← Daftar isi Sikap Kita terhadap Alkitab Cara untuk Menikmati Alkitab – dengan Membiarkan Firman Kristus Diam DI dalam Kita dengan Segala Kekayaannya · bab 21/24

SURAT-SURAT RASULI (5) 1 YOHANES SAMPAI YUDAS DAN KITAB NUBUAT WAHYU

Pembacaan Alkitab

1 Yoh. 1:2-3; 2:27; 3:9; 5:18; 2 Yoh. 4, 9-10;

3 Yoh. 4, 5-8; Yud. 3, 4, 20-21; Why. 1:1, 9-18;

5:5-6; 6:1-2; 14:1-4, 15; 19:7-16; 21:2.

Garis Besar

I. 1 Yohanes

A. Penulis, tempat, dan waktu

B. Subyek

C. Latar belakang

D. Pemikiran sentral

E. Sketsa umum

F. Bagian-bagian

II. 2 Yohanes (A sampai F)

III. 3 Yohanes (A sampai F)

IV. Yudas (A sampai F)

V. Wahyu (A sampai F)

I. 1 YOHANES

A. Penulis, tempat, dan waktu: Menurut struktur, nada, dan perkataannya, tidak diragukan lagi bahwa kitab ini ditulis oleh Yohanes yang sama yang menulis kitab Yohanes. Kitab ini ditulis kepada semua kaum imani yang telah menerima hayat kekal Allah melalui percaya dalam Putra Allah (5:11-13). Menurut sejarah gereja dan isi seluruh kitab ini, kitab ini pasti ditulis setelah Yohanes kembali dari pengasingan di Pulau Patmos, mungkin di antara tahun 90 dan 95 M, dan kitab ini pasti ditulis di Efesus, di mana Rasul Yohanes terakhir berministri.

B. Subyek: persekutuan tentang hayat ilahi.

C. Latar belakang: Pada akhir abad pertama, ketika Rasul Yohanes sedang menulis Injil, surat Rasuli dan Wahyu, ada ajaran-ajaran bidat mengenai Persona Kristus. Ada satu ajaran bidat yang mengajarkan bahwa Kristus adalah Allah tetapi bukan manusia, dan ajaran lain mengatakan bahwa Kristus adalah manusia bukan Allah. Ajaran-ajaran lain menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus. Karena situasi yang demikian, Yohanes berbeban untuk menuliskan tentang Persona Kristus secara almuhit.

D. Pemikiran sentral: Dalam surat Rasul Yohanes, khususnya yang pertama, fokusnya adalah misteri tentang persekutuan hayat ilahi yang termanifestasi di antara kaum imani dengan Allah dan dengan yang lainnya. Persekutuan ini penuh misteri. Meskipun kita berbeda ras, warna, kebangsaan, namun kita menikmati persekutuan dalam hayat ilahi yang termanifestasi. Kita memiliki suatu keesaan yang menakjubkan di antara kita. Ini adalah misteri tentang persekutuan hayat ilahi.

E. Sketsa umum: Di dalam surat 1 Yohanes ada tiga bagian utama: persekutuan hayat ilahi (1:1 2:11), pengajaran pengurapan minyak (2:12-27), dan kebajikan-kebajikan kelahiran ilahi (2:28 5:21). Urutannya di sini sangat berarti. Pertama, Yohanes memperlihatkan kepada kita bahwa dalam hayat ilahi ada kenikmatan akan persekutuan, dan di dalam persekutuan ini kita menikmati pengajaran pengurapan minyak. Kemudian, urutan bagian-bagian ini menunjukkan bahwa persekutuan hayat ilahi dan pengajaran pengurapan ilahi mambawa kita ke dalam kebajikan-kebajikan kelahiran ilahi. Dalam bagian ketiga kita melihat betapa banyaknya kenikmatan yang kita terima dari kelahiran ilahi. Secara khusus, kenikmatan ini berhubungan dengan kebajikan-kebajikan kelahiran ilahi. Kelahiran ilahi ini menghasilkan banyak kebajikan. Hanya dengan persekutuan hayat ilahi ini dan pengajaran pengurapan ilahi kita dapat mengalami dan menikmati semua kebajikan yang dibagikan kepada kita melalui kelahiran ilahi.

F. Bagian-bagian: 1) persekutuan hayat ilahi (1:1 2:11), 2) pengajaran pengurapan ilahi (2:12-27), dan 3) kebajikan-kebajikan kelahiran ilahi (2:28 5:21).

II. 2 YOHANES

A. Penulis, tempat, dan waktu: Kitab ini ditulis oleh Yohanes, penatua, kepada ibu yang terpilih dan anak-anaknya (lihat. ay. 1catatan 2). Kitab ini ditulis setelah 1 Yohanes (mengacu kepada bagian ini setelah 1 Yohanes). Sejarah gereja menyatakan dengan tepat bahwa pada waktu menulis kitab ini, Yohanes adalah seorang penatua di Efesus; oleh karena itu, kitab ini pasti ditulis di Efesus.

B. Subyek: larangan berbagian dalam ajaran bidat.

C. Latar belakang: Lihat bagian ini di bawah 1 Yohanes.

D. Pemikiran sentral: Surat 2 Yohanes melarang kita berbagian dalam pengajaran bidat apapun mengenai Persona Kristus. Dalam ayat 10 Rasul Yohanes berkata, "Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima di adi rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya." Seperti dalam ayat 9, "ajaran" di sini adalah ajaran mengenai keilahian Kristus, khususnya mengenai inkarnasiNya oleh kandungan ilahi. Dalam surat Rasul ini, Yohanes memperingatkan kita agar tidak menerima siapapun yang menyangkal kebenaran mengenai keilahian dan inkarnasi Kristus.

E. Sketsa umum: Dalam pembukaannya (ay. 1-2), Yohanes membicarakan tentang mengasihi dalam kebenaran untuk kebenaran. Dalam ayat 3 rasul memberi salam dan memberkati kaum imani dengan kasih karunia, rahmat, dan damai sejahtera berdasarkan atas keberadaan dua perkara penting di antara mereka mengenai kebenaran dan kasih. Dalam ayat 4 sampai 6 ia membicarakan tentang berjalan dalam kebenaran dan kasih. Dalam ayat 7 sampai 11 ia membicarakan tentang tidak berbagian dalam ajaran bidat. Di dalam ayat 12 dan 13 Yohanes menyatakan dalam suratnya dengan ekspresi pengharapannya akan persekutuan yang lebih dekat agar lebih bersukacita dan salamnya dalam perhatian kasih.

F. Bagian-bagian: 1) pembukaan (ay. 1-3), 2) berjalan dalam kebenaran dan kasih (ay. 4-6), 3) tidak berbagian dalam ajaran bidat (ay. 7-11), dan 4) kesimpulan (ay. 12-13).

III. 3 YOHANES

A. Penulis, tempat, dan waktu: Surat ini ditulis di Efesus oleh Yohanes, sewaktu ia menjadi seorang penatua di sana, kepada Gayus (ay. 1 dan catatan 2). Kitab ini ditulis setelah 2 Yohanes.

B. Subyek: dorongan bagi sesama sekerja dalam kebenaran.

C. Latar belakang: Lihat bagian ini di bawah 1 Yohanes.

D. Pemikiran sentral: Kitab 2 dan 3 Yohanes keduanya berdasarkan atas 1 Yohanes. Baik 2 dan 3 Yohanes keduanya menunjukkan bahwa kita perlu hidup dalam kebenaran dan berjalan dalam kebenaran. Perbedaannya adalah bahwa di dalam 2 Yohanes ada larangan tentang berbagian dalam ajaran-ajaran bidat, berbagian dalam pengajaran apapun yang berlawanan dengan kebenaran ini. Kita harus menjauh dari pengajaran atau orang manapun yang berlawanan dengan realitas Allah Tritunggal. Tetapi dalam 3 Yohanes ada suatu dorongan untuk membantu sesama sekerja dalam kebenaran. Kita perlu menggabungkan diri kita dengan siapapun juga yang bekerja bagi realitas ilahi Alah Tritunggal yang sedang kita nikmati, dan kita perlu melakukan apapun juga yang dapat kita lakukan untuk memajukan pekerjaan ini. Maka, di dalam 2 Yohanes ada satu sikap negatif terhadap ajaran bidat ini dan di dalam 3 Yohanes, ada satu sikap positif terhadap pekerjaan bagi kebenaran ini. Apakah sikap kita harus negatif atau positif itu tergantung pada apakah situasinya itu bagi realitas ilahi atau sebaliknya.

E. Sketsa umum: Dalam pembukaannya (ay. 1-4), Yohanes membicarakan tentang mengasihi dalam kebenaran (ay. 1), makmur dalam segala hal dan dalam kesehatan (ay. 2), dan berjalan dalam kebenaran (ay. 3-4). Dalam ayat 5 sampai 8 ia membicarakan tentang penyambutan terhadap sekerja-sekerja yang bepergian (ay. 5-8) menyambutnya dengan setia, dalam kasih, dan perkenan Allah (ay. 5-6) dengan sesama sekerja dalam kebenaran (ay. 7-8). Dalam ayat 9 sampai 12, Yohanes membicarakan mengenai tidak meniru yang jahat melainkan yang baik, dan memberikan dua contoh meninggikan diri sendiri dan penguasaan Diotrefes yang sewenang-wenang sebagai satu contoh yang jahat (ay. 9-11), dan laporan yang baik tentang Demetrius sebagai satu contoh yang baik (ay. 12). Dalam ayat 13 dan 14, sebagai kesimpulannya, Yohanes menyatakan harapan akan persekutuan yang lebih dekat (ay. 13-14a) dan meningkat dalam hal saling memberikan salam (ay. 14b).

F. Bagian-bagian: 1) pembukaan (ay. 1-4), 2) penyambutan terhadap sekerja-sekerja yang bepergian (ay. 5-8), 3) tidak meniru yang jahat melainkan yang baik (ay. 9-12), dan 4) kesimpulan (ay. 13-14).

IV. YUDAS

A. Penulis, tempat, dan waktu: Kitab ini ditulis oleh Yudas, seorang hamba Kristus. Yudas dan Yakobus adalah saudara Tuhan Yesus dalam daging (ay. 1 dan catatan 1). Karena bukti keadaan gereja yang merosot yang ada dalam kitab ini mirip dengan yang terjadi pada penulisan kitab 2 Petrus, maka kedua kitab ini pasti ditulis pada waktu yang sama, sekitar tahun 69 M, sebelum penghancuran Yerusalem pada tahun 70 M. Yudas mungkin menulisnya di Yerusalem atau Yudea. Menurut cita rasa Yahudi dalam kitab ini, kitab ini pasti ditujukan untuk kaum imani Yahudi.

B. Subyek: berjuang untuk iman.

C. Latar belakang: Surat Yudas ditulis pada waktu kemurtadan dan kemerosotan gereja.

D. Pemikiran sentral: Yudas dan Petrus (dalam suratnya yang kedua) memikul tanggung jawab untuk meniup sangkakala bagi kebenaran-kebenaran iman, menghukum hal-hal yang sama dan menekankan fakta bahwa siapapun juga yang mengambil jalan yang murtad akan menderita penghakiman Allah. Kita perlu belajar takut akan Allah dari kitab Yudas dan 2 Petrus dan sangat berhati-hati mengenai Persona Tuhan dan pekerjaan penebusanNya. Karena kita hidup dalam jaman yang murtad, khususnya kaum muda perlu mendapatkan peringatan. Kita semua harus memiliki suatu pengertian dasar tentang Firman Allah. Ini akan melindungi kita. Hari ini kita harus setia berjuang untuk iman sekali untuk selamanya bagi orang-orang kudus.

E. Sketsa umum: Setelah pembukaannya (ay. 1-2), Yudas menasehatkan kaum imani untuk berjuang bagi iman (ay. 3). Kemudian ia melanjutkan berbicara mengenai kemurtadan (ay. 4), menunjukkan contoh-contoh sejarah tentang penghakiman Tuhan atas kemurtadan (ay. 5-7), dan kejahatan-kejahatan kemurtadan serta penghukuman terhadap mereka di bawah penghakiman Tuhan (ay.8-19). Dalam ayat 20 sampai 23, ia menasehatkan kaum imani untuk membangun diri mereka sendiri dalam kekudusan, iman, dan hidup dalam Allah Tritunggal (ay. 20-21), dan memelihara orang lain dengan belas kasihan yang disertai ketakutan (ay. 22-23). Yudas menyimpulkan dengan memuji kepada Dia yang dapat menjaga kaum imani dan membawa mereka ke hadapan kemuliaanNya (ay. 24-25).

F. Bagian-bagian: 1) pembukaan kepada mereka yang terpanggil, yang terkasih, dan yang terpelihara (ay. 1-2), 2) berjuang bagi iman (ay. 3), 3) kefasikan-kefasikan kemurtadan (ay. 4), 4) contoh-contoh sejarah tentang penghakiman Tuhan atas kemurtadan (ay. 5-7), 5) kejahatan-kejahatan kemurtadan dan penghakiman terhadap mereka di bawah penghakiman Tuhan (ay. 8-19), 6) nasehat-nasehat bagi kaum imani (ay. 20-23), dan 7) kesimpulan pujian bagi Dia yang dapat menjaga dan membawa kaum imani ke hadapan kemuliaanNya (ay. 24-25).

V. WAHYU

A. Penulis, tempat, dan waktu: Rasul Yohanes menulis kitab ini kepada tujuh gereja di Asia sekitar tahun 90 M, sewaktu ia berada dalam pengasingan di pulau Patmos (1:1, 4, 9).

B. Subyek: Kristus sebagai sentralitas dari administrasi pemerintahan Allah oleh ekonomi Allah.

C. Latar belakang: Kitab Wahyu adalah kesimpulan tulisan-tulisan Yohanes. Seperti yang kita tunjukkan dalam pelajaran hayat Yohanes, tulisan-tulisan Rasul Yohanes itu terdiri dari tiga kategori ini: Injilnya, surat-surat Rasulinya, dan Wahyunya. Injil Yohanes adalah untuk membagikan hayat. Dalam Yohanes 10:10 Yesus berkata, "Aku datang supaya mereka mempunyai hayat dan mempunyainya dalam segala kelimpahan," dan di dalam Yohanes 12:24 Dia berkata, "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah." Dalam ayat-ayat ini kita melihat tentang membagikan hayat, yang merupakan pemikiran sentral dari Injil Yohanes. Surat-surat Rasul Yohanes adalah persekutuan untuk pertumbuhan hayat. Meskipun hayat telah dibagikan ke dalam kita, hayat itu perlu bertumbuh. Hayat bertumbuh oleh persekutuan. Oleh karena itu, dalam surat-surat Rasul Yohanes kita melihat persekutuan untuk pertumbuhan hayat. Dalam kategori yang terakhir dari tulisan-tulisan Yohanes, Wahyunya, kita melihat tentang penuaian hayat. Pertama, hayat dibagikan, kemudian hayat itu bertumbuh, dan akhirnya, hayat itu dituai. Tanpa Wahyu, kita hanya mempunyai pembagian hayat dan pertumbuhan hayat, tetapi tidak mempunyai penuaian hayat.

Wahyu juga adalah kesimpulan dari Perjanjian Baru, yang tersusun dari Injil, Kisah Para Rasul, dan Surat-Surat Rasuli, dan Wahyu. Dalam Injil kita melihat penaburan benih hayat, karena di dalam Injil, Yesus datang untuk menaburkan DiriNya sendiri ke dalam keinsanian sebagai benih hayat, menaburkan DiriNya sendiri ke dalam sejumlah kecil orang, seperti Petrus dan Yohanes. Kisah Para Rasul adalah penyebaran hayat. Dalam surat-surat Rasuli kita melihat pertumbuhan hayat. Konsep sentral dari semua surat Rasul yang ditulis oleh Paulus, Petrus, dan Yohanes, dan orang-orang lain adalah pertumbuhan hayat. Kita semua perlu bertumbuh dalam hayat. Di dalam kitab Wahyu kita melihat satu lagi, yaitu hasil panen hayat. Dalam Wahyu pasal empat belas kita melihat suatu ladang penuaian dan suatu hasil panen. Wahyu 14:15 berkata, "Maka keluarlah seorang Malaikat lain dari Bait Suci; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada Dia yang duduk di atas awan itu: "Ayunkanlah sabitMu itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk menuai; sebab tuaian di bumi sudah masak." Di dalam Wahyu 14, seluruh ladang itu dituai. Dengan ini kita melihat bahwa Wahyu adalah kesimpulan dari Perjanjian Baru.

Sebagai kitab yang terakhir dari Alkitab, Wahyu adalah kesimpulan, penyelesaian, perampungan dari seluruh wahyu ilahi, seluruh Alkitab. Alkitab memerlukan suatu kesimpulan yang demikian. Benih-benih kebenaran-kebenaran wahyu ilahi kebanyakan ditaburkan di dalam kitab Kejadian, kitab pertama dari Alkitab. Pertumbuhan sema benih ini terus berkembang di dalam kitab-kitab selanjutnya, khususnya dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, dan hasil panennya dituai di dalam kitab Wahyu. Misalnya, di dalam Kejadian ada keturunan ular, dan di dalam Wahyu di sana ada hasil panen ular. Maka, kebanyakan semua hal yang dicatat di dalam kitab ini bukan hal yang baru sepenuhnya, melainkan mengacu kepada hal-hal yang dicatat dalam kitab-kitab sebelumnya. Di dalam Kejadian ada benih wahyu ilahi, dalam kitab-kitab selanjutnya ada pengembangan wahyu ilahi ini, dan dalam kitab Wahyu ada hasil panen dari wahyu ilahi ini. Oleh karena itu, kita semua harus masuk ke dalam kitab ini, dan mengenalnya. Jika kita tidak mengenal kitab ini, kita tidak akan jelas mengenai wahyu Allah. Dalam perjalanan kita, kita sering tidak jelas akan jalur, dan jalannya, sampai kita mencapai tujuan kita. Setelah kita mencapai tujuan kita dan melihat kembali kepada jalan yang kita tempuh, kita menjadi sangat jelas. Dalam kitab Wahyu kita sampai pada tujuan dari seluruh Alkitab. Setelah sampai pada tujuan ini, maka kita dapat memahami Kitab ilahi ini.

D. Pemikiran sentral: Wahyu adalah satu kitab kesimpulan. Jika kitab Wahyu itu dihapus dari Alkitab, ini akan menjadi suatu kekurangan yang besar, karena hanya akan ada suatu permulaan tetapi tidak ada akhirnya. Meskipun ada permulaan dalam kitab Kejadian, tanpa kitab Wahyu maka tidak ada kesimpulan atau perampungan. Setelah memiliki suatu permulaan yang baik dan setelah melalui begitu banyak pekerjaan, maka Allah perlu memiliki suatu perampungan. Tanpa Wahyu maka tidak ada kesimpulan ekonomi Allah. Allah itu besar; Dia adalah Allah yang memiliki tujuan. Untuk perampungan tujuanNya, ekonomiNya harus digenapkan. Banyak pelajar Alkitab telah menolak perihal tentang ekonomi Allah. Jika kita tidak mempunyai Wahyu, maka kita tidak dapat melihat perampungan dari ekonomi Allah. Sebaliknya, kita bahkan akan sulit untuk memahami apa ekonomi Allah itu, karena kita tidak melihat hasilnya, hasil dari ekonomiNya. Tetapi dalam kitab ini, wahyu ilahi tentang ekonomi Allah itu begitu jelas karena kitab ini berisi kesimpulan tentang ekonomi Allah.

E. Sketsa umum: Wahyu, pertama adalah satu kitab tentang Kristus, kedua, adalah satu kitab tentang gereja, dan ketiga, adalah satu kitab tentang ekonomi Allah. Seluruh Alkitab mewahyukan tentang Kristus. Sebagai kesimpulan, penyelesaian, dan perampungan Alkitab, kitab Wahyu khususnya adalah "wahyu Yesus Kristus" (1:1). Meskipun kitab ini juga banyak mewahyukan hal lainnya, tetapi fokus dari wahyu kitab ini adalah Kristus. Beberapa aspek tentang Kristus, seperti visi tentang Dia sebagai Imam Besar di tengah-tengah gereja, merawat gereja dengan kasih tetapi dengan sikap menghakimi (1:13-16), visi tentang Dia sebagai Singa-Domba di tengah-tengah tahta Allah dan empat makhluk dan di tengah-tengah dua puluh empat tua-tua alam semesta, membuka tujuh meterai administrasi universal Allah (5:1 6:1), dan visi tentang Dia sebagai Malaikat Perkasa Lain yang turun dari langit untuk memiliki bumi (10:1-8; 18:1) belum pernah diwahyukan di dalam kitab-kitab lain seperti yang ada di dalam kitab Wahyu. Di dalam kitab ini wahyu tentang Kristus adalah unik dan ultima. Di dalam Injil, Kisah Para Rasul dan surat-surat Rasuli, kita tidak melihat bahwa Kristus memiliki tujuh mata, tetapi ini diwahyukan di dalam kitab Wahyu (5:6). Kristus, Juruselamat kita, memiliki tujuh mata. Betapa hebatnya! Wahyu tentang Kristus ini adalah unik. Di dalam Lukas 4:22 kita diberitahu bahwa "perkataan-perkataan kasih karunia" dikeluarkan dari mulut Kristus, tetapi di dalam Wahyu 1:16 pedang bermata dua keluar dari mulutNya. Lebih jauh lagi, di dalam Injil Yohanes berkata, "Lihatlah, Domba Allah" (1:29), tetapi di dalam kitab Wahyu salah satu tua-tua berkata, "Lihatlah, Singa dari suku Yehuda" (5:5). Maka, wahyu tentang Kristus dalam kitab ini adalah unik. Di dalam kitab lainnya tidak ada Kristus yang diwahyukan seperti dalam kitab Wahyu. Butir pertama dari isi kitab Wahyu adalah Kristus yang unik ini.

Di satu pihak, kitab ini memberikan "wahyu tentang Kristus" kepada kita dan di pihak lain, kitab ini memperlihatkan kepada kita "kesaksian tentang Yesus," yang khusus dan rampung (1:2, 9; 12:17; 19:10; 20:4). Kesaksian Yesus adalah gereja. Wahyu menyajikan tentang Kristus yang tersingkap dan gereja yang bersaksi. Di dalam kitab ini kita mempunyai suatu catatan yang khusus dan rampung tentang gereja. Di dalam kitab lain tidak ada gereja seperti yang diwahyukan di dalam kitab Wahyu. Kaki dian dalam pasal satu, kumpulan besar umat yang tertebus dalam pasal tujuh, perempuan dengan anak laki-laki dalam pasal dua belas, tuaian dengan buah-buahnya yang telah masak di dalam pasal empat belas, para pemenang di atas lautan kaca di dalam pasal lima belas, Mempelai Perempuan yang siap menikah dan tentara Kristus yang berperang di dalam pasal sembilan belas, dan Yerusalem Baru di dalam pasal dua puluh satu dan dua puluh dua semuanya adalah kesaksian Yesus. Kesaksian Yesus adalah roh substansi, watak, dan karakteristik nubuat (19:10). Kristus adalah Saksi (1:5), kesaksian, ekspresi Kristus. Gereja adalah reproduksi dari kesaksian, ekspresi Allah dalam Kristus. Wahyu khusus tentang gereja di dalam kitab ini sangat penting, dan kita semua harus melihatnya.

Isi dari kitab Wahyu ini juga meliputi ekonomi Allah. Ekonomi Allah adalah ekonomi universal dan kekalNya. Di dalam kitab ini kita melihat administrasi universal dan kekalNya adalah untuk melaksanakan ekonomiNya. Ruang lingkup administrasiNya adalah universal dan waktnya adalah kekal. Dalam administrasi Allah kelompok pertama dari butir-butir ini adalah tujuh meterai. Empat meterai yang pertama mencakup sejarah dunia dari kenaikan Kristus sampai akhir jaman ini (6:1-8). Meterai kelima berisi tentang jeritan dari orang-orang kudus yang mati martir (6:9-11). Ini akan terjadi pada penutupan akhir jaman ini dan mendekati permulaan kesusahan besar. Meterai kenam terjadi menjelang waktu kesusahan besar, berisi tentang langit dan bumi yang bergoncang (6:12-17). Meterai ketujuh, akan berakhir sampai kekekalan, terdiri dari tujuh sangkakala. Empat sangkakala pertama adalah penghakiman atas bumi, laut, sungai-sungai, dan matahari, bulan, dan bintang (8:7-12). Sebagai hasil dari penghakiman dalam empat sangkakala ini, bumi bukan lagi merupakan suatu tempat yang layak bagi orang-orang untuk hidup di dalamnya. Sangkakala kelima, celaka yang pertama sebagai penghakiman atas manusia, akan menjadi permulaan dari masa kesusahan besar (8:13 9:11). Sangkakala keenam, yaitu celaka kedua adalah sebagai suatu penghakiman lebih jauh atas manusia, adalah suatu bagian dari masa kesusahan besar (9:12-21). Meterai ketujuh agak sulit. Sangkakala ini terdiri dari kerajaan kekal Kristus, celaka yang ketiga yang meliputi tujuh cawan, penghakiman orang-orang yang mati, pemberian pahala kepada orang-orang kudus, dan orang-orang yang takut akan Allah, dan pembinasaan atas orang-orang yang membinasakan bumi (11:14-18). Celaka yang ketiga, adalah butir kedua dari tujuh sangkakala, akan menjadi penutup masa kesusahan besar. Setelah ini akan ada pemberian pahala kepada para nabi, orang-orang kudus, dan orang-orang yang takut akan nama Allah. Sangkakala ketujuh juga meliputi penghakiman atas orang-orang mati dan pembinasaan atas orang-orang yang membinasakan bumi. Yang membinasakan bumi adalah Satan, Antikristus, nabi palsu, dan semua pengikutnya. Maka, sangkakala ketujuh mencakup segala sesuatu dari akhir masa kesusahan besar sampai kekekalan.

Tujuh cawan, adalah suatu bagian isi yang negatif dari tujuh sangkakala sebagai malapetaka terakhir dari murka Allah atas manusia, akan menjadi akhir dari masa kesusahan besar (15:1, 6-8; 16:1-21). Tujuh cawan, seperti tujuh meterai dan tujuh sangkakala, terdiri dari satu kelompok empat yang pertama dan kemudian kelima, keenam, dan ketujuh. Pengelompokkan ini sangat bermakna. Tentunya penulis dari kitab Wahyu ini pasti adalah Allah. Siapa lagi yang memiliki hikmat demikian menuliskannya? Jika kitab ini ditulis menurut imajinasi Yohanes, maka Yohanes pasti Allah. Kitab Wahyu ini benar-benar disusun dengan cara yang ajaib.

F. Bagian-bagian: 1) pembukaan wahyu Kristus dan kesaksian Yesus (1:1-8), 2) "hal-hal yang telah kamu llihat" (1:9-20), 3) "hal-hal itu adalah" tujuh gereja lokal (2:1 3:22), 4) "hal-hal yang akan terjadi" (4:1 22:5), dan 5) kesimpulan peringatan Tuhan yang terakhir dan doa rasul yang terakhir (22:6-21).