← Daftar isi Mazmur (1) · bab 28/42

KEHANCURAN RUMAH ALLAH DAN KRISTUS SEBAGAI PEMECAHANNYA MAZMUR 73—76

Pembacaan Alkitab: Mzm. 73:1-3, 12-17, 25-26; 74:2-3, 7-8; 75:2, 4-7; 76:2-4

Wahyu ilahi di dalam Alkitab itu selalu maju. Di dalam Kejadian 1 kita memiliki satu sejarah tentang penciptaan Allah, tetapi di dalam pasal itu, kita tidak bisa melihat banyak wahyu ilahi. Tentunya, ada beberapa wahyu di sana. Misalnya, ayat 1 mengatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan...” Kata Yunan untuk “Allah” di sini adalah Elohim, yang berarti “Dia yang setia, dan perkasa.” Dari kata ini kita bisa menyadari bahwa Allah itu setia dan juga perkasa. Selain itu, kata ini, kata benda yang tepat ini, bukan berbentuk tunggal melainkan berbentuk jamak; namun, predikat “menciptakan” itu berbentuk tunggal. Ini adalah satu petunjuk bahwa Allah itu tritunggal, tiga-satu. Ini sungguh adalah sesuatu yang berasal dari wahyu ilahi yang selalu maju di seluruh Alkitab sampai pasal yang terakhir dari Wahyu.

Di dalam Kolose 1:25, Paulus memberi tahu kita bahwa tugas penyelenggaraan Allah diberikan kepadanya “untuk melengkapi firman Allah.” Firman Allah adalah wahyu ilahi, yang belum lengkap sebelum Perjanjian Baru itu ditulis. Di dalam Perjanjian Baru, para rasul, terutama Paulus di dalam surat-surat kirimannya, melengkapi firman Allah. Karena itu, jelaslah bahwa firman Allah belum lengkap pada waktu Ayub atau Daud atau Maleakhi atau bahkan pada akhir dari kitab Kisah Para Rasul.

Ada beberapa orang yang dengan salah mengira bahwa doktrin-doktrin yang ortodok itu hanya terdiri dari apa yang Tuhan Yesus ajarkan kepada dua belas rasul. Mereka yang memegang konsep ini perlu melihat firman Tuhan di dalam Yohanes 16:12-15: “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Dia datang, yaitu Roh kebenaran, Dia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Dia tidak berkatakata dari diri-Nya sendiri; tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Dia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Dia akan memuliakan Aku, sebab Dia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Dia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku.” Murid-murid harus menantikan Roh Kudus sebagai Roh realitas untuk mewahyukan lebih banyak hal kepada mereka. Dari hal ini kita melihat bahwa firman Allah belum lengkap bahkan ketika Tuhan Yesus berada di bumi, melainkan masih perlu dilengkapkan melalui pembicaraan Roh realitas. Sungguh Paulus adalah seorang yang kepadanya Roh Kudus mewahyukan banyak hal, dan ia menulis mengenai hal-hal ini di dalam surat-surat kirimannya, yang menunjukkan, seperti kita lihat, bahwa ia telah diberi amanat oleh Allah untuk melengkapi firman Allah.

Terutama, Paulus melengkapi firman Allah yang berkenaan dengan rahasia Allah, yaitu Kristus (Kol. 2:2), dan rahasia Kristus, yang adalah gereja (Ef. 3:4). Di dalam Kolose 1:27 ia mengatakan, “Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu Kristus ada di dalam kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan.” Tidak ada firman yang demikian di dalam Kejadian atau di dalam Mazmur atau di dalam empat Injil. Ini adalah satu contoh dari fakta bahwa wahyu ilahi di dalam Alkitab itu selalu maju dan bahwa wahyu ini belum lengkap sampai akhir dari kitab Wahyu.

Wahyu 22:18 dan 19 memberi tahu kita bahwa, karena wahyu ilahi telah lengkap, maka tidak seorangpun diizinkan untuk menambah atau mengurangi daripadanya. Dengan kata lain, Alkitab sendiri membuatnya jelas bahwa seluruh wahyu ilahi telah lengkap dan selesai, dan tidak seorangpun diizinkan untuk mengklaimnya, seperti yang dilakukan oleh Mormon, bahwa wahyu tambahan telah diberikan kepada mereka.

Pengajaran Perjanjian Baru secara keseluruhan disebut pengajaran para rasul (Kis. 2:42). Pengajara para rasul dimulai dengan pengajaran Tuhan Yesus dan dilanjutkan dengan Petrus, Yohanes, Paulus, dan rasul-rasul lainnya. Kita memuji Tuhan bahwa di tangan kita, kita memiliki wahyu ilahi yang lengkap.

Ketika kita membaca Alkitab, kita perlu mempelajari prinsip-prinsip Alkitab, terutama kita perlu mengingat prinsip dasar bahwa wahyu ilahi di dalam Alkitab itu selalu maju. Jika kita jelas mengenai hal ini, maka kita akan menyadari bahwa pembicaraan dari ketiga teman Ayub itu adalah perkara yang bukan berasal dari wahyu ilahi melainkan dari opini manusia. Lalu, bagaimana kita bisa menganggap opini mereka sebagai wahyu ilahi?

Kita menghadapi satu situasi yang mirip ketika kita datang ke Mazmur. Saya mengapresiasi komentar dari John Nelson Darby bahwa Mazmur adalah ekspresi-ekspresi dari para pemazmur yang keluar dari perasaan-perasaan mereka yang rumit. Kita tidak boleh menganggap setiap aspek dari perasaan-perasaan pemazmur-pemazmur ini sebagai wahyu ilahi. Bila kita berbuat demikian maka itu akan menjadi sangat tidak bijaksana. Di satu pihak, para pemazmur menerima sejumlah wahyu ilahi; di lain pihak, mereka menerima wahyu ini menyebabkan mereka memiliki berbagai perasaan, termasuk perasaan-perasaan yang berhubungan dengan membenci musuh-musuh mereka, melakukan kebaikan, dan memelihara hukum taurat.

Banyak orang Kristen yang menilai Mazmur itu sangat tinggi dan bahkan meninggikannya. Sebaliknya, saya telah dibantu oleh Darby untuk melihat bahwa ada beberapa dari ekspresi-ekspresi di dalam Mazmur ini bukanlah ekpsresi langsung dari wahyu ilahi melainkan ekspresi dari perasaan-perasaan para pemazmur yang rumit. Para pemazmur yang mengungkapkan ekspresi-ekspresi ini adalah para pemazmur yang saleh; mereka mengasihi Allah, takut kepada Allah, dan berusaha sebaik mungkin untuk menyenangkan Allah, percaya kepada Allah, dan memelihara hukum taurat. Dengan pengecualian akan perihal berusaha memelihara hukum taurat, memang semua hal ini baik. Berusaha memelihara hukum taurat itu bertentangan dan salah satu dari prinsip-prinsip Alkitab. Hukum taurat bukan diberikan untuk dipelihara oleh umat Allah; sebaliknya, hukum taurat diberikan untuk menguji mereka, membuktikan mereka, dan meyakinkan mereka bahwa mereka tidak mampu untuk memelihara hukum taurat.

Orang-orang Kristen hari ini pada umumnya mengatakan bahwa setiap perkataan dari Alkitab dari Kejadian 1:1 sampai Wahyu 22:21 adalah firman Allah. Saya percaya bahwa Alkitab seluruhnya diilhamkan oleh Allah tetapi bukan setiap perkataan di dalam Alkitab adalah perkataan yang diucapkan Allah. Tentunya, perkataan si ular kepada Hawa di dalam Kejadian 3 itu bukanlah perkataan yang diucapkan Allah, dan adalah satu kesalahan yang besar bila kita mengatakan demikian. Di dalam Alkitab ada banyak perkataan yang diucapkan oleh musuh-musuh Allah, misalnya, perkataan-perkataan yang diucapkan oleh imam kepala, dan ahli-ahli taurat ketika mereka mengejek Tuhan Yesus (Mrk. 15:31). Poin saya di sini adalah bahwa kita perlu membedakan antara perkataan yang diucapkan oleh Allah dan perkataan yang diucapkan oleh yang lainnya. Tidak diragukan lagi, setiap perkataan yang keluar dari mulut Tuhan Yesus adalah perkataan yang keluar dari mulut Allah, dan perkataan yang demikian adalah wahyu ilahi yang diberikan secara langsung. Namun, di dalam Alkitab, ada banyak perkataan yang bukan firman-firman dari Allah. Tanpa perkataan-perkataan itu, kita tidak akan memiliki latar belakang yang tepat untuk menunjukkan wahyu ilahi.

Di dalam lima puluh pasal dari Kejadian, kita memiliki satu sejarah dari banyak orang dari Adam sampai Yusuf, tetapi di dalam kitab ini sedikit sekali pengajaran atau doktrin. Tanpa pengajaran atau doktrin, bagaimana mungkin ada banyak wahyu? Di dalam perkara ini, Roma sangatlah berbeda dengan Kejadian. Pasal satu sampai lima belas dari Roma ini penuh dengan pengajaran Paulus.

Apakah yang kita miliki di dalam Mazmur? Apakah kita memiliki sejarah dan doktrin? Tidak, di dalam Mazmur kita memiliki ekspresi-ekspresi dari perasaan-perasaan. Berapa banyak wahyu ilahi yang disingkapkan di dalam satu ekspresi tertentu itu tergantung kepada perasaan macam apa yang disampaikan oleh ekspresi itu. Tentunya ekspresi Daud dari perasaannya membenci musuh-musuhnya itu tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang berasal dari wahyu ilahi.

Saya harap bahwa perkataan pembukaan ini akan membantu memberikan satu pondasi yang tepat kepada Anda, khususnya generasi muda untuk memahami Alkitab. Khususnya, saya berharap bahwa perkataan ini akan membantu Anda untuk memahami apa yang sedang saya usahakan untuk dilakukan di dalam berita-berita mengenai Mazmur ini. Di dalam pembacaan kita akan Mazmur, kita perlu menyadari bahwa ada ekspresi-ekspresi tertentu yang bukan berasal dari wahyu ilahi melainkan dari perasaan-perasaan pemazmur yang rumit.

Sekarang marilah kita melanjutkan untuk melihat Mazmur 73 sampai 76, yang berkenaan dengan kehancuran rumah Allah dan Kristus sebagai pemecahannya.

I. PROBLEM KEHANCURAN

Mungkin sulit untuk beberapa orang untuk mempercayai bahwa bait, rumah Allah itu hancur, tetapi bait itu dihancurkan sampai sedemikian rupa hingga bait itu dibakar, dan kota di sekelilingnya runtuh.

A.

Karena Kelalaian Umat Allah terhadap Pengalaman akan Kristus

Apakah penyebab dari kehancuran rumah Allah ini? Kelihatannya ini disebabkan karena bani Israel jahat dan penuh dengan dosa. Namun, alasan mendasar bagi kehancuran ini adalah bahwa Kristus tidak ditinggikan oleh umat Allah; mereka tidak memberikan keutamaan, tempat yang pertama di dalam segala sesuatu kepada-Nya. Sebenarnya, kegagalan mereka memberikan keutamaan kepada Kristus, kegagalan mereka untuk menghormati dan meninggikan Dia, adalah penyebab dari mereka menjadi penuh dengan dosa dan jahat.

Prinsipnya sama dengan kita di dalam kehidupan gereja hari ini. Jika kita tidak mengasihi Kristus dengan kasih kita yang semula, memberikan kepada-Nya tempat yang pertama di dalam segala sesuatu agar Dia bisa memiliki keutamaan di antara kita, maka gereja akan menjadi gersang/hancur. Kehancuran gereja sebagai rumah Allah selalu diakibatkan dari kelalaian terhadap pengalaman akan Kristus.

B.

Dipecahkan oleh Kristus yang Diapresiasi dan Ditinggikan dengan Tepat oleh Umat Allah

Problem kehancuran ini dipecahkan oleh Kristus yang diapresiasi dan ditinggikan dengan tepat oleh umat Allah. Belakangan ini, gereja di Anaheim telah berdoa untuk kebangunan. Jika semua kaum saleh di Anaheim mau memberikan keutamaan kepada Kristus, meninggikan Dia sampai pada puncaknya dan mengasihi Dia dengan kasih yang semula, maka akan ada satu kebangunan yang sejati. Kebangunan yang sesungguhnya di dalam gereja tergantung kepada setiap orang di dalam kehidupan gereja memberikan tempat yang pertama kepada Kristus di dalam segala sesuatu.

Jika kita jelas mengenai problem kehancuran dan pemecahannya ini, maka sekarang kita dapat melanjutkan untuk melihat Mazmur 73 sampai 76 satu demi satu.

II. PENDERITAAN-PENDERITAAN DARI ORANG-ORANG KUDUS YANG MENUNTUT

Mazmur 73 adalah tentang penderitaan-penderitaan dari orang-orang kudus yang menuntut.

A.

Allah Itu Baik bagi Orang-orang yang Murni Hatinya

Mazmur 73:1 memberi tahu kita bahwa Allah itu baik bagi orang-orang yang murni hatinya. Murni hatinuya berarti memiliki Allah sebagai satu sasaran dan tujuan kita. Tidak diragukan lagi, di sini pemazmur adalah orang semacam ini.

B.

Penderitaan-penderitaan dan Kebingungan-kebingungan dari Pemazmur yang mencari Allah

Ayat 2 sampai 16 adalah satu catatan tentang penderitaan-penderitaan dan kebingungan-kebingungan dari pemazmur yang mencari Allah. Ayat 2 mengatakan, “Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.” Ini menunjukkan bahwa pemazmur hampir tersandung oleh situasi mengenai kemakmuran orang jahat (ay. 3-12). Mazmur 1 mengatakan bahwa orang jahat tidak akan makmur, sedangkan di sini pemazmur dibingungkan dengan kemakmuran orang jahat, yang tenang dan menambah harta (ay. 12). Pemazmur selanjutnya mengatakan bahwa ia telah memurnikan hatinya dengan sia-sia, bahwa ia telah kena tulah sepanjang hari, dan bahwa ia dihukum setiap pagi (ay. 13-14). Mazmur 1 mengatakan bahwa orang yang memelihara hukum taurat akan diberkati, tetapi di dalam Mazmur 73 kita melihat seorang pemelihara hukum taurat yang kena tulah. Di dalam ayat 15, pemazmur melanjutkan, “Seandainya aku mengatakan: Aku mau berkata-kata seperti itu, maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anak-Mu.” Pencari Allah yang saleh ini sedang menderita, tetapi jika ia memberitahukan kepada orang lain tentang situasinya, maka mereka akan tersandung dan akan mengatakan, “Siapa saja yang memelihara hukum taurat akan menjadi makmur.” Namun, di sini ada seorang yang memelihara hukum taurat, namun sama sekali tidak makmur. Di dalam ayat selanjutnya pemazmur memberi tahu kita bahwa ia bingung. “Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku.” Ini adalah satu perkataan yang berat. Semakin pemazmur mempertimbangkan situasinya, semakin ia kesulitan dan bingung.

C.

Pemecahan yang Diperoleh di dalam Tempat Kudus Allah

Di dalam ayat 17 sampai 28 kita melihat bahwa pemazmur memperoleh pemecahannya di dalam tempat kudus Allah. “Sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah; Maka aku memperhatikan kesudahan mereka.” Di manakah tempat kudus Allah hari ini? Pertama, tempat kudus Allah ada di dalam roh kita. Kedua, tempat kudus Allah adalah gereja. Jadi, pergi ke dalam tempat kudus Allah, berarti kita perlu berpaling ke roh kita dan kemudian pergi ke sidang-sidag gereja. Begitu kita berada di dalam tempat kudus—di dalam roh dan di dalam gereja—kita akan memiliki pandangan lainnya, satu penglihatan yang khusus, tentang situasi mengenai orang jahat.

1.

Orang Jahat Ditaruh di Tempat-tempat Licin untuk Dilemparkan ke dalam Kehancuran

Setelah masuh ke dalam tempat kudus Allah, pemazmur bisa melihat bahwa orang jahat ditaruh di tempat-tempat licin untuk dilemparkan ke dalam kehancuran (ay. 18). Ini menyebabkan pemazmur mengatakan, “Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan! Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kau pandang hina” (ay. 19-20).

2.

Allah Menjadi Harta Milik Satu-satunya di Surga bagi Pencari-Nya yang Murni dan Kedambaan-Nya Satu-satunya di Bumi

“Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi” (ay. 25). Ayat ini mewahyukan bahwa pencari Allah yang murni akan memiliki Allah sebagai harta milik satu-satunya di surga dan kedambaannya satu-satunya di bumi. Allah adalah sasaran unik pemazmur. Pemazmur tidak peduli dengan sesuatu lainnya selain Allah dan ingin mendapatkan Dia. Di dalam perkara ini, Paulus sama. Di dalam Filipin 3:8 Paulus mengatakan bahwa ia menganggap segala sesuatu sebagai sampah untuk mendapatkan Kristus.

Mazmur 73 diakhiri dengan kata-kata ini: “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (ay. 26). Di sini kita memiliki jawaban bagi pertanyaan pemazmur mengenai penderitaannya dan kemakmuran orang jahat. Seorang yang tidak mempedulikan Allah mungkin mendapatkan banyak hal dan kelihatannya makmur. Namun, orang yang mempedulikan Allah akan dibatasi oleh Allah dan bahkan dilucuti oleh Allah terhadap banyak hal. Seperti yang akan kita lihat di dalam pelajaran-hayat yang akan datang tentang kitab Ayub, inilah yang terjadi kepada Ayub.

III. KEHANCURAN RUMAH ALLAH

Mazmur 73 adalah tentang penderitaan-penderitaan orang-orang kudus yang menuntut, sedangkan Mazmur 74 adalah tentang kehancuran rumah Allah.

A.

Satu Penyajian yang Menyedihkan tentang Kehancuran dan Kerusakkan yang Terus Menerus di dalam Tempat Kudus Allah

Ayat 1 sampai 11 adalah penyajian yang menyedihkan dari pemazmur tentang kehancuran dan kerusakkan yang teurs menerus di dalam tempat kudus Allah. “Mengapa, ya Allah, Kaubuang kamu untuk seterusnya? Mengapa menyala murka-Mu terhadap kambing domba gembalaan-Mu? Ingatlah akan umat-Mu yang telah Kauperoleh pada zaman purbakala, yang Kautebus menjadi bangsa milik-Mu sendiri! Ingatlah akan gunung Sion yang Engkau diami” (ay. 1-2). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa pemazmur prihatin tentang dua hal—umat Allah dan tempat tinggal Allah. Baik umat Allah maupun tempat tinggal-Nya telah dirusak. Terhadap hal ini, pemazmur sangat putus asa.

B.

Seruan yang Sungguh-sungguh bagi Kepentingan Allah menurut Kuasa-Nya dan Berdasarkan Perjanjian-Nya

Ayat 12 sampai 23 adalah satu seruan yang sungguh-sungguh bagi kepentingan Allah menurut kuasa-Nya dan berdasarkan perjanjian-Nya. Pemazmur tidak berdoa bagi kepentingannya sendiri—ia berdoa bagi kepentingan Allah. Ia berseru kepada Allah bagi kepentingan Allah menurut kuasa-Nya seperti yang digambarkan di dalam ayat 13 sampai 17. Kemudian di dalam ayat 20 pemazmur mengatakan kepada Allah, “Perhatikanlah perjanjian itu.” Di sini ia seolah-olah mengatakan, “O Allah, Engkau harus memperhatikan perjanjian yang telah Kaubuat dengan nenek moyang kami Abraham, Ishak, dan Yakub. Engkau tidak bisa melupakannya. Engkau mungkin tidak memperhatikan kami, karena kami jahat, tetapi Engkau tidak bisa tidak memperhatikan perjanjian yang telah Kaubuat.”

Doa pemazmur di sini adalah satu contoh dari jenis doa yang terbaik—doa yang adalah bagi kepentingan Allah, yaitu menurut kuasa Allah, dan berdasarkan kepada kasih setia Allah kepada perjanjian-Nya. Kita semua perlu belajar berdoa secara demikian. Saya percaya bahwa Allah mendengarkan doa dari pemazmur ini dan menjawabnya, karena pada akhirnya Dia datang untuk memulihkan tempat kudus yang telah hancur itu.

IV. PENGHAKIMAN KRISTUS TERHADAP PARA PERUSAK

Mazmur 75 berkenaan dengan penghakiman Kristus terhadap para perusak. Ada beberapa yang mungkin membayangkan dalam hubungannya dengan mazmur ini bagaimana saya bisa membicarakan tentang penghakiman Kristus, karena mazmur ini tidak menyinggung tentang Kristus atau Mesias. Dasar dari pembicaraan saya di sini adalah fakta bahwa, menurut Yohanes 5:22, Allah telah memberikan semua penghakiman kepada Kristus sang Putra. Jadi, Allah yang menghakimi di dalam Mazmur 75 ini seharusnya adalah Kristus. Kristus sebagai persona kedua dari Trinitas Ilahi, adalah Dia yang akan melaksanakan penghakiman ke atas semua orang dosa. Penghakiman Kristus di sini adalah terhadap para perusak.

A.

Pada Waktu yang Ditentukan oleh-Nya

Penghakiman Kristus terhadap para perusak ini akan terjadi pada waktu yang ditentukan oleh-Nya (ay. 1-3). “Ketika Aku memilih waktu yang ditentukan, Akulah yang menghakimi menurut keadilan” (ay. 2). “Aku” ini pasti mengacu kepada Kristus, Hakim yang adil.

B.

Memotong Tanduk-tanduk Orang Jahat yang Sombong untuk Menegaskan Bahwa Peninggian itu Datang dari Dia di sebelah Utara

Di dalam ayat 4 sampai 10, pemazmur membicarakan tentang memotong tanduk-tanduk orang jahat yang sombong untuk menegaskan bahwa peninggian itu datang dari Dia di sebelah utara. Ayat 6 dan 7 mengatakan, “Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu. Sebab Allah adalah Hakim: Dia akan merendahkan orang ini dan meninggikan orang itu.” Di sini kita melihat bahwa peninggian itu datang dari sebelah utara, di mana Allah tinggal (cf. Yes. 14:13-14). Peninggian itu datang dari utara berarti bahwa peninggian itu datang dari Allah, yang tinggal di sebelah utara. Selain itu, ini menunjukkan bahwa Kristus itu unik. Peninggian itu tidak boleh datang dari arah mana pun selain di mana Dia tinggal. Karena itu, keutamaan harus diberikan kepada-Nya.

V. KEMENANGAN ALLAH DI DALAM TEMPAT TINGGAL-NYA

Mazmur 76 adalah tentang kemenangan Allah di dalam tempat tinggal-Nya.

A.

Kemenangan Allah, sebagai Dia yang Mulia dan Unggul, di dalam Tabernakel-Nya

Ayat 1 sampai 5 adalah satu deklarasi mengenai kemenangan Allah, sebagai Dia yang mulia dan unggul, di dalam tabernakel-Nya. Ayat 2 mengatakan, “Di Salem adalah tabernakel-Nya, Dan tempat tinggal-Nya, di Sion.” Ayat 4 membicarakan tentang keunggulan dan kemuliaan Allah: “Engkau lebih mulia, Lebih unggul daripada gunung-gunung sejak purbakala.”

B.

Pujian dari Pemazmur mengenai Murka dan Rasa Takut akan Allah

Ayat 6 sampai 12 adalah pujian dari pemazmur mengenai murka dan rasa takut akan Allah. Mengenai murka Allah, ayat 10 mengatakan bahwa Dia bersiap sedia “dengan sisa murka-Nya.” Mengenai rasa takut akan Allah, ayat 7 mengumumkan, “Engkau, sungguh Engkau, yang ditakuti,” dan ayat 11 mengatakan “Biarlah semua yang ada di sekeliling-Nya memberikan persembahan-persembahan kepada Dia yang ditakuti.”

Mazmur 73 sampai 76 mencakup empat perkara: penderitaan orang-orang kudus, kehancuran rumah Allah, penghakiman Kristus, dan kemenangan Allah. Karena empat mazmur ini adalah ekspresi-ekspresi dari perasaan-perasaan para pemazmur yang rumit, maka kita perlu membedakan perasaan-perasaan yang ilahi dengan perasaan-perasaan yang insani. Ini berarti bahwa kita perlu membedakan Firman Kudus menurut prinsip-prinsip yang tepat. Untuk memahami Perjanjian Lama, kita memerlukan tulisan-tulisan Paulus. Jika ketika kita mempelajari Mazmur kita berdiri di atas bahu Paulus, maka kita akan memiliki satu pandangan yang jelas tentang seratus lima puluh mazmur ini.