BERITA DUA PULUH LIMA
EKSPRESI-EKSPRESI YANG SALEH DARI PARA PEMAZMUR YANG DIUNGKAPKAN DARI PERASAAN-PERASAAN MEREKA YANG RUMIT KETIKA MENIKMATI ALLAH DI DALAM RUMAH-NYA
MAZMUR 52—67
(2)
Pembacaan Alkitab: Mzm. 58—62
Di sepanjang abad, banyak pembaca Kristen akan Perjanjian Lama yang tidak memiliki pengertian yang tepat akan Mazmur. Untuk memiliki pengertian yang tepat, khususnya terhadap mazmur-mazmur yang ditulis oleh Daud, maka kita perlu mempertimbangkan situasi Daud mengenai peperanngannya terhadap musuh-musuh dan mengenai kerohaniannya.
Daud dibangkitkan oleh Allah untuk mengalahkan bangsa-bangsa, terutama bangsa Kanaan, yang mengelilingi Israel. Di dalam Kejadian 15:18, Allah telah berjanji untuk memberikan “negeri ini” kepada keturunan Abraham, dari sungai Mesir sampai sungat besar, yaitu sungai Efrat.” Kemudian, di dalam Ulangan, Musa memerintahkan bani Israel untuk memasuki negeri Kanaan, memiliki negeri itu, dan membunuh semua penduduk negeri itu, dan membersihkan negeri itu dari berhala-berhala. Namun, bani Israel tidak taat kepaa Allah. Sebaliknya, mereka memiliki negeri itu hanya sebagian dan membiarkan banyak musuh tetap tinggal di dalamnya. Seperti yang ditunjukkan oleh kitab Hakim-hakim, ketika Israel menjadi lemah, mereka diserang oleh bangsa-bangsa. Berbagai hakim dibangkitkan untuk mengalahkan bangsa-bangsa ini, tetapi musuh-musuh itu tidak sama sekali dikalahkann sampai zaman Daud. Daud mengalahkan bangsa-bangsa di sekeliling dan mempersiapkan negeri itu bagi pendirian kerajaan Allah, dengan Yerusalem sebagai pusat, ibu kota dan tempat di mana bait itu dibangun.
Sebagai seorang demikain yang dibangkitkan oleh Allah, Daud adalah lambang dari Kristus yang berperang. Ketika Kristus ada di bumi, Dia adalah Kristus yang berperang, yang dilambangkan oleh Daud. Tetapi sebagai Dia yang beristirahat di surga setelah kenaikan-Nya, Dia adalah Kristus sang damai sejahtera, yang dilambangkan oleh Salomo.
Daud seringkali berdoa, di dalam mazmur-mazmurnya, mengenai musuh-musuhya, bahkan meminta agar Allah menghancurkan mereka (54:5). Sejauh hubungannya dengan ia telah dibangkitkan oleh Allah untuk menghancurkan musuh-musuh kerajaan Allah, maka ia dibenarkan berdoa secara demikian. Selain itu, karena ia melambangkan Kristus yang berperang, maka ia harus mengalahkan musuh-musuh dan membunuh mereka, dan ia harus meminta pertolongan Allah di dalam perkara ini.
Namun, kita perlu melihat Daud bukan hanya di dalam aspek ia menjadi satu lambang dari Kristus yang berperang melainkan juga di dalam aspek kerohaniannya. Mazmur Daud menunjukkan bahwa kerohaniannya itu tidaklah sempurna. Sejauh hubungannya dengan kerohaniannya, doa-doa Daud berkenaan dengan musuh-musuhnya sebenarnya bukan hanya melanggar pengajaran Perjanjian Baru, di mana kita disuruh untuk mengasihi musuh-musuh kita (Mat. 5:43-48), melainkan juga melanggar pengajaran Perjanjian Lama. Ada beberapa yang memaafkan Daud dengan mengatakan bahwa orang-orang kudus Perjanjian Lama tidak diharapkan untuk mengasihi musuh-musuh mereka dan dibenarkan di dalam hal membenci mereka. Namun, ini tidak benar. Untuk membuktikan hal ini, saya ingin meminta Anda untuk membaca Roma 12:20. Di sini Paulus mengatakan, “Jika musuhmu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah ia minum; karena dengan berbuat demikian kamu akan menimbun bara api di atas kepalanya.” Ayat ini sebenarnya adalah kutipan dari Amsal 25:21 dan 22. Di kedua tempat itu, “bara api” melambangkan kasih yang membara. Jadi, orang-orang kudus di zaman Perjanjian Lama pun disuruh untuk mengasihi musuh-musuh mereka. Namun, di dalam mazmurnya, Daud berdoa agar musuh-musuhnya dihancurkan, dibunuh. Kelihatannya doa-doanya itu bertentangan denga perkataan yang diucapkan oleh anaknya, yaitu Salomo, di dalam Amsal 25:21 dan 22. Atmosfir dan roh di dalam mazmur-mazmur Daud ini tidak berhubungan dengan mengasihi musuh melainkan membencinya. Dari hal ini kita bisa melihat bahwa Daud, meskipun ia itu rohani, tetapi tidak sempurna di dalam kerohaniannya itu.
Sekarang marilah kita melanjutkan untuk melihat Mazmur 58—62. Di dalam pengkajian kita akan mazmur-mazmur ini, kita akan memakai ekspresi-ekspresi yang saleh dari para pemazmur yang diungkapkan dari perasaan-perasaan mereka yang rumi ini sebagai latar belakang untuk mengenal hal-hal rohani di dalam Perjanjian Baru.
VII. PENGHUKUMAN PEMAZMUR TERHADAP ANAK-ANAK MANUSIA DAN DOANYA BAGI KEBINASAAN MEREKA
Di dalam Mazmur 58, pemazmur pertama-tama menghukum/mengutuk anak-anak manusia (ay. 1-5) dan kemudian ia berdoa bagi kebinasaan mereka (ay. 6-11)
A.
Penghukuman Pemazmur terhadap Anak-anak Manusia
Di dalam penghukumannya terhadap anak-anak manusia, Daud mengatakan bahwa di dalam hatinya mereka melakukan ketidakadilan dan bahwa tangan mereka “menjalankan kekerasan di bumi” (ay. 2). Kemudian, dengan menulis dengan cara yang sangat puitis, ia selanjutnya menyamakan mereka dengan ular kobra, seekor ular yang sangat berbisa (ay. 4-5).
B.
Doa Pemazmur bagi Kebinasaan Orang Jahat
Di dalam doanya bagi kebinasaan orang jahat, Daud mengatakan, “O Allah, patahkanlah gigi mereka di mulut mereka; Patahkanlah gigi taring singa-singa muda, O Yehovah” (ay. 6). Ia selanjutnya menyerupakan orang jahat dengan air yang habis, siput yang menjadi lendir, dan seorang perempuan yang keguguran (ay. 7-8). Kemudian ia mengumumkan, “Orang benar akan bersukacita ketika ia melihat pembalasan; Ia akan membasuh giginya di dalam darah orang jahat” (ay. 10). Sungguh bukanlah satu kebajikan bersukacita melihat pembalasan. Daud menyimpulkan mazmur ini, dengan mengatakan, “Orang-orang akan mengatakan, Sesungguhnya ada buah bagi orang benar; Sesungguhnya ada Allah yang menghakimi di bumi” (ay. 11). Di sini “buah” melambangkan hasil yang baik atau beberapa jenis ganti rugi yang adil.
Bagaimana perasaan Anda tentang standar kerohanian di dalam mazmur ini? Saya tidak bisa memiliki satu apresiasi yang tinggi untuk mazmur ini. Di sini hanya ada sedikit sekali yang baik. Bahkan doa dan pujiannya pun tidak menyenangkan. Meskipun demikian, ada beberapa orang Kristen yang menyukai mazmur yang demikian dan mengikutinya dengan buta, yaitu sesuatu yang tidak bisa saya lakukan.
VIII. DOA PEMAZMUR BAGI KESELAMATAN ALLAH DARI MUSUH-MUSUHNYA
Mazmur 59 adalah doa pemazmur bagi keselamatan Allah dari musuh-musuhnya.
A.
Doa Pemazmur bagi Keselamatan Allah dengan Berjaga-jaga bagi Allah
Pemazmur meminta Allah untuk melepaskan dia dari musuh-musuhnya (ay. 1-3). Ia berdoa agar Allah meninggikan dia, melindunginya dari orang-orang yang bangkit melawannya (ay. 1b). Ayat 9 dan 10 menunjukkan bahwa pemazmur berdoa dengan berjaga-jaga bagi Allah. “O kekuatanku, aku akan berjaga-jaga bagi-Mu; Karena Allah adalah kota bentengku. Allahku di dalam kasih setia-Nya akan berjumpa denganku; Allah akan membiarkan aku melihat dengan jaya orang-orang yang mendustai aku.”
B.
Meminta Allah untuk Menghukum Bangsa-bangsa
Di dalam ayat 4 sampai 8 dan 11 sampai 15, pemazmur meminta Allah untuk menghukum bangsa-bangsa. Ia meminta Allah untuk bangkit (ay. 4b) dan tidak mempunyai belas kasihan ke atas siapapun yang melakukan kejahatan dengan berkhianat (ay. 5b). Ia selanjutnya berdoa agar Yehovah menyerakkan mereka dengan kuasa-Nya dan meruntuhkan mereka (ay. 11b). Kemudian ia berdoa, “Habiskanlah mereka dalam murka; habiskanlah mereka sehingga mereka tidak ada lagi; Dan orang-orang akan mengenal bahwa Allah memerintah di dalam Yakub Sampai ke ujung-ujung bumi” (ay. 13).
C.
Pujian Pemazmu kepada Allah
Di dalam ayat 16 dan 17, kita memiliki pujian pemazmur kepada Allah. Di sini Daud mengatakan, “Aku akan menyanyikan tentang kekuatan-Mu; Dan aku akan menyanyikan dengan nyaring tentang kasih setia-Mu di pagi hari. Karena Engkau telah menjadi kota bentengku Dan satu tempat perlindungan di hari kesesakanku. O kekuatanku, kepada-Mulah aku akan menyanyikan mazmur, Karena Allah adalah kota bentengku, Allahku yang kasih setia.” Pujian ini sungguh baik, tetapi pujian ini mendahului banyak ayat yang melibatkan tuduhan dan penghukuman/kutukan.
IX. DOA PEMAZMUR KEPADA ALLAH BAGI PEMULIHAN-NYA
Di dalam Mazmur 60, kita memiliki doa pemazmur kepada Allah bagi pemulihan-Nya. Mazmur ini juga mencakup kegembiraan Allah di dalam janji-Nya kepada umat-Nya bagi kepemilikan negeri itu dan doa pemazmur bagi kelepasan Allah dari seterunya.
A.
Doa Pemazmur bagi Pemulihan Allah
Di dalam ayat 1 sampai 5, kita memiliki doa pemazmur bagi pemulihan Allah. Di dalam ayat 5, pemazmur berdoa, “Kiranya orang-orang yang Kaukasihi bisa dilepaskan, Selamatkanlah dengan tangan kanan-Mu, dan jawablah kami.”
B.
Kegembiraan Allah di dalam Janji-Nya kepada umat-Nya untuk Kepemilikan Negeri itu
Ayat 6 sampai 8 berkenaan dengan kegembiraan Allah di dalam janji-Nya kepada umat-Nya bagi kepemilikan negeri itu. Di dalam ayat 6a pemazmur mengatakan, “Allah telah berbicara di dalam kekudusan-Nya.” Kata Ibrani untuk “kekudusan” di sini juga bisa diterjemahkan “tempat kudus.” Di dalam kekudusan-Nya, atau tempat kudus-Nya, Allah mengatakan bahwa Dia akan bergembira, membagi-bagikan Sikhem, dan mengukur Lembat Sukot. Dia mengumumkan bahwa Gilead dan Manasye adalah milik-Nya, bahwa Efraim adalah ketopong kepala-Nya, bahwa Yehuda adalah tongkat kerajaan-Nya, bahwa Moab adalah wastafel-Nya, bahwa Dia akan melemparkan sandal/kasut-Nya ke atas Edom, dan bahwa Filestea harus bersorak-sorak dengan nyaring karena Dia. Di sini pemazmur mengekspresikan pengharapannya bahwa Allah akan menundukkan bangsa-bangsa sekelilingnya dan memulihkan umat-Nya kepada harta milik mereka. Mengenai pendirian kerajaan Allah di bumi, pengharapan pemazmur bisa dibenarkan. Namun, secara rohani, sulit untuk membenarkan apa yang pemazmur katakan di sini.
C.
Doa Pemazmur bagi Kelepasan Allah dari Seterunya
Ayat 9 sampai 12 adalah doa pemazmur bagi kelepasan Allah dari seterunya. Ayat 11 dan 12 mengatakan, “Berilah pertolongan kepada kami dari seteru, Karena keselamatan dari manusia itu sia-sia. Di dalam Allah kami akan melakukan dengan gagah berani, Dna Dialah yang akan menginjak-injak seteru-seteru kami.” Pemazmur meminta agar hal-hal baik akan terjadi kepada Israel dan hal-hal jahat terjadi kepada musuh-musuh. Inilah prinsip di dalam semua mazmur ini.
X. KENIKMATAN PEMAZMUR AKAN ALLAH DI DALAM RUMAH-NYA
Mazmur 61 adalah tentang kenikmatan pemazmur akan Allah di dalam rumah-Nya.
A.
Menikmati Allah sebagai Tempat Perlindungan-Nya dengan Tinggal di dalam Kemah Allah
Di dalam ayat 1 sampai 5, kita melihat bahwa pemazmur menikmati Allah sebagai tempat perlindungannya dengan tinggal di dalam kemah Allah di bawah penudungan sayap-sayap-Nya. Ayat 3 dan 4 mengatakan, “Engkau adalah tempat perlindungan bagiku, Menara yang kuat di hadapan musuh. Biarlah aku singgah di kemah-Mu untuk selama-lamanya; Biarlah aku berlindung di bawah penudungan dari sayap-sayap-Mu.” Ini menunjukkan bahwa pemazmur menikmati Allah di dalam rumah-Nya sampai sedemikian rupa hingga ia ingin tinggal di dalam kemah Allah untuk selama-lamanya. Ini menunjukkan kepada kita bahwa pemazmur dekat kepada Allah.
Ayat 5 melanjutkan, ‘Karena Engkau, O Allah, telah mendengarkan nazar-nazarku; Engkau telah memberikan kepadaku warisan dari orang-orang yang takut akan nama-Mu.” Di sini pemikiran pemazmur adalah bahwa karena ia adalah seorang yang takut kepada Yehovah, maka ia memiliki bagian akan warisan Allah. Ia takut kepada nama Allah, dan Allah memberikan kepadanya satu porsi dari warisan itu.
B.
Meminta Allah untuk Menambahkan Tahun-tahun Hidupnya
Di dalam ayat 6 sampai 8 pemazmur meminta Allah untuk menambahkan tahun-tahun hidupnya. “Engkau akan menambahkan tahun-tahun hidup raja; Kiranya tahun-tahunnya turun temurun. Kiranya ia tinggal untuk selama-lamanya di hadapan Allah; Tetapkanlah kasih setia dan kesetiaan, untuk menjaga dia” (ay. 6-7). Tidaklah mudah untuk menterjemahkan kata Ibrani untuk “tetapkanlah” di dalam ayat 7 ini. Versi American Standard mengatakan “persiapkanlah,” dan Darby mengatakan “limpahkanlah.” Pemazmur meminta Allah bukan hanya memberikan melainkan menetapkan kasih setia dna kesetiaan supaya menjaganya.
“Maka aku akan menyanyikan mazmur kepada nama-Mu untuk selama-lamanya, Ketika aku membayar kembali nazar-nazarku hari demi hari” (ay. 8). Perkataan pemazmur di sini kelihatannya baik, tetapi ini sebenarnya melibatkan semacam transaksi komersil di antara dia dengan Allah. Allah menetapkan kasih setia dan kesetiaan, dan kemudian pemazmur membalas Allah dengan menyanyikan mazmur kepada nama-Nya. Ini berarti bahwa menyanyikan mazmur kepada nama Allah adalah “pembayaran” pemazmur untuk “membeli” kasih setia dan kesetiaan Allah. Di sini pemazmur bertindak agak mirip dengan seorang usahawan.
Secara prinsip, kita bisa melakukan hal yang sama pada hari ini. Misalnya, kita mungkin berdoa, “Tuhan, kami memuji Engkau, karena Engkau begitu mengasihi kami.” Pujian ini adalah semacam transaksi komersil. Apakah yang akan kita lakukan, jika menurut kesan kita, Allah tidak begitu mengasihi kita? Kasih yang sesungguhnya bukanlah perkara menerima melainkan hanya memberi. Jika kita mengasihi dengan harapan menerima sesuatu sebagai balasannya, maka itu bukanlah kasih yang sejati—ini adalah perdagangan, bisnis, komersil. Petrus memiliki konsep yang komersil demikian di dalam Matius 19. Setelah Tuhan Yesus berbicara tentang jalan bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam kerajaan, Petrus mengatakan kepada-Nya, “Lihatlah, kami telah meninggalkan segalanya dan mengikut Engkau. Lalu apakah yang akan ada bagi kami” (ay. 27). Petrus, seperti pemazmur, berpikir secara komersil. Jika ia mengatakan, ‘Tuhan, tidak peduli apa yang terjadi, aku tetap akan mengasihi Engkau,” itu barulah kasih yang sesungguhnya.
XI. KENIKMATAN PEMAZMUR AKAN ALLAH SEBAGAI KOTA BENTENGNYA
Subyek dari Mazmur 62 adalah kenikmatan pemazmur akan Allah sebagai kota bentengnya.
A.
Kenikmatan Pemazmur akan Allah
Ayat 1 sampai 7 membicarakan tentang kenikmatan pemazmur akan Allah. Di dalam ayat 2, ia mengatakan, “Dia sendiri adalah gunung batuku dan keselamatanku, Kota bentengku yang tinggi; aku tidak akan goyah.” Ia mengulang perkataan ini di dalam ayat 6. Ini memang baik, tetapi ini tidak bisa dibandingkan dengan pengajaran di dalam Perjanjian Baru.
B.
Nasehat Pemazmur kepada Umat itu
Di dalam ayat 8 sampai 12 kita memiliki nasehat pemazmur kepada umat itu. Di dalam ayat 8, ia mengatakan, “Bersandarlah kepada-Nya sepanjang waktu, Hai umat; Curahkanlah hatimu di hadapan-Nya; Allah adalah tempat perlindungan bagi kita.” Ia selanjutnya mengatakan bahwa orang-orang yang rendah tidak lain seperti uap dan orang-orang yang tinggi tingkatannya, seperti dusta. Kemudian ia memberikan nasehat ini: “Janganlah bersandar kepada penindasan, Dan janganlah menjadi sia-sia karena perampasan; Jika kekayaan bertambah, Janganlah taruh hatimu ke atasnya” (ay. 10). Nasehat yang berkenaan dengan kekayaan ini baik, tetapi ini tidak sebaik perkataan Paulus di dalam 1 Timotius 6. Pemazmur menyimpulkan dengan mengatakan, “Sekali Allah telah berbicara; Dua kali aku mendengar hal ini, Kekuatan itu adalah milik Allah. Milik-Mu juga, O Tuhan, kasih setia; Karena Engkau membalas setiap orang menurut perbuatannya” (62:11-12). Perkataan ini kelihatannya agak baik, tetapi tingkatan kerohaniannya sangatlah rendah dibandingkan dengan apa yang ada di dalam Perjanjian Baru.
Mazmur-mazmur yang telah kita liput di dalam berita ini bisa berfungsi sebagai latar belakang untuk membantu kita memahami hal-hal rohani yang sesungguhnya yang diwahyukan di dalam Perjanjian Baru. Mazmur-mazmur ini berkenaan dengan keinsanian dalam ladang etika, dan karena itu mazmur-mazmur ini kekurangan bobot rohani.
Tidak ada di manapun di dalam Mazmur, kita memiliki satu perkataan tentang hidup dan berjalan menurut roh. Tetapi di dalam Roma 8:4, Paulus membicarakan tentang berjalan menurut roh, dan di dalam Galatia 5:25 ia mengatakan, “Jika kita hidup oleh Roh, baiklah juga kita berjalan oleh Roh.” Selain itu, di dalam Filipi 3:10 ia mengatakan, “Mengenal Dia dan kuat kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan penderitaan-penderitaan-Nya, dan diserupakan kepada kematian-Nya.” Tidak ada satu pun di dalam Mazmur yang bisa dibandingkan dengan hal ini. Sebaliknya, Mazmur membicarakan hal-hal seperti menjadi adil dan tulus dan berpegang kepada kejujuran kita. Namun, kita perlu menyadari bahwa keadilan, ketulusan, dan kejujuran bukanlah kerohanian. Kerohanian adalah Roh itu. Karena hanya Roh itu yang rohani, maka apa saja yang kita miliki yang terpisah dari Roh itu bukanlah rohani.
Sebagai kaum beriman Perjanjian Baru, tidaklah benar bila kita menerima semua ekspresi yang saleh dari pemazmur yang diungkapkan dari perasaan-perasaan mereka yang rumit tanpa pembedaan yang memadai. Kita harus memakai ekspresi-ekspresi mereka yang saleh itu sebagai latar belakang bagi kita untuk mengenal hal-hal rohani di dalam Perjanjian Baru. Kita perlu melihat kontras di antara Mazmur dan kerohanian yang diwahyukan di dalam Perjanjian Baru. Kita tidak seharusnya menuntut keadilan, ketulusan dan kejujuran yang kita lihat di dalam Mazmur. Sebaliknya, kita harus menuntut kerohanian yang sejati yang kita lihat di dalam Perjanjian Baru—kerohanian yang sebenarnya adalah hayat ilahi yang diperhidupkan dari kita oleh suplai yang limpah lengkap dari Roh itu. Inilah kerohanian yang sesungguhnya. Jika kita mempraktekkan kerohanian yang demikian, maka kita tidak akan berdoa agar Tuhan membinasakan musuh-musuh kita. Sebaliknya, kita akan berdoa, “Tuhan ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan.Tuhan, belas kasihanilah mereka agar mereka dapat bertobat dan menerima Engkau dengan percaya ke dalam Engkau.”
Kita tidak seharusnya mengikuti Mazmur ini dengan buta, karena mazmur-mazmur itu bukanlah teladan yang mutlak yang mencapai tingkatan standar Perjanjian Baru untuk kita ikuti. Bukannya mengikuti Mazmur, kita seharusnya mengapresiasi mazmur-mazmur itu karena bantuan yang diberikannya kepada kita—bantuan yang menjadi latar belakang bagi wahyu tentang Kristus yang almuhit. Kristus adalah sentralitas dan universalitas dari ekonomi Allah, dan Dia adalah Sang sempurna yang harus kita puji.
Dari pengkajian kita akan Alkitab, kita bisa melihat bahwa baik di zaman Perjanjian Lama, maupun di zaman Perjanjian Baru, banyak orang, termasuk beberapa orang yang saleh, telah disimpangkan oleh penerapan yang salah akan firman Allah. Ada beberapa yang telah disimpangkan sampai sedemikian rupa hingga, seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, mereka mengira bahwa dengan membunuh kaum beriman, mereka mempersembahkan pelayanan kepada Allah (Yoh. 16:2). Di sepanjang abad, ada banyak orang Kristen yang telah disimpangkan oleh penerapan yang salah terhadap Alkitab. Dari hal ini kita bisa melihat bahwa kita tidak boleh mengikuti Alkitab tanpa realisasi yang memadai tentang sumber-sumber, bagian-bagian, garis-garis, dan prinsip-prinsip dari Alkitab, dan kita harus mengenal sumber-sumber, bagian-bagian, garis-garis, dan prinsip-prinsip Alkitab jika kita ingin memahami Alkitab dengan benar.
Di dalam 2 Timotius 2:15, Paulus menyuruh Timotius, dengan mengatakan, “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah, sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, dengan lurus membelah firman kebenaran.” Dengan lurus membelah kebenaran berarti membukakan firman Alalah di dalam berbagai bagian dengan benar dan lurus tanpa penyimpangan. Inilah yang sedang saya usahakan untuk dilakukan dengan membantu Anda mengenal Firman itu menurut garis-garis dan prinsip-prinsipnya.
Jika saya tidak menyukai Mazmur, maka saya tidak akan mempelajarinya demikian banyak. Namun, saya ingin menekankan fakta bahwa fungsi dari Mazmur tidaklah mencapai standar dari Perjanjian Baru. Mengenai nubuat-nubuat yang berhubungan dengan Kristus, Mazmur itu luar biasa, tetapi di dalam perkara-perkara lainnya, Mazmur itu berada di bawah standar pengajaran dari Perjanjian Baru. Mazmur menasehati kita untuk bersandar kepada Allah, memiliki kepercayaan di dalam Allah, dan menantikan Allah. Ini mungkin baik, tetapi ini jauh di bawah tingkatan rohani dari Perjanjian Baru. Kerohanian Perjanjian Baru melibatkan salib, kebangkitan, hayat kekal Allah, Roh pemberi hayat, dan penerapan Roh dari Allah Tritunggal kepada diri kita bagi perbauran keilahian dengan keinsanian di dalam penggenapan ekonomi kekal Allah mengenai gereja. Inilah tingkatan rohani dari Perjanjian Baru, dan tingkatan rohani dari Mazmur itu jauh lebih rendah daripadanya.