MEMAHAMI DIMENSI-DIMENSI KRISTUS DAN MENGENAL KASIH KRISTUS
Dalam berita ini kita akan membahas masalah memahami dimensi-dimensi Kristus dan mengenal kasih Kristus (3:18-19). Dalam ayat 18 Paulus mengatakan tentang lebar, panjang, tinggi, dan dalam, tetapi ia tidak mengatakan dimensi-dimensi tersebut ditujukan kepada perihal apa. Sudah tentu itu ditujukan kepada Kristus. Kita perlu menjadi perkasa untuk memahami betapa lebarnya, tingginya, panjangnya, dan dalamnya Kristus bersama semua orang kudus.
LANGKAH-LANGKAH UNTUK MEMAHAMI
DIMENSI-DIMENSI KRISTUS DAN
MENGENAL KASIH KRISTUS
Dalam ayat 16 sampai 19 “supaya” dipakai sebanyak empat kali: “Supaya Ia . . . menguatkan kamu . . . di dalam batinmu”, “supaya oleh imanmu, Kristus tinggal (berumah) di dalam hatimu”, “supaya kamu bersama-sama dengan semua orang kudus dapat (dengan penuh kekuatan) memahami” dan “supaya kamu dipenuhi di dalam (kepada) seluruh kepenuhan Allah.”
Kata “supaya” yang pertama merupakan hasil doa Paulus. Paulus bersujud kepada Bapa dan berdoa agar Ia menguatkan kita ke dalam manusia batiniah kita (ayat 14-16). Hasil doa Paulus ialah Bapa mengaruniakan kekuatan yang sedemikian kepada kita.
Kata “supaya” kedua terdapat dalam ayat 17, yakni supaya Kristus berumah di dalam hati kita oleh iman. Ini adalah hasil dari dikuatkan ke dalam manusia batiniah kita.
Ada orang mungkin mengatakan bahwa “supaya” yang ketiga sejajar dengan yang kedua, tetapi saya setuju dengan mereka yang mengatakannya sebagai hasil lebih lanjut. Ini berarti kata “supaya” yang kedua adalah hasil dari yang pertama, yang ketiga adalah hasil dari yang kedua, dan yang keempat adalah hasil dari yang ketiga.
Dalam pasal 3 Paulus berdoa agar kita dikuatkan. Jika kita telah dikuatkan ke dalam manusia batiniah, Kristus akan dapat berumah di dalam hati kita dan hasilnya, kita dapat dengan penuh kekuatan memahami lebarnya, panjangnya, tingginya dan dalamnya Kristus bersama semua orang kudus, serta mengenal kasih Allah yang melampaui segala pengetahuan. Hasil dari semua ini ialah kita dipenuhi kepada seluruh kepenuhan Allah. Di sini kita nampak beberapa langkah: dari doa Paulus kita maju kepada hal dikuatkan, dari dikuatkan kita maju kepada hal Kristus berumah di dalam hati kita, dan dari sini kita maju kepada memahami dan mengenal, dan terakhir kita dipenuhi kepada seluruh kepenuhan Allah. Melalui langkah-langkah inilah kita dapat memahami dimensi-dimensi Kristus serta mengenal kasih Kristus yang melampaui segala pengetahuan
KEPENUHAN ALLAH
Kepenuhan Allah ialah ekspresi Allah. Kita telah menunjukkan bahwa Tubuh bukan kekayaan Kristus, melainkan kepenuhan Kristus (1:23). Tatkala kekayaan Kristus dicerna dan diserap ke dalam kita, terjadilah metabolisme. Melalui proses metabolis inilah kita dijadikan kepenuhan Kristus sebagai ekspresi-Nya. Banyak orang Kristen mengira kekayaan bersinonim dengan kepenuhan. Kekayaan Kristus ialah berbagai aspek Kristus untuk kenikmatan kita, sedang kepenuhan ialah hasil dari kenikmatan atas kekayaan-kekayaan itu. Sebagai contoh: ketika kita makan dan mencerna kekayaan bahan makanan Amerika, kita pun menjadi kepenuhan Amerika. Sebagai kepenuhan Amerika, kita adalah ekspresi Amerika. Efesus 3:19 tidak mengatakan kita dipenuhi kekayaan Allah, melainkan kita dipenuhi kepada kepenuhan Allah. Ini berarti kita dipenuhi sehingga mengakibatkan kita menjadi ekspresi Allah. Ekspresi Allah hari ini ialah gereja, yaitu Tubuh, kepenuhan Dia yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu. Maka kepenuhan Allah dalam Efesus 3:19 adalah kepenuhan Kristus, yakni Tubuh dalam Efesus 1:23. Tubuh ini tersusun melalui kenikmatan kita atas kekayaan Kristus.
Pasal 1 dan 2 membahas wahyu gereja, pasal 3 membahas susunan gereja. Dalam pasal 3 kita nampak Paulus, seorang pemimpin dan teladan, menerima wahyu dan menikmati kekayaan Kristus. Kekayaan-kekayaan ini tersusun secara metabolis ke dalam dirinya, membuatnya menjadi satu bagian dari Tubuh. Semua orang yang mau mengikutinya menjadi rasul dan nabi hari ini harus serupa dengan Paulus dalam hal-hal tersebut. Kemudian gereja akan tersusun menjadi kepenuhan Kristus dan kepenuhan Allah. Untuk mewujudkan hal ini, Paulus berdoa agar kita dikuatkan ke dalam insan batiniah kita, yang menghasilkan Kristus berumah di dalam hati kita, sehingga insan batiniah kita ditempati, dimiliki, dipenuhi, dan diresapi oleh diri-Nya sendiri. Dengan cara inilah kita dipenuhi Kristus, menjadi kuat untuk memahami dimensi-dimensi Kristus, dan mengenal kasih-Nya yang melampaui segala pengetahuan. Terakhir, kita akan dipenuhi Kristus sampai ke suatu tingkat, yaitu kita menjadi kepenuhan Allah.
Ketika kita melalui semua langkah tersebut, kita perlu memahami dimensi-dimensi Kristus. Kata “memahami” dalam bahasa aslinya tidak hanya berarti mengenal, juga berarti mengerti, menuntut dengan khusus. Untuk memahami dimensi-dimensi Kristus, kita perlu seluruh kaum saleh; karena itu, kita secara korporat, bersama-sama menuntut Kristus.
DIMENSI-DIMENSI UNIVERSAL KRISTUS
Dimensi-dimensi Kristus ialah lebar, panjang, tinggi, dan dalam. Dimensi-dimensi ini ialah dimensi-dimensi alam semesta. Hanya Allah sendirilah yang mengetahui ukuran alam semesta. Kita dapat mengukur jarak dari satu titik ke titik yang lain dalam alam semesta, sebagai contoh: dari bumi ke bulan, namun kita tidak dapat mengukur alam semesta itu sendiri. Kini dimensi-dimensi alam semesta itu juga merupakan dimensi-dimensi Kristus.
Kristus adalah alam semesta kita yang sejati. Kita telah menunjukkan di tempat lain bahwa Kristus adalah bumi kita, tanah permai kita, juga matahari, dan bintang fajar kita. Sekarang, menurut ayat 18, kita berani mengatakan bahwa Kristus adalah alam semesta kita, sebab dimensi-dimensinya justru adalah dimensi-dimensi alam semesta. Efesus 1:23 mengatakan tentang kepenuhan Dia yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu, dan Efesus 4:9-10 mewahyukan bahwa Dia yang turun ke bagian bumi yang paling bawah juga telah naik jauh lebih tinggi daripada semua langit, untuk memenuhi segala sesuatu. Ketika kita masuk ke langit dan bumi baru dan tinggal di Yerusalem Baru, kita semua akan nampak bahwa Kristus Tuhan adalah alam semesta kita.
MENGALAMI LEBAR DAN PANJANG
Dalam pengalaman kita atas Kristus, pertama-tama kita mengalami kelebaran dari apa adanya Dia, kemudian mengalami panjang-Nya. Ini bersifat horizontal. Ketika kita bertumbuh dalam Kristus, kita mengalami ketinggian dan kedalaman kekayaan-Nya. Ini bersifat vertikal. Pertama-tama kita mengalami perluasan Kristus sebagai lebar dan panjang, kemudian kita mengalami kenaikan Kristus sebagai tinggi dan terakhir kita mengalami turun-Nya sebagai dalam. Kelak kita akan nampak, pengalaman kita atas Kristus pada akhirnya harus berbentuk tiga dimensi, ibarat sebuah kubus.
Jika kita hanya memiliki panjang Kristus, tanpa lebar, pengalaman kita akan seperti sebuah “garis”, yakni suatu pengalaman yang memanjang dan sempit yang mengarah ke suatu ekstrem. Tetapi pengalaman kita atas Kristus tidak boleh hanya berdimensi tunggal saja, yaitu seperti sebuah garis, melainkan harus berdimensi ganda, seperti persegi panjang (bidang) dan seterusnya menjadi tiga dimensi, ibarat sebuah kubus atau kubik. Kita semua perlu memiliki pengalaman atas Kristus yang berdimensi dua, yang berupa bidang. Jika kita hanya memiliki satu “garis” saja dalam pengalaman kita terhadap-Nya, pada akhirnya “garis” ini akan berlangsung hingga mencapai suatu ekstrem. Semua ekstremis adalah orang yang menempuh “satu jalur”, yaitu mereka yang mengalami Kristus ala “garis” tunggal. Bila Anda mengalami Kristus dengan wajar dan normal, yaitu sebagai lebar dan panjang, Anda akan terhindar dari tindakan yang ekstrem. Janganlah berlama-lama mengalami “garis” sempit dan panjang dalam pengalaman terhadap Kristus. Sebaliknya, alamilah Dia secara “bidang” yaitu sebagai lebar dan panjang. Melalui mengalami Kristus secara terus-menerus sebagai lebar dan panjang, maka pengalaman kita akan seperti “karpet” tenunan yang padat dan kuat, bukan seperti sehelai “benang” tunggal yang panjang.
Ada beberapa contoh yang dapat membantu kita untuk memahami hal ini lebih jelas. Saya pernah beberapa tahun lamanya mendengarkan khotbah seorang guru Alkitab yang terkenal, yang memiliki pengetahuan Alkitab yang luar biasa. Ia sedikit sekali meluangkan waktu untuk berdoa, tetapi ia sering membaca firman Tuhan dan menulis catatan-catatan dalam Alkitabnya. Dalam penelaahan Alkitab, setelah membicarakan Alkitab beberapa saat, ia bisa berkata “maaf” sambil kemudian menghisap rokok dengan pipa rokoknya. Setelah itu ia meneruskan pembahasannya tentang Alkitab. Padanya hanya terdapat satu “garis”, yaitu satu dimensi saja — satu penekanan yang ekstrem atas pembacaan Alkitab — tetapi tanpa perluasan Kristus yang normal, dalam dua dimensi sebagai satu “bidang” dalam pengalamannya.
Seorang saudari di kampung halaman saya juga mempunyai contoh pengalaman ala satu “garis” itu. Ia tidak membaca Alkitab, tetapi ia menggunakan sangat banyak waktu untuk berdoa. Karena sangat ekstrem berdoa, ia lalu menetapkan berdoa sambil berpuasa beberapa hari. Hingga hari yang ketujuh, ada saudara saudari datang mencari saya, mereka sangat prihatin terhadap keadaannya. Ketika kami mengunjunginya, ia berbaring di ranjang dengan lemah, sebab ia telah berpuasa tujuh hari. Kami menganjurinya agar memperhatikan kesehatan tubuhnya, tetapi ia tersinggung oleh usul kami. Keesokan harinya ia meninggal. Contoh ini menyatakan bahwa pengalaman ala satu “garis” dapat membawa orang ke suatu ekstrem, bahkan bisa menyesatkan. Cepat atau lambat, setiap pengalaman ala satu “garis” itu akan menyesatkan orang. Karena itu, kita perlu seimbang. Kedua contoh di atas memperlihatkan bahwa kita perlu menggunakan waktu kita baik untuk berdoa maupun untuk membaca Alkitab.
Pengalaman ekstrem lainnya berhubungan dengan persidangan gereja. Belum lama ini beberapa orang di antara kita memutuskan untuk tidak mengikuti persidangan gereja. Mereka lebih suka menikmati Tuhan di rumah masing-masing. Memang tidak ada salahnya kita menikmati Tuhan di rumah kita, tetapi jangan mengulur pengalaman yang demikian hingga ia menjadi satu ekstrem. Sebaliknya, ada orang yang hanya mementingkan sidang. Dalam kehidupan kristiani mereka, mereka tidak menyisihkan waktu untuk berdoa, membaca Alkitab, atau menikmati Tuhan di rumah, yang mereka perhatikan hanya bersidang saja. Ini juga suatu ekstrem.
Alangkah mudahnya kita memiliki pengalaman ala “garis” yang berdimensi tunggal itu! Nampaknya tidak banyak orang saleh yang menyukai pengalaman dua dimensi yang seperti karpet. Untuk memiliki pengalaman atas Kristus yang serupa karpet tenunan yang padat dan keras kita perlu diseimbangkan dalam berbagai aspek. Diseimbangkan berarti diperkaya. Maka kita perlu lebarnya dan panjangnya; kita perlu dua dimensi, “bidang”, dalam mengalami Kristus.
Untuk mengalami Kristus dalam dimensi-dimensi universal-Nya, kita memerlukan kehidupan gereja. Kita perlu mengalami Kristus bersama semua anggota Tubuh. Teristimewa, kita perlu persidangan gereja, sebab kita akan diseimbangkan melalui sidang. Melalui berita-berita dan kesaksian-kesaksian kaum saleh, kita akan diseimbangkan. Bila kita mengalami dimensi-dimensi Kristus dalam kehidupan gereja, kita akan berangsur-angsur tertenun menjadi satu “karpet”. Kita tidak akan menjadi “benang” yang tipis. Yang diperlukan hari ini bukan “benang”, melainkan “karpet” yang tertenun melalui pengalaman atas Kristus yang seimbang dalam gereja.
Ketika kita mengalami Kristus sedemikian rupa, kita akan nampak bahwa lebar dan panjang-Nya tidak terukur. Luasnya Kristus memang tidak terukur. Ketika kita mengalami Kristus dalam perluasan-Nya, kita akan nampak bahwa dimensi-dimensi alam semesta ialah dimensi-dimensi Kristus itu sendiri.
MENGALAMI TINGGI DAN DALAM
Setelah kita mengalami lebar dan panjang Kristus, kita mulai mengalami tinggi-Nya dan kemudian dalam-Nya. Jangan mengira kita mengalami dalam-Nya lebih dulu. Tidak, mula-mula kita naik, kemudian turun. Sebelum kita dapat memiliki kedalaman, kita harus memiliki ketinggian. Pengalaman rohani atas kedalaman Kristus berasal dari pengalaman ketinggian-Nya. Ini berarti kita lebih dulu bertumbuh ke atas kemudian baru berakar. Maka pengertian yang wajar tentang pengalaman keting-gian dan kedalaman Kristus berlawanan dengan konsepsi alamiah kita, yang meletakkan kedalaman di depan ketinggian.
Dalam pengalaman kita atas Kristus, kita harus maju dari dua dimensi ke tiga dimensi, yaitu dari satu “bidang” atau “persegi panjang” ke satu “kubik” atau “kubus”. Kubus itu kokoh dan kuat. Tempat yang maha kudus di tabernakel maupun di Bait Suci merupakan kubus. Dimensi-dimensi kubus ini dalam tabernakel dan Bait Suci masing-masing 10 dan 20 hasta. Yerusalem Baru pun akan menjadi satu kubus kekal, yang berukuran 12 ribu stadia dalam tiga dimensi. Kehidupan gereja hari ini pun harus berupa satu “kubus”. Lagi pula, pengalaman kita atas Kristus dalam gereja harus bersifat “kubus” yaitu tiga dimensi, dan dalam ketiga jurusan terdapat garis yang bergerak kian kemari. Ketika kita mengalami Kristus dalam tiga dimensi, kita akan menjadi kokoh dan kuat. Dalam pengalaman kita atas Kristus pertama-tama kita sebagai satu “bidang” (persegi panjang) kemudian menjadi satu “kubik” (kubus). Ketika kita menjadi suatu kubus, kita tidak akan jatuh, dan tidak akan hancur. Kristus adalah kubus universal, kehidupan gereja juga satu “kubus”, bukan satu “garis” pun bukan “karpet”. Bagaimana sebenarnya pengalaman kita atas Kristus? Semoga Tuhan mencelikkan mata kita, agar kita nampak bahwa pengalaman kita atas Dia harus menjadi satu “kubus”. Ketika kita kian kemari dan turun naik dalam mengalami Kristus, pada akhirnya kita memiliki satu “kubus” yang kokoh dan kuat.
BERAKAR DAN BERDASAR DI DALAM KASIH
Dalam ayat 17 Paulus membicarakan tentang “berakar serta berdasar di dalam kasih.” Kita adalah ladang Allah, bangunan Allah (1Kor. 3:9). Sebagai ladang Allah, kita perlu berakar agar bertumbuh, dan sebagai bangunan Allah, kita perlu berdasar agar terbangun. Maka, dalam ayat 17 Paulus memperhatikan masalah hayat dan pembangunan. Berbicara tentang berakar dan berdasar, Paulus menunjukkan bahwa kita mengalami Kristus untuk hayat dan pembangunan. Sebagai orang yang memiliki Kristus berumah dalam hati kita dan yang dengan kuat memahami dimensi-dimensi Kristus dan mengenal kasih-Nya yang melampaui segala pengetahuan, wajiblah kita memiliki hayat dan pembangunan. Seluruh pengalaman kita atas Kristus seharusnya adalah untuk hal ini.
Paulus secara khusus mengatakan bahwa kita berakar dan berdasar di dalam kasih. Untuk mengalami Kristus, kita perlu iman dan kasih (1Tim. 1:14). Iman memungkinkan kita menerima dan memahami Kristus, sedang kasih memungkinkan kita menikmati Dia. Baik iman maupun kasih bukanlah milik kita; iman dan kasih adalah milik-Nya. Iman-Nya menjadi iman kita, dengan iman ini kita percaya ke dalam-Nya; dan kasih-Nya menjadi kasih kita, dengan kasih ini kita mengasihi-Nya. Kasih yang di dalamnya kita berakar dan berdasar adalah kasih ilahi yang kita pahami dan kita alami secara riil. Dengan kasih sedemikianlah kita mengasihi Tuhan kita, dan dengan kasih yang sama kita saling mengasihi. Dalam kasih yang sedemikianlah kita bertumbuh dan terbangun dalam hayat. Pemikiran Paulus di sini mengenai hubungan antara pengalaman atas Kristus dengan masalah hayat dan pembangunan sungguh dalam sekali.
Semakin kita bertumbuh, kita akan semakin berakar. Walaupun hal ini bertentangan dengan konsepsi alamiah kita, namun hal ini sesuai dengan pengalaman kita. Bila Anda memperhatikan pengalaman Anda, Anda akan merasakan bahwa Anda bukan berakar lebih dulu kemudian bertumbuh, melainkan bertumbuh dulu baru berakar. Ketika kita bertumbuh ke atas, kita baru berakar ke bawah.
MENGENAL KASIH KRISTUS
DALAM PENGALAMAN
Dalam bagian pertama ayat 19 Paulus berkata: “Dan dapat mengenal kasih Kristus yang melampaui segala pengetahuan” (Tl.). Kasih Kristus melampaui segala pengetahuan; tetapi kita dapat mengenalnya melalui pengalaman. Menurut mentalitas kita, kasih Kristus itu melampaui pengetahuan. Pikiran kita tidak dapat mengenalnya. Tetapi dalam roh kita dapat mengenal kasih Kristus melalui pengalaman kita.
Kasih Kristus adalah Kristus sendiri. Kristus tidak terukur, maka kasih-Nya pun tidak terukur. Jangan menganggap kasih Kristus sebagai sesuatu yang dimiliki Kristus. Kasih adalah Kristus. Karena Kristus tidak terukur, maka kasih-Nya melampaui segala pengetahuan; tetapi kita dapat mengetahuinya di dalam roh kita, bukan melalui pengetahuan, melainkan melalui pengalaman. Bila kita bandingkan apa yang telah kita alami atas kasih Kristus yang tidak terukur selama ini dengan semua yang tersedia untuk kita alami, itu seperti membandingkan setitik air hujan dengan samudra. Kristus dalam dimensi-dimensi-Nya yang universal dan kasih-Nya yang tidak terukur ibarat samudra yang luas dan tidak terbatas untuk kita alami.