← Daftar isi Mazmur (1) · bab 12/42

KENIKMATAN AKAN ALLAH DI DALAM RUMAH ALLAH

Pembacaan Alkitab:

Mzm 5:7; 11:4 18:6; 20:2; 23:6; 26:8; 27:4-6; 34:8; 36:7-9

Dalam berita ini kita ingin melihat wahyu dari kenikmatan Allah didalam rumah Allah dalam Buku Pertama dari kitab Mazmur, yang mencakup Mazmur 1-41. Sejauh ini dalam persekutuan, kita telah melihat empat pos utama mengenai Kristus—Mazmur 2, 8, 16 dan 22-24. Kita semua perlu melihat aspek-aspek khusus dari Kristus yang diwahyukan dalam Mazmur ini. Mazmur 2 mengatakan kepada kita bahwa Kristus adalah Seorang yang Diurapi Allah. Pasal 8 mewahyukan Kristus dalam inkarnasi dan Dia yang dimahkotai, Seorang yang sempurna di atas muka bumi. Mazmur 16 mewahyukan Kristus dalam kehidupannya sebagai manusia. Ini memperlihatkan bahwa Kristus hidup diatas muka bumi sebagai Manusia- Allah, mati diatas kayu salib, bangkit dan naik ke sebelah kanan Allah. Mazmur 22 memperlihatkan kepada kita Kristus disalib dan dibangkitkan untuk menghasilkan saudara-saudara-Nya untuk menyusun Tubuh-Nya, gereja. Kemudian dalam kebangkitan pada Mazmur 23, Ia menjadi Gembala kita, mengembalakan kita melalui lima tahap kenikmatan. Kemudian, Ia akan datang kembali sebagai Raja dalam kemuliaan, seperti diwahyukan dalam Mazmur 24. Mazmur ini membentangkan kepada kita Kristus yang lengkap.

Setelah empat lingkungan yang pertama mengenai Kristus dalam Mazmur, Mazmur 25-41 mengikuti sebuah kelompok mazmur memperlihatkan pada kita ekspresi yang bercampur dalam perasaan pemazmur dalam kenikmatannya akan Allah dalam rumah Allah. Dalam ke tujuh belas pasal kitab Mazmur ini, poin utama, poin pentingnya adalah kemikmatan akan Allah dalam rumah Allah.

Kita harus menyadari bahwa Allah menetap! Pada satu sisi, Ia bukan Allah yang berkeliling, tetapi pada sisi lain, Ia adalah Allah yang ada dimanapun. Ia ada disegala tempat. Dia adalah Allah yang universal, sekarang Allah yang universal ini menetap! Rumah dimana kita tinggal memiliki alamat, yang menerangkan lokasi kita. Orang-orang dapat menulis surat kepada kita jika mereka mengetahui alamat jalan dan kota dimana kita tinggal. Karena kita menetap, orang-orang dapat menghubungi kita. Hari ini Allah kita adalah Allah yang menetap. Ia memiliki alamat, dan kita dapat menghubungi Dia. Dalam Mazmur 25-41 kita dapat melihat dimana lokasi Allah. Lokasi ini juga dijelaskan dalam mazmur yang terdahulu. Allah yang universal berlokasi di dalam rumah-Nya, kediaman-Nya.

I. WAHYU KITAB MAZMUR DIMULAI DARI PEMAZMUR MENEKANKAN HUKUM TAURAT DAN DENGAN ROH YANG MEMALINGKAN PEMAZMUR KEPADA KRISTUS

Wahyu kitab Mazmur dimulai dari pemazmur yang menekankan hukum Taurat dan dengan Roh yang memalingkan pemazmur kepada Kristus (Mazmur 1-2). Ketika pemazmur mulai dalam Mazmur 1 dengan menekankan hukum Taurat, ia berada dalam arah yang salah. Dalam mazmur pertama, Pemazmur yang mencari Allah menuju ke arah yang salah, sehingga Roh datang untuk mengembalikkannya pada jalan yang benar.

Dalam pasal 2 Pemazmur mulai menikmati Kristus—untuk membawa perlindungan ke dalam Kristus dan untuk mencium Kristus ini (ay.12). Keniknatan tertinggi dan terbaik dari hidup manusia adalah ciuman. Ketika seorang anak baru lahir, orangtua dan kakek-nenek senang mencium anak ini. Jika seseorang tidak memiliki seseoragn yang dapat diciumnya, ia pasti menjadi orang yang paling kasihan dimuka bumi. Mazmur 2:12 memerintahkan kita untuk “mencium Putera.: Mencium Kristus adalah menikmati Kristus.

Beberapa orang mungkin mengira kata menikmati yang ada dalam Alkitab adalah mengenai hubungan kita dengan Kristus. Padahal meskipun perkataan ini tidak terdapat dalam Alkitab, fakta dari menikmati Kristus tetap ada dalam Alkitab. Ini sama dengan perkataan trinitas dan tritunggal . Meskipun perkataan ini tidak terdapat dalam Alkitab, bapa-bapa gereja sebermula menemukan fakta dalam Alkitab bahwa Allah kita adalah tritunggal, fakta bahwa Dia adalah Trinitas Ilahi. Sama halnya dengan kata menikmatitidak ditemukan dalam Kitab Suci, tetapi fakta mengenainya ada disana. Dalam Mazmur 2 kita diberitahu untuk mencium Putera. Putra adalah suatu gelar yang menyukakan. Mencium Putra adalah menikmati Putra.

Kenikmatan terhadap Kristus dalam Mazmur dimulai dengan mencium Putra dalam Mazmur 2. Kenikmatan ini dilanjutkan dalam Mazmur 8, dimana Pemazmur memberitakan, ”Betapa unggulnya nama-Mu di seluruh bumi!” (ay. 1, 9). Mazmur 16 juga penuh dengan kenikmatan. Ayat 11 dari mazmur ini berkata, “Engkau memberitahukan kepadaku jalur hayat; Dalam hadirat-Mu ada sukacita yang penuh, di tangan kanan-Mu ada kesenangan selamanya”. Mazmur 22 memberi kita gambaran yang segar akan kematian Kristus di salib. Mazmur ini juga menunjukkan pada kita kebangkitan yang menghasilkan gereja-Nya (ay. 22). Di dalam kebangkitan Kristus, Allah-Nya adalah Allah kita, Bapa-Nya adalah Bapa kita (Yoh. 20:17), dan kita adalah saudara-saudara-Nya. Rasul Paulus mengutip Mazmur 22:22 di dalam Ibrani 2:12, menunjukkan bahwa saudara-saudara Tuhan adalah gereja.

Mazmur 23 penuh akan kenikmatan Kristus sebagai Gembala kita. Banyak orang Kristen menyukai Mazmur 23, tetapi tidak banyak yang memiliki kesadaran bahwa di dalam Mazmur ini mereka perlu mencium Kristus sebagai Gembala. Kita melihat di dalam berita sebelumnya bahwa Kristus sebagai Gembala memimpin kita melalui lima tahap kenikmatan. Tahap pertama adalah padang rumput dan air yang tenang (ay. 2). Tahap kedua adalah jalan kebenaran (ay. 3), dan tahap ketiga adalah pengalaman akan hadirat Kristus melalui lembah bayang-bayang maut (ay. 4). Tahap keempat adalah kenikmatan yang lebih dalam dan lebih tinggi akan Kristus yang bangkit, dimana kita menikmati meja Tuhan di hadapan seteru-seteru kita (ay. 5). Ini menyiratkan bahwa kita sedang menikmati Tuhan di medan peperangan. Tahap yang kelima dan terakhir adalah kenikmatan seumur hidup akan kebaikan dan kemurahan ilahi di dalam rumah Yehova (ay. 6). Mazmur 24 selanjutnya menunjukkan bahwa Kristus yang menang sebagai Raja kemuliaan akan datang untuk memerintah sebagai Raja di dalam kerajaan Allah. Semua poin-poin ini di dalam kitab Mazmur menunjukkan bahwa Kristus dapat dinikmati.

II. KENIKMATAN AKAN KRISTUS MEMIMPIN PEMAZMUR

UNTUK MENIKMATI ALLAH DI DALAM RUMAH ALLAH

Kenikmatan akan Kristus memimpin pemazmur ke kondisi kenikmatan yang lain—kenikmatan akan Allah di dalam rumah Allah (Mzm. 25-41). Diri Allah Sendiri dapat dinikmati, dan tempat kediaman-Nya juga dapat dinikmati. Mazmur 27:4 berkata, “Satu hal telah kuminta kepada Yehova, itulah yang kuingini: diam di rumah Yehova seumur hidupku, memandang kecantikan Yehova dan untuk bertanya di dalam bait-Nya”. Satu hal yang Daud minta dan tuntut dari Allah adalah diam di rumah Allah untuk memandang kecantikan-Nya. Mazmur 27:4 menunjukkan pada kita bahwa Allah kita adalah persona yang patut dikasihi dengan kediaman yang terkasih. Mazmur 36 juga memberitahu kita bahwa kita dapat dengan limpah dipuaskan dengan lemak, kelimpahan dari rumah Allah (ay. 8).

A. Allah Universal Terlokalisasi

Di dalam Rumah Allah—Tempat Kediaman-Nya

Allah universal terlokalisasi di dalam rumah-Nya—tempat kediaman-Nya. Kitab Suci mewahyukan bahwa Allah terlokalisasi! Diluar Kristus, kita tidak dapat menemukan Allah (Kol 2:9). Kristus adalah lokasi Allah, dan alamat Allah hanya satu kata—Kristus. Kristus adalah alamat jalan dan kota dari Allah. Jika kita berkata, “O Allah, dimakah Engkau?” Ia akan menjawab, “Saya ada di dalam Kristus.” Jika kita datang kepada Kristus, kita akan menjumpai Allah. Setiap kali kita berseru, “Tuhan Yesus,” kita memiliki perasaan bahwa Allah ada beserta kita.

Wahyu rumah Allah, tempat kediaman-Nya, bukanlah suatu yang sederhana. Dalam jaman Perjanjian Lama, Allah memiliki tempat tinggal di surga (1Raja 8:30b,39a,43a) dan Ia juga memiliki sebuah “tempat pengasingan diri” di atas gunung Sion yang berada di pusat kota Yerusalem di Palestina (Mzm 76:2b; 135:21; Yes 8:18).Di pusat kota Yerusalem, terdapat bait suci, yang dapat disamakan seperti tempat pengasingan diri Allah. Tempat tinggal sangatlah umum, sedangkan tempat pengasingan diri sangat khusus. Jika cuaca terlalu panas atau terlalu dingin, seseorang akan pergi ke tempat retret-nya. Bait Suci di atas gunung Sion di Yerusalem adalah tempat pengasingan diri Allah.

Ini terlihat bahwa Allah kita tidak merasa puas dengan tempat tinggal di surga. Sehingga Ia turun ke bait suci-Nya di atas gunung Sion untuk mengasingkan diri. Ia berkehendak untuk meninggalkan jutaan malaikat di surga dan turun ke bumi untuk tinggal dengan manusia sementara waktu. Di akhir kitab Keluaran mengatakan kepada kita bahwa ketika Tabernakel dibangun, kemuliaan Allah memenuhi tabernakel (40:33-35). Kemudian, ketika Salomo membangun bait suci, kemuliaan Allah memenuhi bait suci (1Raja 8:10-11). Allah sangat senang ketika tabernakel dan bait suci dibangun. Ketika seorang yang kaya mendapatkan tempat retreatnya telah tersedia, ia senang untuk pergi kesana. Tempat pengasingan diri ini mungkin lebih kecil dibandingkan tempat tinggal-nya, tetapi tempat kecil itu lebih nyaman baginya. Allah merasa nyaman ketika Ia turun untuk tinggal di bait suci di yerusalem.

1. Kristus yang Berinkarnasi menjadi Tabernakel Allah dan Bait Suci Allah

Dalam Perjanjian Lama, baik tempat tinggal Allah di surga maupun tempat retreat di atas gunung Sion di Yerusalem merupakan tempat secara fisik. Tetapi dalam Perjanjian Baru, tempat tinggal Allah merupakan hal yang rohani. Dalam Perjanjian Baru, Kristus adalah tabernakel Allah dan bait suci Allah (Yoh 1:14; 2:21).

2. Gereja sebagai Perbesaran Kristus

menjadi Perbesaran Bait Suci Allah—Kediaman-Nya

Kristus telah diperbesar, dan perbesaran Kristus adalah gereja sebagai perbesaran Bait Suci Allah. Gereja sebagai perbesaran dari Kristus adalah perbesaran Bait suci Allah, temapt kediaman-Nya. Dalam 1 Korintus 3:16 Paulus mengatakan bahwa kaum beriman koorporat adalah bait suci Allah; dalam Efesus 2:22 ia berkata bahwa kita dibangunkan bersama menjadi tempat kediaman Allah dan dalam 1 Timotius 3:15 ia berkata bahwa gereja adalah rumah Allah yang hidup. Pertama, Allah ada dalam Kristus. Ketika kita menyeru nama Kristus, kita mendapatkan Allah. Kemudian, Allah ada dalam gereja. Gereja, tentu saja bukan sebuah bangunan fisik. Kita, kaum beriman adalah gereja.

Ketika kita berhimpun bersama, kita adalah gereja secara praktis, dan Allah berdiam didalam dan diantara kita. Ketika saya berada dalam sidang, saya tidak ingin pergi. Saya sangat senang dan merasa sangat nyaman ketika saya bersama-sama kaum saleh dalam sebuah sidang. Ketika kita berada di rumah dan tidak dalam sidang, kita mungkin tidak merasakan kenyamanan itu. Tidak ada perbandingan antara perasaan kita di rumah dengan perasaan kita di sidang-sidang. Beberapa Kaum saleh harus menempuh perjalanan jauh untuk menghadiri sidang-sidang. Mengapa mereka mau melakukan hal ini? mereka tidak gila. Mereka mau melakukan hal ini karena mereka ingin menikamti Allah di dalam rumah Allah, gereja. Allah ada dalam Kristus dan dalam gereja.

Terkadang kita memiliki masalah-masalah dan menjadi bingung, tidak tahu harus melakukan apa. Kita mungkin berdoa menurut kehendak kit untuk mengetahui kehendak Allah, tetapi itu terlihat bahwa doa-doa kita tidak membantu. Kemudian kita mungkin datang ke sidang gereja, dan di dalam sidang kita menerima terang, dan segala sesuatu menjadi jelas bagi kita. ini karena Allah ada dalam gereja.

3. Dalam Perampungan Ultima,

Yerusalem Baru Menjadi Umat Tebusan Allah untuk

Menjadi Kemah Allah bagi Dia untuk Menikmati

Umat Tebusan-Nya, dan Allah Tritunggal yang Menebus

Menjadi Bait bagi Umat Tebusan Allah

agar Mereka menikmati Allah Tritunggal

Penebus Mereka dalam Kekekalan

Dalam perampungan ultima, Yerusalem Baru akan menjadi umat tebusan Allah untuk menjadi kemah Allah bagi Dia untuk menikmati umat tebusan-Nya, dan Allah Tritunggal yang Menebus menjadi bait bagi umat tebusan Allah agar mereka menikmati Allah Tritunggal penebus mereka dalam kekekalan. Wahyu 21:2 dan 3 memberitahukan kita bahwa dalam kekekalan yang akan datang, kita yang adalah umat tebusan Allah, akan menjadi Kemah Allah bagi Allah untuk menikmati kita. kemudian ayat 22 mengatakan bahwa Tuhan Allah dan Anak Domba akan menjadi bait suci bagi kita untuk kita menikmati Dia sebagai Allah Tritunggal Penebus kita dalam kekekalan. Yerusalem Baru adalah kediaman saling huni antara Allah dan manusia bagi kenikmatan mereka. Yerusalem baru akan tersusun dari Allah dan kita. bagi Allah, kita akan menjadi Yerusalem baru sebagai tabernakel bagi Dia untuk tempat tinggal-Nya dan kenikmatan-Nya. Bagi kita, Allah akan menjadi Yerusalem Baru sebagai Bait bagi kita untuk tempat tinggal dan kenikmatan kita. kenikmatan di dalam Yerusalem Baru adalah kenikmatan Allah dan kenikmatan kita.

Kita perlu melihat kenikmatan dalam Yerusalem Baru. Dalam Yerusalem baru terdapat sungai yang mengalir, yang adalah sungai air hayat. sungai ini jernih seperti kristal (Why. 22:1). Pada sungai yang jernih seperti kristal, pohon hayat bertumbuh dan berbuah dua belas kali setahun (ay.2)/ Dalam Yerusalem Baru, terdapat buah baru setiap bulan. Buah-buah dari pohon hayat akan menjadi makanan bagi umat tebusan Allah dalam kekekalan. Makan buah-buah dari pohon hayat akan menjadi kenikmatan kita.

Hari ini Allah berlokasi di dalam Kristus dan di dalam gereja. Dalam jaman yang kan datang, Allah berlokasi di Yerusalem Baru. Apakah kita ingin melihat Allah, menemukan Allah, berjumpa Allah, dan mengunjungi Allah? Kita perlu pergi pada Kristus, gereja, dan Yerusalem Baru. Untuk menikmati Allah dalam rumah-Nya berarti kita harus berada dalam Kristus, dalam gereja, dan bahkan dalam Yerusalem Baru. Jika tidak demikian, kita akan kehilangan Allah.

B. Pengalaman Awal Pemazmur

akan Kenikmatan Rumah Allah

Pada permulaan kitab Mazmur kita melihat pengalaman awal pemazmur akan kenikmatan rumah Allah.

1. Sujud Menyembah kearah Bait Kudus Allah

dengan Takut akan Dia

Dalam Mazmur 5:7, Pemazmur berkata kepada Allah, “Aku akan sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau.” Ini adalah pengalaman di luar rumah Allah.

2. Masuk ke dalam Rumah Allah

di dalam Kelimpahan Kasih Setia-Nya

Kemudian Pemazmur berbicara tentang masuk ke dalam rumah Allah di dalam kelimpahan kasih setia-Nya (Mzm. 5:7). Jika seseorang memiliki hak istimewa masuk ke dalam bait di Gunung Sion, dia harus berada di bawah kelimpahan kasih setia Allah. Sebenarnya, masuk sendirian ke dalam bait adalah sebuah kenikmatan akan kelimpahan kasih setia Allah. Ketika kita masuk ke dalam rumah Allah, kita dapat berkata, “Betapa kasih, betapa kemurahan, dan betapa kasih karunia bagiku untuk berada di sini di dalam kediaman Allah!” Inilah kenikmatan akan Allah di dalam rumah-Nya.

3. Menyadari bahwa Allah Ada di dalam Bait Kudus-Nya

di atas Tahta-Nya di Surga

Mazmur 11:4 berkata bahwa Allah ada di dalam bait kudus-Nya di atas takhta-Nya di surga, mata-Nya membedakan dan menguji anak-anak manusia. Dia menguji anak-anak manusia sama seperti seseorang menaruh emas ke dalam tungku pembakaran untuk mengujinya dan memurnikannya. Penderitaan-penderitaan dan pencobaan-pencobaan pada manusia ada di dalam kedaulatan Allah untuk menguji manusia. Mazmur 11:4 berkata bahwa sorot maya-Nya menguji anak-anak manusia. Ketika kita memandang sesuatu, kita sedang melatih sorot mata kita. Pandangan Allah menguji anak-anak manusia.

4. Mengapresiasi Allah dari Bait-Nya

Mendengar Seruannya di dalam Kesesakannya

Dalam Mazmur 18:6 pemazmur mengapresiasi Allah dari bait-Nya mendengar seruannya di dalam kesesakannya. Sulit untuk mengatakan apakah bait di sini mengacu pada tempat tinggal Allah di surga, atau bait fisik di Gunung Sion, tempat pengasingan diri-Nya di bumi. Kelihatannya, ayat ini menggambarkan permulaan, dasar, kenikmatan Allah yang berkaitan dengan rumah Allah.

5. Memberkati yang Lain dengan Allah Mengirimkan Mereka

Bantuan-Nya dari Tempat Kudus-Nya dan

Penguatan-Nya dari Sion

Pemazmur menikmati Allah di dalam rumah-Nya, sehingga dia memberkati yang lain dengan pengalamannya. Dia memberkati yang lain dengan Allah mengirimkan mereka bantuan-Nya dari tempat kudus-Nya dan penguatan-Nya dari Sion (Mzm. 20:2). Kata Sion di sini mengacu pada bait di Yerusalem. Ketika Allah datang dan tinggal di dalam tempat pengasingan-Nya, bait di Gunung Sion, Dia mengirimkan bantuan dan kekuatan bagi mereka yang percaya di dalam-Nya.

6. Dengan Konsep yang Salah

mengenai Siapa yang Mungkin Berada dalam

Tempat Kudus Allah di Gunung Kudus-Nya

Pemazmur sebagai seorang yang menikmati Allah di dalam bait-Nya, di dalam rumah-Nya, membuat kesalahan besar dalam pemahaman di dalam Mazmur 15:1-5 dan Mazmur 24:3-6. Di keduanya, dia bertanya mengenai siapa yang dapat berada di tempat kudus Allah di gunung Kudus-Nya. Menurut konsepsinya, orang ini adalah manusia yang sempurna menurut hukum Taurat, yang memiliki tangan yang bersih dan hati yang murni. Ini adalah konsepsi yang salah. Ini menunjukkan bahwa Daud sama seperti kita dalam membuat kesalahan.

C. Pemazmur Memperbaiki Pengalaman

akan Kenikmatan Rumah Allah

Dengan Kenikmatan Allah

Sekarang kita sampai pada pemazmur memperbaiki pengalaman akan kenikmatan rumah Allah dengan kenikmatan Allah. Kita boleh mengilustrasikan kenikmatan Allah di dalam rumah Allah dengan menganggap kenikmatannya seperti di kamar pengantin. Dalam pernikahan tradisional Cina, kamar pengantin dihias dan dipersiapkan bagi mempelai perempuan dan mempelai laki untuk membuat kamar itu menjadi tempat yang sangat menyenangkan. Namun, kamar yang menyenangkan tanpa mempelai perempuan akan menjadi sia-sia. Kenikmatan kamar pengantin harus didampingi dengan kenikmatan mempelai perempuan. Dengan cara yang sama, Kenikmatan rumah Allah harus didampingi dengan kenikmatan Allah.

1. Diam di dalam Rumah Allah

Sepanjang Masa

Dalam Mazmur 23:6, berbicara tentang diam di dalam rumah Allah sepanjang masa. Kita telah melihat bahwa di dalam Mazmur 23 Kristus sebagai Gembala memimpin gereja sebagai kawanan-Nya melalui lima tahap kenikmatan. Akhirnya, domba menikmati Allah Tritunggal sebagai kebaikan dan kemurahan mereka. Ayat 6 berkata, “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah Yehova sepanjang masa”. Ini mencakup zaman yang akan datang, zaman kerajaan, dan juga kekekalan, zaman langit baru dan bumi baru.

2. Cinta Rumah Kediaman Allah dan

Tempat dimana Kemuliaan Allah Bersemayam (Dinyatakan)

Di dalam Mazmur 26:8, pemazmur berkata, “O Yehova, aku cinta pada rumah kediaman-Mu dan pada tempat kemuliaan-Mu bersemayam”. Bersemayam berarti menetap untuk dinyatakan. Ketika umat Israel mendirikan kemah dan ketika mereka membangun bait, kemuliaan Allah turun di atas kemah dan bait untuk tinggal di sana, menetap di sana, untuk dinyatakan kepada umat. Pemazmur memberitahu Tuhan bahwa dia cinta rumah kediaman-Nya dan tempat dimana kemuliaan-Nya bersemayam, tinggal, untuk dinyatakan kepada umat-Nya.

Kita harus berkata, “O Tuhan, aku cinta gereja-Mu, dan gereja-Mu adalah tempat kediaman-Mu. Gereja-Mu adalah tempat dimana kemuliaan-Mu bersemayam untuk dinyatakan hari ini”. Mazmur 84 mengekspresikan kasih pemazmur bagi rumah Allah, yang adalah semacam kasih yang seharusnya kita miliki untuk gereja hari ini. Kita memiliki kidung dalam buku kidung kita berdasarkan pada ekspresi pemazmur di dalam Mazmur 84 akan cintanya bagi tempat kediaman Allah (lihat Kidung #615).

3. Menuntut untuk Tinggal di dalam Rumah Allah

Seumur Hidupnya

Daud berkata bahwa dia menuntut untuk tinggal di dalam rumah Allah seumur hidupnya (Mzm. 27:4-6).

a. Memandang Kecantikan

(Keelokan, Kesenangan, Kesukaan) Allah

Di dalam Mazmur 27:4 Daud berkata bahwa dia damba untuk memandang kecantikan Yehova di dalam rumah-Nya. Kata Ibrani dari kata kecantikan menyiratkan keelokan, kesenangan, dan kesukaan. Ketika kita sedang memandang kecantikan Allah, kita berada dalam atmosfir yang sangat menyenangkan. Dua Korintus 3:18 berkata bahwa kita dapat memiliki muka yang tanpa selubung untuk memandang wajah mulia Tuhan di dalam kemuliaan. Di waktu kita bersama Tuhan di pagi hari, sangatlah baik untuk memiliki doa yang pendek dengan sejumlah “sela” sehingga kita dapat memandang Tuhan, melihat pada Tuhan.

b. Menanyakan Allah

Pemazmur juga menanyakan Allah di dalam bait-Nya (Mzm. 27:4b). Ini berarti kita dapat mengecek bersama Allah tentang segala sesuatu di dalam kehidupan sehari-hari kita.

c. Berlindung di dalam Pondok Allah

Dalam Mazmur 27:5 Daud berkata, “Ia akan melindungi aku di dalam pondok-Nya pada waktu bahaya”. Allah melindungi kaum saleh di dalam pondok-Nya pada waktu bahaya.

d. Menyembunyikan Dirinya Sendiri di dalam Tempat Persembunyian dari Kemah Allah

Pemazmur juga berkata bahwa Allah akan menyembunyikan dia di dalam tempat persembunyian dari kemah Allah. Kita perlu membedakan antara yang dimaksud berlindung dengan bersembunyi. Ketika bahaya, malapetaka, terjadi, kita dapat berlindung di dalam pondok Allah, dan bahaya tidak dapat “melihat” kita, tidak dapat berpengaruh pada kita. Ketika seseorang mencoba untuk menangkap kita, ada tempat persembunyian di dalam kemah Allah dimana tidak ada seorang pun dapat menemukan kita. Berlindung adalah untuk menghindar dari pengrusakan malapetaka. Bersembunyi adalah menghindar dari seseorang yang ingin menangkap kita. Rumah Allah adalah sebuah pondok dan tempat persembunyian.

Saya dapat bersaksi bahwa selama bertahun-tahun, saya telah berlindung di dalam pondok Allah pada waktu bahaya dan bersembunyi di dalam tempat bersembunyian dari kemah Allah. Menurut pengalaman saya, saya seharusnya mati setidaknya tiga kali. Tetapi di satu pihak, Tuhan melindungi saya, dan di pihak lain, Tuhan menyembunyikan saya dari seseorang yang mencoba untuk menangkap saya.

e. Ditegakkan dan Diangkat Kepalanya oleh Allah

Daud juga berkata bahwa Allah akan menegakkan dia di atas gunung batu dan dia akan diangkat kepalanya oleh Allah (27:5c, 6a). Seringkali kita menundukkan kepala kita. Kita tidak memiliki kepala kita diangkat. Ketika kita berjalan, kebanyakan kita berjalan dengan kepala kita tertunduk. Kita perlu ditegakkan dan memiliki kepala kita diangkat. Kita adalah orang bumiah, selalu melihat pada bumi. Kelihatannya kita kehilangan sesuatu yang berharga dan kita sedang mencarinya di tanah. Tetapi ketika Abraham mendengar janji Allah di malam itu, Allah memberitahunya untuk melihat ke langit pada bintang-bintang. Lalu Allah memberitahu Abraham bahwa keturunannya akan sebanyak bintang di langit (Kej. 15:5). Kita perlu melupakan semua hal bumiah. Sebaliknya, kita perlu melihat ke atas. Kita perlu mengangkat kepala kita dan berkata, “Puji Tuhan! Haleluya!” Inilah kemuliaan bagi Dia.

Mazmur 24:7 berkata, “Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan”. Pintu gerbang ada pada kota bangsa-bangsa. Pintu ada pada rumah seseorang. Kita perlu mengangkat kepala kita karena Raja kita datang. Kita mengangkat kepala kita ketika kita tinggal di dalam Kristus dan di dalam gereja, memuji Allah dan menikmati Dia. Lalu kita menegakkan seseorang, dan kita memiliki kepala kita diangkat oleh Allah.

f. Mempersembahkan Kurban dengan Sukacita

dengan Nyanyian dan Mazmur kepada Allah

Mazmur 27:6b berkata, “Dan aku mau mempersembahkan di dalam kemah-Nya kurban dengan sukacita; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi Yehova”. Semua ini harus dialami oleh kita di dalam rumah Allah—di dalam Kristus dan di dalam gereja. Tentu saja kita juga akan seperti ini di dalam Yerusalem Baru. Kita akan memandang kecantikan Allah di dalam Yerusalem Baru. Yerusalem Baru akan menjadi pondok kita bagi kita untuk berlindung dan tempat persembunyian kita bagi kita untuk bersembunyi. Kita akan ditegakkan dengan kepala kita diangkat, memuji, menyanyi, bermazmur, dan mempersembahkan Kristus kepada Allah. Inilah kenikmatan Allah di dalam rumah Allah.

4. Mengangkat Tangannya

kepada Tempat Kudus Paling Dalam

Dalam Mazmur 28:2 pemazmur berkata bahwa dia mengangkat tangannya kepada tempat kudus paling dalam.

5. Memuji Allah di dalam Bait-Nya dengan Berkata, “Mulia”

Pemazmur juga berkata bahwa di dalam bait Yehova semua berkata, “Mulia!” (29:9).

6. Mengecap dan Melihat bahwa Allah Itu Baik

Mazmur 34:8 berkata, “Kecaplah dan lihatlah bahwa Allah itu baik”. Saya tidak melihat sebelumnya bahwa ayat ini ada di dalam bagian kitab Mazmur yang mewahyukan kenikmatan Allah di dalam rumah Allah. Mengecap dan melihat semacam ini harus berada di dalam rumah Allah. Allah ada di dalam rumah-Nya. Jika kita tidak di dalam rumah-Nya, bagaimana kita dapat mengecap Dia dan menikmati Dia? Kita mengecap dan melihat bahwa Allah itu baik di dalam rumah-Nya, yakni di dalam Kristus, di dalam gereja, dan pada akhirnya di dalam Yerusalem Baru.

7. Menikmati Kekayaan di dalam Rumah Allah

Mazmur 36:7-9 mewahyukan kenikmatan pemazmur akan kekayaan di dalam rumah Allah.

a. Berlindung dalam Naungan Sayap Allah

di bawah Kasih Setia-Nya

Pemazmur berlindung dalam naungan sayap Allah, di bawah kasih setia-Nya (36:7). Saya mengalami berlindung dalam naungan sayap Allah di tahun 1938, setelah Jepang menyerang Cina. Saya ditangkap oleh tentara Jepang dan saya dijebloskan ke dalam penjara selama satu malam, dan Tuhan melakukan hal yang ajaib untuk menolong saya. Lalu lima tahun kemudian, di tahun 1943, mereka menangkap saya sekali lagi dan menjebloskan saya ke dalam penjara selama tiga puluh hari. Ketika saya berada di dalam penjara pada saat itu, saya berlindung di dalam naungan sayap Allah.

b. Dijenuhi dengan Lemak

(Kelimpahan, Kekayaan) Rumah Allah

Mazmur 36:8 berkata bahwa mereka yang menikmati kekayaan di dalam rumah Allah dijenuhi dengan lemak (kelimpahan, kekayaan) rumah Allah. Rumah Allah penuh dengan kekayaan Allah, lemak. Saya telah berada di dalam rumah ini selama lebih dari enam puluh tahun, dan saya telah menikmati banyak kekayaan.

c. Minum Sungai Kesenangan Allah

Mazmur 36:8 juga berkata bahwa kita dapat minum dari sungai kesenangan Allah—bukan hanya satu macam kesenangan, tetapi banyak kesenangan. Di dalam rumah Allah, ada sebuah sungai. Akhit Alkitab mewahyukan bahwa ada satu sungai mengalir di dalam Yerusalem Baru, kota kudus, dan bahwa sungai mengalir berbentuk spiral dari takhta Allah dan Anak Domba melalui seluruh kota (Why. 22:1).

d. Berbagian dengan Sumber Hayat Allah

Di dalam rumah Allah, kita juga berbagian dengan sumber hayat Allah (Mzm. 36:9a). Mazmur 36 berbicara tentang sungai kesenangan Allah dan sumber hayat. Di dalam Yerusalem Baru, pohon hayat bertumbuh di dalam sungai air hayat. Maka, sumber hayat di dalam Mazmur 36 menyiratkan pohon hayat yang bertumbuh di dalam sungai hayat Allah.

e. Melihat Terang di dalam Terang Allah

Mazmur 36:9b berkata, “Di dalam terang-Mu kami melihat terang”. Maka, di dalam rumah Allah, kita menikmati sungai hayat, pohon hayat, dan terang hayat. Tiga hal ini dengan kuat ditekankan di dalam Yerusalem Baru. Wahyu 21 dan 22 mewahyukan bahwa terang Yerusalem Baru adalah Allah di dalam Kristus. Kristus adalah lampu (Why. 21:23), dan Allah adalah terang di dalam lampu (22:5). Lampu dengan terang ada di dalam Yerusalem Baru. Ini menunjukkan pada kita sekali lagi bahwa Allah terlokalisasi. Allah terlokalisasi di dalam Kristus, dan Kristus terlokalisasi di dalam Yerusalem Baru, dimana Allah Tritungal akan menjadi terang. Di dalam terang, kita melihat terang.

Betapa menakjubkan bahwa pada zaman dulu, pemazmur, Daud, dapat mengutarakan hal-hal indah demikian di dalam Mazmur 36 menurut wahyu Roh, bukan menurut konsep insani, alamiahnya. Mazmur 36 mewahyukan lemak bagi kita untuk dijenuhi, sungai hayat bagi kita untuk diminum, pohon hayat bagi kita untuk berbagian, dan terang hayat bagi kita untuk hidup dan jalan kita.

Ini adalah kenikmatan Allah di dalam rumah-Nya, yang adalah Kristus, gereja, dan Yerusalem Baru. Allah kita terlokalisasi di dalam tiga persona ini: di dalam Kristus, di dalam gereja sebagai persona korporat, dan di dalam Yerusalem Baru sebagai persona korporat. Di dalam tiga persona ini, kita dapat menikmati Allah yang terlokalisasi sebagai lemak untuk menjenuhi kita, sungai hayat untuk memuaskan kehausan kita, untuk memuaskan kita; pohon hayat untuk memberi makan kita; dan terang hayat untuk menerangi kita.