← Daftar isi Mazmur (1) · bab 24/42

EKSPRESI-EKSPRESI YANG SALEH DARI PARA PEMAZMUR YANG DIUNGKAPKAN DARI PERASAAN-PERASAAN MEREKA YANG RUMIT KETIKA MENIKMATI ALLAH DI DALAM RUMAH-NYA

MAZMUR 52—67

(3)

Pembacaan Alkitab: Mzm. 63—67

Apresiasi kita terhadap Alkitab, khususnya terhadap Mazmur, tergantung kepada pembedaan yang kita miliki. Sebagaimana pembedaan dan apresiasi terhadap seorang yang dewasa berbeda dengan terhadap seorang anak kecil, demikian juga apresiasi kita terhadap Alkitab berbeda menurut tingkatan pengalaman, pengertian, dan kematangan rohani kita. Ada satu perbedaan yang luas di antara apa yang dinilai dan diapresiasi oleh seorang kakek yang berumur dengan apa yang dinilai dan diapresiasi oleh seorang anak berumur dua tahun. Misalnya ada banyak benda ditaruh di hadapan mereka. Di antara benda-benda ini, anak kecil mungkin mengapresiasi sebuah kotak yang bagus, kosong, dan berbentuk persegi yang kecil, tetapi bagi seorang kakek, kotak ini dan semua benda yang ia lihat dihadapannya itu tidaklah bernilai. Yang ia apresiasi dan dambakan adalah sebuah berlian yang besar. Ini menunjukkan bahwa kita mengapresiasi hal-hal itu menurut kematangan kita dan kapasitas kita untuk membedakan apa nilai yang sesungguhnya. Ada beberapa yang akan mengapresiasi Efesus 3, yaitu satu pasal tentang ekonomi kekal Allah dan pemberitaan kekayaan Kristus yang tidak terduga kepada bangsa-bangsa Kafir menurut rencana Allah untuk menghasilkan gereja, sedangkan yang lainnya mungkin mengapresiasi satu porsi seperti Mazmur 65:11-13, yang membicarakan tentang Allah memahkotai tahun-tahun dengan kebaikan-Nya, jalan-jalan-Nya melimpah-limpah dengan lemak, bukit-bukit bersiap-siap dengan kegembiraan, dan lembah-lembah bersorak-sorai karena sukacita dan menyanyi.

Di dalam berita ini, kita akan melihat Mazmur 63—67. Ketika kita membaca mazmur-mazmur ini, kita perlu melatih pembedaan yang memadai sehingga kita dapat menyadari bagaimana mazmur-mazmur ini dibandingkan dengan standar pengajaran dari Perjanjian Baru.

XII. PEMAZMUR MEMBANDINGKAN KENIKMATANNYA AKAN ALLAH

DI DALAM RUMAHNYA DENGAN PENGHUKUMAN TERHADAP MUSUH-MUSUHNYA

Di dalam Mazmur 63, pemazmur membandingkan kenikmatan akan Allah di dalam rumah-Nya dengan penghukuman terhadap musuh-musuhnya. Di satu pihak, pemazmur memustikakan kenikmatan akan Allah; di lain pihak, ia juga bersukacita karena penghukuman Allah terhadap musuh-musuhnya.

A. Pemazmur Mencari Allah

Di dalam ayat 1 sampai 4, pemazmur mengatakan, “O Allah, Engkau adalah Allahku; Aku mencari Engkau dengan rajin. Jiwaku haus terhadap-Mu, Dagingku rindu kepada-Mu, Di tanah yang kering dan tandus tiada berair. Karena itu aku memandang Engkau di tempat kudus, Mencari kuasa-Mu dan kemuliaan-Mu. Karena kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup, Bibirku memuji Engkau. Maka aku akan memberkati Engkau selagi aku hidup; aku meninggikan tanganku di dalam nama-Mu.” Mencari Allah dan haus terhadap-Nya itu sangat baik. Namun, kita perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini: Untuk apakah kita mencari Allah? Untuk apakah kita haus kepada Allah? Di dalam pencarian dan kehausan ini, apakah kita mencari sesuatu yang memiliki nilai rohani yang besar? Untuk apakah pemazmur mencari Allah? Bagi Kristuskah? Bagi Trinitas Ilahi atau Roh pemberi hayat? Kelihatannya pemazmur terutama mencari kasih setia Allah (ay. 3). Tulisan yang puitis di sini menakjubkan, tetapi isinya sangatlah terbatas. Meskipun demikian, ada beberapa pembaca dari ayat-ayat ini yang mungkin sangat mengapresiasinya.

B. Kenikmatan Pemazmur akan Allah

Di dalam ayat 5 sampai 8, kita memiliki kenikmatan pemazmur akan Allah. Ia mengumumkan bahwa jiwanya dipuaskan dengan lemah yang kaya dan bahwa ketika ia ingat akan Allah ketika ia ada di tempat tidurnya dan memikirkan Dia pada waktu jaga malam, mulutnya memuji Allah dengan bibir yang bersorak-sorak dengan riang gembira (ay. 5-6). Di dalam ayat 7 dan 89, pemazmur mengatakan, “Karena Engkau telah menjadi pertolonganku, Dan di dalam naungan dari sayap-Mu aku akan bersorak sorak dengan riang gembira. Jiwaku mencari Engkau; Tangan kanan-Mu menopang aku.” Di sini hal yang paling berharga adalah naungan sayap Allah.

C. Penghukuman terhadap Musuh-musuh dari Pemazmur

Di dalam ayat 9 sampai 11, pemazmur menyimpulkan dengan berbicara mengenai penghukuman Allah terhadap musuh-musuhnya.

Apakah yang Anda temukan di dalam mazmur ini yang berharga? Mungkin Anda akan menunjukkan perkara mencari Allah. Ya, kita harus memiliki satu hati yang mencari Allah, tetapi apakah Anda puas dengan hal ini? Di dalam opini saya, mazmur ini sangat kurang dalam isinya.

XIII. KELUHAN PEMAZMUR TERHADAP RENCANA JAHAT MUSUHNYA

DAN PENGHAKIMAN ALLAH TERHADAP ORANG-ORANG YANG MELAKUKAN KEJAHATAN

Di dalam Mazmur 64, kita memiliki keluhan pemazmur terhadap rencana jahat musuhnya dan penghakiman Allah terhadap orang-orang yang melakukan kejahatan.

A. Keluhan Pemazmur terhadap Rencana Jahat Musuhnya

Di dalam ayat 1 dan 2, pemazmur meminta Allah untuk mendengarkan suara keluhannya, memelihara hidupnya dari rasa takut terhadap musuh, dan menyembunyikannya dari kerumunan orang-orang yang melakukan kejahatan. Orang-orang yang melakukan kejahatan telah menajamkan lidah mereka seperti pedang dan telah mengarahkan anak panah mereka, yaitu perkataan mereka yang pahit, untuk ditembakkan kepada orang yang sempurna di tempat-tempat yang tersembunyi (ay. 3-4). Pemakaian kata “orang yang sempurna” oleh pemazmur menunjukkan bahwa ia menganggap dirinya sempurna, seorang yang tidak seharusnya dibenci oleh siapa pun. Kemudian pemazmur selanjutnya membicarakan tentang musuh-musuhnya, dengan mengatakan, “Mereka mengokohkan perkara yang jahat; Mereka berencana untuk menjerat secara tersembunyi; Mereka mengatakan, Siapakah yang akan melihat mereka? Mereka merancangkan ketidakadilan, dengan mengatakan: Kami telah menyelesaikan satu rencana yang hati-hati. Alangkah dalamnya pemikiran batin dan hati orang” (ay. 5-6).

B. Penghakiman Allah terhadap Orang-orang yang Melakukan Kejahatan

Di dalam dua ayat selanjutnya, pemazmur memploklamirkan penghakiman Allah terhadap orang-orang yang melakukan kejahatan. “Tetapi Allah akan menembakkan anak panah kepada mereka; Tiba-tiba mereka terluka. Mereka dibuat untuk menyandung satu sama lain dengan lidah mereka sendiri; Semua yang mencari mereka mengeleng-gelengkan kepala mereka.” Pemazmur sungguh gembira tentang hal ini.

C. Orang Benar Bersukacita di dalam Yehovah dan Berlindung di dalam Dia

“Semua orang akan takut Dan mengumumkan perbuatan Allah, Dan mereka akan merenungkan apa yang telah dilakukan-Nya. Orang benar akan bersukacita di dalam Yehovah dan berlindung di dalam Dia, Dan semua orang yang tulus hati akan bermegah” (ay. 9-10). Ini menunjukkan bahwa pemazmur menganggap dirinya bukan hanya sempurna melainkan juga benar dan tulus hati. Seperti mazmur sebelumnya, mazmur ini kurang dalam isinya. Sulit untuk menemukan sesuatu di sini yang memiliki beberapa nilai rohani yang lebih besar.

XIV. PUJIAN PEMAZMUR KEPADA ALLAH KARENA KENIKMATANNYA AKAN ALLAH

DI DALAM RUMAH-NYA DAN KARENA KEBAIKAN ALLAH KEPADA BUMI BAGI MANUSIA

Di dalam Mazmur 65, kita pertama-tama memiliki pujian pemazmur kepada Allah karena kenikmatannya akan Allah di dalam rumah-Nya (ay. 1-4), dan kemudian pujian pemazmur kepada Allah karena kebaikan-Nya kepada bumi bagi manusia (ay. 5-13),

A.

Pujian Pemazmur kepada Allah Karena Kenikmatannya akan Allah di dalam Rumah-Nya

Di dalam pujiannya kepada Allah, pemazmur mengatakan, “Kesalahan-kesalahan menang terhadapku; Karena bagi pelanggaran-pelanggaranku, Engkau membuat pendamaian baginya. Diberkatilah dia yang telah Engkau pilih dan bawa Untuk tinggal di dalam pelataran-pelataran-Mu. Kami akan dipuaskan dengan kebaikan dari rumah-Mu, Dari bait-Mu yang kudus” (ay. 3-4). Secara harfiah, kata Ibrani yang diterjemahkan “kesalahan-kesalahan” berarti “kejadian-kejadian yang salah” atau “perkara-perkara yang salah.” Di sini Daud mengatakan bahwa Allah harus kesalahan-kesalahan dari musuh-musuh Daud tetapi harus mendamaikan pelanggaran-pelanggarannya. Perkataan tentang tinggal di dalam pelataran-pelataran-Allah dan dipuaskan dengan kebaikan dari rumah-Nya ini baik, tetapi sekali lagi kita perlu mengajukan pertanyaan ini, “Untuk apakah kita tinggal di dalam pelataran-pelataran Allah?”

B.

Pujian Pemazmur kepada Allah karena Kebaikan-Nya kepada Bumi bagi Manusia

Di dalam pujiannya kepada Allah karena kebaikan-Nya kepada bumi bagi manusia, pemazmur mengatakan, “Engkau melawat bumi dan menyiraminya; Engkau memperkayanya dengan sangat: Sungai Allah penuh dengan air. Engkau menyediakan gandum bagi manusia, karena demikianlah Engkau telah mempersiapkan bumi. Menjenuhi alur-alurnya, mengendapkan punggung-punggung bukit, melembutkannya dengan air hujan; Engkau memberkati tunas-tunasnya” (ay. 9-10). Apa yang dimaksud dengan ekspresi puitis “sungai Allah”? Ini mungkin mengacu kepada air di udara, kepada sumber air hujan yang turun ke bumi supaya bumi dapat menghasilkan gandum bagi keuntungan manusia.

Apakah yang Anda dapatkan dari Mazmur 65 ini? Ada beberapa yang mungkin mengapresiasinya sebagai puisi yang baik, tetapi apakah yang Anda terima dari perkataan pemazmur tentang gandum, punggung-punggung bukit, dan alur-alur bajak? Isi dari mazmur ini tidak bisa dibandingkan dengan pasal empat dari Efesus, yang membicarakan tentang memelihara keesaan Roh itu dan yang mewahyukan Tubuh dalah satu kesatuan yang berbaur dengan Allah Tritunggal.

XV. NASEHAT PEMAZMUR KEPADA SELURUH BUMI UNTUK MEMUJI ALLAH,

UCAPAN SYUKURNYA KEPADA ALLAH UNTUK MASA LAMPAU

DAN PENUTURANNYA TENTANG PERBUATAN-PERBUATAN ALLAH

YANG SANGAT RAMAH KEPADANYA

Mazmur 66 meliput tiga perkara: nasehat pemazmur kepada seluruh bumi untuk memuji Allah (ay. 1-4); ucapan syukurnya kepada Allah untuk masa lampau (ay. 5-15); dan penuturannya tentang perbuatan-perbuatan Allah yang sangat ramah kepadanya (ay. 16-20).

A.

Nasehat Pemazmur kepada Seluruh Bumi untuk Memuji Allah

Pemazmur memulainya dengan menasehati bumi untuk bersorak sorai dengan penuh kegembiraan kepada Allah, menyanyikan kemuliaan nama-Nya, membuat pujian-Nya menjadi mulia, dan mengatakan kepada Allah, “Betapa mengagumkannya perbuatan-perbuatan-Mu!” (ay. 1-3). Kemudian pemazmur memberi tahu Allah bahwa seluruh bumi akan menyembah Dia dan menyanyikan mazmur kepada-Nya dan kepada nama-Nya (ay. 4).

B.

Ucapan Syukur Pemazmur kepada Allah untuk Masa Lampau

Di dalam ucapan syukurnya kepada Allah untuk masa lampau, pemazmur mengatakan bahwa Dia mengubah laut menjadi tanah kering (ay. 6), bahwa Dia memerintah dengan keperkasaan-Nya untuk selama-lamanya (ay. 7), bahwa Dia telah memelihara jiwanya dalam kehidupan (ay. 9), dan bahwa Dia telah membawa mereka ke dalam kelimpahan (ay. 12). Kemudian pemazmur mengatakan, “Aku akan datang ke dalam rumah-Mu dengan kurban-kurban bakaran; aku akan membayar nazar-nazarku kepada-Mu, Yang diucapkan oleh mulutku Dan mulutku mengatakannya ketika aku berada dalam kesesakan. Aku akan mempersembahkan kepada-Mu kurban-kurban bakaran dari lemak Dengan asap dari domba-domba jantan; aku akan mempersembahkan lembu-lembu jantan dengan kambing-kambing jantan” (ay. 13-15). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa pemazmur terikat di dalam satu bisnis transaksi. Persembahan-persembahannya adalah pembayarannya kepada Allah karena kebaikan-Nya. Pertama pemazmur menerima kebaikan Allah, dan kemudian ia membayarnya dengan persembahan-persembahannya.

C.

Penuturan Pemazmur tentang Perbuatan-perbuatan Allah yang sangat Ramah kepadanya

“Datanglah, dengarlah, hai kamu semua yang takut akan Allah, Dan aku akan menuturkan apa yang telah dilakukan-Nya bagi jiwaku” (ay. 16). Pemazmur kemudian menyimpulkan mazmur ini dengan menuturkan perbuatan-perbuatan Allah yang sangat ramah kepadanya. Ketika ia melakukan hal ini, ia membicarakan lagi tentang kasih setia Allah (ay. 20).

XVI. PEMAZMUR MEMOHON DENGAN SANGAT KEPADA ALLAH

UNTUK KASIH KARUNIA DAN BERKAT LEBIH BANYAK

DAN MENASEHATI SEMUA BANGSA UNTUK MEMUJI ALLAH

Di dalam Mazmur 67, pemazmur memohon dengan sangat kepada Allah untuk kasih karunia dan berkat lebih banyak (ay. 1-2, 6-7) dan menasehati semua bangsa untuk memuji Allah (ay. 3-5)

A.

Pemazmur Memohon dengan sangat kepada Allah untuk Kasih Karunia dan Berkat Lebih Banyak

Di dalam ayat 1 dan 2 pemazmur meminta Allah untuk bermurah hati kepada mereka, dan memberkati mereka dan membuat wajah-Nya bersinar atas mereka, supaya jala-Nya dikenal di bumi dan keselamatan-Nya di antara segala bangsa. Di dalam ayat 6 dan 7, ia mengumumkan, “Bumi telah mengeluarkan pertambahannya; Allah, Allah kita, akan memberkati kita. Allah akan memberkati kita; Dan seluruh ujung bumi akan takut kepada-Nya.”

B.

Pemazmur Menasehati Bangsa-bangsa untuk Memuji Allah bagi Penghakiman-Nya yang Adil dan Bimbingan-Nya yang Baik Hati

Di dalam ayat 3 sampai 5, pemazmur menasehati bangsa-bangsa untuk memuji Allah bagi penghakiman-Nya yang adil dan bimbingan-Nya yang baik hati. Di dalam ayat 4 ia mengatakan, “Biarlah bangsa-bangsa bersukacita dan bersorak sorai karena kegirangan, Karena Engkau akan menghakimi bangsa-bangsa dengan adil Dan akan membimbing bangsa-bangsa di bumi.”

Karena Alkitab memiliki enam puluh enam kitab, maka kita semua perlu belajar untuk melatih pembedaan di dalam membaca Alkitab. Untuk memahami Mazmur, kita semua memerlukan kitab-kitab lainnya. Ini berarti bahwa untuk menilai Mazmur ini dengan tepat, maka kita perlu mempertimbangkan kitab-kitab seperti Kejadian, Imamat, Matius, Yohanes, dan keempat belas surat kiriman Paulus. Jika kita membaca Mazmur di dalam terang dari apa yang diwahyukan di dalam surat-surat kiriman Paulus, maka kita akan menyadari isi dari Mazmur ini berada di bawah standar dari pengajaran Perjanjian Baru.

Pada poin ini, saya ingin menekankan satu perkara yang telah seringkali saya singgung—bahwa wahyu ilahi di dalam Alkitab itu selalu maju. Mazmur ada di tengah-tengah dari kemajuan ini, dan karena itu mazmur-mazmur itu berada di bawah standar dari Perjanjian Baru. Namun, tanpa kitab-kitab sebelumnya, kita tidak akan bisa dapat menyadari nilai dari kitab-kitab selanjutnya. Misalnya Anda membaca seluruh Perjanjian Lama dan kemudian mempelajari surat-surat kiriman Paulus. Jika Anda berbuat demikian, maka Anda akan menyadari bahwa surat-surat kiriman Paulus itu adalah satu tambang yang dalam yang penuh dengan emas dan berlian-berlian yang berharga. Jika setelah mempelajari tulisan-tulisan Paulus untuk sejangka waktu lama, Anda kembali kepada Mazmur, maka Anda akan menyadari bahwa bila dibandingkan maka Mazmur ini tidak mengandung banyak mustika.

Namun, ini tidak berarti bahwa tidak ada sesuatu yang mustika di dalam Mazmur. Sesungguhnya dari mazmur-mazmur ini kita memiliki satu wahyu yang indah mengenai Kristus sebagai sentralitas dan universalitas ekonomi Allah. Meskipun wahyu tentang Kristus di dalam Perjanjian Baru itu melampaui apa yang ada di dalam Mazmur, tetapi ada beberapa aspek dari wahyu ini yang disingkapkan secara khusus di dalam kitab Mazmur. Misalnya, Mazmur 2:7 mewahyukan bahwa Kristus dilahirkan di dalam kebangkitan-Nya untuk menjadi Putra Allah, dan ayat ini dikutip di dalam Kisah Para Rasul 13:33. Ini menunjukkan bahwa tanpa Kisah Para Rasul 13, kita tidak bisa memahami Mazmur 2 dan tanpa Mazmur 2, kita tidak bisa memiliki dasar untuk dinyatakan, seperti yang dilakukan oleh Perjanjian Baru, bahwa Kristus sebagai Putra tunggal Allah dilahirkan di dalam kebangkitan-Nya untuk menjadi Putra sulung Allah. Dari hal ini, kita bisa melihat bahwa kita memerlukan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Untuk mempelajari sesuatu, kita memerlukan kapasitas untuk belajar dan pengajaran yang tepat untuk membantu kita belajar. Murid-murid di satu universitas mungkin mempelajari buku yang sama, tetapi berapa banyak mereka belajar akan bisa dibedakan menurut kapasitas mereka dan menurut pengajaran apa yang mereka terima dari profesor-profesor mereka. Orang-orang yang memiliki kapasitas yang lebih sedikit akan belajar sedikit daripada mereka yang memiliki kapasitas yang lebih besar. Ibrani 5 menunjukkan bahwa kapasitas kita untuk mempelajari hal-hal rohani bertambah dengan berlatih. Melalui latihan, kapasitas kita untuk memahami Alkitab akan bertumbuh dan berkembang. Khususnya, kita akan menjadi lebih mampu untuk memahami Alkitab menurut garis-garis yang mengendalikannya dan prinsip-prinsip yang mengendalikannya. Saya percaya bahwa jika kita memiliki hati untuk tinggal bersama dengan ministri Tuhan di dalam pemulihan-Nya hari ini, maka pada akhirnya kita akan menjadi berbeda di dalam pandangan kita, di dalam kapasitas kita, di dalam pemahaman kita akan Firman itu, dan di dalam pembedaan kita akan hal-hal rohani.

Untuk memiliki apresiasi yang tepat terhadap Mazmur 63—67, kita perlu melihat wahyu ekonomi Allah. Ekonomi kekal Allah adalah menyalurkan Diri-Nya sendiri ke dalam manusia dan mendispensikan kekayaan-kekayaan-Nya ke dalam batin manusia (Ef. 3:8-9) agar Dia dapat menjadi hayat dan suplai hayat manusia. Oleh hayat-Nya dan suplai yang limpah lengkap dari Roh pemberi hayat-Nya (Flp. 1:19b), manusia dapat memperhidupkan Dia dan memperbesar Dia (Flp. 1:20-21a) bagi menifestasi-Nya (1 Tim. 3:16a). Dengan cara ini, semua umat pilihan-Nya bisa secara korporat menjadi ekspresi-Nya sebagai kepenuhan-Nya, organisme-Nya, yaitu gereja (Ef. 3:19-21).

Namun, di dalam lima mazmur yang diliput di dalam berita ini, kita tidak bisa melihat sesuatu kerohanian yang demikian. Sebaliknya, mazmur-mazmur ini hanya meliput pujian-pujian pemazmur kepada Allah karena kebaikan Allah kepadanya, perhatiannya untuk keamanan personanya dan keberhasilannya dalam urusan-urusannya, perhatian Allah terhadap pemazmur dan kepercayaan pemazmur kepada Allah. Semuanya ini adalah hal-hal yang baik. Tetapi hal-hal yang baik seringkali menjadi pengganti dari hal yang terbaik, penentang terhadap hal yang terbaik, dan bahkan musuh bagi hal yang terbaik. Banyak pencari Tuhan ditahan oleh hal-hal yang baik semacam ini dan tidak mau mencari Tuhan lebih jauh untuk yang terbaik-Nya sehingga mereka dapat mengambil bagian di dalam suplai yang limpah lengkap dari Roh pemberi hayat supaya mereka bisa hidup dan memperbesar Kristus bagi pembangunan Tubuh Kristus (Ef. 4:12, 16) dan bagi penggenapan tujuan kekal Allah.

Karena itu, di dalam mempelajari Mazmur, di satu pihak, kita harus menerima semua wahyu yang menakjubkan mengenai Kristus sebagia sentralitas dan iniversalitas dari ekonomi Allah, di lain pihak, kita harus membedakan bahwa Mazmur adalah ekspresi-ekspresi yang saleh dari para pemazmur yang diungkapkann dari konsep-konsep alamiah mereka, dan ada beberapa yang berdasarkan pada prinsip baik dan jahat, bukan pada prinsip hayat ilahi. Semua ekspresi ini jauh di bawah standar dari tuntutan-tuntutan ciptaan baru Allah (Gal. 6:15).

Alhasil dari mempelajari Mazmur ini, kita seharusnya memiliki satu apresiasi yang bertambah terhadap surat-surat kiriman Paulus. Standar wahyu ilahi di dalam surat-surat kiriman Paulus itu tinggi bukan hanya dibandingkan dengan Mazmur, melainkan juga dengan empat Injil dan Kisah Para Rasul. Misalnya, pernyataan Tubuh Kristus, yang dipakai oleh Paulus, tidak ditemukan di dalam Injil ataupun di dalam Kisah Para Rasul. Tubuh Kristus bukan sekadar satu komposisi/susunan yang terdiri dari kaum beriman-Nya, melainkan sebenarnya adalah satu organisme yang dihasilkan melalui Allah Tritunggal menyalurkan Diri-Nya sendiri ke dalam kaum beriman untuk membuat mereka menjadi pasangan-Nya. Alhasil dari penyaluran ini, Kristus bukan hanya adalah Kepala Tubuh melainkan bahkan seluruh Tubuh itu (1 Kor. 12:12), manusia baru. Mengenai gereja sebagai manusia baru, Kolose 3:10 dan 11 mewahyukan bahwa “Kristus adalah semua dan di dalam semua.” Di dalam manusia baru hanya ada ruang bagi Kristus. Dia adalah semua anggota manusia baru dan di dalam semua anggota. Dia adalah segala sesuatu di dalam manusia baru dan sebenarnya adalah manusia baru itu. Jika kita tidak percaya bahwa Kristus adalah kita dan ada di dalam kita, maka kita belum melihat wahyu mengenai manusia baru di dalam Perjanjian Baru. Kita perlu mengenal Kristus sampai sedemikian rupa hingga kita menyadari bahwa Dia adalah kita dan bahwa Dia ada di dalam kita. Dia ada di dalam kita untuk membuat kita menjadi satu dengan Dia.

Kita memuji Tuhan bahwa kita memiliki Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kita memiliki Mazmur, dan kita memiliiki keenam puluh lima kitab lainnya dari Alkitab yang dengannya kita dapat membandingkan Mazmur. Semakin kita membuat satu perbandingan, semakin kita akan menyadari bahwa wahyu ilahi di dalam Alkitab itu maju, dan semakin kita akan mengapresiasi standar kerohanian yang diwahyukan di dalam Perjanjian Baru.