TULISAN ALKITAB (2)
Pembacaan Alkitab
Ef. 3:9-11; Kej. 1:1, 26; Yeh. 28:15-18; Yes. 14:13-14;
Kej. 3:1-5, 15; Yoh. 1:29; 10:10; 2:19; Mat. 16:18;
Ef. 5:32; 2 Kor. 11:2; Luk. 24:14; Yoh. 1:1; 5:39; Why. 19:13.
Garis Besar
I. Subyek Alkitab
A. Subyek Perjanjian Lama
B. Subyek Perjanjian Baru
II. Sentral pemikiran Alkitab
A. Sentral pemikiran Perjanjian Lama—memimpin orang kepada Kristus bagi penebusan
B. Sentral pemikiran Perjanjian Baru—di dalam Kristus gereja telah ditebus dan dibangunkan
III. Sub bagian menurut struktur Alkitab
A. Perjanjian Lama:
1. Pentateuch
2. Sejarah
3. Mazmur-mazmur
4. Kitab nabi-nabi
a. Kitab nabi-nabi sebelum penawanan
b. Kitab nabi-nabi selama penawanan
c. Kitab nabi-nabi setelah penawanan
B. Perjanjian Baru
VI. Sub bagian menurut pengalaman rohani
A. Perjanjian Lama
B. Perjanjian Baru
V. Sub bagian-bagian dari Perjanjian Lama menurut orang-orang Yahudi atau guru-guru
A. Hukum Musa
B. Nabi-nabi: dibagi ke dalam nabi-nabi yang terdahulu dan nabi-nabi yang kemudian
C. Kitab-kitab lain
VI. Sub bagian Perjanjian Lama oleh Tuhan Yesus
Jika kita ingin mengenal suatu buku, kita harus menggapai subyek dan pemikiran sentralnya. Lagi pula, kita memerlukan suatu analisa strukturnya yang tepat dan suatu pemahaman bagiannya yang jelas. Alkitab mempunyai subyeknya sendiri. Meskipun ada enam puluh enam kitab di dalam Alkitab, Alkitab itu mempunyai subyek dan pemikiran sentralnya; juga ada bagian-bagian yang berbeda di dalam strukturnya. Jika kita ingin mengenal Alkitab, kita harus dengan jelas memahami ketiga hal ini.
I. SUBYEK ALKITAB
Subyek Alkitab hanya terkandung di dalam empat kalimat: Allah merencanakan dan menciptakan, Satan memberontak dan merusak, manusia jatuh dan hilang, dan Kristus menebus dan membangun. Di dalam subyek ini, ada empat persona: pertama adalah Allah, kedua adalah Satan, ketiga adalah manusia, dan keempat adalah Kristus. Alkitab hampir semata-mata membicarakan tentang keempat persona ini. Untuk masing-masing keempat persona ini, kita mempunyai dua kata kerja. Allah merencanakan dan menciptakan. Dia merencanakan di dalam kekekalan yang lampau dan menciptakan di dalam waktu. Satan memberontak dan merusak. Allah mempunyai rencana-Nya dan menciptakan menurut rencana-Nya itu, tetapi Satan memberontak melawan Allah dan merusak ciptaan Allah. Semua yang Satan lakukan adalah memberontak dan merusak. Kedua kata kerja ini mencakup semua pekerjaan Satan di alam semesta. Manusia jatuh dan telah hilang. Manusia telah jatuh, dan sebagai akibatnya, telah hilang dari tangan Allah dan dari akan dipakai oleh Allah. Kisah manusia di dalam seluruh Alkitab dapat disimpulkan oleh kedua kata kerja ini: manusia jatuh dan telah hilang. Kristus menebus dan membangun. Pada waktu yang lalu, ketika orang-orang Kristen membicarakan tentang Kristus, mereka hanya membicarakan tentang penebusan; perkara membangun telah selalu diabaikan dan hilang. Tetapi kita jangan lupa bahwa Tuhan kita tidak hanya mengatakan bahwa Putra Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, tetapi Dia juga mengatakan bahwa Petrus adalah sebuah batu, dan bahwa Dia akan membangun gereja-Nya di atas batu karang ini. Pada satu pihak, Injil Yohanes mengatakan bahwa Kristus “datang supaya mereka mempunyai hayat.” Di pihak lain, Injil Yohanes mengatakan bahwa meskipun orang dapat “menghancurkan bait ini,” Kristus akan “membangunkannya” di dalam tiga hari. Baik perampungan penebusan Tuhan, maupun kedatangan Tuhan Yesus untuk menjadi hayat bagi manusia, hasilnya adalah untuk pembangunan gereja. Untuk alasan ini, kita jangan hanya melihat penebusan saja; kita harus melihat pembangunan itu juga.
Pada permulaan Alkitab, kita melihat emas, damar bedolah, dan batu-batu permata, adalah bahan-bahan untuk pembangunan. Pada akhir dari Alkitab, kita melihat suatu bangunan yang utuh, yang dibangun dengan emas, mutiara, dan batu-batu permata. Ini menunjukkan bahwa Allah akhirnya akan mempunyai suatu bangunan, yang dibangun sebagai suatu hasil dari perampungan penebusan oleh Putra-Nya sebagai Domba itu. Maka, ketika kita membicarakan tentang Kristus, kita tidak seharusnya hanya melihat Dia sebagai Yang menebus saja, tetapi kita juga harus melihat Dia sebagai Yang membangun. Dia datang untuk menebus dan Dia datang juga untuk membangun. Alasan Allah menciptakan segala sesuatu termasuk manusia adalah untuk mendapatkan suatu bangunan di alam semesta.
Kita harus mengingat keempat orang ini dengan baik, bersama dengan dua kata kerja yang berhubungan dengan setiap persona-persona itu. Jika kita melakukan perkara ini, kita akan memahami subyek dari Alkitab itu. Allah menciptakan segala sesuatu termasuk manusia menurut rencana-Nya. Satan sombong dan memberontak kepada Allah; dia dengan jahat merusak ciptaan Allah dan dan menyebabkan manusia jatuh dan hilang. Kristus datang untuk menebus manusia dan untuk membangun manusia itu sebagai gereja-Nya yang mulia dan Tubuh misteri-Nya sehingga Allah dapat mendapatkan suatu bejana yang korporat bagi ekspresi-Nya. Inilah subyek dari seluruh Alkitab. Sekarang, marilah kita melihat subyek-subyek Perjanjilan Lama dan Perjanjian Baru secara terpisah.
A. Subyek Perjanjian Lama
Subyek dari Perjanjian Lama adalah bahwa Allah menciptakan, Satan merusak, manusia jatuh, dan Allah menjanjikan kedatangan Kristus untuk penebusan. Meskipun ada tiga puluh sembilan kitab di dalam Perjanjian Lama, kitab-kitab itu terutama memperlihatkan kepada kita bahwa Allah menciptakan alam semesta, Satan masuk ke dalamnya untuk merusak ciptaan Allah, manusia jatuh, dan Allah menjanjikan kedatangan Kristus untuk perampungan penebusan. Maka hanya Kristus di dalam Perjanjian Lama adalah suatu pengharapan bagi manusia, karena hanya Dialah yang dijanjikan oleh Allah kepada manusia yang telah jatuh sebagai seorang Penebus.
B. Subyek Perjanjian Baru
Subyek dari Perjanjian Baru adalah bahwa Kristus datang untuk menebus orang-orang berdosa dan untuk membangun gereja menurut rencana Allah. Di dalam Perjanjian Lama, kita melihat bagaimana Allah menciptakan, Satan merusak, manusia jatuh, dan Allah menjanjikan kedatangan Kristus untuk menebus manusia menurut rencana dan janji Allah. Di dalam Perjanjian Baru, kita melihat bagaimana Kristus menebus orang-orang dosa yang hilang menurut rencana dan janji Allah dan bagaimana Dia membangun gereja-Nya yang mulia sebagai Tubuh misteri-Nya bagi Allah untuk mendapatkan suatu bejana yang korporat untuk mengekspresikan diri-Nya sendiri. Ketika kita meletakan subyek-subyek Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bersama-sama, kita mempunyai subyek dari seluruh Alkitab sebagaimana yang kita sajikan sebelumnya.
II. PEMIKIRAN SENTRAL ALKITAB
Di dalam Kekristenan ada banyak buku tentang penjelasan Alkitab. Kebanyakan dari buku-buku itu mengatakan bahwa pemikiran sentral Alkitab adalah Kristus. Tetapi hari ini, menurut terang yang telah kita terima menurut belas kasihan-Nya, kita merasakan bahwa tidak cukup hanya mengatakan bahwa Kristus adalah pemikiran sentral Alkitab. Kita harus mengingat perkataan-perkataan yang rasul Paulus katakan: “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan gereja” (Ef. 5:32). Maka, kita harus mengatakan bahwa pemikiran sentral Alkitab adalah Kristus dan gereja. Alkitab bukan hanya mewahyukan diri Kristus saja; Alkitab juga mewahyukan mempelai perempuan dan Tubuh Kristus, yang adalah gereja.
Tidak diragukan lagi bahwa seluruh Alkitab memperlihatkan tentang Kristus. Tetapi pada waktu yang sama, Alkitab juga memperlihatkan kepada kita bahwa Kristus memerlukan satu gereja, seperti halnya seorang laki-laki memerlukan seorang istri. Dari awal mulanya, Alkitab mewahyukan perkara ini dalam suatu lambang—tidak baik bagi Adam untuk hidup seorang diri saja. Kita mengetahui dari Perjanjian Baru bahwa ini melambangkan fakta bahwa Kristus memerlukan seorang mempelai perempuan. Oleh karena itu pada permulaan Alkitab, tidak hanya mewahyukan kepada kita seorang Adam, tetapi mewahyukan kepada kita bagaimana Hawa dihasilkan dari Adam untuk menjadi mempelainya dan bagaimana mereka keduanya menjadi satu. Ada Adam, dan ada Hawa. Rasul mengatakan bahwa ini adalah suatu misteri yang besar, tetapi yang dia maksudkan ialah hubungan Kristus dan gereja. Di dalam Alkitab, seseorang tidak dapat hanya melihat Kristus tanpa melihat gereja. banyak orang mengatakan tentang Ishak, tetapi melupakan tentang Ribka. Tetapi di sana ada Ishak dan ada Ribka. Di dalam Alkitab ada kisah tentang Allah berkontak dengan manusia melalui Kristus, tetapi ada juga manusia yang menempati suatu kedudukan yang sangat penting. Karakter-karakter sentral di dalam Alkitab bukan hanya Allah di dalam Kristus, tetapi juga mempelai Allah di dalam Kristus. Pasangan universal Allah dan manusia. Di dalam alam semesta hanya Allahlah laki-laki, dan manusia adalah pasangan Allah. Jika manusia tanpa Allah, maka dia adalah seperti seorang janda. Jika Allah tanpa manusia, maka Dia adalah seperti seorang bujangan. Di dalam alam semesta harus ada kesesuaian antara Allah dengan manusia.
Untuk alasan ini, pemandangan pertama yang disajikan kepada kita dalam Perjanjian Lama adalah kisah tentang seorang manusia yang mencari seorang istri. Manusia ini melambangkan Kristus, dan Kristus adalah perwujudan Allah. Istri ini melambangkan gereja, dan gereja adalah sekelompok orang yang telah diselamatkan oleh Allah dari antara manusia untuk dibangun oleh-Nya. Di dalam seluruh Perjanjian Lama, sepanjang waktu Allah berdiri pada kedudukan sebagai seorang suami bagi umat-Nya. Allah mengangkat bangsa Israel sebagai istri-Nya. Kemudian, Tuhan Yesus datang. Yohanes, pelopor Tuhan Yesus, bukan hanya memploklamirkan Dia sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, tetapi juga mempersaksikan bahwa yang empunya mempelai perempuan adalah Mempelai Laki-Laki. Yohanes bukan hanya memperkenalkan Tuhan Yesus sebagai Anak Domba yang menebus, tetapi dia juga memperkenalkan Dia sebagai Mempelai Laki-Laki yang empunya mempelai perempuan. Kemudian di dalam Surat-surat Rasuli, rasul Paulus berkata, “Aku telah mempertunangkan kamu (orang-orang yang telah diselamatkan) kepada seorang Suami, untuk mempersembahkan seorang perawan yang murni kepada Kristus.” Dia juga mengatakan bahwa gereja adalah bagi Kristus sebagaimana Hawa bagi Adam. Di dalam Wahyu, pada akhir dari seluruh Alkitab, ada suatu pernyataan bahwa pernikahan Anak Domba telah tiba. Ketika Yerusalem Baru muncul, Yerusalem Baru itu telah dipersiapkan sebagai seorang mempelai perempuan yang berdandan bagi suaminya. Itu adalah perpaduan antara Allah dan manusia. Semua umat yang telah ditebus dan sang Penebus menjadi satu sebagai misteri di alam semesta, yang adalah Kristus dan gereja.
Oleh karena itu, karakter sentral dari seluruh Alkitab adalah pasangan misteri ini. Allah dan manusia menjadi satu sebagaimana seorang manusia dan seorang perempuan menjadi satu daging. Manusia dan perempuan menjadi satu daging adalah suatu lambang dari Allah dan manusia menjadi satu. Kristus adalah Allah menjadi satu dengan manusia, dan gereja adalah manusia menjadi satu dengan Allah. Allah datang di dalam Kristus Putra-Nya supaya Dia menjadi satu dengan manusia. Manusia dibangun di dalam Putra-Nya sebagai gereja-Nya, supaya dia menjadi satu dengan Allah. Kesatuan ini, perpaduan misteri ini, adalah Kristus dan gereja, dan juga adalah perpaduan Allah dan manusia. Inilah pemikiran sentral Alkitab.
Kita dapat membicarakan tentang pemikiran sentral Alkitab dengan cara lain. Kristus adalah firman Allah yang hidup, dan Alkitab adalah firman Allah yang tertulis. Kristus adalah firman hidup, dan Alkitab adalah firman tertulis. Kristus adalah isi Alkitab, dan Alkitab adalah penjelasan Kristus. Jika kita mengeluarkan Kristus dari Alkitab, Alkitab itu akan menjadi suatu kitab yang kosong, seperti bejana yang kosong tanpa isinya. Demikian pula, tidak ada seorang pun yang dapat mengenal Kristus dengan baik tanpa mengenal Alkitab, karena Alkitab adalah penjelasan Kristus. Hanya ketika seseorang membaca penjelasan di dalam Alkitab dapat memahami dan mengenal siapakah Kristus itu. Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa segala sesuatu Kristus telah dimasukkan ke dalam gereja dan terekspresi melalui gereja. Maka, pemikiran sentral Alkitab adalah Kristus dan gereja. Tidak cukup hanya mengenal Kristus; kita juga harus mengenal gereja dengan baik. Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa karakter sentral universal mempunyai satu kepala dan satu tubuh. Sang Kepala adalah Kristus dan Tubuh adalah gereja. Maka, Kristus dan gereja adalah pemikiran sentral Alkitab.
A. Pemikiran Sentral Perjanjian Lama—Memimpin Manusia
kepada Kristus bagi Penebusan
Perjanjian Lama memimpin manusia kepada Kristus bahwa manusia akan ditebus oleh Dia.
B. Pemikiran Sentral Perjanjian Baru---Di dalam Kristus
Gereja Telah Ditebus dan Dibangunkan
Perjanjian Baru memperlihatkan kepada kita bagaimana gereja ditebus dan dibangunkan di dalam Kristus.
III. SUB BAGIAN MENURUT STRUKTURNYA
Ada banyak cara untuk membagi Alkitab ke dalam bagian-bagian. Kita telah memilih empat cara dari cara-cara yang lebih penting bagi pertimbangan kita.
A. Perjanjian Lama:
1. Pentateuch
Ini adalah lima kitab pertama dari Alkitab: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Kelima kitab ini ditulis oleh Musa dan oleh karena itu dikenal secara umum sebagai Pentateuch Musa.
2. Sejarah
Setelah Pentateuch adalah kitab-kitab sejarah. Ada dua belas kitab dari Yosua sampai Ester: Yosua, Hakim-Hakim, Rut, 1 Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-raja, 2 Raja-raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, dan Ester.
3. Mazmur-mazmur
Ada enam kitab, semuanya dalam bentuk puisi-puisi. Lima kitab—Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung—adalah berhubungan. Ratapan juga ditambahkan karena Ratapan adalah dalam bentuk puisi lebih dari prosa. Di dalam versi-versi terjemahan, seseorang tidak dapat mengenal keenam kitab itu sebagai puisi-puisi, tetapi dalam asal mulanya, ini dengan jelas dalam bentuk-bentuk puisi, dengan bait-bait dan frasa-frasa. Kitab-kitab itu bukan dalam bentuk prosa.
4. Kitab-kitab Nabi-Nabi
Ini adalah bagian terakhir dari Perjanjian Lama. Bagian ini dapat dibagi ke dalam tiga kategori secara kronologis.
a. Kitab Nabi-nabi sebelum Penawanan
Ada sebelas kitab. Jika disusun di dalam susunan kronologis menurut waktu kitab-kitab itu ditulis, yang paling mula-mula disusun mungkin adalah Obaja, yang kedua Yoel, ketiga adalah Yunus, keempat adalah Amos, kelima adalah Hosea, keenam adalah Yesaya, ketujuh adalah Mikha, kedelapan adalah Nahum, kesembilan adalah Zefanya, kesepuluh adalah Yeremia, dan kesebelas adalah Habakuk. Yeremia sedikit lebih awal dari pada Habakuk, tetapi Yeremia diperpanjang sampai waktu penawanan. Yeremia mulai sebagai seorang nabi sebelum penawanan dan berakhir sebagai seorang nabi yang berada di dalam penawanan. Inilah sebabnya mengapa beberapa pengarang Alkitab menganggap dia sebagai seorang nabi sebelum penawanan sedangkan yang lainnya menganggap dia sebagai seorang nabi selama penawanan. Kita lebih berkesan menganggap dia sebagai seorang nabi sebelum penawanan karena dia meluangkan banyak waktunya sebagai seorang nabi sebelum penawanan.
b. Kitab Nabi-nabi selama Penawanan
Ada dua kitab, yaitu Daniel dan Yehezkiel. Daniel dan Yehezkiel keduanya adalah nabi selama penawanan.
c. Kitab Nabi-nabi setelah Penawanan
Ada tiga kitab. Yang pertama adalah Hagai, kemudian Zakharia, dan yang terakhir adalah Maleakhi.
Dengan membagi nabi-nabi menurut masa penawanan, ada tiga kategori kitab nabi-nabi ini. Nabi yang paling pertama, Obaja, hidup kira-kira pada tahun 800 S.M, sampai 900 S.M. Nabi yang paling akhir, Maleakhi, hidup kira-kira pada tahun 390 S.M, sampai 400 S.M. Yesaya hidup kira-kira pada tahun 760 S.M. Jika kita juga menganggap Ratapan sebagai suatu kitab nabi-nabi, ada tujuh belas kitab nabi-nabi dari Yesaya sampai Maleakhi. Jika kita mengeluarkan kitab Ratapan, kita mempunyai enam belas kitab.
Beberapa orang telah mengelompokkan kitab nabi-nabi yang lebih panjang itu sebagai nabi-nabi besar, dan kitab nabi-nabi yang lebih pendek sebagai nabi-nabi kecil. Dalam hal itu, ada empat kitab di antara nabi-nabi besar, yaitu Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan Daniel. Dua belas kitab sisanya semuanya adalah nabi-nabi kecil.
B. Perjanjian Baru
1. Keempat Injil: Ada empat kitab Injil. Kitab-kitab itu adalah keempat kitab pertama dari Perjanjian Baru.
2. Kisah Para Rasul: Hanya ada satu kitab Rasul-rasul.
3. Surat-surat Rasuli: Ada dua puluh satu kitab, dari Roma sampai Yudas.
4. Kitab Nubuat: Hanya ada satu kitab yaitu Wahyu.
Keempat Injil, Kisah Para Rasul, dua puluh satu Surat Rasuli, ditambah kitab nubuat yang paling akhir, berjumlah dua puluh tujuh kitab. Jalan yang mudah untuk mengingat jumlah kitab-kitab dari Alkitab adalah mengingat bahwa 3 kali 9 sama dengan 27, yaitu, 39 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru.
VI. SUB BAGIAN MENURUT PENGALAMAN ROHANI
Ini adalah cara yang paling baik untuk membagi Alkitab dan cara yang kita anjurkan. Ada tiga kategori di dalam Perjanjian Lama dan tiga kategori di dalam Perjanjian Baru. Sifat dari ketiga kategori baik di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah sama.
A. Perjanjian Lama
1. Sejarah: Dari Kejadian sampai Ester ada tujuh belas kitab sejarah. Mulai dari penciptaan akan alam semesta dan terus sampai bangsa Israel kembali dari penawanan untuk membangun kembali bait dan kota kudus. Ini adalah sejarah dan perjalanan umat Allah di hadapan-Nya; ini adalah segala sesuatu yang telah mereka lalui di hadapan Allah.
2. Pengalaman: Ada lima kitab puisi: Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung. Mungkin ada beberapa sejarah yang tercatat di dalam kitab-kitab ini, tetapi sejarah-sejarah itu bukanlah bentuk sejarah. Ada juga beberapa nubuat di dalamnya, tetapi penekanan utamanya bukanlah nubuat. Kelima kitab ini menekankan pengalaman rohani dari kaum beriman Allah di hadapan-Nya. Jika hanya ada sejarah dalam kategori sebelumnya tanpa adanya pengalaman yang mengikutinya, kita hanya dapat melihat fakta-fakta sejarah tanpa pemahaman keadaan yang batini dalam keadaan-keadaan itu. Kelima kitab puisi di dalam Alkitab ini justru menggambarkan keadaan batini dari umat pilihan di hadapan Allah dalam keadaaan-keadaan dan pengalaman-pengalaman yang bermacam-macam. Ketika kita membaca kelima kitab puisi ini, kita dapat menemukan pengalaman-pengalaman rohani dari orang-orang ini di hadapan Allah.
3. Nubuat: Dari Yesaya sampai Maleakhi ada tujuh belas kitab. Ada tujuh belas kitab sejarah pada permulaan, dan ada tujuh belas kitab nubuat pada akhirnya, dengan lima kitab pengalaman yang berada di tengah-tengah, semuanya berjumlah tiga puluh sembilan kitab.
B. Perjanjian Baru
1. Sejarah: Kempat Injil ditambah Kisah Para Rasul adalah lima kitab sejarah. Keempat Injil mencakup pengalaman Tuhan Yesus di atas bumi bersama-sama dengan pengalaman-pengalaman murid-murid-Nya dalam mengikuti Dia. Kisah Para Rasul memperlihatkan kepada kita bagaimana murid-murid bersaksi bagi Tuhan ke mana mereka pergi. Kelima kitab ini semuanya adalah fakta sejarah.
2. Pengalaman: Ini adalah dua puluh satu Surat Rasuli dari Roma sampai Yudas. Kedua puluh satu kitab ini membicarakan tentang pengalaman-pengalaman orang Kristen. Injil-injil dan Kisah Para Rasul memperlihatkan kepada kita apakah yang Kristus dan orang-orang Kristen hadapi. Kitab-kitab itu memperlihatkan kepada kita aktivitas-aktivitas, gerakan-gerakan dan pekerjaan-pekerjaan mereka. Dua puluh satu surat-surat Rasuli itu menjelaskan kepada kita pengalaman rohani yang batini dari orang-orang Kristen.
3. Nubuat: Hanya ada satu kitab, kitab Wahyu.
Apakah itu Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, keduanya dimulai dengan sejarah, kemudian diteruskan dengan memberitahukan pengalaman-pengalaman, dan berakhir dengan nubuat-nubuat. Bagi orang-orang Kristen, susunannya adalah sama. Pertama, kita mempunyai sejarah kita di hadapan Allah. Kemudian, kita mengembangkan beberapa pengalaman-pengalaman rohani pada bagian sejarah itu, dan kemudian ada pengharapan dan antisipasi bagi masa yang akan datang. Perjanjian Lama menceritakan banyak sejarah dan pengalaman rohani; kemudian pada bagian akhirnya, membicarakan tentang kaum beriman yang telah diisi dengan pengharapan dan antisipasi akan kedatangan Kristus. Perjanjian Baru ditulis dengan cara yang sama. Ada banyak fakta dan pengalaman, dan kemudian pada akhirnya, ada suatu pengharapan dan suatu harapan, yaitu akan kembalinya Tuhan Yesus. Tidak ada orang Kristen yang dapat menghindar dari ketiga langkah ini. Ada sejarah, pengalaman-pengalaman dan pengharapan.
V. SUB BAGIAN PERJANJIAN LAMA MENURUT ORANG-ORANG YAHUDI
DAN GURU-GURU
Perjanjian Lama asalnya berada pada tangan orang-orang Yahudi. Beberapa guru di antara mereka adalah penulis-penulis Alkitab yang mempunyai wewenang/otoritas. Orang Yahudi menyebut mereka rabi/guru. Kata rabi berarti guru. Pada zaman dulu, sub bagian Perjanjian Lama di antara rabi-rabi itu adalah seperti apa yang Tuhan Yesus katakan di dalam Lukas 24:44. Dengan kata lain, perkataan Tuhan di dalam Lukas 24:44 adalah berdasarkan atas sub bagian dari Perjanjian Lama ke dalam tiga kategori oleh rabi-rabi itu.
A. Hukum Musa
Hukum-hukum ini mengacu kepada Pentateuch. Kadang-kadang orang Yahudi menyingkat Pentateuch sebagai Musa. Ketika orang-orang Yahudi menyebut Musa, kadang-kadang mereka tidak mengacukannya kepada Musa, tetapi kepada lima kitab Taurat yang ditulis olehnya. Kelima kitab ini adakalanya secara sederhana disebut Hukum. Ketika orang-orang Yahudi mengacukannya kepada hukum, itu berarti maksudnya adalah Pentateuch. Oleh karena itu di antara orang-orang Kristen dan orang-orang Yahudi, ada lima cara yang berbeda untuk mengacukan kelima kitab pertama dari Perjanjian Lama itu. Kitab-kitab itu diacukan sebagai Pentateuch Musa, sebagai Pentateuch, sebagai Hukum Musa, sebagai Hukum, dan sebagai Musa.
B. Nabi-nabi: Dibagi ke dalam Nabi-nabi yang Terdahulu
dan Nabi-nabi yang Kemudian
1. Nabi-nabi yang terdahulu: Ada empat kitab. Yang pertama adalah Yosua. Orang-orang Yahudi mengakui kitab Yosua sebagai salah satu kitab nabi-nabi, menggantikan sebagai sejarah sebagaimana kita melihatnya. Kitab yang kedua adalah Hakim-hakim, yang juga dinyatakan sebagai kitab nabi-nabi. Kitab yang ketiga adalah Samuel. Satu dan 2 Samuel adalah satu kitab di dalam Alkitab bahasa Ibrani asli. Tidak ada perbedaan dari 1 dan 2 Samuel dan kitab itu disebut kitab Samuel. Kitab yang keempat adalah Raja-raja. Satu dan 2 Raja-raja juga merupakan satu kitab di dalam Perjanjian Lama bahasa Ibrani, tidak mempunyai perbedaan di antara 1 dan 2 Raja-raja itu.
Samuel, Raja-raja dan Tawarikh telah dibagi ke dalam satu dan dua kitab oleh Septuagint ketika Perjanjian Lama diterjemahkan, karena kitab-kitab ini terlalu panjang dan tidak mudah untuk menggulung kitab-kitab itu ke dalam satu kulit biri-biri. Di dalam kitab Perjanjian Lama bahasa Ibrani asli, kitab-kitab ini ada bersama-sama sebagai kitab-kita yang tidak mempunyai perbedaan dari satu dan dua kitab-kitab itu.
Rabi-rabi menyebut keempat kitab ini Yosua, Hakim-hakim, Samuel dan Raja-Raja, Nabi-nabi yang Terdahulu.
2. Nabi-Nabi yang kemudian: Juga ada empat kitab, yaitu Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, dan nabi-nabi kecil. Nabi-nabi kecil yang disebutkan di sini termasuk dua belas kitab yang rabi-rabi Yahudi satukan.
Secara sejarah, susunan nabi-nabi kecil itu tidaklah selalu sama. Kadang-kadang mereka menempatkan yang ini pada bagian depan, dan kadang-kadang mereka menempatkan yang lainnya pada bagian depan. Susunan yang biasa adalah sebagai berikut: Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi. Ini adalah susunan yang biasa dari kedua belas kitab ini. Kadang-kadang susunan ini diubah sedikit. Rabi-rabi Yahudi menyatakan kitab-kitab itu setelah Pentateuh secara umum sebagai kitab nabi-nabi, dengan keempat kitab pada periode awal dan empat kitab pada periode selanjutnya semuanya berjumlah delapan kitab.
C. Kitab-kitab Lain
Ini termasuk Mazmur, Amsal, Ayub, Kidung Agung, Rut, Ratapan, Pengkhotbah, Ester, Daniel, Ezra, Nehemia, 1 dan 2 Tawarikh, berjumlah sebelas kitab. Orang-orang Yahudi menganggap Ezra dan Nehemia sebagai satu kitab dan 1 dan 2 Tawarikh sebagai satu kitab. Sebelas kitab ini ditambah delapan kitab nabi-nabi berjumlah sembilan belas kitab. Dengan lima kitab Hukum Musa, semuanya ada dua puluh empat kitab. Bapa-bapa gereja pada zaman dulu menggabungkan kitab-kitab ini ke dalam dua puluh dua kitab untuk mencocokkan dengan dua puluh dua huruf bahasa Ibrani. Inilah sebabnya mengapa selama satu, dua, dan tiga abad mereka menyebutnya dua puluh dua kitab Perjanjian Lama. Josephus, yang adalah ahli sejarah yang berwewenang di antara orang Yahudi, juga menyebut kitab-kitab ini dua puluh dua kitab Perjanjian Lama ketika dia dia membicarakan tentang perihal itu.
IV. SUB BAGIAN PERJANJIAN LAMA OLEH TUHAN YESUS
Tuhan Yesus kita juga mempunyai suatu cara tentang membagi Perjanjian Lama. Ini disebutkan di dalam Lukas 24:44. Cara ini sangat mirip dengan cara rabi-rabi Yahudi; tidak ada banyak perbedaan antara keduanya. Dia juga membaginya ke dalam tiga kategori: