← Daftar isi Mazmur (1) · bab 16/42

EKSPRESI CAMPURAN DARI PERASAAN PEMAZMUR DI DALAM KENIKMATANNYA AKAN ALLAH

DI DALAM RUMAH ALLAH

(4)

Pembacaan Alkitab: Mzm. 34-46

Dalam berita ini kita ingin melanjutkan persekutuan kita tentang ekspresi campuran dari perasaan pemazmur di dalam kenikmatannya akan Allah di dalam rumah. Jika kita tidak memiliki rasa haus yang dalam untuk menuntut Tuhan dengan Firman-Nya, berita-berita ini mungkin mengecewakan kita. Ini dikarenakan apa yang kita sukai menurut konsep alamiah kita ditelanjangi. Apa yang kita lihat di dalam Alkitab dan apa adanya Alkitab bagi kita tergantung pada orang macam apakah kita. Pemahaman kita akan Alkitab selalu menurut apa adanya kita. Inilah mengapa kita perlu disesuaikan dan dibawa ke dalam konsep ilahi.

Dalam berita ini kita ingin melihat ekspresi campuran dari perasaan pemazmur di dalam Mazmur 34-36. Judul Mazmur 34 berkata bahwa ini adalah mazmur Daud “ketika dia pura-pura tidak waras di depan Abimelekh, sehingga dia diusir, lalu pergi”. Kita dapat melihat dari hal ini bahwa situasi dimana Mazmur 34 ditulis adalah tidak terhormat. Daud tidak normal; dia pura-pura membuat dirinya tidak waras di depan raja yang berkuasa untuk membunuhnya. Hasil dari kepura-puraannya, Daud terbebas dari Abimelekh (1 Sam. 21:10—22:1a). Setelah itu, dia menulis Mazmur 34. Dalam mazmur ini, dia memberi semua kredit kepada Allah, tetapi sebenarnya dia membebaskan dirinya sendiri dengan kepura-puraannya. Berpura-pura adalah semacam kebohongan.

Dalam Mazmur 35 Daud meminta Allah untuk berperang melawan musuhnya dengan senjata (ay. 1-8). Lalu dalam Mazmur 36 dia meminta Allah untuk menanggulangi orang fasik (ay. 1-4) dan bahkan memberi Allah perintah bagaimana menanggulangi mereka (ay. 11-12).

Kita perlu ingat bahwa kitab Mazmur perlu ditafsirkan menurut konsep ilahi dari wahyu ilahi di dalam seluruh Alkitab. Kitab Mazmur adalah kitab terpanjang dalam Alkitab, tetapi bukanlah kitab satu-satunya. Kitab ini harus ditafsirkan di dalam terang konsep ilahi dari Allah sebagai wahyu ilahi mengenai ekonomi kekal-Nya di dalam Kristus, mengambil Kristus sebagai sentralitas dan kesemestaannya.

Kita perlu disesuaikan dari konsep insani kita kepada konsep ilahi. Pada permulaan kehidupan Kristiani saya, saya datang kepada Alkitab dengan banyak pemikiran pribadi saya. Selama bertahun-tahun saya telah disesuaikan, dan penyesuaian yang saya terima dalam mempelajari Alkitab telah mengangkat konsep insani saya selapis demi selapis.

Pemahaman kita akan Alkitab bergantung pada ukuran pertumbuhan kita di dalam hayat rohani. Bahkan hari ini di dalam kehidupan insani kita, pengetahuan kita bergantung pada ukuran pertumbuhan kita dalam hayat insani. Ketika seseorang masih anak-anak, kita tidak dapat mengharapkan dia untuk memahami demikian banyak. Saat anak ini bertumbuh, dia sanggup memahami lebih dan lebih lagi. Akhirnya, ketika dia menjadi dewasa, dia dapat memahami sesuatu dengan tepat. Sangat sulit memahami kitab Mazmur dengan tepat menurut konsep ilahi. Kita telah melihat pada saat Daud membicarakan sesuatu di dalam kitab Mazmur adalah sangat indah. Lalu dia membicarakan sesuatu yang sepenuhnya menurut konsep insani, alamiah.

Untuk memahami Alkitab, kita harus melatih satu prinsip. Prinsip ini adalah bahwa Allah merencanakan di dalam ekonomi-Nya untuk membuat Diri-Nya Sendiri satu dengan manusia. Prinsip dasar, prinsip utama, dari kelahiran Kristus adalah Allah datang untuk menyatukan Diri-Nya Sendiri dengan manusia, untuk menjadi seorang manusia, dan untuk menjadi satu dengan manusia. Ini adalah prinsip dasar dari Alkitab.

Ketika kita membaca Alkitab, kita perlu menjaga prinsip Allah menjadi satu dengan manusia. Kita harus menjaga prinsip bahwa Firman Allah sebagai wahyu ilahi menunjukkan pada kita bahwa tujuan utama Allah adalah untuk membuat Diri-Nya Sendiri satu dengan manusia dan untuk membuat manusia satu dengan Dia. Dalam Yohanes 15 Tuhan berkata, “Aku adalah pokok anggur; kamu adalah ranting-rantingnya....tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (ay. 5, 4). Ini menunjukkan pada kita bahwa Allah dan kaum beriman dalam Kristus adalah satu. Kita dan Allah tadinya terpisah, tetapi satu hari kita, ranting-ranting liar, dicangkokkan ke dalam Dia di dalam Kristus (Rm. 11:24). Kita telah dicangkokkan ke dalam Kristus sebagai pohon, dan pencangkokan ini telah membuat kita satu dengan Dia. Apa yang diperlukan sekarang adalah kita tinggal di dalam Dia supaya Dia dapat tinggal di dalam kita. Lalu Dia dan kita akan menjadi satu, memiliki satu hayat, satu sifat, dan satu penghidupan.

Jika kita melihat hal ini, kita akan sepenuhnya disesuaikan di dalam pemahaman kita akan Alkitab. Kita perlu memegang konsep ilahi di dalam Yohanes 15 dimana Tuhan berkata bahwa Dia adalah pokok anggur, kita adalah ranting-ranting-Nya, dan bahwa kita harus tinggal di dalam Dia supaya Dia dapat tinggal di dalam kita. Dalam Mazmur 34-36, kita dapat melihat bahwa Daud tidak bertindak sebagai ranting yang bersatu dengan Allah.

Dalam pemahaman kita akan Alkitab, kita harus mengambil prinsip yang tepat. Prinsip utamanya adalah bahwa Allah damba untuk menjadi satu dengan umat pilihan-Nya. Akhirnya, kesatuan antara Allah dan manusia akan menjadi lengkap, rampung. Semua umat pilihan Allah akan rampung untuk menjadi satu dengan Allah sepenuhnya, untuk menjadi penyusun kota kudus, Yerusalem Baru. Kapankala kita datang kepada kitab Mazmur, kita perlu memegang konsep ini; jika tidak, kita dapat disesatkan.

X. DALAM MEMBERKATI DAN MEMUJI ALLAH

Mazmur 34 menunjukkan pada kita ekspresi campuran dari perasaan pemazmur di dalam kenikmatannya akan Allah di dalam rumah Allah dalam memberkati dan memuji Allah. Memberkati Allah adalah membicarakan yang baik tentang Allah, berbicara tentang Allah dengan cara yang baik. Memuji Allah adalah memberi hormat dan kemuliaan kepada Allah.

A. Ditulis Setelah Daud Berpura-pura

sebagai Orang yang Tidak Waras di depan Abimelekh

Sangat baik untuk memberkati dan memuji Allah, tetapi kita tidak seharusnya melupakan bahwa mazmur indah demikian ditulis setelah Daud mengenakan “topeng”. Dia menulis mazmur ini setelah dia berpura-pura menjadi tidak waras di depan Abimelekh. Kisah ini dicatat di dalam 1 Samuel 21:10-15. Di sana Daud berpura-pura di depan raja Filistin ini supaya dilepaskan dari pembunuhan.

B. Karena Jawaban dan Pembebasan Allah

Daud memberkati dan memuji Allah karena jawaban dan pembebasan Allah (ay. 1-6). Dalam ayat 1 dia berkata, “Aku hendak memuji YEHOVA pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Hal ini baik, tetapi kita harus ingat situasi dimana Daud berkata demikian. Ketika Dia berpura-pura di depan Abimelekh, dia pastinya tidak memberkati Allah pada saat itu. Sebaliknya, 1 Samuel 21:13 berkata bahwa Daud berjuang pada pintu dari pintu gerbang dan membiarkan air ludahnya turun pada janggutnya untuk membuat Abimelekh mengira bahwa dia gila.

Ayat 2-6 berkata, “Jiwaku bermegah di dalam YEHOVA; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Perbesarlah YEHOVA bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama meninggikannama-Nya! Aku telah mencari YEHOVA, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. Mereka memandangang-Nya, maka muka mereka akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan YEHOVA mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.”

Daud berkata bahwa Yehova membebaskan dia. Tetapi saya ingin bertanya apakah dibebaskan dari tangan Abimelekh oleh Yehova atau apakah dia membebaskan dirinya sendiri. Orang-orang mungkin berdoa untuk sejumlah perkara, lalu memberi semua kredit kepada Allah ketika mereka selesai. Namun, sebenarnya Allah tidak melakukan satu pun dari doanya. Sebaliknya, mereka berdoa menurut kedambaan mereka sendiri, dan mereka melakukannya dengan cara mereka sendiri. Kadangkala mereka telah melakukan sesuatu dengan cara menipu orang, tetapi tentu saja Allah tidak menipu orang bagi mereka. Kita mungkin berdoa untuk sesuatu, mendapatkan apa yang kita doakan, lalu memberi kredit kepada Allah. Hal ini menghina Allah. Dalam perkara ini, kredit tidak seharusnya diberikan bagi Allah, tetapi bagi kita untuk menjadi debet.

C. Menasihati dan Mengajar yang Lain agar Takut akan Allah

dan Berlindung di dalam Dia

Ayat 7-22 menunjukkan pada kita nasihat dan pengajaran Daud kepada yang lain untuk takut akan Allah dan berlindung di dalam Dia. Dalam ayat 8 Daud berkata, “Diberkatilah orang yang berlindung di dalam Dia”. Namun, ketika Daud berpura-pura di depan raja, dia tidak berlindung di dalam Yehova, tetapi di dalam “topeng”-nya, di dalam kepura-puraannya. Dalam ayat 11 Daud berkata, “Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan YEHOVA akan kuajarkan kepadamu!” Apakah kita ingin Daud mengajar kita untuk berpura-pura, mengenakan topeng? Ini menunjukkan bahwa di satu pihak, kita harus percaya di dalam Tuhan; di pihak lain, kita mungkin mengenakan topeng untuk membebaskan diri sendiri. Akhirnya, siapa yang menyelamatkan kita—Tuhan atau topeng kita?

1. Kebaikan karena Takut akan Allah

Dan Berlindung di dalam Dia

Dalam Daud berbicara tentang kebaikan karena takut akan Allah dan berlindung di dalam Dia (ay. 7-10, 17-22). Ayat 10 berkata, “Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari YEHOVA, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik”. Orang mungkin mengutip ayat ini untuk keuntungan pribadi mereka, tetapi akhirnya berakhir dengan kekurangan benda-benda materi yang mereka dambakan. Dua Korintus memberitahu kita bahwa Paulus melewati banyak penderitaan dan kekurangan, bahkan sampai tingkat bahwa dia kekurangan makanan dan pakaian (11:27).

2. Cara untuk Takut akan Allah

Dalam Mazmur 34 Daud berbicara tentang cara untuk takut akan Allah (ay. 11-16; 1 Ptr. 3:10-12). Ayat 12-16 berkata, “Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu; Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya! Mata YEHOVA tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; Wajah YEHOVA menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Ayat-ayat ini dikutip oleh Petrus di dalam 1 Petrus 3:10-12, tetapi Paulus tidak mengutip perkataan demikian. Visi Paulus tentang ekonomi Perjanjian Baru lebih jelas dariapada semua rasul yang lain.

Ketika Daud berkata, “Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik?” dia tidak berbicara tentang kehidupan kekal, tetapi tentang kehidupan fisik. Daud adalah seorang kaum saleh besar di dalam Perjanjian Lama, dan Petrus adalah salah satu rasul besar di dalam Perjanjian Baru, tetapi saya tidak percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Daud di sini adalah rohani. Bahkan di antara kita, siapa yang berani meminta Tuhan memberinya umur panjang supaya dia dapat menikmati banyak hal-hal baik?

Daud berkata bahwa jika kita suka memiliki hari-hari agar melihat kebaikan, kita harus menjaga lidah kita terhadap yang jahat dan bibir kita terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Tetapi siapakah yang pernah berhasil menjaga lidahnya terhadap yang jahat? Apa yang Daud katakan di sini menurut pohon pengetahuan baik dan jahat.

Ayat 15 berkata, “Mata YEHOVA tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong”. Tetapi siapakah yang benar di bumi ini? Paulus berkata bahwa tidak ada seorang pun yang benar (Rm. 3:10), dan Yesaya berkata bahwa keadilbenaran kita seperti pakaian yang compang-camping (Yes. 64:6). Jika kita bergantung keadilbenaran kita untuk menikmati mata dan telinga Allah yang diarahkan pada kita, kita tidak akan menikmati apa-apa, karena kita tidak memiliki keadilbenaran dari diri kita sendiri.

Mengenai orang benar, Daud berkata, “Ia melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yang patah” (ay. 20). Ayat ini mengenai Kristus karena Daud adalah lambang dari Kristus yang menderita. Ketika Kristus di atas salib, para prajurit tidak mematahkan kakinya ketika mereka melihat Dia sudah mati (Yoh. 19:33). Yohanes berkata, “Sebab hal itu terjadi supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: ‘Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan’” (ay. 36). Ada saatnya di dalam menggambarkan penderitaannya bahwa Daud melambangkan Kristus.

Ketika kita melihat Mazmur 34, kita dapat melihat ekspresi campuran dari perasaan Daud. Ayat 20 mengacu pada Kristus, tetapi kebanyakan dari mazmur ini bukan menurut pohon hayat. Konsep kita perlu diubah kepada konsep ilahi menurut pohon hayat. Saat kita bertumbuh dalam Kristus, konsep kita akan diubah.

XI. DALAM MEMINTA ALLAH UNTUK MENANGGULANGI MUSUHNYA

Dalam Mazmur 35 Daud meminta Allah untuk menanggulangi musuhnya.

A. Meminta Allah untuk Memerangi

Musuhnya dengan Senjata

Pertama, dia meminta Allah untuk memerangi musuhnya dengan senjata (ay. 1-8). Ayat 1 berkata, “Berbantahlah, YEHOVA, melawan orang yang berbantah dengan aku, berperanglah melawan orang yang berperang melawan aku”. Apakah kamu percaya bahwa Allah mendambakan doa yang demikian? Ini tidak sesuai dengan pengajaran Tuhan di dalam Perjanjian Baru yang memberitahu kita untuk mengasihi musuh kita dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (Mat. 5:44).

Ayat 2-3 berkata, “Peganglah perisai dan utar-utar, bangunlah menolong aku, Cabutlah tombak dan kapak menghadapi orang-orang yang mengejar aku; katakanlah kepada jiwaku: “Akulah keselamatanmu!” Daripada meminta Allah untuk sesuatu, di sini Daud sedang mengajar Allah bagaimana untuk membebaskan dia dengan memerangi musuhnya dengan senjata.

Ayat 4-8 berkata, “Biarlah mendapat malu dan kena noda, orang-orang yang ingin mencabut nyawaku; biarlah mundur dan tersipu-sipu orang-orang yang merancang kecelakaanku! Biarlah mereka seperti sekam dibawa angin, didorong Malaikat YEHOVA; biarlah jalan mereka gelap dan licin, dan Malaikat YEHOVA mengejar mereka! Karena tanpa alasan mereka memasang jaring terhadap aku, tanpa alasan mereka menggali pelubang untuk nyawaku. Biarlah kebinasaan mendatangi dia dengan tidak disangka-sangka, jerat yang dipasangnya, biarlah menangkap dia sendiri, biarlah ia jatuh dan musnah!” Apakah ini doa yang rohani? Tentu saja doa ini berasal dari seorang yang sepenuhnya di dalam diri sendiri. Di dalam ekonomi Perjanjian Baru, orang yang rohani tidak pernah meminta Allah datang dengan perisai, utar-utar, dan dengan tombak untuk berperang melawan musuhnya.

B. Bermegah dalam Kepercayaannya di dalam Allah

Dan di dalam Penanggulangan-Nya yang Baik terhadap

Mereka yang Salah Memperlakukan Dia

Dalam ayat 9-16 Daud bermegah dalam kepercayaannya di dalam Allah dan di dalam penanggulangan-Nya yang baik terhadap mereka yang salah memperlakukan dia. Ayat-ayat ini berkata, “Tetapi aku bersorak-sorak karena YEHOVA, aku girang karena keselamatan dari pada-Nya; Segala tulangku berkata: “Ya, YEHOVA, siapakah yang seperti Engkau, yang melepaskan orang sengsara dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya, orang sengsara dan miskin dari tangan orang yang merampasi dia?” Saksi-saksi yang gemar kekerasan bangkit berdiri, apa yang tidak kuketahui, itulah yang mereka tuntut dari padaku. Mereka membalas kebaikanku dengan kejahatan; perasaan bulus mencekam aku. Tetapi aku, ketika mereka sakit, aku memakai pakaian kabung; aku menyiksa diriku dengan berpuasa, dan doaku kembali timbul dalam dadaku, seolah-olah temanku atau saudarakulah yang sakit, demikianlah aku berlaku; seperti orang yang berkeluh kesah karena kematian ibu, demikianlah aku tunduk dengan pakaian kabung. Tetapi ketika aku tersandung jatuh, bersukacitalah mereka dan berkerumun, berkerumun melawan aku; orang-orang asing yang tidak kukenal menista aku dengan tidak henti-hentinya; dengan fasik mereka mengolok-olok terus, menggertakkan giginya terhadap aku”.

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa dalam anggapan Daud, musuhnya sangat jahat, sedangkan dia sangat baik. Ekspresinya di dalam ayat-ayat ini menyajikan terlalu banyak keadilbenaran sendiri.

C. Memaksa Allah untuk Membebaskan Dia

dengan Memerintahkan Allah menurut

Pengetahuan Alamiahnya akan yang Baik dan Jahat

Dalam ayat 17-28 Daud memaksa Allah untuk membebaskan dia dengan memerintahkan Allah menurut pengetahuan alamiahnya akan yang baik dan jahat.

XII. DALAM MEMINTA ALLAH MENANGGULANGI ORANG FASIK

Dalam Mazmur 35 Daud meminta Allah untuk menanggulangi musuhnya, dan di dalam Mazmur 36 dia meminta Allah untuk menanggulangi orang fasik.

A. Tuduhannya atas Orang Fasik

Ayat 1-4 adalah tuduhannya atas orang fasik: “Dosa bertutur di lubuk hati orang fasik; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu, Sebab ia membujuk dirinya, sampai orang mendapati kesalahannya dan membencinya. Perkataan dari mulutnya ialah kejahatan dan tipu daya, ia berhenti berlaku bijaksana dan berbuat baik. Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik; apa yang jahat tidak ditolaknya”. Di sini Daud tidak memiliki hati atau perhatian untuk meminta Allah berbelas kasihan kepada orang fasik. Sebaliknya, dia menuduh mereka.

B. Pujiannya atas Kasih Setia,

Kesetiaan, dan Keadilbenaran Allah

Dibaurkan dengan Kenikmatan Allah di dalam Rumah-Nya

Ayat 5-10 adalah pujiannya atas kasih setia, kesetiaan, dan keadilbenaran Allah dibaurkan dengan kenikmatan Allah di dalam rumah Allah. Ayat 7-9 adalah bagian puncak dari kitab Mazmur mengenai kenikmatan Allah di dalam rumah Allah, tetapi bagian demikian ada di dalam mazmur dimana Daud meminta Allah untuk menanggulangi orang fasik. Ini sekali lagi menunjukkan pada kita ekspresi campuran dari perasaan Daud.

C. Memohon Allah untuk Menanggulangi Orang Fasik

Menurut Caranya

Ayat 11-12 berkata, “Janganlah kiranya kaki orang-orang congkak menginjak aku, dan tangan orang fasik mengusir aku. Lihat, orang-orang yang melakukan kejahatan itu jatuh; mereka dibanting dan tidak dapat bangun lagi”. Di dalam ayat-ayat ini Daud memohon Allah untuk menanggulangi orang fasik tidak menurut cara Allah, tetapi menurut caranya.

KEPERLUAN KITA UNTUK DIBEBASKAN DARI

KONSEP INSANI KITA DAN DIBAWA KE DALAM

GARIS SENTRAL DARI EKONOMI ALLAH

Dalam membaca kitab Mazmur, kita harus melihat perbedaan antara konsep insani dengan konsep ilahi. Kebanyakan kaum saleh tidak melihat perbedaan demikian. Sebaliknya, mereka menilai lebih tinggi segala sesuatu di dalam kitab Mazmur. Di satu pihak, kelihatannya mereka menerima bantuan dari pembacaan kitab Mazmur, tetapi sebenarnya mereka tidak menerima bantuan yang sesungguhnya. Sebaliknya, mereka disesatkan.

Saya berbeban bagi kita untuk melihat perbedaan antara konsep insani di dalam kitab Mazmur dan konsep ilahi di dalam Perjanjian Baru. Menurut konsep kita, kita mungkin merasa bahwa Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Baru, memberitahu kita terutama bahwa kita harus takut akan Allah, berlindung di dalam Dia, percaya di dalam Dia, menantikan Dia, berharap dalam Dia, memuji Dia, bersyukur pada-Nya, dan menyembah Dia. Namun, konsep ini bukan konsep ilahi di dalam Perjanjian Baru. Apa yang ditunjukkan Perjanjian Baru pada kita adalah ekonomi Allah.

Dealam ekonomi Allah, Allah hanya punya satu maksud—mendapatkan suatu organisme bagi Diri-Nya Sendiri. Dalam kekekalan lampau, Allah memutuskan untuk melakukan satu hal di dalam ekonomi-Nya—untuk menciptakan bagi Diri-Nya Sendiri suatu organisme, Tubuh Kristus. Dia menciptakan alam semesta dan manusia untuk tujuan ini. Lalu manusia jatuh, tetapi Allah berjanji pada manusia bahwa Dia akan datang melalui seorang perempuan untuk menjadi seorang manusia, untuk menyatukan Diri-Nya Sendiri dengan manusia, dan untuk menjadi satu dengan manusia (Kej. 3:15). Akhirnya, Dia menjadi manusia dan menempuh kehidupan di bumi ini untuk menunjukkan pada orang kehidupan manusia Allah ini. Setelah itu, Dia pergi ke salib dan mati tidak hanya bagi dosa-dosa kita, tetapi juga untuk menanggulangi setiap masalah di alam semesta. Lalu Dia bangkit. Dalam inkarnasi-Nya, Dia membawa Allah ke dalam manusia, dan di dalam kebangkitan-Nya, Dia membawa manusia ke dalam Allah, sehingga Allah dan manusia dapat menjadi satu.

Meskipun ini adalah wahyu Perjanjian Baru, tidak banyak orang melihat wahyu ini. Sebaliknya, kebanyakan orang Kristen masih memegang konsep alamiah dan agamawi tentang mencoba melakukan apa yang baik. Kebanyakan orang Kristen akan berkata bahwa mereka perlu memperbaiki tingkah laku mereka. Karena mereka tahu bahwa mereka lemah dan pencobaan begitu kuat, mereka meminta Allah untuk membantu mereka dan mencoba untuk percaya dalam Allah. Tetapi mereka tidak melihat garis sentral ekonomi Allah, untuk membuat Allah dan manusia, manusia dan Allah, satu kesatuan, dengan keduanya memiliki satu penghidupan dengan satu hayat dan satu sifat. Wahyu yang demikian, hilang di antara orang Kristen hari ini.

Banyak orang tidak memiliki telinga untuk mendengar pengajaran sentral dari ekonomi Allah. Paulus dengan khidmat menyuruh Timotius di hadapan Allah dan di hadapan Kristus oleh penampakan-Nya dan kerajaan-Nya untuk memberitakan perkataan itu (2 Tim. 4:1-2). Paulus telah dicurahkan keluar sebagai kurban curahan (ay. 6), maka dia menyuruh Timotius untuk setia memberitakan perkataan yang sehat. Lalu dia berkata, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat menerima lagi ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya, untuk memuaskan keinginan telinganya” (ay. 3). Orang yang memiliki keinginan telinga adalah mereka yang mencari pembicaraan yang menyenangkan untuk kesenangan pribadi mereka. Menurut perkataan Paulus kepada Timotius, keinginan telingan dan telingan yang berpaling adalah faktor utama kemerosotan yang memburuk di dalam gereja-gereja. Kita harus setia membicarakan perkataan yang sehat dari ekonomi Allah, bukan perkataan yang memuaskan keinginan telinga orang.

Di dalam pemulihan Tuhan, kita telah diterangi untuk melihat apa yang Allah inginkan. Allah ingin kita menjadi satu dengan-Nya. Allah hidup di dalam kita, dan Dia ingin kita memperhidupkan Dia. Tulisan-tulisan rasul Paulus adalah jernih seperti kristal pada poin ini, tidak ada kebingungan. Butir utama di dalam keempat belas Surat Kiriman Paulus dinyatakan di dalam Galatia 2:20: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku; dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Putra Allah, yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”. Perkataan ini ilahi. Perkataan ini tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang alamiah, agamawi, atau tahayul.

Allah menciptakan Adam hampir enam ribu tahun yang lalu. Dari Adam sampai Abraham adalah dua ribu tahun, dari Abraham sampai Kristus adalah dua ribu tahun, dan dari waktu Kristus sampai sekarang juga telah hampir dua ribu tahun. Dalam dua ribu tahun pertama, Allah melawat umat untuk membantu mereka menyadari bahwa mereka memerlukan Dia. Dalam dua ribu tahun kedua, Allah memberitahu Abraham bahwa di dalam keturunannya semua bangsa akan diberkati (Kej. 22:18; 26:4). Mereka akan diberkati oleh diri Allah yang bersatu dengan mereka dan oleh diri mereka bersatu dengan Allah. Ini sepenuhnya rahasia dan ilahi.

Kristus sebagai benih Abraham datang untuk memenuhi janji Allah. Ketika Kristus datang, orang Yahudi telah memiliki cara agamawi mereka dalam menyembah Allah menurut pemikiran mereka. Kemudian, para rasul harus menghadapi dua masalah—agama Yahudi dan filsafat Yunani. Bumi hari ini penuh dengan filsafat yang berbeda dari kebudayaan dan agama yang berbeda. Sebagai tambahan kepada semua filsafat ini, ada filsafat dan logika di dalam Kekristenan hari ini. Hari ini banyak orang Kristen memahami Alkitab menurut konsep alamiah, bukan menurut konsep ilahi.

Dalam ministri Tuhan, kita telah berbicara tentang ekonomi Allah, dispensi Allah, dan Roh pemberi hayat, Roh yang melalui proses, rampung. Kita telah melihat bahwa Roh ini adalah Roh majemuk, dan Roh majemuk ini adalah perampungan dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Hal-hal ini tidak dapat didengar di dalam teologi Kekristenan hari ini.

Karena penentangan, saya menerbitkan sebuah artikel di tahun 1977 berjudul Betapa Bidah—Dua Bapa Ilahi, Dua Roh Pemberi Hayat, dan Tiga Allah! Kebanyakan mereka yang menentang kita mengajarkan bahwa ada tiga Allah. Ini adalah pengajaran Triteisme. Mereka juga mengajarkan bahwa ada dua Bapa ilahi. Satu adalah Bapa di dalam Ke-Allahan dan yang lain adalah Bapa di dalam Yesaya 9:5, yang mereka katakan Bapa kekekalan. Mereka juga dengan salah mengatakan bahwa ada dua Roh pemberi hayat. Satu adalah Roh Kudus di dalam Trinitas, dan yang lain adalah Roh pemberi hayat yang disebutkan dalam 1 Korintus 15:45b. Tentu saja, semua pengajaran ini adalah bidah.

Saya telah berbicara di Amerika Serikat selama tiga puluh tahun dengan beban untuk melepaskan garis sentral dari wahyu ilahi menurut ekonomi Allah. Tetapi menurut kesadaran saya, tidak banyak dari kita mengapresiasi garis sentral ini. Sebelum saya datang ke Amerika Serikat, saya belum melihat bahwa Roh itu adalah perampungan dari Allah Tritunggal. Saya mulai mengatakan terutama di Hong Kong di musim panas tahun 1954 bahwa kematian danb kebangkitan Kristus ada di dalam Roh itu. Dari tahun itu, terang mengenai Roh almuhit datang dan telah bersinar lebih terang dan lebih terang lagi.

Akhirnya, kita melihat perlambangan minyak urapan majemuk di dalam Keluaran 30:23-25. Minyak urapan majemuk mengambil minyak zaitun sebagai dasar dibaurkan dengan empat macam rempah-rempah—mur, kayu manis, tebu, dan kayu teja. Lima unsur ini dibaurkan bersama menjadi satu minyak urapan. Satu hin minyak zaitun mengacu pada Allah sebagai Roh, dan Roh ilahi ini dibaurkan dengan kematian Kristus, dengan khasiat kematian Kristus, dengan kebangkitan Kristus, dan dengan kuat kuasa kebangkitan Kristus. Roh majemuk ini adalah perampungan Allah Tritunggal. Bapa terwujud di dalam Putra, dan Putra direalisasikan sebagai Roh itu. Dengan kata lain, Roh itu adalah realisasi Putra, dan Putra adalah perwujudan Bapa. Jadi, Tiga dari ke-Allahan bukanlah tiga Allah; mereka adalah satu persona ilahi.

Alkitab mewahyukan semua hal-hal ini untuk membiarkan kita mengetahui bagaimana Allah dapat menjadi satu dengan manusia dan bagaimana manusia dapat menjadi satu dengan Allah. Akhirnya, kita, orang-orang Kristen seharusnya menempuh kehidupan Allah dan manusia, kehidupan manusia Allah. Hari ini kita hidup sebagai manusia, namun kita juga hidup sebagai Allah di dalam hayat-Nya dan di dalam sifat-Nya, tetapi tidak di dalam ke-Allahan-Nya. Ke-Allahan-Nya adalah unik. Kita memiliki hayat dan sifat-Nya, sama seperti anak-anak dari seorang bapa, memiliki hayat dan sifat bapa mereka. Tetapi tidak seorang pun dari anak-anak memiliki kebapaannya. Hanya bapa dari sebuah keluarga memiliki kebapaan. Dengan cara yang sama, Allah itu unik dan ke-Allahan-Nya juga unik. Kita tidak dapat berbagian di dalam ke-Allahan-Nya, tetapi kita memiliki hayat dan sifat ilahi. Kita sedang berpartisipasi di dalam hayat dan sifat ilahi ini, sehingga kita dapat memperhidupkan Allah, memperhidupkan Kristus. Jika kita melihat hal ini, pandangan kita tentang kitab Mazmur akan berubah.

Beban saya adalah mencoba yang terbaik untuk membantu kaum saleh di dalam pemulihan Tuhan keluar dari konsep yang keliru dan dibawa ke dalam garis sentral ekonomi Allah, yang adalah memperhidupkan Kristus sebagai perwujudan Allah oleh realisasi dari Roh itu. Hari ini kita di sini sebagai manusia, tetapi kita memperhidupkan Allah tritunggal di dalam kehidupan manusia kita. Namun, hari ini, banyak orang akan menentang kita karena mengatakan bahwa kita memperhidupkan Allah. Tetapi Paulus berkata, “Karena bagiku, hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21a). Paulus adalah seorang manusia, tetapi dia memberitahu kita bahwa dia memperhidupkan Kristus, dan Kristus adalah Allah. Memperhidupkan Kristus adalah memperhidupkan Allah. Kita semua harus melihat hal ini. Kehidupan Kristiani bukanlah semacam perbaikan dari kehidupan insani kita. Kehidupan Kristiani adalah kehidupan yang ditransformasi, suatu kehidupan yang mentransformasi kita menjadi manusia Allah. Saya harap bahwa persekutuan ini membantu kita untuk menuntut Allah menurut wahyu yang tepat di dalam Firman kudus.