← Daftar isi Sikap Kita terhadap Alkitab Cara untuk Menikmati Alkitab – dengan Membiarkan Firman Kristus Diam DI dalam Kita dengan Segala Kekayaannya · bab 4/24

PERBEDAAN ANTARA PERJANJIAN BARU DAN PERJANJIAN LAMA, APOCRYPHA, WAHYU-WAHYU PALSU DAN TERJEMAHAN-TERJEMAHAN

Pembacaan Alkitab

Ibr. 6:13, 17; Gal. 3:15-17; Rm.6:14; Gal. 3:22-26;

Ibr. 8:13, 6; Yoh. 1:17; Ibr. 9:22; Gal. 3:10, 12;

Bil. 4:1; Yer. 31:31-34; Ibr. 7:16; 13:20; I Yoh. 1:17;

Rm. 11:6; Yoh. 3:15; Why. 22:18-19.

Garis besar

I. Perbedaan antara perjanjian baru dan perjanjian lama

A. Perjanjian baru dan perjanjian lama---dua perjanjian yang telah Allah buat dengan manusia

1. Perjanjian lama---suatu perjanjian yang disandingkan dan dibatalkan

a. Ditentukan di tangan Musa

b. Dipersembahkan dengan darah lembu dan kambing jantan

c. Berdasarkan hukum, yang tidak dapat memberi hayat, sebagai kondisinya

d. Memerlukan manusia hanya melakukan, bukan percaya

e. Hanya memakai jaman Perjanjian Lama

2. Perjanjian baru---suatu perjanjian yang lebih baik dan kekal

a. Dirampungkan oleh Yesus Kristus

b. Didirikan dengan darah Yesus, Putra Allah

c. Berdasarkan kasih karunia, yang memberikan hayat, sebagai kondisinya

d. Memerlukan manusia hanya percaya, bukan melakukan

e. Memakai jaman Perjanjian Baru dan kekekalan

II. Apocrypha

A. Tidak berada di dalam Alkitab pada mulanya

1. Bukti dari Josephus

2. Bukti dari Cyril

3. Bukti dari Tuhan Yesus dan rasul-rasul

B. Telah ditambahkan ke dalam tulisan Vatikan

C. Pengenalan oleh Gereja Roma Katholik

III. Beberapa wahyu palsu

A. Al-Quran Islam

B. Kitab Mormon

C. “Alkitab” Saksi Yehovah

IV. Terjemahan-terjemahan Alkitab

A. Versi Septuagint

B. Versi Vulgate

C. Versi Authorized King James

D. Versi Revised

E. Versi American Standard

F. Banyak versi lainnya

G. Versi uraian Alkitab dengan kata-kata sendiri

H. Perjanjian Baru Versi Pemulihan

1. Keakuratan

2. Dapat dibaca

3. Garis besar

4. Catatan-catatan kaki

5. Referensi-referensi

6. Berita-berita pelajaran hayat Perjanjian Baru

I. PERBEDAAN ANTARA PERJANJIAN BARU DAN PERJANJIAN LAMA

Banyak orang Kristen tidak memahami sepenuhnya perbedaan antara Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Adalah baik jika kita meluangkan beberapa waktu untuk mempelajari perkara ini.

Jika kita ingin mempelajari perjanjian baru dan perjanjian baru, kita pertama-tama harus mengenal perbedaan antara butir-butir ini: suatu janji, suatu sumpah, suatu perjanjian, dan suatu wasiat. Suatu janji adalah suatu perkataan yang biasa diucapkan oleh Allah, berjanji kepada Anda bahwa Dia akan melakukan sesuatu bagi Anda. Allah menetapkan perkataan janji-Nya dengan sumpah-Nya (Ibr. 6:13, 17). Ketika suatu janji diteguhkan dengan suatu sumpah, janji itu segera menjadi suatu perjanjian. Apa yang telah kita terima dari Allah bukan hanya suatu perkataan janji yang biasa saja, melainkan suatu perjanjian yang ditetapkan oleh sumpah Allah dan dimeteraikan dengan kesetiaan-Nya. Ketika Dia yang membuat perjanjian itu mati, perjanjian itu menjadi kehendak yang diwariskan, yaitu, suatu wasiat. Hari ini perjanjian itu bukan hanya suatu perjanjian saja tetapi suatu wasiat yang telah diwariskan oleh Dia yang melaksanakan perjanjian itu.

A. Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama—Dua perjanjian yang Allah Buat dengan Manusia

Perjanjian baru dan perjanjian lama adalah dua perjanjian yang Allah buat dengan manusia sebagai dua keadaaan di mana manusia dapat mempunyai suatu hubungan dengan Dia. Perjanjian baru adalah suatu kelanjutan dari perjanjian yang Allah buat dengan Abraham. Di dalam Kejadian pasal dua belas, Allah memberikan suatu janji kepada Abraham dan kemudian juga bersumpah kepadanya (Kej. 22:16). Maka, janji itu menjadi suatu perjanjian yang dibuat oleh Allah dengan Abraham (Gal. 3:15-17). Dua ribu tahun kemudian, Allah mengutus Putra-Nya Yesus Kristus, yang mengalirkan darah-Nya di atas salib dan melaksanakan perjanjian baru itu (Luk. 22:20). Pada poin itu perjanjian baru itu telah dirampungkan; lebih jauh lagi, perjanjian baru itu menjadi suatu perjanjian oleh karena kematian Tuhan.

Perjanjian lama, yang datang empat ratus tiga puluh tahun kemudian setelah Allah membuat perjanjian dengan Abraham, dilaksanakan di Bukit Sinai, di mana Allah memberikan hukum itu kepada bani Israel. Tegasnya, perjanjian lama tidak meliput seluruh periode dari Perjanjian Lama, dari Kejadian sampai Maleakhi. Periode itu sebenarnya mulai dari Keluaran 19 sampai waktu Yohanes Pembaptis (Mat. 11:12-13). Dari waktu Yohanes Pembaptis sampai sebelum kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus adalah suatu periode transisional antara waktu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Allah berhubungan dengan manusia di dalam Perjanjian lama menurut perjanjian lama—hukum, sedangkan Dia berhubungan dengan Perjanjian Baru menurut perjanjian baru—kasih karunia.

1. Perjanjian Lama—suatu Perjanjian yang Ditambahkan dan Dibatalkan

Roma 5:20 berkata bahwa “Hukum Taurat itu ditambahkan.” Perkataan ini berarti bahwa Hukum Taurat itu bukanlah maksud Allah yang sebermula, atau penetapan Allah yang semula bagi manusia. Melainkan, Hukum Taurat itu ada kemudian; Hukum Taurat itu disandingkan bersamaan. Karena kejatuhan dan kerusakan manusia, Allah menyandingkan Hukum Taurat karena alasan-alasan berikut ini: 1) Hukum Taurat itu mengekspresikan Allah, dalam persona dan atribut-Nya, bagi manusia yang telah jatuh; 2) Hukum Taurat dapat menyatakan pelanggaran-pelanggaran manusia; 3) Hukum Taurat menelanjangi keadaaan manusia yang sebenarnya dari ketidakmampiuan untuk mengekspresikan Allah menurut kekudusan, kebenaran dan kemuliaan Allah; 4) Hukum Taurat mengawal manusia sebagai sebagai pemimpin seorang anak kepada Kristus; dan 5) Hukum Taurat menyetir manusia untuk percaya dan menerima Kristus sebagai kasih karunia sehingga dia dapat hidup dan mengekspresikan Allah menurut permintaan Hukum Taurat itu (Gal. 3:19, 22-26). Karena perjanjian lama itu adalah sesuatu yang disandingkan dan bukan maksud Allah yang sebermula bagi manusia, maka perjanjian lama itu tidak tetap secara permanen. Melainkan, perjanjian lama itu menjadi usang, semakin tua dan memudar (Ibr. 8:13).

a. Ditentukan di dalam Tangan Musa

Galatia 3:19 mengatakan bahwa Hukum Taurat itu “ditentukan melalui malaikat-malaikat di dalam tangan seorang pengantara.” Pengantara di sini mengacu kepada Musa (Yoh. 1:17; Kel. 24:3). Maka, Hukum Taurat itu ditentukan di dalam tangan Musa. Ini mengindikasikan bahwa Hukum Taurat itu bukanlah suatu perkara yang menyenangkan dan manis bagi Allah untuk memberikan Hukum Taurat itu kepada manusia; kalau tidak, Dia akan melakukannya sendiri.

b. Dipersembahkan dengan Darah Lembu dan Kambing Jantan

Manusia itu penuh dosa, dan tanpa penumpahan darah di sana tidak ada pengampunan (Ibr. 9:22). Tanpa pengampunan dosa di sana tidak ada jalan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan kebenaran Allah yang olehnya perjanjian itu dapat dilaksanakan. Oleh karena itu, perjanjian lama dibangunkan dengan darah lembu dan kambing jantan (Ibr. 9:18-20; Kel. 24:6-8).

c. Berdasarkan Hukum Taurat, Yang Tidak Dapat Memberikan Hayat, sebagai Kondisinya

Di dalam Perjanjian Lama Allah berhubungan dengan manusia menurut Hukum Taurat. Setiap orang yang memelihara Hukum Taurat akan diberkati (Bil. 6:1-3), dan setiap orang yang tidak tinggal dengan semua hal yang telah ditulis di dalam kitab Hukum Taurat untuk melakukannya akan dikutuk (Gal. 3:10). Hukum Taurat hanya dapat meminta dan mengutuk; Hukum Taurat tidak dapat memberi hayat. Galatia 3:21 berkata, “Andaikata Hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat memberikan hayat, maka memang kebenaran berasal dari Hukum Taurat.” Tetapi sebenarnya manusia tidak dapat dibenarkan oleh Hukum Taurat, karena Hukum Taurat hanya meminta dan mengutuk; tidak dapat memberi hayat, ataupun dapat memberi manusia kekuatan untuk dibenarkan oleh Allah.

d. Memerlukan Manusia hanya Melakukan, bukan Percaya

Galatia 3:12 berkata, “Tetapi dasar Hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya akan hidup karenanya.” Hukum Taurat bukan berasal dari iman; Hukum Taurat berasal dari pekerjaan-pekerjaan. Hukum Taurat bukan berdasarkan prinsip iman; Hukum Taurat berdasarkan prinsip pekerjaan-pekerjaan. Manusia harus melakukan Hukum Taurat supaya hidup. Oleh karena itu, Musa seringkali berbicara kepada semua Israel dengan jalan ini: “Oleh karena itu sekarang dengarkanlah, hai Israel, kepada peraturan-peraturan dan penghakiman-penghakiman, yang aku ajarkan kepadamu, untuk melakukannya supaya kamu hidup (Bil. 4:1; 5:1; 6:1, 25).

e. Hanya Memakai Zaman Perjanjian Lama

Mengacu kepada perjanjian lama, Ibrani 8:13 Berkata, “Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya.” Nubuat di dalam Yeremia 31:31-34 mengenai perjanjian baru yang akan datang mengindikasikan bahwa perjanjian yang pertama telah menjadi tua dan usang. Mungkin Yeremia menyadari kelemahan dan ketidak beruntungan perjanjian lama itu dan beditu dalam telah dibebani oleh perkara ini. Oleh karena itu, Allah mempunyai kesempatan untuk masuk dan berbicara melalui dia, “Sesungguhnya, akan datang waktunya, “demikianlah firman Tuhan, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan Israel dan dengan kaum Yehuda” (Ibr. 8:8). Bukan hanya perjanjian lama itu usang, melainkan perjanjian lama itu juga sudah dekat kepada kesudahannya. Oleh karena itu, perjanjian lama hanya dapat dipakai pada zaman perjanjian lama.

2. Perjanjian Baru—suatu Perjanjian yang Lebih Baik dan Kekal

Perjanjian baru, adalah suatu perjanjian yang lebih baik (Ibr. 8:6). Perjanjian baru lebih baik dari pada perjanjian lama, sebagaimana realitas dari seorang persona lebih baik dari pada fotonya. Perjanjian lama itu, seperti suatu foto, hanya mempunyai bentuk yang di luar, tetapi perjanjian baru, adalah seperti persona yang sebenarnya, mempunyai hayat yang di dalam dan semua realitasnya. Perjanjian lama tidak memiliki hayat; perjanjian baru disusun dengan hayat yang tidak dapat binasa (Ibr. 7:16). Segala perkara di dalam perjanjian baru itu jauh lebih baik dari pada hal-hal di dalam perjanjian lama, karena segala perkara di dalam perjanjian baru itu adalah realitas yang tersusun dengan hayat. Oleh karena itu, perjanjian baru adalah perjanjian yang lebih baik.

Lebih jauh lagi, perjanjian baru adalah suatu perjanjian yang kekal (Ibr. 13:20). Tidak seperti perjanjian lama, yang menjadi tua dan usang dan dibatalkan (Ibr. 8:13), perjanjian baru adalah efektif sampai kekal.

a. Dirampungkan oleh Yesus Kristus

Perjanjian baru telah dirampungkan oleh Yesus Kristus sendiri. Ketika Tuhan Yesus disalibkan di atas kayu salib dan mencucurkan darah mustika, Dia telah membuat jalan bagi Allah untuk melaksanakan suatu perjanjian baru dengan kita (Mat. 26:28). Tidak seperti perjanjian lama, yang ditentukan di dalam tangan Musa, perjanjian baru itu telah dirampungkan oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri, Putra Allah yang kekasih.

b. Didirikan dengan Darah Yesus, Putra Allah

Setelah makan Paskah dengan murid-murid, Tuhan mendirikan perjamuan-Nya dengan roti dan cawan. Dia mengambil cawan, berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru di dalam darah-Ku “ (Luk. 22:20). Perjanjian baru didirikan oleh darah Tuhan Yesus Kristus. Satu Yohanes 1:7 juga mengatakan bahwa darah Yesus, Putra Allah, menyucikan kita dari segala dosa. Karena darah-Nya memuaskan tuntutan kebenaran-kebenaran Allah, darah-Nya itu telah membuka jalan bagi Allah untuk melaksanakan suatu perjanjian baru dengan kita. Oleh karena itu, perjanjian baru dilaksanakan melalui darah Yesus Putra Allah; ini bukanlah seperti perjanjian lama yang dilaksanakan dengan darah lembu dan kambing jantan.

c. Berdasarkan Kasih Karunia, Yang Memberi Hayat, sebagai Kondisinya

Sekarang kita berada di dalam perjanjian baru, kita bukan berada di bawah Hukum Taurat tetap berada di bawah kasih karunia (Rm. 6:14). Kasih karunia adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses melalui inkarnasi, penghidupan insani, ketersaliban, kebangkitan, dan kenaikan untuk menjadi segala sesuatu bagi kita. Dia adalah penebusan, keselamatan, hayat, dan kepuasan kita.

Perjanjian baru adalah berdasarkan kasih karunia, yang memberi hayat, sebagai kondisinya. Ini berarti bahwa di dalam perjanjian baru Allah Tritunggal yang telah melalui proses bermaksud untuk menjadi segala-gala kita. Maka, perjanjian baru tidak memerlukan manusia memelihara Hukum Taurat itu; melainkan, berhubungan dengan manusia menurut kasih karunia, yang adalah Allah sebagai segala sesuatu bagi manusia.

d. Memerlukan Manusia hanya Percaya, Bukan Melakukan

Roma 11:6 berkata, “Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan kasih karunia.” Sedangkan Hukum Taurat semuanya berasal dari pekerjaan-pekerjaan bukan kasih karunia melainkan hukum. Yohanes 3:15 berkata, “Supaya setiap orang yang percaya di dalam Dia beroleh hayat yang kekal.” Jadi, Perjanjian Baru memperlihatkan kepada kita dengan jelas bahwa Allah tidak memerlukan manusia untuk bekerja; Allah hanya memerlukan manusia untuk percaya. Di dalam zaman Perjanjian Baru, Penyebab penghakiman Allah satu-satunya atas manusia adalah ketidakpercayaan manusia, ketidakpercayaannya di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah (Yoh. 3:18).

Di dalam Perjanjian Baru, arti kata iman mempunyai dua aspek. Secara obyektif, iman adalah apa yang kita percayai. Secara subyektif, iman adalah kepercayaan kita. Oleh karena itu, iman menunjukkan tindakan percaya dan bahwa di dalamnya kita percaya. Hal-hal yang di dalamnya kita percaya termasuk pengutusan Putra Allah ke dalam dunia, penghidupan insani Putra itu, kematian-Nya di atas kayu salib untuk merampungkan penebusan, penguburan-Nya, kebangkitan-Nya, menjadi Roh Pemberi Hayat, kenaikan-Nya, dan mencurahkan Roh Kudus-Nya. Ketika kita mendengar semua perkara-perkara ilahi ini, kita akan distir dan diisi dengan apresiasi. Inilah iman kita dan inilah tindakan kepercayaan kita. Di dalam perjanjian baru manusia hanya perlu mempunyai suatu iman yang demikian; manusia tidak perlu berusaha keras untuk memelihara Hukum Taurat.

KESIMPULAN

Perjanjian baru dan perjanjian lama pertam-tama mengacu kepada dua perjanjian yang Allah buat dengan manusia sebagai dua kondisinya bagi manusia untuk memiliki suatu persekutuan dengan Dia. Perjanjian lama yang ditentukan di dalam tangan Musa, dipersembahkan dengan darah lembu dan kambing jantan, dan berdasarkan Hukum Taurat, yang tidak dapat memberikan hayat, sebagai kondisinya, memerlukan manusia hanya melakukan, bukan percaya. Itu bukanlah maksud Allah yang semula melainkan yang disandingkan kemudian dan akhirnya disingkirkan. Maka, perjanjian itu hanya dipakai pada zaman Perjanjian Lama. Perjanjian Baru, perjanjian yang lebih baik dan kekal, yang dirampungkan oleh Yesus Kristus, didirikan dengan darah Yesus, Putra Allah, dan berdasarkan kasih karunia, yang memberikan hayat, sebagai kondisinya, memerlukan manusia hanya percaya, bukan melakukan. Ini adalah maksud Allah yang semula dan dipakai pada zaman Perjanjian Baru dan sampai kekal.

II. APOCRYPHA

A. Tidak Berada di dalam Alkitab Pada Mulanya

Ada empat belas kitab Apocrypha yang tidak termasuk di dalam Alkitab. Beberapa orang telah menganggap bahwa keempat belas kitab ini termasuk di dalam Perjanjian Lama sebelum terjemahan Perjanjian Lama Septuagint ke dalam bahasa Yunani pada tahun 277 S.M. Tetapi kita dapat mencari dari informasi bukti-bukti sejarah bahwa dalil yang demikian adalah salah.

1. Bukti dari Josephus

Josephus ahli sejarah orang Yahudi yang mempunyai wewenang/otoritas (lahir pada tahun 37 M) berkata: “Kita [orang-orang Yahudi] bukanlah seperti orang-orang Yunani, mempunyai banyak buku yang tidak menyetujui dan yang berlawanan. Kita mempunyai dua puluh dua kitab, termasuk tulisan-tulisan masa lalu, mengenal dengan benar menjadi ilahi. Setelah melewati waktu yang demikian lama, tidak ada seorangpun yang berani untuk menambahkan, menghapuskan, atau merubahnya.” Ini membuktikan bahwa bahkan pada zaman Josephus (abad yang pertama), Perjanjian Lama asalnya hanya mempunyai dua puluh dua kitab tanpa tambahan keempat belas kitab Apocrypha. Oleh karena itu, menganggap bahwa Perjanjian Lama berisi Apocrypha sebelum tahun 277 S.M adalah tidak benar. Perjanjian Lama hari ini mempunyai tiga puluh sembilan kitab. Asalnya, hanya ada dua puluh dua kitab. Hakim-hakim dan Rut adalah satu kitab. Samuel, Raja-Raja, dan Tawarikh tidak mempunyai satu dan dua kitab. Ezra dan Nehemia adalah satu kitab. Hosea sampai Maleakhi, semuanya dua belas kitab, adalah satu kitab. Kedua puluh dua kitab ini dibagi ke dalam tiga puluh sembilan kitab ketika Perjanjian Lama diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani Versi Septuagint.

2. Bukti dari Cyril

Ada seorang pelajar di Yerusalem yang bernama Cyril, dilahirkan pada tahun 315 M, yang berkata, “Bacalah Kitab Suci, kedua puluh dua kitab dari Perjanjian Lama, yang diterjemahkan oleh Seventy-Two.” Ini memperlihatkan bahwa sampai tahun 315 M, pelajar-pelajar Yahudi masih mengenal Perjanjian Lama mereka yang hanya mempunyai dua puluh dua kitab. Perkataan-perkataannya juga dengan jelas membuktikan bahwa di dalam terjemahan Septuagint ( Cyril mengacukannya dengan Seventy-Two, angka pelajar-pelajar yang menterjemahkan Septuagint. Ahli-ahli sejarah tidak jelas apakah ada tujuh puluh atau tujuh puluh dua orang di sana.), tidak ada empat belas kitab apocryphal di dalam Perjanjian Lama.

3. Bukti dari Tuhan Yesus dan Rasul-rasul

Tuhan Yesus dan rasul-rasul mengutip Perjanjian Lama dengan teratur. Jika keempat belas kitab Apocrypha ada di antara kitab-kitab Perjanjian Lama, Tuhan dan rasul-rasul harus mengutipnya. Tetapi, kita tidak dapat menemukan kutipan dari Apocrypha satu kali pun. Ini membuktikan bahwa pada zaman Tuhan Yesus dan rasul-rasul, kitab-kitab Apocrypha ini bukan berada di dalam Perjanjian Lama.

B. Telah Ditambahkan ke dalam Tulisan Vatikan

Di antara tiga tulisan Alkitab yang dipertimbangkan sebagai beberapa buku yang paling tua di dunia, yang satu disimpan di Vatikan, tempat di mana Paus Roma Katholik tinggal. Tulisan itu disebut Codex Vaticanus, atau Tulisan Vatikan. Menurut ahli-ahli sejarah, tulisan ini diselesaikan pada abad keempat Masehi, dan di dalam bagian Perjanjian Lama, yang adalah satu terjemahan Septuagint, tulisan itu termasuk empat belas kitab Apocrypha. Tulisan ini mungkin ditambahkan setelah tahun 315 M. Tulisan ini mungkin ada keberatan pada gerakan ini sehingga menyebabkan Gereja Ortodok Yunani Timur memanggil suatu dewan di Laodikia pada tahun 361 M untuk membatalkan keempat belas kitab Apocrypha ini secara resmi. Mereka juga melarang penggunaan keempat belas kitab Apocrypha itu di dalam gereja. Ini membuktikan bahwa sampai 361 M ada suatu pertanyaan besar apakah kitab-kitab apocryphal ini harus dimasukkan ke dalam bagian kitab Suci.

C. Diakui oleh Gereja Roma Katholik

Peristiwa itu tidak sampai tanggal 8 April, 1546 bahwa Gereja Roma Katholik memanggil suatu dewan di Trent secara langsung di bawah pimpinan Paus untuk menegaskan otoritas dari keempat belas kitab Apocrypha ini. Sejak waktu itu, kitab-kitab apocryphal ini tetap ada di dalam Alkitab Roma Katholik. Ini membuktikan bahwa sampai abad ke 16 M, Gereja Roma Katholik tidak secara resmi mengakui kitab-kitab apocryphal ini sebagai hukum. Meskipun perkara ini telah ditegaskan pada saat Dewan Trent oleh Gereja Roma Katholik, Lutheran dengan sungguh-sungguh mencela bahwa kitab-kitab apocryphal ini diispirasikan secara ilahi. Pada tahun 1646 lebih dari seratus lima puluh orang pelajar Alkitab Protestan membuat pernyataan “Westminster Confession,” juga mengumumkan bahwa Apocrypha tidak mempunyai otoritas ilahi dan sama dengan karangan manusia lainnya.

Sekarang kita harus jelas bahwa seluruh Alkitab terdiri dari tiga puluh sembilan kitab Perjanjian Lama dan dua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru. Empat belas kitab Apocrypha yang ditambahkan oleh Gereja Roma Katholik adalah sewenang-wenang dan tidak dapat dipercaya. Lebih jauh lagi, isi dari Apocrypha itu memasukkan banyak sejarah anekdot yang menggelikan. Tidak ada jalan untuk menemukan beberapa penulis atau waktu dan tempat di mana kitab-kitab itu ditulis. Karena alasan ini, maka kitab-kitab itu tidak mempunyai nilai hukum apapun.

III. BEBERAPA WAHYU PALSU

Tuhan Yesus Kristus berkata, “Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini” (Why. 22:18-19). Akhir kitab Wahyu adalah penyelesaian dari semua wahyu Allah kepada manusia. Hasil dari penambahan atau pengurangan perubahan apapun terhadap kelengkapan wahyu Allah—Alkitab—adalah salah. Karena kelengkapan Alkitab, maka ada beberapa wahyu palsu yang ditulis oleh orang-orang yang mencoba untuk menipu umat Allah.

A. Al-Quran Islam

Al-Quran adalah suatu tiruan Alkitab. Al-Quran berisi banyak nama Alkitabiah dari orang-orang dan tempat-tempat, namun Al-Quran adalah bercampur dengan konsep-konsep manusia, terutama Muhamad. Dia menyatakan dirinya sendiri untuk menjadi nabi yang bersatu dengan Allah. Dia menulis Al-Quran dan menyatakan bahwa Al-Quran adalah firman Allah. Standar moral dari Al-Quran adalah sangat rendah. Al-Quran membicarakan tentang nafsu akan “surga”nya. Kita mutlak tidak menerima Al-Quran sebagai bagian dari wahyu Allah.

B. Kitab Mormon

Kitab Mormon adalah wahyu palsu lainnya. Joseph Smith, pendiri gereja Mormon, menulis kitab Mormon. Dia menyatakan telah menemukan beberapa daun emas yang bertuliskan tulisan surgawi yang berisi wahyu Allah. Setelah menterjemahkan prasasti itu ke dalam Kitab Mormon, daun-daun emas itu dikembalikan ke surga. Tidak seorang pun yang pernah melihatnya. Kitab Mormon penuh dengan kesalahan-kesalahan dan kontradiksi-kontradiksi. Banyak bagian yang telah dihilangkan karena penemuan-penemuan ilmu pengetahuan membuktikan bahwa bagian-bagian tersebut salah. Misalnya, Kitab Mormon asalnya mengatakan bahwa bulan didiami. Bagian itu dihilangkan setelah manusia mendarat di bulan pada tahun 1969. Pernyataan Joseph Smith untuk mempunyai suatu wahyu sebagai tambahan atas apa yang ada di dalam Alkitab adalah tidak masuk akal dan bidah. Wahyu 22:18 dan 19 mengindikasikan bahwa seluruh wahyu Allah telah lengkap dan bahwa tidak ada seorangpun boleh menambahkan sesuatu atau mengurangi sesuatu. Oleh karena itu, kita tidak seharusnya mengira bahwa kita dapat menerima suatu wahyu yang baru sebagai tambahan atas apa yang telah dicatat di dalam keenam puluh enam kitab dari Alkitab.

C. “Alkitab” Saksi Yehovah

Meskipun Saksi Yehovah menggunakan suatu versi dari Alkitab, mereka telah mengubah beberapa bagian untuk mencocokan dengan ajaran-ajaran bidah mereka. Mereka tidak percaya bahwa Yesus Kristus adalah Allah itu sendiri. Mereka menganggap Dia menjadi seorang yang terpisah dari Allah dan seorang yang kekurangan Allah. Yohanes 1:1 memberitahukan kepada kita, “Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah.” Versi mereka berkata, “...dan Firman itu adalah suatu Allah.” Mereka menambahkan “suatu” untuk mengubah arti dari ayat itu sehingga ayat itu serupa dengan ajaran bidah mereka. Oleh karena itu, Kita tidak menganggap versi mereka sebagai Alkitab sejati.

IV. TERJEMAHAN-TERJEMAHAN ALKITAB

Kebanyakan Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani. Hanya Yeremia 10:11, Daniel 2:4—7:28, dan Ezra 4:8—6:18 ditulis dalam bahasa Aram. Kebanyakan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. Tetapi, ada beberapa bagian yang ditulis dalam bahasa Aram, seperti Markus 5:41 dan 15:34. Ada beberapa perkataan-perkataan dari bahasa Latin.

Isi tulisan Alkitab adalah penting bagi kita. Terjemahan Alkitab juga penting bagi kita. Tanpa terjemahan-terjemahan yang tepat, Alkitab tidak dapat disajikan dengan tepat kepada kita atau dipahami oleh kita dengan tepat. Allah mengilhami kurang lebih empat puluh orang untuk menulis Alkitab. Dia juga mengilhami banyak orang untuk menterjemahkan Alkitab seluruh zaman itu. Berikut ini adalah beberapa terjemahan-terjemahan yang populer.

A. Versi Septuagint

Tujuh puluh pelajar di Alexandria Mesir menterjemahkan seluruh Perjanjian Lama ke dalam bahasa Yunani sekitar 277 S.M. Ini adalah terjemahan yang paling tua dari Perjanjian Lama. Karena ada tujuh puluh penterjemah, maka terjemahan ini disebut Septuagint. Septuagingt juga disebut Alexandria Version karena diterjemahkan di Alexandria.

B. Versi Vulgate

Versi Vulgate diterjemahkan selama abad keempat di Afrika Utara. Versi ini adalah suatu versi bahasa Latin yang diterjemahkan dari Versi Perjanjian Lama Septuagingt dan tulisan Perjanjian Baru bahasa Yunani asli. Vulgate berarti populer atau umum. Ini adalah Alkitab pertama yang di bawa ke Inggris.

C. Versi The Authorized (King James)

Pada tahun 1611, lima puluh empat pelajar menterjemahkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru ke dalam versi bahasa Inggris yang terbaik pada saat itu. Karena versi ini dipimpin oleh King James I, maka versi itu disebut Versi Authorized. Ini adalah versi yang paling populer di antara pembaca-pembaca Inggris.

D. Versi Revised

Dari tahun 1870 sampai 1885, kira-kira seratus orang pelajar dari Inggris dan Amerika memperbaiki Versi Authorized dan menyebutnya Versi Revised.

E. Versi American Standard

Ketika pelajar-pelajar ini sedang memperbaiki Versi Authorized, beberapa perbaikan yang disarankan oleh pelajar-pelajar Amerika tidak diterima. Kemudian, di Amerika, pelajar-pelajar Amerika memperbaiki Versi Revised, memasukkan saran-saran mereka, dan menyebutnya Versi American Standard. Banyak dari versi ini yang sama dengan Versi Revised.

F. Banyak Versi Lainnya

Alkitab telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, dan banyak versi telah ditulis. Menurut Scripture Language Report pada tahun 1990 yang diterbitkan oleh United Bible Societies (UBS), Alkitab telah diterjemahkan ke dalam 1946 bahasa. Ada kira-kira lima puluh versi bahasa Inggris.

G. Versi Uraian Alkitab dengan Kata-kata Sendiri

Ada beberapa versi Alkitab yang terutama adalah uraian Alkitab dengan kata-kata sendiri. Versi Living New Testament adalah suatu versi uaraian Alkitab dengan kata-kata sendiri. Yohanes 1:1 dari versi Living New Testament berkata, “Sebelum segala sesuatu ada, ada Kristus, bersama-sama dengan Allah. Dia adalah yang selalu hidup dan adalah Allah itu sendiri.” Banyak versi berkata, “Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah.” Anda dapat melihat bahwa uraian Alkitab dengan kata-kata sendiri itu sebenarnya tidak seperti aslinya. Versi uraian Alkitab dengan kata-kata sendiri banyak memasukkan konsep-konsep dari penulis-penulis mengenai Alkitab. Pelajar-pelajar Alkitab yang serius akan menggunakan versi-versi terjemahan dengan tepat.

H. Versi Pemulihan (Recovery Version) Perjanjian Baru

Versi Pemulihan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, China, dan Spanyol. Versi Pemulihan bahasa China diterbitkan pada tahun 1988. Versi Pemulihan bahasa Inggris akan diterbitkan pada musim gugur pada tahun 1991. Versi Pemulihan bahasa Spanyol akan mengikutinya. Saudara Witness Lee dan sekerja-sekerjanya memadatkan penelaahan-penelaahan Alkitab yang paling baik selama dua ribu tahun dan menyatupadukannya ke dalam Versi pemulihan. Versi Pemulihan mempunyai banyak keuntungan melebihi versi-versi lain dan penelaahan-penelaahan Alkitab lainnya.

1. Keakuratan

Versi Pemulihan adalah terjemahan yang paling akurat. Ini adalah suatu perbaikan yang berdasarkan atas versi-versi yang dapat diterima dan kebenaran-kebenaran yang telah dipulihkan belakangan ini. Para penterjemah tidak mau menggabungkan pemahaman yang benar dengan pengajaran-pengaajaran tradisional atau dengan kecenderungan-kecenderungan budaya. Mereka berusaha untuk menyajikan terjemahan yang paling akurat sehingga orang dapat mengenal kebenaran menurut wahyu ilahi Allah.

2. Mudah Dibaca

Versi Pemulihan adalah salah satu terjemahan-terjemahan yang paling mudah dibaca. Corak dan penggunaan kata dari benyak versi lain adalah tua dan sulit untuk dipahami. Sebagai akibatnya, banyak orang tidak suka membaca Alkitab. Beberapa penterjemah telah berusaha untuk menyenangkan para pembaca dengan menerbitkan Alkitab-alkitab paraphrased, namun Alkitab-alkitab itu tidak cocok dengan kebenaran. Versi Pemulihan adalah yang akurat dan mudah dibaca.

3. Garis besar-garis besar

Versi Pemulihan menyediakan suatu garis besar bagi setiap kitab dari Perjanjian Baru tersebut. Banyak pembaca Alkitab, sekalipun mereka mempunyai kesetiaan penuh membaca Alkitab selama bertahun-tahun, mereka tidak mengenal pokok-pokok, garis besar-garis besar, atau latar belakang-latar belakang dari kedua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru itu. Garis besar-garis besar membantu para pembaca agar lebih baik memahami setiap kitab.

4. Catatan-catatan kaki

Versi Pemulihan juga menyajikan catatan-catatan kaki. Catatan-catatan kaki itu menjelaskan bagian-bagian yang sulit untuk dipahami. Ada empat corak catatan kaki: 1) arti harafiah dari suatu kata atau perkataan-perkataan di dalam bahasa Yunani; 2) suatu definisi yang singkat dari suatu kata atau suatu ayat; 3) suatu pembukaan atau kesimpulan bagi suatu kitab atau suatu bagian dari Firman itu; 4) suatu pelajaran yang menyeluruh dari suatu firman atau suatu topik. Catatan-catatan kaki ini membuka Firman itu bagi para pembaca untuk menerangi mereka, menyebabkan mereka mengenal kebenaran dan untuk mengalami hayat.

5. Referensi-referensi

Versi Pemulihan memberikan banyak referensi pada lajur-lajur untuk membantu para pembaca menemukan ayat-ayat yang menopang bagi mereka belajar. Tidak seperti sebuah konkordansi yang lengkap, referensi-referensi itu hanya menyajikan ayat-ayat yang berhubungan saja.

6. Berita-berita Pelajaran-hayat Perjanjian Baru

Berita-berita pelajaran-hayat adalah suatu set pelajaran yang membantu serta mengiringi Perjanjian Baru. Set pelajaran-pelajaran ini membukakan setiap ayat dari Perjanjian Baru itu. Jika para pembaca masih mendambakan untuk menyelidiki lebih jauh suatu ayat atau perkara subyek setelah mempelajarinya dalam Versi Pemulihan, mereka dapat menerima bantuan tambahan dari Pelajaran-pelajaran hayat itu. Mereka bukan hanya memberikan pengetahuan akan Firman, mereka juga akan mendapatkan rawatan dengan Firman itu untuk mengalami hayat dan bertumbuh di dalam hayat.

KESIMPULAN

Alkitab masih “paling laris.” Alkitab diterjemahkan ke dalam lebih banyak bahasa dari pada buku lain apapun yang ditulis oleh manusia. Lebih dari enam ratus juta Alkitab dikeluarkan pada tahun 1989.

Alkitab adalah benar-benar karunia Allah yang paling mustika bagi manusia. Allah tidak menulis suatu kitab di surga dan menurunkannya dengan perantaraan malaikat kepada manusia. Dia juga tidak hanya mengilhami seorang manusia Allah yang baik untuk menuliskan suatu kitab bagi-Nya. Pertama, ada ucapan Allah kepada banyak orang yang beribadah selama hampir 2500 tahun. Kemudian Musa mengambil pimpinan untuk menuliskan wahyu Allah. Setelah ditulis oleh lebih dari empat puluh orang selama periode 1600 tahun lebih, dan setelah diuji dengan dibaca dan dialami oleh umat Allah selama lebih dari seribu tahun, keenam puluh enam kitab itu akhirnya dinyatakan untuk menjadi Firman Allah. Tetapi belum lama setelah itu, Alkitab dikunci oleh Gereja Roma Katholik. Banyak orang Kristen yang setia dihukum mati karena mempunyai Alkitab sebagai milik mereka. Setelah seribu tahun, Martin Luther dan sekerja-sekerjanya membebaskan Alkitab dari tahanan gelap Gereja Roma Katholik dan membuat Alkitab itu tersedia bagi orang-orang biasa. Tetapi, banyak orang telah menerima sangat sedikit wahyu di dalam pembacaan Alkitabnya. Akhirnya setelah lima ratus tahun mempelajari dan menyelidiki secara menyeluruh, Banyak dari alkitab yang telah terbuka bagi kita di dalam pemulihan Tuhan. Kita tidak menerima semua wahyu langsung dari Allah, tetapi mengumpulkan banyak wahyu itu dari suatu kumpulan wahyu-wahyu yang dicatat lebih dari enam ratus tahun yang lalu. Apa yang kita miliki di dalam pemulihan hari ini adalah wahyu Allah yang terbaik dan kekayaan-kekayaan kaum beriman dan gereja-gereja dari seluruh sejarah gereja. Kita harus memustikakan Alkitab dan semua buku pemulihan yang menyingkapkan Alkitab kepada kita! Betapa banyaknya kita perlu mempelajari Firman dengan bantuan ministri itu! “ Oh, Tuhan Yesus, saya mau memberikan diri saya sendiri untuk menelan Firman-Mu sampai saya penuh dengan-Mu dan datang kepada pengetahuan kebenaran yang penuh.