BERITA DUA
KRISTUS DI DALAM EKONOMI ALLAH LAWAN HUKUM TAURAT DI DALAM APRESIASI MANUSIA
(1)
Pembacaan Alkitab:
Mzm. 1:1-6; Rm. 5:20; Gal. 4:24-25; Rm. 7:12, 14a; Mzm. 119:103, 105, 130;
2Tim. 3:16a; Kel. 20:3-17; Mzm. 78:5; 119:88b; Rm. 3:20b; 4:15b; 5:20b; 7:7b;
Gal. 3:23-24; Rm. 3:19; Gal. 3:21b; Rm. 8:3a; 3:20a; Gal. 3:11a, 12b;
Mzm. 36:8; 1Kor. 3:6; Yoh. 4:10, 14; Why. 21:6; 22:1, 17b;
Yoh. 7:38-39; Mzm. 73:1-7, 13-17, 23-26; Mat. 5:10;
Mzm. 1:5-6; Rm. 2:12; Rm. 10:4a; 6:14b
Di dalam berita sebelumnya, kita telah memberikan satu kata pembukaan mengenai Mazmur. Di dalam berita ini, kita akan melihat kebenaran mengenai Kristus di dalam ekonomi Allah lawan hukum taurat di dalam apresiasi manusia.
I. HUKUM TAURAT DI DALAM APRESIASI MANUSIA
Mazmur 1 adalah mengenai hukum taurat di dalam apresiasi manusia (ay. 2). Saya harap bahwa kita akan menerima satu pandangan yang jelas untuk melihat Mazmur ini. Kita perlu melihat kebenaran mengenai hukum taurat di dalam kedudukannya, sifatnya, isinya, fungsinya, dan kelemahannya. Kita perlu berperang melawan pengajaran-pengajaran yang salah menegnai hukum taurat yang bukan berada di dalam terang dari ekonomi Perjanjian Baru Allah. Di antara orang-orang Kristen ada dua jenis pandangan mengenai hukum taurat. Pandangan yang pertama itu positif dan pandangan yang kedua sangat negatif. Orang yang top yang ada di dalam pandangan yang negatif yang berhubungan dengan hukum taurat adalah rasul Paulus. Mengenai hukum taurat, ia itu negatif sampai pada puncaknya. Saya ingin menunjukkan beberapa poin yang ia tekankan di dalam pengajarannya mengenai hukum taurat.
Di dalam Roma dan Galatia, Paulus menekankan bahwa tidak ada daging, tidak ada manusia yang telah jatuh, yang bisa dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum taurat (Rm. 3:20a; Gal. 2:16; 3:11a). Berbuat untuk dibenarkan karena hukum taurat itu berjerih lelah dengan sia-sia. Di dalam Roma 7 Paulus memberi tahu kita bahwa hukum taurat, bukannya memberikan hayat kepada kita, malah menjadi alat pembunuh yang olehnya dosa menipu dan membunuh kita (ay. 11). Apakah kita menyukai sesuatu yang akan membunuh kita? Daud salah dalam meninggikan dan mengapresiasi sesuatu yang olehnya kita bisa dibunuh. Ini menunjukkan kepada kita betapa negatifnya Paulus di dalam pandangannya mengenai hukum taurat.
Saya ingin membangkitkan argumen Paulus sebagai argumen saya terhadap hukum taurat. Ada beberapa yang mungkin mengatakan bahwa Paulus memberi tahu kita di dalam Roma 7 bahwa hukum taurat itu kudus, benar, baik (ay. 12), dan bahkan rohani (ay. 14a). Tetapi ini hanya di dalam sifatnya. Di dalam sifatnya, hukum taurat itu kudus, benar, baik, dan rohani, tetapi kita juga perlu melihat apa yang Paulus katakan mengenai kedudukannya, fungsinya, dan kelemahannya.
A. Kedudukannya
Kita perlu melihat apa kedudukan hukum taurat itu. Untuk melihat kedudukan hukum taurat, maka ktia harus mengambil pengajaran Paulus.
1. Masuk di Samping Garis Utama Ekonomi Allah
Hal pertama yang perlu kita lihat mengenai kedudukan dari hukum taurat adalah bahwa hukum taurat itu masuk di samping garis utama dari ekonomi Allah (Rm. 5:20a). Karena demikian, maka hukum taurat tidak memiliki satu kedudukan yang ortodok. Hukum taurat tidak ortodok karena masuk di samping garis utama dari ekonomi Allah.
Hari ini kebanyakan orang tidak melihat garis utama ini. Sebaliknya, mereka mengajarkan Alkitab menurut cara alamiah, tanpa prinsip-prinsip pengendali apa pun. Enam puluh tahun yang lalu, saya pertama-tama mendengar bahwa kita harus menafsirkan Alkitab dengan prinsip-prinsip yang tepat. Ketika saya mendengar itu, saya bertanya kepada diri saya sendiri, “Apakah prinsip-prinsip bagi kita untuk memahami Alkitab?” Pada waktu itu, saya tidak memahami, tetapi lambat laun saya sampai ke dalam realisasi yang tepat akan prinsip-prinsip yang mengendalikan tentang pemahaman dan penafsiran Alkitab. Di dalam berita ini, saya akan menafsirkan Firman itu menurut prinsip-prinsip ini.
Prinsip yang perlu kita lihat mengenai hukum taurat adalah demikian—Paulus di dalam Roma 5:20 memberi tahu kita bahwa hukum taurat masuk di samping. Kata Yunani di sini juga berarti “masuk melalui samping.” Hukum taurat tidak datang dengan sendirinya. Hukum taurat masuk di samping dari sesuatu. Ini berarti bahwa gari utama ekonomi Allah telah ada di sana.
Namun, setelah penciptaan manusia, ada sesuatu yang terjadi. Satan masuk, dosa mengikuti Satan, dan manusia menjadi jatuh. Maka, manusia menjadi manusia yang telah jatuh yang tersusun dengan dosa menjadi seorang dosa. Allah menciptakan manusia di dalam gambar-Nya sendiri dan menurut rupa-Nya sendiri (Kej. 1:26) dengan maksud agar manusia bisa menerima Allah, memperhidupkan Allah, dan mengekspresikan Allah. Garis utama dari ekonomi Alah di muali dengan manusia dan berada dalam perjalanan ketika sesuatu itu terjadi. Sebuah “kecelakaan mobil” terjadi. Karena itu, hukum taurat perlu masuk di samping garis utama dari ekonomi Allah ini. Ini seharusnya membantu kita memahami perkataan Paulus di dalam Roma 5:20a.
Hukum taurat asalnya tidak ditentukan dan diatur oleh Allah. Di dalam ekonomi Allah yang semula, tidak ada hal yang demikian. Allah di dalam ekonomi-Nya berencana untuk menciptakan dan memiliki manusia di dalam gambar-Nya dan menurut rupa-Nya supaya manusia itu pada satu hari dapat menerima Dia sebagai hayat untuk memperhidupkan Dia dan memanifestasikan Dia sehingga Dia dapat memiliki satu organisme untuk mengekspresikan Trinitas Ilahi-Nya. Tetapi Satan masuk untuk menipu manusia, dan Satan dan manusia ini menjadi satu. Manusia yang diciptakan oleh Allah di dalam gambar-Nya sendiri itu disusun oleh Satan dengan sifat Satan menjadi seorang manusia yang penuh dengan dosa. Sekarang Allah harus memperbaiki situasi itu. Apakah Allah akan mengusir manusia dari rencana-Nya, dan melupakan tentang manusia? Tentunya, Allah tidak akan pernah berbuat demikian karena Dia adalah Alfa dan juga Omega (Why. 22:13). Dia tidak bisa memulai sesuatu tanpa menyelesaikannya.
Untuk melanjutkan tujuan-Nya terhadap manusia setelah kejatuhan manusia, maka Allah menambahkan sesuatu kepada garis utama dari ekonomi-Nya. Alkitab Versi bahasa China mengatakan di dalam Roma 5:20 bahwa hukum taurat itu ditambahkan. Ini adalah sesuatu yang ditambahkan kepada kasih karunia. Hukum taurat adalah tambahan untuk garis kasih karunia yang ortodok di dalam ekonomi Allah.
2. Seperti seorang Gundik, yang Dilambangkan oleh Hagar
Kedua, kedudukan hukum taurat itu adalah kedudukan seorang gundik, yang dilambangkan oleh Hagar (Gal. 4:24-25). Paulus memberi tahu kita di dalam Galatia 4 bahwa Abraham mempunyai dua orang istri. Yang satu adalah istri yang ortodok, yaitu Sarah, dan yang lainnya adalah gundik, yaitu Hagar (ay. 22-31). Kita semua tahu bahwa gundik seseorang tidak memiliki satu kedudukan yang ortodok. Paulus menunjukkan bahwa Sarah melambangkan perjanjian baru kasih karunia, dan ia menunjukkan bahwa Hagar melambangkan perjanjian lama hukum taurat. Jadi, kedudukan hukum taurat adalah kedudukan seorang gundik.
Di dalam penciptaan Allah, Dia tidak menentukan laki-laki untuk memiliki seorang gundik. Dia menentukan bahwa laki-laki seharusnya memiliki seorang istri (Mat. 19:3-9). Siapa saja yang memiliki lebih dari seorang istri akan masuk ke dalam kebinasaan. Kita tidak boleh berusaha untuk membawa seorang gundik ke dalam ekonomi Allah. Jika kita mengapresiasi dan meninggikan hukum taurat, maka kita akan membawa seorang gundik ke dalam ekonomi Allah. Ini mutlak bertentangan dengan penentuan Allah.
Hukum taurat sebagai seorang gundik masuk di samping garis utama ekonomi Allah. Siapa saja yang berasal dari hukum taurat, adalah seorang anak dari gundik, bukan seorang putra dari perempuan merdeka. Hukum taurat tidak memiliki kedudukan yang ortodok. Para pengikut hukum taurat bukanlah anak-anak dari istri ortodok. Ismael, anak dari gundik, yaitu Hagar, direndahkan dan diusir. Ia diusir dari garis utama ekonomi Allah, yaitu garis kasih karunia. Kita harus mengingat poin ini di dalam penafsiran kita akan Mazmur 1. Penulis Mazmur 1 meninggikan hukum taurat menurut konsep insani, yaitu bertentangan dengan garis utama ekonomi Allah.
B. Sifatnya
1. Kudus, Benar, dan Baik
Sekarang kita perlu melihat sifat dari hukum taurat ini. Dalam sifatnya, hukum taurat ini kudus, benar, dan baik (Rm. 7:12).
2. Rohani
Hukum taurat juga rohani (7:14a). Ini disebabkan karena hukum taurat adalah pembicaraan Allah. Karena Sepuluh Perintah adalah pembicaraan Allah, maka Sepuluh Perintah ini adalah hembusan Allah. Seluruh Kitab Suci dihembuskan oleh Allah (2 Tim. 3:16a). Seluruh Pentatuk, lima kitab terdahulu dari Alkitab yang dianggap sebagai hukum taurat, adalah hembusan Allah. Tentunya hembusan Allah ini mutlak rohani. Jadi, di dalam hal ini, hukum taurat itu rohani.
Meskipun kedudukan hukum taurat itu tidak benar, tetapi sifat dari hukum taurat itu baik. Ini adalah poin di mana kesulitan-kesulitan bisa timbul di dalam pemahaman kita. Pendidikan yang positif berdiri di atas sifat hukum taurat. Mereka menunjukkan bahwa Paulus mengatakan bahwa hukum taurat itu kudus, benar, baik dan bahkan rohani. Kemudian mereka menanyakan, “Bagaimana Anda bisa mengatakan bahwa hukum taurat itu negatif?” Memang benar bahwa sifat dari hukum taurat itu baik dan rohani, tetapi kedudukannya salah. Seorang wanita mungkin adalah seorang wanita yang “sangat bagus,” seorang wanita yang rohani, tetapi ia tidak memiliki satu kedudukan yang ortodok.
Sifat dari hukum taurat itu baik karena hukum taurat itu rohani, adalah firman Allah (Mzm. 119:103, 105, 130) dan hembusan Allah (2 Tim. 3:16a). Inilah sebabnya mengapa kita memiliki satu masalah di dalam pemahaman kita akan hukum taurat ketika kita datang ke Mazmur 119. Kita perlu menyadari bahwa Mazmur 119 mengacu kepada hukum taurat sebagai firman Allah. Di dalam ayat 147-148, pemazmur mengatakan bahwa ia mengharapkan pagi supaya ia bisa merenungkan firman Tuhan. Di sini pemazmur mengatakan bahwa ia merenungkan, bukan di dalam hukum taurat melainkan di dalam firman. Mazmur 119:103 tidak mengatakan bahwa hukum taurat itu begitu manis. Sebaliknya, di sini pemazmur mengumumkan betapa manis firman Tuhan bagi seleranya. Karena hukum taurat adalah firman Allah, hukum taurat ini baik dan rohani di dalam sifatnya.
C. Isinya
1. Sepuluh Perintah
Sekarang kita perlu melihat isi dari hukum taurat. Isi hukum taurat itu terutama adalah Sepuluh Perintah. Kita perlu menganalisa Sepuluh Perintah ini dengan cara yang tepat. Tiga perintah yang terdahulu menuntut manusia untuk memiliki Allah saja dan tidak memiliki berhala-berhala apa pun (Kel. 20:3-7). Perintah yang pertama mengatakan bahwa kita tidak boleh memiliki allah lainnya, yang kedua adalah bahwa kita tidak boleh membuat berhala-berhala, dan yang ketiga adalah bahwa kita tidak boleh menyembah berhala-berhala.
Perintah yang keempat mengenai memelihara Sabat (ay. 8-11). Memelihara Sabat berarti menerima Allah dan segala yang telah diciptakan-Nya bagi kita sebagai kepuasan dan perhentian kita. Perintah keempat menuntut manusia hanya memiliki kepuasan dan perhentian di dalam Allah dan segala yang telah Allah genapkan bagi manusia. Allah menciptakan langit dan bumi dengan jutaan butir bagi kita. Pada hari keenam, hari yang terakhir dari pekerjaan penciptaan oleh Allah, Allah menciptakan manusia. Manusia berasal dari tangan Allah yang menciptakan dengan segala sesuatunya telah siap. Alam semesta ini seperti sebuah kamar perkawinan. Sebelum mempelai perempuan datang, kamar perkawinan telah siap sepenuhnya. Manusia berasal dari tangan Allah yang menciptakan, dan segala sesuatunya telah siap bagi manusia. Allah bekerja selama enam hari, dan hari ketujuh adalah hari perhentian, Sabat, bagi manusia untuk menikmati Allah dan pekerjaan Allah sebagai perhentian dan kepuasannya.
Perintah kelima menuntut manusia menghormati orang tuanya supaya manusia bisa menelusuri kembali sumber manusia—Allah yang menciptakan manusia (ay. 12). Jika kita menelusuri silsilah kita kembali kepada permulaan dari penciptaan, maka kita sampai kepada pasangan orang tua yang pertama, yaitu Adam dan Hawa. Adam dan Hawa berasal dari Allah. Bila kita menghormati orang tua kita, maka kita menelusuri kembali jejak Allah.
Kita harus memiliki satu hati untuk menghormati orang tua kita, tetapi seringkali, kita orang-orang yang telah jatuh tidak menghormati orang tua kita sebagaimana seharusnya. Hari ini, di zaman yang jahat ini banyak orang ingin menyingkirkan orang tua mereka ketika orang tua mereka telah menjadi tua. Padahal, kehilangan orang tua kita adalah satu kerugian yang besar. Jika kita menghormati orang tua kita, maka kita menyadari sesuatu dari Allah sebagai sumber kita. Perintah kelima mengenai menghormati orang tua kita berjalan bersama dengan perintah-perintah sebelumnya. Sepuluh Perintah ini ditulis di atas dua loh batu. Loh yang pertama mencakup lima perintah yang pertama, dari hanya memiliki Allah saja sampai perihal menghormati orang tua kita.
Lima perintah yang terakhir ada di atas loh lainnya sebagai satu kelompok. Perintah-perintah ini adalah mengenai larangan untuk membunuh, berzinah, mencuri, berdusta, dan mengingini (13-17). Lima perintah ini mungkin tidak kelihatan begitu manis, tetapi perintah-perintah ini sangat baik untuk manusia. Perintah keenam sampai ke sepuluh menuntut manusia untuk memperhidupkan kebajikan-kebajikan yang mengekspresikan Allah menurut atribut-atribut Allah.
Hukum dari kebanyakan negara hari ini berdasarkan kepada hukum Roma, dan hukum Roma itu berdasarkan dan ditulis menurut hukum taurat Musa, yaitu Sepuluh Perintah. Sepuluh Perintah ini begitu singkat, namun, perintah-perintah ini begitu lengkap dan mencakup segalanya. Perintah-perintah ini mencakup hubungan kita dengan Allah, hubungan kita dengan orang tua kita, dan hubungan kita dengan orang lain. Jika seseorang tidak membunuh orang-orang, tidak melakukan perzinahan, tidak mencuri dan merampok, tidak mengatakan dusta, dan tidak mengingini, maka ia akan menjadi orang beretika yang top.
Namun, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita sukses atau tidak di dalam memelihara perintah-perintah ini. Sebenarnya, menurut firman Tuhan di dalam Matius, kita telah melanggar perintah-perintah ini. Tuhan mengatakan bahwa setiap orang yang marah terhadap saudaranya akan dikenakan penghakiman (5:21-22). Akhirnya, Tuhan Yesus, di dalam menafsirkan Sepuluh Perintah ini, bukan hanya membereskan tindakan membunuh, melainkan membereskan amarah, yaitu motif membunuh. Marah dan membenci orang lain itu sama dengan membunuh di dalam hukum yang lebih tinggi dari kerajaan surga Tuhan. Ini logis. Jika Anda tidak marah dan tidak membenci, maka Anda tidak pernah membunuh siapa pun. Membunuh berasal dari marah dan membenci. Tuhan Yesus juga maju lebih dalam di dalam pengajaran-Nya mengenai tindakan percabulan secara lahiriah. Sekali lagi, Dia membereskan motif yang di dalam dari hati manusia (Mat. 5:27-28). Ketika Paulus ada di dalam agama Yahudi, ia berusaha untuk memelihara setiap butir dari Sepuluh Perintah ini, tetapi kemudian ia bersaksi bahwa ia tidak berdaya untuk memelihara perintah yang terakhir—“Janganlah kamu mengingini” (Rm. 7:7-8). Perintah ini tidak berhubungan dengan perilaku yang lahiriah, melainkan berhubungan dengan dosa yang ada di dalam manusia.
Untuk mengilustrasikan hal ini, saya suka menceritakan satu kisah tentang seorang misionaris yang berbicara kepada kokinya tentang dosa manusia. Koki China ini adalah seorang yang bangga, dan beretika. Ia mempunyai sikap bahwa orang-orang asing yagn datang ke China melakukan banyak hal yang salah, tetapi ia tidak melakukan sesuatu yang salah. Misionaris ini mengetahui hal ini. Pada satu hari ia bertanya kepada kokinya itu apakah ia penuh dengan dosa. Kemudian misionaris itu mengatakan, “Tentu saya tahu bahwa Anda akan mengatakan bahwa Anda tidak penuh dengan dosa. Tetapi, izinkan saya mengetahui apa yang sedang Anda pikirkan sekarang ini. Sekarang ini, beritahukan kepadaku kebenarannya. Apakah yang sedang Anda pikirkan?” Koki ini kemudian mengaku kepada misionaris itu bahwa ia iri karena misionaris itu mempunyai seekor kuda besar dan bahwa sedang berpikir bagaimana ia bisa mendapatkan kuda ini. Kemudian misionaris itu menjawab, “Ini adalah mengingini. Apakah Anda tidak penuh dengan dosa?” Koki itu harus mengaku bahwa ia penuh dengan dosa.
Bahkan ketika Anda membaca berita ini, mungkin ada sesuatu di dalam hati Anda sekarang ini yang melanggar hukum taurat. Jika seorang saudari mau memberitahukan kepadaku sekarang apa yang ada di dalam hatinya, ia mungkin akan mengatakan, “Pagi ini seorang saudari melukai aku, dan aku tidak bisa mengampuni dia. Aku masih berpikir bagaimana ia bisa melukai aku!” Ini adalah jahat. Hukum taurat menyingkapkan sifat kita yang penuh dengan dosa dan perbuatan-perbuatan kita yang jahat. Hukum taurat itu kudus, benar, baik dan rohani dalam sifatnya, tetapi fungsi hukum taurat adalah perkara lainnya.
2. Satu Gambaran tentang Allah, Karena itu, adalah Kesaksian Allah
Di dalam isinya, hukum taurat juga adalah satu gambaran tentang Allah, karena itu, adalah kesaksian Allah (Mzm. 78:5; 119:88b). Hukum taurat, Sepuluh Perintah ini adalah foto Allah. Karena hukum taurat adalah foto Allah, maka hukum taurat adalah satu kesaksian. Ini seperti mengatakan bahwa gambar kita adalah kesaksian dari diri kita sendiri. Pemazmur mengacukan hukum taurat sebagai kesaksian Allah.
D. Fungsinya
1. Menyingkapkan Orang-orang dalam Sifat Mereka yang penuh dengan Dosa dan dalam Perbuatan-perbuatan Mereka yang jahat
Fungsi hukum taurat adalah untuk menyingkapkan orang-orang dalam sifat mereka yang penuh dengan dosa dan perbuatan-perbuatan mereka yang jahat (Rm. 3:20b; 4:15b; 5:20b; 7:7b). Di dalam hal ini, hukum taurat bekerja seperti sebuah cermin. Jika kita tidak melihat sebuah cermin, maka kita tidak bisa melihat betapa kotornya wajah kita. Tetapi ketika kita melihat cermin, maka kondisi wajah kita yang kotor itu akan tersingkapkan. Hukum taurat bekerja seperti sebuah cermin untuk menyingkapkan sifat kita yang penuh dengan dosa dan perbuatan-perbuatan kita yang jahat.
2. Menjaga Umat Pilihan Allah dan Mengawal Mereka kepada Kristus
Selain itu, dalam fungsinya, hukum taurat dipakai Allah untuk menjaga umat pilihan-Nya dan mengawal mereka kepada Kristus (Gal. 3:23-24). Paulus memberi tahu kita di dalam Galatia bahwa sebelum Kristus datang, Allah memberikan umat pilihan-Nya hukum taurat sebagai satu pengawal untuk menjaga mereka. Kemudian ketika Kristus datang, pengawal ini dipakai Allah untuk mengantarkan dan membawa mereka kepada Kristus. Dengan disingkapkan oleh hukum taurat, ditundukkan oleh hukum taurat, dan diyakinkan oleh hukum taurat, maka umat pilihan Allah akan pergi melalui hukum taurat kepada Kristus.
3. Menundukkan Orang-orang sebagai Orang-orang Dosa yang berada di bawah Penghakiman Allah
Hukum taurat juga berfungsi untuk menundukkan orang-orang sebagai orang-orang dosa di bawah penghakiman Allah (Rm. 3:19). Kita perlu melihat hukum taurat di dalam terang ini. Tujuan Allah dalam memberikan hukum taurat adalah untuk menyingkapkan manusia, menundukkan manusia, dan menjaga atau memelhara umat pilihan Allah bagi Kristus supaya mereka dapat dipimpin kepada Kristus. Jika ktia hanya tinggal di dalam kitab Mazmur, maka kita tidak akan dapat menerima terang semacam ini. Terang ini sungguh datang dari pengajaran Paulus.
E. Kelemahannya
1. Tidak Dapat Memberikan Hayat
Hukum taurat itu baik dan rohani, tetapi ia lemah. Dalam kelemahannya, ia tidak dapat memberikan hayat (Gal. 3:21b). Tidak peduli betapa baik, betapa kudus, betapa benar, dan betapa rohaninya hukum taurat itu, hukum taurat tidak bisa menyalurkan hayat kepada kita. Kita orang-orang dosa bukan hanya jahat melainkan juga mati (Ef. 2:1). Hal mendasar yang kita perlukan adalah hayat. Hukum yang baik, hukum yang benar, hukum yang kudus, hukum yang rohani itu memang baik, tetapi tidak bisa menyalurkan hayat ke dalam kita.
2. Tidak Dapat Melakukan Apa yang Allah Inginkan Karena Ia Lemah melalui Daging
Selain itu, hukum taurat tidak bisa melakukan apa yang Allah inginkan karena ia lemah melalui daging (Rm. 8:3a). Hukum taurat itu sendiri mungkin tidak selemah itu, tetapi hukum taurat diberikan kepada daging, dan daging adalah mitra hukum taurat. Hukum taurat tidak selemah itu, tetapi mitranya, yaitu daging, lemah sampai pada puncaknya. Kita perlu melihat betapa lemahnya kita itu. Banyak dari para saudari yang dengan mudah terluka. Jika Anda melukai mereka, maka mereka tidak akan melupakannya. Mengingat kesalahan-kesalahan orang lain itu tidaklah baik. Alkitab memberi tahu kita bahwa mengampuni berarti melupakan (Ibr. 8:12). Selama kita masih mengingat kesalahan orang lain, maka ini menunjukkan bahwa kita belum mengampuni dia. Pengampunan yang tepat adalah melupakan. Mengampuni dan melupakan keliahtannya adalah satu hal yang kecil, tetapi kita tidak bisa menang sepenuhnya di dalam perkara ini. Ini menunjukkan bahwa kita lemah. Karena kita lemah, dan kita adalah alat bagi hukum taurat, maka hukum taurat menjadi lemah.
Tidak ada daging yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum taurat (Rm. 3:20a; Gal. 3:11a). Ini diulang oleh Paulus baik di dalam Roma maupun Galatia.
F. Menjadi Pusat dan Tuntutan dari Perjanjian yang Lama
Hukum taurat menjadi pusat dan tuntutan dari perjanjian yang lama. Hukum taurat adalah bagi perjanjian yang lama di dalam ekonomi Allah.
G. Dilakukan oleh Perbuatan Manusia
Hukum taurat, sebagai tuntutan dari perjanjian yang lama ini, dilakukan oleh perbuatan manusia (Gal. 3:12b. Hukum taurat harus dilakukan. Tanpa perbuatan manusia, maka hukum taurat itu tidak berarti apa-apa.
H. Mengenai Faedah Pribadi dari Orang-orang Kudus, Seperti Diberkati dalam Kemakmuran
Mazmur 1, yang adalah mengenai hukum taurat di dalam apresiasi manusia, adalah bagi faedah pribadi orang-orang kudus, seprti diberkati dalam kemakmuran (ay. 1-3). Kita perlu membandingkan hal ini dengan pencapaian-pencapaian Kristus mengenai penggenapan dari ekonomi Allah di dalam Mazmur 2. Mazmur 1 adalah bagi faedah pribadi orang-orang kudus, dan Mazmur 2 adalah bagi penggenapan ekonomi Allah. Konsep di dalam Mazmur 1 ini sangat rendah bila dibandingkan dengan wahyu di dalam Mazmur 2.
I. Diapresiasi dan Ditinggikan oleh Orang-orang yang Saleh menurut Konsep Insani, dan Etika Mereka
Di dalam Mazmur 1, hukum taurat diapresiasi dan ditinggikan oleh orang-orang saleh menurut konsep insani dan etika mereka (ay. 2-3). Mazmur 1 dan banyak mazmur lainnya menunjukkan konsep insani dan etika dari orang-orang yang saleh ini dalam meninggikan hukum taurat. Mazmur 1:2-3 mengatakan, “Yang kesukaannya adalah taurat Yehovah, Dan ia merenungkan taurat-Nya itu siang dan malam. Dan ia akan menjadi sebuah pohon yang Ditanam di tepi aliran sungai, Yang menghasilkan buahnya pada musimnya, Dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” Konsep insani di dalam Mazmur 1 ini adalah seorang yang mengapresiasi dan meninggikan hukum taurat.
1. Konsep tentang sebuah Pohon yang Menyerap Air di Sungai-sungai Tidaklah Setinggi Konsep tentang Minum dari Sungai Kesenangan-kesenangan Allah di dalam Mazmur 36:8
Satu konsep di dalam Mazmur 1:2-3 adalah tentang sebuah pohon yang menyerap di tepi air sungai, dan konsep lainnya di dalam Mazmur 36:8 adalah tentang minum dari sungai kesenangan-kesenangan Allah di dalam rumah Allah. Konsep minum ini adalah yang paling tinggi. Keseratus lima puluh mazmur, yang tersusun di dalam lima kitab ini, disusun menurut urutan yang baik. Mazmur-mazmur ini semakin maju secara progresif, tahap demi tahap, sampai tingkat wahyu yang paling tinggi. Selain itu, akhir dari setiap kitab ini lebih tinggi daripada permulaannya. Kitab 1 berisi empat puluh satu mazmur. Mazmur 36 jauh lebih tinggi daripada Mazmur 1. Di dalam Mazmur 36, pemazmur menagtakan, “Sekarang aku bisa menikmati kelimpahan dari rumah-Mu, bait-Mu, dan aku bisa minum dari sungai-sungai kesenangan-Mu di dalam bait-Mu” (ay. 8). Pemazmur di sini tidak membicarakan tentang hukum taurat. Ia telah naik dari lantai satu ke lantai tiga puluh enam. Bila kita membandingkan Mazmur 1 dengan Mazmur 36, maka kita bisa melihat perbedaannya.
2. Perjanjian Baru Memiliki Konsep Tanaman-tanaman yang Menyerap Air dan Konsep tentang Air Hidup dari Sungai Ilahi yang Mengalirkan Sungai-sungai Air Hidup
Perjanjian Baru memiliki konsep tentang tanaman-tanaman yang menyerap air dan konsep tentang minum air hidup dari sungai ilahi yang mengalirkan sungai-sungai air hidup (1 Kor. 3:6; Yoh. 4:10, 14; Why. 21:6; 22:1, 17b; Yoh. 7:38-39). Di dalam 1 Korintus 3:6, Paulus mengatakan bahwa ia menanam dan Apolos menyiram. Di sana kita bisa melihat konsep tentang tanaman-tanaman yang menyerap air. Di dalam Yohanes dan Wahyu, kita melihat bahwa bila kita minum sungai air hidup, maka kita akan mengalirkan sungai-sungai di dalam kita.
Apakah kita ingin menyerap sedikit air dari tepi aliran sungai ataukah mau “tergila-gila” untuk minum dari air hidup danmengalirkan sungai-sungai dari dalam kita? Apakah kita puas tinggal di dalam Mazmur 1? Ke manakah kita seharusnya pergi? Kita harus pergi ke Wahyu 22! Wahyu 22 adalah “mazmur” yang terakhir. Di dalam Mazmur 1 kita menyerap sedikit air sedikit demi sedikit. Kadang-kadang sebuah sungai itu bisa kering, dengan tidak ada air untuk diserap oleh pepohohan. Tetapi di dalam “mazmur” yang terakhir, yang itu di dalam pasal yang terakhir dari Wahyu, sebuah sungai air hayat mengalir untuk kita minum. Ini jauh lebih tinggi daripada seperti sebuah pohon menyerap air.
3. Konsep tentang Menyerupakan Orang-orang Kudus dengan sebuah Pohon Tidak Setinggi Konsep Mewahyukan Kaum Beriman Perjanjian Baru sebagai Ranting-ranting dari Anggur yang Benar—Kristus—di dalam Yohanes 15
Selain itu, konsep tentang menyerupakan orang-orang kudus dengan sebuah pohon ini tidaklah setinggi konsep mewahyukan kaum beriman Perjanjian Baru sebagai ranting-ranting dari pohon anggur yang benar—Kristus—di dalam Yohanes 15. Hari ini, apakah kita hanya pohon atau apakah kita adalah ranting-ranting? Jika kita adalah pohon, maka kita berdiri dengan diri kita sendiri. Itu miskin karena Kristus terpisah daripada kita, dan di dalam satu hal, kita bersaing dengan Dia, karena Dia adalah sebuah pohon dan kita juga adalah sebuah pohon. Tetapi wahyu Perjanjian Baru pada akhirnya menunjukkan kepada kita bahwa sebenarnya kita bukanlah tanaman-tanaman Allah karena diri kita sendiri. Kita adalah tanaman-tanaman Allah melalui dicangkokkan ke dalam Kristus untuk dijadikan ranting-ranting Kristus sebagai pohon anggur sejati yang besar. Menjadi ranting-ranting dari pohon anggur yang benar itu jauh lebih tinggi daripada menjadi sebuah pohon secara individu.
Gereja-gereja lokal bukanlah banyak pohon. Gereja-gereja itu sebenarnya adalah satu pohon dengan jutaan ranting. Satu pohon ini adalah Kristus, pohon anggur yang besar, dan kita adalah ranting-ranting dari pohon ini. Kita adalah anggota-anggota Kristus (1 Kor. 6:15a; Rm. 12:5). Semua gereja adalah satu Tubuh, satu pohon. Semua kaum beriman adalah anggota-anggota dari Tubuh ini dan ranting-ranting dari pohon yang unik ini.
4. Konsep Insani di dalam Mazmur 1 Adalah Bahwa Manusia Yang Suka akan Taurat Allah akan Berhasil di dalam Segala Sesuatu, tetapi Pengalaman Pemazmur di dalam Mazmur 73 Berlawanan
Konsep insani di dalam Mazmur 1 adalah bahwa manusia yang suka akan taurat Allah akan berhasil di dalam segala sesuatu, tetapi pengalaman pemazmur di dalam Mazmur 73:1-7, 13-17, dan 23-26 berlawanan. Ia saleh dan tidak diragukan lagi, ia suka akan taurat Allah; namun ia banyak menderita dan orang yang tidak ibadah berhasil/makmur. Akhirnya, ia diajar, di dalam tempat kudus Allah, untuk hanya menerima Allah sendiri sebagai porsinya, bukan sesuatu selain dari Allah.
Pemazmur yang saleh di dalam Mazmur 73 ini terganggu. Ia suka akan hukum taurat, tetapi ia sangat menderita sementara itu orang-orang jahat berhasil. Ia terganggu sampai ia masuk ke dalam tempat kudus Allah, yaitu, ke dalam rumah Allah. Kemudian ia menjadi jelas. Di sana di bawah wahyu Allah, ia diajar untuk hanya memiliki Allah sendiri sebagai porsinya. Akhirnya, ia mengumumkan bahwa ia tidak memiliki seorang pun di surga atau pun seorang pun di bumi ini selain Allah, yaitu porsinya yang kekal (ay. 25-26).
Jika Tuhan menghendaki, kita akan mempelajari nabi-nabi kecil di pelatihan musim panas yang akan datang pada tahun 1992. Kemudian di musim dingin, kita berharap bisa mempelajari Ayub. Di dalam kitab Ayub, ada satu kontroversi yang besar. Ayub sangat menderita. Keluarganya, harta kekayaannya, dan kesehatannya dihancurkan (Ayb. 1:13—2:8). Kemudian ketiga teman Ayub datang untuk berbicara dengannya. Yang mereka bicarakan itu adalah omong kosong. Mereka memberi tahu Ayub bahwa ia pasti salah dalam sesuatu. Jika tidak demikian, Allah tidak akan menghukumnya secara demikian. Ayub menghadapi mereka dengan mengatakan bahwa ia tidak salah dalam hal apapun. Ketiga teman ini berbicara kepada Ayub seorang demi seorang dan berulang kali di seluruh kitab Ayub. Namun, Ayub tidak mau ditundukkan oleh mereka. Akhirnya, Allah datang dan menghentikan mulut setiap orang. Pembicaraan Allah kepada Ayub membuka matanya. Ayub mengatakan, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (42:5). Ayub mendengar tentang Allah, tetapi ia tidak pernah melihat Allah. Setelah melalui penderitaan-penderitaannya, ia melihat Allah. Jika seseorang yang mengasihi Tuhan menderita, maka pada dasarnya penderitaannya itu bukanlah perkara ia benar atau salah. Yang Allah perhatikan adalah kita memiliki lebih banyak Allah di dalam batin kita.
Kira-kira tiga atau empat tahun yang lalu, saya pergi ke dokter mata saya untuk diperiksa. Ia telah merawat saya sejak 1975, dan ia melakukan perngoperasian terhadap mata saya untuk menyingkirkan kataraknya. Saya memberi tahu dia bahwa mata saya ini mengganggu saya, dan saya bertanya kepadanya mengapa. Ia menjawab dengan mengatakan, “Ini adalah penderitaan-penderitaan Ayub.” Melalui ini, ia menunjukkan kepada saya bahwa penderitaan saya itu tanpa penyebab apa pun dan bahaw ia tidak bisa membantu saya lagi. Penderitaan-penderitaan Ayub selalu datang dari pengaturan Allah. Setiap orang tua berharap untuk memiliki anak-anak yang baik, dan mereka mungkin membayangkan mengapa anak-anak mereka itu buruk. Seorang saudara mungkin membayangkan mengapa istrinya tidak sebaik istri-istri orang lain, dan seorang saudara mungkin membayangkan mengapa suaminya itu begitu tidak cakap. Ini adalah penderitaan-penderitaan Ayub. Hari ini saya masih mengalami penderitaan-penderitaan Ayub.
5. Pengajaran Tuhan di dalam Perjanjian Baru Adalah “Berbahagialah Orang Yang Dianiaya [Bukan yang Berhasil/Makmur] Demi Kebenaran
Pengajaran Tuhan di dalam Perjanjian Baru mengatakan, “Berbahagialah orang yang dianiaya [bukan yang berhasil/makmur] demi kebenaran” (Mat. 5:10). Seorang saudara mungkin adalah seorang yang lapar dan haus akan kebenaran (ay. 6), namun ia dianiaya. Saya tidak mengatakan bahwa penganiayaan ini adalah penderitaan-penderitaan Ayub, tetapi saya ingin mengatakan bahwa ini adalah menurut ekonomi Allah.
J. Orang-orang yang kepadanya Hukum Taurat Diberikan Akan Dihakimi menurut Hukum Taurat
Orang-orang yang kepadanya hukum taurat diberikan akan dihakimi menurut hukum taurat (Mzm. 1:5-6; Rm. 2:12). Paulus memberi tahu kita di dalam Roma 2:12 bahwa pada satu semua manusia akan berdiri di hadapan Allah untuk dihakimi. Tetapi orang-orang yang telah menerima hukum taurat akan dihakimi oleh Allah menurut hukum taurat. Orang-orang yang tidak menerima hukum taurat akan dihakimi oleh Allah menurut hati nurani mereka (ay. 15-16).
K. Diakhiri oleh Kristus
Hukum taurat diakhiri oleh Kristus (Rm. 10:4a). Kristus adalah akhir dari hukum taurat, penutup dari hukum taurat, pengganti hukum taurat. Kristus datang untuk menggenapkan hukum taurat (Mat. 5:17) agar Dia dapat mengakhiri hukum taurat dan menggantikannya (Rm. 8:3-4). Jadi, setiap orang yang percaya kepada-Nya menerima kebenaran Allah, yang adalah Kristus itu sendiri.
L. Kaum Beriman Perjanjian Baru Tidak berada di bawah Hukum Taurat
Kaum beriman Perjanjian Baru tidak berada di bawah hukum taurat (Rm. 6:14b). Haleluya! Kita tidak lagi berada di bawah hukum taurat, tetapi sekarang kita berada di bawah kasih karunia.