MENANGGALKAN MANUSIA LAMA DAN MENGENAKAN MANUSIA BARU
Dalam tiga puluh tiga setengah tahun hidup-Nya di bumi, Tuhan Yesus membuat suatu cetakan, model, di mana semua orang yang percaya kepada-Nya harus diserupakan. Sesuai dengan catatan dalam keempat kitab Injil, kehidupan Tuhan Yesus adalah kehidupan realitas. Realitas (kebenaran) merupakan pancaran sinar terang. Terang merupakan sumber, dan realitas adalah ekspresinya. Ibrani 1:3 mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah. Ini berarti Dia adalah pancaran sinar Allah yang adalah terang. Karena dalam setiap aspek kehidupan Tuhan di bumi ada pancaran sinar, kehidupan-Nya adalah kehidupan realitas, kehidupan pancaran Allah sendiri. Kehidupan realitas ini adalah ekspresi Allah. Karena alasan inilah Paulus mengatakan bahwa kita mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus. Dengan kata lain, kita mempelajari Kristus sesuai dengan cetakan kehidupan Yesus. Cetakan kehidupan Yesus adalah realitas.
Setelah Kristus membuat cetakan ini, Dia melewati mati dan bangkit, dan dalam kebangkitan Dia menjadi Roh pemberi-hayat. Sebagai Roh yang sedemikian, Dia masuk ke dalam kita menjadi hayat kita. Ketika kita percaya kepada Dia dan dibaptis, Allah meletakkan kita ke dalam Dia yang adalah cetakan, sama seperti adonan diletakkan ke dalam cetakan. Dengan diletakkan ke dalam cetakan ini kita mempelajari cetakan ini. Ini berarti dengan diletakkan ke dalam Kristus, kita mempelajari Kristus. Di satu pihak, Allah meletakkan kita ke dalam Kristus; di pihak lain, Kristus telah masuk ke dalam kita menjadi hayat kita. Sekarang kita bisa hidup oleh-Nya sesuai dengan cetakan yang di dalamnya kita telah diletakkan oleh Allah.
Tidak banyak dari antara kita menyadari pengaruh keempat kitab Injil atas kita. Ketika kita membaca kitab-kitab Injil mengenai cetakan yang dibentuk oleh Tuhan Yesus, cetakan itu dengan spontan mempengaruhi kehidupan kita. Ketika kita mengasihi Tuhan, mengontak Dia, dan berdoa kepada-Nya, kita secara otomatis mem-perhidupkan Dia sesuai dengan cetakan yang digambarkan dalam kitab-kitab Injil. Melalui jalan ini kita dibentuk, diserupakan dengan gambar dari cetakan ini. Inilah yang dimaksud dengan mempelajari Kristus.
Mempelajari Kristus dengan jalan ini sama sekali berbeda dengan mengambil Dia sebagai contoh obyektif dan berusaha keras dalam hayat alamiah kita untuk meniru Dia. Allah telah meletakkan kita ke dalam cetakan yang dibentuk oleh kehidupan Yesus di bumi. Secara bersamaan, Kristus sebagai Roh pemberi-hayat telah masuk ke dalam diri kita sebagai hayat. Semakin kita mengasihi Dia dan mengontak Dia, kita semakin hidup sesuai dengan cetakan ini. Sebagai hasilnya, kita secara spontan diserupakan dengan gambar cetakan itu. Karena itu, bersama Paulus kita dapat berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Kita memperhidupkan Kristus sesuai dengan hayat-Nya, dalam bentuk yang te-lah dicatat dalam kitab-kitab Injil.
Kita harus membedakan jenis kehidupan ini dari kehidupan yang sesuai dengan pengajaran modern menge-nai meniru Kristus sebagai teladan kita. Para modernis dengan salah mengajarkan bahwa Kristus bukanlah Allah, tetapi manusia yang memiliki standar tertinggi untuk kita ikuti. Pengajaran itu menuntut kita menggunakan hayat alamiah kita untuk meniru Kristus dan menempuh kehidupan sesuai dengan standar-Nya. Pengajaran seperti itu adalah bidah. Itu mutlak tidak ada hubungannya dengan realitas yang nyata dalam Yesus. Hal itu menyangkal fakta bahwa orang beriman yang sejati ada dalam Kristus dan memiliki Kristus di dalamnya. Berlawanan dengan ajaran bidah itu, yakni pengajaran yang modern, kita berkata sesuai dengan Perjanjian Baru bahwa ketika orang berdosa bertobat dan percaya kepada Kristus dan dibaptis ke dalam Kristus, Allah meletakkan dia ke dalam Kristus sebagai cetakan. Pada saat yang sama, Kristus sebagai Roh pemberi-hayat masuk ke dalamnya menjadi hayatnya. Kemudian, orang beriman ini perlu hidup oleh Kristus sebagai hayatnya, sesuai dengan cetakan itu. Semakin dia hidup oleh Kristus, dia semakin dengan spontan dibentuk ke dalam bentuk cetakan itu. Ini adalah kehidupan dalam Kristus dan juga kehidupan Kristus dalam kita. Kita berada dalam Kristus sebagai cetakan, dan Dia di dalam kita sebagai hayat kita. Dengan jalan ini kita mempelajari Kristus sebagai realitas yang nyata dalam Yesus.
Efesus 4 membahas tiga hal tentang kehidupan yang sepadan dengan panggilan Tuhan: memelihara kesatuan (ayat 1-14), bertumbuh ke dalam Kepala (ayat 15-16), dan mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus (ayat 17-32). Mengenai mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus, Paulus pertama-tama menasihati kita dan bersaksi kepada kita bahwa kita seharusnya tidak lagi hidup seperti orang-orang kafir, dalam kesia-siaan pikiran mereka (ayat 17). Sebaliknya, kita seharusnya menempuh kehidupan yang sesuai dengan realitas yang nyata dalam Yesus. Orang-orang kafir hidup dalam kesia-siaan pikiran mereka, tetapi kita hidup dalam realitas yang diekspresikan dalam kehidupan Yesus yang dicatat dalam kitab-kitab Injil. Dalam kehidupan-Nya kita melihat realitas, kebenaran, pancaran terang, ekspresi Allah. Sebagai orang-orang beriman dalam Kristus, kita perlu hidup dalam realitas tersebut.
Ayat 21 mengatakan bahwa kita telah menerima pengajaran di dalam Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus. Ayat 22 dan 24 memperlihatkan apa yang telah diajarkan kepada kita: bahwa kita telah menang-galkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Kita menerima pengajaran mengenai hal ini ketika kita diletakkan di dalam cetakan, yaitu ketika kita dibaptis. Dalam baptisan kita menerima pengajaran bahwa manusia lama kita telah disalibkan dan telah dikubur melalui baptisan. Tidak hanya demikian, kita juga menerima pengajaran bahwa kita telah keluar dari air, kita bangkit menjadi manusia baru. Karena itu, melalui baptisan kita menerima pengajaran bahwa kita telah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.
Dalam hal ini kita harus mempertimbangkan Roma 6:3-5. Ayat 3 mengatakan, “Atau tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?” Dibaptis ke dalam Kristus Yesus berarti diletakkan ke dalam Dia. Selain itu, melalui baptisan itu kita telah dikubur ke dalam kematian Kristus. Dalam ayat 4-5 kita melihat suatu cetakan. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa melalui baptisan kita telah menerima pengajaran bahwa kita telah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Hal ini merupakan pengalaman orang Kristen yang normal.
Secara normal, sewaktu kita memberitakan Injil kepada orang-orang berdosa, kita memberi tahu mereka tentang hayat, kematian, dan kebangkitan Tuhan Yesus. Kemudian kita mendorong mereka yang ingin percaya ke dalam Kristus untuk menerima Dia ke dalam mereka sebagai hayat mereka. Tahapan selanjutnya adalah membaptis mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kita meletakkan mereka ke dalam Kristus sebagai suatu cetakan. Setelah itu, mereka perlu hidup oleh Kristus sesuai dengan cetakan. Melalui baptisan mereka menerima pengajaran bahwa mereka telah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Dengan dikubur melalui baptisan, mereka mempelajari Kristus menurut realitas yang ada dalam Yesus.
Kita seharusnya tidak mencoba memahami ayat-ayat seperti 4:20-24 melalui menggunakan pikiran alamiah kita. Sebaliknya, kita harus mempertimbangkannya dalam terang pengalaman kita sebagai orang Kristen. Jika kita melakukan hal ini, terang ini akan perlahan-lahan memancar atas kita, dan kita akan melihat realitas. Realitas di sini adalah ketika kita dibaptis, kita menerima pengajaran bahwa kita telah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Perhatikan, Paulus tidak berkata bahwa kita telah menerima pengajaran untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Manusia lama kita telah dikubur dalam air baptisan. Karena itu, kita telah menanggalkan manusia lama. Selain itu, sewaktu kita bangkit dari air dalam kebangkitan, kita telah mengenakan manusia baru. Karena itu, kita juga telah mengenakan manusia baru. Maka, kita telah menerima pengajaran dalam Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus bahwa kita telah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.
I. SYARAT MEMPELAJARI KRISTUS
Menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru adalah suatu syarat mempelajari Kristus. Hal ini sama sekali berbeda dengan pengajaran bidah modernis yang mengatakan bahwa Kristus membangun standar kehidupan manusia yang tertinggi dan kita harus berusaha meniru Dia dan hidup menurut standar ini. Jika kita ingin mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus, kita harus memenuhi syarat menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Ini bukanlah kebenaran yang dangkal.
II. MENANGGALKAN MANUSIA LAMA
A. Berhubungan dengan Cara Hidup
Kamu yang Dulu
Ayat 22 mengatakan bahwa berhubung dengan cara hidup kita yang dahulu, kita telah menanggalkan manusia lama. Cara hidup yang dahulu adalah hidup di dalam kesia-siaan pikiran. Cara hidup seperti itu telah diakhiri dan disingkirkan.
B. Manusia Lama
Ayat 22 juga mengatakan bahwa manusia lama “menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan.” Manusia lama berasal dari Adam, yang diciptakan Allah, tetapi jatuh karena dosa. Kata-kata “nafsunya yang menyesatkan” dalam bahasa aslinya adalah “nafsu penyesat itu”. Kata “itu” di sini bersifat menekankan, dan penyesat itu dipersonifikasikan. Karena itu, si penyesat itu mengacu kepada si pendusta, Iblis, dari dialah datangnya nafsu-nafsu manusia lama yang bobrok. Manusia lama dirusak sesuai dengan nafsu Iblis, si penyesat itu. Secara lahiriah, cara hidup manusia lama adalah hidup dalam kesia-siaan pikiran. Secara batiniah, manusia lama dirusak sesuai dengan nafsu Iblis, hawa nafsu yang menyesatkan.
Manusia lama ini disalibkan bersama Kristus (Rm. 6:6) dan dikubur dalam baptisan (Rm. 6:4). Haleluya, kita telah menanggalkan manusia lama dalam baptisan!
III. DIPERBARUI
Di antara kata yang berhubungan dengan menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, Paulus menyisipkan pemikiran tentang diperbarui dalam roh pikiran (ayat 23 Tl.). Berdasarkan fakta yang sudah tergenap tentang menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, ayat 23 menyuruh kita untuk diperbarui dalam roh pikiran kita. Diperbarui adalah untuk transformasi kita sesuai dengan gambar Kristus (Rm. 12:2; 2Kor. 3:18). Roh di sini adalah roh kelahiran kembali kaum beriman yang berbaur dengan Roh Allah yang berhuni di batin kita. Roh perbauran ini menyebar ke dalam pikiran kita, sehingga menjadi roh pikiran kita. Di dalam roh inilah kita diperbarui bagi transformasi kita. Dengan jalan ini pikiran alamiah kita dikuasai, ditundukkan, dan berada di bawah roh. Ini tentunya menyiratkan proses transformasi metabolis. Sewaktu proses ini berlangsung, roh perbauran ini masuk ke dalam pikiran kita, menduduki pikiran kita, dan menjadi roh pikiran.
Melalui roh pikiran kita diperbarui agar dalam pengalaman menggenapkan apa yang telah rampung dalam menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru adalah fakta yang telah rampung. Sekarang kita harus mengalami dan merealisasikan fakta-fakta ini melalui diperbarui dalam roh pikiran. Sewaktu fakta ini direalisasikan dalam pengalaman, kita menempuh hidup yang sesuai dengan kehidupan Yesus. Ini berarti kita menempuh hidup realitas, hidup dalam pancaran terang, dan dalam ekspresi Allah. Ketika kita diperbarui dalam roh pikiran untuk mengalami fakta menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, kita hidup menurut realitas yang nyata dalam Yesus.
IV. MENGENAKAN MANUSIA BARU
A. Korporat
Manusia baru berasal dari Kristus. Itulah Tubuh-Nya yang diciptakan di dalam Dia di atas salib (2:15-16). Ini bukan bersifat individual, tetapi korporat (Kol. 3:10-11). Fakta bahwa manusia baru diciptakan dari dua kelompok orang membuktikan bahwa manusia baru itu bersifat korporat. Selain itu, Kolose 3:10-11 menyatakan bahwa manusia baru tersusun dari banyak orang. Dalam manusia baru yang korporat ini tidak ada lagi orang Yunani atau Yahudi, tidak ada budak atau orang merdeka, tidak ada lagi orang Barbar atau orang Skit, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Dalam Kolose 3:11 perkataan “semua” mengacu kepada orang banyak. Hal ini berarti bahwa dalam manusia baru Kristus adalah semua orang dan di dalam semua orang. Karena itu, dalam manusia baru yang korporat Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.
Kitab Efesus pertama-tama mewahyukan bahwa gereja adalah Tubuh Kristus (1:22-23), Kerajaan Allah, keluarga Allah (2:19), dan Bait Suci; tempat kediaman Allah (2:21-22). Di sini lebih lanjut diwahyukan bahwa gereja adalah manusia baru. Ini adalah aspek tertinggi gereja. Perkataan Yunani untuk gereja, ekklesia, berarti orang-orang yang dipanggil keluar untuk berkumpul, yaitu suatu perhimpunan. Ini merupakan aspek permulaan gereja. Dari hal ini rasul meneruskan ke aspek kawan sewarga dari Kerajaan Allah dan anggota keluarga Allah. Hal ini lebih tinggi daripada aspek pertama, tetapi tidak setinggi aspek gereja sebagai Tubuh Kristus. Namun manusia baru masih lebih tinggi daripada Tubuh Kristus. Karena itu, gereja bukan hanya suatu perkumpulan orang beriman, warga kerajaan surgawi, keluarga anak-anak Allah, dan juga bukan hanya Tubuh Kristus. Dalam aspek terpentingnya, gereja adalah manusia baru untuk menggenapkan tujuan kekal Allah. Sebagai Tubuh Kristus, gereja memerlukan Kristus sebagai hayatnya; sedangkan sebagai manusia baru, gereja memerlukan Kristus sebagai pribadinya. Pribadi korporat yang baru ini harus menempuh hidup seperti yang ditempuh Yesus di bumi, yaitu hidup realitas yang mengekspresikan Allah dan membuat Allah dikenal orang sebagai realitas. Karena itu, manusia baru adalah fokus nasihat rasul dalam bagian ini (ayat 17-32).
B. Diciptakan Menurut Kehendak Allah
Ayat 24 mengatakan bahwa manusia baru diciptakan menurut kehendak Allah. Manusia lama secara lahiriah diciptakan menurut gambar Allah, tetapi tanpa hayat dan sifat Allah (Kej. 1:26-27), sedangkan manusia baru secara batiniah diciptakan menurut Allah sendiri, memiliki hayat dan sifat Alah (Kol. 3:10).
C. Dalam Kebenaran dan Kekudusan
Realitas Itu (yang Sesungguhnya)
Selain itu, manusia baru diciptakan dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (realitas itu. Tl.). Kebenaran berarti benar terhadap Allah dan terhadap manusia sesuai dengan jalan kebenaran Allah, sedangkan kekudusan adalah ibadah dan kesalehan di hadapan Allah (lihat catatan 751 dalam Lukas 1). Kebenaran terutama ditujukan terhadap manusia, dan kekudusan terutama ditujukan terhadap Allah. Kebenaran mengacu kepada tindakan lahiriah, sedangkan kekudusan mengacu kepada sifat batiniah. Secara luaran segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia baru adalah benar; dan secara batiniah segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia baru adalah kudus.
Kebenaran dan kekudusan manusia baru berasal dari realitas itu. Kata “itu” dalam ayat 24 bersifat menekankan. Seperti si penyesat itu dalam ayat 22 yang berhubungan dengan manusia lama, adalah personifikasi Iblis, maka realitas di sini, yang berhubungan dengan manusia baru, adalah personifikasi Allah. Realitas ini dinyatakan dalam hayat Yesus, yang disebutkan dalam ayat 21. Dalam hayat Yesus kebenaran dan kekudusan realitas terus-menerus diwujudkan. Di dalam kebenaran dan kekudusan kebenaran ini, yang adalah perwujudan dan ekspresi Allah, manusia baru ini diciptakan.
Kepalsuan adalah Iblis, dan kebenaran adalah Allah. Manusia lama sesuai dengan hawa nafsu Iblis, tetapi manusia baru berada dalam kebenaran dan kekudusan Allah. Menganggap kata kebenaran dalam bahasa Yunaninya sebagai kata sifat (ajektiva) adalah kesalahan yang serius. Versi King James membuat suatu kesalahan dalam memakai kata “kekudusan yang benar”. Di sini konsepsi Paulus bukanlah kekudusan yang benar, melainkan kekudusan realitas itu. Kekudusan di sini adalah kekudusan Persona ilahi. Manusia baru diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan Allah sendiri.
Agar kita dapat mempelajari Kristus, Paulus memperlihatkan suatu gambaran yang kontras antara manusia lama dengan manusia baru, antara Iblis dengan Allah, dan antara hawa nafsu, di satu pihak, dengan kebenaran dan kekudusan di pihak lain. Kita telah menerima ajaran bahwa kita telah menanggalkan manusia lama dan telah mengenakan manusia baru. Ini berarti kita telah menanggalkan hawa nafsu dan dusta Iblis dan mengenakan kebenaran dan kekudusan Allah. Allah adalah kebenaran, dan kebenaran ini tertampak dalam kehidupan Yesus di bumi. Kehidupan insani Yesus sesuai dengan realitas, yaitu, sesuai dengan Allah sendiri, penuh kebenaran dan kekudusan. Puji Tuhan kita telah mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus!
Jika kita mempelajari Kristus dengan menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru, kita akan ada dalam kehidupan gereja, karena manusia baru sebenarnya adalah gereja. Jika kita mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus, kita dapat memiliki hidup gereja yang sejati, tepat, dan riil.