← Daftar isi Efesus (1) · bab 21/24

MEMPELAJARI KRISTUS MENURUT REALITAS YANG NYATA DALAM YESUS

Dalam berita ini kita akan membahas Efesus 4:17-21, khususnya ayat 20 dan 21, yang membicarakan tentang mempelajari Kristus menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus.

I. BUTIR KETIGA DARI HIDUP YANG SEPADAN DENGAN PANGGILAN ALLAH

Dalam 4:1 Paulus menasihati kita untuk hidup sepadan dengan panggilan yang olehnya kita dipanggil. Butir pertama dari hidup yang sepadan dengan panggilan Allah ialah memelihara kesatuan, dan yang kedua ialah bertumbuh ke dalam Kristus, Kepala, dan butir ketiga ialah mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus.

Ayat 17 memulai satu paragraf baru. Kedua hal pertama dari hidup yang sepadan ditempatkan bersama dalam paragraf pertama pasal ini. Alasannya ialah pertumbuhan di dalam Kristus erat sekali hubungannya dengan pemeliharaan kesatuan; keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan. Dalam ayat 1-16, kehidupan dan fungsi Tubuh telah dibicarakan. Kini, dalam ayat 17-32, kehi-dupan sehari-harilah yang dibahas. Ayat 17-24 memberi kita prinsip-prinsip hidup sehari-hari, dan ayat 25-32 memberi kita rinciannya.

II. JANGAN HIDUP LAGI SAMA

SEPERTI ORANG KAFIR

Ayat 17 mengatakan, “Sebab itu, kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah (orang-orang kafir) dengan pikirannya yang sia-sia.” Perkataan rasul di sini bukan hanya nasihatnya tetapi juga kesaksiannya. Nasihatnya adalah kehidupannya. Berhubung ia sendiri menempuh sejenis kehidupan yang hendak ia lukiskan, maka dalam ajarannya ia memberi kesaksian kepada kita.

A. Hidup dengan Pikirannya yang Sia-sia

Nasihat Paulus ialah, “Jangan hidup lagi seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.” Orang-orang yang tidak mengenal Allah adalah orang-orang yang jatuh, yang menjadi sia-sia dalam pikiran mereka (Rm. 1:21). Mereka hidup tanpa Allah dalam kesia-siaan pikiran mereka, dikendalikan dan diarahkan oleh pemikiran mereka yang sia-sia. Apa pun yang mereka lakukan menurut pikiran mereka yang jatuh adalah kesia-siaan, tanpa realitas. Kehidupan manusia yang jatuh ialah kehidupan dalam kesia-siaan pikiran. Hari ini semua manusia duniawi hidup dalam kesia-siaan yang demikian. Dalam pandangan Allah dan Rasul Paulus, apa saja yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan mereka tidak lain kesia-siaan. Perkara-perkara itu satu pun tidak ada yang riil atau mantap, semuanya sia-sia. Sebagai orang beriman, kita tidak seha-rusnya hidup lagi dalam pikiran yang sia-sia, sebaliknya kita harus hidup dalam realitas roh kita.

B. Gelap dalam Pengertian

Menurut ayat 18, orang-orang yang hidup dalam pi-kiran yang sia-sia memiliki pengertian yang gelap. Ketika pikiran orang-orang yang jatuh dipenuhi dengan kesia-siaan, pengertian mereka digelapkan tentang masalah Allah.

C. Jauh dari Hayat Allah

Orang-orang itu juga “jauh dari hayat Allah” (ayat 18, Tl.). Hayat ini adalah hayat Allah yang kekal, bukan ciptaan, yang tidak dimiliki oleh manusia pada saat penciptaan. Setelah diciptakan, manusia dengan hayat insani yang diciptakan Allah ditaruh di depan pohon hayat (Kej. 2:8-9) supaya dia dapat menerima hayat Allah yang bukan ciptaan. Tetapi manusia jatuh ke dalam kesia-siaan pikirannya dan digelapkan dalam pengertiannya sehingga tidak dapat menjamah hayat Allah, sampai ia bertobat (pikirannya berpaling kepada Allah), dan percaya kepada Tuhan Yesus untuk menerima hayat kekal Allah (Kis. 11:18; Yoh. 3:16).

Maksud Allah dalam menciptakan manusia adalah agar manusia beroleh bagian dalam buah pohon hayat, dan karenanya beroleh hayat kekal Allah. Tetapi karena kejatuhan, sifat jahat Iblis telah diinjeksikan ke dalam manusia, sehingga manusia dijauhkan dari pohon hayat itu. Menurut Kejadian 3:24, Tuhan Allah “menghalau ma-nusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan (hayat).” Dengan demikian, manusia telah dijauhkan dari hayat Allah. Kerub, api, dan pedang melambangkan kemuliaan, kekudusan, dan keadilan Allah. Ketiga benda itu menjauhkan manusia yang berdosa sehingga tidak bisa menerima hayat kekal. Ketika Tuhan Yesus mati di atas salib, Ia telah memenuhi se-mua tuntutan kemuliaan, kekudusan, dan keadilan Allah. Karena itu, melalui penebusan Tuhan Yesus, jalan telah terbuka bagi kita untuk menjamah pohon hayat sekali lagi. Itulah sebabnya Ibrani 10:19 mengatakan bahwa kita “sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat (maha) kudus, oleh darah Yesus.” Pohon hayat berada dalam tempat maha kudus. Sebagai orang yang percaya Kristus, kita telah dibawa kembali ke pohon hayat itu. Kini hayat ilahi dalam tempat maha kudus da-pat menjadi kenikmatan kita sehari-hari. Namun orang-orang kafir tetap dijauhkan dari hayat Allah.

1. Karena Kebodohan yang Ada di dalam Mereka

Salah satu sebab dijauhkannya mereka ialah “karena kebodohan yang ada di dalam mereka” (ayat 18). Ke-bodohan di sini tidak hanya menunjukkan pengetahuan yang kurang, tetapi juga ketidaksudian untuk mengetahui. Karena kedegilan hatinya, manusia yang jatuh tidak mengakui pengenalan akan hal-hal yang berkenaan dengan Allah (Rm. 1:28). Karena itu, pengertiannya digelapkan sehingga ia tidak mengenal Allah.

Orang-orang yang tidak percaya tidak mengenal Allah dan hal-hal rohani, bahkan mereka enggan untuk mengenal. Betapa besar rahmat-Nya, kita tidak saja memiliki pengetahuan yang wajar, juga berhasrat untuk mengenal-Nya! Dalam batin kita ada hasrat untuk mengenal Allah, mengenal hayat, dan mengenal hal-hal rohani, ini adalah suatu berkat yang besar. Sebelum kita diselamatkan, kita tidak memiliki hasrat ini. Seperti orang-orang kafir, kita kekurangan pengetahuan maupun hasrat untuk mengetahui. Tetapi sekarang kita lapar dan dahaga untuk mengenal Allah. Semakin kita dapat mengenal Dia dan hayat ilahi, semakin baik. Setiap orang Kristen yang tidak menuntut untuk mengenal Tuhan tidak mungkin gembira dan puas. Menuntut Tuhan dan menuntut mengenal hayat dan hal-hal Allah adalah sumber sukacita yang besar. Itulah sebabnya kita begitu gembira dalam sidang-sidang gereja. Itu pula sebabnya saya memiliki satu sukacita batiniah ketika saya menyuplaikan firman kepada umat Tuhan. Ada sesuatu yang dari Tuhan telah tertabur ke dalam kita, dan memberi kita hasrat untuk mengenal Dia.

2. Karena Kekerasan Hati Mereka

Sebab lainnya mengapa orang-orang kafir itu dijauhkan dari hayat Allah, ialah karena kekerasan hati mereka. Kekerasan hati manusia yang jatuh adalah sumber kegelapan dalam pengertian mereka dan kesia-siaan pikiran mereka. Sebelum kita beroleh selamat, kita juga berhati keras. Kita seolah-olah tidak dapat dimasuki firman, dan firman Allah tidak dapat masuk ke dalam kita. Demikianlah situasi orang tidak percaya hari ini.

D. Perasaan Telah Tumpul

Tidak hanya demikian, dalam diagnosisnya yang tuntas tentang kondisi manusia yang jatuh, Paulus menunjukkan bahwa orang-orang kafir itu “perasaan mereka telah tumpul” (ayat 19). Kata “perasaan” di sini terutama mengacu kepada kesadaran hati nurani seseorang. Karena itu, “perasaan mereka telah tumpul” berarti mereka tidak mempedulikan hati nurani mereka. Setelah manusia jatuh, Allah menetapkan agar manusia berada di bawah penguasaan hati nuraninya. Tetapi manusia yang jatuh itu malah menyerahkan dirinya kepada hawa nafsu serakahnya, tidak mempedulikan hati nuraninya. Karena orang-orang yang tidak percaya itu enggan menghiraukan perasaan hati nurani mereka, akhirnya fungsi hati nurani mereka itu berhenti. Maka perasaan di dalam batin me-reka telah tumpul.

E. Menyerahkan Diri kepada Hawa Nafsu

Bahkan mereka “menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan dengan serakah mengerjakan segala macam perbuatan cemar” (ayat 19). Mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu yang tidak dapat dipuaskan. Kalau kita melihat situasi dunia hari ini, kita akan nampak bahwa orang yang tidak percaya telah menyerahkan diri mereka kepada hawa nafsu untuk mengerjakan dengan serakah segala macam perbuatan cemar.

III. MEMPELAJARI KRISTUS

Ayat 17-19 merupakan latar belakang hitam dari apa yang Paulus katakan dalam ayat 20, “Tetapi bukan dengan demikian kamu belajar mengenal Kristus.” Perjanjian Baru sangat tegas menunjukkan bahwa kita harus memperhidupkan Kristus. Dalam Filipi 1:21 Paulus menyatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus.” Tetapi dalam Efesus 4:20 ini dikatakan bahwa kita telah mempelajari Kristus. Perhatikan, Paulus di sini memakai kata kerja kala lampau (past tense) dalam mengatakan perihal mempelajari Kristus, demikian pula ayat berikutnya, yang mengatakan, “Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran (realitas) yang nyata dalam Yesus.” Masalah mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus sulit dimengerti, kita harus merenungkannya dengan sangat cermat.

Kristus tidak saja sebagai hayat bagi kita, tetapi juga teladan (Yoh. 13:15; 1Ptr. 2:21). Kita belajar dari Dia (Mat. 11:29) menurut teladan-Nya, bukan dengan hayat alamiah kita, melainkan dengan Dia sebagai hayat kita dalam kebangkitan. Menurut Perjanjian Baru, Tuhan Yesus tidak langsung masuk ke dalam kita sebagai hayat, melainkan setelah Ia hidup di bumi selama tiga puluh tahun, Ia melayani selama tiga setengah tahun. Selama hidup-Nya di bumi tiga puluh tiga setengah tahun itu, Ia meletakkan satu model, satu cetakan, satu teladan. Hal ini merupakan perkara yang sangat bermakna. Salah satu alasan dari penulisan keempat Injil ialah memperlihatkan teladan hayat yang dikehendaki Allah, cetakan hayat yang dapat memuaskan Allah serta memenuhi kehendak-Nya. Karena alasan inilah Perjanjian Baru memberi kita satu biografi unik dari Tuhan Yesus, yang ditulis dari empat aspek. Setelah Tuhan Yesus meletakkan teladan yang diwahyukan dalam keempat kitab Injil, Ia tersalib di atas salib dan kemudian masuk ke dalam ke-bangkitan. Dalam kebangkitan inilah Ia masuk ke dalam kita menjadi hayat kita.

Menurut Perjanjian Baru, diselamatkan berarti ditaruh Allah ke dalam Kristus. Satu Korintus 1:30 menerangkan, “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus.” Ketika Allah meletakkan kita ke dalam Kristus, Ia menaruh kita ke dalam cetakan itu. Seperti halnya seorang saudari mencetak adonan ke dalam cetakan kue, begitulah Allah bermaksud membentuk kita sesuai dengan cetakan Kristus. Maka Roma 8:29 menunjukkan bahwa kita diserupakan dengan gambar Kristus, Putra sulung di antara banyak saudara. Diserupakan berarti dicetak. Putra sulung adalah model, dan banyak saudara dari Putra sulung adalah mereka yang telah diserupakan dengan model ini. Maka mempelajari Kristus tidak lain berarti dicetak dengan model Kristus, yaitu diserupakan dengan gambar Kristus.

Melalui baptisan, Allah telah menaruh kita ke dalam Kristus sebagai model. Dibaptis adalah ditaruh ke dalam Kristus sebagai cetakan. Baik Roma 6:3 maupun Galatia 3:27 mengatakan tentang dibaptis ke dalam Kristus. Dibaptis ke dalam Kristus berarti dikubur ke dalam-Nya. Kuburan baptisan ini ialah suatu model, cetakan. Dalam pandangan Allah, kita telah ditaruh ke dalam cetakan ini ketika kita dibaptis. Melalui diletakkan ke dalam cetakan ini kita telah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Melalui dikubur ke dalam Kristus, kita pun telah dikeluarkan dari Adam dan ciptaan lama. Melalui baptisan, kita telah ditaruh ke dalam Kristus, yang adalah hayat dan model kita. Ini menjelaskan mengapa Paulus memakai kalimat berkala lampau dalam mengatakan tentang mempelajari Kristus. Kita mempelajari Kristus ketika kita dikubur ke dalam-Nya dalam baptisan. Ini berarti mempelajari Kristus adalah diletakkan ke dalam Kristus sebagai cetakan, yaitu dicetak ke dalam model yang didirikan-Nya selama tahun-tahun Dia hidup di bumi.

Setelah Kristus mendirikan model ini, Ia lalu disalibkan, kemudian masuk ke dalam kebangkitan, dan dalam kebangkitan Ia menjadi Roh pemberi-hayat (1Kor. 15:45). Sebagai Roh itulah Ia lalu masuk ke dalam kita menjadi hayat kita. Kita telah menunjukkan bahwa pada waktu kita percaya ke dalam Kristus dan dibaptis ke dalam-Nya, Allah menaruh kita ke dalam-Nya sebagai model, cetakan. Karena itu, Paulus dapat memberi tahu orang Efesus bahwa mereka “telah mempelajari Kristus”. Menurut terang Perjanjian Baru dan menurut pengalaman kita, mempelajari Kristus berarti ditaruh ke dalam Kristus oleh Allah. Di pihak Allah, Ia telah menaruh kita ke dalam Kristus, sedangkan di pihak kita, kita telah mempelajari Kristus melalui ditaruh ke dalam-Nya.

Setelah seorang beroleh selamat, dalam batinnya ia berhasrat menempuh suatu hidup yang sesuai dengan model yang didirikan Tuhan Yesus. Namun, banyak orang yang mengabaikan hasrat ini atau mengembangkannya secara keliru, yaitu mengira dapat sukses meniru-Nya dengan usaha mereka sendiri. Kita keliru kalau kita berpikir bahwa kita dapat meniru Kristus melalui menggunakan hayat alamiah kita. Orang Kristen seharusnya meniru Kristus, namun mereka tidak boleh berbuat demikian menurut hayat alamiah mereka.

Realitas yang nyata dalam Yesus mengacu kepada keadaan sesungguhnya seumur hidup Yesus seperti yang tercatat dalam keempat kitab Injil. Perilaku orang-orang yang tidak ber-Allah, yaitu orang-orang yang jatuh, hanya ada kesia-siaan. Tetapi dalam hidup Yesus yang beribadah ada kebenaran, realitas. Yesus menempuh hidup, senantiasa melakukan segala sesuatu di dalam Allah, dengan Allah, dan bagi Allah. Allah ada di dalam hidup-Nya, dan Dia satu dengan Allah. Inilah kebenaran yang nyata dalam Yesus. Kita, kaum beriman, yang dilahirkan kembali dengan Kristus sebagai hayat kita dan diajar di dalam-Nya, belajar dari Dia sebagai kebenaran yang nyata di dalam Yesus.

Kita telah menunjukkan bahwa kita sudah keliru jika kita berusaha meniru Kristus melalui usaha hayat alamiah kita. Kita juga nampak bahwa ketika kita percaya Tuhan Yesus dan beroleh selamat, Allah meletakkan kita ke dalam Kristus sebagai cetakan. Cetakan ini ialah hidup Yesus yang tercatat dalam keempat kitab Injil, suatu hidup yang mutlak sesuai dengan realitas. Realitas (kebenaran) adalah pancaran terang, atau ekspresi terang. Karena Allah adalah terang (1Yoh. 1:5), maka realitas (kebenaran) adalah ekspresi Allah. Setiap aspek dari hidup Yesus yang tercatat dalam keempat kitab Injil merupakan satu ekspresi Allah. Dalam setiap hal yang Ia katakan dan lakukan, Ia mengekspresikan Allah. Ekspresi Allah ini ialah pancaran terang; maka ekspresi ini adalah realitas (kebenaran). Hidup Yesus yang sesuai dengan realitas ini adalah model yang di dalamnya Allah telah meletakkan kita. Dalam model ini kita telah mem-pelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus. Ini berarti kita telah mempelajari Kristus menurut realitas yang diperlihatkan dalam keempat kitab Injil, yaitu menurut hidup Tuhan Yesus, yang seluruhnya sesuai dengan realitas Allah. Hidup ini ialah pancaran terang. Pancaran terang ini ialah realitas (kebenaran) dan realitas (kebenaran) ialah ekspresi Allah. Karena itu, dalam hidup Yesus ada realitas. Esens model yang didirikan hidup Tuhan Yesus ialah realitas. Ini berarti esens hidup Yesus adalah realitas. Kita telah mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus.

Realitas yang nyata dalam Yesus dalam ayat 21 berlawanan dengan pikiran yang sia-sia dalam ayat 17. Kalau orang-orang kafir hidup dalam kesia-siaan pikiran mereka, maka kita, kaum beriman hidup menurut realitas yang nyata dalam diri Yesus. Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, Ia tidak pernah hidup dalam kesia-siaan, sebaliknya, Ia senantiasa hidup dalam realitas, yaitu dalam pancaran terang ilahi. Ini berarti Tuhan Yesus hidup dan berperilaku dalam ekspresi Allah. Kita telah mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus.