EKSPRESI CAMPURAN DARI PERASAAN PEMAZMUR DI DALAM KENIKMATANNYA AKAN ALLAH
DI DALAM RUMAH ALLAH
(1)
Pembacaan Alkitab: Mzm. 25-27
Sejauh ini, kita telah melihat empat pos mengenai Kristus di dalam kitab Mazmur. Empat pos ini adalah Mazmur 2, Mazmur 8, Mazmur 16, dan Mazmur 22-24. Sekarang, kita harus datang ke bagian terakhir Kitab Pertama dari Mazmur, Mazmur 25-41. Judul umum dari Mazmur 25-41 adalah “Ekspresi Campuran dari Perasaan Pemazmur di dalam kenikmatan-Nya akan Allah di dalam Rumah Allah”. Kita perlu mempertimbangkan arti kata perasaan. Perasaan seseorang adalah kondisi dari situasi batininya. Ketika Daud menulis mazmur-mazmur ini, ada situasi batini tertentu padanya. Dia menulis mazmur-mazmur ini menurut suatu “pemandangan batini”.
Daud bukanlah seorang yang di permukaan, dangkal. Dia sangat bijaksana. Ketika dia menulis mazmur-mazmur ini, ada banyak perasaan, pemikiran, dan pertimbangan di dalamnya. Mazmur 25-41 adalah ekspresi campuran Daud dari perasaan batininya, situasi batininya, pemandangan batininya, di dalam kenikmatannya akan allah di dalam rumah Allah. Ekspresi itu luaran; perasaan adalah batini. Kenikmatan Daud akan Allah di dalam rumah Allah, dia memiliki banyak perasaan dan pemikiran batini, maka dia mengekspresikannya.
Tujuh belas mazmur ini berisi banyak ekspresi campuran. Beberapa rohani, beberapa ilahi, beberapa sangat alamiah, dan beberapa harus dihakimi. Beberapa ekspresinya harus ditaruh di bawah kaki kita, sedangkan yang lain harus ditinggikan sampai puncaknya. Ekspresi di dalam mazmur-mazmur ini tidak ilahi, tidak baik, atau tidak buruk. Kita perlu pembedaan yang tepat mengenai apakah ekspresi ini milik pohon hayat atau pohon pengetahuan baik dan jahat.
I. DALAM MENCARI BIMBINGAN DAN PENGAJARAN ALLAH
DENGAN JALAN DAN JALURNYA
Dalam Mazmur 25, Daud mengekspresikan perasaannya dalam mencari bimbingan dan pengajaran Allah dengan jalan dan jalur-Nya. Jalan adalah jalan utama, dan jalur adalah gang, jalan kecil. Dalam perkara-perkara ilahi Allah, di dalam wahyu ilahi-Nya, ada banyak jalan, jalan utama, dan ada jalur. Kita perlu mencari bimbingan dan pengajaran Allah dengan jalan dan jalur-Nya.
A. Memohon Allah untuk Tidak Membiarkannya Mendapat Malu
dan Tidak Membiarkan Musuhnya Bersukaria atas Dia
tetapi Membiarkan Orang yang Khianat Dipermalukan
karena Peninggian jiwanya kepada Allah,
Kepercayaan (Keyakinan)-nya di dalam Allah,
dan Penantiannya pada Allah
Daud memohon Allah tidak membiarkannya mendapat malu dan tidak membiarkan musuhnya bersukaria atas dia. Bersukaria adalah suatu sukacita yang besar dengan cara bersorak-sorai. Daud juga menginginkan orang yang khianat dipermalukan karena karena peninggian jiwanya kepada Allah, kepercayaan (keyakinan)-nya di dalam Allah, dan penantiannya pada Allah (ay.1-3). Jiwa Daud jatuh, maka dia meninggikan jiwanya kepada Allah. Artinya, dia melihat pada Allah.
Permohonan Daud supaya Allah tidak membiarkannya mendapat malu dan tidak membiarkan musuhnya bersukaria atas dia adalah milik pohon pengetahuan baik dan jahat, bukan pohon hayat. Permintaannya kepada Allah untuk membiarkan orang yang khianat dipermalukan juga milik pohon pengetahuan baik dan jahat.
Sekarang kita perlu mempertimbangkan peninggian jiwa Daud kepada Allah, kepercayaannya di dalam Allah, penantiannya pada Allah menurut konteks Mazmur 25. Apakah hal ini milik pohon hayat atau pohon pengetahuan baik dan jahat? Kita tidak dapat menjawab pertanyaan ini dengan cara yang pasti karena Daud mencari Allah menurut dan di dalam zaman perjanjian lama di bawah hukum Taurat. Hari ini, kita di dalam perjanjian baru di bawah kasih karunia. Di zaman perjanjian lama, peninggian jiwa Daud kepada Allah, kepercayaan di dalam Allah, dan penantian pada Allah adalah sangat baik, tetapi hal-hal itu tidak mencapai standar perjanjian baru. Standar perjanjian baru jauh lebih tinggi daripada perjanjian lama.
B. Meminta Allah, sebagai Allah Keselamatannya
untuk Mengajar dan Membimbing Dia melalui
Belas Kasihan dan Kasih Setia-Nya
Daud juga meminta Allah, sebagai Allah keselamatannya, untuk mengajar dan membimbing dia melalui belas kasihan dan kasih setia-Nya (ay. 4-6).
C. Meminta Allah Tidak Mengingat tetapi Mengampuni
Dosa-Dosanya, Pelanggarannya, dan Kesalahannya yang Besar
Daud meminta Allah tidak mengingat tetapi mengampuni dosa-dosanya, pelanggarannya, dan kesalahannya yang besar (ay. 7, 11, 18b). Ini pasti milik pohon hayat karena pada permulaan Perjanjian Baru ada seseorang yang memberitahu orang-orang untuk bertobat (Mat. 3:1-2). Cara bagi kita untuk masuk ke dalam zaman Perjanjian Baru adalah pengakuan kita akan dosa-dosa ditambah pengampunan Allah akan dosa-dosa kita. Ini adalah ambang pintu dari zaman Perjanjian Baru. Kita mengaku dan Allah mengampuni; lalu kita masuk ke dalam zaman Perjanjian Baru.
D. Dijamin bahwa Allah, Baik dan Benar,
Menunjukkan Jalan kepada Orang-Orang Dosa
Daud menjamin bahwa Allah, baik dan benar, menunjukkan jalan kepada orang-orang dosa (Mzm. 25:8). Daud tidak berkata “jalan” apa itu. Saya percaya bahwa ini mengacu petunjuk Allah atas orang-orang dosa mengenai cara pengakuan dosa-dosa mereka dan mengenai cara pengampunan Allah. Dijamin bahwa Allah, baik dan benar, menunjukkan pada kita, orang-orang dosa mengenai bagaimana mengakui dan bagimana menerima pengampunan-Nya.
Daud juga berkata bahwa Allah membimbing dan mengajarkan jalan-Nya pada orang yang rendah hati menurut hukum dan kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian dan kesaksian-Nya (ay. 9-10). Kata kesaksian di dalam Mazmur mengacu pada hukum Taurat dengan Sepuluh Perintah, peraturan, dan ketetapannya. Sebagai tambahan pada Sepuluh Perintah, hukum Taurat Musa memiliki banyak peraturan. Lalu ketika peraturan mengiringi penghakiman, mereka menjadi ketetapan. Ketetapan adalah peraturan dengan penghakiman. Inilah tiga kategori hukum Taurat—Sepuluh Perintah, peraturan, dan ketetapan. Secara total, hukum Taurat adalah kesaksian Allah. Di dalam ekspresi Daud, kita dapat melihat bahwa dia berada dalam lingkungan, atmosfir, dan bahkan unsur hukum Taurat, karena dia lahir dan hidup di zaman hukum Taurat.
Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus tiak mengajar orang untuk memelihara hukum Taurat Perjanjian Lama. Menurut pengajaran Tuhan Yesus di dalam Matius 5-7, hukum batini-Nya, hukum kerajaan surga, jauh lebih tinggi dan jauh lebih dalam daripada Sepuluh Perintah. Hukum Taurat perjanjian lama menanggulangi perbuatan membunuh (Mat. 5:21), tetapi hukum baru kerajaan menanggulangi marah, motivasi membunuh (ay. 22). Marah menghasilkan membunuh, maka di dalam Perjanjian Baru, marah sama dengan membunuh.
Daud selanjutnya berkata bahwa Allah menunjukkan manusia yang takut akan Dia mengenai jalan yang harus dia pilih (Mzm. 25:12). Jika kamu seorang yang demikian, Daud berkata bahwa kamu akan menjadi yang jiwanya akan tinggal dalam kebahagiaan dan yang keturunannya akan memiliki bumi. Konsep ini sesuai dengan pohon pengetahuan baik dan jahat. Mengikuti Tuhan di dalam Perjanjian Baru, kita harus meninggalkan segalanya. Apakah rasul Paulus menikmati semacam kebahagiaan luaran? Ia bahkan tidak memiliki keluarga. Dia meninggalkan segalanya dan kehilangan segalanya di dalam penuntutannya akan Kristus.
Daud juga berkata bahwa Allah memberi tahu mereka yang takut akan Dia, nasihat intim-Nya dan perjanjian-Nya. Ayat 14 berkata, “Nasihat intim Yehovaadalah milik orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka”. Daud menaruh perjanjian, hukum Taurat, bersama-sama dengan nasihat intim Allah. Ini adalah ekspresi campuran.
Saya ingin kita mempertimbangkan apakah kita pernah memiliki pengalaman akan nasihat intim Allah. Banyak orang Kristen menyukai Mazmur karena kitab ini dipenuhi dengan istilah-istilah yang manis , seperti nasihat intim. Saya mengalami nasihat intim Allah dengan cara yang sangat riil ketika saya dipenjarakan oleh serangan tentara Jepang sekitar lima puluh tahun di daratan Cina. Polisi militer Jepang menjebloskan saya ke dalam penjara dua kali, kali kedua selama tiga puluh hari. Saya melewati banyak penderitaan selama waktu itu, tetapi Allah menjaga saya. Lagipula, melalui mimpi, Allah memberi saya jaminan bahwa kehidupan saya akan dijaga. Bahkan hari ini, mimpi ini masih sedang dipenuhi. Tuhan juga memberi saya mimpi lain selama periode pemenjaraan ini. Semua mimpi ini adalah nasihat Allah yang sangat intim bagi saya di waktu penderitaan saya. Di satu pihak, saya menderita di penjara, tetapi Tuhan di dalam saya dengan cara yang intim memberi saya nasihat intim-Nya. Saya juga dapat bersaksi bahwa saya telah menikmati nasihat intim Allah selama bertahun-tahun dari kehidupan Kristiani saya.
Daud berbicara tentang nasihat intim Allah, tetapi dia mencampurkan ini dengan perjanjian lama, hukum Taurat. Konsep ilahi sesuai dengan pohon hayat dan konsep insani sesuai dengan pohon pengetahuan baik dan jahat terlihat di dalam ekspresi campuran Daud.
E. Memalingkan Matanya Terus Menerus kepada Allah
Daud berkata bahwa dia memalingkan matanya terus-menerus kepada Allah supaya Allah dapat mengeluarkan kakinya dari jaring dan akan berpaling kepadanya, membelaskasihani dia mengeluarkan masalah dari hatinya, dan membawanya keluar dari kesulitan, dan menilik pada kesengsaraan dan penderitaannya (ay. 15-18a). Di sini ada juga pencampurang dari konsep ilahi menurut pohon hayat dan konsep insani menurut pohon pengetahuan baik dan jahat.
F. Meminta Allah Melihat pada Banyak Musuhnya,
Yang Membenci Dia dengan Kebencian yang Sangat Mendalam
Daud meminta Allah untuk melihat pada banyak musuhnya, yang membenci dia dengan kebencian yang sangat mendalam (ay. 19). Ini adalah pohon pengetahuan baik dan jahat. Pasti Daud memalingkan kebenciannya pada musuhnya. Ini sepenuhnya bertentangan dengan prinsip Perjanjian Baru, yang memberitahu kita untuk mengasihi musuh kita dan berdoa bagi mereka (Mat. 5:43-44).
Daud juga meminta Allah untuk melepaskan dia dengan memelihara jiwanya dan tidak membiarkannya dipermalukan, karena dia berlindung di dalam Allah (Mzm. 25:20). Lalu dia meminta Allah untuk menjaganya, bukan karena penebusan dan belas kasihan Allah, tetapi karena integritasnya dan kejujurannya, karena dia menantikan Allah (ay. 21). Dia berkata bahwa dia berjalan menurut integritas, berjalan menurut kejujuran, dan menantikan Allah. Ini juga ekspresi campuran. Seusianya, tidak ada salahnya dengan menantikan Allah, tetapi bagi dia untuk meminta kepada Allah untuk menjaganya karena integritasnya adalah menurut konsep insani. Integritas berarti kemurnian mutlak ditambah kesempurnaan mutlak. Tentu saja Daud tidak murni, sempurna, atau jujur dengan mutlak. Dia tidak seharusnya meminta Allah untuk menjaganya karena integritas dan kejujurannya. Pemikiran semacam ini milik pohon pengetahuan baik dan jahat.
G. Meminta Allah untuk Menebus Israel
keluar dari Semua Masalahnya
Dalam Ayat 22 Daud meminta Allah untuk menebus Israel keluar dari semua masalahnya.
II. DI DALAM MEMINTA ALLAH UNTUK MENGHAKIMINYA, MEMERIKSANYA, MENCOBANYA, DAN MENGUJINYA
Mazmur 26 adalah ekspresi campuran dari perasaan Daud di dalam permintaannya pada Allah untuk menghakiminya, memeriksanya, mencobanya, dan mengujinya. Meminta Allah untuk memeriksa kita, adalah seperti meminta seseorang untuk datang dan memeriksa mayat. Apa yang ada di dalam kita yang layak untuk diperiksa Allah? Kita ini seperti mayat penuh dengan kebusukan, kerusakan, dan kekotoran. Tetapi banyak pembaca kitab Mazmur menyukai ekspresi Daud untuk menghakiminya, memeriksanya, mencobanya, dan mengujinya. Istilah Perjanjian Baru adalah ini—“Aku telah disalibkan dengan Kristus; tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:20a). Ini berarti bahwa kita telah diakhiri. Dalam ayat ini, kita adalah sebuah mayat, tidak layak menerima pemeriksaan macam apapun. Siapa yang memiliki keberanian meminta Allah untuk datang dan memeriksanya? Saya tidak berani melakukan hal ini.
Ketika saya dipenjarakan oleh serangan tentara Jepang, saya tidak meminta Allah, seperti yang Daud lakukan, untuk menghakimi saya untuk melihat bahwa saya telah berjalan menurut integritas atau untuk memeriksa saya karena saya berperilaku di dalam kebenaran-Nya (Mzm. 26:1-3). Sebaliknya, saya mengaku dosa-dosa, kekurangan, perbuatan salah, dan kecacatan saya kepada Dia setiap hari. Kita seharusnya memberitahu Tuhan , “Tuhan, saya tidak baik untuk apapun kecuali mati. Tetapi terimakasih pada-Mu bahwa Engkau telah mati bagiku di atas salib, dan di dalam baptisan aku telah dikuburkan. Sekarang seharusnya bukan lagi aku yang hidup, tetapi Engkau yang hidup di dalam aku”. Betapa perbedaan yang besar antara ekspresi menurut wahyu Perjanjian Baru ini dengan ekspresi Daud di dalam Mazmur 26!
Siapakah yang berani berdoa, “Allah, datang dan hakimi aku, periksa aku, coba aku, dan ujilah aku?” Apakah kita layak bagi Allah untuk menguji kita? Di dalam kita banyak cacat, kekurangan, perbuatan salah, kejahatan, pelanggaran, kesalahan, hal-hal jahat, ketidaksusilaan, dosa, dosa-dosa, dan pencemaran. Seringkali kita tidak benar di dalam sikap lahiriah kita terhadap yang lain. Untuk alasan ini, setiap hari saya harus mengaku dosa kepada Tuhan. Bahkan sebelum saya berbicara di dalam sidang, Saya seringkali berdoa, “Tuhan, ampuni aku dan bersihkan aku dengan darah mustika-Mu”. Jika saya tidak mengakui dosa-dosa saya dan kecemaran saya, saya tidak dapat memiliki hati nurani yang murni dengan roh yang kuat untuk berbicara bagi Tuhan.
A. Berdiri di atas Jalannya menurut integritas dan Kebenaran
untuk Berada di dalam Kemurahan dari Kasih Setia Allah
Daud berdiri di atas jalannya menurut integritas dan kebenaran untuk berada di dalam kemurahan dari kasih setia Allah (Mzm. 26:1, 3, 11a). Konsep ini menurut pohon pengetahuan baik dan jahat.
B. Tidak Duduk
Bersama dengan Orang Jahat
Daud tidak duduk bersama dengan orang jahat (ay. 4-5, 9-10). Di dalam Mazmur 26, Daud berbicara tentang seterunya di dalam dan musuhnya di luar. Dia merasa bahwa dia kudus, terpisah, dan musuhnya jahat. Namun, di mata Allah, dia dan seteru dan musuhnya adalah sama. Apa yang lebih baik tentang kita daripada yang lain? Semua manusia berdosa.
Kita perlu dilepaskan dari konsep insani kita dan dipenuhi dengan konsep ilahi dari Perjanjian Baru. Menurut konsep ilahi, kita telah disalibkan dan dikuburkan dengan Kristus (Gal. 2:20a; Rm. 6:4). Sekarang tidak seharusnya kita yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam kita. Hal ini menurut pohon hayat.
C. Membasuh Tangannya Tanda Tak Bersalah
untuk Berjalan mengelilingi Mezbah Allah, Mengucap Syukur kepada Allah
dan Memberitakan Perbuatan-Nya yang Ajaib
Daud berkata bahwa dia membasuh tanganku tanda tak bersalah untukberjalan mengelilingi mezbah Allah (Mzm. 26:6). Saat dia berjalan mengelilingi mezbah, diamemperdengarkan nyanyian syukur dengan nyaring, dan memberitakan segala perbuatan Allah yang ajaib (ay. 7). Daud merasa bahwa dia tak bersalah dan tahir. Ini adalah konsep yang salah. Saya sangat menghargai Daud, dan saya percaya bahwa dia adalah manusia yang besar di tangan Allah. Di satu aspek, dia sangat rohani, tetapi tidak dalam semua aspek. Kita dapat melihat bahwa seringkali dia tidak mencapai standar ekonomi Allah.
Standar hukum Taurat bukanlah standar ekonomi Allah. Standar ekonomi Allah adalah standar Perjanjian Baru. Ekonomi Allah bukanlah membuat kita menjadi manusia baik, tetapi manusia Allah. Tidak baik betapa baik seseorang, sepanjang dia bukan manusia Allah, dia tidak mencapai standar ekonomi Allah. Namun, sangat disesalkan, hampir semua orang Kristen yang membaca kitab Mazmur memelihara standar untuk menjadi manusia baik. Mereka tidak melihat standar untuk menjadi manusia Allah. Allah ingin kita menjadi manusia Allah, bukan hanya seorang manusia baik. Kita seharusnya hanya memiliki satu o seperti kata God, bukan dua o seperti kata good.
D. Berjalan menurut Integritas dan Meminta Allah
untuk Menebus Dia dan Mengasihaninya
Daud menunjukkan bahwa Allah seharusnya menebusnya dan mengasihaninyanya karena integritasnya (ay. 11). Ini adalah suatu penghinaan kepada Allah. Jika kita berjalan menurut integritas, menjadi murni dan sempurna dengan mutlak, kita tidak perlu penebusan. Tentu allah tidak akan menebus kita karena integritas kita. Sebaliknya, seseorang harus berdoa, “O Allah, tebuslah aku karena aku adalah seorang yang berdosa besar”. Paulus mengatakan bahwa Kristus datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan orang dosa dan bahwa dia adalah orang yang paling berdosa di antara semua orang dosa (1 Tim. 1:15). Doa yang tepat adalah, “Tuhan Yesus, aku perlu penebusan-Mu karena aku ini orang berdosa”. Ini adalah sikap yang tepat. Tentu hal ini sesuai dengan pohon hayat.
Dalam ayat 12 Daud berkata, “Kakiku berdiri di tanah yang rata; aku mau memuji Yehova dalam jemaah”. Mengatakan bahwa kita berjalan menurut integritas kita dan bahwa kaki kita berpijak pada tanah yang rata adalah terlalu bermegah dan bangga.
III. DALAM MEMPERCAYAI ALLAH UNTUK PERLINDUNGAN
DAN PEMBEBASANNYA DARI MUSUHNYA
Dalam Mazmur 27 adalah ekspresi campuran dari perasaan Daud dalam kepercayaannya di dalam Allah untuk perlingungan dan pembebasannya dari musuhnya. Dia berbicara banyak di dalam mazmur ini tentang musuhnya dan dia percaya bahwa dia akan dibebaskan karena dia percaya di dalam Allah.
A. Mengambil Allah sebagai Terangnya
Keselamatannya, dan Kekuatannya dan
Tiang Penopang Kehidupannya, Sehingga Dia Tidak
Takut Seteru dan Musuhnya
Daud mengambil Allah sebagai terangnya, sebagai keselamatannya, kekuatannya, dan tiang penopang kehidupannya, sehingga dia tidak akan takut seteru dan musuhnya (ay. 1-3). Pemikiran di dalam ayat ini milik pohon pengetahuan baik dan jahat. Di dalamnya kita sekali lagi melihat kebanggan Daud.
B. Mencari Wajah Allah dan Meminta Allah
Tidak Membuang atau Meninggalkan Dia
Daud juga berkata bahwa dia mencari wajah Allah dan meminta Allah, Allah keselamatannya, tidak membuang atau meninggalkan dia, tetapi meninggikannya lebih daripada ayahnya dan ibunya (ay. 7-10).
C. Meminta Allah untuk Mengajarkan Dia Jalan-Nya
dan Memimpin Dia pada Jalan Sempit karena
Musuhnya yang Menantinya
Daud meminta Allah untuk mengajarkan dia jalan-Nya dan memimpin dia pada jalan sempit karena musuhnya yang menantinya, percaya bahwa dia akan melihat kebaikan Allah di negeri orang yang hidup (ay. 11-13).
Kita harus melihat bahwa Allah tidak menjaga dan membebaskan Daud karena integritasnya. Sebaliknya, Allah menjaga Daud dan membebaskan Dia karena tujuan Allah. Di dalam ekonomi Perjanjian Lama, Allah perlu seorang manusia seperti Daud, tetapi Daud bukanlah orang yang memiliki integritas besar. Dia tidak begitu murni. Allah berkata di dalam 1 Raja-raja 15:5 bahwa Daud melakukan apa yang benar di mata Tuhan, kecuali dalam perkara Uria orang Hitit. Daud membunuh Uria dan merampas isterinya, Batsyeba. Bahkan silsilah Kristus di dalam Matius 1 mencatat bahwa Daud memperoleh anak dari isteri Uria (ay. 6). Ini bukanlah ekspresi yang baik. Mengatakan bahwa seseorang memperoleh anak dari isteri orang lain adalah noda hitam pada catatannya. Ini menunjukkan bahwa Daud tidak murni dan sempurna dengan mutlak. Dia tidak memiliki syarat ini, dan tidak seorang pun dari kita memilki syarat ini. Tidak seorang pun kecuali Tuhan Yesus yang pernah berjalan dengan cara yang murni dan sempurna dengan mutlak. Akhirnya, karena kegagalan Daud, keluarganya menjadi kacau dan rusak. Di antara anak-anaknya ada percabulan dan pembunuhan (2 Sam. 13).
D. Menasihati dan Mendorong yang Lain
untuk Menantikan Allah dan menjadi Kuat
dan Terdorong di dalam Hati Mereka
Dia akhir Mazmur 27, Daud menasihati dan mendorong yang lain untuk menantikan Allah dan menjadi kuat dan terdorong di dalam hati mereka (ay. 14). Ini baik, tetapi ini sepenuhnya aktivitas manusia yang tidak sesuai dengan standar ekonomi Allah. Menurut perkataan Paulus di dalam Galatia 2:20 dan Filipi 1:21a, setiap orang pilihan Allah harus mengaku, “Aku telah disalibkan dengan Kristus. Bukan lagi aku yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku. Bahkan sekarang aku tidak hidup oleh imanku, tetapi iman Yesus Kristus. Aku hidup oleh Dia sebagai imanku. Aku sepenuhnya telah diakhiri. Aku bukan apa-apa, tetapi hanyalah mayat yang mati dan dikubur. Aku tidak tahu apa itu menjadi terdorong dan kuat. Aku hanya tahu bahwa aku telah disalibkan dan Kristus sekarang hidup di dalamku. Karena bagiku hidup adalah Kristus”. Jika kita, orang Kristen memiliki pandangan demikian, wahyu yang demikian, tersimpan di dalam kita, sikap kita dan apresiasi kita terhadap kitab Mazmur akan mutlak berbeda.
Koor Kidung # 400: “O Tuhan, Kau-lah Roh Hayat, dekat, akrab, d’ganku! Prak-tis, mesra, tak terkata, manis s’la-lu baru”. Tuhan hari ini tidak hanya dapat didekati tetapi juga tersedia. Jika makanan hanya dapat didekati oleh kita, ini tidak cukup. Makanan harus tersedia bagi kita untuk dimakan sehingga kita dapat menjadi satu dengan makanan. Dapat didekati tidaklah sebaik tersedia. Hari ini di dalam ekonomi Perjanjian Baru, Allah tidak hanya dapat didekati, tetapi juga tersedia bagi kita. Tuhan berkata, “Aku adalah roti kehidupan....siapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku” (Yoh. 6:35, 57). Makan adalah mengambil Dia, Sang tersedia, sebagai makanan kita. Dia juga berkata bahwa kita perlu minum Dia sebagai air hidup (Yoh. 4:10, 14). Dalam kitab Yohanes, semua butir mengenai Kristus bukan hanya dapat didekati. Semua butir itu tersedia—baik bagi kita untuk dinikmati, yaitu, baik bagi kita untuk dimakan dan minum.
A. PERKATAAN TAMBAHAN MENGENAI KENIKMATAN
AKAN ALLAH DI DALAM RUMAH ALLAH
Sekarang saya ingin mengatakan perkataan lebih lanjut tentang kenikmatan akan Allah di dalam rumah Allah seperti terlihat dalam Kitab Pertama dari Mazmur, yang terdiri dari Mazmur 1-41. Sejumlah butir kenikmatan Daud adalah baik, tetapi banyak dari butir itu obyektif dan tidak tersedia. Daud berkata bahwa dia mengangkat tangannya ke tempat kudus paling dalam (Mzm. 28:2). Ini sepenuhnya obyektif. Daud juga berkata bahwa mereka yang di bait Allah semua berkata, “Mulia!” (29:29). Jika Allah hanya mulia di luar kita, Dia tidak ada kaitannya dengan kita. Kemuliaan obyektif tidak membantu kita, tetapi yang membantu kita adalah diri kita secara subyektif berbaur dengan pekerjaan Allah Tritunggal. Koor Suplemen # 535 berkata, “Baur, baur, haleluya..., berbaur jalannya!” Dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, perbauran subyektif adalah jalannya.
Dalam Mazmur 36:7-9, kenikmatan Daud akan Allah di dalam rumah Allah adalah sangat subyektif. Ayat-ayat ini menunjukkan pada kita kenikmatan subyektif dari kekayaan yang tersedia di dalam rumah Allah. Pemazmur berkata bahwa kita dapat dijenuhi dengan lemak, kelimpahan, kekayaan, dari rumah Allah (ay. 8a). Kita dapat dijenuhi dengan seluruh kepenuhan Allah di dalam rumah Allah dengan makan Dia. Saya ingin berkata sekali lagi bahwa kita harus menaruh perhatian pada wahyu di dalam Injil Yohanes. Di dalam Injil ini, dua kata yang penting adalah makan dan minum. Sebagai roti dari surga, Yesus dapat dimakan. Dia juga dapat diminum sebagai air hidup. Jika kita minum air hidup, air itu akan menjadi mata air di dalam kita, yang memancar ke dalam hayat yang kekal. Makan dan minum Tuhan untuk menikmati Dia sebagai suplai kehidupan rohani kita adalah begitu penting, tetapi hal ini hilang di dalam Kekristenan hari ini.
Di dalam rumah Allah kita dapat minum sungai kesenangan Allah (Mzm. 36:8b). Ini tidak hanya satu kesenangan, tetapi banyak kesenangan. Kita, orang-orang Kristen tidak perlu kesenangan, hiburan, pesta, atau klub duniawi. “Klub” kita adalah hidup gereja. Gereja adalah klub terbaik di bumi ini. Kesenangan kita adalah sungai kesenangan Allah. Kita dapat melihat gambaran sungai yang mengalir ini di dalam Kejadian 2, dan sungai ini, suangai air hayat di dalam Wahyu 22, akan mengalir selamanya.
Mazmur 36:9a berkata bahwa kita dapat menjadi mereka yang berbagian dengan sumber hayat Allah. Dalam kitab Yeremia, Allah menghukum Israel karena Israel meninggalkan Dia sebagai sumber air hidup (2:13). Tetapi di dalam rumah Allah, kita dapat berbagian dengan sumber hayat Allah. Akhirnya, kita dapat melihat terang di dalam terang Allah (Mzm. 36:9a).
Di dalam rumah Allah kita memiliki makanan, sungai, sumber hayat dan terang. Empat hal ini sepenuhnya tidak obyektif. Makanan adalah untuk dimakan, sungai adalah untuk diminum, sumber adalah untuk dibagikan, dan terang adalah bagi kita untuk berpartisipasi di dalamnya dengan melihat. Betapa kenikmatan ini! Kenikmatan yang ada di dalam Mazmur 36 jauh lebih dalam, jauh lebih tinggi, dan jauh lebih unggul daripada kenikmatan rumah Allah di dalam Mazmur 27. Di dalam Mazmur 36 segalanya tersedia. Makanan tersedia, sungai tersedia, sumber hayat tersedia, dan terang tersedia. Kita memiliki persediaan kekayaan di dalam rumah Allah bagi kenikmatan kita.
Kenikmatan ini pada akhirnya akan memimpin kita ke Yerusalem Baru. Di dalam Yerusalem Baru, kita akan dijenuhi dengan buah dari pohon hayat; kita akan minum dari sungai air hayat; kita akan berbagian dengan sumber hayat Allah, dan kita juga akan melihat terang di dalam terang ilahi Allah (Why. 22:1-2, 5). Ini adalah kenikmatan Allah yang rampung di dalam rumah Allah.