← Daftar isi Sikap Kita terhadap Alkitab Cara untuk Menikmati Alkitab – dengan Membiarkan Firman Kristus Diam DI dalam Kita dengan Segala Kekayaannya · bab 22/24

PRINSIP-PRINSIP PENAFSIRAN

Pembacaan Alkitab

Yes. 55:11; Mat. 4:7; Kis. 8:30-31; Rm. 10:14-15;

1 Kor. 10:32; Gal. 1:7; 1 Tim. 1:3-4, 6-7; 6:3-5, 20-21;

1 Tim. 4:1-3; 2 Tim. 3:16; 2 Ptr. 1:20-21; 3:15-17.

Garis Besar

I. Seharafiah mungkin

II. Tidak ada penafsiran yang hurufiah dan rohani di dalam kalimat, ayat, atau bagian yang sama

III. Satu bagian saja tidak cukup untuk mewakili seluruh kebenaran

IV. Setiap ayat mengandung semua kebenaran

V. Tidak mengorbankan bagian apapun dari Firman itu

VI. Semua ekspresi yang berdampingan adalah sebanding

VII. Tidak dibatasi oleh latar belakangnya juga tidak mengabaikan latar belakangnya

VIII. Memperhatikan perbedaan-perbedaan dalam jaman/dispensasi

IX. Memperhatikan perbedaan terhadap orang-orang yang ditujukan

X. Orang-orang, peristiwa-peristiwa, dan obyek-obyek di dalam Perjanjian Lama yang tidak jelas diacukan sebagai lambang-lambang tidak boleh diperlakukan sebagai lambang-lambang melainkan sebagai ilustrasi-ilustrasi

Di dalam pelajaran ini kita perlu melihat beberapa prinsip dalam menafsirkan Alkitab. Jika kita ingin mempelajari Alkitab, kita harus memahami Alkitab. Untuk memahami Alkitab, kita perlu menafsirkannya. Jika tidak ada penafsiran dan penjelasan, secara alamiah kita tidak memiliki jalan untuk memahami Alkitab. Kita mengenal sesuatu itu mempunyai prinsip-prinsipnya sendiri. Semakin berharga dan penting suatu perkara itu, semakin tegas/sempurna prinsip-prinsip dan hukum-hukumnya. Jika suatu perkara itu tidak memiliki makna atau kepentingan dan tidak dapat dilaksanakan dengan cara apapun juga, maka tidak akan ada hukum-hukum, prinsip-prinsip, dan peraturan-peraturan untuk membicarakannya. Tetapi jika suatu perkara itu tepat, dan menduduki satu tempat tertentu dan bermakna, dan jika perkara itu besar dan mulia, pasti ada prinsip-prinsip dan hukum-hukum yang mengendalikannya; seorangpun tidak dapat melaksanakannya secara membabi buta.

Alkitab adalah suatu hal yang luar biasa di alam semesta ini. Selain Tuhan kita dan Allah yang mulia, hal yang paling besar di alam semesta ini adalah Alkitab yang kita miliki di hadapan mata kita dan di dalam tangan kita. Karena Alkitab itu begitu penting, kita memerlukan penafsiran yang tepat sebelum kita dapat mempelajari dan memahaminya. Penafsiran ini harus dikendalikan oleh peraturan-peraturan, hukum-hukum, dan prinsip-prinsip tertentu. Kita tidak dapat menafsirkannya dengan cara ini dan itu atau dengan cara apapun yang kita sukai.

Sekarang kita telah melihat bagaimana Alkitab itu ditulis, bagaimana Alkitab itu diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa yang berbeda dan ada di tangan kita sebagai satu kitab yang berharga, kita perlu mencari prinsip-prinsip dan hukum-hukum yang mengendalikannya untuk menafsirkan dan mempelajarinya. Ini bukan hanya membantu kita memahami Alkitab, ini juga akan membantu kita untuk menghindarkan banyak kesalahaan.

Semua peraturan adalah satu jenis perlindungan. Jika sebuah kereta tidak memiliki rel untuk berjalan, bukan hanya tidak dapat berjalan dengan lancar, itu juga berarti tidak ada perlindungan. Bila tidak ada rel kereta, kereta api itu akan bergerak dengan lancar dan akan mempunyai perlindungan yang tepat. Sama halnya dengan cara mempelajari Alkitab. Jika seseorang mempelajari Alkitab dan menafsirkannya dengan buta dan ceroboh, maka akibatnya tidak akan karuan dan bahkan berbahaya. Pemikiran-pemikiran kita seringkali tidak ada pengekangan-pengekangannya. Sangat berbahaya bagi seseorang jika menghakimi menurut apa yang ia pikirkan dan untuk menafsirkan menurut apa yang ia lihat. Jika kita ingin mempelajari Alkitab dengan tepat dan memahaminya secara akurat, pasti ada penafsiran yang membatasi. Jika kita ingin suatu keterangan Alkitab yang terbatas, kita perlu mencari prinsip-prinsip dan hukum-hukum dari penafsiran Alkitab itu. Di sini kita akan menunjukkan sepuluh prinsip yang demikian.

I. SEHARFIAH MUNGKIN

Prinsip pertama adalah menafsirkan dan memahami Alkitab itu seharfiah mungkin. Kita harus menyerap fakta dengan sungguh-sungguh bahwa ketika Allah mewahyukan kepada manusia untuk menullis Alkirab, Dia memakai perkataan-perkataan yang sepenuhnya dapat dipahami manusia. Ketika kita mencoba untuk memahami Alkitab hari ini, kita harus memahami pikiran Allah dengan tegas dan akurat menurut huruf-huruf dari perkataan-perkataan itu. Kita tidak boleh mengira bahwa karena Alkitab itu diwahyukan oleh Allah, itu akan selalu melampaui bahasa manusia, oleh karena itu perlu ada yang membuka penafsiran rohani. Ini adalah suatu pernyataan yang berbahaya. Kita harus menafsirkan Alkitab menurut arti harfiah dari perkataan-perkataan itu. Tidak peduli betapa sulit atau tidak pada tempatnya suatu penafsiran hurufiah yang nampak di hadapan kita, kita harus mengartikan dengan tegas menurut arti hurufiahnya.

Baiklah kita sebutkan beberapa contoh. Suatu hal yang nyata adalah nubuat Perjanjian Lama di dalam Yesaya mengenai Tuhan Yesus dilahirkan dari seorang dara. Hari ini, Tuhan telah dilahirkan dari seorang dara. Karena itu hal ini tidak mengejutkan bagi kita ketika kita membaca dan mendengar perkataan ini. Tetapi pada waktu jaman Yesaya, ketika orang-orang membaca apa yang ia tulis mengenai seorang dara yang melahirkan seorang dara dan menyebut namaNya Immanuel, tidakkah mereka akan mempunyai kesulitan di dalam pikiran mereka? Seseorang tentunya akan mempunyai kesullitan dalam memahami bagaimana mungkin seorang dara dengan seorang anak. Beberapa orang mungkin telah berpaling kepada suatu penafsiran rohani, yang menyatakan bahwa dara itu dapat berarti sesuatu yang lain dari pada seorang dara yang sebenarnya. Tetapi ketika nubuat itu digenapkan, nubuat itu digenapkan secara hurufiah. Dara tersebut mengacu kepada seorang dara yang sebenarnya.

Kemudian kitab Zakharia di dalam Perjanjian Lama menubuatkan bahwa Tuhan Yesus akan masuk ke Yerusalem terakhir kalinya dengan menunggangi seekor keledai muda. Ketika seseorang membaca tentang hal ini pada waktu itu, mereka mungkin sulit untuk memahami karena bagi mereka, Dia yang kepadanya orang lain akan menyerukan "Hosana" ini, Raja yang layak dipuji, Dia yang paling dihormati di Israel, tidak mungkin masuk ke Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai. Orang-orang mungkin mengira ini tidak logis untuk menunggangi seekor keledai. Karena alasan itu, mereka akan menafsirkannya secara rohani untuk mengartikan sesuatu yang lainnya lagi. Tetapi ketika nubuat itu digenapkan, nubuat itu dinubuatkan secara hurufiah dalam segala cara. Firmannya adalah keledai, dan faktanya adalah seekor keledai.

Ketika kita membaca Alkitab, di satu pihak, kita harus menerima ilham-ilham rohani, tetapi di pihak lain, kita jangan merubah arti hurufiahnya untuk menyesuaikan dengan suatu penafsiran rohani. Hanya bila suatu penafsiran hurufiah dari suatu nubuat atau perumpamaan memimpin kepada ketahayulan-ketahayulan atau ketidakpantasan, kita dapat menafsirkannya secara rohani. Tetapi hal-hal demikian ini sedikit di dalam Alkitab.

Orang harus memperhatikan dengan hati-hati apakah suatu bagian harus ditafsirkan secara hurufiah atau secara rohani. Ada suatu perbedaan yang besar di sana. Saya mendengar bahwa ada beberapa orang telah menafsirkan belalang-belalang di dalam kitab Wahyu seperti pesawat-pesawat terbang hari ini, dan hujan batu dari langit seperti bom-bom yang dijatuhkan oleh peswat-pesawat terbang. Ini adalah bodoh. Kita harus hati-hati agar tidak menafsirkan Alkitab dengan terlalu bebas. Jika seseorang ingin mencari cohtoh-contoh dari penafsiran-penafsiran yang aneh dan tidak masuk akal, ia dapat membaca buku "Tanda-Tanda dan Waktu-Waktu," yang diterbitkan oleh ahli-ahli Adven Hari Ketujuh. Di sana orang dapat menemukan banyak penafsiran yang sembarangan dan sembrono. Kita tidak boleh menafsirkan Alkitab dengan cara ini. Kita harus berpegang pada prinsip-prinsip dan menerapkan arti-arti hurufiah sebanyak mungkin. Ini hanya bila suatu penafsiran dari beberapa firman, penglihatan, nubuat, dan perumpamaan menjadi terlalu takhayul dan bodoh maka kita dapat menafsirkannya secara rohani.

II. TIDAK ADA PENAFSIRAN HURUFIAH DAN ROHANI

DI DALAM KALIMAT, AYAT, ATAU BAGIAN YANG SAMA

Kita tidak dapat menafsirkan suatu kalimat, suatu ayat, atau suatu bagian Alkitab secara rohani untuk bagian pertama dan secara hurufiah pada bagian kedua. Jika suatu bagian ditafsirkan secara rohani, maka harus ditafsirkan secara rohani seluruhnya. Jika suatu bagian ditafsirkan secara hurufiah, maka harus ditafsirkan secara hurufiah seluruhnya. Misalnya, Tuhan Yesus mengatakan di dalam Yohanes 3 bahwa jikalau seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah. Banyak peneliti Alkitab menafsirkan air di sini secara rohani yang mengacu kepada firman Allah. Tetapi dalam frasa berikutnya, mereka menyatakan Roh itu secara hurufiah, mengacukannya sebagai Roh Kudus. Penafsiran yang demikian adalah salah dan berlawanan dengan prinsip penafsiran Alkitab. Jika seseorang ingin menafsirkan Roh dalam bagian yang kedua secara hurufiah, ia harus menafsirkan air pada bagian yang pertama secara hurufiah juga. Jika seseorang menafsirkan air secara rohani, ia juga harus menafsirkan Roh itu secara rohani. Jika seseorang tidak dapat menafsirkan Roh itu secara rohani, ia juga tidak dapat menafsirkan air secara rohani; maka itu harus ditafsirkan secara hurufiah.

Di dalam Matius 3, Yohanes Pembaptis berkata, "Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku...Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api; alat penampi sudah ditanganNya. Ia akan membersihkan tempat pengirikanNya dan mengumpulkan gandumNya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan dibakarNya dalam api yang tidak terpadamkan" (ay. 11-12). Beberapa peneliti menafsirkan api di sini secara rohani sebagai kesusahan-kesusahan dan kesulitan-kesulitan. Bahkan beberapa orang telah menafsirkan bahwa ini adalah Roh Kudus yang membakar seperti api. Semuanya telah menafsirkan kata api secara rohani. Tetapi di dalam ayat ini, air yang disebutkan Yohanes sebenarnya adalah air, dan Roh Kudus adalah Roh Kudus, secara hurufiah. Karena itu air di dalam bagian selanjutnya tidak boleh ditafsirkan secara rohani, melainkan sebaliknya, secara hurufiah. Jika kata api harus ditafsirkan secara rohani, maka air juga harus ditafsirkan secara rohani. Tetapi, tidak mungkin melakukan hal ini. Ini adalah suatu prinsip yang penting dalam penafsiran Alkitab. Karena bagian-bagian yang berbeda di dalam suatu bagian yang sama, bagian-bagian itu harus ditafsirkan secara hurufiah seluruhnya, atau ditafsirkan secara rohani seluruhnya. Bagian-bagian itu tidak dapat ditafsirkan dengan keduanya bersama-sama.

III. SATU BAGIAN TIDAK DAPAT MEWAKILI SELURUH KEBENARAN

Dalam menafsirkan Alkitab, kita harus memperhatikan pada satu hal lagi: satu bagian dari Firman itu tidak cukup untuk mewakili seluruh kebenaran. Dengan kata lain, tidak ada kebenaran yang dapat dijelaskan sepenuhnyan dengan satu bagian tunggal dari Firman itu. Oleh karena itu, dalam membaca dan menafsirkan Alkitab, kita harus memperhatikan perkataan-perkataan "seperti ada tertulis." Ini adalah firman yang diucapkan oleh Tuhan Yesus di dalam Matius 4:7. Ketika Tuhan dicobai, iblis mengutip perkataan-perkataan Tuhan di dalam Mazmur 91 bahwa Allah akan memberi perintah kepada malaikat-malaikatNya untuk menopang Dia, agar Dia tidak terantuk batu. Iblis membujuk agar Tuhan melompat dari puncak bait dan tidak akan terluka karena ada satu janji di dalam Perjanjian Lama. Ini adalah bagaimana iblis mencobai Tuhan Yesus dengan suatu bagian yang terpisah dari Perjanjian Lama. Ketika Tuhan mendengarnya, Dia segera menjawab, "Seperti ada tertulis, janganlah kamu mencobai Tuhan Allahmu." Ini memperlihatkan kepada kita bahwa kita tidak dapat mengambil suatu bagian yang terpisah sendiri saja dari Alkitab itu. Sebaliknya, kita harus mempertimbangkan dua, tiga, atau lebih bagian dari Firman itu bersama-sama.

Jika kita menolak prinsip dari "seperti ada tertulis," tetapi menerapkan firman-firman Alkitab dengan cara yang terpisah, kita akan mudah tertipu oleh tipu daya-tipu daya iblis. Jika iblis tidak dapat menghentikan seseorang dari mengikuti Alkitab, ia akan membuat orang itu untuk mengutip dari Alkitab dengan cara yang terpisah. Tentuya, Satan akan berharap bahwa kita tidak melakukan sesuatu menurut Alkitab. Tetapi seringkali ia tahu bahwa ini tidak mungkin. Semua orang mengsihi dan takut akan Tuhan akan berjalan menurut Alkitab. Iblis tidak dapat menghentikan kita dari mengikuti Alkitab atau berjalan menurut Alkitab. Ia hanya dapat melakukan cara-cara lain, salah satunya yaitu membuat kita mengikuti Alkitab dengan cara yang terpisah. Dengan cara ini kita menjadi ekstrim dan melupakan firman-firman yang mengatakan "seperti ada tertulis."

Perkataan "seperti" ini adalah suatu perkataan yang terlalu besar. Kita harus melingkarinya. Ini memperlihatkan kepada kita ketika kita mengikuti Alkitab, kita tidak boleh melakukannya dengan cara yang terpisah. Kita harus mempertimbangkan kedua aspek dan bahkan semua aspek. Tidak ada porsi yang tunggal dari Alkitab yang dapat mewakili seluruh kebenaran, demikian juga tidak ada satu muka dari sebuah rumah yang dapat mewakili seluruh rumah itu secara lengkap. Bahkan kita sendiri juga sama. Jika kita mengambil suatu gambar dari samping, tidak ada satu lubang di depannya. Tetapi jika kita mengambil suatu gambar dari depan, ada tujuh lubang yang jelas. Satu sisi yang manapun dari seseorang tidak dapat mewakili seluruh orang itu. Ini sama dengan perkataan-perkataan Alkitab. Satu bagian Alkitab manapun tidak dapat mewakili seluruh kebenaran, dan kita harus seimbang dalam segala cara. Maka, kita harus ingat prinsip dari "seperti ada tertulis."

IV. SETIAP AYAT MENGANDUNG SEMUA KEBENARAN

Tidak ada satu ayat yang dapat mewakili seluruh kebenaran. Tetapi, setiap ayat dari Alkitab mengandung seluruh kebenaran. Di satu pihak, tidak ada satu ayat yang dapat mencakup seluruh kebenaran, dan untuk memahami suatu kebenaran, seseorang tidak dapat bergantung kepada satu ayat saja, tetapi harus mempertimbangkan banyak ayat lainnya. Di pihak lain, dalam menentkan kebenaran, seseorang harus mempertimbangkan setiap ayat. Setiap ayat di dalam Alkitab mengandung seluruh kebenaran.

Suatu kali seorang saudara mengatakan bahwa satu ayat manapun di dalam Alkitab itu perlu seluruh Alkitab menjelaskannya. Ini benar sekali. Jika seseorang ingin memahami Kejadian 1:1, ia harus memahami seluruh Alkitab. Di satu pihak, Kejadian 1:1 tidak dapat mengandung selurh kebenaran. Di pihak lain, Kejadian 1:1 mencakup semua kebenaran Alkitab.

Oleh karena itu dalam menentukan kebenaran apapun, kita tidak dapat bersandar pada satu bagian Alkitab saja. Sebaliknya kita harus berdasarkan pada semua firman dari Alkitab. Demikian juga, penjelasan satu ayat manapun tidak dapat berdasarkan pada konteksnya sendiri; sebaliknya harus berdasarkan pada seluruh Alkitab. Dua Petrus 1:20 mengatakan bahwa tidak ada nubuat dari kitab Suci yang berasal dari penafsiran seseorang. Arti asal dari ayat ini adalah bahwa nubuat dari lkitab itu tidak boleh ditafsirkan menurut konteksnya sendiri. Ini berarti untuk menafsirkan nubuat apapun, seseorang harus mempelajari semua nubuat di dalam Alkitab, dan harus membuat keputusan-keputusan berdasarkan semua nubuat dari Alkitab. Hanya dengan demikian maka penafsiran itu akan menjadi lengkap.

V. TIDAK MENGORBANKAN BAGIAN APAPUN DARI FIRMAN ITU

Dalam menetapkan suatu kebenaran, kadang-kadang beberapa ayat yang berhubungan mengindikasikan suatu arti tertentu, tetapi dua atau tiga di antaranya tidak dapat dijelaskan dengan cara itu. Seseorang tidak dapat mengatakan bahwa hanya karena satu atau dua ayat yang mungkin dapat dijelaskan dengan cara demikian, sehingga orang dapat mengorbankannya dan berdasarkan penjelasan mayoritas dari ayat itu. Jika seseorang berbuat demikian, ia akan mengorbankan sejumlah kecil dari ayat-ayat itu. Kita tidak dapat melakukan hal ini. Sepanjang satu atau dua ayat tidak memberikan suatu penafsiran tertentu, kita harus menghentikan penafsiran. Kita harus menghargai setiap bagian dari Alkitab. Hanya bila suatu penafsiran harmonis dengan seluruh Alkitab, penafsiran ini dapat dipertimbangkan dengan dapat dipercaya.

VI. SEMUA EKSPRESI YANG BERDAMPINGAN ADALAH SEBANDING

Ada banyak pernyataan di dalam Alkitab yang berdampingan satu dengan yang lainnya. Semua ekspresi yang berdampingan ini adalah sebanding dan tidak berbeda. Misalnya, Matius 5 membicarakan tentang sembilan berkat. Yang berkata, "Berbahagialah orang yang miskin di dalam roh, karena merekalah yang empunya kerajaan surga, " dan "Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena ia akan melihat Allah." Ini adalah pernyataan yang sesuai, di mana pernyataan yang pertama sebanding dengan yang kedua.

Dalam hal ini, setiap berkat, pertama ada kondisi untuk berkat dan kemudian berkatnya sendiri. Semua ekspresi yang sebanding adalah sama. Jika bagian pertama dari ekspresi yang sesuai itu menunjukkan suatu kondisi, maka semua bagian pertama dari ekspresi yang sesuai itu menunjukkan kondisi-kondisi juga. Jika bagian kedua dari suatu ekspresi menunjukkan suatu berkat, maka bagian kedua dari semua ekspresinya juga menunjukkan berkat. Ini adalah prinsip atau peraturan yang lainnya.

VII. TIDAK DIBATASI OLEH LATAR BELAKANGNYA JUGA TIDAK MENGABAIKAN LATAR BELAKANGNYA

Dalam menafsirkan Alkitab, seseorang seharusnya tidak dibatasi oleh latar belakangnya, juga tidak mengabaikan latar belakangnya. Misalnya, dalam khotbah Tuhan di bukit, banyak perkataan yang diucapkan dengan latar belakang Yahudi. Tuhan berkata, "Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, " (Mat. 5:23) dan seterusnya. Mempersembahkan persembahan ini di atas mezbah sepenuhnya berdasarkan latar belakang agama Yahudi. Jika Anda ingin memahami arti asalnya dari firman ini, Anda tidak dapat menolak latar belakang pada waktu itu. Orang-orang Yahudi mempersembahkan persembahan mereka di mezbah untuk tujuan agar dekat kepada Allah dan bersekutu dengan Dia. Jika Anda memegang prinsip ini, Anda akan menyadari bahwa perkataan-perkataan Tuhan itu mengacu kepada seseorang yang mempersembahkan sesuatu di hadapan Allah dan bersekutu dengan Allah. Karena itu kita tidak dapat menolak latar belakangnya. Sebaliknya kita harus memahami latar belakangnya.

Di pihak lain, kita tidak seharusnya dibatasi oleh latar belakangnya. Sekarang kita tidak dapat mengajar orang-orang untuk pergi ke mezbah untuk mempersembahkan persembahan-persembahan disebabkan karena Tuhan Yesus telah mengucapkan erkataan yang demikian. Jika Anda dibatasi oleh latar belakang ini, Anda mempunyai suatu masalahyang besar. Maka, kita harus melihat bahwa kita tidak dapat mengabaikan latar belakangnya; jika kita melakukannya, kita tidak dapat memahami arti yang sebenarnya dari Alkitab itu. Di pihak lain, kita harus hati-hati agar tidak dibatasi oleh latar belakangnya jika tidak kita akan jatuh dalam kesalahan.

VIII. MEMPERHATIKAN PERBEDAAN-PERBEDAAN DALAM JAMAN/DISPENSASI

Firman-firman Allah kepada manusia dibagi ke dalam dispensasi-dispensasi. Ada beberapa firman yang diucapkan Allah kepada manusia dalam dispensasi hukum taurat. Ada beberapa firman yang diucapkan Allah kepada manusia dalam dispensasi kasih karunia. Ketika kita berusaha untuk memahami firman-firman ini, kita harus membedakan antara dispensasi-dispensasi yang berbeda. Kita tidak boleh menerapkan firman-firman yang diucapkan dalam dispensasi hukum taurat untuk dispensasi kasih karunia. Inilah kesalahan Advent Hari Ketujuh dalam memelihara Sabat. Memelihara Sabat adalah suatu perintah yang Allah berikan kepada manusia dalam dispensasi hukum taurat. Ketika seseorang sampai kepada jaman kasih karunia, ini adalah perkara yang berbeda lagi. Tetapi Advent Hari Ketujuh berpegang pada Keluaran 20 dan mengatakan bahwa karena Allah dengan jelas membicarakan tentang Sabat, oleh karena itu hari ini kita harus Sabat. Memang benar bahwa Allah membicarakan tentang memelihara hari Sabat, tetapi ini adalah suatu perkara dalam dispensasi hukum taurat dan bukan berada dalam dispensasi kasih karunia.

Ada contoh lainnya lagi. Di dalam Mazmur dikatakan bahwa anak-anak kita dalam daging adalah berkat-berkat Allah. Ingatlah bahwa ini adalah suatu firman dalam Perjanjian Lama. Di dalam Perjanjian Baru, ini tidak benar lagi. Orang tidak dapat menemukan sesuatu di dalam Perjanjian Baru yang mengatakan bahwa anak-anak dari daging adalah berkat. Meskipun saya tidak dapat mengatakan bahwa anak-anak dari daging sekarang adalah kutuk, saya berani menjamin Anda bahwa anak-anak dari daging adalah beban dan pelajaran. Hari ini, di dalam dispensasi kasih karunia, berkat yang sejati adalah anak-anak rohani.

Sama prinsipnya dengan Allah berjanji kepada umat pilihanNya di dalam Perjanjian Lama bahwa mereka akan makmur dan memperluas wilayah kekuasaan mereka di atas bumi. Tetapi ini berlawanan dengan yang di dalam Perjanjian Baru. Jika Anda hari ini berdiri di atas podium, dan mengutip firman-firman Perjanjian Lama, memberi tahu saudara-saudara dan saudari-saudari, "Terima kasih kepada Allah, Dia telah berjanji bahwa jika kita takut akan Dia, Dia akan meluaskan wilayah kekuasaan kita dan setiap orang akan menjadi seorang tuan tanah yang besar," ini salah. Ada suatu janji yang demikian di dalam Alkitab, tetapi janji ini bukan di bawah kasih karunia, melainkan di bawah hukum taurat. Di dalam jaman Perjanjian Baru, Allah mengatakan bahwa kita harus meninggalkan tanah kita dan menjualnya untuk memberikannya kepada orang miskin. Ini benar-benar berlawanan dengan jaman Perjanjian Lama.

Meskipun semuanya ini adalah firman dari Alkitab dan dihembuskan oleh Allah, kita tidak boleh mengambil firman-firman dari dispensasi yang lama dan menerapkannya untuk dispensasi sekarang. Banyak orang Katholik dan Protestan salah pada poin ini. Ada banyak hal dalam agama Katholik yang berasal dari agama Yahudi di dalam Perjanjian Lama. Bahkan pakaian yang dipakai oleh mereka dan liturgi-liturgi penyembahan mereka semuanya adalah pinjaman dari Perjanjian Lama. Memang hal-hal itu disebutkan di dalam Alkitab, tetapi hal-hal itu bukanlah untuk dispensasi kita sekarang. Dalam menerangkan dan menafsirkan Alkitab, seseorang tidak dapat mengatakan," Bukankah firman ini dari Alkitab? Jika ya, kita harus memeliharanya." Kita tidak dapat mengatakan dengan cara demikian. Kita harus membedakan jaman-jaman; yaitu, kita harus mengenal dengan jelas firman itu berada dalam dispensasi yang mana. Jika Anda tidak berada dalam suatu dispensasi tertentu, maka firman-firman untuk dispensasi itu tidak ada hubungannya dengan Anda.

IX. MEMPERHATIKAN PERBEDAAN TERHADAP ORANG-ORANG YANG DITUJUKAN

Dalam menerangkan Alkitab, seseorang harus memperhatikan orang-orang yang kepadanya firman itu dikatakan. Ada beberapa firman yang diucapkan untuk orang Yahudi, dan firman-firman itu tidak berhubungan dengan bangsa-bangsa atau dengan gereja. Ada beberapa firman yang diucapkan untuk bangsa-bangsa dan tidak ada hubungannya dengan orang-orang Yahudi atau dengan gereja. Ada beberapa firman yang diucapkan untuk gereja dan tidak ada hubungannya dengan orang-orang Yahudi dan bangsa-bangsa.

Satu Korintus 10:32 berkata, "Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani (mengacu kepada bangsa-bangsa), maupun jemaat Allah." Di dalam Alkitab sedikitnya ada tiga jenis orang yang kepadanya Allah mengucapkan firmanNya: orang Yahudi, bangsa-bangsa, dan gereja. Di dalam Perjanjian Lama, kebanyakan dari firman-firman diucapkan kepada orang-orang Yahudi. Di dalam Perjanjian Baru, ada banyak firman yang diucapkan kepada gereja. Pada waktu yang sama, baik itu di dalam Perjanjian Baru maupun Perjanjian Lama, ada beberapa firman yang diucapkan kepada bangsa-bangsa. Kita perlu membedakan hal ini ketika kita membacanya dan harus mencari kepada siapakah firman itu diucapkan. Kita perlu membedakan dengan jelas orang-orang yang berbeda kepada siapakah suatu firman itu ditujukan, apakah itu untuk orang-orang Yahudi, bangsa-bangsa, atau kepada gereja. Pertama, kita mengenal orang-orang yang dibicarakan, kemudian kita dapat membuat pernyataan yang tepat.

Misalnya, beberapa pelajar Alkitab mempunyai perselisihan yang keras mengenai kepada siapakah kitab Matius itu ditujukan. Ada beberapa pengamat Alkitab mengatakan bahwa kitab Matius adalah untuk orang Yahudi bukan untuk gereja. Mereka menunjukkan latar belakang orang Yahudi dari firman-firman di dalam kitab Matius, yang mengatakan bahwa Tuhan Yesus dengan jelas menyebutkan mempersembahkan persembahan-persembahan di mezbah. Bagi mereka ini adalah suatu bukti bahwa ayat-ayat ini adalah untuk orang-orang Yahudi. Tuhan Yesus dengan jelas membicarakan tentang penghakiman atas Sanhedrin (Mahkamah agama). Sanhedrin adalah suatu organisasi orang-orang Yahudi. Mereka juga menunjukkan Matius 24 yang menyebutkan reruntuhan pengrusakan tempat kudus. Bagi mereka, tempat kudus itu adalah milik orang Yahudi. Tuhan juga mengatakan bahwa ketika seseorang menghadapi kesusahan besar, ia harus berdoa agar jatuhnya jangan pada hari Sabat. Apakah gereja akan tetap memelihara Sabat. Orang-orang yang menerima firman Sabat ini, bukankah mereka orang Yahudi? Para pelajar ini menunjukkan banyak contoh seperti ini untuk membuktikan bahwa kitab Matius diucapkan untuk orang-orang Yahudi. Jika memang demikian, ini akan menjadi sangat serius, karena seluruh kitab Matius tidak akan lagi menjadi warisan kita.

Setelah kita membaca seluruh kitab Matius dengan teliti, kita harus mengakui bahwa firman-firman di dalam Maitus 5 pasti mempunyai latar belakang Yahudi, tetapi ayat-ayat itu bukan diucapkan kepada orang Yahudi; melainkan diucapkan untuk umat kerajaan surga. Umat kerajaan itu bukan hanya orang-orang yang diselamatkan di antara orang Yahudi saja, melainkan juga meliputi orang-orang yang diubah dari antara bangsa-bangsa. Umat kerajaan adalah gereja. Karena di antara umat kerajaan ada beberapa yang telah berada di dalam agama Yahudi, dan yang mempunyai latar belakang orang Yahudi, maka Tuhan Yesus harus memakai hal-hal yang berhubungan ketika Dia berkhotbah di atas bukit pada waktu itu. Ada banyak pembicaraan di dalam Matius pasal dua puluh empat dan dua puluh lima. Jika Anda membaca dengan teliti, Anda akan mememukan bahwa itu adalah suatu bagian yang diucapkan untuk orang Yahudi, gereja, dan suatu bagian yang diucapkan untuk bangsa-bangsa. Di dalam pasal dua puluh empat, ayat 1 sampai 30 adalah diucapkan untuk orang Yahudi. Ayat 32 sampai pasal dua puluh lima ayat 30 adalah diucapkan untuk gereja. Ayat 31 sampai selesai dari pasal itu adalah diucapkan untuk bangsa-bangsa. Dalam mempelajari Alkitab, sebelum kita membuat suatu keputusan tenang suatu penafsiran, kita harus memastikan orang yang kepadanya suatu firman itu diucapkan. Hanya dengan demikian kita dapat memahami dan menafsirkan firman-firman itu secara akurat.

X. ORANG-ORANG, PERISTIWA-PERISTIWA, OBYEK-OBYEK DI DALAM PERJANJIAN LAMA YANG TIDAK JELAS DIACUKAN SEBAGAI LAMBANG-LAMBANG TIDAK BOLEH DIPERLAKUKAN SEBAGAI LAMBANG-LAMBANG MELAINKAN SEBAGAI ILUSTRASI

Kita tahu bahwa ada banyak lambang di dalam Perjanjian Lama. Ada beberapa lambang itu adalah persona-persona individu, seperti Ishak, yang melambangkan Tuhan Yesus sebagai putra yang mewarisi, dan Ribka, yang melambangkan mempelai perempuan yang didapatkan oleh Kristus---yaitu gereja. Ada beberapa lambang itu merupakan peristiwa-peristiwa, seperti Paskah bani Israel yang menandakan keselamatan kita di hadapan Allah ketika kita menerima Kristus yang tersembelih sebagai Juruselamat kita. Contoh lain adalah keluarnya bangsa Israel dari Mesir yang melambangkan keluarnya kita dari dunia. Juga ada beberapa lambang yang merupakan obyek, seperti anak domba yang melambangkan Kristus dan ular tembaga yang juga melambangkan Kristus.

Di dalam Perjanjian Lama banyak orang, peristiwa, obyek yang merupakan lambang-lambang, tetapi itu bukan karena kita yang memutuskan apakah itu lambang atau bukan. Kita harus mencari bukti yang jelas dari Perjanjian Baru. Jika tidak ada sebutan di dalam Perjanjian Baru tentang obyek, peristiwa-peristiwa, atau orang sebagai suatu lambang, maka kita tidak boleh terburu-buru menduga apakah hal-hal itu merupakan suatu lambang. Sebaliknya, kita hanya dapat meminjam orang-orang, peristiwa-peristiwa, obyek-obyek ini sebagai ilustrasi dan memakainya untuk menjelaskan kebenaran-kebenaran di dalam Perjanjian Baru. Untuk mengatakan bahwa sesuatu adalah lambang itu lebih banyak berarti dari pada mengatakan bahwa itu hanyalah merupakan suatu ilustrasi.

KESIMPULAN

Di sini kita hanya akan menyajikan dan menunjukkan secara singkat mengenai sepuluh prinsip dari penafsiran Alkitab. Prinsip ini tersusun perlahan-lahan dari ratusan atau ribuan tahun dari pengalaman akan pelajaran Alkitab. Prinsip-prinsip itu seperti krim susu dan madu belalang, dan sangat mustika. Saya harap kita semua dapat mengingatnya dengan jelas. Ini semua merupakan bantuan-bantuan dan batasan-batasan bagi kita. Saya harap agar mulai sekarang semua saudara saudari akan menerapkan prinsip-prinsip ini dalam mereka mempelajari Alkitab. Jika kita menerapkannya, kita akan menemukan arti baru untuk Alkitab dan akan mempunyai suatu pemahaman yang lebih baik, lebih akurat, dan lebih menyeluruh.