← Daftar isi Mazmur (1) · bab 17/42

EKSPRESI CAMPURAN DARI PERASAAN PEMAZMUR DI DALAM KENIKMATANNYA AKAN ALLAH

DI DALAM RUMAH ALLAH

(5)

Pembacaan Alkitab: Mzm. 37-39

Dalam berita ini kita ingin melihat ekspresi campuran dari perasaan pemazmur di dalam Mazmur 37-39. Mazmur 37 mewahyukan perasaan pemazmur di dalam logikanya mengenai penanggulangan Allah terhadap orang benar dan orang fasik berdasarkan pada prinsip memelihara hukum Taurat. Daud tidak dapat meninggalkan prinsip memelihara hukum Taurat. Mazmur 37 secara esensial adalah pengulangan yang diperpanjang dari Mazmur 1. Mazmur 38 mewahyukan perasaan pemazmur di dalam penderitaannya akan penanggulangan Allah, dan Mazmur 39 menunjukkan pada kita bahwa pemazmur menyadari kesia-siaan di dalam hidupnya.

XIII. DALAM LOGIKANYA MENGENAI

PENANGGULANGAN ALLAH TERHADAP ORANG BENAR

DAN ORANG FASIK BERDASARKAN

PRINSIP MEMELIHARA HUKUM TAURAT

A. Jangan Marah karena Orang yang Berbuat Jahat,

Sebab Mereka Segera Lisut seperti Rumput dan

Lalu seperti Tumbuh-Tumbuhan Hijau

Dalam Mazmur 37:1-2 Daud berkata, “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat....Sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau”. Ayat 7 dan 8 berkata, “Berdiam dirilah di hadapan YEHOVA dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan”.

B. Percayalah kepada Yehova, Lakukanlah Kebaikan, Berlakulah

Setia, Bergembiralah karena Yehova,

Dan Serahkanlah Hidupmu kepada Yehova

Lalu seperti Tumbuh-Tumbuhan Hijau

Daud juga berkata bahwa kamu seharusnya percaya kepada YEHOVA, melakukan yang baik, berlaku setia, bergembira karena YEHOVA, dan menyerahkan hidupmu kepada YEHOVA. Maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu dan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang (ay. 3-6).

C. Orang-orang yang Berbuat Jahat akan Dilenyapkan tetapi

Orang-Orang yang Menanti-nantikan Yehova akan Mewari Negeri

Ayat 9-40 menunjukkan bahwa menurut konsepsi Daud, orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan YEHOVA akan mewarisi negeri. Daud berkata, “Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan YEHOVA akan mewarisi negeri. Karena sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik; jika engkau memperhatikan tempatnya, maka ia sudah tidak ada lagi” (ay. 9-10). Menurut logika Daud, sedikit waktu lagi, maka lenyaplah orang fasik. Jika tidak ada orang fasik, kita tidak akan memerlukan polisi, pengadilan, atau pemerintahan. Tetapi tidak ada hal demikian di bumi hari ini.

Dalam berita berikutnya, kita akan berada pada Mazmur 40 dan 41. Mazmur 40 berkata bahwa Kristus akan datang untuk melakukan kehendak Allah (ay. 6-8), dan kehendak Allah adalah bahwa Kristus harus menggantikan setiap orang, setiap hal, dan setiap perkara. Di seluruh alam semesta, Allah tidak ingin sesuatu selain Kristus. Allah hanya ingin satu persona—Kristus. Dia ingin Kristus menggantikan semua persembahan, mengganti semua hal, mengganti semua perkara, dan mengganti semua manusia.

Paulus berkata di dalam Galatia 2:20a, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku”. Paulus berkata bahwa dia telah diakhiri dan bahwa ada seorang lain yang menggantikan dia—Kristus. Dia telah disalibkan dan digantikan oleh Kristus. Kristus hidup di dalam dia. Paulus membicarakan Galatia 2:20 di dalam konteks pembicaraannya mengenai Kristus menggantikan hukum Taurat (ay. 11-21). Dia memberitahu orang Galatia bahwa mereka bodoh karena mencoba memelihara hukum Taurat (3:1-3). Daud mendorong rakyat memelihara hukum Taurat, tetapi Kristus menyalibkan, mengakhiri, setiap pemelihara hukum Taurat. Kristus tidak ingin melihat setiap orang berusaha memelihara hukum Taurat. Dia ingin melihat setiap pemelihara hukum Taurat diakhiri oleh salib.

XIV. DALAM PENDERITAANNYA AKAN PENANGGULANGAN ALLAH

A. Konsepsi Daud di dalam Mazmur ini

Berlawanan dengan Logikanya di dalam Mazmur 37

Konsep di dalam Mazmur 37 ada pada satu kutub, dan konsep di dalam Mazmur 38 ada pada kutub lain. Konsepsi Daud dalam Mazmur 38 berlawanan dengan logikannya dalam Mazmur 37.

B. Hajaran Allah Memaksa Dia untuk Mengakui

Dosa dan Kesalahannya

Dalam Mazmur 38:1-8 kita melihat bahwa hajaran Allah memaksa Daud mengakui dosa dan kesalahannya. Daud berkata bahwa di dalam dagingnya tidak ada yang sehat oleh karena amarah Allah, dan tidak ada yang selamat pada tulang-tulangnya oleh karena dosanya (ay. 3). Ada amarah pada pihak Allah, dan dosa pada pihak Daud.

Ayat 4 berkata, “Sebab kesalahanku telah menimpa kepalaku; semuanya seperti beban berat yang menjadi terlalu berat bagiku”. Jika kita tidak seperti ayat ini, kita salah. Kita harus mengasihi ayat ini sampai puncaknya.

Ayat 5-8 berkata, “Luka-lukaku berbau busuk, bernanah oleh karena kebodohanku; Aku terbungkuk-bungkuk, sangat tertunduk; sepanjang hari aku berjalan dengan dukacita. Sebab pinggangku penuh radang, tidak ada yang sehat pada dagingku; Aku kehabisan tenaga dan remuk redam, aku merintih karena degap-degup jantungku”. Mengeluh menunjukkan bahwa kamu memiliki beban untuk berdoa, namun kamu tidak tahu apa yang harus dikatakan. Dalam Mazmur 37 kelihatannya Daud begitu jelas tentang segala sesuatu dan memiliki pengutaraan untuk berdoa bagi segala sesuatu. Tetapi dalam Mazmur 38 semua yang dapat dia lakukan hanyalah berseru karena keluhan hatinya. Pada saat kita memiliki beberapa beban dan perasaan, tetapi kita tidak tahu bagaimana mengutarakannya. Kita tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana mengutarakan doa kita. Maka, apa yang dapat kita lakukan adalah mengeluh dan berkata, “O Tuhan Yesus. O Tuhan Yesus”.

Dalam Roma 8:26 Paulus berkata, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan”. Kelemahan di sini adalah ketidaktahuan kita akan bagaimana kita harus berdoa. Kita tidak tahu doa macam apakah yang Allah dambakan, dan kita tidak jelas bagaimana untuk berdoa menurut beban yang kita rasakan, karena kita sedang diserupakan kepada gambar Putra Allah; maka kita mengeluh (ay. 23). Dalam keluhan kita, Roh itu mengeluh juga, berdoa syafaat bagi kita. Doa syafaat-Nya adalah terutama agar kita dapat mengalami transformasi dalam hayat bagi pertumbuhan ke dalam kematangan dari keputraan agar kita dapat sepenuhnya diserupakan kepada gambar Putra Allah (ay. 29).

C. Lingkungannya Memaksa Dia untuk Mengeluh

di hadapan Allah dan Mengakui Kesalahan dan Dosanya

Mazmur 38:9-20 menunjukkan bahwa lingkungan Daud memaksa dia untuk mengeluh di hadapan Allah dan mengakui kesalahan dan dosanya. Dalam ayat 18 Daud berkata, “Karena aku mengaku kesalahanku, aku cemas karena dosaku”. Ini adalah ayat yang baik dimana kita semua harus menyukainya. Kita harus selalu berkata, “Aku mengaku kesalahanku, aku cemas karena dosaku”. Pemikiran ini sepenuhnya berlawanan dengan logika Daud di dalam Mazmur 37. Mazmur 37 berkata bahwa sepanjang kamu benar, tidak jahat, kamu akan baik-baik saja. Tetapi dalam Mazmur 38, Daud berkata bahwa dia menderita, dan dia mengaku kesalahannya. Mazmur 38 jauh lebih tinggi daripada Mazmur 37. Akan baik membaca Mazmur 38 dengan cara penuh doa lagi dan lagi, bahkan dengan berlutut.

D. Meminta Allah Tidak Mengabaikan Dia

Tetapi Segera Membantu dan Menyelamatkan Dia

Dalam Mazmur 38:21-22 Daud berkata, “Jangan tinggalkan aku, OYEHOVA, Allahku, janganlah jauh dari padaku! Segeralah menolong aku, ya Yehova, keselamatanku! Dalam Mazmur 37 kelihatannya bahwa Daud tidak memerlukan Allah untuk datang menyelamatkan dia. Dia mengira bahwa dia benar dan karena hal ini dia akan baik-baik saja. Tetapi di dalam Mazmur 38, semua yang dapat dia lakukan adalah berseru karena keluhan hatinya. Pada akhirnya dia berseru untuk bantuan Tuhan sebagai keselamatan-Nya. Dia meminta Allah tidak mengabaikan dia, tetapi segera membantu dan menyelamatkan dia.

Saya ingin bertanya bagaimana Allah akan menjawab seruan Daud untuk membantu dia. Ketika rasul Paulus meminta Tuhan untuk menyingkirkan duri dari dagingnya, respon Tuhan adalah, “Kasih karuniaku cukup bagimu” (2 Kor. 12:9). Tuhan dapat memberitahu Daud, “Aku tidak akan menjawab doamu untuk membantu dengan caramu. Sebaliknya, Aku akan mengijinkan kamu menderita karena semakin kamu menderita, semakin kamu mengenal dosamu. Semakin kamu berada di bawah penderitaan, semakin kamu akan mengaku kesalahanmu, bukan keadilbenaran yang kamu lakukan di dalam Mazmur 37”.

Mazmur mana yang kamu ambil untuk doamu—Mazmur 37 atau Mazmur 38? Kita semua harus belajar tidak berdoa menurut cara alamiah kita. Logika Daud di dalam Mazmur 37 adalah sangat alamiah. Kita seharusnya mengabaikan logika alamiah kita. Sebaliknya, kita harus belajar berdoa menurut wahyu Allah. Kita harus belajar berdoa ketika kita berada di bawah penanggulangan Allah, di bawah paksaan Allah, di dalam semacam situasi yang menjijikkan (Mzm. 38:5). Lalu kita akan diberkati, dan kita akan menjadi berkat.

XV. DALAM KESADARANNYA AKAN KESIA-SIAAN

DARI KEHIDUPANNYA

Kita mungkin berkata bahwa judul Mazmur 38 dapat menjadi “Dosa dan Kesalahan”, dan judul dalam Mazmur 39 dapat menjadi “Bukan Apa-apa dan Sia-sia”. Mazmur 39 mewahyukan perasaan pemazmur dalam kesadarannya akan kesia-siaan dari hidupnya. Mazmur ini menunjukkan pada kita bahwa kita bukan apa-apa dan sia-sia.

A. Memelihara Caranya

dengan Memberangus Mulutnya

Dalam Ayat 1-3 Daud berkata bahwa dia memelihara caranya dengan memberangus mulutnya.

B. Menyadari Bukan Apa-apa dan

Kesia-sian dari Hidupnya

Daud menyadari bukan apa-apa dan kesia-siaan dari hidupnya dan meminta Allah untuk menyingkitkan hajaran-Nya (karena pelanggaran-pelanggarannya) dari dia dan mengalihkan pandangan darinya sebagai seorang pelancong dan pendatang (ay. 4-13). Kita selalu mengira bahwa kita adalah sesuatu dan seseorang, tetapi Daud dibawa oleh Tuhan ke dalam situasi untuk menyadari bahwa sebenarnya dia bukan apa-apa dan sia-sia. Daud berkata bahwa yang terbaik dari setiap manusia sepenuhnya kesia-siaan (ay. 5). Dia berkata bahwa hari-harinya seperti bayangan. Sebuah bayangan sangat pendek, kira-kira empat inchi. Daud berkata bahwa manusia mirip penampilannya, seperti sesuatu yang hampa, dan bahwa manusiasibuk dengan kesia-siaan. Mereka menimbun kekayaan, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti (ay. 6).

Di akhir Mazmur 39, Daud meminta Yehova untuk mendengar seruannya (ay. 12). Tetapi saya tidak percaya bahwa Allah akan menjawabnya saat itu juga. Allah akan menjaga Daud di dalam situasinya untuk sementara supaya Daud dipaksa untuk menyadari situasi dan kondisi yang sesungguhnya. Kita perlu sadar bahwa kondisi kita adalah berdosa, dan situasi kita adalah salah satu dari kesia-siaan.

Dalam Mazmur 37 Daud memiliki banyak perkataan untuk dikatakan. Kelihatannya bahwa di dalam mazmur ini dia tahu segala sesuatu dan dapat mengatakan segala sesuatu. Tetapi dalam Mazmur 38 dia menyadari bahwa kondisinya berdosa, dan di dalam Mazmur 39 dia menyadari bahwa situasinya penuh kesia-siaan. Banyak dari kita masih tinggal dalam Mazmur 37. Dalam satu sidang, seorang saudara berdoa dengan doa yang panjang. Kelihatannya di dalam doanya dia tahu segala sesuatu, memahami segala sesuatu, dan dapat mengatakan segala sesuatu. Namun, doa panjang sedemikian membunuh setiap orang. Sebaliknya, kita harus berdoa, “O Tuhan, aku tidak tahu apa yang harus dikatakan, dan aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Aku bahkan tidak tahu apa adanya aku. Seumur hidupku bukanlah apa-apa di hadapan-Mu. Tuhan belas kasihanilah aku”.

Akhirnya Daud berkata bahwa dia adalah pelancong bersama Allah, pendatang, sama seperti semua nenek moyangnya (Mzm. 39:12). Seorang pelancong adalah seorang yang tidak tahu apa-apa tentang tempat dimana dia berada. Di dalam Perjanjian Baru, semua kaum beriman harus menjadi pelancong dan pendatang surgawi (1 Ptr. 1:1; 2:11), melancong sebagai orang asing di bumi ini. Ini berarti bahwa kita semua telah digantikan oleh Kristus. Kita semua telah disalibkan dengan Dia. Lalu, adalah sebuah fakta bahwa bukan lagi kita yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam kita. Kita perlu melihat konsep insani di dalam kitab Mazmur sehingga kita dapat melompat dari konsep ini ke dalam konsep ilahi di dalam Surat Kiriman Paulus.

Alkitab memberitahu kita bahwa firman Tuhan adalah kebenaran, realitas (Yoh. 17:17), dan juga terang (Mzm. 119:105). Melalui kebenaran dan terang yang dilepaskan dalam berita-berita ini, saya harap bahwa kita dapat melihat Allah menginginkan kita menjadi apa. Allah menginginkan kita menjadi bukan apa-apa. Allah menginginkan kita untuk digantikan oleh Kristus. Oleh karena itu, apa yang Allah inginkan diekspresikan oleh Paulus ketika dia berkata, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20a). Kristus telah menyalibkan saya, dan Kristus telah datang ke dalam saya untuk menggantikan saya. Sekarang saya memiliki satu kesatuan organik dengan Dia. Dia hidup dan bekerja, dan saya hidup dan bekerja dengan Dia. Kristus menggantikan saya untuk memperhidupkan Diri-Nya Sendiri melalui saya. Ini adalah konsep ilahi Allah menurut wahyu ilahi dari Perjanjian Baru.