KEHIDUPAN YANG TIDAK MENDUKAKAN ROH KUDUS ALLAH
Dalam berita ini kita akan melihat Efesus 4:25-32. Paulus memberi kita prinsip dasar bagi kehidupan yang diperlukan dalam perilaku kita sehari-hari seperti yang tercantum dalam 4:17-24. Dalam ayat 22 dan 24 kita nampak bahwa syarat untuk mempelajari Kristus ialah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Bila syarat ini sudah kita penuhi, dapatlah kita menempuh satu kehidupan realitas, yaitu ekspresi Allah dalam pancaran terang.
I. KEHIDUPAN YANG MEMPELAJARI KRISTUS
Dalam ayat 25-32 kita mempunyai satu penjelasan tentang kehidupan sehari-hari yang praktis dalam mem-pelajari Kristus. Dalam membahas kehidupan sehari-hari yang mempelajari Kristus, Paulus menyinggung banyak rincian antara lain ia menyebut tentang kemarahan, pencurian, kepahitan, kegeraman, pertikaian, fitnah, kejahatan, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni. Rincian ini mudah terlihat, tetapi mengenali kedua perkara penting yang menjadi dasar perkataan Paulus tidaklah mudah. Kedua perkara itu ialah realitas dan anugerah. Nasihat rasul dalam ayat 17-32 menjadikan realitas dan anugerah sebagai unsur dasar (ayat 21, 24, 25, dan 29). Ia menghendaki kita hidup seperti Yesus, suatu kehidupan yang penuh anugerah dan realitas (Yoh. 1:14, 17 Tl.). Anugerah ialah Allah diberikan kepada kita sebagai kenikmatan, dan realitas adalah Allah diwahyukan kepada kita menjadi realitas kita. Ketika kita memperhidupkan dan membicarakan realitas (Ef. 4:21, 24), kita pun mengekspresikan Allah sebagai realitas kita, sedang orang lain akan menerima Allah sebagai anugerah bagi kenikmatan mereka (ayat. 29).
Dalam Perjanjian Baru, anugerah dan realitas merupakan satu pasangan. Yohanes 1:14 mengatakan bahwa Firman itu telah menjadi manusia dan berkemah di antara kita, penuh anugerah dan kebenaran (realitas Tl.). Ayat 17 mengatakan pula bahwa anugerah dan realitas datang oleh Yesus Kristus.
Sebagaimana anugerah dan realitas merupakan pasangan, maka kasih dan terang pun merupakan pasangan. Dalam Injil Yohanes kita memiliki anugerah dan realitas, tetapi dalam Kitab 1 Yohanes kita memiliki kasih dan terang (4:16; 1:5). Anugerah adalah ekspresi kasih, sedang kasih adalah sumber anugerah. Seprinsip dengan itu, kebenaran adalah ekspresi terang, dan terang adalah sumber kebenaran. Dalam hati Allah terdapat kasih. Ketika kasih ini diekspresikan, ia menjadi anugerah. Demikian pula, pada Allah ada terang, ketika terang itu terpancar keluar, ia menjadi realitas (kebenaran). Ketika kita menelusuri kembali anugerah dan realitas (kebenaran) kepada sumbernya di dalam Allah, kita akan berada di dalam kasih dan terang.
Kita sudah menunjukkan bahwa nasihat Paulus dalam Efesus 4:17-32 membahas realitas dan anugerah. Realitas disebut dengan jelas, tetapi anugerah agak tersembunyi, secara khusus tersirat dalam perkataan Paulus tentang rincian yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Bila kita kekurangan anugerah, kita tidak dapat mencapai standar yang berkaitan dengan rincian itu. Prinsip kita untuk mempelajari Kristus berkaitan dengan realitas, sedang rinciannya berkaitan dengan anugerah. Bila kita ingin diserupakan dengan gambar Kristus, yaitu mempelajari Kristus, kita perlu prinsip maupun rincian itu. Jika kita memiliki realitas, kita memiliki prinsip. Jika kita memiliki anugerah, kita akan mencapai standar dengan segala rinciannya.
Paulus mengatakan bahwa kita mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus (4:21). Model, cetakan yang telah diletakkan oleh Tuhan Yesus adalah realitas. Realitas ini adalah prinsip, dan prinsip adalah model, dan model adalah perihal menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Dalam ayat 17-24 kita memiliki prinsip pembaruan kehidupan sehari-hari untuk mempelajari Kristus. Prinsip ini ialah realitas, yaitu kehidupan Tuhan Yesus ketika Ia berada di bumi. Kehidupan Tuhan ialah Ia senantiasa menanggalkan hayat-Nya sendiri dan mengenakan hayat Bapa. Inilah kehidupan Yesus, dan kehidupan ini adalah realitas yang menjadi prinsip dari kehidupan yang mempelajari Kristus. Menurut prinsip ini, kita telah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.
Setiap aspek dari kehidupan sehari-hari kita seharusnya dikendalikan oleh prinsip ini, bukan oleh standar etika. Sebagai contoh, percakapan kita seharusnya tidak dikendalikan oleh standar etika, melainkan oleh prinsip Perjanjian Baru, yaitu menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Bahkan berapa banyaknya kita tertawa dan menangis harus pula ditentukan oleh prinsip menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Prinsip ini jauh lebih tinggi daripada standar etika yang mana pun.
Dalam pembaptisan, kita menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, manusia baru ini adalah hidup gereja (Church life). Kini kehidupan sehari-hari kita dalam hidup gereja harus menurut prinsip realitas, yaitu menurut model kehidupan realitas yang diletakkan Tuhan Yesus. Kita telah menerima pengajaran berdasarkan prinsip menurut realitas yang nyata dalam Yesus.
Rincian kehidupan sehari-hari kita berkaitan dengan anugerah. Dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, kita perlu anugerah. Anugerah adalah Allah itu sendiri dalam Kristus sebagai kenikmatan kita. Kita perlu mem-biarkan kenikmatan ini menyingkirkan unsur-unsur nega-tif yang tercantum dalam ayat 31. Salah satu dari unsur negatif ini ialah kepahitan. Tanpa anugerah, mustahillah kita menyingkirkan kepahitan kita. Tetapi ketika ada Allah dalam Kristus sebagai kenikmatan kita, kepahitan kita akan lenyap. Ketika kita memiliki anugerah yang cukup, kita dapat berkata, “Aku terpenuhi oleh Kristus sebagai kenikmatanku. Karena aku terpenuhi anugerah hingga meluap, maka dalam diriku tidak ada tempat untuk kepahitan macam apa pun.”
Hanya setelah kita dipenuhi oleh anugerah, barulah perkara-perkara negatif tersingkir dari diri kita. Ambillah gosip sebagai contoh. Kita senang bergosip karena kita kekurangan anugerah. Jika kita dipenuhi oleh anugerah, tidak mungkin kita mencari kepuasan melalui bergosip. Sebaliknya, kita akan merasa puas dengan kepuasan yang di dalam Kristus. Ketika kita dipenuhi oleh anugerah dan ketika Kristus menjadi segala sesuatu kita, kita tidak perlu lagi mencari kepuasan dalam perkara-perkara lainnya.
Hanya dengan anugerah, baru kita bisa memiliki satu kehidupan yang sesuai dengan standar ilahi dalam segala rinciannya seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat-ayat ini. Kalau kita dipenuhi oleh anugerah, sebagai ganti kepahitan, kegeraman, amarah, dan pertikaian, kita akan memiliki kebaikan, kesabaran, rahmat, pengampunan, dan kasih. Pekerti-pekerti tersebut bukan berasal dari usaha sendiri, melainkan dari Kristus sebagai kenikmat-an kita. Bila Kristus adalah kenikmatan kita, kita tidak akan berselera terhadap kepahitan, kegeraman, marah, atau pertikaian. Sebaliknya kita damba memiliki kebaikan, kesabaran, ketahanan, lemah-lembut, belas kasih, kasih, dan pekerti-pekerti lainnya. Betapa bedanya jika kita merasa senang dan puas melalui kenikmatan Allah di dalam Kristus sebagai anugerah.
II. MEMBUANG DUSTA
Sekarang mari kita lihat rincian dari suatu kehidupan yang mempelajari Kristus. Dalam ayat 25 Paulus berkata, “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” Dusta mengacu kepada apa saja yang bersifat palsu. Karena kita telah menanggalkan manusia lama, kita juga telah menanggalkan segala sesuatu yang bersifat palsu. Jika kita memiliki kenikmatan atas Kristus, dalam kehidupan sehari-hari kita, dapatlah kita menanggalkan setiap perkara yang palsu dengan riil. Orang yang paling jujur dan setia adalah orang yang memiliki kenikmatan penuh atas Kristus. Bila kita dipenuhi oleh Kristus hingga meluap, semua kepalsuan atau dusta akan tersingkir dari diri kita.
III. BERKATA BENAR SEORANG
KEPADA YANG LAIN
Setelah membuang dusta, kita harus berkata benar seorang kepada yang lain atau kepada sesamanya. Bila kita dipenuhi oleh Kristus, kita akan membicarakan halhal yang benar, yaitu tanpa dusta atau kesia-siaan.
IV. MARAH TETAPI TIDAK BERBUAT DOSA
Ayat 26 dan 27 mengatakan, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: Janganlah matahari terbenam, sebelum padam kemarahanmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Marah bukanlah dosa, tetapi dengan amarah ada kemungkinan melakukan dosa. Kita tidak seharusnya terus di dalam kemarahan, tetapi harus menghilangkannya sebelum matahari terbenam.
Berdasarkan keempat kitab Injil, adakalanya Tuhan Yesus juga bisa marah, namun kemarahan-Nya selalu terkendali. Maka, walau Ia bisa marah, tetapi tidak berbuat dosa. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga seharusnya demikian. Amarah kita harus terkendali. Jika tidak, pasti akan mengakibatkan kerugian dan kerusakan yang serius. Untuk mengendalikan amarah kita perlu banyak anugerah. Semakin kita menikmati Kristus, kemarahan kita akan semakin dibatasi dan dikendalikan.
A. Jangan Membiarkan Matahari Terbenam Sebelum Amarah Kita Padam
Dalam ayat 26 Paulus memberitahukan kita jangan membiarkan matahari terbenam sebelum amarah kita padam. Kita harus perlahan-lahan marah, tetapi cepat-cepat meredakan amarah kita. Menurut ayat ini, kita tidak boleh mempertahankannya sampai matahari terbenam. Kita tidak boleh membawa-bawa amarah kita sampai esok hari. Menurut Alkitab, kita harus meredakan amarah kita sebelum matahari terbenam. Kita semua wajib mempraktekkan hal ini. Untuk mempraktekkan hal ini, kita perlu Allah dalam Kristus sebagai anugerah. Bila kita memiliki suplai anugerah ini, kita akan dapat per-lahan-lahan marah dan tidak membiarkan amarah itu tinggal terlalu lama ketika kita benar-benar marah. Jika kita memiliki anugerah, amarah kita tidak akan bertahan lama.
B. Jangan Beri Kesempatan kepada Iblis
Ayat 27 mengatakan, “Dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Menurut konteksnya, tetap di dalam kemarahan berarti memberi kesempatan kepada Iblis. Kita tidak seharusnya memberi kesempatan sedikit pun kepadanya. Kalau kita mempertahankan amarah kita, itu sebenarnya berarti mengundang Iblis. Tetapi bila kita meredakan amarah kita, kita menutup pintu bagi Iblis dan tidak memberinya tempat.
V. ORANG YANG MENCURI,
JANGAN MENCURI LAGI
Ayat 28 menyambung, “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” Bahkan di dalam kitab tentang wahyu yang demikian tinggi, rasul masih menyinggung hal-hal praktis dan rendah, seperti mencuri dan amarah. Pencurian terutama disebabkan oleh kemalasan dan keserakahan. Karena itu, rasul menyuruh orang yang mencuri untuk bekerja keras, dan bukan bermalas-malasan, dan membagikan apa yang didapatnya kepada orang lain, dan bukannya serakah.
VI. JANGAN ADA PERKATAAN KOTOR
KELUAR DARI MULUT
Ayat 29 mengatakan, “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh anugerah.” Kata kotor di sini dalam bahasa Yunani berarti sesuatu yang beracun, busuk, atau tidak berharga. Perkataan kita tidak seharusnya mencemarkan orang lain, tetapi harus memba-ngun mereka. Gereja dan setiap anggotanya perlu terbangun dengan wajar. Pembangunan ini pertama-tama digenapkan oleh perkataan kita. Apa yang keluar dari mulut kita seharusnya berguna bagi pembangunan gereja dan semua orang kudus.
Lagi pula, kata-kata yang keluar dari mulut kita harus memberi anugerah kepada orang yang mendengarkan. Anugerah ialah Allah yang terwujud di dalam Kristus sebagai kenikmatan dan suplai kita. Perkataan kita seharusnya menyalurkan anugerah yang demikian kepada orang lain. Perkataan yang membangun orang lain selalu melayankan Kristus sebagai anugerah kepada pendengarnya. Perkataan kita harus menyampaikan Allah dalam Kristus sebagai kenikmatan, menyalurkan Kristus kepada orang lain sebagai suplai hayat mereka.
VII. JANGAN MENDUKAKAN
ROH KUDUS ALLAH
Dalam ayat 30 Paulus berkata, “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.” Kata “Dan” pada permulaan ayat ini menandakan bahwa inilah satu perkara yang penting dan menentukan yang diperlukan sebagai tambahan dari segala perkara yang tercantum dalam ayat 25-29, yaitu jangan kita mendukakan Roh Kudus Allah. Mendukakan Roh Kudus berarti membuat Dia tidak senang. Roh Kudus tinggal di dalam kita selamanya (Yoh. 14:16-17), tidak pernah meninggalkan kita. Karena itu, dia berduka ketika kita tidak hidup menurut-Nya (Rm. 8:4), yaitu ketika kita tidak hidup menurut prinsip realitas dengan anugerah dalam rincian hidup kita sehari-hari. Jika dalam perilaku sehari-hari kita bisa menurut prinsip realitas dan anugerah, kita tidak akan mendukakan Roh Kudus Allah. Akan tetapi, jika kita tidak hidup secara demikian, Roh yang ada di batin kita akan merasa berduka.
Berdukacitanya Roh Kudus berarti Ia tidak senang terhadap kita. Sering kali ketika kita merasa tidak senang, perasaan tidak senang itu sebenarnya adalah perasaan Roh Kudus. Namun, bila Ia merasa senang di dalam kita, kita pun merasa senang. Satu kehidupan yang me-nurut realitas dan di dalam anugerah akan senantiasa membuat Roh Kudus sukacita dan mendatangkan sukacita Roh bagi kita.
Nasihat rasul dalam ayat 17-32 bukan hanya memiliki anugerah dan realitas sebagai unsur dasarnya, tetapi juga memiliki hayat Allah (ayat 18) dan Roh Allah sebagai faktor dasar pada pihak yang positif, dan Iblis (ayat 27) sebagai faktor pada pihak yang negatif. Dengan hayat Allah di dalam Roh Allah, dan dengan tidak memberi kesempatan kepada Iblis, kita dapat menempuh hidup yang penuh anugerah dan realitas seperti yang ditempuh Tuhan Yesus.
VIII. HENDAKLAH SEGALA MACAM KEJAHATAN
DIBUANG DARI ANTARA KITA
Dalam ayat 31 Paulus berkata, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Segala perkara jahat yang disebut dalam ayat ini dapat dibuang dari antara kita bila kita menikmati Allah di dalam Kristus sebagai anugerah. Sebagai contoh, dalam kehidupan sehari-hari kita tidak akan ada pertikaian dan fitnah. Tidak seorang pun yang hidup oleh prinsip realitas dan dalam anugerah akan menjelek-jelekkan orang lain.
IX. HENDAKLAH RAMAH SEORANG
TERHADAP YANG LAIN
Terakhir, ayat 32 mengatakan, “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Hanya kenik-matan atas Kristus sebagai suplai hayat kita dan sebagai sukacita kita yang dapat membuat hati kita ramah. Jika kita ramah, kita akan dapat mengampuni orang lain. Da-lam hidup sehari-hari kita, kita perlu mengampuni orang lain dan minta diampuni orang lain. Ini perlu, sebab kita mudah tersinggung dan kita pun mudah menyinggung orang lain. Bila kita telah menyinggung orang lain, kita harus minta pengampunan, tetapi bila kita disinggung, kita perlu mengampuni orang lain; sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita.
Dalam nasihatnya pada bagian ini, rasul memperkenalkan Allah sebagai teladan hidup kita sehari-hari. Dalam Roh dan dengan hayat-Nya, kita dapat mengampuni seperti Allah mengampuni. Jika ini menjadi kehidupan sehari-hari kita, tidak mungkin kita mendukakan Roh Kudus Allah. Untuk memiliki kehidupan yang sedemikian, kita perlu hidup menurut realitas dan oleh Allah dalam Kristus sebagai anugerah kita.