmur, harus melangkahkan kaki kita terhadapnya.

Y. Memelihara, Menyelidiki, dan Melakukannya

Pemazmur memelihara, menyelidiki, dan melakukan firman Allah (ay. 33, 69). Semua kata yang berbeda ini menunjukkan bagaiman dia memperhatikan firman Allah.

Z. Berjalan di dalamnya dan Mengikuti Petunjuknya

Ayat 1 mengatakan, ‘‘Diberkatilah orang-orang yang hidupnya sempurna, yang berjalan menurut Taurat Yehova.’’ Ayat 32a mengatakan, ‘‘Aku akan mengikuti petunjuk perintah-perintah-Mu.’’ Pemazmur berjalan dalam firman Allah dan mengikuti pentunjuk firman Allah. Ini menunjukkan bahwa dia hidup menurut firman Allah. Dua puluh enam butir ini mewahyukan sikap para pencari Allah terhadap hukum Taurat Allah sebagai kesaksian Allah dan firman Allah.