← Daftar isi Mazmur (1) · bab 15/42

EKSPRESI CAMPURAN DARI PERASAAN PEMAZMUR DI DALAM KENIKMATANNYA AKAN ALLAH

DI DALAM RUMAH ALLAH

(3)

Pembacaan Alkitab: Mzm. 31-33

Ketika kita datang pada Mazmur dengan pandangan yang jelas mengenai seluruh Alkitab beserta prinsip-prinsipnya, kita dapat menyadari bahwa kitab Mazmur memikul dua beban. Kitab Mazmur memperhatikan dua tanggungjawab. Pertama, memperlihatkan Kristus kepada kita. Kedua, memperlihatkan Kristus dalam perbandingan dengan hukum taurat.

Permulaan dalam kitab Kejadian, Kristus diwahyukan sebagai pohon hayat. Seorang pengajar Alkitab mengatakan bahwa pohon hayat hari ini sudah tidak ada, tetapi pohon hayat dalam Kejadian 2 adalah sebuah pusatnya. Jika pohon hayat dikeluarkan dari Kejadian 2, maka Kejadian 2 tidak memiliki makna apapun dan menjadi bukan apa-apa. Adalah salah berkata bahwa pohon hayat pada hari ini sudah tidak ada. Dalam Wahyu 2:7 Tuhan Yesus berkata bahwa bagi para pemenang Ia akan memberikan makan dari pohon Hayat. Yesus datang untuk memberi kita makan dengan Diri-Nya sendiri sebagai pohon hayat. Tanggungjawab pertama dari firman Allah yang tertulis memikul adalah untuk memperlihatkan Kristus kepada kita.

Kehendak Allah dalam kekekalan yang lampau bukanlah mengenai hukum taurat. Hukum taurat datang di Bukit Sinai. Bukity Sinai dijelaskan oleh Paulus pada Galatia 4, bukan berada pada aspek positif tetapi dalam aspek negatif (ay.24-25). Dalam pandangan Allah dan rasul Paulus, Bukit Sinai adalah rentang waktu yang sangat negatif. Sinai menghasilakan budak, dan dilambangkan oleh gundik, Hagar. Isteri yang tepat adalah Sara. Hagar adalah gundik. Darimanapun datangnya, gundik ini adalah seorang budak. Seluruh orang Yahudi yang memustikakan, meninggikan, dan berusaha untuk mentaati hukum taurat adalah budak dibawah hukum taurat.

Disamping Bukit Sinai terdapat bukit yang lain, yaitu Bukit Sion. Ibrani 12 mengatakan bahwa dalam Perjanjian Baru kita harus datang ke Bukit Sion bukan ke Bukit Sinai (ay.22). di Bukit Sion kita bukanlah budak, tetapi kita adalah putra-putra dari perempuan merdeka. Artinya kita adalah putra kasih karunia. Kasih karunia Allah dilambangkan oleh perempuan merdeka, Sara. Hukum taurat dilambangkan oleh seorang gundik. Kita bukanlah bagi hukum taurat, tetapi sebagai putra-putra dari perempuan merdeka, kita meninggikan Kristus. Tanggungjawab pertama adalah untuk memperlihatkan Kristus kepada kita.

Tanggungjawab kedua dari Mazmur adalah untuk memberikan kepada kita suatu perbandingan antara Kristus dan hukum taurat. Dalam berita delapan kita melihat garis, prinsip, dan roh dari Alkitab. Dalam Alkitab, Allah memperlihatkan kepada kita hanya dua garis. Yang satu adalah garis yang tepat dan tang lainnya adalah garis yang negatif. Garis yang tepat adalah Kristus dari Allah, dan garis yang negatif adalah satan. Inilah sebabnya terdapat dua pohon dalam Kejadian 2, dan kedua pohon melambangkan dua sumber. Pohon hayat melambangkan Allah sebagai sumber hayat. Pohon pengetahuan baik dan jahat melambangkan Satan sebagai sumber kematian. Kemudian diluar dua sumber ini ada dua garis. Satu garis adalah garis siang dan garis yang lain adalah garis malam. Garis negatif dari kegelapan adalah garis kekacauan satan. Garis positif dari terang adalah garis ekonomi ilahi.

Sebagai tambahan pada kedua garis, terdapat juga garis hukum taurat. Kristus adalah garis utama, dan hukum taurat adalah garis sisi. Jika kamu tidak dapat menangani garis sisi secara tepat, maka garis sisi menjadi bagian dari garis negatif yang merupakan garis kekacauan, garis kematian, garis pengetahuan baik dan jahat. Sejak hari hukum taurat diberikan, umat Allah sangat jarang menangani hukum taurat dengan tepat. Saya percaya bahwa Musa mengetahui sesuatu mengenai posisi hukum taurat karena ketika ia menjadi tua ia menulis Mazmur 90. Dalam ayat 1 ia berkata, “Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.” Berdasarkan kesadaran Musa, Allah adalah tempat kediaman kita, dan kita hidup di dalam Allah. Ini mutlak bukan berdasarkan pada hukum taurat.

Tanggungjawab Mazmur yang kedua adalah untuk memperlihatkan kepada kita perbedaan antara Kristus dan hukum taurat. Banyak dari pembaca Mazmur tidak mengerti hal ini. mereka berpikir bahwa segala sesuatu di dalam Mazmur adalah positif. Tetapi kita telah melihat banyak ekspresi dalam Mazmur yang menurut konsep manusia meninggikan hukum taurat, bukan menurut konsep ilahi meninggikan Kristus. Kita melihat pada berita sebelumnya adalah sulit untuk menemukan segala sesuatu dalam Mazmur 28-30 yang meningkat pada standar ilahi dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Pada berita ini kita ingin melihat ekspresi campuran dari perasaan pemazmur dalam Mazmur 31-33. Kebanyakan dari pembicaraan Daud dalam Mazmur ini berdasarkan pada konsep alamiah. Sangat disesalkan, ketika kebanyakan pembaca Alkitab datang pada Mazmur, mereka tidak banyak melihat Kristus. Mereka mungkin melihat poin-poin yang baik dalam Mazmur yang berdasarkan pada konsep manusia. Mazmur mendesak dan menasehatkan kita untuk takut akan Tuhan. Kemudian mereka memberitahukan kepada kita untuk mengambil perlindungan di dalam Allah. Sebagai seseorang dibawah berbagai macam penyerangan, kita memerlukan perlindungan, sebuah tempat untuk sembunyi. Kita dapat mengambil perlindungan di dalam Allah kita, dan berharap di dalam Allah. Kemudian Pemazmur berkata untuk memuji Allah, mengucap syukur pada Allah, dan menyembah Allah. Semuanya ini adalah poin-poin yang merupakan latar belakang dimana seluruh mazmur disusun: takut akan Allah, berharap di dalam Allah, memuji Allah, mengucap syukur kepada Allah, dan untuk menyembah Allah. Kesemuanya ini adalah poin-poin utama yang banyak terdapat dalam mazmur, khususnya dalam Mazmur 31-33.

VII. DALAM MENGALAMI DAN MENIKMATI

KESELAMATAN ALLAH DARI KESESAKANNYA

Mazmur 31 memperlihatkan kita ekspresi campuran dari perasaan pemazmur dalam menikmati dan menikamti keselamatan Allah dari kesesakkannya. Dalam Mazmur 31 Daud tidak mengatakan keselamatan Allah dari penghukuman kekal dan dari penghakiman Allah tetapi keselamatan dari kesesakkannya. Dalam Mazmur 31 ia membuat daftar hal-hal dari kesesakkannya.

A. Mngambil Perlindungan di dalam Allah sebagai sebuah batu Karang Perlindungan dan sebuah Kubu Pertahanan untuk Mengeluarkannya dari Jaring yang Dibentangkan secara Rahasia bagi Dia oleh Musuh-musuhnya.

Daud berkata bahwa ia mengambil perlindungan di dalam Allah sebagai batu karang perlindungan dan kubu pertahanan untuk mengeluarkannya dari jaring yang dibentangkan secara rahasia baginya oleh musuh-musuhnya (ay. 1-4). Tuhan Yesus berkata bahwa Ia sebagai batu karang untuk membangun Gereja (Mat. 16:18), tetapi Daud berkata bahwa Allah sebagai batu karang adalah untuk perlindungannya untuk menyelamatkannya dari kesesakkan. Kehendak hati Allah adalah untuk menyelamatkan manusia dari penghukuman kekal dan penghakiman, bukan dari kesesakkan mereka. Sekali kita diselamatkan dari penghukuman kekal, Allah ingin melanjutkan untuk menjadi keselamatan kita sehingga kita dapat hidup dan memperbesar Kristus (Flp. 1:19-21a). Mungkin seorang isteri ingin diselamatkan dari perangai buruk suaminya, dan suami ingin diselamatkan dari ketidaksetujuan isterinya. Dengan kata lain, mereka ingin diselamatkan dari kesesakkan mereka. Tetapi keselamatan Allah bagi kaum beriman Perjanjian Baru adalah untuk menopang dan menguatkan mereka untuk hidup dan memperbesar Kristus.

Daud juga meninggikan kebaikan Allah dimana Ia tidak menyerahkannya kedalam tangan musuh-musuhnya tetapi menegakkan kakinya di tempat yang lapang (ay. 5-8). Ekspresi ini mengindikasikan bahwa Daud adalah seorang yang sangat mementingkan diri sendiri bahkan dalam mencari keselamatan Allah.

B. Menyebutkan satu per satu kepada Allah

Kesengsaraan dan Kesesakkannya

Dalam ayat 9-13 Daud menyebutkan satu per satu kepada Allah kesengsaraan dan kesesakkannya: “Kasihanilah aku, ya TUHAN, sebab aku merasa sesak; karena sakit hati mengidaplah mataku, meranalah jiwa dan tubuhku” (ay.10). Adalah sangat baik bagi Daud untuk memohon Allah untuk membelas-kasihaninya, untuk memiliki kasih karunia untuknya. Ini terdengar agak seperti Perjanjian Baru. Daud juga berkata bahwa matanya menjadi sia-sia karena kesedihan. Menjadi sia-sia berarti menjadi kering. Daud berkata bahwa ia telah menjadi seseorang yang kering melalui penderitaannya, yang baginya adalah kesesakkan.

Dalam ayat 11-14 ia berkata,” Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah; kekuatanku merosot karena sengsaraku, dan tulang-tulangku menjadi lemah. Di hadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku, dan menjadi kekejutan bagi kenalan-kenalanku; mereka yang melihat aku di jalan lari dari padaku. Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati, telah menjadi seperti barang yang pecah. Sebab aku mendengar banyak orang berbisik-bisik, - ada kegentaran dari segala pihak! - mereka bersama-sama bermufakat mencelakakan aku, mereka bermaksud mencabut nyawaku.” Semua butir dalam ayat-ayat ini dianggap oleh Daud sebagai kesesakkannya. Perkataan Daud mengenai orang lain mengambil keputusan untuk menentang dia dan bermufakat untuk mengambil nyawanya, sebenarnya adalah pengalaman terhadap Tuhan Yesus (Mat.27:1). Pada poin ini, Daud memikul tanggung jawab untuk memperlihatkan Yesus kepada kita.

Kesesakkan Daud meliputi kesedihannya, dukacita, dan celaan dari lawan-lawannya. Kita orang Kristen hari ini yang mengikuti Tuhan juga menderita banyak kesesakkan, termasuk penganiayaan. Perjanjian Baru, memperlihatkan kita bahwa Rasul Paulus tidak berkomentar mengenai hal ini. Dalam kitab roma, Paulus berkata bahwa segala sesuatu bekerja bersama untuk mendatangkan kebaikkan baginya sehingga ia dapat diubah sebagai salah satu dari banyak putra-putra Allah ke dalam gambar Putera Sulung Allah (8:28-29). Paulus tidak berkomentar mengenai kesesakkannya. Malahan ia menyadari bahwa segala sesuatu bekerja bersama untuk kebaikkannya sehingga ia dapat di ubah dan diserupakan dengan gambar Kristus.

C. Percaya ke dalam Allah bagi Keselamatannya

Dan Bercahaya atas-Nya

Daud berkata, “Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: "Engkaulah Allahku! Masa hidupku ada dalam tangan-Mu,” (ay.15-16a). Ini adalah perkataan yang saat baik, tetapi wahyu dalam Perjanjian Baru lebih tinggi dari ini. Masa hidup Daud ada ditangan Allah, tetapi seluruh diri kita sekarang ada di dalam Kristus. Masa hidup Daud ada di dalam tangan Allah, tetapi kita sekarang ada dalam Kristus, yang adalah perwujudan Allah (1 Kor 1:30a; 2 Kor 5:17). Adalah jauh lebih tinggi untuk berada di dalam Kristus.

Ayat 17a mengatakan, “Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-hamba-Mu.” Daud mencari wajah Allah untuk bercahaya atasnya. Ia ingin menjadi kesenangan bagi Allah, dan ia ingin Allah bahagia dengannya. Ayat ini berada dalam konteks kehendak daud untuk dilepaskan dari musuh-musuhnya dan agar musuh-musuhnya mendapatkan malu (ay. 16b, 18). Karena itu, terang yang dimaksud Daud dalam Mazmur 31 ini bukanlah jenis terang yang kita cari. Jenis terang yang kita perlukan untuk mencari adalah cahaya yang mengekspos kita. ketika kita berada dibawah terang Allah, kita akan melihat bahwa kita jelek, tidak menyenangkan. Ketika kita masuk ke dalam terang Allah, kita akan merebahkan diri kita ke tanah untuk mengaku dosa.

D. Memuji Allah dan Menasehati Orang-orang Salehnya

untuk Mengasihi Dia dan untuk Menjadi Kuat dan Terdorong

Dalam ayat 21-24, Daud memuji Allah dan menasehati orang-oarang salehnya untuk mengasihi Allah dan untuk menjadi kuat dan terdorong.

VIII. DALAM MENGALAMI PENGAMPUNAN ALLAH

Dalam Mazmur 32 Daud mengekspresikan perasaannya dalam mengalami pengampunan Allah.

A. Mengalami Pertobatannya

dan Pengampunan Allah terhadap dosa

Ayat 1-2a berkata, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN.” Ini memiliki banyak makna. Jika tidak ada Penebus, bagaimana Allah yang adilbenar tidak memperhitungkan kesalahan kita? Jika Allah melakukan hal ini tanpa seorang Penebus, Allah akan menjadi tidak adilbenar. Allah tidak memperhitungkan kesalahan kita berdasarkan penebusan Kristus.

Daud berkata terberkatilah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Yehova dan “yang tidak berjiwa penipu”(ay. 2b). Pada satu sisi, Daud mengindikasikan bahwa ia telah diampuni dari dosa-dosanya, namun disisi lain ia mengindikasikan bahwa di dalam rohnya tidak ada tipu muslihat. Kedua hal ini tidaklah sesuai dengan Kitab Suci. Jika tidak ada tipu muslihat didalam manusia, maka ia tidak akan menjadi pendosa yang memerlukan pengampunan Allah. Sejak kamu memerlukan pengampunan Allah, kamu harus menyadari bahwa kamu penuh dengan tipu muslihat. Siapakah orang yang tidak memiliki tipu muslihat apapun dalam rohnya yang harus mengaku dosa-dosanya? Ini tidaklah logika.

Ayat 3-4a berkata,” Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat.” Ekspresi Daud disini adalah baik untuk memperlihatkan kepada kita bahwa Allah mengadakan perjanjian dengannya mengenai dosa-dosanya. Ia melanjutkan berkata, “Sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. S e l a. Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. S e l a”(ay. 4b-5). Kesalahan karena dosanya mengacu kepada keefektifan dosa. Allah tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita tetapi juga keefektifan dosa kita yang pantas menerima penghukuman-Nya.

B. Menasehati Orang-orang Saleh untuk Berdoa dengan Mengaku Dosa

Selagi Allah dapat Ditemui

Ayat 6 berkata, “Sebab itu, hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidak melandanya”. Ini menunjukkan bahwa meskipun Daud mengaku dosanya dan menyadari kesalahan dosanya, dia menganggap dirinya sendiri sebagai orang saleh. Apakah dia orang dosa atau apakah dia orang saleh? Ini adalah sebuah mazmur pengakuan dosa, tetapi pengakuan dosa ini ada pembenaran diri sendiri. Dia mengakui dosanya, tetapi dia juga menunjukkan bahwa dia tidak memiliki roh penipu, bahwa dia adalah orang saleh, dan bahwa dia mencari Allah selagi Allah dapat ditemui.

Dalam ayat 7 Daud berkata, “Engkaulah tempat persembunyianku; Engkau menjagaku dari masalah; Engkau mengelilingi aku dengan sorak-sorai kebebasan. Sela.”

C. Petunjuk dan Pengajaran Allah

Kemudian Allah datang untuk menunjukkan dan mengajar Daud. Ayat 8-10 berkata, “Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau. Banyak kesakitan diderita orang fasik, tetapi orang percaya kepada Yehova dikelilingi-Nya dengan kasih setia.” Daud berkata bahwa orang fasik memiliki banyak kesakitan, tetapi orang yang percaya kepada Yehova dikelilingi-Nya dengan kasih setia. Apakah Daud seorang yang banyak kesakitan, atau apakah dia seorang yang percaya kepada Yehova? Sangat sulit dikatakan, Daud termasuk kategori yang mana. Ini menunjukkan bahwa pembicaraannya di sini menurut konsep alamiahnya.

Ayat 11 berkata, “Bersukacitalah dalam YEHOVA dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!” Siapakah orang benar dan siapakah orang yang hatinya jujur? Kita tidak memiliki keberanian bahwa kita adalah orang yang demikian. Maka, ini adalah mazmur dengan permulaan yang baik, tetapi dengan akhir yang kasihan. Permulaannya adalah pengakuan dosa, dan akhirnya adalah pembenaran diri sendiri. Secara mendasar dapat dikatakan, Mazmur 31 dan 32 menunjukkan pada kita seorang yang mencoba untuk memelihara hukum Taurat tanpa Kristus.

IX. DI DALAM MEMUJI DAN MENGUCAP SYUKUR KEPADA ALLAH

Mazmur 33 adalah ekspresi campuran dari perasaan pemazmur di dalam memuji dan mengucap syukur kepada Allah.

A. Mendorong Orang Benar untuk Memuji Allah

dan Mengucap Syukur kepada Allah

Pemazmur mendorong orang benar untuk memuji Allah dan mengucap syukur kepada Allah (ay. 1-5).

B. Memuji Allah untuk Pemulihan-Nya

akan Langit dan Bumi

Dalam ayat 6-9 Pemazmur memuji Allah untuk pemulihan-Nya akan langit dan bumi. Ayat 9 mengatakan, “Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.” Ketika Allah berbicara “Jadilah Terang,” maka terang itu ada (Kej. 1:3). Ketika Allah memerintahkan, sesuatu keluar dan berdiri tegak. Ini baik, tetapi kita perlu melihat pengajaran Paulus bukan berdasarkan pemulihan dari kekacauan alam semesta, tetapi kebangkitan Kristus dari kematian.

Kita telah mati sekali, tetapi suatu hari Tuhan membuat kita hidup dan membangkitkan kita dari kematian (Ef. 2:1,5-6). Hari ini kita hidup dalam kebangkitan. Kita bukanlah umat yang dipulihkan tetapi umat yang dibangkitkan! Kita mungkin sangat terkesan dengan pemulihan Allah akan langit dan bumi, tetapi Perjanjian Baru adalah mengenai ciptaan baru dalam kebangkitan (ay.20). Tidak peduli seberapa banyak pemulihan akan langit dan bumi dilakukan, semuanya itu tetap adalah ciptaan lama, tetapi kita ini adalah ciptaan baru. Kita bukanlah dipulihkan; kita dibangkitkan. Dalam Perjanjian Baru tidak terdapat satu pun yang memerintahkan kita untuk memuji Allah karena pemulihan akan langit dan bumi. Malahan Paulus berbicara dari kehendak hatinya adalah untuk mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya (Flp. 3:10).

Saya ingin menekankan lagi bahwa Mazmur memperlihatkan kepada kita rendahnya hukum taurat dan keunggulan Kristus. Adalah baik untuk memuji Allah untuk pemulihan-Nya akan langit dan bumi tetapi ini tidaklah setinggi seperti memuji Dia untuk kebangkitan Kristus, Kristus membangkitkan kita dari kematian (Ef. 2:6). Ini jauh lebih tinggi dari pada pemulihan akan langit dan bumi.

C. Memuji Allah dalam Hubungan-Nya

dengan Putera Manusia diatas Bumi

Dalam ayat 10-15 Pemazmur memuji Allah dalam hubungan-Nya dengan putera-putera manusia diatas bumi.

D. Memuji Allah dalam Pembebasan-Nya

dan Pemeliharaan

Pemazmur memuji Allah dalam pembebasan-Nya dan pemeliharaan yang lebih kuat daripada mereka dengan pasukannya yang besar, oleh seorang pahlawan dengan besarnya kekuatan, dan oleh kuda dengan kekuatannya yang besar (ay. 16-19). Ia membandingkan kekuatan penyelamatan Allah dan kekuatan pemeliharaan Allah dengan pasukan yang besar, pahlawan dan seekor kuda. Ketika saya masih orang Kristen baru, saya merasa bahwa hal ini adalah luar buasa, tetapi hari ini saya tidak merasakan demikian. Perjanjian Baru tidak membandingkan Allah kita dengan kuda. Hal ini lagi-lagi memperlihatkan bahwa kita seharusnya tidak mempercayai pemahaman alamiah kita ketika kita membaca Mazmur. Kita perlu memiliki suatu perubahan dari konsep alamiah kepada konsep ilahi.

E. Menanti Allah sebagai Pertolongan-Nya dan Perisai-Nya,

Percaya dalam Nama-Nya yang Kudus,

dan Memiliki Pengharapan dalam Dia

Pada kesimpulan dari Mazmur 33, Pemazmur berkata bahwa ia menanti Allah sebagai pertolongannya dan perisai dan percaya dalam nama-Nya yang kudus, memiliki pengharapan dalam Dia (ay. 20-22).

PERBEDAAN ANTARA KRISTUS DAN HUKUM TAURAT

Sekarang saya ingin membicarakan sebuah kata mengenai perbedaan antara Kristus dan hukum taurat. Perbedaan antara Kristus dan hukum taurat adalah perbedaan antara ekonomi Perjanjian Lama dengan ekonomi Perjanjian Baru. Perjanjian lama berada dibawah hukum taurat, manusia selalu berusaha keras untuk mencapai standar hukum taurat. Manusia menyadari bahwa ia adalah lemah dan berdosa, sehingga mereka memohon belas kasihan Allah, kasih setia Allah, dan ia meletakkan kepercayaannya ke dalam Allah. Ia selalu mengambil Allah sebagai perlindungan, penantian terhadap Allah, berharap pada Allah, memuji Allah, mengucap syukur pada Allah, dan menyembah Allah. Semua inilah yang dilakukan manusia karena di dalam Perjanjian Lama Allah terpisah dari manusia, dan manusia terpisah dari Allah. Manusia dan Allah terpisah.

Kemudian dalam ekonomi Perjanjian Baru, Allah datang pada manusia untuk berinkarnasi dan dilahirkan sebagai Allah-Manusia. Ketika Kristus hidup di bumi, ketika itulah Allah hidup di atas bumi di dalam manusia. Melalui penebusan-Nya, Ia menyelesaikan semua masalah-masalah untuk manusia dan membuka jalan sehingga Ia dapat masuk ke dalam manusia. Dalam Inkarnasi-Nya Ia masuk melalui rahim perawan, tetapi melalui kematian dan kebangkitan Ia masuk kedalam ribuan manusia. Untuk masuk ke dalam manusia, Ia bangkit. Dalam kebangkitan-Nya Ia menjadi Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45b) dan menjadi Putera Sulung Allah (Rm. 8:29) yang membawa Allah kepada manusia; dalam kebangkitan-Nya Ia membawa manusia kepada Allah. Melalui perkara ini Ia menggenapkan perbauran antara Allah dengan manusia. Ia membaurkan Allah dan manusia kedalam satu.

Sekarang kita kaum beriman ada di dalam Dia dan Dia ada didalam kita. Ia dan kita menjadi satu persona. Dia memiliki hayat ilahi dan sifat ilahi, dan begitu pula dengan kita. Kita memiliki hayat manusia dan sifat insani, dan demikian pula dengan Dia. Dia telah menjadi kita, dan kita menjadi Dia. Kita perlu mengakui bahwa kita telah disalibkan bersama Dia. Sekarang bukan lagi kita hidup, melainkan Kristus yang hidup didalam kita (Gal. 2:20).

Dalam ekonomi Perjanjian Baru, kita harus melakukan sesuatu tetapi bukan sesuatu yang dilakukan oleh kaum beriman Perjanjian Lama. Dalam ekonomi Perjanjian Baru, kita harus percaya ke dalam Kristus (Yoh. 3:16, 36). Kemudian kita harus mengasihi-Nya (Yoh 14:21, 23). Kita juga harus memperhidupkan Dia sehingga kita dapat memperbesar Dia (Flp. 1:19-21a). Dalam Perjanjian Baru, kita tidak melakukan sesuatu yang keluar dari kekuatan alamiah kita. Kita menikmati Dia. Percaya kedalam Dia adalah menerima Dia; mengasihi Dia adalah menikmati Dia; dan memperhidupkan Dia adalah untuk memperbesar Dia. Apapun yang kita lakukan dalam Perjanjian Baru adalah suatu kenikmatan.

Allah tidak berkehendak supaya kita melakukan apa yang baik. Ia hanya ingin agar kita memperhidupkan Kristus. Untuk memperhidupkan Kristus menyatakan banyak hal. Memperhidupkan Kristus berarti menjadi kudus dan menang. Memperhidupkan Kristus beratri tidak hilang kendali emosi dan memiliki daya tahan dan penuh kesabaran. Kita hanya perlu memperhidupkan kristus, dan kehidupan demikian menyatakan banyak hal dalam hidup Kristiani. Itu berarti iman kita dan kejujuran kita. Memperhidupkan Kristus adalah segala sesuatu. Inilah mengapa Perjanjian Baru menekankan kita untuk memperhidupkan Kristus agar kita dapat memperbesar Kristus. Kita perlu untuk hidup, bergerak, dan berjalan dengan roh, membiarkan seluruh diri kita berdasarkan pada roh perbauran (Rm. 8:4). Inilah ekonomi Perjanjian Baru.

Banyak istilah dalam mazmur Perjanjian lama adalah baik, tetapi baik dalam alamiah. Tidak ada perkara yang dilakukan dengan Roh. Perjanjian Baru berada di lapangan yang lain, di dunia yang lain. Bersama-sama dengan Roh, yang adalah perwujudan dari Allah Tritunggal. Karena itu, segala sesuatu dalam Perjanjian Baru adalah perkara di dalam Allah Tritunggal. Kejujuran, kesetiaan, kesabaran, ketahanan, kebaikan dan segala apa adanya kita dan apa yang kita lakukan melibatkan Allah Tritunggal. Seluruh kebajikan kita haruslah merupakan ekspresi dari Allah Tritunggal, bukan merupakan ekspresi diri sendiri. Hidup orang Kristen dalam Perjanjian Baru bukanlah apa yang kita lakukan, tetapi perkara kita memperhidupkan Kristus. Memperhidupkan Dia diperlukan untuk memperbesar Dia adalah untuk menikmati Dia. Karena itu, setiap hari kita seharusnya tidak melakukan apapun tetapi menikmati Kristus. Kristus adalah kenikmatan kita.

Perkataan ini ada dalam Kidung, #499, #501, dan #841. Ketiga kidung ini ditulis mutlak berdasarkan ekonomi Perjanjian Baru. Kidung # 841 adalah mengenai membangun gereja. Banyak orang Kristen masih meninggikan hukum taurat, sisanya di dalam ekonomi Perjanjian Lama.

Kita perlu memiliki daya pembeda yang tepat untuk melihat perbedaan antara ekonomi Perjanjian Lama dan ekonomi Perjanjian Baru. Pada satu sisi, mazmur sangatlah menyenangkan hati karena penuh dengan aspirasi dari perasaan dari seorang yang mencari Allah. Disisi lain, banyak bagian dari mazmur tidak berdasarkan ekonomi Perjanjian Baru. Ekonomi Perjanjian Baru mencakup pertama, inkarnasi; kedua, kebangkitan; dan ketiga, perbauran. Allah datang pada kita dan Ia membawa kita kedalam Dia. Dia merampungkan perbauran ilahi dan insani. Kita dan Dia hidup sebagai satu persona dalam satu hayat yang sama dan dengan satu alamiah yang sama. Kita seharusnya berusaha keras untuk memelihara hukum taurat. Lebih baik kita memperhidupkan hanya satu persona—Kristus. Kita memperhidupkan Kristus agar Dia dapat diperbesar.

Saya berharap kita dapat melihat wahyu ini. ketika kita datang pada beberapa mazmur, kita harus menimbangnya dengan skala ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kemudian kita akan menyadari mana yang menjadi milik Bukit Sinai dan mana yang menjadi miliki Bukit Sion. Kita disini di atas Bukit Sion ketika kita memiliki gereja, Tubuh Kristus, dan ekonomi Allah untuk kesaksian Allah.