← Daftar isi Sikap Kita terhadap Alkitab Cara untuk Menikmati Alkitab – dengan Membiarkan Firman Kristus Diam DI dalam Kita dengan Segala Kekayaannya · bab 13/24

KITAB-KITAB PUISI AYUB SAMPAI KIDUNG AGUNG

Pembacaan Alkitab

Ay. 1:6-12, 22; 2:3-10; 42:7, 10, 12a; Maz. 8; 133; 150;

Ams. 1:1-4; 3:5-6; 4:23; 8:12, 22-36; 9:10; 29:18; Pkh. 1:1-2, 9;

Pkh. 3:1; 12:1, 13-14; S.S. 1:5-8; 4:16; 5:6-8; 8:14.

Garis Besar

I. Ayub

A. Penulis, tempat, dan waktu

B. Subyek

C. Latar belakang

D. Pemikiran sentral

E. Sketsa umum

F. Bagian-bagian

II. Mazmur (A sampai F)

III. Amsal (A sampai F)

IV. Pengkhotbah (A sampai F)

V. Kidung Agung (A sampai F)

Ada lima kitab di dalam Alkitab yang dipertimbangkan sebagai kitab puisi: Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung. Kitab Ratapan juga puitis dalam bentuknya, tetapi kitab itu dianggap sebagai suatu tambahan bagi kitab Yeremia, bahkan dinyatakan sebagai "Kitab Yeremia Kedua" oleh beberapa penulis jaman dulu; oleh karena itu, kitab Ratapan ini tidak termasuk di antara kitab-kitab puisi.

Isi kitab-kitab puisi itu adalah pengalaman rohani yang bermacam-macam yang didapatkan oleh umat Allah di dalam penghidupan mereka, diekspresikan melalui puisi karena mereka digerakkan oleh Roh Kudus; itu adalah pencurahan hati mereka. Maka, puisi di dalam Alkitab itu tidak abstrak, tidak praktis, atau tidak realitas.

I. AYUB

A. Penulis, tempat, dan waktu: Ada perselisihan besar tentang kepenulisan kitab Ayub. Hal-hal yang tercatat di dalam kitab ini terjadi sebelum jaman Musa dan mungkin sama dengan jaman Abraham, yaitu kira-kira dua ribu tahun sebelum Kristus. Ada beberapa yang mengatakan bahwa kitab ini ditulis oleh Elihu, ada beberapa yang mengatakan mungkin Musalah penulisnya. Ayub tinggal di Ur, bagian Selatan Edom, sebelah Barat dataran Arab, perbatasan Kanaan. Tanah Ur itu milik Edom (Rat. 4:21). Peristiwa-peristiwa yang tercatat di dalam kitab ini mungkin terjadi di dalam waktu satu tahun.

B. Subyek: Umat Allah mempunyai visi dan pengalaman yang lebih dalam dan lebih tinggi terhadap serangan Setan.

C. Latar belakang: Ayub adalah tidak bercacat cela dan benar di hadapan Allah. Ia adalah seorang yang takut akan Allah dan menjauhkan kejahatan. Ia menjadi suatu kemuliaan bagi Allah di hadapan Setan. Setan mengira bahwa Ayub mengasihi Allah karena Allah memberkatinya dengan banyak berkat-berkat fisik, maka ia meminta dan menerima ijin dari Allah untuk mengujinya dengan menghancurkan segala sesuatu yang ia miliki. Akhirnya, Allah dan Ayub menang. Ayub terbukti mengasihi Allah bukan karena situasi luarannya, dan Setan dikalahkan.

D. Pemikiran sentral: Allah mengijinkan Setan menyerang umat yang beribadah sehingga mereka dapat memiliki pengalaman-pengalaman dan visi-visi yang lebih dalam. Kita tidak dapat memahami mengapa hal-hal tertentu terjadi, tetapi kita percaya " bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia" (Rm. 8:28).

E. Sketsa umum: Allah memegahkan Ayub di hadapan Setan. Setan mendakwa Ayub di hadapan Allah sebanyak dua kali. Ia mendapat ijin untuk merusak apa yang Ayub miliki dan untuk membuat Ayub menderita. Selama penyerangan Setan, ketiga teman Ayub datang mengunjunginya. Mereka berusaha untuk menghibur Ayub selama penderitaannya, tetapi, karena mereka tidak mengenal kehendak Allah, mereka hanya dapat memberikan opini-opini mereka. Ayub agak menderita karena mereka. Elihu, seorang muda, yang mempunyai banyak pengetahuan tentang Allah, mengatakan sesuatu yang lebih baik; namun, karena ia kurang matang, ia juga tidak dapat membantu Ayub.

Ketika Allah menampakkan diri dan berbicara kepada Ayub muka dengan muka, ia memahami apa yang terjadi. Ia melihat Allah. Ia mengenal Allah. Semua masalahnya terpecahkan. Puji Tuhan! Apa yang kita perlukan adalah mengontaki Allah.

F. Bagian-bagian: 1) Pembukaan (1:1---2:10), 2) Ayub dan tiga temannya (2:11---31), 3) Ayub dan Elihu (psl. 32---37), 4) Ayub berbicara dengan Allah muka dengan muka (ps. 38---42:9), dan 5) kesimpulan (42:10---17).

II. MAZMUR

A. Penulis, tempat, dan waktu: Ada lebih banyak penulis kitab ini dari pada kitab-kitab lainnya di dalam Alkitab. Daud menulis Mazmur paling banyak; oleh karena itu, Mazmur kadang-kadang disebut Mazmur Daud. Menurut bagian atas Mazmur, tujuh puluh tiga Mazmur ditulis oleh Daud; dua belas Mazmur ditulis oleh Asaf; satu Mazmur ditulis oleh Haman; satu Mazmur ditulis oleh Etan. Sepuluh Mazmur ditulis oleh bani Korah. Dua Mazmur ditulis oleh Salomo. Satu Mazmur ditulis oleh Musa. Ada lima puluh Mazmur yang tidak mempunyai seorang pemimpin. Dari lima puluh Mazmur yang tanpa pemimpin itu, ada beberapa yang ditullis oleh Daud, seperti: Mazmur 2 (Kis. 4:25), Mazmur 95 (Ibr. 4:7), Mazmur 96 (1 Taw. 16:23-33), dan Mazmur 105 (1 Taw. 16:8-22). Meskipun ada banyak orang yang menulis Mazmur, kitab itu diinspirasikan oleh satu Roh Kudus.

Kebanyakan dari Mazmur itu mungkin ditulis di Israel, kecuali Mazmur 90, yang ditulis oleh Musa di padang belantara.

Mazmur yang paling mula-mula ditulis oleh Musa kira-kira tahun 1500 SM (Maz. 90), dan yang terakhir mungkin Mazmur 137, yang ditulis setelah bani Israel dibawa ke dalam penawanan.

B. Subyek: pujian-pujian kaum imani yang mewahyukan Kristus dan menggambarkan gereja.

C. Latar belakang: Mazmur adalah kitab puisi yang kedua. Kitab Ayub memimpin kita ke dalam sekolah Allah untuk dididik supaya mengenal Allah. Mazmur memimpin kita ke dalam Ruang Maha Kudus agar kita bersekutu dengan Allah melalui doa-doa, aspirasi-aspirasi, meditasi-meditasi, kedambaan-kedambaan dan pujian-pujian. Semua orang Kristen mengetahui bahwa di dalam Alkitab ada satu kitab yang menakjubkan yang disebut Mazmur. Namun banyak di antara mereka yang hanya mengenal bahwa kitab ini menakjubkan; mereka tidak dapat memberitahukan mengapa kitab itu begitu menakjubkan. Mazmur sungguh sangat memberi kesan kepada para pembacanya. Siapa saja yang membaca Mazmur pasti terjamah. Penyebab Mazmur begitu menjamah itu disebabkan karena Mazmur bukan hanya ajaran-ajaran; Mazmur itu berperasaan dan memberi kesan kepada kaum imani yang ibadah di dalam pengalaman mereka. Lebih jauh lagi, ekspresi-ekspresi ini dipakai dalam memuji Allah, bukan dalam perkataan yang biasa. Ini bukanlah pujian-pujian menurut doktrin, tetapi memuji menurut perasaan-perasaan dan kesan-kesan yang didapatkan kaum imani yang ibadah di dalam pengalaman-pengalaman mereka.

D. Pemikiran sentral: Mazmur itu adalah ekspresi dalam pujian mereka kepada Allah, dari perasaan-perasaan dan kesan-kesan dari kaum imani yang ibadah di dalam pengalaman-pengalaman mereka, di dalam dan melaluinya Kristus terwahyu dan Gereja sebagai rumah Allah dan kota Allah dilambangkan.

E.Sketsa umum: Kita dapat melihat Mazmur dari sudut pandang insani atau dari sudut pandang ilahi. Dari sudut pandang insani Mazmur itu satu hal dan dari sudut pandang ilahi Mazmur itu merupakan hal yang lain lagi. Menurut konsep insani Mazmur itu satu hal, tetapi menurut konsep ilahi Mazmur itu merupakan hal yang lain lagi. Dari sudut insani, kita dapat melihat bahwa sentral dan isi dari seluruh Mazmur itu adalah pengalaman-pengalaman kaum imani mengenai belas kasihan, kebaikan, kasih, kesetiaan, kekuatan dan kemuliaan Allah. Mereka begitu banyak mengalami kebaikan Allah, sehingga mereka memuji Allah dengan semua aspek pengalaman mereka akan Allah. Ini adalah konsep insani, ini adalah sudut pandang insani. Tetapi menurut konsep ilahi dan sudut pandang ilahi, sentral dan isi semua pujian itu adalah Kristus, rumah Allah dan kota Allah. Kristus adalah sentral, dan gereja yang dilambangkan oleh rumah dan kota, juga adalah sentralnya. Kristus dan gereja adalah sentral dan isi dari semua pujian Mazmur itu. Oleh karena itu, di dalam segala pujian kita, kita harus mempunyai perasaan-perasaan dan kesan-kesan yang berasal dari pengalaman kita; juga harus mempunyai Kristus dan gereja sebagai sentral dan isinya.

F. Bagian-bagian: Mazmur dibagi ke dalam lima bagian, yang disebut kitab-kitab. Tidak ada seorangpun tahu siapa yang membagi Mazmur itu ke dalam lima kitab, ataupun mengapa mereka melakukannya. Telah dipercayai bahwa Kitab I disusun oleh Daud, Kitab II oleh Hizkia, Kitab III oleh Yosia, dan Kitab IV, V oleh Ezra dan Nehemia. Mengenai siapa yang menyusunnya, tentunya satu hal; yaitu adalah pekerjaan Roh Kudus yang mengatur Mazmur itu ke dalam lima kitab melalui tangan manusia.

Ketika Anda melihat llima kitab ini menurut pengalaman bani Israel, Anda akan melihat bahwa kitab-kitab itu sesuai dengan lima kitab Musa secara berturut-turut. Tetapi menurut pengalaman rohani, kitab-kitab itu memperlihatkan kepada kita langkah-langkah yang memuncak akan pengalaman Kristus dan gereja. Mari kita melihat kitab-kitab itu menurut dua pandangan ini.

Menurut pengalaman bani Israel:

1. Kitab I (Maz. 1---41) sesuai dengan kitab Kejadian.

a. Berkat manusia (Maz. 1)

b. Kejatuhan manusia (Maz. 2---15, manusia menjadi musuh Allah karena kejatuhan itu).

c. Pemulihan manusia (Maz. 16---41, manusia dipulihkan ke posisi berkat karena penyelamatan).

2. Kitab II (Maz. 42---72) sesuai dengan kitab Keluaran.

a. Umat Allah, bani Israel menderita penekanan dan menjerit (Maz. 42---49)

b. Sang Penebus (Maz. 50---60)

c. Penebusan (Maz. 61---72, Allah kali membawa kembali umatNya dari keempat penjuru bumi pada kedatanganNya yang kedua kali, membawa mereka masuk ke dalam kerajaanNya, seperti yang Dia lakukan pertama kali sewaktu Dia membawa mereka keluar dari Mesir masuk ke tanah permai.)

3. Kitab III (Maz. 73---89) sesuai dengan Imamat.

a. Allah itu Kudus. Dia hanya mempunyai suatu tempat kudus dan suatu umat yang terpisah, suatu umat yang kudus.

4. Kitab IV (Maz. 90---106) sesuai dengan kitab Bilangan.

a. Kidung ini dimulai dengan kidung Musa sewaktu berkelana di padang belantara. Kidung ini membicarakan tentang pengalaman bani Israel di dalam kitab Bilangan, yang menceritakan bagaimana generasi bani Israel yang lebih tua mati di padang belantara disebabkan karena dosa-dosa mereka. Bilangan adalah sejilid kitab tentang padang belantara atau sejilid kitab tentang tanah. Pemikiran sentral kitab ini adalah tanah. Bani Israel, sewaktu berkelana di padang belantara, mereka mengabaikan tanah yang lebih indah yang di dalamnya mereka mendapatkan perhentian; mazmur kerajaan di dalam kitab ini mewahyukan bahwa Allah akan membuat umatNya mendapat perhentian di tanah permai.

5. Kitab V (Maz. 107---150) sesuai dengan kitab Ulangan.

a. Pemikiran sentral kitab ini adalah firman Allah, dan kitab Ulangan adalah pengucapan kembali firman Allah. Ini khususnya dijelaskan di dalam Mazmur 119, yang di dalamnya semua ajaran diikuti dengan memelihara hukum Allah.

Menurut pengalaman-pengalaman rohani akan Kristus dan gereja:

1. Kitab I (Maz. 1---41) mengindikasikan bagaimana maksud Allah adalah untuk memalingkan kaum imani yang menuntut dari hukum taurat kepada Kristus sehingga mereka dapat menikmati rumah Allah.

2. Kitab II (Maz. 42---72) mengindikasikan bagaimana kaum imani mengalami Allah dan rumahNya dan kotaNya melalui penderitaan, peninggian, dan pemerintahan Kristus.

3. Kitab III (Maz. 73---89) mengindikasikan bagaimana kaum imani, di dalam pengalaman-penglaman mereka, menyadari bahwa rumah dan kota Allah dengan segala kenikmatannya hanya dapat dipelihara dan dipertahankan dengan Kristus yang secara tepat diapresiasikan dan ditinggikan oleh umat Allah.

4. Kitab IV (Maz. 90---106) mengindikasikan bagaimana kaum imani, disatukan dengan Kristus, menjadi satu dengan Allah sehingga Dia dapat memulihkan gelarNya di seluruh bumi melalui Kristus di dalam rumah dan kotaNya.

5. Kitab V (Maz. 107---150) mengindikasikan bagaimana rumah dan kota Allah menjadi pujian, keamanan, dan kedambaan kaum imani, dan bagaimana Kristus datang untuk memerintah atas seluruh bumi melalui rumah dan kota Allah.

III. AMSAL

A. Penulis, tempat, dan waktu: Seperti halnya Mazmur, Amsal juga adalah suatu kumpulan; kitab ini bukan ditulis oleh satu orang. Seperti halnya Daud adalah pengarang yang menyumbangkan Mazmur yang paling penting, Salomo juga adalah pengarang Amsal yang paling berarti (1:1; 10:1; 25:1). Salomo menulis tiga ribu amsal (1 Raj. 4:32; cf. Pkh. 12:9), kitab ini berisi kumpulan amsal pilihan yang paling baik di antara amsal-amsal. Sebagai tambahan bagi amsal-amsal yang Salomo tulis sendiri, ia juga mengumpulkan sejumlah perkataan tradisionil dan populer serta mengubahnya ke dalam amsal; di dalam kitab ini perkataan-perkataan itu ditunjukkan sebagai "kata-kata bijak" (22:17; 24:23). Pasal 30 terdiri dari amsal Agur; pasal 31 adalah perkataan-perkataan Lemuel.

Asal mula kitab ini adalah sebagai berikut: pertama, dari antara tiga ribu amsal Salomo, ada beberapa amsal yang terpilih yang merupakan kutipan yang lebih penting dan teratur. Kemudian, selama jaman Hizkia, raja ini menambahkan beberapa amsal dari kumpulan nenek moyangnya (psl. 25---29). Terakhir, amsal Agur dan Lemuel ditambahkan, maka apa yang kita miliki hari ini adalah kitab Amsal yang lengkap.

Mengenai identitas para penulis atau proses yang olehnya kitab amsal itu disusun, amsal-amsal di dalam kitab ini bukanlah nasehat-nasehat biasa yang mendorong manusia menjadi saleh, atau ajaran berbudaya dan tingkah laku yang baik, melainkan merupakan ayat-ayat emas yang diinspirasikan oleh Roh Kudus untuk membuat manusia menjunjung dan menghormati Allah.

B. Subyek: memperhidupkan suatu kehidupan yang ibadah oleh hikmat Allah---Kristus.

C. Latar belakang: Amsal telah ada sejak jaman dahulu, dan amsal-amsal itu populer kuhsusnya di Timur. Orang-orang memakainya untuk mendidik anak-anak muda, sebab pada masa itu buku-buku sangat jarang dan mahal, tidak mudah untuk mendapatkannya, tetapi amsal itu ringkas dan sederhana, mudah untuk diingat. Seringkali satu amsal yang singkat, berbobot dan kuat menjadi moto seseorang, yang mempengaruhi cara penghidupannya sepanjang seluruh hidupnya.

D. Pemikiran sentral: Carilah hikmat maka Anda dapat memperhidupkan suatu kehidupan ibadah di atas bumi yang dapat diterima Allah.

E. Sketsa umum: Permulaan kitab ini dengan jelas menyatakan: "Amsal-amsal Salomo...untuk mengenal hikmat dan didikan" (1:1, 2). Maka tujuan kitab ini adalah mencari "hikmat." "Nasehat," "kebijakan," "kebijaksanaan," "didikan," "pengertian," dan "pengetahuan," dibicarakan di dalam kitab ini, semuanya adalah "hikmat," sedangkan "simpel," "dungu," "ketololan," "kurang pengertian," "kebodohan", "kekejian," dan "tanpa pengetahuan" semuanya mengacu kepada lawan dari "hikmat."

" Hikmat" di sini bukan mengacu kepada "hikmat dunia" (1 Kor. 1:20). Filosofi, pengetahuan, perasan umum, pemahaman, pengenalan, dan bakat insani bukanlah yang dimaksud dengan "hikmat." Tetapi, hikmat yang dibicarakan di sini mengindikasikan pengetahuan manusia dan takut akan Allah. "Takut akan Yehova adalah permulaan hikmat dan pengetahuan akan Yang Maha Kudus adalah pengertian" (9:10). Allah itu maha tahu. Hikmat yang sejati adalah mengenal Dia dan memahami jalanNya; yaitu takut akan Dia dan melakukan kehendakNya. Jika Anda mempunyai hikmat yang demikian, maka Anda akan memperlihatkan kekudusan, kebenaran, kebaikan, karakteristik-karakteristik yang mulia, dan semua kebajikan yang melampaui di dalam penghidupan Anda.

Tetapi bagaimanakah seseorang dapat mencapai hikmat yang demikian? Kaum imani Perjanjian Baru harus mengenal dengan dalam dan takut akan Allah dengan tegas. Kita, kaum imani Perjanjian Baru lebih diberkati daripada mereka, karena kita hanya perlu percaya di dalam Tuhan Yesus. "Hikmat" yang ada di jaman dahulu, yang sejak mulanya ada di hadirat Allah, yang olehnya Dia menciptakan alam semesta (8:22-31) telah menjadi daging dan diam di antara kita, dan hikmat ini adalah Tuhan kita. Siapa saja yang memiliki Tuhan Yesus, memiliki "hikmat" itu, karena Dia adalah hikmat Allah (1 Kor. 1:24), dan Dia telah menjadi hikmat bagi kita dari Allah (1 Kor. 1:30).

Meskipun kitab ini ada di dalam Perjanjian Lama, tetapi kitab ini juga bernilai bagi kaum imani Perejanjian Baru, karrena kitab ini penuh dengan nesehat bagaimana berhubungan dengan orang-orang, standar-standar tingkah laku, prinsip-prinsip perintah bagi jalan seorang yang percaya, bagaimana untuk dibebaskan dari jerat yang jahat, dan bagaimana menerima persejutuan Allah. Bagi kaum imani yang mencari dan menantikan Allah, 3:5-6 dan 8:17 ada kata-kata hiburan dan jaminan. Terhadap kaum imani yang menderita, didisipilnkan, 3:12 ada perkataan yang penuh bantuan dan bimbingan.

F. Bagian-bagian: Amsal terutama tersusun dari ayat-ayat emas yang berdiri sendiri, tidak perlu berhubungan dengan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya. Karena itu, lebih sulit membaginya ke dalam bagian-bagian daripada kitab lainnya.

Kita membaginya ke dalam lima bagian menurut isi: 1) prakata (1:1-6), 2) pentingnya mencari hikmat dan bahaya kekurangannya (1:7---9), 3) perbandingan antara kebijaksanaan dan kebodohan, kesalehan dan kejahatan (psl. 10---24), 4) amsal-amsal yang dikumpulkan selama jaman Hizkia (psl. 25---29), dan 5) amsal-amsal umum: a) perkataan-perkataan Agur (ps. 30) dan b) perkataan-perkataan Lemuel (ps. 31).

IV. PENGKHOTBAH

A. Penulis, tempat, dan waktu: Meskipun kitab ini tidak jelas menyebutkan Salomo sebagai pengarangnya, dan meskipun banyak pembaca Alkitab menandai kepenulisannya kepada orang lain, namun menurut isi seluruh kitab itu kita dapat mengatakan dengan pasti bahwa Salomolah yang menulisnya. Kita dapat mengatakan ini karena penulisnya adalah:

1. Anak Daud (1:1).

2. Seorang raja di Yerusalem (1:1).

3. Seorang manusia dengan hikmat besar, di atas semua yang sebelum dia di Yerusalem (1:16; Raj. 3:12).

4. Seorang yang telah melakukan pekerjaan-pekerjaan besar dan membangun rumah (2:4; 1 Raj.7:1-2).

5. Pemilik banyak isteri dan gundik (2:8 (Darby); 1 Raj. 11:1-3).

6. Seorang yang telah mengumpulkan bagi dirinya sendiri perak dan emas dan harta raja-raja yang istimewa dan harta dari propinsi-propinsi (2:8; 1 Raj. 9:28; 10:10-11, 14-24).

7. Seorang yang telah menyusun banyak amsal (12:9; 1 Raj. 4:32).

Di dalam Alkitab tidak ada seorangpun yang dapat memenuhi semua syarat yang di atas kecuali Salomo; karena itu, tidak ada orang lain lagi yang mungkin dapat menulis kitab ini. Kitab ini ditulis di Israel selama tahun-tahun akhir Salomo.

B. Subyek: Suatu penghidupan dan pencarian di luar Allah tidak akan pernah dapat memimpin kepada kepuasan yang sejati.

C. Latar belakang: Roh Kudus memilih Salomo untuk menulis kitab ini karena ia telah melalui masa kegagalan. Allah telah mendirikan dia sebagai raja, dan telah mengaruniakan hikmat yang besar kepadanya. Pertama, ia memakai hikmat ini untuk memelihara umat Allah, tetapi kemudian ia menjadi sombong karena hikmatnya yang besar dan mengikuti hawa nafsunya, memberontak terhadap Allah dan mencari kemewahan duniawi. Allah telah memerintahkan mengenai raja-raja, "Hanya, janganlah ia memelihara banyak kuda dan janganlah ia mengembalikan bangsa ini ke Mesir untuk mendapat banyak kuda, sebab TUHAN telah berfirman kepadamu: jangan sekali-kali kamu kembali melalui jalan ini lagi " (Ul. 17:16), tetapi ia "mempunyai empat ribu kandang untuk kereta-keretanya dan dua belas ribu orang pasukan berkuda" (I Raj. 4:26), " dan kuda-kuda untuk Salomo didatangkan dari Mesir" (1 Raj. 10:28). Allah telah membuat perintah lain mengenai raja-raja: " Juga janganlah ia mempunyai banyak isteri, supaya hatimu jangan menyimpang" (Ul.17:17), tetapi ia " Mempunyai tujuh ratus isteri...dan tiga ratus isteri; iasteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain" (I Raj. 11:3-4). Perintah lain yang telah Allah berikan mengenai raja-raja adalah: "Emas dan perakpun janganlah ia kumpulkan terlalu banyak" (Ul. 17:17), tetapi ia mempunyai sejumlah emas dan perak yang menakjubkan, ...yang tidak terhitung jumlahnya dan "sama seperti batu" (1 Raj. 10:21, 27). Semua perintah mengenai raja-raja telah dilanggar oleh Salomo. Ia mempunyai posisi yang tertinggi, hikmat yang paling besar, dan karunia-karuni yang top. Orang dapat mengatakan bahwa tidak ada orang lain di bawah matahari ini yang lebih memenuhi syarat mencari pendidikan, kemasyhuran, kenikmatan, dan kesenangan duniawi selain darinya. Akhirnya ia mencapai satu titik di mana ia hanya dapat mengatakan, " Kesia-siaan dari segala kesia-siaan...kesia-siaan dari segala kesia-siaan, segala sesuatu adalah sia-sia" (1:2). Maka kita dapat juga mengatakan bahwa tidak ada orang lain di bawah matahari ini yang lebih bersyarat untuk menuliskan kitab Pengkhotbah ini selain daripada Salomo.

Di dalam tahun-tahun akhir Salomo, setelah pemulihannya, Roh Kudus menggerakkan dia untuk menulis kitab Pengkhotbah, yang mengingatkannya bahwa waktu yang telah ia hamburkan diluar Allah yang mencari dunia telah membuatnya menjadi kecewa dan tidak puas, yang mengakibatkan kepesimisan dan kekecewaan. Kemudian, setelah ia dipulihkan sepenuhnya, Roh Kudus menggerakkannya lebih jauh lagi untuk menulis kitab Kidung Agung, yang mengekspresikan kepuasan yang sejati yang telah ia capai hanya dengan berpaling ke hadirat Allah.

D. Pemikiran sentral: Seorang manusia boleh mendapatkan segala pendidikan, pengetahuan, harta, kekayaan, kemasyhuran, kedudukan, kenikmatan, dan kesenangan yang diberikan dunia, namun jika ia tidak mempunyai Allah, segalanya itu tetap adalah kesia-siaan, karena akhirnya adalah" mati satu kali dan setelah itu dihakimi" (Ibr. 9:27).

E. Sketsa umum: Pengarang/penulis memakai beberapa pengalaman untuk membuktikan poinnya:

1. Pelajaran fenomena alamiah mengakibatkan kejijikan, menyebabkan seseorang merasa bahwa semuanya itu menjemukan dan tidak ada sesuatu yang baru (1:4-11).

2. Pencarian hikmat dan pengetahuan juga merupakan gangguan/siksaan roh (1:12-18).

3. Pencarian sukacita (2:1-11)---kesenangan (ay. 1), anggur (ay. 3) rumah-rumah dan kebun-kebun (ay. 4-6), kepunyaan (ay. 7), musik (ay. 8)---akhirnya juga hanya merupakan kesia-siaan.

4. Hikmat mengatasi kebodohan, tetapi keduanya mempunyai akibat/akhir yang sama, tetapi adalah kesiasiaan (2:12-16).

5. Kepercayaan akan nasib juga tetap tidak memuaskan (3:1-15).

6. Menjadi pesimis, kecewa/putus asa, dan tersiksa, tetap tidak dapat dipuaskan (3:16-4:16).

7. Menampilkan semua ritual agama, orang masih tetap merasa bahwa Allah itu jauh sekali dan tidak tercapai (5:1-8).

8. Pencarian kemakmuran dan kekayaan tidak dapat memuaskan dan juga adalah kesia-siaan (5:9---6:12).

9. Pencarian/pengejaran hikmat yang besar dan kebajikan-kebajikan yang lebih tinggi dan kesusilaan (7:1---12:12) tetap menghasilkan" kesia-siaan dari segala kesia-siaan, semuanya adalah sia-sia" (12:8).

F. Bagian-bagian: 1) judul (1:1-3), 2) pengalaman (1:4---12:12), dan 3) kesimpulan (12:13-14).

V. KIDUNG AGUNG

A. Penulis, tempat, dan waktu: Kidung Agung ditulis oleh Salomo di Israel selama tahun-tahun akhirnya, dan kitab ini juga sulit dipahami seperti Amsal dan Pengkhotbah.

B. Subyek: Mengasihi Tuhan untuk mengalami Dia sebagai hayat bagi pembangunan Tubuh Kristus, sang mempelai.

C. Latar belakang: Kitab ini setelah Pengkhotbah dan merupakan suatu kitab yang berlawanan dengannya dan sebagai penambah untuknya.Pengkhotbah memberitahu kita bahwa jika manusia meninggalkan Allah dan mencari sesuatu di bawah matahari ini, hasilnya adalah "kesia-siaan dari segala kesia-siaan." Kidung Agung memberi tahu kita bahwa jika manusia rindu akan Tuhan, mengejar segala sesuatu di dalam Kristus, hasilnya adalah kepuasan dari segala kepuasan, segalanya adalah kepuasan.

Puisi adalah ekspresi pergerakan di dalam hati manusia, yang merupakan tulisan pengalaman-pengalaman kehidupan manusia. Kelima kitab puisi ini---Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung---juga memperlihatkan kerelaan Roh Kudus, yang memberitahukan pengalaman-pengalaman dan pencarian-pencarian kita di jalan rohani ini. Melalui penderitaan (Ayub), kita dibawa masuk ke dalam doa dan persekutuan di hadirat Allah (Mazmur), melalui doa kita menerima hikmat dan wahyu (Amsal) dan dibawa masuk ke dalam realisasi kesia-siaan dari segala hal di luar Allah (Pengkhotbah) dan ke dalam kepuasan di dalam Kristus (Kidung Agung).

D. Pemikiran sentral: Kaum imani perlu mencari Tuhan untuk bersekutu denganNya di dalam kasih. Pencarian ini membuat mereka keluar dari diri mereka sendiri melalui pekerjaan salib dan ditransformasi oleh Roh itu. Hasilnya adalah Tubuh Kristus, mempelai Kristus yang siap untuk diangkat ke dalam pesta pernikahan dengan Tuhan.

E. Sketsa umum: Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa Salomo menulis kitab ini berdasarkan salah satu kisah cintanya sendiri, yang mungkin telah terjadi sebagai berikut:

Di Efraim, Baalhaman, Salomo mempunyai sebuah kebun anggur yang ia berikan kepada sebuah keluarga dari orang Efraim untuk dipelihara olehnya. Ayah mereka telah meninggal. Ibu mereka sedikitnya mempunyai dua orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan; Kedua anak perempuan itu adalah Sulamit dan adiknya (1:6; 8:8). Ketika Sulamit ada di rumah, kakaknya menyalahgunakannya, memaksanya membiarkan kebun anggurnya untuk memelihara kebun anggur mereka, dan juga memaksanya untuk menggembalakan domba-dombanya, sehingga wajahnya menjadi hitam oleh matahari. Suatu hari seorang pemuda cakap dengan pakaian gembala datang dari jauh, memberikan perhatian khusus kepada perempuan muda itu dan berteman dengannya. Kemudian Sulamit berkata, " Janganlah perhatikan bahwa aku hitam, karena terik matahari membakar aku. Putera-putera ibuku marah kepadaku, aku dijadikan mereka penjaga kebun-kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga. Ceritakanlah kepadaku, jantung hatiku, di manakah kakanda menggembalakan domba" (Kid. 1:6-7). Gembala berespon dengan memanggilnya" Hai jelita di antara wanita" (Kid. 1:8). Setelah sejangka waktu, mereka jatuh cinta. Suatu hari, sang gembala mengucapkan selamat berpisah, dan berjanji akan segera kembali untuk menikahinya. Tetapi setelah ia meninggalkannya, tidak ada khabar darinya. Meskipun orang-orang sekelilingnya berkata kepadanya bahwa ia telah ditipu oleh gembala itu, ia menolak mendengarnya, ia benar-benar percaya bahwa pertunangan mereka tidak dapat dibatalkan. Setelah menunggu demikian lama tanpa dia kembali, ia sangat rindu kepadanya sehingga ia sakit, kadang-kadang ia melamun bahwa ia melihat dia. Kemudian suatu hari ia memperhatikan debu awan-awan yang beterbangan sepanjang jalan-jalan dari salah satu bukit Efraim, seakan-akan banyak kereta kuda akan mendekat. Segera seorang utusan datang, memberitahukan kepadanya bahwa sang raja sedang dalam perjalanannya untuk menikahinya. Pada mulanya, Sulamit tidak tahu apa yang harus dikatakan, tetapi segera setelah ia menangkap pandangan sang raja, ia mengenalnya sebagai gembala kekasihnya, kemudian ia berseru dengan gembira, "Kepunyaan kekasihku, aku, kepadaku gairahnya tertuju" (7:10). (Ini juga adalah kisah kita masing-masing. Dari Kejadian sampai Wahyu, seluruh Alkitab adalah suatu catatan tentang betapa baiknya Sang Gembala meninggalkan kemuliaan dan tahtaNya datang ke bumi ini untuk mencari mempelaiNya yang berasal dari asal usul yang rendah. Setelah Dia menemukannya, Dia meninggalkannya untuk sejangka waktu, berjanji bahwa Dia akan datang kembali untuk menuntutnya. Sekarang kita ada dalam waktu menunggu. Kiranya kita mempunyai iman, kesabaran, kerinduan, dan kasih yang sungguh-sungguh/kuat seperti yang dimiliki Sulamit, dan kiranya kita memiliki seruan yang sama seperti yang ia miliki---" Segeralah, kekasihku, datanglah! ")

F. Bagian-bagian: pencarian dan kepuasan yang mula-mula (1:1---2:7), 2) panggilan untuk menanggalkan ego (2:8---3:5), 3) panggilan untuk naik ke sorga (3:6---5:1), 4) setelah kebangkitan, ada panggilan yang lebih kuat akan salib (5:2---6:13), 5) pekerjaan Allah (ps. 7), dan 6) mengeluh akan daging (ps. 8).