← Daftar isi Mazmur (1) · bab 21/42

BERITA DUA PULUH TIGA

TIGA KATEGORI ORANG BERKENAAN DENGAN KENIKMATAN AKAN ALLAH DI DALAM KRISTUS

Pembacaan Alkitab: Mzm. 49:51

Di dalam mempelajari Mazmur, kita perlu menaruh perhatian kepada urutan dari mazmur dan juga menaruh perhatian kepada bagaimana mazmur ini disusun dalam kelompok-kelompok. Kita telah melihat bahwa Mazmur 45 adalah satu mazmur mengenai raja dan bahwa Mazmur 46—48 adalah satu kelompok mazmur mengenai kota raja, yaitu Yerusalem. Di dalam berita ini, kita akan melihat kelompok lainnya yang terdiri dari tiga mazmur—Mazmur 49—51.

Mazmur 49—51 mencakup tiga kategori orang berkenaan dengan kenikmatan akan Allah di dalam Kristus. Kategori pertama (Mzm. 49) terdiri dari orang-orang yang bersandar kepada kekayaan mereka (yaitu, kepada sesuatu yang lain selain Kristus). Di dalam kategori yang kedua (Mzm. 50) adalah orang-orang yang berseru kepada Tuhan menurut perjanjian-Nya. Kategori yang ketiga (Mzm. 51) adalah satu persona yang tunggal, yaitu Raja Daud, yang bertobat, mengakui dosa-dosanya kepada Allah, dan meminta kepada Allah untuk pembersihan-Nya. Orang-orang yang ada di dalam kategori yang pertama tidak mempunyai bagian di dalam kenikmatan akan Allah di dalam Kristus; orang-orang yang ada di dalam kategori kedua mengambil bagian di dalam kenikmatan akan Allah; dan orang yang ada di dalam kategori yang ketiga mempunyai porsi kenikmatan yang penuh akan Allah di dalam Kristus. Kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri di mana kita berada. Apakah kita berada di dalam Mazmur 49, Mazmur 50, atau Mazmur 51? Jika kita ingin memiliki kenikmatan yang penuh akan Allah di dalam Kristus, maka kita harus menjadi seperti orang yang ada di dalam Mazmur 51, yaitu orang yang secara menyeluruh bertobat dan mengakui dosa-dosanya kepada Allah.

I. ORANG-ORANG YANG BERSANDAR KEPADA KEKAYAAN MEREKA

Mazmur 49 adalah tentang orang-orang yang bersandar kepada kekayaan mereka (sesuatu yang lain selain Kristus). Menurut firman Tuhan, di zaman ini, kekayaan, yang adalah mammon, mewakili seluruh dunia ini (Mat. 6:24). Ada beberapa orang berpikir bahwa uang bisa mengerjakan sesuatu; mereka percaya bahwa selama mereka mempunyai uang, maka mereka tidak memerlukan sesuatu lainnya lagi. Bukannya bersandar kepada Allah, mereka malah bersandar kepada uang. Mereka adalah orang-orang di dalam Mazmur 49.

Perkataan di dalam Mazmur 49 ini haruslah menjadi satu peringatan bagi kita. Bersandar kepada uang—bersandar kepada sesuatu yang lain selain Kristus—berarti berada di dalam Mazmur 49. Hal-hal seperti pendidikan atau mobil kita bisa menjadi semacam kekayaan atau harta bagi kita. Jika kita bersandar kepada hal-hal yang demikian, maka kita tidak memiliki bagian di dalam kenikmatan akan Allah di dalam Kristus.

A.

Satu Perkataan Hikmat

Mazmur 49 adalah satu perkataan hikmat, meditasi pengertian (ay. 1-5). Di dalam ayat 3 pemazmur mengatakan, “Mulutku akan membicarakan hikmat, Dan meditasi hatiku akan menjadi meditasi pengertian.” Kata Ibrani yang diterjemahkan “meditasi” bisa juga diterjemahkan “pengucapan.”

Mencintai uang itu berarti menjadi bodoh. Seseorang yang kekurangan yang uang mungkin sangat tenang, jelas, dan penuh pengertian. Namun, seseorang yang mempunyai banyak uang itu sepertinya bodoh dan memakai uangnya untuk melakukan hal-hal yang bodoh. Demikian juga, orang-orang yang tamak dan rakus juga bodoh. Orang-orang yang demikkian tidak memiliki hikmat dan pengertian yang terdapat di dalam Mazmur 49.

B.

Tidak Dapat Menebus Saudara-saudara Mereka

Orang-orang yang bersandar kepada kekayaan mereka tidak dapat menebus/menyelamatkan saudara-saudara mereka, dan tak ada gunanya mengatakan diri mereka (ay. 6-9).

C.

Ditetapkan untuk Mati dan Binasa

Orang-orang yang bersandar kepada kekayaan mereka ditetapkan untuk mati dan binasa (ay. 10-14). Mereka akan meningalkan kekayaan mereka kepada orang lain (ay. 16-20). Sebaliknya, pemazmur memiliki jaminan bahwa Allah akan menebus jiwanya dari kuasa dunia orang mati, karena Allah akan menerima dia (ay. 15).

Orang-orang yang bersandar kepada kekayaan mereka bukan hanya bodoh dan tidak mempunyai perasaan (ay. 10) melainkan juga seperti hewan, bahkan seperti binatang buas. Ayat 12 mengatakan, “Tetapi manusia dalam kehormatannya tidak dapat bertahan; Ia adalah seperti binatang-binatang buas yang akan binasa.” Ayat 20, ayat yang terakhir dari mazmur ini, menyimpulkan, “Manusia dalam kehormatannya tetapi tanpa pengertian adalah seperti binatang-binatang buas yang akan binasa.” Seperti binatang-binatang buas, orang-orang bodoh yang bersandar kepada kekayaan mereka ditetapkan untuk mati dan binasa.

D. Tidak Bersandar kepada Kristus bagi Penebusan Mereka

Orang-orang yang bersandar kepada kekayaan mereka itu tidak bersandar kepada Kristus bagi penebusan mereka. Hal yang paling buruk yang bisa dilakukan seseorang adalah tidak bersandar kepada Kristus. Bersandar kepada Kristus secara sederhana berarti percaya kepada-Nya. Tidak percaya kepada Kristus itu sangat bodoh.

E.

Tidak Memiliki Bagian di dalam Kenikmatan akan Allah di dalam Rumah-Nya dan di dalam Kota-Nya

Terakhir, orang-orang yang bersandar kepada kekayaan mereka tidak memiliki bagian di dalam kenikmatan akan Allah di dalam rumah-Nya dan di dalam kota-Nya. Karena mereka berada di luar Kristus, maka mereka keluar dari kenikmatan akan Allah di dalam rumah-Nya, yaitu gereja, dan di dalam kota-Nya, yaitu kerajaa.

II. ORANG-ORANG YANG BERSERU KEPADA TUHAN MENURUT PERJANJIANNYA

Di dalam Mazmur 50, kita memiliki kategori kedua dari orang-orang yang berkenaan dengan kenikmatan akan Allah di dalam Kristus—orang-orang yang berseru kepada Tuhan menurut perjanjian-Nya. Berseru kepada Tuhan, dengan mengatakan, “O Tuhan Yesus,” akan membuat satu perbedaan yang sangat riil di dalam situasi kita.

Menurut mazmur ini, kita perlu berseru kepada Tuhan menurut perjanjian-Nya. Alkitab adalah kitab tentang satu perjanjian, kitab tentang satu wasiat. Perjanjian dapat dibandingkan dengan sertifikat tanah dari sebuah rumah. Memberikan sertifikat tanah dari sebuah rumah sebenarnya berarti “menjanjikan” rumah itu kepada orang itu. Di dalam Alkitab, satu kitab tentang perjanjian ini, Allah telah menjanjikan diri-Nya sendiri kepada kita, dan sekarang kita perlu berseru kepada Tuhan menurut perjanjian ini. Kita harus mengatakan, “O Tuhan, Engkau telah menjanjikan diri-Mu sendiri kepadaku. Menurut perjanjian-Mu, sekarang Engkau adalah harta milikku, porsiku dan kenikmatanku.” Inilah arti berseru kepada Tuhan menurut perjanjian-Nya.

A.

Sebagai Orang-orang Kudus Allah Yang Telah Membuat satu Perjanjian dengan Allah dengan Kurban

Di dalam mazmur ini, orang-orang yang berseru kepada Tuhan menurut perjanjian-Nya adalah orang-orang kudus Allah yang telah membuat satu perjanjian dengan Allah dengan kurban. Mereka telah dituntut oleh Allah yang adil benar, yang adalah Hakim, untuk mempersembahkan kepada-Nya satu kurban ucapan syukur dan berseru kepada-Nya pada hari kesusahan supaya mereka dapat mengambil bagian di dalam kelepasan-Nya, keselamatan-Nya (ay. 1-15, 23). Membuat satu perjanjian dengan Allah dengan kurban berarti membuat satu perjanjian dengan Kristus sebagai Pengantara kita, sebagai “penengah” di antara kita dengan Allah. Jika kita berdoa kepada Allah di dalam nama Tuhan Yesus, maka ini berarti bahwa kita berdoa kepada Allah dengan Kristus sebagai kurban kita.

Pada zaman dahulu, umat Israel mempersembahkan berbagai jenis kurban persembahan kepada Allah, seperti kurban bakaran, kurban sajian, kurban penebus dosa, kurban penebus salah, dan kurban pendamaian. Dari semua kurban persembahan ini, satu kurban yang paling menjamah hati orang-orang adalah kurban pendamaian. Karena kurban pendamaian menjamah hati orang yang mempersembahkannya, maka kurban ini menjadi satu kurban ucapan syukur. Seseorang bisa saja mempersembahkan kurban bakaran, kurban sajian, kurban penebus dosa, atau kurban penebus salah kepada Allah tanpa banyak perasaan kasih. Ini berarti bahwa seseorang dapat mempersembahkan kurban yang demikian tanpa hatinya terjamah. Namun, kapan saja seseorang, dengan mengucap syukur kepada Allah, mempersembahkan satu kurban ucapan syukur kepada Allah, maka hati orang itu akan terjamah.

Mazmur 50 memberi tahu kita bahwa beberapa dari orang-orang kudus Allah ini mempersembahkan kurban-kurban bakaran dan berbagai jenis kurban-kurban persembahan (ay. 8-13), tetapi karena mereka kekurangan perasaan kasih, maka mereka tidak mempersembahkan kurban ucapan syukur. Maka pemazmur, yang berbicara bagi Allah, menunjukkan bahwa yang Allah inginkan bukanlah kurban bakaran melainkan kurban ucapan syukur. Di dalam ayat 14a pemazmur mengatakan, “Persembahkanlah kepada Allah satu kurban ucapan syukur.” Di sini pemazmur seolah-olah akan mengatakan, “Allah tidak menginginkan kurban bakaranmu. Allah ingin agar kamu mempersembahkan kepada-Nya kurban ucapan syukurmu, kurban yang menjamah dirimu dan Allah, kurban yang penuh dengan kasih sayang.”

Kita perlu melihat hal ini di dalam terang dari pengalaman kita dengan Tuhan. Banyak dari antara kita yang telah berdoa seperti ini: “O Allah Bapa, aku adalah seorang dosa. Tuhan Yesus Kristus adalah kurban bakaranku, kurban penebus dosa, dan kurban penebus salahku.” Ini adalah satu doa yang tanpa kasih sayang, tanpa perasaan yang lembut. Ini menunjukkan bahwa kita bisa saja mempersembahkan kurban-kurban tertentu tanpa terjamah di dalam hati kita. Namun, misalnya, bahwa setelah melalui satu masa yang sulit, Anda berdoa, “O Allah Bapa, aku ingin mempersembahkan kepada-Mu ucapan syukurku.” Doa yang demikian akan menjamah hati Anda, memenuhi Anda dengan kasih sayang, dan menyebabkan Anda dan Allah menjadi intim.

Pengalaman manakah yang lebih baik—mempersembahkan kurban bakaran, kurban sajian kurban penghapus dosa, dan kurban penebusa salah atau mempersembahkan kurban ucapan syukur? Sesungguhnya pengalaman mempersembahkan kurban ucapan syukur itu lebih baik. Kita bisa mempersembahkan Kristus sebagai berbagai jenis kurban persembahan lainnya dengan tanpa terjamah dengan dalam. Tetapi ketika kita bersyukur kepada Allah dan mempersembahkan kepada-Nya satu doa ucapan syukur, maka kita bisa terjamah dengan dalam. Inilah yang Allah inginkan. Kita tidak boleh mengontaki Dia tanpa tidak dijamah di dalam hati kita. Sebaliknya, kontak kita terhadap Allah perlu penuh dengan kasih sayang dan perasaan yang lembut.

Di dalam ayat 16 sampai 22, kita memiliki peringatakan Allah kepada orang fasik, yang tidak termasuk di dalam kategori dari orang-orang yang berseru kepada Tuhan menurut perjanjian-Nya.

B.

Ditebus oleh Allah di dalam Kristus

Orang-orang yang berseru kepada Tuhan menurut perjanjian-Nya adalah orang-orang yang telah ditebus oleh Allah di dalam Kristus, yang dilambangkan oleh kurban-kurban persembahan.

C.

Menikmati Allah di dalam Penyinaran-Nya dari Rumah-Nya di Sion, Kesempurnaan Keindahan

Ayat 2 mengatakan, “Dari Sion, kesempurnaan keindahan, Allah bersinar.” Sebagaimana penyinaran dari matahari adalah satu penyaluran dari kebaikan matahari, demikian juga penyinaran Allah dari rumah-Nya adalah satu penyaluran dari kebaikan-Nya. Di bawah penyinaran yang demikian, penyaluran yang demikian, kita menikmati Allah di dalam Kristus.

Inilah kategori kedua dari orang-orang berkenaan dengan kenikmatan Allah di dalam Kristus. Saya percaya bahwa kebanyakan dari kita berada di dalam kategori ini.

III. SEORANG YANG BERTOBAT, MENGAKU DOSA-DOSANYA KEPADA ALLAH, DAN MEMINTAH ALLAH UNTUK PEMBERSIHANNYA

Di dalam Mazmur 51, kita memiliki kategori ketiga—seorang yang bertobat, mengaku dosa-dosanya kepada Allah, dan meminta Allah untuk pembersihan-Nya. Di dalam kehidupan dari setiap orang dari kita, perlu ada sejangka waktu, mungkin yang berakhir selama beberapa hari, di mana kita bertobat secara menyeluruh, mengaku dosa-dosa kita kepada Allah, dan memohon terhadap-Nya untuk membereskan dosa-dosa kita dan memberskan sifat kita yang penuh dengan dosa. Selain itu, hari demi hari, kita perlu bertobat dan mengaku dosa.

A.

Daud, setelah Melakukan Dosanya yang Besar dan Ditegur oleh Nabi Natan

Judul dari Mazmur 51 ini bermakna: “Mazmur Daud, ketika nabi Natan datang kepadanya, setelah ia menghampiri Betsyeba” (2 Sam. 11:1—12:14). Ini menunjukkan bahwa mazmur ini disusun setelah dosa besar Daud dalam membunuh Uria dan merampasnya dari istrinya Betsyeba dan kemudian ditegur oleh nabi Natan.

B.

Bertobat dan Mengaku Dosa-dosanya kepada Allah

Di dalam ayat 3 sampai 17, Daud bertobat dan mengaku dosa-dosanya kepada Allah.

C.

Memohon kepada Allah

1.

Untuk Menghapus Pelanggaran-pelanggarannya, Membasuhnya Secara Menyeluruh dari Kesalahannya, Membersihkannya dari Dosanya, dan Menyingkirkan Dosanya dengan Hisop

Daud memohon kepada Allah untuk menghapus pelanggaran-pelanggarannya, membasuhnya secara menyeluruh dari kesalahannya, membersihkannya dari dosanya, dan menyingkirkan dosanya dengan hisop (ay. 1-2, 7, 9). Kata kerja yang dipakai oleh Daud—“menghapus,” ‘membasuh,” “membersihkan,” dan “menyingkirkan”—menunjukkan bahwa pertobatan dan pengakuan dosanya itu menyeluruh dan bahwa permintaannya untuk pengampunan itu sejati.

Dalam kontrasnya, misalnya ada seseorang berdoa, dengan mengatakan, “Allah, aku tahu bahwa Engkau penuh dengan belas kasihan. Tidak peduli betapa banyaknya dosa yang telah kulakukan, aku tahu bahwa Engkau akan mengampuni aku.” Pengakui semacam ini tidak berarti apa-apa. Seperti Daud, kita perlu tinggal di hadirat Allah, mengakui bahwa kita lahir di dalam dosa dan memohon terhadap-Nya untuk membasuh kita dan membersihkan kita, menghapus pelanggaran-pelanggaran kita, dan menyingkirkan dosa kita. Berdoa dengan cara demikian menunjukkan bahwa kita tidak bersandar kepada diri kita sendiri. Dengan menyadari bahwa kita penuh dengan dosa dan bahwa Allah itu kudus, maka kita hanya bersandar kepada-Nya. Kita juga menyadari bahwa kita memerlukan Kristus untuk menjadi Pengantara kita dan kurban kita.

Di dalam ayat 7a, Daud berdoa, “Singkirkanlah dosaku dengan hisop, dan aku akan menjadi bersih.” Hisop melambangkan Kristus di dalam sifat insani-Nya yang rendah hati dan hina (1 Raj. 4:33a; Kel. 12:22a) Di dalam Mazmur 51:7a hisop menyiratkan Kristus sebagai Pengantara dan kurban itu.

2.

Menciptakan di dalam Dirinya satu Hati yang Bersih dan Memperbarui Roh yang Tekun di dalamnya

Di dalam ayat 10, Daud berdoa, “Ciptakanlah di dalamku satu hati yang bersih, O Allah, Dan perbaruilah satu roh yang tekun di dalamku.” Kata Ibrani untuk “bersih” di sini juga bisa diterjemahkan “murni.” Daud memohon kepada Allah bukan hanya untuk mengampuni dia dan membersihkan dia melainkan juga untuk memperbarui dia.

Karena berdosa, kita menjadi tua/usang, tetapi setelah kita diampuni oleh Allah, kita dapat diperbarui. Maka, setelah kita menikmati pengampunan Allah, kita perlu meminta Dia untuk pembaruan-Nya. Kita perlu berdoa agar Dia memberikan kepada kita satu hati yang murni dan satu roh yang tekun.

3.

Tidak Melemparkan Dia dari Hadirat-Nya dan Tidak Mengambil Roh Kekudusan-Nya Jauh daripadanya

Di dalam ayat 11, Daud melanjutkan, “Janganlah lemparkan aku dari hadirat-Mu, Dan janganlah ambil Roh kekudusan-Mu jauh daripadaku.” Kita memerlukan satu hati yang baru dan satu roh yang tekun, dan kita juga memerlukan hadirat Allah. Jika kita kehilangan hadirat Allah, maka kita akan kehilangan segalanya. Hadirat Allah sebenarnya adalah Roh itu. Ketika Roh itu pergi, maka hadirat Allah juga pergi.

4.

Memulihkan Kegembiraan akan Keselamatan-Nya kepadanya dan Menopang Dia dengan Roh yang Rela

Di dalam ayat 8a Daud berdoa, “Biarlah aku mendengar kegembiraan dan sukacita,” dan di dalam ayat 12 ia memohon, “Pulihkanlah kepadaku kegembiraan akan keselamatan-Mu, dan topanglah aku dengan roh yang rela.” Di sini kita melihat satu hubungan di antara kegembiraan dan roh yang rela. Ketika kita gembira, maka kita juga memiliki satu roh yang rela. Ini adalah kehidupan yang menang. Sebaliknya seorang yang gagal tidak gembira dan tidak memiliki satu roh yang rela. Jika orang yang gagal demikian mengakui dosanya dan meminta Allah bagi pengampunan-Nya, maka ia akan memiliki kegembiraan akan keselamatan Allah dan juga akan memiliki satu roh yang rela. Oleh kegembiraan akan keselamatan Allahlah bahwa roh yang rela ini ditopang di dalam kita.

5.

Melepaskan Dia dari Kesalahan karena Menumpahkan Darah

Terakhir, di dalam ayat 14 dan 15, Daud memohon Allah untuk melepaskan dia dari kesalahan karena menumpahkan darah supaya lidahnya bisa menderingkan kebenaran Allah dan mulutnya bisa mengumumkan pujian-Nya.

D.

Mengambil Bagian di dalam Kenikmatan akan Allah di dalam rumah-Nya dan di dalam Kota-Nya melalui Kurban-kurban Persembahan di Mezbah

“Lakukanlah kebaikan di dalam kerelaan-Mu kepada Sion; Bangunlah tembok-tembok Yerusalem. Maka Engkau akan senang akan kurban-kurban kebenaran, Di dalam kurban-kurban bakaran dan seluruh kurban bakaran; Maka mereka akan mempersembahkan kurban-kurban lembu jantan di atas mezbah-Mu” (ay. 18-19). Ini menandakan partisipasi di dalam kenikmatan akan Allah di dalam gereja lokal sebagai rumah Allah dan di dalam gereja sebagai kota Allah melalui Kristus yang almuhit sebagai kurban-kurban persembahan. Jika kita adalah orang-orang yang bertobat, mengakui dosa-dosa kita, dan meminta Allah untuk pembersihan-Nya, maka kita akan memiliki kenikmatan akan Allah di dalam Kristus di dalam rumah-Nya, yaitu gereja lokal dan di dalam kota-Nya, yaitu gereja yang universal. Ini berhubungan dengan kemurahan hati Allah terhadap gereja-gereja lokal dan pembangunan gereja yang universal. Kiranya ini menjadi pengalaman praktis kita hari demi hari.