KENIKMATAN PEMAZMUR AKAN ALLAH DIINTENSIFKAN DI DALAM RUMAH DAN KOTANNYA MELALUI KRISTUS YANG MENDERITA, DITINGGIKAN, DAN MEMERINTAH (4)
MEMUJI ALLAH DI DALAM KEBESARAN DAN PENINGGIANNYA
KHUSUSNYA DI DALAM KOTANYA
Pembacaan Alkitab: Mzm. 46—48
Dalam pembelajaran Alkitab kita, kita perlu belajar untuk bertanya pada Tuhan, dan kita harus melakukan ini pada saat kita datang pada Mazmur 46—48. Kita harus bertanya mengapa ketiga mazmur ini diletakkan segera setelah Mazmur 45, sebuah mazmur yang memuji raja Salomo (melambangkan Kristus) dengan ratunya (melambangkan gereja). Jika kamu adalah penyusun Mazmur, apakah kamu akan meletakkan ketiga mazmur ini setelah Mazmur 45?
Mazmur 46 tidak terlihat sebagai kelanjutan dari Mazmur 45. Namun, dengan pasti ada kelanjutan di sini. Mazmur 45 adalah tentang raja, dan Mazmur 46 tentang kota. Tentunya raja sangat berkaitan dengan kota. Jika seorang raja tidak memiliki kota, raja macam apakah dia? Seorang raja harus memiliki kota. Raja dalam Mazmur 45 melambangkan Kristus, tetapi kota apakah yang dijelaskan dalam Mazmur 46? Kota disini adalah Yerusalem.
Pada berita sebelumnya kita menekankan bahwa dalam mempelajari Alkitab, kita perlu pikiran yang diterangi dan diperbarui. Ketika kita mempelajari sebuah mazmur seperti Mazmur 45, kita seharusnya tidak percaya pada pemahaman alamiah kita atau konsep alamiah. Daripada bersandar pada pikiran alamiah kita, kita perlu melatih pikiran kita yang telah diperbarui dan diterangi.
Sebagai tambahan, jika kita ingin memahami Alkitab, kita juga perlu mengenal makna rohani, ilahi, dan surgawi dari hal-hal dalam Alkitab dan makna dari hal-hal mengenai Kristus. Sebagai contoh, sewaktu kita mempelajari Mazmur 45 kita karus menemukan makna rohani dari raja, ratu, puteri-puteri, dan anak-anak. Demikian pula dalam mempelajari Mazmur 46, kita harus menemukan makna rohani dari kota.
Alkitab ditulis tidak hanya di dalam huruf, dan juga tidak hanya berisi banyak lambang, tetapi adalah sebuah kitab yang dipenuhi dengan perkara-perkara yang memiliki makna rohani. Pertimbangkan dua pasal pertama dari Kejadian. Jika kita membaca Kejadian 1 dan 2 hanya berdasarkan huruf yang mati tanpa mempedulikan makna rohani, kita tidak akan memahami pasal-pasal ini. Saat kita mempelajari pasal satu, kita perlu mempelajari makna dari langit, bumi, terang, daratan yang muncul dari lautan, hayat tumbuhan, hayat hewan, hayat manusia, hayat ilahi, dan perkara-perkata tentang gambar dan kekuasaan. Jika kita mengenal makna dari butir-butir dalam Kejadian 1, kita akan melihat bahwa manusia diciptakan berdasarkan jenis Allah untuk memikul gambar Allah dan untuk mewakili Dia.
Pada saat kita maju pada Kejadian 2, kita melihat bahwa manusia yang diciptakan oleh Allah memiliki tiga bagian. Ia memiliki tubuh, yang diciptakan dari debu tanah; ia memiliki roh, yang dihasilkan dari nafas Allah; dan ia memiliki jiwa (ay. 7). Manusia yang dibentuk oleh Allah diletakkan di taman Eden dan ditempatkan di depan dua pohon—pohon hayat dan pohon pengetahuan baik dan jahat. Pasal ini juga membicarakan sebuah sungai yang keluar dari Eden dan menghasilkan emas, damar berdolah, dan batu krisopras. Lagipula, di dalam Kejadian 2 kita diberitahu bahwa Allah mengambil rusuk dari laki-laki dan menggunakannya untuk membangun perempuan. Semua hal ini memiliki makna rohani, dan kita perlu mengenal makna rohani ini.
Kota dalam Mazmur 46 memiliki makna rohani, ilahi dan surgawi. Di dalam Alkitab secara umum dan khususnya di dalam mazmur ini, sebuah kota menandakan sebuah kerajaan. Kota utama dalam Alkitab adalah Yerusalem, dan kota yang berdiri bertentangan dengan Yerusalem adalah Babel. Jika kita ingin memahami Alkitab, kita perlu memahami makna dari Yerusalem dan Babel.
Mazmur penuh dengan perkara-perkara yang memiliki makna rohani, ilahi, dan surgawi. Perkara pertama yang mengandung makna adalah hukum Taurat dalam Mazmur 1. Meskipun hukum taurat ditinggikan menurut konsep insani dari pemazmur, Roh datang untuk mengoreksi pemazmur dan, di dalam Mazmur 2, memalingkan dia dari hukum Taurat kepada Kristus. Mazmur 2 adalah pos pertama yang menyingkapkan Kristus di dalam kitab Mazmur. Pos lainnya adalah Mazmur 8, Mazmur 16, Mazmur 22—24, Mazmur 40, dan Mazmur 45.
Melalui Kristus dan oleh Kristus kita mengalami rumah Allah, perkara lain yang memiliki makna rohani di dalam Mazmur. Rumah Allah menandakan gereja. Menurut Mazmur 23, saat kita mengalami Kristus dalam penggembalaan-Nya, kita sedang dibawa ke dalam rumah Allah untuk berdiam di sana selamanya. Rumah Allah juga ditekankan di dalam Mazmur 27 dan sekali lagi di dalam Mazmur 36. Dalam Mazmur 27:4 pemazmur menginginkan untuk tinggal dalam rumah Yehova seumur hidupnya. Dalam Mazmur 36:8 berbicara tentang lemak (menandakan kelimpahan) dari rumah Allah, dimana di sana ada sumber hayat dan dimana kita melihat terang di dalam terang Allah.
Dalam Mazmur 31 kita memiliki sebuah kata mengenai kota, dan dalam Mazmur 24, sebuah kata mengenai gunung, yang menyiratkan kota. Mazmur 31:22 mengatakan, ‘‘Terpujilah YEHOVA, sebab kasih setia-Nya ditunjukkan-Nya kepadaku dengan ajaib dalam kota perlindungan.’’ Mazmur 24:3 berbicara tentang gunung Yehova. Dalam Matius 5:14b Tuhan Yesus berkata, ‘‘Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.’’ Hal ini menunjukkan bahwa, berdasarkan Alkitab, gunung adalah bagi kota. Kitab Pertama dari mazmur telah memalingkan pemazmur dari hukum Taurat kepada Kristus, dan Kristus telah membawa mereka ke dalam kenikmatan akan Allah di dalam rumah dan kota-Nya.
Dalam opini saya, Mazmur 45 adalah mazmur yang paling besar dan paling tinggi mengenai Kristus. Dalam Mazmur ini, Kristus yang dilambangkan dengan Salomo, disingkapkan dan dipuji sebagai Raja. Sesudah itu, Mazmur 46 maju lagi tidak lagi membicarakan rumah melainkan kota. Rumah adalah tempat kediaman, tetapi kota adalah kerajaan bagi pemerintahan. Sebagai Persona yang telah disingkapkan sebagai Raja dalam Mazmur 45, Kristus memerlukan sebuah kota untuk memerintah dan meraja, dan kita melihat kota ini dalam Mazmur 46. Kita mungkin menikmati Kristus sebagai Raja, dan Raja ini memerintah di dalam kota, yang adalah kerajaan-Nya. Jika kita jelas mengenai hal ini, sekarang kita boleh menganggap, Mazmur 46—48, adalah perkara memuji Allah di dalam kebesaran dan peninggian-Nya, khususnya di dalam kota-Nya.
I. SEBUAH SUNGAI YANG MENYUKAKAN KOTA ALLAH
Mazmur 46 berbicara tentang sebuah sungai yang menyukakan kota Allah.
A. Allah menjadi Tempat Perlindungan, Kekuatan, dan Penolong
Allah itu adalah tempat perlindungan, kekuatan, dan penolong dalam kesesakan bagi kita; Dia sangat terbukti (ay. 2). Allah adalah semuanya ini bagi kita di dalam kota. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut (ay. 3). Dalam ayat 4 pemazmur berkata, ”Sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.’’
B. Ada sebuah Sungai
yang Alirannya Menyukakan Kota Allah,
Tempat Kudus dari Tabernakel Yang Mahatinggi
‘‘Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.’’ (v. 5). Sungai ini melambangkan mengalirnya Allah Tritunggal sebagai hayat bagi kita, seperti yang dijelaskan dalam Wahyu 22. Aliran sungai ini menyukakan kota Allah, yang adalah tempat kudus dari tabernakel Yang Mahatinggi.
C. Allah ada di Tengah-tengah
Kota untuk Menjadi Kota Benteng Kita
Allah ada di tengah-tengah kota untuk menjadi kota benteng kita (Mzm. 46:8b, 12b). Kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi (ay. 6b). Dalam ayat 7 dan 8 pemazmur berkata, ‘‘Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumi pun hancur. YEHOVA semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Didalam kota kita menikmati Allah sebagai tempat perhentian kita.
D. Allah Memusnahkan Bumi
Allah telah melakukan pemusnahan di bumi, dan Dia menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi (ay. 9-10). Selama berabad-abad, Allah telah melakukan pemusnahan di bumi. Contohnya, Dia memusnahkan Hitler.
E. Allah Ditinggikan di antara Bangsa-bangsa di Bumi
‘‘Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi’’ (ay. 11). Ini adalah perkataan kepada bangsa-bangsa. Hari ini bangsa-bangsa sedang gusar, tetapi satu hari Allah, yang berkuasa dan memerintah di dalam kota, akan memerintahkan mereka untuk diam dan mengenal bahwa Dia adalah Allah.
II. RAJA BESAR ATAS SELURUH BUMI
Dalam Mazmur 47 pemazmur berbicara tentang Allah sebagai Raja Besar atas seluruh bumi.
A. Bangsa-bangsa Bertepuk Tangan
dan Mengelu-elukan Allah
dengan Suara Sorak-Sorai Kemenangan
Dalam ayat 2 bangsa-bangsa diberitahu untuk bertepuk tangan dan mengelu-elukan Allah dengan suara sorak-sorai kemenangan. Sebab Yehova, Yang Mahatinggi, adalah dayat; Dia adalah Raja yang besar atas seluruh bumi (ay. 3).
B. Allah Menaklukkan Bangsa-bangsa ke bawah Israel
dan Memilih Tanah Pusaka bagi Mereka
Yehova menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah Israel dan bangsa-bangsa berada di bawah kaki mereka. Ia juga memilih tanah pusaka bagi mereka sebagai kebanggaan (kemuliaan) Yakub, yang Dia kasihi (ay. 4-5).
C. Allah Bangkit Diiringi Sorak-Sorai
Diiringi Bunyi Sangkakala
‘‘Allah bangkit diiringi sorak-sorai, ya YEHOVA itu, dengan diiringi bunyi sangkakala’’ (ay. 6). Ketika kita bersorak, Allah bangkit. Jika kita tidak bersorak, Allah tidak dapat bangkit.
D. Menyanyikan Mazmur kepada Raja Kita
Selanjutnya, pemazmur menyuruh kita untuk menyanyikan mazmur kepada Allah Raja kita. dia adalah Raja seluruh bumi, memerintah atas bangsa-bangsa dan duduk di atas takhta kudus-Nya (ay. 7-9).
E. Para Pemuka Bangsa-Bangsa Telah
Berkumpul dengan Umat Allah Abraham
Ayat 10 selanjutnya berkata bahwa para pemuka bangsa-bangsa telah berkumpul dengan umat Allah Abraham. Perisai-perisai bumi milik Allah; Ia sangat ditinggikan.
III. KOTA RAJA BESAR
Mazmur 48 adalah tentang kota Raja besar.
A. Besarlah Yehova dan Sangat Terpuji
di Kota Allah Kita, di Gunung-Nya yang Kudus
‘‘Besarlah YEHOVA dan sangat terpuji di kota Allah kita! Gunung-Nya yang kudus’’ (ay.2). Dalam ayat ini ‘‘kota Allah kita’’ dan ‘‘Gunung-Nya yang kudus’’ adalah keterangan tambahan.Ini menunjukkan bahwa kota adalah gunung dan bahwa gunung adalah kota.
B. Gunung Sion yang Menjulang Permai
Gunung Sion, di sebelah Utara, kota Raja Besar, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi (ay. 3).
Ayat 4 berkata, ‘‘Dalam puri-purinya Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai perhentian.’’ Kota menandakan gereja, gereja universal, tetapi puri-puri di dalam kota menandakan gereja-gereja lokal. Allah membuat Diri-Nya Sendiri dikenal di dalam puri-puri, di dalam gereja-gereja lokal. Jadi, jika kita ingin mengenal Allah, kita perlu datang ke gereja-gereja lokal, yang adalah perhentian. Pertama, Diri Allah Sendiri adalah perhentian, lalu gereja-gereja lokal menjadi perhentian. Hari ini gereja-gereja lokal adalah perhentian kita. Jika kamu perlu perhentian, datanglah ke gereja-gereja lokal.
C. Raja-raja Datang Berkumpul
Melewati Kota Bersama-sama,
Melihatnya dan Tercengang-cengang dan Terkejut
‘‘Sebab lihat, raja-raja datang berkumpul, mereka bersama-sama berjalan maju; Demi mereka melihatnya, mereka tercengang-cengang, terkejut, lalu lari kebingungan’’ (ay. 5-6). Raja-raja ini adalah musuh, yang tercengang-cengang dan terkejut saat melihat kota, lalu melarikan diri kebingungan. Mereka dicekam oleh kegentaran dan kesakitan, seperti perempuan yang berjerih lelah (ay.7).
D. Allah Menegakkan Kota Selamanya
‘‘Seperti yang telah kita dengar, demikianlah juga kita lihat, di kota YEHOVA semesta alam, di kota Allah kita; Allah menegakkannya untuk selama-lamanya’’ (ay. 9). Allah akan menegakkan kota selamanya.
E. Mengingat Kasih Setia Allah
di dalam Bait-Nya
Pemazmur selanjutnya berkata bahwa kita mengingat kasih setia Allah di dalam bait-Nya. Seperti nama-Nya, demikianlah kemasyuran-Nya sampai ke ujung bumi (ay. 10-11). ‘‘Biarlah gunung Sion bersukacita; biarlah anak-anak perempuan Yehuda bersorak-sorak oleh karena penghukuman-Mu’’ (ay. 12).
F. Allah Menjadi Allah Kita Selamanya
dan Menjadi Pemandu Kita bahkan Sampai Mati
‘‘Kelilingilah Sion dan edarilah dia, hitunglah menaranya, Perhatikanlah temboknya, jalanilah puri-purinya, supaya kamu dapat menceriterakannya kepada angkatan yang kemudian’’ (ay. 13-14). Menara dan tembok adalah untuk berperang dengan musuh untuk melindungi kota, dan puri-puri adalah untuk kediaman raja. Semua ini menunjukkan fungsi dari gereja. Kita harus berjalan mengelilingi gereja, menghitung ‘‘menara,’’-nya memperhatikan dengan teliti ‘‘tembok,’’-nya dan berjalan di antara ‘‘puri-puri’’-nya supaya kita dapat menceritakannya kepada angkatan yang kemudian.
‘‘Sesungguhnya inilah Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan untuk selamanya! Dia akan memandu kita bahkan sampai mati’ (ay. 15). Di sini kita melihat bahwa Allah adalah pemandu kita, bahkan pemandu perjalanan kita. Kehidupan insani kita adalah sebuah perjalanan, dan kita adalah para turis yang tidak tahu ke mana harus pergi dan bagaimana sampai ke tempat tujuan kita. Kita perlu seorang pemandu, dan pemandu kita adalah Diri Allah Sendiri. Dia selanjutnya akan memandu kita sampai mati dan pergi ke Firdaus.
Dimana kita mengalami Allah sebagai pemandu kita? Dia adalah pemandu kita di dalam gereja, baik dalam gereja universal, Tubuh Kristus maupun dalam gereja-gereja lokal. Kita tidak tahu apa seharusnya langkah kita selanjutnya, tetapi Dia memimpin langkah kita. Kita tidak tahu akan pergi kemana, tetapi Dia memandu kita, turis-turis, dalam perjalanan kehidupan insani kita. Karena Allah akan melanjutkan untuk memandu kita sampai mati, tidak ada yang perlu kita kuatirkan. Sebaliknya, kita harus dengan sederhana menikmati hadirat, panduan, dan arahan-Nya. Panduan Allah adalah aspek kenikmatan Allah di dalam kota. Kenikmatan Allah adalah melalui Kristus, di dalam Kristus, dan dengan Kristus, dan kenikmatan ini ada di dalam gereja dan gereja-gereja lokal—di dalam gereja universal sebagai Tubuh Kristus dan di dalam gereja-gereja lokal sebagai ekspresi Tubuh. Di dalam Mazmur 46—48 Allah adalah tempat perlidungan, perhentian, dan panduan kita. Allah yang kita nikmati melalui Kristus, di dalam Kristus, dan dengan Kristus di dalam gereja dan gereja-gereja lokal adalah perlidungan, perhentian, dan panduan kita. Apakah kamu mengelami dan menilmati Dia dengan cara ini? Sekarang, pengalaman kita mungkin terbatas, tetapi kita berterima kasih kepada Tuhan untuk ‘‘tunas-tunas’’ dan ‘‘ranting-ranting’’ baru dari pengalaman Allah di dalam Kristus yang mulai muncul. Semoga kita semua belajar untuk menikmati Allah di dalam Kristus di dalam gereja dan di dalam gereja-gereja lokal.
Sejauh ini dalam pelajaran hayat kita, kita telah membahas empat puluh delapan mazmur. Dalam mazmur yang mana kamu cenderung melekat? Akankah kamu tinggal di dalam Mazmur 1 atau pergi untuk menikmati Mazmur 2, Mazmur 8, Mazmur 16, dan Mazmur 22—24? Kristus yang kita nikmati di dalam Mazmur 23 adalah Gembala, Persona yang menggembalakan kita ke dalam rumah Allah, gereja lokal. Akhirnya, ketika kita sedang dibangun, dikuatkan, dan diperbesar, gereja menjadi kota, kerajaan Allah, dimana Raja berkuasa dan memerintah.
Mazmur menunjukkan bahwa pertama-tama kita perlu mengalami Kristus. Kemudian Kristus akan memimpin kita pada gereja lokal untuk menikmati Allah. Seperti rumah, gereja adalah rumah Allah, tempat Dia berdiam. Seperti kota, gereja adalah kerajaan Allah, tempaty Dia memerintah. Ketika gereja, rumah dip[erbesar menjadi kota—kerajaan untuk Allah memerintah dan meraja. Dalam gereja sebagai rumah, kita menikmati Allah dalam aspek kediaman-Nya. Dalam gereja sebagai kota, kita menikmati Allah dalam aspek Dia memerintah dan meraja. Inilah kenikmatan Allah dalam Kristus dalam gereja dan dalam gereja-gereja.