← Daftar isi Mazmur (1) · bab 30/42

KASIH PEMAZMUR TERHADAP RUMAH ALLAH DENGAN KRISTUS

Pembacaan Alkitab Mzm. 84

Di dalam berita ini, kita akan melihat Mazmur 84, yang berkenaan dengan kasih pemazmur terhadap rumah Allah dengan Kristus.

I. SETELAH PENANGGULANGAN DAN PELUCUTAN ALLAH

Mazmur 84 datang setelah banyak mazmur tentang penanggulangan dan pelucutan Allah. Kitab 3 dari Mazmur ini banyak membicarakan tentang penanggulangan dan pelucutan Allah. Misalnya, pemazmur di dalam Mazmur 73 dibingungkan oleh penanggulangan dan pelucutan Allah dan tidak jelas mengenai hal ini sampai ia masuk ke dalam tempat kudus Allah. Situasi para pemazmur di dalam mazmur-mazmur yang demikian ini hampir sama dengan situasi Ayub. Perbedaan utamanya adalah bahwa para pemazmur ini mengalami penanggulangan dan pelucutan Allah, sedangkan Ayub juga mengalami penghabisan Allah.

Mazmur 84 memakai istilah khusus—“lembah Baka.” “Baka” berarti “menangis.” Karena itu, lembah Baka berarti lembah tangisan. Istilah khusus ini menunjukkan bahwa pemazmur telah ditanggulangi oleh Allah dan telah dilucuti oleh-Nya.

II. DIBERKATILAH ORANG-ORANG YANG TINGGAL DI DALAM RUMAH ALLAH

Ayat 4 mengatakan bahwa orang-orang yang tinggal di dalam rumah Allah akan diberkati. Di sini “rumah” melambangkan gereja secara keseluruhan.

A.

Pemazmur Rindu, Bahkan Hancur akan Tempat-tempat Kediaman Allah

Ayat 1 dan 2 mengatakan, “Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya Yehovah semesta alam! Jiwaku hancur dan merindukan pelataran-pelataran Yehovah; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.” Tabernakel-tabernakel Allah, tepat-tempat kediaman Allah, melambangkan gereja-gereja lokal. Pemazmur belum ada di dalam tempat kediaman Allah, tetapi ia rindu untuk berada di sana. Kerinduan-Nya begitu besar sampai ia bahkan merasa hancur. Ini menunjukkan sampai tingkat apa pemazmur ini mengasihi tempat-tempat kediaman Allah.

B.

Burung Pipit Mendapatkan sebuah Rumah dan Burung Layang-layang sebuah Sarang bagi Dirinya Di mana Ia Dapat Menaruh Anak-anaknya di Kedua Mezbah

Pemazmur selanjutnya menyerupakan dirinya sendiri dengan burung pipit dan burung layang-layang: “Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada kedua mezbah-Mu, ya Yehovah semesta alam, ya Rajaku dan Allahku!” (ay. 3). Kedua mezbah ini adalah mezbah emas bagi ukupan dan mezbah tembaga kurban bakaran (Kel. 40:5-6). Mezbah tembaga, yang di atasnya segala jenis kurban dipersembahkan, ada di pelataran luar di depan pintu tabernakel. Bejana pembasuhan juga ada di pelataran luar. Di Tempat Kudus ada meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah emas bagi ukupan.

1.

Mezbah Tembaga ada di Pelataran Luar di Mana Semua Hal Negatif Telah Dibereskan oleh Kurban-kurban Persembahan

Mezbah tembaga melambangkan salib Kristus. Di mezbah ini semua hal negatif telah dibereskan oleh kurban-kurban persembahan, yang melambangkan Kristus. Di atas salib, Kristus mengangkut dosa-dosa kita, menyalibkan manusia lama, menghancurkan Satan, menghakimi kosmos Satan, dan mengakhiri ciptaan lama dan segala hal yang negatif. Karena itu, di atas saliblah bahwa segala masalah kita dibereskan, dan di atas saliblah bahwa kita pertama-tama percaya kepada Tuhan Yesus. Di atas salib, kita mengakui dosa-dosa kita, dan di atas salib kita diampuni. Ini melayakkan kita untuk masuk ke dalam Tempat Kudus dan datang ke meja roti sajian untuk menerima makanan, ke kaki pelita untuk menerima terang, dan ke mezbah emas untuk mengalami Kristus sebagai ukupan kita yang berkenan kepada Allah.

2.

Mezbah Emas di Depan Tempat Mahakudus di Mana Umat Allah Diterima oleh Allah dalam Damai Sejahtera

Mezbah emas bagi ukupan di depan Tempat Mahakudus adalah di mana umat Allah diterima oleh Allah dalam damai sejahtera. Ukupan ini melambangkan Kristus yang bangkit di dalam kenaikan-Nya sebagai yang berkenan kepada Allah (Why. 8:3). Sebagai ukupan kita, Kristus adalah wangi-wangian, yang menyenangkan dan diperkenan. Di luar Kristus, kita tidak bisa diterima oleh Allah. Kristus adalah penerimaan kita. Di aspek negatif, di mezbah tembaga, masalah-masalah kita dipecahkan oleh Kristus yang tersalib; di aspek positif, di mezbah emas, kita menjadi berkenan kepada Allah di dalam Kristus yang bangkit di dalam kenaikan-Nya.

Sebelum Kristus mati ada satu tirai yang memisahkan Tempat Mahakudus, di mana tabut itu berada, dari Tempat Kudus, di mana mezbah emas itu berada. Jadi, ada satu tirai di antara tabut dan mezbah emas. Ada beberapa ayat yang dengan jelas mengatakan bahwa mezbah emas ada di luar tirai, sedangkan ayat-ayat lainnya menunjukkan bahwa mezbah emas ini adalah milik Tempat Mahakudus (Ibr. 9:4; 1 Raj. 6:22, ASV). Ketika Kristus mati, Dia merobek tirai yang memisahkan Tempat Kudus dari Tempat Mahakudus (Mat. 27:51; Ibr. 10:20), karena itu sekarang tidak ada tirai, pemisah lagi di antara tabut dan mezbah emas.

Fakta bahwa Keluaran 40:5 dan 6 menyinggung mezbah emas bersama-sama dengan mezbah tembaga menunjukkan bahwa kedua mezbah ini sangat berhubungan. Keduanya juga sangat berhubungan di dalam pengalaman kita. Pertama, kita datang ke mezbah tembaga, yaitu kepada salib, di mana semua hal negatif dibereskan. Alhasil dari pengalaman kita di mezbah ini, kita bersih dan layak untuk masuk ke dalam tabernakel untuk mengontaki Allah di mezbah ukupan.

3.

Melalui Kedua Mezbah Ini, Umat Tebusan Allah Mendapatkan Rumah Mereka bersama dengan Allah dalam Perhentian

Melalui kedua mezbah ini, umat tebusan Allah bisa mendapatkan rumah mereka bersama dengan Allah dalam perhentian. Mazmur 84:3 membicarakan tentang sebuah rumah dan sebuah sarang. Apakah perbedaan di antara rumah dan sarang? Rumah adalah satu tempat perhentian, sedangkan sarang adalah satu tempat perlindungan. Bagi kita hari ini, mezbah tembaga adalah satu tempat perlindungan. Kita menyembunyikan diri kita di bawah salib, menyelamatkan diri dari kesulitan-kesulitan kita, dan dengan demikian kita ditutupi dan memiliki tempat perlindungan. Kemudian di mezbah emas kita mengontaki Kristus kita di surga. Kontak ini bukanlah bagi tempat perlindungan—melainkan bagi perhentian.

Burung layang-layang itu kecil dan lemah dan diganggu oleh badai dan oleh banyak hal lainnya. Tetapi burung layang-layang ini mempunyai sebuah sarang, satu tempat perlindungan. Seperti seekor burung layang-layang yang datang ke sarangnya di mana ia bisa menaruh anak-anaknya, demikian juga kita bisa datang kepada salib Kristus sebagai tempat perlindungan kita. Di sini kita bisa membawa “anak-anak” kita, yaitu orang-orang yang kita kontaki di dalam pemberitaan injil. Secara rohani, di “sarang” dari salib itu, kita harus “menaruh” anak-anak kita, yaitu anak-anak rohani kita. Menaruh anak-anak kita berarti menghasilkan mereka melalui pemberitaan injil. Untuk melakukan ini, kita perlu membawa orang-orang dosa kepada salib Kristus. Di sinilah, di atas salib, bahwa kita memiliki sarang kita, tempat perlindungan kita, dan di sinilah bahwa kita “menaruh anak-anak kita,” yaitu, menghasilkan anak-anak rohani kita. Sebelum mengontaki salib, mereka adalah orang-orang dosa, tetapi dengan mengontaki salib, mereka menjadi kaum beriman, anak-anak di dalam Tuhan. Ketika kita mengajar anak-anak kita berseru kepada Tuhan, maka mereka akan belajar untuk mempersembahkan doa kepada Allah di mezbah ukupan. Kemudian di dalam pengalaman mereka, kedua mezbah ini akan sangat berhubungan.

Kita telah menunjukkan bahwa mazmur tentang kasih pemazmur terhadap rumah Allah dengan Kristus ini membicarakan tentang tabernakel-tabernakel Allah dan rumah Allah. Dalam perlambangan, tabernakel-tabernakel dan tempat-tempat kediaman, adalah gereja-gereja lokal, dan rumah adalah gereja secara keseluruhan. Ketika kita datang kepada gereja, yaitu rumah Allah, maka kita ditarik oleh dua mezbah, dan kedua mezbah ini sangat tegas. Di mezbah yang pertama, yaitu mezbah tembaga, kita mengakui dosa-dosa kita, kegagalan-kegagalan, dan kekurangan-kekurangan kita. Di sini di atas salib, masalah-masalah kita dipecahkan, dan kita dilayakkan untuk masuk ke dalam Allah. Kemudian kita bisa datang ke mezbah emas untuk mengontaki Allah.

Di mezbah tembaga, kita bertemu dengan Kristus yang tersalib, tetapi di mezbah emas, Kristus yang tersalib menjadi Kristus yang telah naik. Di dalam kenaikan-Nya, Kristus menjadi penerimaan kita. Tidak peduli betapa baik atau murninya kita di dalam diri kita sendiri, kita tidak bisa berkenan kepada Allah terpisah dari Kristus. Kita bisa berkenan kepada Allah di dalam Kristus. Inilah yang dimaksud Kristus menjadi ukupan kita.

Wahyu 8:3 menunjukkan bahwa supaya doa kita diterima oleh Allah, maka doa ini harus memiliki Kristus sebagai ukupan yang ditambahkan kepadanya. Inilah sebabnya mengapa kita perlu berdoa di dalam nama Tuhan. Kadang-kadang, kita mungkin menutup doa kita dengan kata-kata “di dalam nama Tuhan Yesus.” Jika kita berdoa di dalam nama kita sendiri, kita tidak akan berkenan kepada Allah. Hanya bila kita berada di dalam nama Tuhanlah kita akan berkenan kepada Allah, karena Kristus sebagai ukupan, sebagai wangi-wangian yang menyenangkan, akan menjadi penerimaan kita. Di dalam Dia kita bukan hanya berkenan kepada Allah melainkan juga menjadi wangi dan menyenangkan bagi-Nya.

Di dalam gereja, kita pertama-tama mendapatkan satu tempat perlindungan, dan kemudian kita mendapatkan sebuah rumah. Sebelum kita diselamatkan dan masuk ke dalam gereja, kita bukan hanya berkelanan dan tidak mempunyai rumah, melainkan kita juga tanpa pengamanan, perlindungan, atau tempat persembunyian. Ketika kita datang kepada gereja, kita segera datang ke mezbah tembaga, yaitu salib Kristus, dan di sana, kita mempunyai pemecahan untuk masalah-masalah kita, kita mendapatkan satu tempat persembunyian, satu tempat perlindungan. Kita menyembunyikan diri kita di dalam salib. Kemudian ketika kita selanjutnya mengontaki Allah, berdoa di mezbah ukupan, maka kita memiliki perasaan bahwa kita sedang beristirahat di rumah. Banyak dari kita yang bisa bersaksi bahwa inilah perasaan kita ketika kita datang kepada gereja.

Ketika kita mengalami kedua mezbah ini di dalam gereja, kita bisa mengatakan bersama dengan Paulus, “Aku tidak memutuskan untuk mengenal apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, dan Dia yang disalibkan ini” (1 Kor. 2:2). Kita hanya mengenal Kristus dan salib-Nya. Salib adalah tempat perlindungan kita, tempat persembunyian kita, dan Kristus itu sendiri adalah penerimaan kita. Hari demi hari, kita datang ke dua mezbah ini. Hari demi hari kita bersembunyi dan beristirahat. Kita datang kepada salib, di mana kita memiliki tempat perlindungan, dan kita datang kepada Kristus, di mana kita beristirahat dan berada di rumah.

C.

Orang-orang Yang Diberkati Yang Tinggal di dalam Rumah Allah, Memuji Dia

Mazmur 84:4 mengatakan, “Diberkatilah orang-orang yang tinggal di dalam rumah-Mu; Mereka akan memuji Engkau.” Tinggal di dalam rumah Allah adalah untuk memuji. Namun, seringkali, kita kekurangan pujian. Kelompok-kelompok vital kita harus penuh dengan pujian. Tidak memuji Tuhan itu berarti tidur, sedangkan memuji Dia itu berarti menjadi vital. Memuji Tuhan haruslah menjadi penghidupan kita, dan kehidupan gereja kita haruslah satu kehidupan yang memuji.

D.

Satu Hari Tinggal di dalam Pelataran-pelataran Allah Lebih Baik daripada seribu Hari

“Karena satu hari di dalam pelataran-pelataran-Mu lebih baik daripada seribu hari; Aku ingin berdiri di ambang rumah Allahku Daripada tinggal di dalam tenda-tenda orang jahat” (ay. 10; cf. Yeh. 47:3-5; Why. 20:4-6). Di sini pemazmur membicarakan tentang seorang yang berdiri di ambang, yang adalah garis pembagi di antara bagian dalam dan bagian luar. Saya tentu ingin menjadi seorang yang berdiri di ambang rumah Allah.

III. DIBERKATILAH MANUSIA YANG HATINYA ADA DI JALAN-JALAN RAYA MENUJU SION

Mazmur 84:5-7 mewahyukan bahwa orang yang diberkati adalah yang hatinya ada di jalan-jalan raya menuju Sion. Berada di jalan-jalan raya menuju Sion berarti bahwa kita bermaksud untuk masuk ke dalam gereja. Sebenarnya, maksud kita untuk berada di dalam kehidupan gereja adalah satu jalan raya bagi kita untuk masuk ke dalam gereja.

A.

Memiliki Kekuatan di dalam Allah

“Diberkatilah manusia yang kekuatannya ada di dalam Engkau” (ay. 5a). Ini menunjukkan bahwa di jalan-jalan raya menuju Sion ini, kita memiliki kekuatan di dalam Allah. Banyak dari kita yang bisa mempersaksikan bahwa sebelum kita masuk ke dalam gereja, kita lemah dan ragu-ragu, tetapi begitu kita membuat keputusan untuk datang kepada gereja, maka kita dikuatkan di dalam Allah.

B.

Melalui Lembah Baka

Ayat 6a membicarakan tentang melalui lembah Baka. Seperti yang telah kita tunjukkan, “Baka” berarti “menangis.” Di satu pihak, ketika kita mempunyai maksud untuk masuk ke dalam kehidupan gereja, kita dikuatkan di dalam Allah; di lain pihak, kita ditentang oleh Satan, yang telah membuat banyak kaum saleh menderita penganiayaan. Kesulitan dan penganiayaan yang disebabkan oleh Satan bisa membuat jalan raya kita menjadi satu lembah tangisan.

C.

Membuat Lembah Tangisan menjadi satu Mata Air

Ketika kita melalui lembah Baka, Allah membuat lembah ini menjadi satu mata air (ay. 6b). Jika kita mengambil jalan raya untuk pergi ke rumah Allah, maka kesulitan dan penganiayaan akan datang kepada kita, dan hal-hal demikian akan menyebabkan kita menangis. Tetapi Allah akan mengubah cucuran air mata kita menjadi satu mata air. Hanya orang-orang yang menangis akan memiliki satu mata air. Semakin banyak cucuran air mata yang kita curahkan, semakin besar mata air itu.

D.

Hujan Awal Musim akan Menyelubungi Lembah Tangisan dengan Berkat-berkat

Ayat 6c mengatakan, “Sesungguhnya hujan awal musim akan menyelubunginya dengan berkat-berkat.” Menurut pengalaman kita, ini berarti bahwa cucuran air mata kita akan menjadi satu mata air dan bahwa mata air ini akan menjadi hujan awal musim yang menyelelubungi lembah tangisan itu dengan berkat-berkat. Hujan awal musim ini adalah Roh itu, dan Roh itu adalah berkat kita.

Inilah situasi pada seorang saudara tertentu di Cheefoo. Sebelum ia percaya kepada Tuhan Yesus, ia adalah seorang Muslim. Setelah ia diselamatkan dan masuk ke dalam kehidupan gereja, ia menderita banyak penganiayaan. Penganiayaan ini hampir membunuhnya, dan ia mencucurkan banyak air mata. Tetapi air-air mata itu akan menjadi satu mata air; mata air ini menjadi Roh itu sebagai hujan awal musim; dan alhasilnya, saudara ini sangat hidup.

Orag-orang yang masuk ke dalam kehidupan gereja melalui lembah tangisan akan menemukan bahwa tangisan ini pada akhirnya menjadi satu berkat yang besar bagi mereka. Berkat ini adalah Roh itu. Cucuran air mata yang mereka curahkan adalah cucuran air mata mereka sendiri, tetapi cucuran air mata ini akan menjadi satu mata air, yang menjadi hujan awal musim, yaitu Roh itu sebagai berkat.

E.

Berjalan Makin Lama Makin Kuat

“Mereka berjalan makin lama makin kuat” (ay. 7a). Ini menunjukkan bahwa kekuatan ditambahkan kepada kekuatan. Orang-orang yang menempuh jalan raya menuju Sion memiliki kekuatan di dalam Allah, dan sekarang mereka dikuatkan lebih lanjut dan berjalan makin lama makin kuat.

F.

Untuk Menghadap Allah di Sion

“Setiap orang menghadap Allah di Sion” (ay. 7b). Hasil dari hal sebelumnya adalah bahwa kita akan menghadap Allah di Sion. Kita memustikakan tempat kediaman Allah karena Sion ada di sini. Kita memustikakan kehidupan gereja karena di sini kita ada di Sion. Sekalipun kita ada di bumi, tetapi meskipun demikian kita ada di Sion surgawi (Ibr. 12:22).

IV. DOA PEMAZMUR

Ayat 8, 9, 11, dan 12 adalah doa pemazmur.

A.

Berdoa Supaya Allah Mau Melihat Perisai Mereka dan Memandang Wajah Orang yang Diurapi-Nya

“Lihatlah perisai kami, O Allah; Dan pandanglah wajah orang yang Engkau urapi” (ay. 9). “Perisai” di dalam ayat ini mengacu kepada raja Daud, dan “yang diurapi” juga mengacu kepada raja Daud, yang melambangkan Kristus. Di sini pemazmur berdoa mengenai Daud, dengan mengatakan bahwa ia adalah perisai yang melindungi mereka dan bahwa ia adalah yang diurapi Allah. Namun, dalam perlambangan, Dia yang diurapi ini, adalah Kristus. Dalam doa kita, kita mungkin mengatakan, “O Allah, pandanglah wajah Kristus, Dia yang Engkau urapi, yang adalah Penyelamat kami.”

B.

Untuk Menikmati Yehovah Allah Kita di dalam Kristus sebagai Matahari, Perisai, Kasih Karunia, dan Kemuliaan, serta Tidak Kekurangan Apapun

Ayat 11a mengatakan, “Yehovah Allah adalah matahari dan perisai.” Matahari adalah sumber terang, dan terang memberikan hayat. Tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, dan manusia semuanya memerlukan sinar matahari untuk hidup dan bertumbuh. Di dalam kehidupan rohani kita, kita juga memerlukan sinar matahari, dan untuk ini, kita memiliki Kristus sebagai sumber terang dan hayat.

Di dalam ayat 11b-c pemazmur selanjutnya mengatakan bahwa Yehovah memberikan kasih karunia dan kemuliaan dengan tidak ada sesuatu yang baik yang tertahan. Kasih karunia dan kemuliaan keduanya adalah Allah itu sendiri. Kasih karunia adalah Allah bagi kenikmatan kita, dan kemuliaan adalah Allah bagi kemegahan kita. Karena itu, di dalam ayat-ayat ini, Yehovah Allah di dalam Kristus adalah empat hal bagi kita: perisai, matahari, kasih karunia, dan kemuliaan.

Mazmur 84 ditulis menurut latar belakang pemazmur, yang sangat mirip dengan latar belakang Ayub. Di dalam ayat 11c pemazmur mengatakan bahwa Allah “tidak menahan sesuatu yang baik Dari orang-orang yang berjalan dengan tulus.” Di dalam ayat 12 ia selanjutnya menyatakan, “O Yehovah semesta alam, diberkatilah orang Yang bersandar di dalam-Mu.” Di dalam ayat 11d “orang-orang yang berjalan dengan tulus” ini, dalam kerumitan perasaan-perasaan dari pemazmur, mungkin mengacu kepada orang-orang yang memelihara hukum taurat. Di dalam ayat 12 “orang yang bersandar di dalam-Mu” juga dalam kerumitan perasaan-perasaan dari pemazmur, juga mungkin mengacu kepada orang yang tinggal di dalam rumah Allah.

Yang kita miliki di sini adalah ekspresi yang rumit dari perasaan-perasaan pemazmur yang campur aduk. Perasaan-perasaan yang demikian ini tidaklah menurut wahyu Allah. Ayub berjalan dengan tulus, namun Allah bukan hanya menahan sesuatu daripadanya melainkan juga melucuti dia dan menghabisi dia. Selain itu, Ayub bersandar di dalam Allah, namun ia tidak selalu memiliki berkat Allah. Apakah Anda percaya bahwa karena kita berjalan dengan tuluslah bahwa hari ini kita menikmati Kristus sebagai matahari, perisai, kasih karunia, dan kemuliaan kita? Apakah Anda percaya bahwa karena kita bersandar di dalam Allah bahwa Dia memberkati kita? Kita harus mengakui bahwa di dalam diri kita sendiri kita tidak bisa berjalan dengan tulus atau memiliki satu sandaran yang teguh di dalam Allah. Apakah ini berarti bahwa kita kehilangan Kristus sebagai matahari, perisai, kasih karunia, dan kemuliaan kita? Tidak, ini bukanlah situasi kita.

Dalam perlambangan, Mazmur 84 ini menunjukkan kepada kita betapa unggul kehidupan gereja itu dan betapa kita harus memustikakannya. Di sini kita menikmati salib Kristus, dan di sini kita menikmati Kristus itu sendiri. Kita semua harus mengambil jalan raya untuk datang kepada gereja dan kemudian tinggal di sini. Di sini kita menikmati Daud kita, Dia yang diurapi, yaitu Kristus kita, yang adalah matahari kita, perisai kita, kasih karunia kita, dan kemuliaan kita.

BERTA TIGA PULUH TIGA

TAMBAHAN UNTUK BERITA TIGA PULUH DUA TENTANG MAZMUR 84

Pembacaan Alkitab: Mzm. 84

Di dalam berita ini, saya mempunyai beban untuk memberikan satu perkataan lebih lanjut tentang Mazmur 84 sebagai satu tambahan untuk berita sebelumnya. Belakangan ini, Tuhan telah membukakan isi yang mendasar dari mazmur yang pendek ini. Isi yang mendasar dari Mazmur 84 adalah wahyu yang rahasia mengenai kenikmatan akan Allah Tritunggal yang berinkarnasi.

Perjanjian Lama menunjukkan bahwa Allah itu tritunggal (Kej. 1:1, 26; Yes. 6:1-3, 8), tetapi Allah yang diwahyukan di dalam Perjanjian Lama itu bukanlah Allah Tritunggal yang berinkarnasi. Di dalam Perjanjian Lama, inkarnasi Allah Tritunggal itu adalah satu misteri yang tersembunyi. Namun, pasal yang pertama dari Perjanjian Baru, yaitu satu pasal tentang silsilah Kristus, membicarakan tentang Allah dilahirkan ke dalam seorang dara untuk menjadi seorang manusia di dalam daging (Mat. 1:20). Ini adalah Allah Tritunggal yang datang ke dalam manusia untuk membuat Diri-Nya sendiri menjadi satu dengan manusia, untuk membuat Diri-Nya sendiri menjadi ilahi secara insani sebagai manusia-Allah yang bernama Yesus (ay. 21, 23).

Tuhan Yesus hidup dan berjalan di bumi ini secara ilahi-insani selama tiga puluh tiga setengah tahun dan kemudian Dia mati di atas salib untuk merampungkan satu kematian yang almuhit, kematian yang menggantikan, satu kematian yang memecahkan semua masalah di antara Allah dan manusia. Kematian-Nya di atas salib dilambangkan oleh dua mezbah pertama yang disinggung di dalam Mazmur 84. Mezbah ini adalah mezbah tembaga bagi persembahan kurban-kurban.

Setelah Kristus melalui kematian, Dia masuk ke dalam kebangkitan. Di dalam kebangkitan, Dia dilahirkan untuk menjadi Putra sulung Allah (Kis. 13:33 Rm. 1:3-4; 8:29). Sebelum waktu itu, Dia adalah Putra tunggal Allah (Yoh. 1:18; 3:16). Sebagai Putra tunggal, Kristus memiliki keilahian, tetapi Dia tidak memiliki keinsanian. Namun, sebagai Putra sulung Allah, yang dilahirkan di dalam kebangkitan, Dia memiliki keinsanian juga keilahian, sifat insani juga sifat ilahi.

Selain itu, di dalam kebangkitan-Nya yang ajaib, Kristus menjadi Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45). Roh Allah ada di sana di dalam Perjanjian Lama, tetapi pada waktu itu Roh Allah tidak memiliki kapasitas untuk memberikan hayat ilahi kepada keinsanian. Karena alasan ini, maka orang-orang tertentu dari keturunan Adam menerima kuasa Allah tetapi tidak menerima hayat Allah. Simson adalah satu contoh yang khas dari orang yang menerima kuasa Allah dari Roh Allah tetapi tidak memiliki sesuatu yang berhubungan dengan hayat Allah. Banyak orang lainnya di dalam Perjanjian Lama, seperti Ayub, adalah sangat ibadah dan saleh, tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka itu rohani, bahwa merkea dipenuhi dengan hayat yang rohani, dan ilahi. Hanya sejak kebangkitan Kristus, yang adalah Allah Tritunggal yang berinkarnasilah, bahwa Roh Allah mulai memiliki kapasitas untuk memberikan hayat ilahi kepada manusia, karena di dalam kebangkitanlah bahwa Kristus itu sendiri menjadi Roh pemberi hayat. Juga, di dalam kebangkitan Kristuslah semua umat pilihan Allah dilahirkan kembali, dilahirkan lagi (1 Ptr.1:3). Di dalam Kristus yang bangkit, yang adalah Putra sulung Allah dan Roh pemberi hayat inilah, kita, umat pilihan Allah, dilahirkan kembali untuk menjadi ciptaan baru, manusia baru.

Setelah kebangkitan-Nya, Kristus naik. Ketika Dia naik ke surga, mezbah lainnya didirikan, yaitu mezbah ukupan emas bagi Allah untuk menerima apa yang telah dibawa Kristus kepada-Nya. Kedua mezbah ini—mezbah tembaga bagi kurban-kurban dan mezbah ukupan emas—adaah perampungan-perampungan utama dari pekerjaan Allah Tritunggal yang berinkarnasi, yang adalah Kristus sebagai perwujudan Allah bagi pertambahan-Nya. Inilah isi yang mendasar dari Mazmur 84.

Mazmur 84 mengandung empat aspek. Aspek pertama adalah kecintaan terhadap rumah Allah (ay. 1). Aspek kedua adalah kerinduan pemazmur untuk masuk ke dalam rumah Allah (ay. 2). Ketiga, ada aspek jalan-jalan raya menuju rumah Allah (ay. 5). Aspek keempat terdiri dari berkat-berkat tinggal di dalam rumah Allah untuk menikmati Allah sebagai matahari, perisai, kasih karunia, dan kemuliaan. Di dalam rumah yang demikkian, kita menikmati Allah Tritunggal yang berinkarnasi dan rampung sebagai matahari kita untuk menyuplai kita dengan hayat, sebagai perisai kita untuk melindungi kita dari musuh Allah, sebagai kasih karunia bagi kenikmatan kita, dan sebagai kemuliaan bagi manifestasi Allah. Sekarang, marilah kita melihat mazmur ini secara lebih terperinci.

I. SATU WAHYU YANG RAHASIA MENGENAI KENIKMATAN

AKAN ALLAH TRITUNGGAL YANG BERINKARNASI

Kita telah menunjukkan bahwa di dalam Mazmur 84 ada satu wahyu yang rahasia mengenai kenikmatan kita akan Allah Tritunggal yang berinkarnasi. Meskipun banyak orang Kristen yang membicarakan dan bahkan memperdebatkan mengenai Trinitas, tetapi tidak banyak yang menikmati Allah Tritunggal yang berinkarnasi ini. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa di dalam pemulihan, di dalam kehidupan gereja, Kristus yang kita nikmati adalah Allah Tritunggal yang berinkarnasi.

Kita perlu melihat bahwa Kristus itu bukan hanya perwujudan Allah melainkan juga bahwa Kristus adalah Allah Tritunggal yang berinkarnasi. Di dalam Kristus ini, kita memiliki Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh. Bapa, Putra dan Roh itu ada bersama-sama dan juga saling huni, yaitu, mereka tinggal di dalam satu dengan yang lainnya. Bapa ada di dalam Putra, dan Putra ada di dalam Bapa. Bapa dan Putra ada di dalam Roh itu, dan Roh itu ada di dalam Bapa dan di dalam Putra. Dengan cara demikian, ketiga dari Allah Tritunggal ini saling huni. Selain itu, di dalam Kristus, Allah Tritunggal telah melalui satu proses yang panjang untuk menjadi Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung. Inilah Kristus sebagai kenikmatan kita dan sebagai porsi kita yang diberikan oleh Allah kepada kita (Kol. 1:12).

A.

Pusat dari Wahyu yang Rahasia Ini—Rumah Allah

Pusat dari wahyu yang rahasia ini adalah rumah Allah (Mzm. 84:4, 10a), dilambangkan oleh tabernakel (Kel. 40:2-8) dan oleh bait (1 Raj. 6:1-3; 8:3-11). Kedua lambang ini telah digenapkan di dalam Kristus.

B.

Satu Diagram tentang Rancangan dari Rumah Allah

Pada poin ini, saya ingin meminta Anda untuk melihat diagram dari rancangan rumah Allah yang tercetak di halaman berikutnya. Di dalam diagram ini kita melihat butir-butir utama dari kenikmatan kita akan Kristus sebagai Allah Tritunggal yang berinkarnasi.

Diagram ini menunjukkan kepada kita bahwa di pelataran luar ada dua butir: mezbah yang pertama, yaitu mezbah tembaga, bagi persembahan kurban-kurban, dan bejana pembasuhan, sebuah baskom besar berisi air untuk pembasuhan. Pada mezbah yang pertama, semua masalah kita di hadapan Allah dipecahkan melalui kurban-kurban itu, dan kita diselamatkan. Lalu, mengapa kita masih memerlukan bejana pembasuhan? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat bahwa sasaran Allah bukanlah memecahkan masalah-masalah kita; sasaran Allah adalah membuat kita, ciptaan lama ini, menjadi ciptaan baru. Untuk menjadi ciptaan baru, kita perlu dibasuh. Ciptaan lama kita dibuat dari debu tanah, dan debu ini perlu dibasuh di dalam bejana pembasuhan. Karena itu, Titus 3:5 mengatakan bahwa Allah telah menyelamatkan kita “melalui pembasuhan kelahiran kembali dan pembaruan Roh Kudus.” Setelah kita mengalami mezbah dan bejana pembasuhan, kita dilayakkan untuk masuk ke dalam Allah yang berinkarnasi, yang dilambangkan oleh tabernakel.

Di dalam Perjanjian Lama tidak ada seorang pun yang dapat masuk ke dalam Allah. Tetapi di dalam inkarnasi-Nya, Allah dapat dimasuki. Namun, banyak orang Kristen hari ini, tidak menyadari bahwa Allah dapat dimasuki, tidak maju dari mezbah yang pertama ke bejana pembasuhan, dan merkea tidak masuk ke dalam Allah. Mereka mungkin membicarakan tentang takut akan Allah, tentang meninggikan Allah, dan tentang mengasihi Allah, tetapi tidak masuk ke dalam Allah. Sudahkah Anda masuk ke dalam Allah? Kita semua perlu melalui mezbah yang pertama, datang ke bejana pembasuhan, dan kemudian masuk ke dalam Allah.

Tahukah Anda siapakah Allah yang dapat dimasuki ini? Allah kita yang dapat dimasuki ini adalah Kristus, manusia-Allah, Allah Tritunggal yang berinkarnasi dan perwujudan dari Allah Tritunggal. Ketika kita masuk ke dalam Dia, maka kita memiliki meja roti sajian bagi suplai hayat dan kaki pelita bagi terang hayat. Ini membuat kita dapat hidup dan berjalan di dalam Allah Tritunggal yang berinkarnasi. Saya dapat bersaksi bahwa pada hari-hari ini, saya telah hidup dan berjalan di dalam Allah Tritunggal yang berinkarnasi.

Di dalam Allah Tritunggal yang berinkarnasi ini, kita bukan hanya memiliki meja roti sajian dan kaki pelita melainkan juga mezbah kedua, yaitu mezbah ukupan, bagi persembahan ukupan. Ukupan melambangkan Kristus sebagai penerimaan kita. Pada mezbah yang pertama, masalah-masalah kita di hadapan Allah dipecahkah melalui Kristus sebagai kurban-kurban. Pada mezbah yang kedua, Kristus adalah ukupan supaya kita diterima oleh Allah.

Diagram dari rancangan rumah Allah ini menunjukkan bahwa, menurut Perjanjian Lama, mezbah ukupan itu ada di depan tabut kesaksian. Tetapi ada satu tirai yang memisahkan mezbah ukupan di dalam Tempat Kudus dengan tabut kesaksian di dalam Tempat Mahakudus (Kel. 26:31-35). Namun, melalui kematian Kristus, tirai ini telah dikoyakkan (Mat. 27:51; Ibr. 10:20). Sekarang tidak ada lagi pemisah di antara mezbah ukupan dan tabut kesaksian. Keduanya adalah satu. Ini menunjukkan bahwa ketika kita diterima oleh Allah di dalam Kristus sebagai penerimaan kita, maka kita menjadi kesaksian Allah untuk mengekspresikan, memanifestasikan Allah.

C.

Kristus sebagai Perwujudan dari Allah Tritunggal

Adalah Penggenapan dari Lambang-lambang Tabernakel dan Bait

Kristus sebagai perwujudan dari Allah Tritunggal (Kol. 2:9) adalah penggenapan dari lambang-lambang tabernakel dan bait. Penggenapan ini dimulai di dalam inkarnasi-Nya (Yoh. 1:14; 2:21) dan akan rampung di dalam Yerusalem Baru (Why. 21:2-3). Yerusalem Baru, dari Matius 1 sampai Wahyu 22, mencakup seluruh jangkauan dari inkarnasi Allah Tritunggal. Inkarnasi ini, yang dimulai di dalam Matius 1, akan dilanjutkan sampai rampung di dalam Yerusalem Baru, karena itu, ini adalah satu catatan yang sederhana dari inkarnasi ilahi, yang dimulai pada kelahiran Kristus dan yang akan rampung dalam Yerusalem Baru.

Di dalam Pasal pertama dari Perjanjian Baru, kita memiliki Kristus yang individu, tetapi di dalam pasal yang terakhir, kita memiliki Kristus yang korporat. Ini berarti bahwa Kristus yang individu adalah permulaan dari inkarnasi Allah Tritunggal dan bahwa Kristus yang korporat, yaitu Yerusalem Baru, akan menjadi kesimpulan dan perampungannya. Kita memuji Tuhan bahwa kita telah diberkati untuk terlibat dengan inkarnasi Allah Tritunggal melalui dijadikan satu bagian dari Kristus yang korporat. Kita perlu melihat hal ini, berada di dalam hal ini, dan meministrikan hal ini kepada orang-orang kudus.

II. PERAMPUNGAN-PERAMPUNGAN UTAMA

DARI ALLAH TRITUNGGAL YANG BERINKARNASI

Mengenai Allah Tritunggal yang berinkarnasi, ada dua perampungan utama.

A.

Mezbah yang Pertama

Perampungan yang pertama adalah mezbah yang pertama—mezbah tembaga bagi persembahan semua kurban (Kristus di dalam penyaliban-Nya) untuk memecahkan semua masalah manusia di hadapan Allah. Mengenai ini, Mazmur 84:3 mengatakan, “Bahkan burung pipit mendapatkan sebuah rumah Dan burung layang-layang sebuah sarang bagi dirinya, Di mana ia bisa menaruh anak-anaknya: mezbah-mezbah-Mu, O Yehovah semesta alam, Rajaku dan Allahku.” Hari ini kita semua adalah “burung layang-layang” yang menderita karena badai, angin, hujan, salju, dan terik matahari dan yang memerlukan sebuah sarang, yaitu satu tempat perlindungan. Tempat perlindungan kita adalah mezbah yang pertama, yang melambangkan salib Kristus. Pada salib Kristus kita diselamatkan, dan di sini kita memiliki sarang kita. Sebenarnya, sarang kita adalah salib Kristus itu sendiri. Di dalam sarang ini, kita bisa menaruh anak-anak kita, yaitu menghasilkan kaum beriman baru.

Mezbah yang Kedua

Mezbah kedua adalah mezbah ukupan emas (Kristus dalam kenaikan-Nya) bagi penerimaan Allah terhadap orang-orang dosa yang tertebus (ay. 3). Ketika kita mengalami Kristus di dalam kenaikan-Nya, kita memiliki satu tempat perhentian, dan kita merasa bahwa kita ada di rumah. Di mezbah yang pertama, kita memiliki sebuah sarang, dan di mezbah yang kedua, kita memiliki satu tempat perhentian di dalam rumah Allah.

III. JALAN-JALAN RAYA YANG DIBERKATI —

JALAN-JALAN RAYA MENUJU SION

Mazmur 84:5 memberi tahu kita bahwa orang yang diberkati adalah yang di dalam hatinya ada jalan-jalan raya menuju Sion. Jalan-jalan raya menuju Sion adalah jalan-jalan raya yang diberkati untuk mencari Allah Tritunggal yang berinkarnasi di dalam perampungan-perampungan-Nya (yang meliputi bejana pembasuhan, meja roti sajian, kaki pelita, dan tabut kesaksian). Dari pengalaman-pengalaman rohani kita, kita telah belajar bahwa, di satu pihak, kita telah masuk ke dalam Allah, tetapi di lain pihak, kita masih berada dalam perjalanan untuk masuk ke dalam Allah. Tidak ada seorang pun dari kita yang bisa mengatakan bahwa masuknya kita ke dalam Allah itu telah selesai. Karena banyak dari kita, perihal masuk ke dalam Allah itu baru dimulai. Kita ada di alam Allah, namun kita masih berada di jalan-jalan raya untuk masuk ke dalam Allah.

A.

Memiliki Kekuatan di dalam Allah

Ayat 5a mengatakan, “Diberkatilah orang yang kekuatannya ada di dalam Engkau.” Ini menunjukkan bahwa orang yang ada di jalan-jalan raya menuju Sion memiliki kekuatannya di dalam Allah.

B.

Melalui Lembah Baka

Ayat 6a membicarakan tentang melalui lembah Baka (tangisan). Di jalan raya ini, kita memiliki saat-saat menangis.

C.

Membuat Lembah Tangisan menjadi satu Mata Air

Orang-orang yang ada di jalan-jalan raya menuju Sion ini membuat lembah tangisan itu menjadi satu mata air (ay. 6b). Mata air ini adalah Roh itu. Sungguh ajaib!

D.

Hujan Awal Musim Menudungi Lembah Tangisan dengan Berkat-berkat

“Sesungguhnya hujan awal musim akan menudunginya dengan berkat-berkat” (ay. 6c). Hujan awal musim melambangkan Roh itu. Ini menunjukkan bahwa semakin kita menangis di jalan-jalan raya menuju Sion, semakin banyak Roh itu yang kita terima. Ketika kita menangis, kita dipenuhi dengan Roh itu, dan Roh itu menjadi mata air kita.

E.

Berjalan Makin Lama Makin Kuat

“Mereka berjalan makin lama makin kuat” (ay. 7a). Ini menunjukkan bahwa ketika kita berjalan di jalan-jalan raya yang diberkati ini untuk mencari Allah Tritunggal yang berinkarnasi, maka kita berjalan makin lama makin kuat. Alhasilnya, tidak ada seorang pun yang bisa menyimpangkan kita.

IV. BEBERAPA PERKARA LAINNYA

A.

Perisai Kita dan Yang Diurapi Allah

Mazmur 84:9 mengatakan, “Lihatlah, perisai kami, O Allah, Dan pandanglah wajah orang yang Engkau urapi.” Di sini “perisai” dan “yang diurapi” mengacu kepada raja Daud, yang melambangkan Kristus.

B.

Berdiri di Ambang Rumah Allah

Ayat 10 membicarakan tentang berdiri di ambang rumah Allah. Adalah lebih baik berdiri di ambang ini daripada tinggal di dalam tenda-tenda orang jahat. Namun, kita tidak boleh puas dengan tinggal di ambang rumah Allah melainkan harus masuk ke dalam rumah-Nya.

C.

Orang-orang Yang Berjalan dengan Tulus dan Orang Yang Bersandar di dalam Yehovah

Ayat 11 membicarakan tentang orang-orang yang berjalan dengan tulus, dan ayat 12 menyimpulkan, “O Yehovah semesta alam, diberkatilah orang Yang bersandar di dalam Engkau.” Di sini “orang-orang yang berjalan dengan tulus” dalam perasaan-perasaan pemazmur, mungkin mengacu kepada orang-orang yang memelihara hukum taurat. “Orang yang bersandar di dalam Engkau” dalam perasaan-perasaan pemazmur, mungkin mengacu kepada orang yang tinggal di dalam rumah Allah.