← Daftar isi Mazmur (1) · bab 19/42

KENIKMATAN PEMAZMUR AKAN ALLAH DIINTENSIFKAN DI DALAM RUMAH DAN KOTANYA MELALUI KRISTUS YANG MENDERITA, DITINGGIKAN, DAN MEMERINTAH (1)

PEMAZMUR SANGAT MERINDUKAN ALLAH

Pembacaan Alkitab: Mzm. 42—44

Mazmur tersusun dari lima kitab. Sejauh persekutuan kita, kita telah membahas Kitab Pertama dari Mazmur, yang tersusun atas empat puluh satu pasal yang pertama. Dalam berita ini kita akan memulai persekutuan kita pada Kitab Kedua dari Mazmur. Dalam kitab ini kita melihat kenikmatan pemazmur akan Allah diintensifkan di dalam rumah dan kota-Nya melalui Kristus yang menderita, ditinggikan, dan memerintah.

Kitab Pertama dari mazmur sebagian besar ditulis oleh Daud. Kitab Kedua berisi delapan mazmur 42—49 semuanya disusun oleh anak-anak Korah. Daud adalah nama yang dihormati diantara bangsa Israel, tetapi Korah adalah nama yang tidak terkenal karena Korah memberontak melawan Musa dan Allah (Bil. 16:1-3). Karena beberapa keturunan Korah menjadi penyusun kitab Mazmur. Ini menunjukkan bahwa di antara lima kitab Mazmur, wahyunya semakin maju. Kelima kitab Mazmur tidaklah sama tingkatannya. Mazmur seperti sebuah tangga dengan lima anak tangga, yang membawa kita lebih tinggi di dalam wahyunya dengan cara yang semakin maju.

Kitab Kedua dari Mazmur dimulai dari Mazmur 42:2 dengan sangat baik. Pemazmur berkata,”Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, O Allah.’’ Kita dapat merasakan kesegaran Tuhan pada kehendak dan aspirasi pemazmur disini. Ini sangat berbeda dari apa yang diekspresikan oleh pemazmur dalam Mazmur 1. Konsep manusia dari Mazmur 1 adalah orang yang menyukai hukum taurat Allah akan berhasil dalam segala hal. Pemazmur berkata bahwa seseorang menyukai dan merenungkan hukum taurat akan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air (ay. 2-3). Sebuah pohon minum air dengan menyerapnya.

Dalam Mazmur 42, pemazmur berkata bahwa jiwanya merindukan Allah, seperti rusa yang merindukan sungai yang berair. Kemudian ia berkata, “Jiwaku haus kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang dan tampil di hadapan Allah?’’ (ay. 2). Mazmur 1, perkataan pembuka dari Kitab Pertama, dimulai dengan hukum taurat. Tetapi Kitab Kedua dimulai dengan Allah. Manakah yang lebih kita suka—hukum Taurat atau Allah? Apakah kita ingin menjadi pohon yang ditanam di tepi aliran air dengan menyukai hukum Taurat atau ingin seperti seekor rusa yang merindukan Allah? Tentu saja tidak ada perbandingan antara Allah dan hukum Taurat. Hal ini memperlihatkan kita bahwa Kitab Kedua dari Mazmur lebih tinggi daripada Kitab Pertama.

Karena itu kita harus menyadari bahwa wahyu dalam mazmur terus maju menjadi semakin tinggi dari Kitab Pertama sampai Kitab Kelima. Kitab Kelima adalah puncak wahyu tertinggi dari Mazmur. Puncak wahyu tertinggi dari kitab ini diekspresikan dengan kata Haleluya! Haleluya berarti memuji Yehova, memuji Allah. Buku Kedua dimulai dengan Allah, dan Buku Kelima diakhiri dengan “Puji Allah.”

Ketika kita masuk ke dalam Yerusalem Baru, kita semua akan berkata, ‘‘Haleluya! Haleluya!’’ Beberapa orang bertanya kepada saya bahasa apa yang akan kita gunakan dalam Yerusalem Baru. Saya tidak tahu bahasa apa yang akan kita gunakan, tetapi saya mungkin akan berkata—‘‘Haleluya! Haleluya!’’—sepanjang waktu. Hal apa lagi yang perlu kita katakan pada waktu itu? Ketika kita mempelajari kitab Mazmur, kita harus mencapai beberapa poin dimana kita akan bernyanyi ‘‘haleluya’’ secara spontan. Bahkan ketika kita membaca Mazmur 1 kita dapat berkata, ‘‘Haleluya! Haleluya! Saya tidak perlu hukum Taurat lagi.’’

Sangatlah penting bahwa Kitab Kedua dimulai dengan pemazmur sangat merindukan Allah. Merindukan Allah berbeda dengan menyembah Allah secara formal, secara agama. Allah adalah air kehidupan kita untuk kita minum. Apakah kita perlu berlutut untuk menyembah air? Kita perlu merindukan air ini dan kemudian meminumnya. Dalam ayat 1 digunakan kata merindukan. Dalam ayat 2 digunakan kata haus. Jiwaku merindukan Allah and haus akan Allah. Saya menyukai kata kerja ini. Kita perlu memiliki waktu bersama Tuhan dimana kita merindukan Dia dan haus akan Dia.

I. KITAB KEDUA DARI MAZMUR MENYINGKAPKAN

KENIKMATAN PEMAZMUR AKAN ALLAH

DIINTENSIFKAN DI DALAM RUMAHNYA, DAN BAHKAN LEBIH

DIINTENSIFKAN DI DALAM KOTANYA, MELALUI KRISTUS YANG,

MENDERITA, DITINGGIKAN, DAN MEMERINTAH

Kitab Pertama dari Mazmur memalingkan pemazmur dari hukum Taurat kepada Kristus, dan Kristus membawa mereka ke dalam kenikmatan akan Allah di dalam rumah-Nya dan di dalam kota-Nya. Kita harus datang kepada Allah melalui Kristus. Kristus adalah tangga sejati kepada Allah. Kristus memberitahu kita bahwa Ia adalah jalan. Thomas berkata, ‘‘Tuhan, kami tidak tahu kemana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan kesitu?” (Yoh 14:5). Kemudian Yesus berkata, ‘‘Akulah jalan’’ (ay. 6). Dia adalah tangga yang riil kepada Allah.

Maka, Kitab Pertama dari Mazmur memalingkan pemazmur kepada arah yang benar, kepada Kristus. Kemudian Kristus membawa mereka kepada kenikmatan akan Allah di rumah-Nya dan di dalam kota-Nya. Saya berkata demikian karena kedua ayat pertama dalam Kitab Kedua, yang berkata, ‘‘Seperti rusa yang rindu akan sungai yang mengalir, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, O Allah. Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup.” (42:1-2). Ini adalah kenikmatan akan Allah. Kitab Kedua dimulai dengan kenikmatan langsung akan Allah.

Kitab kedua menyingkapkan kenikmatan akan Allah yang diintensifkan di dalam rumah-Nya, dan bahkan lebih diintensifkan di dalam kota-Nya, melalui Kristus yang menderita, ditinggikan, dan memerintah. Kitab pertama tidak berbicara tentang kenikmatan Allah di dalam rumah Allah dan kota Allah sekuat Kitab Kedua. Kita boleh berkata, dalam satu pengertian, bahwa Allah tuna wisma pada permulaan Kitab Pertama. Hukum Taurat bukanlah rumah Allah. Siapakah rumah Allah? Kita telah melihat bahwa rumah Allah pertama kali adalah Kristus sebagai tabernakel dan bait (Yoh. 1:14; 2:21). Bagian pertama dari Perjanjian Baru, kitab Injil, memberitahu kita dengan jelas bahwa rumah Allah adalah Kristus. Dia adalah tabernakel Allah. Sebenarnya, tabernakel ini adalah rumah yang mudah diangkut. Kristus adalah tabernakel Allah, kemah Allah, dan juga bait Allah.

Kemudian, Kristus berbaur dengan kaum beriman-Nya, dan kaum beriman-Nya menjadi perluasan-Nya, perbesaran-Nya. Maka, gereja adalah rumah Allah di dalam tahap kedua (Ef. 2:22). Sangat sulit menemukan ayat dalam Kitab Pertama dari Mazmur yang berbicara tentang kota Allah. Kota Allah menandakan kerajaan Allah. Kristus tidak dapat menjadi raja tanpa suatu ‘‘wilayah.’’ Ketika tabernakel diperbesar, itu menjadi bait, dan bait adalah gereja (1 Kor. 3:16). Gereja juga adalah kerajaan (Mat. 16:18-19; Rm. 14:17), Raja dengan “wilayah”-nya. Di dalam kitab Mazmur, kerajaan dilambangkan oleh kota.

Sion adalah puncak dari barisan pegunungan dimana kota Yerusalem dibangun di atasnya. Yerusalem dibangun di atas barisan barisan pegunungan, barisan pegunungan itu memiliki sebuah puncak tinggi, dan di atas puncak dari puncak tinggi itu ada bait. Puncak tinggi itu disebut Sion. Di Sion, bait dibangun, dan bait adalah rumah Allah. Di sekeliling bait ada kota Yerusalem. Yerusalem sebagai kota menandakan kerajaan Allah. Di Kitab Kedua pemazmur mulai berbicara tentang kota. Maka, kita memiliki kenikmatan akan Allahdi dalam rumah-Nya dan di dalam kota-Nya.

Allah yang universal terlokalisasi di dalam rumah-Nya, tempat kediaman-Nya. Rumah Allah adalah Kristus sebagai tabernakel dan bait Allah dan gereja sebagai perbesaran Kristus, bait yang diperbesar. Pada satu sisi, Allah di dalam Kristus adalah rumah kita, tempat kediaman kita (Mzm. 90:1), dan disisi lain, kita sebagai gereja adalah rumah-Nya, tempat kediaman-Nya. Semua orang yang tidak percaya perlu menyadari perkara ini karena mereka tidak memiliki tempat tinggal. Ketika kita percaya dalam Tuhan Yesus, kita kembali ke rumah. Ketika kita masuk kedalam rumah, ke dalam Kristus, Allah juga berumah didalam kita. Ketika saya masih muda, kamu memberitakan injil dengan memberitahukan orang-orang yang tidak percaya bahwa mereka tidak memiliki tempat tinggal, tidak memiliki perhentian. Karena mereka tidak memiliki perhentian, tidak memiliki tempat tinggal, Allah juga tidak memiliki tempat tinggal. Tetapi ketika kita percaya ke dalam Tuhan Yesus, kita kembali ke rumah. Kemudian kita berumah, dan Allah juga berumah. Kita tidak lagi tanpa perhentian, dan Allah pun demikian.

Beberapa kaum beriman di dalam Tuhan melalui pemberitaan semacam ini. Kita seharusnya tidak hanya memberitahu orang-orang bahwa mereka orang berdosa dan Yesus mati untuk mereka. Banyak orang telah mendengar perkataan semacam ini, dan mereka tetap tidak terbuka untuk menerima injil. Namun mereka akan terbuka untuk menyadari bahwa sebagai manusia mereka tidak memiliki tempat tinggal terpisah dari Allah. Dalam Kitab Kedua dari Mazmur, Allah berumah. Kita menikamti Allah didalam rumah-Nya. Ini berarti bahwa kita menikmati Allah didalam Kristus dan di dalam gereja. Efesus 3:21 mengatakan bahwa Allah dimuliakan di dalam Kristus dan di dalam gereja .Allah dimuliakan didalam rumah-Nya dan didalam kota-Nya, didalam Kristus dan didalam gereja.

Pemazmur menikamti Allah melalui Kristus yang menderita, ditinggikan, dan meraja. Kristus inilah jalan bagi kita orang berdosa untuk masuk kedalam Allah. Sekarang kita menikmati Allah sebagai Allah kita dalam Kristus sebagai rumah dan dalam gereja sebagai kota. Kenikmatan kita akan Allah melalui sebuah tangga dan tangga ini adalah Kristus—Orang yang menderita, yang ditinggikan, dan yang meraja. Dalam Kitab Kedua dari Mazmur, penakanannya ada pada penderitaan Kristus, Kristus ditinggikan, dan Kristus meraja.

II. MAZMUR 42—49, 84, 85, 87, DAN 88

ADALAH TULISAN-TULISAN KUDUS DARI BANI KORAH

Mazmur 42—49, 84, 85, 87, dan 88 adalah tulisan-tulisan kudus dari bani Korah. Korah adalah pemimpin pemberontakkan melawam Musa dan Allah (Bil. 16:1-3). Setelah sekitar empat ratus tujuh puluh tahun, Nabi Samuel, Penyanyi Heman, dan pemazmur lainnya merupakan keturunan dari Korah yang memberontak pada masa Daud (1 Taw. 6:31-39). Bahkan keturunan dari pemimpin pemberontak ini menjadi penulis yang saleh dari mazmur, memuji Allah didalam tulisan kudusnya sebagai sebuah catatan yang tetap ada untuk generasi ke generasi. Betapa ini adalah kasih karunia!

Ini sangatlah indah bahwa keturunan Korah menulis sesuatu yang menjadi bagian dari Alkitab. Tulisan-tulisan kudus mereka telah menjadi sebuah catatan bertahan dari angkatan demi angkatan. Mereka juga tetap setia untuk memberitahu orang-orang bahwa mereka adalah anak-anak Korah, seorang yang memberontak melawan Allah. Hal ini memperlihatkan kepada kita bahwa seluruh mazmur ditulis berdasarkan kasih karunia Allah yang tidak terbatas. Anak-anak Korah adalah keturunan, putera-putera dari pendosa besar dan pemberontak, Korah, mereka menjadi orang kudus yang menulis mazmur untuk memuji Allah. Hari ini kita seperti anak-anak Korah. In a sense, kita masih merupakan orang berdosa yang kasihan dan pemberontak, ya, kita orang dosa dapat menjadi mereka yang membicarakan Firman kudus!

III. MERINDUKAN ALLAH

Poin yang penting dari Mazmur 42—44 adalah kerinduan pemazmur terhadap Allah.

A. Setelah Dilucuti oleh Allah

Pemazmur merindukan Allah pada waktu dimana ia dan umatnya telah dilucuti dan dikalahkan oleh bangsa-bangsa disekelilingnya.

B. Seperti Rusa Merindukan Sungai yang Mengalir

Ia merindukan Allah seperti rusa yang merindukan sungai yang mengalir (Mzm. 42:1-2).

C. Berada di bawah Celaan

dan Tekanan Seterunya

Pemazmur juga berada di bawah celaan dan tekanan seterunya (42:3, 9b-10). Mazmur 42:4 mengatakan, ‘‘Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: Dimana Allahmu?”

D. Mengingat Masa Lalu yang Mulia dan Menyenangkan

di dalam Berjalan Maju dalam Kepadatan Manusia

untuk Menikmati Allah dalam rumah-Nya dengan umat-Nya

Pada satu sisi Pemazmur merindukan Allah. Pada sisi lain, dia mengingat masa lalu yang mulia dan menyenangkan di dalam berjalan maju dalam kepadatan manusia untuk menikmati Allah dalam rumah-Nya dengan umat-Nya. Mazmur 42:5 mengatakan, ‘‘Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah gulana: bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.”

Ini adalah cerita masa lalu yang sangat menyenangkan. Tetapi saya ingin kita mempertimbangkan apakah hal ini baik atau tidak untuk dilakukan. Di dalam tawanan, pemazmur sangat merindukan Allah. Tetapi setidaknya dalam pemikirannya, dalam pertimbangannya, dia meninggalkan kerinduan akan Allah dan melakukan sesuatu yang lain—cerita masa lalunya. Betapa baik, betapa mulia, dan betapa menyenangkan cerita itu! Dia mengingat betapa ajaibnya ketika dia memimpin banyak orang untuk naik ke puncak Sion untuk menikmati Allah bersama umat Allah dengan pesta bersama dengan Allah.

Ini adalah gambaran yang menyenangkan dari masa lalu, tetapi apakah dia harus menceritakan masa lalunya dengan cara ini ketika dia sedang merindukan Allah? Sebenarnya, hal ini meninggalkan kerinduannya akan Allah. Dia seharusnya tinggal di dalam kondisi merindukan Allah. Kita mungkin memiliki waktu bersama Tuhan dimana kita sedang merindukan Allah, tetapi kemudian beberapa pertimbangan di dalam kita akan merebut kita dari kerinduan kita akan Allah. Kita mungkin mengingat betapa ajaib dan menyenangkan kehidupan gereja bertahun-tahun yang lalu. Pertimbangan dan ingatan dari masa lalu kita ini akan mengalihkan kita dari menikmati Tuhan.

Mazmur 42:4 adalah sebuah ayat yang baik, tetapi ayat ini menunjukkan bahwa ada sebuah campuran dalam perasaan penulis dari mazmur ini. seharusnya tidak ada campuran. Sebaliknya, seharusnya hanya ada kerinduan akan Allah dan nyanyian ‘‘Haleluya! Puji Tuhan!’’ Pertimbangan dan pemikiran kita tidak seharusnya merebut kita dari kerinduan akan Allah. Kita tidak seharusnya dialihkan dari Allah untuk memustikakan masa lalu kita. karena pemazmur meninggalkan kerinduannya akan Allah, pemikiran-pemikiran yang menyusun perasaannya diekspresikan.

E. Didorong oleh Pengharapan di dalam Allah

karena Keselamatan dari Wajah-Nya

Ayat 6 berkata, ‘‘Mengapa engkau tertekan, O jiwaku dan gelisah didalam diriku? Berharaplah di dalam Allah! Sebab aku akan memuji-Nya karena keselamatan dari wajah-Nya!” Pemazmur dikuatkan oleh pengharapan dalam Allah untuk keselamatan dari wajah-Nya. Pemazmur menguatkan jiwanya, dirinya sendiri. Ia berkata untuk tidak menjadi tertekan melainkan untuk berharap di dalam Allah. Ia berkata bahwa ia masih memuji Allah untuk keselamatan dari wajah-Nya.

Pada saat itu pemazmur telah dilucuti hampir segala sesuatunya. Dia telah kehilangan rumahnya dan berada dalam penawanan. Apa yang dapat dia nikmati? Dia dapat menikmati wajah Allah. Dia kehilangan rumahnya, negerinya, dan telah dilucuti dari kenikmatan bumiahnya. Sekarang dia berada dalam penawanan, tetapi dia dapat menikmati hadirat Allah, wajah Allah. Wajah Allah menjadi kenikmatannya di dalam penawanannya. Namun, ketika dia menikmati hadirat Allah dengan merindukan Allah, dia dialihkan oleh pemikiran-pemikiran yang berbeda. Kita juga demikian. Dalam waktu kita bersama Tuhan, kita mungkin merindukan Dia, tetapi kemudian kita dialihkan dari Allah oleh pemikiran-pemikiran yang menggangu.

F. Mengingat Allah dari Kejauhan

Pemazmur mengingat Allah dari kejauhan—dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar, cukup jauh dari Sion dan Yerusalem dimana rumah Allah dan kota Allah berada. Mazmur 42:7 mengatakan, ‘‘O Allahku, jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar.” Ini menunjukkan bahwa pemazmur sangat jauh dari rumahnya, dari negaranya, dari bangsanya. Ia teringat akan tuhan bukan dari pintu bait suci atau bukan dari gerbang Yerusalem tetapi dari kejauhan. Ini dikarenakan ia berada dalam penawanan. Ini terjadi saat umat Israel, termasuk mereka yang melayani di dalam bait, telah dikalahkan dan ditangkap oleh musuh-musuh yang menyerang mereka. Pemazmur ini adalah seorang yang melayani. Bani Korah adalah suku lewi. Korah adalah seorang pemimpin suku Lewi yang melayani bait (Bil. 16:8-10). Para penyerang mengalahkan Israel dan menangkap rakyatnya. Maka, Pemazmur berada sangat jauh dari negerinya.

G. Mengenal Kedaulatan Allah

di dalam Lingkungan Mereka

Mazmur 42:8-10a memperlihatkan bahwa pemazmur mengenal kedaulatan Allah dalam lingkungannya. Ayat 8 mengatakan, ‘‘Samudera raya berpanggil-panggilan dengan deru pancaran air-Mu; segala gelora dan gelombang-Mu bergulung melingkupi aku.” Beberpa versi menerjemahkan “pancaran air” menjadi “air terjun”. Ekspresi puitis ini mendiskribsikan penderitaan yang dilalui oleh pemazmur.

Ayat 9 mengatakan, ‘‘Yehova memerintahkan kasih-setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku.’’ Tentu saja, ketika ia melalui penderitaan yang berat, seluruh pemazmur akan berdoa. Pada waktu ia menikmati kasih setia Allah; pada malam hari ia menikmati nyanyian Yehova bersamanya, sebuah doa kepada Allahkehidupannya.

Ayat 10 dan 11 mengatakan, ‘‘Aku berkata kepada Allah, gunung batuku: Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung dibawah impitan musuh? Seperti tikaman maut kedalam tulangku seteruku mencela aku, sambil berkata kepadaku sepanjang hari: Dimana Allahmu?” Seterunya menanyakan kepadanya dimana Allahnya sejak ia berada dalam tawanan.

Semua pemikiran ini datang untuk mengalihkan pemazmur dari merindukan Allah. Disini kita melihat ekspresi campuran dari perasaan penulis. Ketika ia menulis mazmur ini, semua macam pikiran datang untuk mengalihkan pikirannya, mengalihkannya dari merindukan Allah dan mengalihkannya dari keselamatan Allah dari Wajah-Nya. Dalam ayat 12 ia berkata,”Mengapa engkau tertekan, O jiwaku, dan mengapa engkau gelisah didalam diriku? Berharaplah didalam Allah! Sebab aku akan memuji-Nya lagi, keselamatan wajahku dan Allahku.”

H. Ekspresi Campuran

dari Perasaan Pemazmur

di dalam Kenikmatan Mereka akan Allah

di dalam Rumah dan Kotanya

Ketika pemazmur sedang menikmati Allah di dalam rumah dan kota-Nya, banyak perkara masuk ke dalam pemikirannya untuk mengalihkan dia. Hal itu menyusun semacam perasaan, yang dia curahkan keluar di dalam ekspresinya. Mazmur 43:1-2 memperlihatkan kepada kita ekspresi campuran dari perasaan pemazmur dalam kenikmatannya akan Allah di dalam rumah dan kota-Nya.

Untuk merindukan Allah dan haus akan Allah adalah mengagumkan, ajaib, dan baik. Dalam hal ini kita seharusnya tinggal, tetapi kita kehilangan kendali. Pikiran datang seperti anak panah untuk mengalihkan kita. Pikiran ini berisi perasaan kita, yang kita keluarkan melalui ekspresi. Banyak mazmur yang berisi ekspresi campuran seperti ini.

I. Meminta Allah untuk Memberi Mereka Terang dan Kebenaran

Yang akan Memimpin Mereka dan Membawa Mereka

kepada Gunung Kudus Allah

Pemazmur memohon Allah untuk memberinya terang dan kebenaran yang akan memimpinnya dan membawanya ke gunung kudus Allah dan ke tabernakel Allah sehingga ia dapat pergi kepada mezbah Allah, untuk menghadap Allah yang adalah sukacitanya yang besar (43:3-4). Hal ini berarti ia berada jauh dari gunung kudus dan jauh dari bait. Ia meminta Allah mengirimkan terang dan kebenaran. Ketika kita memiliki terang dan kebenaran, kita memiliki jalan, tetapi pada waktu itu umat Israel tidak memiliki jalan untuk keluar dari penawanan mereka. Mereka tidak memiliki jalan dan pemimpin, untuk membawa mereka kembali ke Gunung Sion, gunung kudus, sehingga mereka dapat kembali pada rumah Allah.

Pemazmur yang menulis Mazmur 42—44 adalah pencinta Allah yang sesungguhnya. Mereka merindukan Allah, haus akan Allah, dan hendak kembali ke Yerusalem, untuk kembali ke Gunung Sion untuk mencapai Mezbah. Ketika mereka masuk ke bait untuk menghadap Allah yang adalah sukacitanya yang besar. Inilah sebabnya mereka berdoa agar Allah memberikan kepada mereka terang dan kebenaran agar mereka tahu bagaimana untuk keluar dari penawanan dan kembali ke kediaman Allah.

J. Ekspresi Campuran

dari Persaan Pemazmur

di dalam Kenikmatan Mereka akan Allah

di dalam Rumah dan Kotanya

Mazmur 44 menunjukkan pada kita ekspresi campuran dari perasaan pemazmur dalam kenikmatan mereka akan Allah di dalam rumah dan kota-Nya.

1. Memustikakan Masa Lalu

Dalam ayat 1-8 pemazmur memustikakan sejarah masa lalu nenek moyangnya. Ayat 1 berkata, “O Allah, dengan telinga kami sendiri telah kami dengar, nenek moyang kami telah menceritakan kepada kami perbuatan yang telah Kaulakukan pada zaman mereka, pada zaman purbakala”. Mustika mereka di masa lalu adalah suatu pengalihan sebagai bagian dari ekspresi campuran mereka.

2. Mengeluh untuk Masa Sekarang

Sebagai tambahan untuk memustikakan masa lalu, pemazmur mengeluh untuk masa sekarang (Mzm. 44:10-27). Mazmur 44:10 mengatakan,” Namun Engkau telah menolak kami dan membiarkan kami kena umpat. Engkau tidak maju bersama-sama dengan bala tentara kami.” Ayat ini dimulai dengan kata menolak. Pemazmur berkata bahwa meskipun Allah sangat baik dan murah hati terhadap nenek moyangnya, sekarang Dia telah menolak mereka. Maka, mereka menyalahkan Allah.

Verse 18 mengatakan, ‘‘Semuanya ini telah menimpa kami, tetapi kami tidak melupakan Engkau, dan tidak mengkhianati perjanjian-Mu.” Pemazmur tetap bertahan meskipun semua hal ini adalah hal-hal buruk seperti kekalahan dan penawanan mereka yang terjadi pada mereka, mereka tidak melupakan Allah juga tidak bersalah pada perjanjian-Nya. Apakah hal ini benar? Dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam kitab Nabi-Nabi, Allah memberitahukan umat-Nya berkali-kali bahwa mereka telah meninggalkan-Nya (Yer. 2:13) dan telah mengkhianati perjanjian-Nya (Yer.11:10; Hos. 6:7). Maka tidaklah benar bagi pemazmur untuk mengatakan bahwa mereka tidak meninggalkan Allah atau tidak mengkhianati perjanjian-Nya.

Mazmur 44:19 mengatakan, ‘‘Hati kami tidak membangkang dan langkah kami tidak menyimpang dari jalan-Mu.’’ Allah berkata dalam kitab Nabi bahwa hati umat Israel berpaling dari-Nya. Perkataan siapa yang benar—perkataan Allah atau pemazmur? Dalam Kitab Nabi Allah juga berkata dengan jelas bahwa umat Israel telah meninggalkan jalan-Nya. Ini dikarenakan, pemazmur yang menuntut berdebat dengan Allah dengan cara ini. Hal ini memperlihatkan kepada kita bahwa kita tidak seharusnya berpikir bahwa semua Mazmur sangat indah. Sekali lagi kita perlu menyadari bahwa di dalam Mazmur terdapat konsep insani dan konsep ilahi.

Kita dapat sekali lagi bahwa kerinduan pemazmur akan Allah terganggu, dan kehausan mereka akan Allah dialihkan oleh semua pemikiran yang berbeda. Pemazmur berbicara tentang betapa baiknya Allah kepada nenek moyang mereka, tetapi betapa buruknya Dia bagi mereka. Mereka memberitahu Allah bahwa meskipun Dia menolak mereka, mereka tidak menolak Dia. Mereka meyakinkan diri mereka sendiri, tetapi dimanakah kerinduan mereka akan Allah dan kehausan mereka akan Allah? Itu semua telah hilang. Semua dari kita memiliki pengalaman yang sama. Seringkali mungkin kita telah merindukan Allah, tetapi kemudian kita dialihkan oleh banyak pemikiran. Seringkali kita dialihkan dari merindukan Allah, dari menikmati Allah.

Saya harap kita terbantu untuk memahami bagaimana untuk mempelajari kitab Mamzur. Ayat 1-2 dan 5 dari Mazmur 42 adalah sangat baik karena ayat itu menurut konsep ilahi. Ayat 1 dan 2 membicarakan tentang kerinduan akan Allah dan kehausan akan Allah, dan ayat 5 berbicara tentang keselamatan dari wajah-Nya. Seperti pemazmur, kita mungkin telah kehilangan segalanya, telah dilucuti dari segala sesuatu, namun kita tidak kehilangan Allah. Meskipun kita mungkin telah menolak Dia, kita tidak kehilangan Dia. Hadirat-Nya menyertai kita, dan hadiat itu adalah wajah-Nya. Wajahnya adalah keselamatan kita.