KRISTUS SEBAGAI GEMBALA DALAM KEBANGKITANNYA DAN KRISTUS SEBAGAI RAJA DALAM KERAJAAN ALLAH
Pembacaan Alkitab: Maz. 23-24
Mazmur 22-24 adalah kelompok dari mazmur yang mewahyukan Kristus dari Ketersaliban-Nya sampai Dia Meraja dalam jaman yang akan datang. Dalam mazmur 22 kita melihat kematian Kristus, kebangkitan-Nya, dan banyak saudara-saudara-Nya yang dihasilkan dalam kebangkitan untuk membentuk gereja-Nya. Mazmur 23 adalah mengenai Kristus sebagai gembala. Gembala ini sekarang adalah dalam kebangkitan-Nya. Mazmur 24 mengenai Kristus sebagai Raja yang akan datang dalam Kerajaan Allah. Maka, dalam 3 pasal mazmur ini, kita memiliki Kristus yang tersalib, Kristus yang bangkit, Kristus yang menghasilkan gereja, Kristus menjadi gembala dan mengembalakan kawanan domba-Nya, gereja, dan Kristus datang kembali untuk menjadi raja.
I. KRISTUS SEBAGAI GEMBALA DALAM KEBANGKITANNYA
Mazmur 23: 1 berkata, “Yehova adalah Gembalaku.” Kristus adalah Gembala kita dan kita adalah kawanan domba-Nya. Gereja dalam Alkitab disebut sebagai kawanan domba. Dalam Yohanes 10 Tuhan berkata bahwa Ia adalah Gembala yang baik yang mengumpulkan domba dari Israel dan dari kafir dalam satu kawanan (ay. 14-16), yang adalah gereja (1Pet 5:2; Kis 20:28).
Yehova, tentu saja adalah Allah yang ilahi, dan kita adalah manusia. Bagaimana Allah, yang Ilahi, mendekati kita manusia menjadi Gembala kita? Jika Allah datang pada kita secara langsung, hal itu akan sangat menakutkan kita. Alkitab mengatakannya kepada kita bahwa hal itu terjadi ketika Allah menampakkan diri pada berbagai macam orang (Why. 1:7; Kej 17:3; Dan 8:17; Mat 17:6). Alkitab juga mengatakan kepada kita bahwa tidak ada seorang pun yang dapat melihat Allah (1Tim 6:16; Yoh 1:18; Kel 33:20). Bagaimana Allah Tritunggal yang Ilahi dapat sangat dekat dengan kita, seperti seorang gembala terhadap kawanan dombanya? Lalu, bagaimana kita orang berdosa, manusia yang jatuh, menjadi kawanan dari Gembala yang ilahi? Berdasarkan pada hayat alamiah kita yang jatuh kita adalah ular-ular, ular berbisa (Mat. 23:33) dan “kalajengking.”
Mazmur 23 menjelaskan bahwa Gembala ini adalah Seorang yang menjadi manusia, yang mati bagi kita untuk melepaskan kita dari dosa, dan yang masuk ke dalam kebangkitan untuk menjadi Roh pemberi hayat (1Kor 15:45b) untuk melahirkan kita kembali. Seseorang ini dapat mengubah alamiah kita. Sejak Ia mengambil tiga langkah ini—1)inkarnasi; 2)ketersaliban untuk penebusan; dan 3) kebangkitan untuk melahir ulangkan—Ia sepenuhnya bersyarat, diperlengkapi dan pantas untuk menjadi Gembala kita. Ia tidak hanya Allah tetapi juga manusia. Ia tidak hanya ilahi tetapi juga insani. Ia mati bagi dosa kita, Ia telah bangkit, dan dalam kebangkitan Ia menjadi Roh pemberi hayat.
Tuhan Yesus hari ini adalah Roh itu (2 kor 3:17). Sebagai Roh pemberi hayat, Ia adalah Gembala kita di dalam batin. Ia tidak hanya beserta dengan kita, tetapi juga ada didalam kita. kita ini adalah ular dan kalajengking, tetapi kita telah ditebus, kita telah dicuci dengan darah-Nya dan kita elah dibangkitkan (Ef. 2:6) dan telah dilahirkan kembali. Sebagai orang yang telah tertebus, dicuci, dibangkitkan dan dilahirkan kembali, kita adalah domba dalam kawanan Allah, gereja. Oleh Yehova, Allah Tritunggal, berinkarnasi, disalibkan, dan bangkit untuk menjadi Roh pemberi hayat, Ia bersyarat untuk menjadi Gembala kita. Melalui penebusan, pencucian, kebangkitan, dan melahir ulangkan kita, kita bersyarat untuk menjadi kawanan-Nya. Ia bersyarat untuk menjadi Gembala kita, kita juga bersyarat untuk menjadi kawanan-Nya. Mazmur 23 sepenuhnya merupakan mazmur tentang Kristus sebagai Gembala dalam kebangkitan.
Kita dapat juga melihat Yehova sebagai Allah Tritunggal dalam mazmur ini. Ayat 2 mengatakan, “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau.” Warna hijau melambangkan kekayaan hayat. ketika kita melihat pohon yang hijau dan padang rumput, kita melihat kekayaan hayat. jika pohon berwarna kuning dan kering dan rumput berwarna coklat, itu menandakan kematian.
Padang rumput yang hijau melambangkan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berkata mengenai hal ini dalam Yohanes pasal 10. Ia berkata bahwa domba-domba-Nya akan mendengarkan suara-Nya dan mengikuti Ia keluar ke padang untuk menikmati padang rumput yang hijau sebagai kawanan (ay. 9,16). Dalam Yahanes pasal 10, Kristus adalah pintu (ay.9), Gembala (ay.11), dan padang rumput (ay.9). Kristus sendiri adalah padang rumput, makanan kita. Ia adalah tempat makan bagi semua domba. Dalam Yohanes pasal 6 Kristus berkata bahwa Ia adalah roti hayat (ay.35) untuk memberi kita makan (ay.57). “Roti” untuk domba adalah padang rumput yang hijau, jadi padang rumput yang hijau adalah Kristus. Kristus dapat menjadi padang rumput yang hijau bagi kita melalui inkarnasi-Nya, kematian, dan kebangkitan. Setelah inkarnasi-Nya, kematian dan kebangkitan, Ia tumbuh sebagai padang rumput yang hijau sebagai makanan kita.
Mazmur 23:2b berkata bahwa Kristus sebagai Gembala kita memimpin kita pada air yang tenang. Air yang tenang adalah Roh itu. Roh adalah air, dan Kristus adalah padang rumput yang hijau. Ayat 5 mengatakan, “Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak.” Ibrani 1:9 mengacu pada minyak sebagai sukacita yang penuh. Minyak disini melambangkan Roh. Yohanes 7:39 mengatakan bahwa sebelum kebangkitan Kristus, Roh itu belum ada. Ini berarti bahwa Roh itu belum terwujudkan. Roh allah telah diwujudkan melalui inkarnasi Kristus, ketersaliban dan kebangkitan. Dalam kebangkitan kristus, Roh Allah menjadi Roh pemberi hayat (1 kor 15:45b). Sekarang Ia tersedia bagi kita karena Ia telah disempurnakan. Dalam Mazmur 23, Roh yang dilambangkan dengan air dan minyak melambangkan Roh yang telah rampung sempurna setelah kebangkitan Kristus.
Mazmur ini juga memberitahu kita mengenai pengembalaan Kristus pada lima tahapan. Tahap pertama adalah padang rumput yang hijau dan air yang tenang (ay.2). padang rumput yang hijau dan air yang tenang adalah untuk makanan kita, termasuk merawat dan menikmati. Tahap kedua adalah tahap jalan kebenaran (ay.3). jalan kebenaran mengacu pada langkah kita. Setelah kita menikmati Kristus, dipenuhi oleh Kristus, dan diberi makan oleh Kristus, kita berjalan pada jalan kebenaran. Tahap yang ketiga adalah lembah bayangan maut (ay.4). Lembah, bayangan, dan maut tidaklah bersahabat. Pengembalaan Kristus memimpin kita melalui lembah bayang kematian. Tahapan keempat adalah peperangan(ay.5), dimana kita berperang melawan musuh. Pada saat peperangan sebuah meja, makan pesta, dihidangkan bagi kita. Akhirnya, tahap yang terakhir adalah untuk berdiam dalam rumah Allah sepanjang masa seumur hidup kita (ay.6).
Saya ingin agar kita memperhatikan pada tahap mana kita berada diantara kelima tahapan pengembalaan Kristus. Tahap pertama adalah tahap awal kenikmatan. Ini seperti pada sekolah dasar. Dalam sistem pendidikan kita terdapat lima tahap— sekolah dasar, sekolah menengah Pertama(SMP), sekolah menengah atas(SMU), perguruan tinggi dan tamat sekolah. Ini dapat dibandingkan dengan kelima tahapan penggembalaan Kristus dalam mazmur 23. Banyak dari kita ada pada “sekolah dasar” dan yang lainnya ada pada tingkat “SMU” dalam pengalaman mereka terhadap Kristus. Seorang saudara yang lebih matang dalam Tuhan dan yang telah bertahun-tahun menjadi orang kristen yang menuntut mungkit telah melalui kelima tahap dari pengembalaan Kristus. Kemudian pada pengalamannya saat ini, ia mungkin mengatakan bahwa pengalamannya pada kelima tahapan tersebuat terjadi pada waktu yang beragam.
A. Tahap Pertama dari Kenikmatan
pada Padang Rumput yang Hijau dan Air yang Tenang
Kristus yang bangkit mengembalakan kita pertama pada tahap awal dari kenikmatan pada padang rumput yang hijau dan air yang tenang (Maz. 23:1-2). Karena Ia adalah Gembala kita, kita tidak akan kekurangan apapun (Fil.1:19b). Setelah kita diselamatkan, kita masuk dalam tahap pertama dari kenikmatan. Dalam Yohanes 21 Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus apakah ia mengasihi-Nya. Ketika Petrus menjawab bahwa ia mengasihi Tuhan, Tuhan memintanya untuk memberi makan domba-domba kecilnya (ay.15). Kita harus menjadi ibu yang mengasuh untuk merawat dan memberi makan orang-orang muda dibawah pengasuhan kita (1 Tes 2:7). Setelah seorang anak diberikan, seorang ibu akan memberi makan anak itu sehingga ia dapat bertumbuh.
Pada tahap awal dari kenikmatan akan Kristus, domba-domba kecil, bayi-bayi baru lahir, makan Kristus sebagai padang rumput yang hijau (Yoh 10:9). Bayi baru lahir tidak memiliki table manner. Semua domba-domba kecil berbaring kebawah untuk makan padang rumput tanpa memikirkan kesopanan. Kristus membawa kita berbaring pada padang rumput, bukan duduk dengan cara yang sopan. Cara makan demikian, tanpa memikirkan kesopanan, adalah sangat menikmati. Domba-domba kecil berbaring di atas padang rumput dan makan rumput tanpa mengkawatirkan kesopanan di meja makan. Ini seperti bayi baru lahir berbaring pada dada ibunya yang merawat. Tidak diperlukan kesopanan diatas meja makan.
Kita harus memberi makan domba-domba kecil, orang-oang baru dalam Tuhan, untuk beberapa tahun. Mereka tidak memiliki “kesopanan” dalam menikmati Kristus. Itu seakan-akan mereka dapat berkata apapun. Seorang yang baru mungkin berkata, “Ya, saya telah diselamatkan, tetapi saya tidak terlalu merasakan bahwa Tuhan itu sangat baik.” Ini tidak sopan. Kita mungkin memberi makan orang baru ini, tetapi dia tidak memiliki “kesopanan”. Ini dikarenakan ia adalah domba kecil yang “berbaring”, bukan “duduk” untuk menikmati Tuhan sebagai padang rumput yang hijau.
Ia juga memimpin kita pada air yang tenang (Maz 23:2b; 1 Kor 12:13b). Padang rumput yang hijau adalah Kristus, dan air yang tenang adalah Roh. Roh itu sebagai air yang tenang. Ketika kita pergi untuk memberi makan orang baru, kita tidak hanya perlu memberinya makan dengan Kristus tetapi juga membantu mereka untuk minum dari Roh. Kita harus membantu mereka untuk minum dari Roh dengan melatih roh mereka.
Sebagai bagian dari sebuah santapan, minuman selalu tersedia bersamaan dengan makan. Ketika saya makan sebuah hidangan saya selalu membutuhkan dua gelas air. Maka saya merasakan nyaman dan menikmati waktu makan saya. Jika seseorang menghidangkan bagi kita makanan tanpa sesuatu untuk diminum, hal itu tidak ramah atau nyaman. Kita tidak akan memiliki perasaan nyaman. Inilah alasan mengapa kita memerlukan Kristus sebagai padang rumput dan Roh sebagai air yang tenang. Sesungguhnya, padang rumput dan air mengacu pada orang yang sama. pada satu aspek, Ia adalah padang rumput, makanan kita, untuk memberi kita makan. Pada aspek lain, Ia adalah Roh pemberi hayat sebagai air untuk membawa kita pada perhentian yang tepat. Keduanya baik padang rumput maupun air adalah Kebangkitan Kristus yang pneumatik sebagai Roh pemberi hayat.
B.
Tahap Kedua dari Kebangunan dan Transformasi dalam Jalan Kebenaran
Mazmur 23:3 mengatakan, “Ia menyegarkan jiwaku./ Ia menuntun aku di jalan yang benar/ oleh karena nama-Nya.” Ini adalah tahap kedua dari kebangunan dan transformasi dalam jalan kebenaran. Menyegarkan jiwa kita adalah membangun kita. kesegaran juga mencakup pembaharuan dan transformasi. Hal ini sebanding dengan pengajaran dalam Perjanjian Baru dalam Roma 12:2 yang mengatakan bahwa kita perlu ditransformasi melalui pembaharuan pikiran, dimana pikiran adalah bagian yang memimpin dalam jiwa kita. Kristus dalam penggembalaan-Nya menyegarkan—membangun dan mentransformasi—jiwa kita.
Ia menyegarkan kita—membangun dan mentransformasi kita—dalam jiwa kita untuk membawa kita pada jalan-Nya, untuk berjalan pada jalan kebenaran. Keduanya baik jalan maupun kebenaran adalah Kristus. Kristus yang telah bangkit adalah jalan kita hari ini. Keperluan untuk menjadi saudari yang tepat atau saudara yang tepat, kita perlu Kristus sebagai jalan setapak, sebagai jalan kita. Seorang saudari yang tidak bertingkah laku dan berjalan seperti seorang wanita, tidak memiliki Kristus sebagai jalannya. Seorang saudara yang bertindak bodoh tidak memiliki Kristus sebagai jalannya. Beberapa saudara memerlukan jalan setapak untuk menjadi sekerja. Kita juga memerlukan sebuah jalan untuk bertindak seperti orang kristen dan memerlukan jalan yang lain untuk bekerja dalam ekonomi Allah. Kita memerlukan banyak jalan, yaitu jalan yang benar, dalam kehidupan kristiani kita dan dalam pekerjaan kita.
Yohanes 7 mengatakan bahwa ketika kita minum Roh pemberi hayat sebagai air hidup, kita akan mengalir keluar, tidak hanya satu sungai tetapi banyak sungai
(ay.38). Ini adalah sungai dari manusia yang tepat, sungai keramahan, sungai kasih, sungai kesabaran, dll. Kita memerlukan banyak sungai. Sama halnya dengan kita memerlukan sebuah jalan keinsanian, jalan kasih, jalan kesabaran, dll. Ini semua adalah jalan kebenaran.
Kebenaran adalah benar terhadap manusia dihadapan Allah menurut kebenaran-Nya dan menurut permintaanNya yang ketat. Kita harus mengakui bahwa kita kekurangan jalan untuk menjadi benar. Kita harus mengambil jalan kebenaran dengan dipulihkan—dibangun dan ditranformasi—di dalam jiwa kita, yang terdiri dari pikiran, emosi dan tekad kita. Kita harus menjadi tepat dan seimbang di dalam pikiran, emosi, dan tekad kita. Jika tidak, kita tidak dapat menjadi benar; kita tidak dapat menjadi benar terhadap manusia dan terhadap Allah.
Kristus menggembalakan kita di jalan kebenaran. Seorang gembala memiliki tongkat untuk membimbing dan mengarahkan dombanya. Domba memiliki kecenderungan untuk tersesat. Gembala menggunakan tongkat untuk mengoreksi domba itu dan menjaga mereka di jalan yang benar di dalam kawanan. Seringkali tingkah laku kita menyimpang, maka kita perlu koreksi Kristus.
Untuk menjadi nyonya atau tuan mungkin sulit, tetapi untuk menjadi orang Kristen adalah jauh lebih sulit. Orang Kristen seharusnya menjadi kelas yang tertinggi dari manusia. Kadangkala para saudari tidak memotong rambutnya dengan tepat, sehingga rambut mereka tidak benar. Jika kita tidak membeli sepasang sepatu yang tepat yang sesuai sebagai seorang Kristen, hal ini menunjukkan bahwa kita salah di dalam persona kita. Kita perlu menjadi benar di dalam segala sesuatu. Para saudara perlu menjadi benar di dalam cara mereka memotong rambut mereka dan di dalam mengancingkan pakaian mereka.
Kita harus menjadi benar tidak hanya secara etika, secara moral, tetapi juga secara materi. Beberapa saudara muda yang datang ke dalam hidup gereja di Los Angeles enam puluh tahun yang lalu berpakaian dengan cara yang liar. Namun, setelah berada dalam penghidupan gereja sejangka waktu, cara mereka berpakaian menjadi tepat, rambut dan janggut mereka yang panjang dipotong. Seorang saudara datang ke dalam sidang dan duduk di baris pertama tanpa alas kaki. Dalam waktu yang singkat, saudara ini mulai memakai sepatu dan kemudian memakai sepatu dan kaos kaki. Ini adalah bukti pekerjaan transformasi Tuhan dari batinnya. Saudara-saudara ini berubah tanpa koreksi luaran atau pembetulan dari yang lain.
Hal ini menunjukkan pada kita bahwa kita tidak hanya menjadi benar secara etika, secara moral, tetapi juga sucara fisik, secara materi. Kita orang Kristen adalah orang yang berkelas tinggi. Untuk meministrikan Firman, hukum hayat batini meminta kita untuk berpakaian dengan tepat. Lalu saya terlihat sebagai seorang yang sangat rapi, tepat. Kita semua harus berada di bawah penggembalaan Tuhan dalam semua yang kita lakukan. Penggembalaan-Nya adalah semacam penyeimbangan, koreksi, dan pembetulan.
Dia membimbing kita (untuk berjalan menurut roh) di jalan kebenaran (untuk memenuhi tuntutan dari kebenaran—Rm. 8:4). Kebenaran hanya dapat dipenuhi oleh mereka yang berjalan menurut roh mereka. Kita memiliki tiga bagian—tubuh, jiwa, dan roh (1 Tes. 5:23). Kita tidak seharusnya melakukan sesuatu menurut tubuh kita, karena tubuh penuh dengan hawa nafsu. Kita tidak seharusnya melakukan sesuatu menurut jiwa kita, karena jiwa penuh dengan opini. Sebaliknya, kita seharusnya melakukan sesuatu menurut roh kita. Ketika kita berjalan menurut roh, kita memenuhi tuntutan kebenaran dari hukum Taurat.
Kristus sebagai Gembala kita memimpin kita di jalan kebenaran karena nama-Nya—di dalam persona Kristus pneumatik yang bangkit. Matius 28:19 berkata bahwa kita membaptis orang ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Nama menunjukkan persona. Karena nama-Nya adalah karena persona-Nya. Hari ini Yesus Kristus sebagai Persona yang hidup adalah Kristus pneumatik di dalam kebangkitan-Nya. Dia adalah Roh pemberi hayat. Dia memimpin kita secara batini untuk berjalan di jalan kebenaran di dalam Diri-Nya Sendiri sebagai Persona itu. Dia adalah Gembala yang sedemikian di dalam kita.
C. Tahap Ketiga dari Pengalaman dari
Hadirat Kristus Pneumatik yang Bangkit
melalui Lembah Bayang-bayang maut
Tahap ketiga adalah tahap pengalaman dari hadirat Kristus pneumatik yang bangkit melalui lembah bayang-bayang maut (Mzm. 23:4). Meskipun kita berjalan melalui lembah bayang-bayang maut, kita tidak takut bahaya, karena Kristus pneumatik menyertai kita (2 Tim. 4:22). Ini berarti kita mengalami hadirat-Nya. Hadirat-Nya adalah penghiburan, pertolongan, dan kuasa yang menopang kita ketika kita berjalan di lembah bayang-bayang maut.
Kita, manusia tidak dapat menghindari masalah sewaktu kita hidup di bumi ini. Seorang isteri yang memperhatikan suami dan anak-anaknya mungkin tiba-tiba sakit parah sehingga dia tidak sanggup berjalan. Lalu saudara ini masuk ke dalam lembah, di bawah bayang-bayang dan penuh maut. Beberapa kaum saleh mungkin memiliki anak yang lumpuh. Hal ini membawa kaum saleh ini ke dalam lembah. Seorang saudara mungkin seorang penatua di suatu lokal, dan Tuhan mungkin tiba-tiba membawa masuk penatua lain, bersamanya, sangat sulit bagi saudara ini untuk berkoordinasi. Penatua yang lain itu menjadi lembah bayang-bayang maut bagi penatua yang pertama. Dia tidak dapat bertengkar dengan penatua lain ini, atau dia akan melukai rohnya. Dia harus menjaga kesehatian dengannya. Juga, rohnya tidak akan mengijinkan dia untuk mengundurkan diri. Dia harus tinggal di dalam lembah untuk menderita. Ini adalah contoh-contoh dari lembah bayang-bayang maut.
Sekitar lima tahun yang lalu, saya ditaruh ke dalam lembah. Di tahun 1987, saya bekerja di Taipei, berjerih lelah pada Perjanjian Baru Versi Pemulihan bahasa Cina. Lalu di akhir tahun 1987, saya kembali ke Amerika Serikat dan menyadari ada pemberontakan yang muncul di antara kita. Selama pemberontakan ini, saya ditaruh ke dalam lembah. Ketika kita berada di dalam lembah, cara yang terbaik untuk menanggulanginya adalah beristirahat. Ujian di lembah selalu mencobai kita untuk melakukan sesuatu sehingga kita dapat keluar dari lembah. Tetapi semakin kita mencoba, semakin lebar lembah kita. Kita hanya perlu tenang, beristirahat.
Istirahat kita di dalam Tuhan akan mempersempit lembah, mengurangi bayang-bayang, dan menyingkirkan maut. Kita tidak seharusnya berbicara tentang keberadaan kita di dalam lembah. Semakin kita membicarakannya, semakin lebar lembahnya. Cara terbaik bagi kita adalah melupakan keberadaan kita di lembah, karena kita memiliki Tuhan menyertai kita. Kita tidak takut bahaya, karena Dia menyertai kita. Dua Timotius 4:22 berkata bahwa Tuhan menyertai roh kita. Tuhan tidak hanya berada di dalam kita secara umum, tetapi Dia berada di dalam roh kita secara khusus. Jika kita memiliki pengalaman yang tepat di dalam lembah, kita dapat bersaksi bahwa itu adalah tempat bagi kita untuk menikmati hadirat Tuhan secara dekat.
Di tahun 1943, ada kebangunan yang besar di gereja di Chefoo, tempat kelahiranku di daratan Cina. Pada saat itu, kita berada di bawah serangan tentara Jepang. Mereka heran bagaimana mungkin saya dapat menarik begitu banyak orang. Mereka mempelajari saya selama beberapa bulan, lalu di bulan Mei 1943, mereka datang untuk menangkap saya. Mereka membawa saya ke maskas militer polisi, dan saya dimasukkan ke dalam penjara selama tiga puluh hari. Itu adalah lembah yang sesungguhnya bagi saya. Serangan tentara Jepang membunuh ribuan orang Cina selama perang itu, sehingga saya dapat dibunuh kapan saja oleh mereka. Saya berada di bawah ancaman dan siksaan dua sampai tiga jam sehari.
Suatu hari mereka menjebloskan seorang pemuda Yunani ke dalam sel penjara bersama saya. Baik dia maupun saya dapat berbicara sedikit bahasa Inggris, maka kita dapat berkomunikasi satu sama lain. Orang Jepang tidak mengetahui hal ini. Satu hari mereka bermaksud tidak memberi saya makanan apapun. Salah satu dari mereka datang kepada saya dan tidak sanggup berbicara bahasa Cina, dia menunjuk ke langit, menunjukkan bahwa saya harus meminta Allah saya untuk memberi saya makanan. Namun, pemuda Yunani itu memaksa membagi makanannya dengan saya. Dia dan saya menjadi teman akrab.
Setelah beberapa minggu, dia dipindahkan, dan saya ditinggalkan sendirian di dalam penjara. Suatu hari, ketika saya sendirian, saat saya sedang berdoa, saya memiliki perasaan yang dalam bahwa Tuhan berada di sana dengan saya dengan cara yang khusus, intim. Saya berada dalam lembah, Tuhan membuat saya tidak takut bahaya. Pada akhirnya, saya dijaga dan dilindungi oleh Tuhan dari bahaya. Setelah tiga puluh hari, bangsa Jepang melepaskan saya. Itu adalah pengalaman dan kenikmatan yang sejati akan hadirat Tuhan di dalam lembah yang dalam dari bayang-bayang maut.
Di dalam lembah bayang-bayang maut, gada dan tongkat Tuhan—perlindungan-Nya, bimbingan-Nya, dan topangan-Nya—menghibur kita. Gada adalah untuk perlindungan. Jika seekor serigala datang, gembala menggunakan gadanya untuk melindungi kawanan domba. Tongkat adalah untuk melatih, mengarahkan, membimbing, dan juga menopang. Tuhan memiliki gada untuk melindungi kita, dan Dia memiliki tongkat untuk melatih kita, mengarahkan kita, membimbing kita, dan menopang kita. Kita mengalami perlindungan dan bimbingan Tuhan di dalam bayang-bayang maut.
D. Tahap keempat dari Kenikmatan yang Lebih Dalam dan
Lebih Tinggi dari Kebangkitan Kristus
Sekarang kita sampai pada tahap keempat dari kenikmatan lebih dalam dan lebih kaya dari kebangkitan Kristus (Mzm. 23:5). Tuhan membentangkan meja—pesta—di depan kita di hadapan seteru kita (1 Kor. 10:21). Meja Tuhan adalah pesta. Setiap hari Tuhan, ketika kita datang ke meja-Nya untuk berpesta, itu selalu di hadapan seteru kita. Setiap hari adalah hari peperangan bagi kita. Kita, orang Kristen harus berperang. Jika tidak, kita akan dikalahkan. Mungkin ada seteru di dalam bisnis kita, di dalam rumah kita, dan bahkan di dalam gereja. Di satu pihak, kita menikmati pesta dari Tuhan, dan di pihak lain, kita seharusnya berperang untuk kemenangan. Jika kita dikalahkan selama satu minggu, akan sulit bagi kita untuk menikmati meja Tuhan sebanyak itu. Kita perlu berjuang dalam peperangan di dalam Tuhan selama satu minggu sebelum kita datang ke meja Tuhan. Lalu kita akan sanggup memiliki kenikmatan yang kaya akan Tuhan sebagai pesta kita pada meja-Nya.
Dalam tahap keempat dari kenikmatan yang lebih dalam dan lebih kaya dari kebangkitan Kristus, Tuhan mengurapi kepala kita dengan minyak (minyak kesukaan—Ibr. 1:9); cawan kita(cawan berkat—1 Kor. 10:16a) habis. Mengurapi kepala adalah mengurapi seluruh tubuh. Mazmur 133 berbicara tentang minyak urapan di atas kepala yang meleleh ke leher jubah. Tidak diragukan, ini adalah pengurapan dari Roh majemuk, pemberi hayat di dalam kebangkitan Kristus. Semua kekayaan dari apa adanya Kristus dan apa yang Kristus lakukan diramu bersama di dalam minyak urapan majemuk ini.
Alkitab menggunakan kata cawan untuk menunjukkan berkat. Cawan berkat habis. Mazmur 23:5 berbicara tentang meja, pesta, yang adalah Kristus dengan kekayaan-Nya bagi kenikmatan kita. Lalu ada minyak urapan, yang adalah Roh itu. Lalu ada cawan berkat, yang mengacu pada Bapa. Bapa adalah berkat, bahkan sumber berkat. Maka, di dalam ayat lima ada Allah Tritunggal—Putra sebagai pesta, Roh itu sebagai minyak urapan, dan Bapa sebagai sumber berkat.
E. Tahap Kelima dari Kenikmatan Seumur Hidup
dari Kebaikan dan Kemurahan Ilahi
di dalam Rumah Yehova
Mazmur 23:6 berbicara tentang tahap kelima dari kenikmatan seumur hidup dari kebaikan dan kemurahan ilahi di dalam rumah Yehova. Pasti kebaikan dan kemurahan akan mengikuti kita (kasih karunia Kristus dan kasih Allah akan menyertai kita—2 Kor. 13:13) sepanjang hari-hari dari hidup kita (di zaman ini). Kebaikan mengacu pada kasih karunia Kristus, kemurahan mengacu pada kasih Bapa, dan mengikuti mengacu pada persekutuan Roh. Dua Korintus 13:13 menunjukkan pergerakan Allah Tritunggal bagi kita untuk menikmati semua kekayaan-Nya. Kasih karunia Putra, kasih Bapa, dan persekutuan Roh menyertai kita. Ini adalah tahap kelima dari kenikmat kita akan Allah Tritunggal dalam Mazmur 23.
Pada akhirnya, kenikmatan ini akan mengantarkan kita ke dalam rumah Allah. Kita akan tinggal di dalam rumah Yehova (gereja dan Yerusalem Baru—1 Tim. 3:15-16; Why. 21:2-3, 22) sepanjang hari-hari kita (di zaman ini dan di zaman yang akan datang serta di dalam kekekalan). Hari-hari kita tidak hanya di zaman ini, tetapi juga di zaman yang akan datang dan di dalam kekekalan. Kita akan hidup sampai kekal; hari-hari kita akan sepanjang itu. Hari ini kita berada di dalm gereja. Jika kita adalah para pemenang, kita akan berada dalam kerajaan seribu tahun di dalam Yerusalem Baru. Pada akhirnya, di dalam kekekalan kita akan berada dalam Yerusalem Baru dengan semua kaum saleh yang dipilih dan ditebus. Rumah Allah adalah tempat kediaman kita dimana kita menikmati Allah Tritunggal—kasih karunia Putra, kasih Bapa, dan persekutuan Roh. Hari ini kita menikmati Allah Tritunggal di dalam gereja, dan di masa yang akan datang kita menikmati Dia di dalam Yerusalem Baru.
Jika kita tidak berada di dalam gereja, kita akan kehilangan penggembalaan Kristus. Di luar gereja, tanpa gereja, tidak ada jalan bagi Kristus untuk menggembalakan kita. Ini dikarenakan Dia adalah Gembala kawanan domba, dan kawanan domba adalah gereja. Keluar dari gereja adalah keluar dari kawanan, dan Gembala selalu bersama kawanan.
Berada dalam gereja adalah suatu kenikmatan. Tanpa gereja, saya tidak akan menyukai hidup di bumi ini. Tanpa gereja, saya tidak akan memeliki kenikmatan apapun. Banyak orang menyukai berdosa dan hiburan duniawi, maka mereka berpesta dan pergi ke klub. Kita tidak menyukai ini karena gereja adalah “klub” kita, gereja adalah “pesta” kita, gereja adalah hiburan kita. Tempat yang terbaik bagi hiburan kita adalah kehidupan gereja. Jika kita memutuskan untuk tinggal di rumah di malam hari dariapada datang ke dalam sidang gereja, kita akan menderita kerugian. Untuk menghindari penderitaan, kita perlu datang ke dalam sidang-sidang gereja. Di dalam sidang-sidang gereja, di dalam rumah Allah, kita dapat menikmati kebaikan ilahi (kasih karunia Kristus) dan kemurahan ilahi (kasih Allah) mengikuti kita (di dalam persekutuan Roh Kudus) sepanjang hari-hari hidup kita.
Kita, manusia harus bersosial. Jika kita bersosialisasi di tempat yang salah, kita akan memiliki masalah. Tempat yang terbaik bagi kita untuk bersosialisasi adalah gereja. Gereja adalah masyarakat yang tepat. Pada akhirnya, gereja akan rampung dalam Yerusalem Baru, dimana kita akan berhimpun bersama sampai kekal.
II. KRISTUS SEBAGAI RAJA DI DALAM KERAJAAN ALLAH
Mazmur 24 mewahyukan Kristus sebagai Raja di dalam Kerajaan Allah. Ini akan terjadi di zaman yang akan datang.
A. Realisasi bumi dan
Kepenuhan daripadanya sebagai Kerajaan Allah
Di dalam Mazmur 24:1-2, kita melihat realisasi bumi dan kepenuhan daripadanya, dan dunia dan mereka yang tinggal di dalamnya, didasarkan oleh Allah di atas laut dan ditegakkan oleh Dia di atas sungai-sungai, sebagai Kerajaan Allah. Pemikiran di kedua ayat ini sangat baik.
B. Pencampuran Konsepsi Daud
Di dalam ayat 3-6 kita sekali lagi melihat pencampuran konsepsi Daud. Dalam ayat-ayat ini, konsep alamiahnya kembali lagi. Daud berkata, “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung Yehova? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari Yehova dan keadilbenaran dari Allah yang menyelamatkan dia. Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, mereka yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub”. Ayat-ayat ini tidak ada kaitannya dengan kerajaan dan secara mutlak mirip seperti Mazmur 15.
Kita tidak seharusnya menyalahkan Daud terlalu banyak untuk konsepsi alamiahnya karena kita sama seperti dia. Kita harus ingat bahwa Daud masih hidup dalam daging. Inilah sebabnya ada dua macam konsep di dalam Mazmur—konsep insani dan konsep ilahi.
C. Kristus yang Menang Menjadi Raja yang Akan Datang
Di dalam Kerajaan Kekal Allah
Ayat 7-10 pasti adalah kelanjutan yang tepat dari ayat 2. Ayat-ayat ini menunjukkan pada kita, Kristus yang menang sebagai Raja yang akan datang di dalam kerajaan kekal Allah. Ayat 7 berkata, “Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan”. Pintu gerbang berasal dari kota bangsa-bangsa. Pintu-pintu berasal dari rumah rakyat. Pintu yang berabad-abad menunjukkan penantian dan pengharapan dengan panjang sabar (Flp. 3:20; 1 Kor. 1:7). Ini menunjukkan bahwa orang-orang di bumi telah menantikan dan mengharapkan kedatangan Kristus kali kedua. Di dalam Hagai 2:7, kita diberitahu bahwa Kristus yang didambakan semua bangsa. Semua bangsa, secara umum mengharapkan Kristus datang, tetapi Kristus tidak akan datang dengan cepat menurut konsep insani kita. Maka, kita perlu menantikan dan mengharapkan kedatangan-Nya dengan panjang sabar.
Karena kita harus menantikan kedatangan-Nya dengan panjang sabar, kita memiliki kecenderungan untuk menundukkan kepala kita di dalam keputusasaan. Inilah sebabnya pemazmur berkata, “Angkatlah kepalamu”. Jika kita mengharapakan seorang yang terkasih bagi kita untuk datang dan dia tidak datang, kita akan menundukkan kepala kita. Tetapi jika kita menerima telepon darinya, memberitahu kita bahwa dia akan datang, kita akan mengangkat kepala kita, yaitu, kita akan terdorong untuk mengharapkan kedatangannya.
Kita harus mengangkat kepala kita, karena Raja kemuliaan akan datang (ay. 7, 9; Luk. 21:27; Mat. 25:21). Kita harus siap sedia untuk menyambut kedatangan-Nya. Mazmur 24:8 bertanya, “Siapakah Raja Kemuliaan?” Raja Kemuliaan adalah “Yehova jaya dan perkasa! Yehova perkasa dalam peperangan!” Yehova adalah Yesus, dan Yesus adalah perwujudan Allah Tritunggal di dalam kebangkitan. Dia adalah Sang jaya di dalam peperangan dan yang menang.
Ayat 9 berkata, “Angkatlah kepalamu, O pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan”. Ayat 7 berkata, “Diangkat”, tetapi ayat 9 berkata, “Angkatlah”. Diangkat berarti kita masih lemah, perlu seseorang menggerakkan kita. Tetapi angkatlah berarti kita menjadi lebih kuat. Kita dapat mengangkat diri kita sendiri. Raja kemuliaan, yang kita sambut, adalah Yehova semesta alam. Semesta alam berati bala tentara. Dia adalah Yehova dari bala tentara. Yehova adalah Allah Tritunggal yang berinkarnasi, tersalib, dan bangkit. Dia adalah Persona di dalam kebangkitan-Nya datang kembali untuk memiliki seluruh bumi, untuk mengambil bumi sebagai kerajaan-Nya. Raja kemuliaan adalah Yehova semesta alam, Allah Tritunggal yang rampung terwujud di dalam Kristus yang menang dan yang akan datang (ay. 10).
Kita telah melihat Mazmur 23 mewahyukan Kristus sebagai Gembala di dalam kebangkitan-Nya, dan Mazmur 24 mewahyukan Kristus sebagai Raja di dalam kerajaan Allah. Haleluya untuk Kristus yang menggembalakan, Haleluya untuk Kristus yang meraja! Haleluya untuk Kristus kita menjadi Gembala kita hari ini dan Raja kita di masa yang akan datang!