BERITA KEDUAPULUH EMPAT
EKSPRESI-EKSPRESI YANG SALEH DARI PARA PEMAZMUR YANG DIUNGKAPKAN DARI PERASAAN-PERASAAN MEREKA YANG RUMIT KETIKA MENIKMATI ALLAH DI DALAM RUMAH-NYA
MAZMUR 52—67
(1)
Pembacaan Alkitab: Mzm. 52-57
Mengenai wahyu ilahi di dalam Mazmur, ada pos-pos bagi wahyu mengenai Kristus. Yang terakhir dari pos-pos ini, yang telah kita liput sejauh ini adalah Mazmur 45, dan kemudian adalah Mazmur 68. Di antara Mazmur 45 dan Mazmur 68 ada dua puluh dua mazmur. Seperti yang telah kita lihat, Mazmur 46—48 berkenaan dengan kota itu, dan Mazmur 49—51 membahas tentang tiga kategori orang-orang berkenaan dengan kenikmatan akan Allah di dalam Kristus. Sebelum kita sampai ke Mazmur 68, kita perlu melalui enam belas mazmur, dan kita akan menyediakan tiga berita untuk mazmur-mazmur ini. Mazmur 52—67 menyajikan kepada kita satu “rawa” dan situasi yang “berlumpur” yang sulit untuk kita lalui. Meskipun demikian, kita perlu melalui enam belas pasal ini. Di dalam berita ini, kita akan melihat Mazmur 52—57.
Pada zaman dahulu kala, mazmur-mazmur ini dimustikakan oleh umat Allah, dengan setiap mazmurnya dinilah seperti satu “mutiara.” Jika tidak demikian, maka enam mazmur ini tidak akan tercakup di dalam kitab Mazmur ini. Meskipun ada beberapa yang telah sangat mengapresiasi mazmur-mazmur ini, saya merasa sulit terkesan dengannya.
Selain itu, karena mazmur-mazmur ini sangat mirip, maka saya juga merasa sulit untuk melihat bagaimana setiap mazmur ini berbeda dengan yang lainnya. Selain itu, sulit untuk mengatakan apa yang dibicarakan oleh mazmur-mazmur itu. Perasaannya di sini sungguh kuat, campur aduk dan rumit. Karena itu, mazmur-mazmur ini bisa dianggap sebagai ekspresi-ekspresi yang saleh dari para pemazmur yang diungkapkan dari perasaan-perasaan mereka yang rumit ketika menikmati Allah di dalam rumah-Nya. Sekarang marilah kita melihat mazmur-mazmur ini satu demi satu.
I. PENGHUKUMAN PEMAZMUR TERHADAP ORANG JAHAT DAN KENIKMATAN PEMAZMUR TERHADAP ALLAH DI DALAM RUMAH- NYA
Tulisan bagi mazmur 52 ini berbunyi “Nanyian pengajaran Daud, ketika Doeg orang Edom itu datang dan memberitahukan kepada Saul dan mengatakan kepadanya, bahwa Daud telah datang ke rumah Abimelekh.” Kata “Maschil” dapat menunjukkan bahwa ini adalah satu mazmur tentang pengajaran.
Di dalam tujuh ayat terdahulunya, pemazmur menghukum orang jahat, dan d dalam dua ayat yang terakhir, pemazmur membicarakan mengenai kenikmatan akan Allah di dalam rumah-Nya.
A.
Penghukuman Pemazmur terhadap Orang Jahat
“Mengapa engkau memegahkan diri dengan kejahatan, Hai orang yang perkasa? Kasih setia Allah bertahan secara terus menerus” (ay. 1). Siapakah orang yang perkasa ini? Mengapa setelah mengacukan kepada orang yang perkasa, pemazmur segera melanjutkan dengan membicarakan kasih setia Allah? Sepertinya di sini tidak ada hubungannya.
Di dalam ayat 2 sampai 7, kelihatannya bahwa Daud, pemazmur ini, penuh dengan kebencian terhadap orang yang perkasa ini. Meskipun Daud tidak mengatakan bahwa Allah akan mengutuk orang ini, tetapi ia mengatakan, “Demikian juga Allah akan menurunkan engkau untuk selama-lamanya; Dia akan mengambil engkau dan mencabut engkau dari kemahmu, Dan mencabut engkau dari negeri orang-orang hidup” (ay. 5). Perkataan Daud di sini sangatlah kuat. Bagaimana mungkin seorang yang saleh berdoa secara demikian mengenai salah seorang dari penganiaya-penganiayanya?
B.
Kenikmatan Pemazmur akan Allah di dalam Rumah-Nya
Di dalam ayat 8 dan 9, Daud melanjutkan, “Tetapi aku, seperti sebuah pohon zaitun yang tumbuh dengan subur Di dalam rumah Allah, Bersandar kepada kasih setia Allah Untuk selama-lamanya. Aku akan memberikan ucapan-ucapan syukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, Karena Engkau telah bertindak; Dan aku akan berharap di dalam nama-Mu di hadapan orang-orang-Mu yang saleh, Karena itu baik.” Karena Daud tumbuh dengan subur di dalam rumah Allah dan karena ia bersandar kepada kasih setia Allah, mengapa ia masih perlu berdoa begitu kuat mengenai orang yang perkasa ini?
Bagaimana kita seharusnya berpikir tentang Daud? Setelah membaca mazmur yang demikian seperti ini, apakah kita akan terus menganggapnya rohani dengan sempurna? Ketika saya muda, saya sangat memuji Daud, tetapi setelah mempelajari Alkitab selama bertahun-tahun, apresiasi saya terhadapnya telah berkurang. Di satu pihak, Daud menikmati Allah di dalam rumah-Nya, bahkan seperti sebuah pohon zaitun yang tumbuh dengan subur di dalam tepat kediaman Allah; di lain pihak, di dalam doanya, ia menghukum orang jahat itu, dengan mengatakan bahwa Allah akan mencabut dia dari negeri orang-orang hidup. Bagaimana mungkin pada waktu yang sama Daud menikmati Allah dan membenci salah seorang dari musuh-musuhnya sampai pada puncaknya? Sungguh percampuran rasa benci kepada seorang musuh dan pujian kepada Allah untuk kenikmatan-Nya akan Allah di dalam rumah-Nya itu tidak benar. Bagaimana mungkin seorang saleh mencapur adukkan rasa benci kepada musuhnya dengan pujian kepada Allah di dalam mazmur yang sama? Inilah yang Daud lakukan di dalam Mazmur 52.
II. TIDAK ADA SEORANGPUN DI ANTARA SEMUA ANAK MANUSIA YANG BERBUAT BAIK, TETAPI PEMAZMUR INGIN MENIKMATI ALLAH DI DALAM KESELAMATAN-NYA DARI RUMAH-NYA
Tulisan bagi Mazmur 53 ini berbunyi, “Untuk pemimpin biduan: menurut mahalat. Nyanyian pengajaran Daud.” Mengenai “mahalat,” arti bahasa Ibraninya adalah kabur/tidak jelas. Ini mungkin mengacu kepada semacam melodi yang sedih. Mazmur pengajaran ini mengacu kepada satu waktu ketika Daud diserang oleh bangsa-bangsa Kafir.
A.
Tidak Ada Seorangpun di antara Semua Anak Manusia yang Berbuat Baik
Di dalam ayat 1 sampai 5, kita diberitahu bahwa tidak ada seorangpun di antara semua anak manusia yang berbuat baik. Di sini Daud mengatakan bahwa tidak ada seorangpun di antara bangsa-bangsa Kafir yang berbuat baik. Mazmur ini menaruh semua bangsa Kafir ke dalam satu “selokan” dan meninggikan orang-orang Yahudi sampai ke langit.
Ayat 1 mengatakan, “Orang bebal mengatakan di dalam hatinya, Tidak ada Allah. Mereka itu bobrok dan melakukan perbuatan-perbuatan yang keji; Tidak ada seorangpun yang berbuat baik.” Ayat ini bukan mengacu kepada orang-orang Yahudi melainkan kepada bangsa-bangsa Kafir, dan orang bebal/bodoh di sini adalah seorang Kafir. Paulut mengutip ayat ini, bersama dengan ayat 2 dan 3 di dalam Roma 3:10-12, yang mengacu kepada semua orang.
Di dalam ayat 4, Daud selanjutnya mengatakan, “Mereka tidak mempunyai pengetahuan, semua yang melakukan ketidakadilan, Yang memakan bangsaku seperti mereka mau memakan roti Dan tidak berseru kepada Allah?” Di sini Daud kelihatannya akan mengatakan bahwa ini adalah firman Allah kepada bangsa-bangsa Kafir.
B.
Pemazmur Ingin Menikmati Allah di dalam Keselamatan-Nya dari Rumah-Nya
Di dalam ayat 6, kita melihat bahwa pemazmur ingin menikmati Allah di dalam keselamatan-Nya dari rumah-Nya ketika Allah mengubah penawanan umat-Nya. Ayat ini mengatakan, “Oh keselamatan Israel itu keluar dari Sion! Ketika Allah mengubah penawan umat-Nya, Yakub akan ditinggikan, Israel akan bersukacita.” Keselamatan di sini hanyalah bagi orang-orang Yahudi.
III. PEMAZMUR MEMINTA AGAR ALLAH MENGHANCURKAN MUSUH-MUSUHNYA, SEMENTARA ITU MENUNTUT UNTUK MENGAMBIL BAGIAN DI DALAM ALLAH DALAM PERTOLONGAN, PERAWATAN, DAN KESELAMATAN-NYA
Mazmur 54 adalah kategori yang sama seperti Mazmur 52 dan 53. Di sini pemazmur meminta agar Allah menghancurkan musuh-musuhnya, sementara ia sendiri menuntut mengambil bagian di dalam kenikmatan akan Allah di dalam pertolongan, perawatan dan keselamatan-Nya. Sulit untuk dipercaya bahwa seorang manusia-Allah bisa mendoakan hal yang demikian.
Di dalam ayat 3 pemazmur mengatakan, “O Allah, selamatkanlah aku oleh karena nama-Mu, Dan laksanakanlah penghakiman bagiku dengan kekuatan-Mu.” Kepada siapakah penghakiman ini dilaksanakan? Menurut pemazmur, penghakiman ini dilaksanakan kepada musuh-musuhnya, yang adalah bangsa-bangsa Kafir.
Ayat 4 dan 5 melanjutkan, “O Allah, dengarkanlah doaku; Berilah telinga kepada kata-kata dari mulutku. Karena orang-orang asing telah bangkit terhadap aku, Dan mereka yang menggentarkan aku menuntut nyawaku; Mereka tidak menaruh Allah di hadapan mereka.” Orang-orang asing di sini adalah bangsa-bangsa Kafir. Bangsa-bangsa Kafir tidak menaruh Allah di hadapan mereka itu berarti bahwa mereka tidak takut akan Allah. Bagi mereka, tidak ada Allah.
Di dalam ayat 6 pemazmur selanjutnya mengatakan, “Lihatlah, Allah adalah pertolonganku; Tuhan ada di antara orang-orang yang menopang jiwaku.” Orang-orang yang menopang jiwa pemazmur, yang membantu Allah menyelamatkan Daud, pastilah orang-orang Yahudi.
Di dalam ayat 7-lah bahwa pemazmur berdoa bagi penghancuran musuh-musuhnya, dengan mengatakan, “Dia akan membalikan kejahatan kepada mereka yang berdusta. Hancurkanlah mereka di dalam kasih setia-Mu.” Bukannya meminta Tuhan membelaskasihani mereka di dalam kasih setia-Nya, pemazmur malah berdoa agar Allah menghancurkan mereka. Ini tidak sesuai dengan kerohanian Daud sang pemazmur. Di dalam melambangkan Kristus sebagai pemenang yang berperang, memang benar bagi Daud meminta agar Allah menghancurkan musuh-musuhnya. Tetapi di dalam penghidupan rohaninya, yaitu di dalam kerohaniannya, adalah mutlak tidak benar baginya membenci musuh-musuhnya, meminta agar Allah membinasakan, menghancurkan musuh-musuhnya. Ini berlawanan dengan sifat dari hayat rohani umat pilihan Allah, dan bahkan berlawanan dengan firman kudus Allah di dalam Perjanjian Lama, yaitu Amsal 25:21-22, yang dikutip oleh rasul Paulus di dalam Roma 12:20. Karena itu, kita tidak bisa mengakui bahwa kerohanian Daud itu sempurna.
Kemudian pemazmur mengatakan, “Aku akan mempersembahkan kurban sukarela kepada-Mu; aku akan memuji nama-Mu, O Yehovah, karena itu baik. Karena Dia telah melepaskan aku dari segala kesesakan, Dan mataku melihat kemenangan atas musuh-musuhku” (ay. 8-9). Apakah doa ini berasal dari seorang yang rohani, atau apakah ini adalah pengungkapan dari seorang di dalam konsep alamiahnya? Setelah membaca mazmur yang demikian, bisakah kita tetap menganggap Daud sangat terhormat?
Saya telah mempelajari bahwa memahami Alkitab itu benar-benar tidak mudah. Khususnya, tidaklah mudah untuk memiliki pengertian yang tepat tentang satu mazmur seperti Mazmur 54. Di dalam mempelajari perkara ini, saya telah dibantu oleh pemakaian kata perasaan oleh John Nelson Darby dalam hubungannya dengan Mazmur. Darby mengatakan bahwa Mazmur adalah ekspresi-ekspresi dari perasaan-perasaan orang-orang kudus. Mengenai Mazmur 52—57, saya ingin mengatakan bahwa di sini kita bukan sekadar memiliki perasaan-perasaan para pemazmur melainkan juga perasaan-perasaan mereka yang rumit. Perasaan-perasaan mereka itu adalah satu perkara yang campur aduk. Bersandar kepada Allah memang benar, dan bagian dari Mazmur 54 ini adalah satu ekspresi dari Daud yang bersandar kepada Allah. Tetapi bagaimanakah kita bisa membenarkan doa Daud, di dalam mazmur yang sama, mengenai penghancuran terhadap musuh-musuhnya? Ia membenci mereka sampai sedemikian rupa hingga ia meminta agar Allah menghancurkan mereka. Kita harus mengakui bahwa di dalam mazmur ini, kita memiliki satu percampuran, dan bahwa perasaan-perasaan dari pemazmur ini rumit.
IV. PEMAZMUR MENUNTUT UNTUK MENGALAMI KESELAMATAN ALLAH SEMENTARA ITU DI BAWAH PENINDASAN DARI MUSUHNYA, MEMINTA AGAR ALLAH MEMBERESKAN MUSUHNYA
Di dalam Mazmur 55, pemazmur menuntut untuk mengalami keselamatan Allah. Pada waktu yang sama, karena berada di bawah penindasan dari musuhnya, ia meminta agar Allah membereskan musuhnya.
A.
Pemazmur Menuntut untuk Mengalami Keselamatan Allah
Ayat 1-2, 4-8, 16-18a, 22, dan 23b menunjukkan kepada kita bahwa pemazmur menuntut untuk mengalami keselamatan Allah. Ayat 22, satu ayat “emas” mengatakan, “Serahkanlah bebanmu kepada Yehovah, Dan Dia akan menopang engkau; Dia tidak akan pernah membiarkan orang benar digoyahkan.” Ayat ini menjamin kita bahwa pada Allah kita akan selamat, karena Dia, Sang penopang, tidak akan membiarkan sesuatu pun untuk menggoyahkan kita. Apakah Anda memiliki satu beban, dan masihkan Anda memikulnya berdasarkan diri Anda sendiri? Anda perlu menyerahkan beban Anda kepada Yehovah, dan Dia akan menopang Anda.
B.
Pemazmur, yang berada di bawah Penindasan dari Musuhnya, dan Meminta agar Allah Membereskan Musuhnya ini Berdasarkan Prinsip Baik dan Jahat
Ketika berada di bawah penindasan dari musuhnya, pemazmur meminta Allah untuk membereskan musuhnya (ay. 3, 9-15, 18b-21, 23a). Permintaannya ini bukanlah berdasarkan prinsip belas kasihan dan kasih karunia melainkan sebaliknya berdasarkan prinsip baik dan jahat. Doanya mengenai musuhnya ini adalah berdasarkan prinsip pohon pengetahuan bai dan jahat.
C.
Bernubuat Mengenai Yudas yang Mengkhianati Kristus
Ayat 13 bernubuat mengenai Yudas yang mengkhianati Kristus (41:9; Yoh. 13:18). Ini menunjukkan bahwa di dalam ekpresi-ekspresi yang saleh dari pemazmur ini ada satu nubuat mengenai Kristus pada segi negatif, yaitu mengenai Yudas, yang mengkhianati Kristus, sebagai musuh-Nya. Daud adalah lambang dari Kristus yang menderita. Di dalam ekspresinya yang saleh dari perasaannya yang rumit mengenai penderitaannya dari musuh-musuhnya, di sini ia mengungkapkan nubuat ini, yang menunjukkan bahwa pengkhianatan Yudas terhadap Kristus adalah satu bagian dari penderitaan-penderitaan Kristus.
D.
Pemazmur, yang berada di bawah Penindasan dari Musuhnya, Mengingat Kenikmatan-Nya bersama dengan Orang lain di dalam Rumah Allah
Ketika pemazmur berada di bawah penindasan dan penganiayaan dari musuhnya, ia mengingat kenikmatannya akan Allah bersama dengan banyak orang di rumah Allah (Mzm. 55:14). Ini mungkin mengacu kepada kenikmatan hari-hari raya yang biasa diadakan oleh umat Israel tiga kali setahun (Kel. 23:14-17).
V. PEMAZMUR MEMINTA AGAR ALLAH MENCAMPAKKAN MUSUH-MUSUHNYA, SEMENTARA ITU IA BERSANDAR KEPADA ALLAH DAN MENIKMATI ALLAH DI DALAM MELEPASKANNYA DARI MAUT DAN TERSANDUNG
A.
Pemazmur Meminta agar Allah Mencampakkan Musuh-musuhnya
“Sepanjang hari mereka merebut kata-kataku; Semua pemikiran mereka terhadapku adalah untuk kecelakaan. Mereka berkumpul; mereka mengintai; Mereka mengamati langkah-langkahku, Ketika mereka menunggu untuk mencabut nyawaku. Apakah akan ada kelepasan bagi mereka karena kejahatan mereka? O Allah, campakkahlah orang-orang itu dalam amarah” (Mzm. 56:5-7). Di satu pihak, pemazmur bersandar kepada Allah; di pihak lain, ketika ia bersandar kepada Allah, ia meminta agar Allah mencampakkan musuh-musuhnya. Banyak dari antara kita yang telah melakukan hal ini. Ketika kita berdoa agar Tuhan menegakkan kita dan menopang kita, kita mungkin meminta Dia untuk membereskan seseorang yang mengganggu kita, mungkin suami atau istri kita, atau temah sekamar kita. Tidakkah Anda memiliki doa semacam ini? Kadang-kadang kita mungkin memiliki perasaan yang demikian di dalam kita tetapi mungkin tidak benar-benar mengungkapkannya kepada Tuhan di dalam doa kita.
B.
Pemazmur Bersandar kepada Allah dan Menikmati Allah di dalam Melepaskan Dia dari Maut dan Tersandung
Pemazmur bersandar kepada Allah dan menikmati Allah di dalam melepaskannya dari maut dan tersandung (ay. 1-4, 8-13). Di dalam ayat 9, pemazmur mengatakan, “Engkau telah memperhitungkan pengembaraan-pengembaraanku. Taruhlah air mataku ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” Perkataan Daud mengenai air matanya dan kirbat Allah ini bisa menjadi satu lambang dalam puisi sebagai satu penghiburan bagi dirinya sendiri di bawah perawatan Allah. Mungkin ada beberapa pembaca ayat ini yang menerapkan perkataan Daud di sini kepada dirinya dan telah terhibur olehnya.
VI. PEMAZMUR BERSUKACITA TERHADAP KEMALANGAN MUSUH-MUSUHNYA,
KETIKA IA BERSANDAR KEPADA ALLAH DAN MENIKMATI ALLAH
DI DALAM KESELAMATAN, KASIH SETIA, DAN KESETIAAN-NYA
Di dalam Mazmur 57:6, pemazmur bersukacita terhadap kemalangan musuh-musuhnya. Pemazmur bahkan melakukan ini ketika ia bersandar kepada Allah dan menikmati Allah di dalam keselamatan kasih setia, dan kesetiaan-Nya (ay. 1-5, 7-11). Di satu pihak, ia bersandar kepada Allah dan meinikmati Dia; di lain pihak, ia gembira melihat bahwa musuh-musuhnya menderita.
Setelah membaca mazmur-mazmur ini, saya terganggu bahwa tidak ada petunjuk di sini bahwa Daud mempelajari pelajaran-pelajaran dari penderitaannya di bawah serangan dari musuh-musuhnya. Tidak ada petunjuk bahwa Daud mengatakan, “Allah, mengapa Saul menganiaya aku? Mengapa orang-orang tertentu menyerang aku? Tuhan, aku ingin mengenal alasannya dan mempelajari pelajaran itu.”
Poin saya adalah bahwa doa-doa Daud di dalam mazmur-mazmur ini benar-benar berbeda dengan apa yang diajarkan di dalam Perjanjian Baru. Misalnya, ketika Paulus menderita karena “duri di dalam dagingnya” (2 Kor. 12:7), ia memohon dengan sangat tiga kali kepada Tuhan agar duri itu diambil daripadanya (ay. 8). Akhirnya, Tuhan mengatakan kepadanya, “Kasih karunia-Ku cukup bagimu, karena kekuatan-Ku disempurnakan di dalam kelemahan” (ay. 9a). Tuhan seolah-olah mengatakan kepada Paulus, “Aku tidak akan mengambil duri itu, dan aku tidak akan berbuat sesuatu untuk mengurangi penderitaanmu. Tanpa duri itu, kamu mungkin sombong karena wahyu-wahyu yang telah kamu terima daripada-Ku. Selain itu, Aku akan membiarkan duri itu tetap ada supaya kamu dapat memiliki kesempatan untuk belajar bahwa kasih karunia-Ku cukup bagimu.” Jika Daud belajar pelajaran semacam ini, maka ia tidak akan berdoa agar Tuhan menghancurkan musuh-musuhnya.
Banyak dari para pembaca Kristen akan Mazmur hari ini yang tidak mempunyai realisasi mengenai belajar pelajaran-pelajaran. Sebaliknya, mereka terutama melihat dua hal di dalam mazmur-mazmur ini: pertama, bahwa Daud itu baik, bahwa ia setia dan bersandar kepada Tuhan; kedua, bahwa Allah itu baik dan setia dalam mendengarkan Daud dan dalam menjawab dia. Mereka tidak melihat cacat-cacat dan kekurangan-kekurangan Daud yang dipamerkan di setiap mazmur yang diliput di dalam berita ini. Daud tidak belajar pelajaran-pelajaran apa pun atau membereskan cacatnya oleh belas kasihan dan kasih karunia Allah. Sebaliknya, ia berdoa agar musuhnya direnggut dan dicabut dari negeri orang-orang hidup.
Di dalam pembacaan kita akan mazmur-mazmur ini, kita perlu menerima penerangan mengenai situasi kita sendiri. Tidak diragukan lagi, kita harus bersandar kepada Allah. Sungguh Dia akan merawat kita menurut kasih setia dan kesetiaan-Nya. Tetapi kita juga perlu belajar pelajaran-pelajaran tentang pendisiplinan Allah. Kita perlu menemukan alasan untuk penentangan-penentangan yang melawan kita di dalam lingkungan kita, karena semuanya itu adalah pendisiplinan Allah untuk mengoreksi kita, meremukkan kita, dan menurunkan kita. Kita tidak boleh berdoa agar Allah meruntuhkan orang lain; kita adalah orang-orang yang perlu diruntuhkan dan diremukkan oleh Allah. Kita tidak boleh memiliki kekurangan, yang hampir dipamerkan di semua mazmur, dengan menghindar dari belajar pelajaran-pelajaran tentang pendisiplinan Allah.