← Daftar isi Mazmur (1) · bab 1/42

KATA PEMBUKAAN

Pembacaan Alkitab: Mzm. 1:2, 6; 2:6-7, 12; Luk. 24:44

Di dalam konperensi belakangan ini, ada empat poin utama yang saya ingin agar kita mencatatnya di dalam kata pembukaan untuk Mazmur ini:

1) Ekonomi Allah adalah menghasilkan satu organisme bagi Trinitas Ilahi-Nya.

2) Hukum taurat di dalam ekonomi Allah dipakai oleh untuk menyingkapkan sifat dosa dan perbuatan-perbuatan jahat dari orang-orang dosa.

3) Kasih karunia di dalam ekonomi Allah adalah perwujudan Allah agar manusia menerimanya untuk menjadi kenikmatan dan suplaiannya.

4) Hasil dari pengalaman terhadap kasih karunia di dalam ekonomi Allah adalah Tubuh organik Kristus, yang rampung dalam Yerusalem Baru.

Saya memuji Tuhan karena pengaturan kedaulatan-Nya di dalam mengizinkan kita untuk memiliki konperensi ini dengan empat poin utama sebelum kita memulai pelajaran-hayat Mazmur ini. Di dalam Mazmur, kita akan melihat empat poin utama ini.

Mazmur yang pertama adalah mengenai hukum taurat. Daud tidak mengenal fungsi hukum taurat yang sesungguhnya. Ia menyamakan dirinya seperti seorang yang menyukai hukum taurat, seperti sebuah pohon yang tumbuh di tepi aliran air dan yang subur sepanjang waktu (ay. 3). Tetapi setelah Mazmur 1, adalah Mazmur 2 mengenai Kristus. Kemudian ada Mazmur 3. Pembukaan dari Mazmur 3 mengatakan, “Mazmur Daud, ketika ia lari dari Absalom, anaknya.” Seorang yang menikmati hukum taurat seperti aliran air yang di tepinya ia tumbuh itu menjadi seorang buangan karena pemberontakan putranya. Hal ini terjadi kepada Daud karena ia membunuh Uria dan karena ia mengambil istri Uria (2 Sam. 12:10-12). Seorang yang begitu menikmati hukum taurat di dalam Mazmur 1 ini menjadi seorang yang dengan sengaja membunuh. Apakah ini menunjukkan bahwa hukum taurat itu berkhasiat? Hukum taurat berkhasiat/bekerja tetapi bukan dengan cara Daud. Hukum taurat bekerja untuk menyingkapkan kita. Hukum taurat menyingkapkan Daud sampai puncak sebagai seorang yang bersekongkol untuk membunuh Uria dan merampas Uria dari istrinya. Apakah hukum taurat berkhasiat/bekerja atau tidak? Kita harus mengatakan bahwa hukum taurat bekerja, tetapi bukan menurut konsep Daud di dalam Mazmur 1, melainkan menurut pengajaran rasul Paulus di dalam Perjanjian Baru. Paulus menunjukkan bahwa hukum taurat adalah sesuatu yang ditambahkan kepada garis sentral dari wahyu ilahi untuk menyingkapkan sifat manusia yang penuh dengan dosa dan perbuatan-perbuatannya yang jahat (Rm. 3:20b; 5:20a). Kita perlu pandangan akan hukum taurat ini untuk memahami Mazmur menurut konsep ilahi di dalam Perjanjian Baru. Kita bukan berada di dalam Perjanjian Lama seperti Daud, melainkan kita ada di dalam Perjanjian Baru.

I. MAZMUR ADALAH:

A. Bukan satu Kitab tentang Doktrin-doktrin atau Semacam Ajaran-ajaran

Kitab Mazmur bukanlah kitab tentang doktrin-doktrin atau semacam ajaran-ajaran. Tulisan-tulisan Mazmur ada dalam bentuk pujian-pujian. Pujian-pujian ini bukan disusun oleh doktrin-doktrin atau pemahaman akan ajaran-ajaran.

B. Melainkan satu Kitab tentang Expresi-ekspresi dari Perasaan-perasaan, Kesan-kesan, dan Pengalaman-pengalaman dari Orang-orang yang Saleh/Beribadah

Kitab Mazmur tersusun dari ekspresi-ekspresi dari perasaan-perasaan, kesan-kesan dan pengalaman-pengalaman dari orang-orang yang saleh. Ini adalah kunci yang sangat penting bagi kita untuk memahami Mazmur. Jika kita tidak mengambil kunci ini, maka kita tidak akan memiliki jalan untuk memahami kitab ini. Tidak melihat kunci ini adalah satu kesalahan yang besar yang telah dibuat oleh kebanyakan orang Kristen.

Kitab Mazmur bukanlah satu kitab tentang kisah-kisah, melainkan satu kitab tentang wahyu ilahi melalui ekspresi-ekspresi dari perasaan-perasaan, kesan-kesan, dan pengalaman-pengalaman dari orang-orang saleh mengenai delapan hal. Kita perlu melihat apa kedelapan hal ini; jika tidak demikian, kita tidak akan dapat memahami Mazmur. Delapan hal ini adalah:

1) Allah dan cara Dia di dalam penanggulangan-Nya terhadap mereka.

2) Hukum taurat Allah sebagai Firman kudus dengan wahyu ilahi.

3) Rumah Allah, bait Allah dan Bukit Sion yang di atasnya bait itu didirikan, sebagai pusat dari tempat kediaman Allah di bumi.

4) Kota kudus Allah, yaitu Yerusalem, sebagai perlindungan yang meliputi rumah Allah

5) Umat kudus Allah, yaitu Israel, sebagai umat pilihan-Nya yang kekasih di antara bangsa-bangsa.

6) Kasih mereka terhadap Allah, persekutuan mereka dengan Allah, berkat-berkat yang mereka terima dari Allah, penderitaan-penderitaan di bawah penanggulangan Alah, dan lingkungan mereka.

7) Penawanan mereka.

8) Ucapan syukur dan pujian-pujian mereka kepada Yehovah Allah mereka, yang mereka kecap dan nikmati.

Pemazmur-pemazmur, sebagai orang-orang yang saleh, mengasihi hukum taurat, mengasihi Allah, mengasihi bait, mengasihi kota kudus, dan mengasihi umat kudus, tetapi akhirnya, mereka dibuang. Mereka dibawa masuk ke dalam penawanan. Hukum taurat, setelah diberikan, menghasilkan penawanan. Yeremia menunjukkan penawanan dan pembuangan yang kasihan yang dialami oleh umat Israel. Mereka mengalami penawanan demi penawanan serta pembuangan demi pembuangan. Banyak dari antara mereka yang terbunuh di Babel. Hanya sedikit sisa dari mereka yang masih hidup, tetapi mereka tidak mau mengambil firman Allah untuk tetap tinggal di negeri mereka yang kudus. Sebaliknya, mereka ingin pergi ke Mesir. Mereka pergi ke sana untuk dibuang (Yer. 42:1—43:7).

Hukum taurat Perjanjian Lama yang diberikan oleh Allah melalui Musa mutlak menghasilkan penawanan. Penawanan datang karena kegagalan untuk melaksanakan perjanjian yang pertama. Karena perjanjian yang lama itu mutlak merupakan satu kegagalan, maka Yeremia mengatakan bahwa Allah akan membuat satu perjanjian yang baru (31:31-34). Bahkan menjelang akhir dari zaman rasul-rasul sebermula, kaum beriman Perjanjian Baru telah masuk ke dalam penawanan karena fakta bahwa mereka tetap tinggal di dalam perjanjian yang lama meskipun mereka telah ditaruh ke dalam perjanjian yang baru. Gereja Khatolik adalah satu percampuran dari Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Upacara-upacara, formalitas-formalitas, dan bahkan pakaian dari pendeta mereka adalah satu percampuran dari Perjanjian Lama. Aliran Pentakosta hari ini juga merupakan satu percampuran dari Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Ini adalah bukti-bukti bahwa kaum beriman Perjanjian Baru hari ini pun telah masuk ke dalam penawanan sebagai hasil dari memelihara praktek-praktek Perjanjian Lama dengan hukum tauratnya. Akhirnya, para pemazmur berpaling dari menikmati hukum taurat yang mereka sukai itu kepada menikmati Allah mereka yang mereka kasihi dan yang mereka cari.

II. MAZMUR DITULIS MENURUT DUA JENIS KONSEP

Mazmur ditulis menurut dua jenis konsep. Kita juga telah mengambil poin ini. Jika tidak demikian, kita tidak akan bisa memahami Mazmur ini dengan tepat.

A. Konsep Insani dari Para Penulis yang Kudus

Konsep pertama, yang menurutnya Mazmur ini ditulis, adalah konsep insani dari para penulis yang kudus. Konsep insani mereka dihasilkan dari sifat baik mereka yang diciptakan oleh Allah, yang dibentuk dengan tradisi-tradisi dari ras kudus mereka, disusun dengan pengajaran-pengajaran dari Kitab Suci, dipertimbangkan oleh praktek kehidupan kudus mereka, dan diungkapkan dari perasaan-perasaan dan kesan-kesan kudus mereka. Ini adalah susunan dari konsep insani dari para penulis yang kudus dari Mazmur. Mereka berasal dari ras yang kudus, yang memiliki Pentatuk, yaitu lima pertama dari kitab Musa. Mereka adalah satu umat yang sangat berbudaya. Tradisi-tradisi dari ras kudus mereka membentuk konsep insani mereka yang menurutnya banyak dari mazmur ini ditulis.

B. Konsep Ilahi Allah

Mazmur ini juga ditulis menurut konsep-konsep ilahi Allah sebagai wahyu ilahi. Konsep ilahi Allah sebagai wahyu ilahi ini adalah menurut ekonomi kekal-Nya di dalam Kristus, mengambil Kristus sebagai sentralitas dan universalitasnya. Ini juga adalah mengenai Kristus di dalam keilahian, keinsanian, penghidupan insani, kematian yang almuhit, penyaluran hayat-Nya dan kebangkitan-Nya yang menghasilkan benih, pemuliaan, kenaikan, penampakkan di dalam kemuliaan dan pemerintahan-Nya untuk selama-lamanya. Semua poin ini dengan jelas dan bahkan dengan terperinci diwahyukan di dalam Mazmur. Konsep ilahi di dalam Mazmur juga adalah mengenai kedambaan hati Allah, kerelaan kehendak-Nya di dalam Kristus sebagai sentralitas dan universalitas-Nya, di dalam gereja sebagai kepenuhan-Nya bagi ekspresi-Nya, di dalam kerajaan bagi administrasi kekal-Nya, dan di dalam pemulihan terhadap bumi ini bagi kerajaan kekal-Nya di dalam kekekalan. Konsep ilahi Allah ini diungkapkan dari para penulis mazmur yang saleh sebagai satu bagian dari pengungkapan di dalam tulisan-tulisan kudus mereka. Para penulis yang sama ini mengungkapkan dua jenis konsep—konsep insani dan konsep ilahi.

Kita perlu menerapkan dua jenis konsep ini kepada Mazmur 1 dan Mazmur 2. Mazmur 1 mengatakan:

1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang jahat, Ataupun berdiri di jalan orang berdosa, Ataupun duduk di dalam kumpulan pencemooh;

2.Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Yehovah, Dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

3 Dan ia akan seperti pohon, yang Ditanam di tepi aliran air, Yang menghasilkan buahnya pada musimnya, Dan yang tidak layu daunnya; Dan apa saja yang diperbuatnya berhasil.

4 Bukan demikian orang jahat, Mereka seperti sekam Yang ditiupkan angin.

5 Sebab itu orang jahat tidak akan tahan di dalam penghakiman; Begitu pula orang berdosa, di dalam perkumpulan orang benar;

6 Sebab Yehovah mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang jahat akan binasa.

Menurut konsep apakah Mazmur 1 ini ditulis? Apakah Mazmur 1 ini baik atau tidak? Sungguh mazmur ini adalah satu mazmur yang baik, namun ditulis menurut konsep manusia. Di dalam Mazmur 1, pemazmur mengatakan bahwa orang yang menyukai taurat Yehovah akan berhasil di dalam segala sesuatu yang dilakukannya, tetapi pada akhirnya pemazmur-pemazmur ini tidak berhasil. Mereka menderita. Di dalam Mazmur 73, pemazmur terganggu. Ia berpikir bahwa ia telah membersihkan hatinya dengan sia-sia karena ia diserang malapetaka dan dihukum (ay. 13-14). Di lain pihak, ia melihat semua orang yang jahat berhasil (ay. 3). Ia terganggu sampai ia masuk ke dalam tempat kudus Allah, yaitu bait Allah (ay. 17). Kemudian ia menerima wahyu, dan ia dipimpin untuk tidak memiliki apa-apa di surga maupun memiliki sesuatu di bumi melainkan hanya memiliki Allah (ay. 25). Maka, ia mengumumkan bahaw Allah adalah porsinya yang hidup (ay. 26); bukan hukum taurat, melainkan Allah sendiri adalah porsinya.

Ini menunjukkan kepada kita bahwa Mazmur 1 itu baik, tetapi ditulis dengan satu konsep yang salah. Hukum taurat bukan diberikan bagi kita untuk menjaga keberhasilan kita. Sebaliknya, hukum taurat diberikan untuk menyingkapkan kita. Penulis Mazmur 1, yaitu Daud, disingkapkan oleh hukum taurat sebagai seorang pembunuh dan seorag perampas istri seseorang. Karena apa yang telah dilakukannya, maka situasi pada seluruh keluarganya menjadi satu kekacauan. Perzinahan dan pembunuhan ada di antara anak-anaknya (2 Sam. 13:1-29), dan pemberontakan datang dari anaknya, yaitu Absalom (15:7-12). Mazmur yang ketiga adalah satu mazmur dari Daud ketika ia melarikan diri dari anaknya yang memberontak. Jadi, kita tidak seharusnya terlalu memuji Mazmur 1. Mazmur ini ditulis dengan salah, dengan satu konsep yang salah, yaitu konsep manusia.

Sekarang marilah kita membaca Mazmur 2:

1 Mengapa rusuh bangsa-bangsa, Dan mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?

2 Raja-raja di bumi bersiap-siap, Dan para penguasa bermufakat bersama-sama, Melawan Yehovah dan melawan Yang diurapi-Nya:

3 Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka Dan membuang tali-tali mereka daripada kita.

4 Dia yang bersemayam di sorga tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka.

5 Maka Dia mengatakan kepada mereka dalam amarah-Nya, Dan Dia mengejutkan mereka dengan murka-Nya yang menyala-nyala:

6 Tetapi Aku telah melantik raja-Ku Di Sion, Gunung-Ku yang kudus.

7 Aku mau menceritakan tentang ketetapan Yehovah; Dia mengatakan kepadaku, Engkau adalah Anak-Ku; Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.

8 Mintalah kepada-Ku, Dan bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu sebagai warisanmu Dan ujung-ujung bumi sebagai milikMu.

9 Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi; Engkau akan memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.

10 Sebab itu sekarang, Hai raja-raja, bertindaklah bijaksana; Terimalah peringatan, Hai hakim-hakim di bumi.

11 Layanilah Yehovah dengan takut, Dan bersukacitalah dengan gemetar.

12 Ciumlah sang Putra Supaya Dia jangan marah dan kamu binasa di jalan; Sebab amarah-Nya bisa tiba-tiba menyala. Diberkatilah semua orang yang berlindung di dalam-Nya.

Yang Diurapi Yehovah di dalam ayat 2 dan Raja di dalam ayat 6 ini adalah Kristus. Anak di dalam ayat 7 juga adalah Kristus sebagai Dia yang telah bangkit. Dia adalah Putra tunggal Allah dari kekekalan (Yoh. 1:18; 3:16), tetapi Dia perlu diperanakkan lagi di dalam kebangkitan-Nya untuk menjadi Putra sulung Allah (Kis. 13:33; Rm. 8:29). Mazmur 2:8 mengatakan bahwa bangsa-bangsa dan bumi akan diberikan kepada Kristus. Bangsa-bangsa akan menjadi warisan-Nya, dan bumi akan menjadi milik-Nya.

Kita perlu mempertimbangkan mengapa Mazmur ini disusun dengan Mazmur 1 sebagai mazmur yang pertama dan Mazmur 2 sebagai yang mazmur yang kedua. Mazmur 1 mutlak tidak berhubungan dengan Mazmur 2. Daud mengatakan bahaw orang yang menyukai hukum taurat dan merenungkan hukum taurat itu akan diberkati dan akan berhasil di dalam segala sesuatu yang dilakukannya. Sementara ia menyatakan ini, Allah datang untuk membuat satu deklarasi mengenai Kristus di dalam Mazmur 2, yang bunyinya, “Aku telah mengurapi Dia dan mengangkat Dia sebagai Raja. Dia akan berhasil karena Dia akan memperoleh seluruh bumi sebagai milik-Nya, dan Dia akan memperoleh seluruh bangsa sebagai warisan-Nya. Diberkatilah orang-orang yang berlindung di dalam Dia. Engkau haru mencium Dia.”

Kedua mazmur ini adalah dua jenis deklarasi. Yang satu dibuat oleh pemazmur menurut konsep insaninya, dan deklarasi yang kedua dibuat oleh Allah menurut konsep ilahi-Nya, mengenai Kristus sebagai sentralitas dan universalitas-Nya. Kita harus mengatakan amen kepada konsep ilahi Allah di dalam Mazmur 2 ini. Di mata Allah, ini bukanlah perkara kita memelihara hukum taurat. Di mata Allah, ini adalah perkara berlindung di dalam Kristus dan mencium Dia. Berlindung di dalam Kristus berarti percaya kepada-Nya, dan mencium Dia berarti mengasihi Dia. Ini adalah menurut konsep ilahi dari Perjanjia Baru. Kita perlu percaya kepada Kristus dan mengasihi Kristus. Dengan berbuat demikian, kita akan diberkati.

Sudahkah Anda melihat perbedaan di antara kedua konsep di dalam Mazmur 1 ini? Melalui seorang penulis, yaitu Daud, kedua deklarasi yang berbeda ini keluar di dalam Mazmur 1 dan 2. Mazmur 1 adalah deklarasi yang dibuat oleh Daud, dan Mazmur 2 juga adalah deklarasi yang dibuat oleh Daud. Mazmur 1 dideklarasikan menurut konsep insaninya. Mazmur 2 juga adalah deklarasinya, tetapi menurut konsep ilahi. Pertama-tama, konsep insani keluar dari seorang pembicara ini. Tetapi ketika ia berbicara secara insani, nadanya berubah! Pembicaraan lainnya muncul menurut konsep ilahi.

Banyak pengkhotbah yang telah membicarakan tentang Mazmur 1, dan meninggikan mazmur ini. Tetapi sulit menemukan ada seseorang yang telah membicarakan tentang Mazmur 2 dengan tepat. Kelihatannya tidaklah banyak yang memahami Mazmur 2. Dulu ketika kita membaca Mazmur 1 dan 2, kita mungkin sangat mengapresiasi Mazmur 1. Betapa baiknya Mazmur 1 itu bagi kita! Tetapi Mazmur 2 ini mungkin telah masuk ke dalam kategori porsi-porsi dari Kitab Suci yang tidak kita pahami. Kita semua perlu melihat dua jenis konsep ini, yaitu konsep insani dan konsep ilahi, di dalam Mazmur, seperti yang terlihat di dalam Mazmur 1 dan 2.

C. Konsep Insani dari Para Penulis yang Kudus yang Meninggikan Hukum Taurat sebagai Penekanan Sentral Mereka

Saya harap agar kita mengingat poin-poin mengenai konsep insani dan konsep ilahi ini di dalam kitab Mazmur. Konsep insani dari para penulis yang kudus meninggikan hukum taurat sebagai penekanan sentral mereka dengan memustikakan hukum taurat dan tetap tinggal di dalamnya sepanjang hidup mereka.

D. Konsep Ilahi tentang Penyingkapan Allah yang Meninggikan Kristus sebagai Penekanan Sentral-Nya

Konsep ilahi tentang penyingkapan Allah yang meninggikan Kristus sebagai sentral-Nya untuk memalingkan konsep insani dari para penulis yang kudus ini dari hukum taurat kepada Kristus menurut konsep ilahi dari wahyu ilahi.

III. ISI DARI KITAB INI

A. Kitab Mazmur, Tersusun dari Seratus Lima Puluh Pasal, Dibagi menjadi Lima Kitab

Kitab Mazmur, yang tersusun dari seratus lima puluh pasal ini, dibagi menjadi lima kitab. Mazmur 1—41 adalah kitab yang pertama; Mazmur 42—72 adalah kitab yang kedua; Mazmur 73—89 adalah kitab yang ketiga; Mazmur 90—106 adalah kitab yang keempat; dan Mazmur 107—150 adalah kitab yang kelima. Kelima kitab ini bisa disamakan dengan lima lantai/tingkat dari satu gedung. Kitab yang pertama adalah lantai dasar, sedangkan kitab yang kelima adalah lantai yang tertinggi. Kitab yang kelima adalah satu kitab tentang pujian-pujian dengan ucapan-ucapan syukur.

B. Isi dari Mazmur-mazmur yang menurut Konsep Insani

Kelihatannya, menurut konsep insani, seluruh Mazmur itu adalah ekspresi-ekspresi dari perasaan-perasaan dan kesan-kesan dari orang-orang yang saleh yang sangat intim dengan Allah.

C. Isi dari Mazmur-mazmur yang menurut Konsep Ilahi

Sebenarnya, menurut konsep ilahi, pokok pikiran dari kitab Mazmur adalah Kristus, seperti yang diwahyukan dengan kata-kata yang jelas (Luk. 24:44), dan gereja sebagai rumah Allah dan kota Allah bagi kerajaan-Nya, seperti yang dilambangkan oleh bait dan kota Yerusalem.

Jadi, kitab Mazmur adalah satu kitab, tetapi dalam juga jenis nada. Nada yang pertama diungkapkan menurut konsep insani, dan nada yang kedua diungkapkan menurut konsep ilahi. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Tidak diragukan lagi, para penulis yang kudus ini salah di dalam pemahaman mereka menurut konsep insani mereka, tetapi mereka tetap adalah orang-orang yang saleh. Mereka sangat dekat dengan Allah. Karena itu, ketika mereka berbicara dengan salah, Allah datang untuk berbicara melalui mereka. Karena mereka begitu intim, begitu dekat, dan bahkan begitu bersatu dengan Allah, maka ketika mereka berbicara, Allah datang untuk berbicara di dalam pembicaraan mereka. Kita tidak boleh memisahkan Mazmur 1 dari Mazmur 2. Kedua mazmur ini adalah satu pembicaraan yang diungkapkan oleh Daud. Mazmur yang pertama diungkapkan menurut konsep insani yang diucapkan oleh Daud secara langsung. Mazmur yang kedua juga adalah pembicaraan Daud, tetapi sebenarnya diucapkan oleh Allah.

Kemudian di dalam Mazmur 3 sampai 7, ada nada Daud lagi, tetapi di dalam Mazmur 8, nada Allah datang. Mazmur 3 sampai 7 menunjukkan kepada kita betapa miskin dan penuh kesulitannya situasi di bumi ini. Tetapi Mazmur 8 dimulai dengan perkataan, “O Yehovah Tuhan kami, Betapa unggulnya nama-Mu Di seluruh bumi” (ay. 1). Ketika nama-Nya tidak hadir, maka bumi ini adalah satu kekacauan. Ketika nama-Nya ada di sini di bumi ini, maka bumi ini unggul. Ini adalah nama dari Dia yang telah menjadi seorang manusia, menjadi sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat, dan nama dari Dia yang telah melalui kehidupan insani dan mati, bangkit serta naik ke surga untuk dimuliakan dan dihormati (ay. 5-6). Ketika nama Dia ini ada di bumi ini, maka bumi ini menjadi unggul.

Hari ini di koran-koran, pembunuhan-pembunuhan itu dilaporkan sepanjang waktu. Kita harus mengingatkan para saudari agar mereka tidak keluar rumah sendirian setelah sidang-sidang di malam hari. Bisakah kita mengatakan bahwa ada keunggulan di bumi pada hari ini? Jika kita ingin membuat bumi ini menjadi unggul, maka kita perlu memberitakan injil dan mengubah orang-orang dosa menjadi orang-orang Kristen. Harinya akan tiba di mana seluruh bumi akan menjadi unggul karena nama Tuhan pada akhirnya akan unggul di seluruh bumi ini. Inilah konsep ilahi. Menurut konsep ilahi Allah, pokok pikiran di dalam lima kitab dari Mazmur ini adalah Kristus dan gereja.

1. Kitab yang Pertama

Kitab yang pertama menunjukkan bahwa maksud Allah adalah memalingkan orang-orang kudus dari hukum taurat kepada Kristus supaya mereka dapat menikmati rumah Allah—gereja. Di dalam Kitab 1 ada empat puluh satu mazmur. Di dalam Mazmur 1, pemazmur mengapresiasi hukum taurat sampai pada puncaknya, tetapi di dalam Mazmur 27 ia tidak lagi mengapresiasi hukum taurat. Sebaliknya, ia mengapresiasi perkara tinggal di dalam rumah Allah untuk memandang keelokan Allah. Ia damba untuk tinggal di dalam rumah Yehovah sepanjang hidupnya (ay. 4). Ini berarti menikmati Allah, bukan hukum taurat, di dalam rumah Allah. Kemudian di dalam Mazmur 36, pemazmur mengumumkan bahwa mereka akan dipuaskan dengan berlimpah dengan lemak dari rumah Yehovah. Di dalam rumah Allah, mereka bisa minum dari sungai kesenangan-Nya. Pemazmur juga mengatakan bahwa pada Allah ada sumber hayat dan di dalam terang-Nya, kita bisa melihat terang (ay. 8-9). Sungguh ada satu perbedaan yang bisa kita lihat di antara Mazmur 1 dan Mazmur 27 dan 36. Mazmur 1 dimulai dari lantai dasar, basement. Tetapi di dalam Mazmur 27 dan 36, pemazmur telah sampai ke “lantai lima.” Mereka naik dari basement. Kita perlu naik dari basement di dalam apresiasi kita ke tingkat yang lebih tinggi dari konsep ilahi.

2. Kitab yang Kedua

Kitab 2 menunjukkan bahwa orang-orang kudus mengalami Allah dan rumah dan kota-Nya melalui Kristus yang menderita, ditinggikan, dan memerintah.

3. Kitab yang Ketiga

Kitab 3 menunjukkan bahwa orang-orang kudus, di dalam pengalaman mereka, menyadari bahwa rumah dan kota Allah dengan segala kenikmatannya bisa dipelihara dan dipertahankan hanya dengan Kristus yang diapresiasi dan ditinggikan dengan tepat oleh umat Allah.

4. Kitab yang Keempat

Kitab 4 menunjukkan bahwa orang-orang kudus, yang diikatkan kepada Kristus, bersatu dengan Allah sehingga Dia bisa memulihkan gelar-Nya atas bumi melalui Kristus di dalam rumah dan kota-Nya. Mazmur 90 adalah mazmur yang pertama dari Kitab 4. Judul dari Mazmur 90 mengatakan bahwa ini adalah satu doa dari Musa, manusia dari Allah. Di dalam ayat pertama, Musa mengatakan, “Tuhan, Engkau telah menjadi tempat kediaman kami/Di seluruh generasi.” Seorang yang menulis hukum taurat mengumumkan bahwa Allah adalah tempat kediamannya yang kekal. Saya kaget ketika saya kali pertama membaca mazmur ini dan melihat bahwa mazmur ini ditulis oleh Musa. Menurut pemikiran kita, Musa hanya tahu bagaimana memberikan hukum taurat, Sepuluh Perintah.

Ketika kita membaca Sepuluh Perintah, apakah kita merasa bahwa hukum-hukum itu membawa kita dekat kepada Allah? Setelah membaca perintah-perintah ini, banyak orang Kristen akan mengatakan bahwa mereka tidak bisa melakukannya karena mereka selalu melanggar perintah-perintah itu. Orang-orang berdusta berkali-kali dan dengan spontan. Seseorang mungkin menelpon dan menanyakan, “Apakah ayahmu ada di rumah?” Kemudian orang itu mengatakan bahwa ia tidak ada di rumah, padahal ayahnya ada di sana sedang membacan koran. Orang-orang selalu berdusta satu sama lain. Anak-anak berdusta kepada orang tua mereka. Suami-suami berdusta kepada istri-istri mereka dan bersikap buruk. Orang-orang juga berulang kali melanggar perintah mengenai jangan mengingini. Ketika kita melihat orang lain dengan harta milik lebih baik daripada kita, kita mengingini apa yang mereka miliki. Seseorang mengingini mobil mahal milik seorang lainnya. Seorang anak di sekolah mengingini pulpen mahal milik anak lainnya. Perintah dari hukum taurat ini tidak mungkin bagi dipelihara oleh manusia yang telah jatuh. Hukum taurat tidak membawa orang-orang dekat kepada Allah. Namun, hukum itu sungguh mengawal orang-orang kepada Kristus. Hukum Allah adalah penjaga dan wali umat pilihan Allah untuk membawa mereka kepada Kristus (Gal. 3:23-24).

Ketika Musa, seorang yang menulis Sepuluh Perintah, menjadi tua, ia mengumumkan, “O Allah, Engkau adalah tempat kediaman kami sampai kekal. Aku sebenarnya bukan hidup di bumi ini. Aku hidup di dalam Engkau. Aku tinggal di dalam Engkau. Engkau adalah kediamanku.” Ini adalah kata pembukaan dari Kitab 4 dari Mazmur.

5. Kitab yang Kelima

Kitab Kelima menunjukkanbahwa rumah dan kota Allah menjadi pujian, keamanan, dan kedambaan orang-orang kudus, dan bahwa Kristus akan datang untuk memerintah atas seluruh bumi melalui rumah dan kota Allah—gereja.

Inilah isi dari lima kitab dari Mazmur ini. Kita perlu mengambil semua poin penting ini di dalam kata pembukaan ini. Kemudian kita akan dipersiapkan dan bersyarat untuk mempelajari kitab Mazmur. Kita akan dapat menerima penafsiran yang riil dan sejati dari seratus lima puluh mazmur ini.

Kita perlu melihat bahwa, di satu pihak, kitab Mazmur ditulis menurut konsep insani, dan di lain pihak, Mazmur ditulis menurut konsep ilahi. Jika kita tidak melihat ini, maka pemahaman kita akan menjadi alamiah, dan Mazmur akan dipahami oleh kita menurut konsep insani. Di dalam pemahaman kita akan Mazmur ini, kita tidak akan memiliki sesuatu dari konsep ilahi. Kita semua perlu dibawa masuk ke dalam konsep ilahi dari Allah yang menyingkapkan. Kita perlu dipalingkan dari hukum taurat kepada Kristus menurut konsep ilahi.