DIKUATKAN KE DALAM MANUSIA BATINIAH SEHINGGA KRISTUS BERUMAH DI DALAM HATI KITA
Dalam berita ini, kita tiba pada Efesus 3:14-17, bagian pertama dari doa yang kedua dari Paulus bagi gereja, suatu doa yang berkaitan dengan pengalaman. Doa rasul dalam Efesus 1:15-23 adalah agar kaum saleh menerima wahyu mengenai gereja. Dalam Efesus 3:14-21 doanya adalah agar kaum saleh mengalami Kristus bagi gereja.
I. DOA RASUL AGAR KITA MENGALAMI KRISTUS
A. Itulah Sebabnya
Rasul Paulus memulai doanya dalam ayat 14 dengan kata “itulah sebabnya”. Penyebab doa Paulus tersembunyi dalam pasal 3. Kita telah nampak bahwa dalam pasal ini Paulus menyajikan dirinya sebagai teladan orang yang telah nampak ekonomi Allah. Paulus menerima wahyu bahwa ekonomi Allah ialah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya, agar mereka menjadi perlambangan dan perluasan Kristus yang adalah wujud Allah, bagi ekspresi penuh Allah. Setelah menerima wahyu yang sedemikian, Paulus menjadi seorang rasul, yaitu seorang utusan. Ia pun menjadi nabi, seorang yang berbicara bagi Allah. Paulus tidak saja berbicara bagi Allah, ia bahkan mengutarakan (keluar) Allah. Selaku juru bicara Allah, Paulus menyuplaikan kekayaan Kristus yang tidak terduga kepada orang lain, agar mereka nampak wahyu yang sama dan juga menjadi rasul dan nabi. Ini berarti Paulus berkeinginan menghasilkan lebih banyak rasul dan nabi. Bahkan ia rela dipenjara untuk tujuan tersebut. Tetapi, semakin ia dikurung di dalam penjara, ia semakin banyak menerima wahyu dan semakin banyak Kristus yang dapat ia suplaikan kepada kaum beriman untuk menjadikan mereka semua rasul dan nabi. Kesemuanya ini adalah penyebab doa Paulus dalam Efesus 3.
Ada orang begitu mendengar bahwa semua orang saleh dapat menjadi rasul dan nabi, mereka boleh jadi heran mengapa 1Korintus 12:29 mengatakan, “Apakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar?” Memang, tidak semua menjadi rasul atau nabi, tetapi, seperti dikatakan dalam 1Korintus 14:31, semua orang dapat bernubuat (bertutur-sabda). Rasul dan nabi di sini ialah mereka yang menjadi pemimpin dalam Perjanjian Baru. Perbedaan antara kita dengan mereka ialah bahwa mereka adalah pemimpin, sedangkan kita adalah pengikut. Namun ini tidak berarti kita tidak dapat melakukan apa yang dilakukan rasul dan nabi pemimpin itu. Seprinsip dengan itu, perbedaan antara para penatua dengan semua anggota lainnya dalam gereja lokal adalah para penatua bertindak sebagai pemimpin dan anggota-anggota lainnya ialah pengikut. Namun, ini tidak berarti para anggota lainnya tidak dapat melakukan apa yang dilakukan para penatua. Sebaliknya, semua anggota wajib melakukan apa yang dilakukan para penatua, bahkan melakukan lebih banyak. Betapa bedanya hal ini dengan konsepsi kekristenan, yang menyatakan kaum awam tidak dapat melakukan apa yang dilakukan oleh pendeta! Para penatua bukan kaum golongan atas; semuanya adalah setingkat. Satu-satunya perbedaannya adalah para penatua bertindak sebagai pemimpin, ibarat domba yang berjalan di depan kawanan. Demikian pula, para rasul dan nabi pemimpin itu bukan lebih tinggi tingkatannya daripada kaum saleh lainnya. Mereka mengepalai sedang kita semua mengikuti mereka melakukan apa yang mereka lakukan.
Ketika saya datang ke Amerika Serikat, saya datang dengan satu wahyu tentang “Kristus bagi gereja”. Setelah menerima wahyu ini, saya lalu diutus ke sini untuk berbicara bagi Allah, bahkan mengutarakan Allah. Saya hanya menjadi pengikut para rasul dan nabi itu dalam Perjanjian Baru. Beban saya ialah agar seluruh orang saleh menjadi pengikut-pengikut yang sedemikian. Saya harap pada suatu hari ada ribuan orang yang diutus berbicara bagi Allah. Walaupun kita tidak bisa menjadi rasul terkemuka, tetapi kita bisa menjadi pengikut-pengikutnya. Demikian pula, kita tidak dapat menjadi nabi itu, tetapi kita semua dapat bernubuat (bertutur-sabda). Kita semua dapat diutus Kristus dan kita semua dapat berbicara bagi Kristus. Betapa besarnya hak, rahmat, dan anugerah yang kita terima, sehingga kita bisa menjadi pengikut-pengikut para rasul dan nabi yang terkemuka itu.
B. Kepada Bapa
Dalam ayat 14 dan 15 Paulus berkata,”Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang dari-Nya semua keluarga yang di dalam surga dan di atas bumi menerima namanya.” Perhatikanlah, di sini Paulus tidak menyebut “Allah” melainkan “Bapa”. Kata “Bapa” digunakan di sini dalam arti yang luas, menunjukkan tidak hanya Bapa dari rumah tangga iman (Gal. 6:10), tetapi juga Bapa dari semua turunan di surga dan di bumi (ayat 15). Bapa bukan hanya sumber kita, kaum beriman yang telah dilahirkan kembali, tetapi juga Bapa umat manusia ciptaan Allah (Luk. 3:38), bangsa Israel ciptaan Allah (Yes. 63:16; 64:8), dan malaikat ciptaan Allah (Ayb. 1:6). Orang Yahudi menganggap Allah hanyalah Bapa mereka. Maka dalam memelihara wahyunya, rasul berdoa kepada Bapa semua turunan di surga maupun di bumi. Sebaliknya, dalam memelihara konsepsi Yahudi, orang-orang Yahudi, berdoa hanya kepada Bapa Israel.
Karena Allah adalah sumber turunan malaikat di surga dan semua turunan manusia di bumi, maka dari Dialah setiap keturunan diberi nama, sama seperti produsen-produsen memberi nama kepada produk-produk mereka, dan para bapa memberi nama kepada anak-anak mereka.
II. DIKUATKAN
Dalam ayat 16 kita nampak bahwa doa Paulus berjudul “Supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu (ke dalam manusia batiniah Tl.).” Doa ini berbeda dengan doa dalam pasal 1; doa dalam pasal 1 adalah doa untuk wahyu, sedang doa di sini adalah untuk pengalaman. Dalam pasal 1 kita perlu nampak perkara-perkara yang berhubungan dengan Tubuh Kristus, yakni bagaimana Tubuh itu terlahir dan tersusun. Tetapi kita tidak cukup hanya nampak wahyu saja, kita juga perlu mengalami apa yang kita nampak. Berhubung kita perlu mengalami Kristus secara subyektif, maka Paulus berdoa agar kita dikuatkan dengan kuat kuasa ke dalam manusia batiniah kita.
A. Oleh Bapa menurut Kekayaan Kemulian-Nya
Dalam ayat 16 kata “menguatkan” dilukiskan dalam empat frase: “Menurut kekayaan kemuliaan-Nya”, “dengan kuasa”, “melalui Roh-Nya” dan “ke dalam manusia batiniah”. Pertama-tama, kita dikuatkan menurut kekayaan kemuliaan Bapa. Kemuliaan ialah ekspresi Allah. Yohanes 1:18 mengatakan, “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Dalam penyataan Allah ini terdapat kemuliaan, sebab penyataan Allah adalah manifestasi Allah, yaitu kemuliaan. Ketika Tuhan Yesus mengekspresikan Allah di bumi, kemuliaan Allah dinyatakan.
Semua turunan di surga dan di bumi mengekspresikan Allah sampai tahap tertentu. Ketika mereka mengekspresikan Allah, ada kekayaan kemuliaan-Nya. Rasul berdoa supaya kaum beriman kafir dapat mengalami seluruh kepenuhan Allah menurut kekayaan kemuliaan-Nya, sehingga dengan demikian Dia dapat diekspresikan.
Apakah pula artinya kekayaan kemuliaan Allah? Kekayaan kemuliaan Allah dalam ayat 16 berhubungan dengan semua keluarga dalam ayat 15. Setiap keluarga merupakan satu ekspresi Allah dalam suatu taraf tertentu. Karena Bapa adalah sumber, pangkal dari setiap keluarga di surga dan di bumi, maka setiap keluarga menjadi ekspresi-Nya. Yang paling mengekspresikan Bapa sudah tentu ialah keluarga kaum beriman. Karena itu, Paulus berdoa kepada Bapa agar kita dikuatkan untuk mengekspresikan-Nya sampai tahap yang tertinggi.
B. Dengan Kuasa
Kita juga dikuatkan dengan kuasa. Ini adalah kuasa yang disebutkan dalam 1:19-22, dan yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati, mendudukkan Kristus di sebelah kanan Allah di surga, menundukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus dan menjadikan Kristus Kepala atas segala sesuatu kepada gereja. Kuasa yang demikian bekerja di dalam kita (3:20), dan dengan kuasa ini Allah menguatkan kita bagi gereja.
C. Melalui Roh-Nya
Bapa juga menguatkan kita dari dalam melalui Roh yang berhuni. Ini tidak berarti bahwa Roh Kudus tidak menyertai kita; juga tidak berarti bahwa Ia akan turun dari surga untuk menguatkan kita. Roh penguat ini telah menyertai kita sejak Ia melahirkan kita kembali. Kini Ia tetap menyertai kita. Melalui Roh yang menghuni batin kita inilah Bapa menguatkan kita dari dalam batin kita.
D. Ke dalam Manusia Batiniah Kita
Ayat 16 juga mengatakan bahwa kita dikuatkan ke dalam manusia batiniah kita (Tl.). Manusia batiniah ini ialah roh kelahiran kembali kita, yang memiliki hayat Allah sebagai hayatnya. Roh kita yang telah dilahirkan kembali oleh Roh Allah (Yoh. 3:6), telah dihuni oleh Roh Allah (Rm. 8:11, 16), dan telah berbaur dengan Roh Allah (1Kor. 6:17). Supaya kita dapat mengalami Kristus sampai kepada seluruh kepenuhan Allah, kita perlu dikuatkan ke dalam manusia batiniah kita. Ini menyiratkan bahwa kita perlu dikuatkan ke dalam roh kita melalui Roh Kudus.
Berhubung manusia adalah jiwa, bukan roh, maka personalitas atau pribadi kita berada dalam jiwa kita. Inilah sebabnya Alkitab menyebut manusia itu jiwa (Kel. 1:5; Kis. 2:41). Tubuh dan roh merupakan wadah yang dipakai oleh jiwa. Maka, sebagai jiwa, kita memiliki satu wadah yang di luar, yakni tubuh, dan yang di dalam, yakni roh. Ketika kita bertobat dan percaya Tuhan Yesus, Tuhan masuk ke dalam kita dan melahirkan kita kembali dengan diri-Nya sebagai hayat kita. Sebelum kita dilahirkan kembali, dalam roh kita tidak ada hayat; kita hanya memiliki hayat insani dalam jiwa kita. Tetapi melalui kelahiran kembali, kini kita memiliki hayat ilahi dalam roh kita. Karena itu, roh kita tidak lagi hanya merupakan satu wadah, melainkan menjadi pribadi kita yang mengandung hayat Allah. Namun bagaimana dengan hayat insani dan pribadi lama kita yang ada di dalam jiwa? Pribadi lama, yaitu jiwa yang mengandung hayat insani ini telah disalibkan, dan sekarang pribadi kita yang baru ialah roh kita yang mengandung hayat ilahi. Roh kita yang telah dilahirkan kembali oleh hayat ilahi inilah yang sekarang menjadi manusia batiniah kita.
Sulit sekali untuk tetap tinggal di dalam roh. Kita semua telah terbiasa keluar dari roh, tidak masuk dan menetap di dalam roh. Menurut pengalaman, saya dapat bersaksi bahwa saya tidak condong tinggal di dalam roh. Sebab saya sangat mudah keluar dari roh. Saya kini masih belajar menetap di dalam roh. Bila kita menetap di dalam roh, kita akan dikuatkan; tetapi bila kita keluar dari roh, kita akan menjadi lemah. Pernahkah Anda perhatikan betapa mudahnya pikiran Anda melayang-layang ketika Anda berdoa? Ketika Anda tidak berdoa, Anda mungkin tidak memikirkan sesuatu. Tetapi ketika Anda mulai berdoa, Anda segera merasa pikiran Anda sebentar menetap pada satu perkara, sebentar lagi menetap pada perkara yang lainnya. Pikiran Anda bahkan mungkin telah lari ke bagian lain dari dunia. Itulah sebabnya kita perlu dikuatkan ke dalam manusia batiniah kita. Semakin kita dikuatkan, maka bagian batiniah kita semakin dibawa kembali ke dalam roh, yakni dibawa ke dalam manusia batiniah kita.
Kita perlu dikuatkan agar dapat tinggal di dalam roh dan tidak diselewengkan oleh pikiran tentang banyak perkara. Untuk dapat berdoa tanpa diselewengkan, kita perlu dikuatkan ke dalam manusia batiniah kita. O, alang-kah perlunya kita dikuatkan supaya seluruh diri kita kembali ke manusia batiniah kita dan tinggal menetap di sana!
Wahyu dalam Efesus 3 hanya dapat tertampak bila kita berada dalam roh. Seperti yang dikatakan ayat 5, rahasia ini kini dinyatakan kepada para rasul dan nabi di dalam roh. Dikuatkan ke dalam manusia batiniah merupakan kunci rahasia untuk dapat nampak wahyu rahasia tersebut. Kita perlu dikuatkan agar seluruh diri kita dapat dibawa kembali ke dalam roh kita.
Dalam roh kita juga dipenuhi oleh kekayaan Kristus kepada seluruh kepenuhan Allah (ayat 19 Tl.). Kata “di dalam” dalam ayat 19 juga berarti “menghasilkan”, “berakibat pada”. Jadi dipenuhinya kita oleh kekayaan Kristus menghasilkan ekspresi Allah yang sempurna. Inilah kepenuhan Allah.
III. KRISTUS BERUMAH DALAM HATI KITA
Bagian pertama dari ayat 17 mengatakan, “Sehingga oleh imanmu Kristus tinggal di dalam hatimu.” Hati kita terdiri atas semua bagian jiwa (pikiran, emosi, dan tekad) kita ditambah hati nurani, (bagian utama dari roh) kita. Bagian-bagian ini merupakan bagian-bagian dalam diri kita. Melalui kelahiran kembali, Kristus masuk ke dalam roh kita (2Tim. 4:22). Setelah ini, kita seharusnya mempersilakan Dia menyebar ke dalam setiap bagian hati kita. Karena hati kita adalah totalitas seluruh bagian dalam kita dan pusat manusia batiniah kita, maka ketika Kristus membuat rumah-Nya dalam hati kita, Dia mengendalikan seluruh batin kita, menyuplai dan menguatkan setiap bagian dalam kita dengan diri-Nya sendiri.
Dalam ayat 17 Paulus mengatakan bahwa oleh iman Kristus berumah di dalam hati kita. Iman adalah substansiasi (substantiating) dari hal-hal yang tidak terlihat (Ibr. 11:1). Berhuninya Kristus di dalam kita adalah perkara yang rahasia dan abstrak. Kita memahaminya bukan dengan indra fisik kita, tetapi dengan indra iman.
Ketiga pasal pertama dari Kitab Efesus membahas masalah gereja, sedang ketiga pasal terakhir membahas masalah perilaku yang sepadan dengan panggilan Allah bagi gereja. Akan tetapi sesungguhnya hanya kedua pasal pertamalah yang membahas masalah gereja, sebab pasal 3 menandai permulaan nasihat Paulus tentang perilaku yang sepadan dengan panggilan Allah. Dalam Efesus 3 Paulus menampilkan dirinya sendiri sebagai teladan seorang yang dapat melaksanakan kehendak kekal Allah mengenai gereja. Jika kita hanya memiliki pasal 1 dan 2 tanpa pasal 3, kita hanya memiliki ajaran dan visi gereja saja, tidak memiliki cara untuk menggenapkan visi itu. Dalam pasal 3 kita nampak betapa gereja tersusun dan terealisasi secara riil. Pasal ini tidak membahas wahyu gereja atau perilaku yang sepadan dengan panggilan Allah bagi gereja, melainkan membahas pengalaman riil atas unsur-unsur yang menyusun gereja.
Hidup gereja tersusun dari orang-orang yang berada dalam teladan Rasul Paulus. Kita semua perlu mengikuti Paulus dalam menerima wahyu dalam roh kita dan dikuatkan ke dalam manusia batiniah kita. Ketika Paulus sujud kepada Bapa, ia begitu kuat dalam manusia batiniahnya sehingga tidak ada apa pun yang dapat menggoncangkan dan mengganggu dia. Karena seluruh dirinya berada dalam rohnya, maka segala yang di luar tidak berdaya menyusahkannya. Kita pun perlu diteguhkan sampai tingkat sedemikian, sehingga tidak ada apa pun yang dapat menarik kita keluar dari manusia batiniah kita. Lagi pula, kita perlu Kristus berumah di dalam hati kita, supaya kita boleh diduduki dan dimiliki seluruhnya oleh Dia.
Ketika kita dikuatkan ke dalam manusia batiniah kita dan Kristus berumah di dalam hati kita, kita baru dapat melihat wahyu itu. Kita wajib menerima wahyu yang sama yang diberikan kepada para rasul dan nabi yang di depan. Paulus tidak dapat menerima wahyu ini bagi kita, kita harus menerimanya sendiri secara pribadi dan secara subyektif melalui dikuatkan ke dalam manusia batiniah kita. Wahyu mengenai Kristus dan gereja ini adalah ekonomi Allah, rahasia yang tersembunyi. Entah kita adalah rasul-rasul dan nabi-nabi hari ini atau bukan, tergantung apakah kita telah nampak wahyu ini atau belum. Jika kita tidak memiliki wahyu ini, tidak mungkin kita menjadi rasul dan nabi. Kalau saya dulu datang ke Amerika Serikat tanpa wahyu ini, semua perkataan saya akan sia-sia belaka. Tetapi saya telah datang dengan satu wahyu, dan saya telah berbicara menurut wahyu ini. Maka hal ini membuat saya menjadi seorang pengikut para rasul dan nabi dalam ministri Perjanjian Baru Allah. Hari ini segenap kaum saleh, termasuk kaum muda, dapat menjadi pengikut-pengikut yang sedemikian.
Ketika kita beroleh selamat, Kristus masuk ke dalam roh kita. Sekarang kita wajib memberi-Nya kesempatan untuk menyebarkan diri-Nya ke seluruh bagian manusia batiniah kita. Ketika kita diteguhkan ke dalam manusia batinah kita, maka pintu akan terbuka bagi Kristus untuk berkembang di dalam kita, yakni berkembang dari roh kita meluas ke setiap bagian pikiran, emosi, dan tekad. Semakin Kristus berkembang di dalam kita, Ia akan makin menetap dan berumah di dalam kita. Ini berarti Ia menduduki setiap bagian insan batiniah kita, menguasai, dan meresapi semuanya itu dengan diri-Nya sendiri. Akibatnya, kita tidak saja menerima wahyu, bahkan dipenuhi Kristus. Lalu ke mana saja kita pergi, kita akan menjadi rasul, yang diutus, dan nabi, juru bicara Kristus.