WAHYU RAHASIA
Dalam Efesus 3, seluruh pasal yang merupakan kata-kata sisipan, Paulus mulai menganjuri kaum saleh untuk hidup (berperilaku) sepadan dengan panggilan Allah. Apa yang Paulus katakan tentang dirinya dalam pasal ini merupakan teladan bagi orang yang mau berperilaku sepadan dengan panggilan Allah. Untuk berperilaku sepadan dengan panggilan Allah, kita harus menjadi tawanan Tuhan, seorang pengurus rumah tangga, dan seorang minister. Sebagai seorang tawanan dalam Kristus, Paulus nampak suatu visi surgawi. Semakin ia nampak visi, semakin banyak ia mengalami dan memperoleh Kristus. Paulus juga seorang pengurus rumah tangga yang menyalurkan kekayaan Kristus kepada anggota-anggota keluarga Allah. Tambahan pula, ia adalah seorang minister yang setia, yang melayankan Kristus kepada anggota-anggota Tubuh, agar Kristus dapat diekspresikan di dalam Tubuh.
Berperilaku sepadan dengan panggilan Allah bukan berarti hanya menjadi orang yang baik, rendah hati, atau pengasih saja, tetapi juga dipenjarakan, dikurung di dalam Kristus, di mana kita nampak visi. Melalui melihat visi, kita mengalami Kristus, dan Kristus tergarap ke dalam diri kita, menjadikan kita pengurus rumah tangga yang menyalurkan kekayaan Kristus kepada orang lain. Kita juga menjadi minister yang menyalurkan kekayaan Kristus kepada anggota-anggota Tubuh, agar Tubuh itu dapat terbangun. Kita semua perlu dipenjarakan di dalam Kristus, supaya kita dapat lebih banyak mengalami-Nya dan melayankan-Nya kepada orang lain.
Dalam berita yang lalu telah kita lihat perihal kepengurusan anugerah, kini kita perlu membahas wahyu rahasia ini. Efesus 3:3 mengatakan, “Yaitu bagaimana rahasia itu diberitahukan kepadaku melalui wahyu, seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat.” Kehendak Allah yang tersembunyi merupakan suatu rahasia, dan rahasia yang terungkap adalah wahyu. Ministri rasul adalah merampungkan wahyu ini untuk menghasilkan gereja. Wahyu berarti penyingkapan, penyingkiran suatu tabir. Dalam Perjanjian Baru kita memiliki wahyu, penyingkapan tentang ekonomi Allah. Pada zaman dan angkatan yang lalu, ekonomi ini merupakan rahasia yang tersembunyi, tidak dinyatakan baik kepada Adam, Abraham, Musa, Daud, Yesaya, maupun nabi-nabi lainnya. Seandainya mereka ditanya orang, apakah ekonomi Allah, mereka tidak dapat menjawabnya, sebab dalam zaman mereka, rahasia ini masih tersembunyi. Ekonomi Allah, yang berarti penyaluran diri-Nya sendiri ke dalam manusia untuk menghasilkan satu Tubuh bagi Anak-Nya tidak pernah dinyatakan kepada mereka.
Anak Allah ialah perwujudan Allah. Ekonomi Allah ialah penyaluran diri-Nya sendiri ke dalam umat manusia untuk menghasilkan satu Tubuh bagi perwujudan diri-Nya. Ini berarti Anak Allah sebagai wujud Allah memerlukan satu Tubuh, satu pertambahan, dan satu perluasan. Perluasan ini hanya dapat dihasilkan melalui penyaluran diri Allah sendiri ke dalam umat pilihan-Nya. Inilah rahasia yang paling besar dalam alam semesta. Banyak tokoh politik dan penguasa sedikit pun tidak tahu tentang rahasia besar ini, tetapi oleh belas kasihan Allah, kita mengetahui rahasia ini. Sampai-sampai seorang saudari muda di antara kita juga mengetahui apa yang tidak diketahui oleh presiden dan para filsuf. Kita tahu ekonomi Allah ialah Allah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya, agar dapat menghasilkan Tubuh sebagai perluasan Anak Allah bagi ekspresi Allah yang sempurna dalam alam semesta. Tidak ada yang lebih besar dan lebih penting daripada hal ini. Puji Tuhan, kita tidak saja mengetahui arti ekonomi Allah, kita pun berada di dalamnya! Sebenarnya ini justru adalah kita sendiri. Kita tahu hal ini, kita berada dalam hal ini dan kita adalah hal ini. Wahyu rahasia besar yang tersembunyi hingga sebelum kedatangan Tuhan Yesus, kini telah diungkapkan kepada kita.
I. WAHYU KEPADA RASUL-RASUL
DAN NABI-NABI
Rahasia ini telah diwahyukan kepada rasul-rasul dan nabi-nabi (3:5). Apakah Anda mengira rasul-rasul dan nabi-nabi adalah orang-orang yang luar biasa? Fakta diwahyukannya rahasia ini kepada mereka menyebabkan banyak orang menganggap mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Akan tetapi dalam Efesus 3:8, Paulus selaku seorang rasul menyebut dirinya “paling kecil di antara segala orang kudus” (Tl.). Jadi menurut perkataan Paulus sendiri, rasul-rasul maupun nabi-nabi bukanlah orang-orang yang luar biasa, sebab Paulus mengatakan bahwa ia sendiri lebih kecil daripada kita. Di satu pihak kita boleh menganggap rasul-rasul dan nabi-nabi adalah orang-orang yang luar biasa, tetapi di pihak lain, kita harus menganggap mereka sama seperti kita.
Hanya dalam Kitab Efesus Paulus mengatakan dirinya lebih kecil daripada segala orang kudus. Perhatikan, ia tidak mengatakan bahwa dirinya lebih kecil dari-pada rasul lainnya, meskipun dalam 1Korintus 15:9 ia mengatakan dirinya “paling kecil dari semua rasul”. Sungguh sangat bermakna kalau Paulus menyisipkan kata-kata demikian dalam bagian Kitab Efesus ini. Jika tidak ada ayat ini, kita semua akan condong menganggap para rasul sebagai orang-orang yang agung. Mengapa Paulus mengemukakan hal ini? Karena ia sedang menganjuri kaum beriman untuk berperilaku sepadan dengan panggilan Allah. Ketika ia menyampaikan anjuran ini, ia menyajikan dirinya sendiri sebagai contoh, menegaskan bahwa dirinya lebih kecil daripada semua orang kudus. Seandainya Paulus tidak mengucapkan perkataan ini, kita mungkin akan tergoda untuk memaafkan diri kita sendiri dengan beralasan bahwa Paulus dapat berperilaku seperti itu karena ia seorang rasul yang besar; dan karena kita bukan rasul, kita tidak dapat berperilaku seperti dia. Melalui menyisipkan perkataan ini, Paulus tidak memberi kesempatan kepada kita untuk beralasan sedemikian. Dalam Efesus 3:8 Paulus seolah berkata, “Kaum saleh, janganlah mengira aku lebih besar daripada kalian. Tidak, aku justru lebih kecil. Jika orang yang lebih kecil daripada kalian bisa melakukannya, kalian pun pasti bisa melakukannya.” Kita tidak seharusnya memaafkan diri kita sendiri. Jika Paulus bisa beroleh anugerah yang sedemikian, kita semua juga bisa. Jika Paulus dapat menempuh hidup yang sedemikian dan berperilaku sepadan dengan panggilan Allah, kita pun bisa.
Banyak orang Kristean mengira, hanya orang beriman seperti Petrus baru dapat disebut “orang kudus”. Mereka bahkan menyebut orang-orang itu sebagai “santo”. Tetapi berdasarkan surat yang ditulis oleh Rasul Paulus, setiap orang beriman adalah orang kudus. Sebagai orang kudus, kita tidak lebih rendah daripada Paulus. Kita semua dapat berperilaku seperti Paulus.
Istilah “rasul” dalam bahasa aslinya berarti seorang utusan. Jika Anda mengutus saya ke Los Angeles untuk suatu maksud, saya adalah rasul Anda, yakni utusan Anda. Dalam Alkitab, seorang rasul adalah seorang yang diutus Allah. Walaupun Yohanes Pembaptis diutus Allah juga, ia tidak boleh dianggap sebagai utusan pertama dalam ekonomi Perjanjian Baru, sebab ministrinya berada dalam periode peralihan. Utusan Allah yang pertama dalam ekonomi Perjanjian Baru ialah Tuhan Yesus. Maka Dialah Rasul yang pertama (Ibr. 3:1). Tuhan mengutus kedua belas rasul. Tetapi kedua belas orang tersebut bukan merupakan satu-satunya kelompok orang yang diutus Allah. Dalam Yohanes 20:21 Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Ayat ini membuktikan bahwa semua murid adalah utusan. Ini pun berarti setiap orang beriman adalah utusan. Bahkan seorang saudari muda yang baru duduk di bangku SMP juga adalah orang yang diutus Tuhan untuk melayankan Kristus kepada guru dan teman sekelasnya. Demikian pula, bila Anda berbeban terhadap salah seorang kerabat Anda dan Tuhan mengutus Anda kepadanya untuk tujuan melayankan Kristus kepadanya, bukankah Anda juga menjadi seorang utusan Kristus? Ya, bagi kerabat Anda, Anda adalah rasul Kristus. Bahkan mungkin Anda menjadi rasul bagi seluruh keluarga Anda. Mungkin pada suatu hari Tuhan mengutus Anda untuk bersaksi tentang Kristus kepada ibu Anda. Pada saat itu, Anda adalah seorang rasul bagi ibu Anda. Karena itu, ditinjau dari satu aspek, kita semua adalah rasul Tuhan, yakni orang-orang yang diutus oleh-Nya.
Demikian pula, ditinjau dari satu aspek lagi, semua orang beriman juga adalah nabi-nabi di dalam Kristus. Bertentangan dengan konsepsi kebanyakan orang Kristen, seorang nabi terutama bukan meramalkan perkara-perkara yang akan datang, melainkan sebagai juru bicara Allah. Menurut Ibrani 3, Musa orang yang dipanggil Allah dan diutus kepada umat Israel, adalah seorang rasul; ia melambangkan Kristus sebagai rasul Allah. Ketika TUHAN memanggil Musa dan mengutusnya sebagai rasul, ia merasa takut dan mengaku dirinya tidak pandai berbicara. Lalu TUHAN memberi tahu Musa bahwa Ia akan memberikan saudaranya (Harun), kepadanya untuk menjadi seorang nabi. Harun diberikan kepada Musa bukan untuk meramal perkara yang akan datang sebagai wakil Musa, melainkan menjadi juru bicaranya. Dengan ini kita nampak bahwa ministri seorang nabi sejalan dengan ministri seorang rasul. Musa adalah rasul dan Harun adalah nabi.
Di satu pihak kita adalah rasul, di pihak lain kita adalah nabi. Kaum muda diutus ke sekolah sebagai rasul, tetapi ketika mereka membuka mulut untuk berbicara sebagai wakil Tuhan, mereka adalah nabi. Begitu pula, bila Anda pergi kepada ibu Anda dengan beban untuk melayankan Kristus kepadanya, Anda adalah rasul. Tetapi sewaktu Anda berbicara bagi Kristus, Anda juga seorang nabi. Jika Anda bertahun-tahun menjadi seorang Kristen tanpa beban untuk pergi kepada seorang pun dengan tujuan melayani Kristus kepadanya, itu sangat memalukan. Demikian pula, jika Anda tidak pernah me-wakili Kristus berbicara kepada orang lain, itu sangat memalukan. Orang Kristen yang normal adalah orang yang menjadi rasul dan nabi, yaitu seorang utusan dan seorang juru bicara.
Misalkan, di bawah kedaulatan Tuhan, beberapa orang di antara kalian berbeban pindah ke kota lain. Kalian melayankan Kristus kepada orang-orang di situ, dan setelah lewat sejangka waktu, ada sejumlah orang menjadi kaum beriman, lalu kalian semua bersidang sebagai gereja di tempat itu. Melalui siapakah gereja itu terbangun? melalui para rasul yang diutus Tuhan ke tempat itu. Karena utusan-utusan itu juga berbicara bagi Allah, maka mereka juga sebagai nabi.
Saya menekankan masalah ini karena kita semua telah dipengaruhi sangat dalam oleh konsepsi agama Kristen. Dalam kalangan Katolik, Petrus telah diangkat menjadi “Paus”, dan yang lain telah diberi posisi tinggi dalam apa yang disebut “jabatan kudus”. Tetapi sebenarnya semua orang beriman memiliki jabatan kudus itu, dan kita semua dapat disebut “Paus”, sebab istilah “paus” hanya berarti bapa. Jika Anda membawa orang-orang baru kepada Tuhan, melahirkan mereka dengan Kristus, maka Anda menjadi bapa rohani mereka. Dalam aspek ini di samping sebagai utusan dan nabi, Anda pun sebagai “paus”, yaitu bapa. Dasar saya mengatakan bahwa kita semua dapat menjadi bapa yang sedemikian itu adalah fakta bahwa setiap orang beriman ialah seorang utusan dan seorang nabi. Bila Anda bukan seorang utusan dan nabi, Anda tidak setia kepada Tuhan dan tidak menaati-Nya. Boleh jadi Tuhan mengutus Anda pergi ke tempat yang jauh dan dengan beban melayankan Kristus kepada orang yang belum percaya di sana. Ini berarti Anda adalah rasul yang diutus ke daerah tersebut. Karena Anda berbicara bagi Allah, maka Anda juga menjadi seorang nabi. Sebagai rasul dan nabi, Anda adalah “paus”. Bahkan yang terkecil dari orang kudus dalam pemulihan Tuhan bisa saja diutus menjadi seorang “paus”, yaitu seorang bapa rohani yang sejati.
Mengenai rasul dan nabi, kita semua telah diracuni oleh konsepsi agama. Saya harap berita ini akan menjadi obat anti racun. Dengan serius saya katakan, kita semua seharusnya menjadi rasul dan nabi. Misalkan seorang saudari bekerja sebagai seorang perawat di suatu rumah sakit, apakah Anda kira Allah hanya menyuruh dia menjadi perawat saja? Tidak, Allah mengutusnya ke rumah sakit untuk menjadi seorang rasul dan nabi. Otoritas Allah senantiasa menyertai orang yang demikian. Jika Anda mempraktekkan jabatan Anda sebagai rasul dan nabi, Allah akan menyertai Anda sebagai otoritas Anda. Sering kali kita tidak mempunyai otoritas, karena kita gagal melaksanakan jabatan kita sebagai rasul. Di mana saja kita berada, di rumah, di sekolah, atau di tempat kerja, kita perlu berada di sana sebagai utusan Tuhan untuk melayankan Kristus kepada orang lain melalui berbicara bagi Kristus.
Akan tetapi, rasul dan nabi harus mengenakan tanda khusus dalam membuktikan kerasulan dan kenabiannya. Tanda khusus itu ialah wahyu rahasia. Jika Anda pergi kepada seseorang tanpa wahyu ini, Anda bukanlah seorang rasul dan nabi. Ketika Anda berkontak dengan orang bagi Kristus, Anda wajib memperlihatkan kepada mereka secara wajar, bahwa Anda telah nampak sesuatu yang mereka tidak nampak. Dengan wahyu inilah kita mempunyai keberanian untuk mengatakan bahwa kita adalah utusan dan juru bicara Allah. Jika seorang saudara muda memiliki wahyu ini, ia dapat mengatakan kepada ayahnya yang belum percaya, yang mungkin seorang doktor fisika, “Ayah, ayah mengetahui banyak tentang ilmu pengetahuan, tetapi ayah tidak mengetahui apa-apa tentang Kristus. Aku mengenal Kristus, karena aku telah nampak wahyu tentang Dia. Kristus adalah hayatku. Ia hidup di dalamku, Ia bersatu denganku dan Ia adalah segala-galaku.” Jika Anda memiliki wahyu ini, Anda adalah seorang rasul dan nabi. Tidakkah Anda memiliki wahyu tentang Kristus dan gereja? Pasti ada! Karena itu, pergilah kepada kerabat dan teman-teman Anda, dan katakanlah kepada mereka apa yang telah Anda nampak itu.
A. Di dalam Roh
Ayat 5 mengatakan bahwa rahasia itu telah diwahyukan kepada para rasul dan nabi di dalam roh. Kata “roh” di sini ditujukan kepada roh insani para rasul dan nabi, yakni roh yang telah dilahirkan kembali dan yang dihuni oleh Roh Kudus Allah. Roh ini dapat dianggap sebagai roh perbauran, roh insani berbaur dengan Roh Allah. Roh perbauran ini adalah sarana untuk menyatakan wahyu Kristus dan gereja kepada para rasul dan para nabi. Kita perlu roh semacam ini untuk melihat wahyu seperti ini.
Ketika kita berbicara kepada orang lain tentang Kristus dan gereja, janganlah mengandalkan pikiran, emosi, atau tekad kita, sebaliknya kita harus dari dalam roh kita mengatakan kepada orang lain apa yang telah kita alami atas Kristus dan gereja. Prinsip di sini adalah emosi menjamah emosi, pikiran menjamah pikiran, dan tekad menjamah tekad. Demikian pula, hanya roh yang dapat menghubungi roh. Bila Anda berbicara kepada orang lain menurut emosi Anda, Anda tidak akan dapat menjamah roh mereka. Tetapi bila Anda berbicara dari dalam roh Anda, roh mereka akan terjamah.
B. Tentang Kristus dan Gereja
Wahyu yang diterima para rasul dan nabi bukan suatu wahyu tentang perkara-perkara yang sekunder dalam Alkitab, melainkan wahyu Kristus dan gereja. Untuk menyalurkan Kristus kepada orang lain, kita perlu memiliki wahyu ini.
II. RAHASIA KRISTUS
Dalam Efesus 3:4 Paulus membicarakan tentang rahasia Kristus. Rahasia Allah dalam Kolose 2:2 adalah Kristus; rahasia Kristus di sini adalah gereja. Allah adalah suatu rahasia, dan Kristus, sebagai perwujudan Allah untuk mengekspresikan-Nya, adalah rahasia Allah. Kristus juga merupakan suatu rahasia, dan gereja sebagai Tubuh Kristus untuk mengekspresikan-Nya adalah rahasia Kristus.
A. Tersembunyi dalam Angkatan-angkatan Lain,
tetapi Diwahyukan dalam Zaman
Perjanjian Baru
Rahasia ini tersembunyi dalam angkatan-angkatan yang lain, tetapi telah dinyatakan dalam zaman Perjanjian Baru. Rahasia Kristus, gereja, yakni Tubuh-Nya, tersembunyi dalam zaman Perjanjian Lama. Tidak seorang pun di antara kaum saleh Perjanjian Lama mengetahui sesuatu tentang rahasia ini. Tetapi rahasia ini telah diwahyukan kepada semua orang beriman dalam Perjanjian Baru melalui para rasul dan nabi. Hari ini ministri kita tidak lain hanyalah meneruskan wahyu ini.
B. Gereja, Tubuh Kristus
1. Dengan Orang Kafir sebagai Ahli Waris dan Peserta dalam Janji
Telah kita tunjukkan bahwa rahasia Kristus adalah gereja, yaitu Tubuh Kristus. Mengenai gereja sebagai rahasia Kristus, ayat 6 mengatakan, “yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.” Ungkapan “turut menjadi ahli-ahli waris” menunjukkan bahwa dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, orang-orang kafir yang terpilih, tertebus, dan terlahir kembali serta orang-orang Yahudi yang percaya adalah ahli-ahli waris Allah, mewarisi Allah. Ungkapan “anggota Tubuh” menunjukkan orang-orang kafir dan orang-orang Yahudi yang beroleh selamat adalah anggota-anggota Tubuh Kristus sebagai ekspresi-Nya yang unik. Dan ungkapan “peserta janji” menunjukkan kaum beriman kafir dan kaum beriman Yahudi adalah peserta janji Allah yang diberikan dalam Perjanjian Lama, tentang semua berkat Allah dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. Menjadi ahli-ahli waris berhubungan dengan berkat rumah tangga Allah; menjadi anggota-anggota Tubuh berhubungan dengan berkat Tubuh Kristus; dan menjadi peserta janji berhubungan dengan berkat janji Allah, seperti dalam Kejadian 3:15; 12:3; 22:18; 28:14; dan Yesaya 9:5. Baik berkat rumah tangga Allah maupun berkat Tubuh Kristus bersifat khusus, sedangkan berkat janji Allah bersifat umum, almuhit.
2. Dihasilkan dari Kekayaan Kristus yang Tidak Terduga
Gereja sebagai Tubuh Kristus, dihasilkan dari kekayaan Kristus yang tidak terduga (3:8). Gereja bukan dihasilkan dari doktrin atau sistem organisasi. Sebagai Tubuh Kristus, gereja hanya dapat dihasilkan dari kekayaan apa adanya Kristus.
3. Mengekspresikan Berbagai Ragam Hikmat Allah kepada Pemerintah-pemerintah dan Penguasa-penguasa di Surga
Menurut kehendak Allah, gereja harus mengekspresikan berbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di surga (3:10). Hal ini dimaksudkan untuk mempermalukan Iblis dan pengikut-pengikutnya. Tipu muslihat Iblis memberikan Allah kesempatan untuk mengekspresikan hikmat-Nya yang beraneka ragam itu melalui gereja.
4. Sesuai Maksud Abadi yang Telah Dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus
Dihasilkannya gereja sebagai Tubuh Kristus sesuai dengan maksud abadi yang Allah laksanakan di dalam Kristus dalam kekekalan yang lampau (3:11). Terjadinya gereja bukan sesuatu yang kebetulan, melainkan telah direncanakan dalam kekekalan.
5. Untuk Ekonomi Allah
Kehendak Allah dalam memiliki gereja ialah untuk menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya (3:9). Karena itu, gereja sebagai Tubuh Kristus adalah ekonomi Allah.