RINGKASAN MEMPELAJARI KRISTUS
Dalam beberapa berita terdahulu kita telah membahas tentang syarat untuk mempelajari Kristus dan kehidupan mempelajari Kristus. Syaratnya ialah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Kehidupan mempelajari Kristus itu menggunakan prinsip realitas dan hidup menurut anugerah. Dalam berita ini kita akan menyajikan satu ringkasan tentang mempelajari Kristus. Ringkasan ini mencakup realitas (4:21, 24, 25) dan anugerah (ayat 29) sebagai unsur dasar dan hayat Allah (ayat 18), Roh kudus Allah (ayat 30) dan Iblis (ayat 27) sebagai faktor dasar.
I. UNSUR DASAR
Dalam berita yang lalu kita menunjukkan bahwa dalam Perjanjian Baru anugerah dan realitas merupakan satu pasangan, kasih dan terang adalah pasangan lainnya. Pasangan-pasangan ini terutama diwahyukan dalam tulisan-tulisan Yohanes. Kitab Injilnya membicarakan anugerah dan realitas, sedang Surat Kirimannya yang pertama membicarakan kasih dan terang. Injil Yohanes mengatakan bagaimana Allah datang kepada kita dalam Putra agar kita dapat menerima-Nya sebagai anugerah dan memahami-Nya sebagai realitas. Lalu 1 Yohanes mewahyukan bahwa setelah kita menerima Allah dalam Putra, kita boleh datang kepada Allah Bapa untuk menikmati-Nya sebagai kasih dan terang. Maka dalam Injil Yohanes Allah datang kepada kita sebagai anugerah dan realitas, tetapi dalam Kitab 1 Yohanes kita pergi kepada Allah untuk memasuki kasih dan terang-Nya dalam per-ekutuan. Ini menunjukkan bahwa di antara Allah dengan kita, dan di antara kita dengan Allah terdapat suatu lalu lintas. Menurut Kitab Wahyu, hasil dan akibat dari lalu lintas ilahi ini ialah kaki dian emas pada zaman ini dan Yerusalem Baru pada masa kekekalan.
Yohanes 1:17 mengatakan bahwa hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi anugerah dan realitas datang oleh Yesus Kristus. Ini berarti sebelum kedatangan Kristus, anugerah dan realitas belum datang kepada umat Allah. Memang dalam Perjanjian Lama sudah ada bayang-bayang anugerah dan realitas, tetapi sebelum Yesus Kristus muncul, tidak ada realitas anugerah dan realitas. Ketika Kristus datang, barulah anugerah dan realitas itu datang.
Injil Yohanes mewahyukan bagaimana Allah datang kepada manusia melalui inkarnasi. Firman yang bersama Allah dan yang adalah Allah telah menjadi daging dan berkemah di antara kita (Yoh. 1:1, 14). Ayat 14 mengatakan bahwa Persona yang berinkarnasi ini penuh dengan anugerah dan realitas. Ayat itu tidak mengatakan Ia penuh dengan kuasa dan wewenang, keagungan, dan kedaulatan, atau kasih dan terang. Banyak orang Kristen mengutip Yohanes 1:14 tanpa mengerti makna anugerah dan realitas. Anugerah dan realitas berkaitan erat dengan Allah sendiri. Anugerah adalah sesuatu yang manis, realitas adalah sesuatu yang riil. Anugerah sebenarnya adalah Persona Tuhan Yesus yang manis, dan ialah wujud kepenuhan Allah dan pancaran kemuliaan ilahi (Kol. 2:9; Ibr. 1:3). Ini berarti Dia adalah ekspresi Allah.
Injil Yohanes banyak sekali membahas hayat. Yohanes 10:10 mengatakan bahwa Tuhan datang agar kita boleh menerima hayat dan memilikinya dengan berkelimpahan. Persona Yesus yang manis dan terkasih ini ialah pancaran Allah itu sendiri, yaitu ekspresi-Nya. Sebagai Persona yang demikian, Ia adalah hayat kita. Hayat ialah esens, sedang anugerah ialah kenikmatan yang berasal dari pengecapan hayat. Ketika kita mengecap kemanisan hayat, kita pun mengalami anugerah sebagai kenikmatan kita. Maka, hayat adalah substansi sedang anugerah adalah kenikmatan.
Ini dikuatkan dalam tulisan Paulus. Paulus menderita karena adanya “satu duri dalam dagingku” (2Kor. 12:7). Duri ini mungkin merupakan suatu penyakit atau cacat jasmani. Paulus tiga kali berdoa kepada Tuhan agar duri ini meninggalkan dirinya (2Kor. 12:8). Tetapi Tuhan menjawabnya dengan berkata, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu; sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2Kor. 12:9). Tuhan mengizinkan duri itu tinggal, agar Paulus memiliki satu kesempatan untuk menikmati anugerah-Nya. Dalam kelemahan Paulus, kuasa Allah, dan anugerah-Nya yang cukup, menjadi sempurna.
Anugerah ialah kenikmatan atas Allah Tritunggal dalam segala apa adanya bagi kita. Ketika Ia adalah hayat bagi kita, itulah anugerah. Ketika Ia adalah kuasa bagi kita, itulah anugerah. Anugerah ialah segala apa adanya Kristus bagi kita sebagai kenikmatan kita yang subyektif. Tiap hari kita perlu anugerah, bahkan tiap jam. Kita perlu menikmati Kristus sebagai hayat kita, kekuatan kita, dan segala sesuatu kita. Anugerah adalah Allah Tritung-gal menjadi kenikmatan kita. Ia telah datang kepada kita, agar kita boleh memperoleh, mengalami, dan menikmati-Nya. Ketika kita mengalami Dia sebagai kenikmatan kita, jadilah Ia anugerah kita.
Sekarang kita melihat masalah realitas (kebenaran). Berhubung pikiran kita mungkin dikuasai oleh konsepsi alamiah, maka kita mungkin merasa sulit untuk mema-hami maknanya yang sesuai dengan Perjanjian Baru. Ba-nyak yang menyangka realitas (kebenaran) hanya suatu doktrin belaka. Bila mereka melihat istilah “kebenaran” dalam Alkitab, otomatis mereka menafsirkannya sebagai doktrin. Namun dalam Perjanjian Baru, realitas (kebe-naran) tidak ditujukan kepada doktrin. Jika Anda ingin membuktikan hal ini, cobalah Anda mengganti ayat-ayat yang mengatakan “kebenaran” itu dengan “doktrin”. Yohanes 1:14 tentu mengatakan bahwa Firman telah menjadi daging, penuh dengan anugerah dan doktrin; Yohanes 1:17 mengatakan bahwa anugerah dan doktrin datang oleh Yesus Kristus; dan Yohanes 14:6 mengatakan, Tuhan adalah jalan, doktrin, dan hayat. Alangkah menggelikan! Tidak masuk akal pula kalau mengatakan kita telah mempelajari Kristus menurut doktrin yang nyata di dalam Yesus. Namun demikian, dalam konsepsi kebanyakan orang Kristen, arti kebenaran tak lebih daripada doktrin. Ada lagi yang menganggap kebenaran berarti ketulusan. Menurut pengertian itu, berbicara dalam kebenaran dianggap berbicara secara tulus.
Jika kita ingin mengetahui makna realitas (kebenaran) dalam Perjanjian Baru, kita harus mengesampingkan definisi-definisi itu. Realitas (kebenaran) ialah Allah yang diwahyukan. Alangkah jauh bedanya hal ini dengan mengatakan realitas (kebenaran) itu doktrin atau ketulusan! Berhubung anugerah dan realitas berasal dari Yesus Kristus, maka pada prinsipnya keduanya itu tentu adalah sesuatu dari diri Allah sendiri. Yesus ialah Allah yang datang kepada kita. Ketika Allah datang kepada kita, Ia tidak datang sebagai doktrin atau ketulusan. Ketika Ia datang, setiap perkara yang berkaitan dengan-Nya turut datang. Allah datang kepada kita untuk kita nikmati. Itulah anugerah. Allah juga datang untuk mewahyukan diri-Nya sendiri kepada kita. Itulah realitas. Dengan kata lain, ketika kita menikmati Allah, Ia adalah anugerah, tetapi ketika Allah diwahyukan kepada kita, Ia adalah realitas. Karena itu, realitas tidak lain ialah Allah yang diwahyukan kepada kita.
Definisi anugerah dan realitas ini dapat diterapkan ke dalam hampir setiap peristiwa yang tercatat dalam keempat kitab Injil, khususnya pada peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam Injil Yohanes. Baiklah kita melihat dua peristiwa yang masing-masing tercantum dalam Yohanes 4 dan 8. Dalam kedua pasal itu dikatakan tentang realitas (4:23-24; 8:32). Ketika Tuhan Yesus dari Yudea ke Galilea, “Ia harus melintasi daerah Samaria” (Yoh. 4:4), untuk bertemu dengan seorang perempuan Samaria yang asusila; ia datang menimba air di sumur. Karena penat menempuh perjalanan-Nya, Tuhan duduk di pinggir sumur dan menantikan datangnya perempuan itu. Ketika Tuhan Yesus meminta minum kepadanya, ia merasa heran mengapa seorang Yahudi meminta air minum kepada seorang perempuan Samaria. Jawab Tuhan, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu, ‘Berilah Aku minum!’ niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (ayat 10). Setelah ia bertanya kepada-Nya lebih lanjut, Tuhan menjawab, “Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal” (ayat 13-14). Alangkah indahnya anugerah yang dinyatakan kepadanya! Setelah perempuan Samaria itu mengecap anugerah Allah, ia pun memahami siapa sebenarnya Tuhan Yesus itu. Maka Allah tidak saja telah dinikmatinya, juga telah diwahyukan kepadanya. Ketika Tuhan Yesus berkontak dengan perempuan Samaria itu, Ia adalah perwujudan anugerah dan realitas.
Dalam Yohanes 8 Tuhan berkontak dengan seorang perempuan berdosa lainnya, yakni yang tertangkap basah ketika sedang berzina. Melalui kontak-Nya dengannya, Allah menjadi kenikmatannya, dan juga diwahyukan kepadanya. Tuhan membantunya untuk menerima-Nya sebagai anugerah dan mengenal-Nya sebagai Allah yang telah diwahyukan.
Menurut keempat kitab Injil, semua orang yang berkontak dengan Tuhan Yesus secara positif, telah menerima anugerah dan nampak realitas. Anugerah yang mereka terima ialah Allah itu sendiri, dan realitas yang mereka nampak ialah Allah juga. Karena itu, Yohanes memberi tahu kita bahwa dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima anugerah demi anugerah (Yoh. 1:16). Dari Dia kita telah menerima kekayaan dari apa adanya Allah. Inilah Allah yang telah diterima, dialami, dan dinikmati. Inilah anugerah. Seiring dengan ini, Allah lalu dilihat dan dikenal oleh kita. Inilah realitas.
Sewaktu saya masih muda, saya pernah dibuat bingung olah fakta bahwa Yohanes menempatkan anugerah di depan realitas. Saya berpikir seharusnya wahyu Allah mendahului kenikmatan atas Allah. Pada suatu hari saya nampak Tuhan Yesus pertama-tama datang kepada kita sebagai anugerah, kemudian baru sebagai realitas. Ketika saya menoleh ke belakang melihat pengalaman saya, saya menyadari bahwa saya menikmati Kristus sebagai anugerah jauh sebelum saya mengenal-Nya sebagai realitas. Banyak di antara kita yang menikmati Kristus sebagai anugerah sebelum mengenal-Nya sebagai realitas. Ini berarti kita menikmati Dia tanpa memahami siapa Dia. Ini menunjukkan bahwa kenikmatan datang mendahului pengertian; anugerah datang mendahului realitas.
Kita telah menunjukkan bahwa dalam Injil Yohanes Allah datang kepada kita, tetapi dalam Kitab 1Yohanes kita pergi kepada Allah. Ketika kita pergi kepada Bapa, kita masuk ke bilik bagian dalam untuk mengontak Bapa melalui Putra di bawah penyucian darah Yesus. Di sini, di bilik bagian dalam kita tidak mengalami anugerah dan realitas, melainkan kasih dan terang. Itulah sebabnya dalam 1Yohanes kita memiliki kasih sebagai ganti anugerah, terang sebagai ganti realitas. Ketika Allah datang kepada kita, kita menerima-Nya sebagai anugerah dan realitas. Tetapi ketika kita pergi kepada Allah, kita me-nemui-Nya sebagai kasih dan terang. Hal itu jauh lebih mendalam dan batini daripada pengalaman atas anugerah dan realitas.
Bila kita telah memiliki persekutuan dengan Bapa dalam bilik bagian dalam dan menikmati Dia sebagai kasih dan terang, kita lalu memiliki anugerah dan realitas untuk kehidupan sehari-hari yang riil di dalam dunia ini. Dalam persekutuan kita dengan Bapa kita memiliki kasih dan terang, tetapi di rumah atau di tempat kerja kita memiliki anugerah dan realitas. Melalui anugerah dan realitas kita memiliki semacam kehidupan sehari-hari yang disarankan Paulus untuk kita miliki dalam Efesus 4. Meskipun mungkin kita berada di bawah tekanan sewaktu kita bekerja atau di rumah, kita tetap dapat hidup menurut realitas dan oleh suplai anugerah. Seandainya ada orang tidak senang terhadap kita, kita mempunyai anugerah untuk menanggungnya. Dengan demikian orang lain akan nampak bahwa Allah beserta dengan kita. Dengan cara inilah maka kehidupan sehari-hari kita akan berasal dari anugerah dan realitas.
Kehidupan gereja adalah hasil dari datangnya Allah kepada kita sebagai anugerah dan realitas, dan perginya kita kepada Allah untuk menemui-Nya sebagai kasih dan terang. Melalui lalu lintas demikian muncullah ketujuh kaki pelita dalam Kitab Wahyu. Terakhir, lalu lintas surgawi ini akan menghasilkan Yerusalem Baru sebagai kesaksian Allah yang kekal. Baik kaki pelita maupun Yerusalem Baru, keduanya berasal dari lalu lintas antara Allah dengan kita dan antara kita dengan Allah. Dalam lalu lintas ini Allah datang kepada kita menjadi anugerah dan realitas kita, dan kita pergi kepada Allah untuk mengalami-Nya sebagai kasih dan terang kita.
A. Realitas
Sekarang kita boleh menerapkan apa yang kita bahas di atas ke dalam Kitab Efesus. Kita telah nampak bahwa unsur dasar untuk mempelajari Kristus ialah realitas dan anugerah. Berlawanan dengan Injil Yohanes, dalam Efesus 4 realitas mendahului anugerah. Realitas bukan suplai, melainkan pancaran terang. Maka, realitas adalah prinsip, model, dan standar. Selaku anggota Tubuh Kristus yang berada di bawah Kepala, kita mempelajari Kristus menurut realitas yang nyata dalam Yesus.
Sebelum Paulus menyebutkan anugerah di sini, ia menampilkan prinsip, model, dan standar, juga boleh dikatakan ia menampilkan realitas. Kita semua telah dibaptis ke dalam cetakan, model, yaitu hidup realitas dalam Yesus, bukan ke dalam anugerah. Melalui baptisan kita telah ditempatkan oleh Allah ke dalam model, standar, dan prinsip, yang diletakkan oleh kehidupan Tuhan Yesus di bumi. Inilah realitas dalam Efesus 4.
B. Anugerah
Untuk memperhidupkan standar yang sedemikian, perlu ada anugerah. Dalam ayat 29 Paulus mengaitkan anugerah dengan tutur kata kita. Ini menunjukkan bahwa kita perlu anugerah untuk rincian kehidupan sehari-hari kita, bukan hanya untuk masalah-masalah yang kita anggap penting. Mungkin dalam masalah besar kita memiliki anugerah, tetapi tidak dalam perkara-perkara kecil. Sebagai contoh, seorang saudara mungkin ada anugerah untuk menyuplaikan firman, tetapi mungkin ia kekurangan anugerah dalam berbicara dengan istrinya. Lagi pula, mungkin kita semua mempunyai anugerah dalam sidang doa, tetapi dalam percakapan sehari-hari, kita kekurangan anugerah. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak ada hal lain yang lebih memerlukan anugerah daripada percakapan kita. Bila dalam aspek ini kita memiliki anugerah, kita juga akan memiliki anugerah dalam setiap aspek lainnya.
Kita perlu anugerah dalam segala perkara untuk menempuh suatu kehidupan menurut realitas yang nyata dalam Yesus dan dicetak dalam rupa Kristus. Anugerah ialah suplai dan kenikmatan kita yang kaya. Bila kita memiliki suplai dan kenikmatan ini, kita akan dapat hidup menurut standar prinsip realitas. Karena itulah Paulus mengambil realitas dan anugerah sebagai unsur dasar dalam nasihatnya dalam Efesus 4.
II. FAKTOR DASAR
A. Di Pihak Positif
Seiring dengan unsur dasar ini, ada pula beberapa faktor dasar. Di pihak positifnya, faktor-faktor ini ialah hayat Allah (ayat 18) dan Roh Allah (ayat 30).
1. Hayat Allah
Berlawanan dengan orang kafir, kita bukan orang asing dalam hayat Allah. Kita tidak saja tidak terasing dari hayat Allah, sebaliknya kita telah dilekatkan kepada sumber hayat itu. Hayat Allah telah menjadi satu mata air di dalam diri kita. Haleluya atas suplai hayat yang ada di batin kita!
2. Roh Allah
Kita juga memiliki Roh Allah. Roh Allah adalah Persona Allah. Allah sendiri di dalam Persona Roh tinggal di dalam kita. Karena itu, kita harus berhati-hati, jangan mendukakan-Nya. Sebaliknya, kita wajib menaati-Nya, menghormati-Nya, mencintai-Nya, dan senantiasa bersatu dengan-Nya.
B. Di Pihak Negatif
Faktor dasar di pihak negatifnya ialah Iblis. Dalam ayat 27 Paulus menasihati kita untuk tidak memberi kesempatan kepada Iblis. Walaupun kita telah memiliki hayat dan Roh Allah di batin kita, musuh masih bersembunyi di sekeliling kita; ia selalu mencari kesempatan untuk meraih keuntungan atas diri kita atau merusak kita. Karena itu, kita harus waspada terhadap musuh yang mendekam itu.
?