← Daftar isi Efesus (1) · bab 16/24

JALAN UNTUK DIPERLENGKAPI

Dalam Efesus 4:12 Paulus mengatakan, “Untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan Tubuh Kristus.” Dalam berita ini kita akan melihat jalan untuk diperlengkapi.

ANUGERAH MENURUT UKURAN

KARUNIA KRISTUS

Efesus 4:7 mengatakan, ”Tetapi kepada kita masing-masing telah diberikan anugerah menurut ukuran pemberian (karunia) Kristus.” Perhatikan dalam ayat ini Paulus tidak mengatakan, “Tetapi kepada kamu masing-masing”, melainkan “Tetapi kepada kita masing-masing.” Ini menunjukkan bahwa Paulus mencakupkan dirinya sendiri. Ia tidak menempatkan dirinya dalam kategori istimewa, yaitu dalam kategori yang di luar orang kudus lainnya.

Anugerah telah diberikan kepada kita masing-masing menurut ukuran karunia Kristus. Setiap anggota tubuh jasmani kita mempunyai ukuran-ukuran tertentu. Sebagai contoh, ukuran telinga itu tertentu; pundak atau bahu kita juga memiliki ukuran tertentu. Kata “ukuran karunia Kristus” ditujukan kepada ukuran dari satu anggota Tubuh Kristus. Setiap anggota memiliki suatu ukuran. Sama seperti darah kita menyuplai anggota-anggota tubuh kita menurut ukuran mereka, maka anugerah juga diberikan kepada tiap anggota menurut ukurannya masing-masing. Walaupun darah dalam bahu lebih banyak daripada yang terdapat dalam telinga, tetapi kualitas darah itu sama. Sama seperti darah sebagai suplai hayat bagi tubuh jasmani kita, demikian pula anugerah adalah suplai hayat bagi anggota-anggota Tubuh Kristus. Terpujilah Tuhan, karena semua orang kudus adalah karunia Kristus yang kepadanya diberikan anugerah.

PEKERJAAN MINISTRI ITU

Karena ayat 9 sampai 10 merupakan sisipan, maka ayat 11 adalah kelanjutan ayat 8. Ayat 11 menerangkan, “Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.” Ayat 12 menjelaskan bahwa orang-orang yang diberikan ini adalah “untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan (itu), bagi pembangunan Tubuh Kristus.” Menurut konstruksi tata bahasanya, ungkapan “pembangunan Tubuh Kristus adalah pekerjaan ministri itu.” Ini menunjukkan bahwa kedua ungkapan ini ditujukan kepada perkara yang sama. Pekerjaan ministri berarti pembangunan Tubuh.

Jadi para rasul, para nabi, para penginjil, para gembala dan pengajar memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan ministri itu. Pekerjaan siapakah itu? Pekerjaan orang-orang yang berkarunia yang disebut dalam ayat 11 atau pekerjaan orang kudus? Pekerjaan orang-orang yang memperlengkapi atau pekerjaan orang-orang yang diperlengkapi? Jawabannya ialah pekerjaan orang-orang yang memperlengkapi, juga pekerjaan orang-orang yang diperlengkapi. Jadi pembangunan Tubuh bukan hanya pekerjaan para rasul dan orang-orang berkarunia lainnya, tetapi juga pekerjaan semua orang kudus. Saya percaya pekerjaan ministri dalam ayat 12 ini lebih banyak ditujukan kepada pekerjaan orang-orang kudus dan bukan ditujukan kepada pekerjaan para rasul, para nabi, para penginjil, para gembala dan pengajar.

Pekerjaan pembangunan balai sidang di Anaheim dapat menjelaskan hal ini. Banyak saudara yang bekerja membangun balai ini, akan tetapi sangat sedikit di antara saudara-saudara itu yang menjadi ahli bangunan profesional. Kebanyakan di antara mereka kurang berpengalaman dalam bidang pembangunan. Beberapa orang yang berpengalaman memelopori, kemudian sedikit demi sedikit, orang-orang yang tidak berpengalaman diperlengkapi. Akhirnya, baik yang terampil maupun yang baru belajar bersama-sama membangun balai sidang ini. Tetapi, sebagian besar pekerjaan diselesaikan oleh orang-orang yang baru belajar, bukan oleh para ahli. Seprinsip dengan ini, pekerjaan ministri itu ditujukan kepada pekerjaan pembangunan Tubuh Kristus yang unik. Pekerjaan ini terutama bukan kewajiban para rasul, melainkan segenap orang kudus. Baik para rasul dan nabi pemimpin maupun semua orang kudus, termasuk anggota yang terkecil, bekerja bersama untuk membangun Tubuh.

KONSEPSI HIERARKI

Dalam butir ini saya harus berkata dengan terus terang dan jujur terhadap kondisi kemerosotan kekristenan hari ini. Kemerosotan kekristenan sebagian besar disebabkan oleh pengaruh konsepsi alamiah. Menurut konsepsi alamiah, dalam kelompok masyarakat apa pun di antara manusia seharusnya ada pangkat atau tingkatan; ada yang lebih tinggi, ada pula yang lebih rendah. Ignatius, salah seorang bapa gereja yang besar, seorang pengajar, dan seorang yang saleh, berbuat kekhilafan, dengan mengatakan bahwa penilik atau uskup (bishop) lebih tinggi daripada penatua. Menurut dia, wewenang para penatua bersifat lokal, sedangkan wewenang penilik atau uskup bersifat regional. Melalui konsepsi sedemikian, maka tertaburlah benih hierarki. Ketika hierarki itu berkembang, tidak saja timbul penilik atau uskup, juga timbul uskup agung (archbishop), kardinal, dan yang teratas Paus. Setelah reformasi, hierarki tidak dihapus. Sebaliknya, ia berlanjut dalam berbagai bentuk di dalam denominasi-denominasi Protestan, dan tetap ada hingga hari ini.

Konsepsi hierarki atau pengaturan ala piramid di antara orang kudus cocok dengan konsepsi alamiah. Akan tetapi, kalau kita memiliki terang wahyu yang jelas dari Perjanjian Baru, kita akan nampak bahwa gereja bukan suatu piramid, melainkan satu organisme yang hidup, Tubuh dengan Kristus sebagai kepala yang unik. Dalam Matius 23:8-10 Tuhan Yesus berkata, “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias (Kristus).” Namun menurut konsepsi alamiah, kedua belas rasul dianggap lebih tinggi daripada semua orang kudus lainnya. Tetapi kalau Anda mempelajari Perjanjian Baru dengan saksama, Anda tidak akan menjumpai banyak perbedaan antara kedua belas rasul dengan murid-murid lainnya. Anugerah dalam Perjanjian Baru tidak diberikan hanya kepada kedua belas rasul itu, melainkan diberikan secara umum kepada semua murid. Dalam Yohanes 17 Tuhan Yesus tidak berdoa bagi para rasul, melainkan bagi murid-murid. Lagi pula, dalam Yohanes 20 Tuhan menyatakan diri pada hari kebangkitan-Nya kepada murid-murid. Pada hari Pentakosta, seratus dua puluh orang bersama-sama berdoa. Roh Kudus pada hari Pentakosta itu tercurah ke atas semua murid, bu-kan hanya ke atas para rasul.

DI ANTARA ORANG-ORANG KUDUS

TIDAK ADA PANGKAT

Dalam ekonomi Perjanjian Baru tidak ada konsepsi hierarki. Sebaliknya, dalam ekonomi Perjanjian Baru semua orang kudus berpangkat sama. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita semua adalah saudara, hanya Kristuslah Pemimpin, Pemandu, Instruktur, dan Direktur kita. Walau ekonomi Allah meletakkan semua orang kudus di atas level yang sama dalam Kristus, tetapi konsepsi alamiah mengira dalam gereja juga perlu ada kelas khusus untuk pimpinan, seperti halnya dalam kelompok masyarakat atau organisasi.

ZAMAN RASUL

Karena pengaruh konsepsi tadi, terjadilah satu kekeliruan besar dalam sejarah gereja. Menurut pandangan sejarah gereja yang tradisional, abad pertama dianggap sebagai zaman rasul. Konsepsi ini keliru. Zaman rasul meliputi seluruh zaman Perjanjian Baru. Apakah zaman sekarang bukan bagian dari zaman rasul? Jika bukan, zaman apakah sekarang ini? Zaman kependetaan (clergy) ataukah zaman hierarki? Kalau kita diterangi oleh wahyu Perjanjian Baru, kita akan nampak bahwa seluruh zaman Perjanjian Baru adalah zaman rasul.

Ada sementara orang mengatakan bahwa zaman rasul telah berlalu dan hari ini tidak mungkin ada rasul lagi. Dalam awal ministrinya, saudara Watchman Nee belum bebas seluruhnya dari pengaruh konsepsi ini. Dalam sebuah buku — “Kehidupan Sidang” yang terbit pada tahun 1934, Saudara Nee mengatakan tidak ada para penatua resmi, hanya ada para penatua yang “tidak resmi”. Ia juga mengatakan bahwa hari ini tidak ada para rasul, tetapi ada sekelompok orang yang melakukan pekerjaan para rasul, seperti memberitakan Injil dan mendirikan gereja-gereja. Saudara Nee mengakui bahwa mereka yang melakukan pekerjaan rasul hari ini tidak memiliki kekudusan, kekuatan, dan kemenangan rasul semula. Namun demikian, menurut pengamatannya, Allah memakai orang bekerja bagi-Nya di tiap lokal seperti cara-Nya memakai para rasul pada abad pertama. Dulu para rasul yang mendirikan gereja, tetapi hari ini orang-orang itulah yang melakukan pekerjaan rasul untuk mendirikan gereja di berbagai lokal. Saudara Nee menunjukkan bahwa orang-orang ini tidak layak dibandingkan dengan para rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, tetapi mereka telah melakukan sebagian pekerjaan rasul. Itulah orang-orang yang dipakai Allah pada dewasa ini di antara situasi gereja yang merosot ini. Dalam buku yang diterbitkan di tahun 1934 Saudara Nee memahami bahwa orang-orang tertentu telah melakukan pekerjaan rasul, tetapi ia tidak berani menyebut mereka para rasul. Ia hanya menyebut mereka para rasul “tidak resmi”, yang juga menetapkan para penatua yang “tidak resmi” di tiap gereja lokal.

Tiga tahun kemudian, tahun 1937, Saudara Watchman Nee nampak dari Perjanjian Baru bahwa mengatakan zaman rasul telah berlalu dan hari ini tidak mungkin ada rasul, itu keliru. Maka ia menerbitkan buku yang berjudul “Kehidupan Gereja yang Normal” di mana dengan berani ia mengatakan bahwa hari ini masih ada para rasul. Kira-kira empat puluh tahun yang lampau ketika buku ini terbit, kita hanya nampak sebagian terang atas masalah ini, dan atas masalah yang berkaitan dengannya. Sekarang, dalam terang Efesus 3—4, kita nampak bahwa semua orang kudus dapat melakukan pekerjaan yang serupa dengan yang dikerjakan para rasul, para nabi, para penginjil, para gembala dan pengajar yang semula itu.

MEMPERLENGKAPI ORANG-ORANG KUDUS

Kita telah menunjukkan bahwa orang-orang yang berkarunia dalam 4:11 adalah untuk memperlengkapi orang-orang kudus. Menurut Anda bagaimana cara para rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar itu memperlengkapi orang-orang kudus? Satu-satunya jawaban yang logis ialah mereka memperlengkapi orang-orang kudus untuk melakukan perkara yang mereka lakukan. Sebagai contoh, seorang guru matematika melatih murid-muridnya dalam ilmu matematika. Tujuannya ialah mengajar mereka melakukan apa yang dapat ia lakukan itu. Akhirnya, melalui latihan bertahun-tahun, murid-muridnya juga dapat menjadi guru matematika. Tetapi kalau seorang guru telah mengajarkan matematika selama bertahun-tahun, tanpa menggenapkan satu murid pun, guru itu sangat kasihan. Namun, demikianlah sesungguhnya situasi kebanyakan orang Kristen pada hari ini. Banyak orang Kristen tahun demi tahun mengikuti apa yang disebut kebaktian, tanpa diperlengkapi barang sedikit pun.

Kira-kira dua puluh lima tahun yang lampau, beberapa saudara dari gereja di Manila pergi ke sebuah rumah sakit menjenguk seorang saudara yang sakit. Ketika mereka bersama-sama mengelilingi tempat tidurnya, setiap mereka berdoa kepada Tuhan. Beberapa orang Kristen lainnya yang dekat dengan mereka merasa kagum sekali mendengar begitu banyak orang yang berdoa. Seorang di antara mereka berkata kepada saudara kita, “Dalam gereja kami, hanya pastur seorang yang dapat berdoa di muka umum. Kami tidak tahu bagaimana cara berdoa. Tetapi lihatlah, setiap kalian bisa berdoa. Gereja apakah yang kalian ikuti?” Ini hanya satu contoh dari kekurangan pekerjaan perlengkapan di antara orang Kristen hari ini.

Saya sangat berbeban terhadap situasi di antara kita dalam pemulihan Tuhan. Saya harus jujur bertanya kepada diri sendiri, berapa banyak saudara saudari yang telah diperlengkapi melalui ministri ini. Kalau kita dapat meraih gelar sarjana melalui belajar dengan rajin selama empat tahun, kita pun harus memperlihatkan tanda-tanda telah diperlengkapinya kita setelah beberapa tahun dalam pemulihan Tuhan. Tetapi sayang, banyak yang telah bersama kita beberapa tahun, nampaknya belum juga diperlengkapi. Akibatnya, ada sementara aspek sistem kependetaan yang menyusup ke antara kita. Hal ini tidak dapat dibiarkan. Kita di sini bukan untuk apa yang disebut kebaktian seperti yang terdapat dalam kekris-tenan. Apa yang kita lakukan dalam sidang seharusnya hanya untuk memperlengkapi saudara saudari, kemudian, lewat tiga atau empat tahun, setiap orang pasti akan diperlengkapi untuk melakukan pekerjaan seperti yang telah dilakukan para rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar semula.

Dalam Kisah Para Rasul 8 tercatat satu penganiayaan atas gereja, dan saat itu kaum beriman terpaksa berpencaran. Akan tetapi, para rasul tetap tinggal di Yerusalem. Murid-murid yang berpencaran itu dengan spontan melakukan pekerjaan para rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar. Andaikata hari ini orang-orang Kristen berpencaran karena penganiayaan, apakah yang dapat mereka lakukan? Kita harus bertanya kepada diri sendiri, apakah yang dapat kita lakukan jika kita berpencaran? Harapan saya ialah semoga banyak di antara kita yang dapat berfungsi sebagai para rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar. Begitu mereka berada di tempat asing, beberapa orang akan berbeban untuk memperhatikan keperluan Tuhan di tempat itu. Pertama-tama, mereka akan memberitakan Injil. Kemudian memperhatikan orang-orang yang telah diselamatkan melalui menggembalakan dan mengajar mereka. Kita semua perlu diperlengkapi agar dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan ini.

DALAM GEREJA DAN DI BAWAH MINISTRI

Kekristenan hari ini tidak mempraktekkan jalan Tuhan menurut Perjanjian Baru. Dalam kekristenan, Sekolah-sekolah Alkitab didirikan untuk melatih orang melayani Tuhan. Tetapi, orang-orang yang terdidik dalam Sekolah-sekolah Alkitab itu tidaklah diperlengkapi menurut ekonami Perjanjian Baru Allah. Perlengkapan sejati atas orang kudus haruslah di dalam gereja dan di bawah ministri. Hari ini ministri Tuhan dikritik, difitnah, dan diejek. Kalau mata orang kudus tercelik, mereka akan nampak apa itu ministri dan di mana ia berada. Dalam gereja perlu ada ministri untuk memperlengkapi orang kudus bagi pekerjaan ministri itu, dan bagi pembagunan Tubuh Kristus.

Saya sangat prihatin karena tidak banyak yang telah benar-benar terlaksana di antara kita dalam hal memperlengkapi orang kudus bagi pekerjaan ministri itu. Betapa besarnya pengaruh kekristenan yang merosot atas diri kita! Banyak orang Kristen hari ini mengutamakan usaha memberitakan Injil dan beberapa ajaran Alkitab. Kita semua wajib nampak dengan jelas bahwa hari ini Tuhan sedang melakukan satu pekerjaan, yaitu memperlengkapi semua orang kudus hingga kita semua mencapai suatu sasaran. Kita telah nampak bahwa dalam Efesus 4 Paulus tidak menempatkan dirinya dalam kategori yang eksklusif, sebaliknya ia menyamakan dirinya sendiri dengan semua orang kudus. Kita semua, termasuk Paulus, perlu berpegang pada kebenaran ini dan bertumbuh ke dalam Kristus, sehingga kita menjadi manusia yang dewasa penuh.

Di hari-hari belakangan ini saya menanggung satu beban yang sangat berat dalam hal memperlengkapi orang kudus. Beban ini tidak dapat dilepaskan sebelum saya nampak semua orang kudus dapat melakukan pekerjaan yang telah dilakukan para rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar yang semula. Saya tidak hanya memperhatikan masalah menjadi seorang pengkhotbah atau pengajar Alkitab, saya damba diperlengkapi dan memperlengkapi orang lain bagi pembangunan Tubuh Kristus.

HAYAT DAN FUNGSI

Untuk diperlengkapi, kita harus memperhatikan hayat dan fungsi hayat. Jalan untuk diperlengkapi ialah bertumbuh dalam hayat dan menjadi terampil dalam fungsi. Kata “memperlengkapi” di sini juga berarti menggenapi, membina, atau menyediakan. Memperlengkapi orang kudus berarti menyempurnakan atau menggenapinya. Hanya melalui pertumbuhan hayatlah baru kita dapat disempurnakan. Kalau kita dewasa, barulah kita diperlengkapi. Sebagai contoh, seorang bocah berusia lima tahun bukanlah seorang yang dewasa. Dari segi rohani, asalkan kita belum dewasa, kita tidak akan sempurna. Ibu-ibu memperlengkapi anak-anak mereka melalui memberi mereka makan. Selain itu, orang tua memperlengkapi anak-anak mereka dan membina mereka dengan melatih mereka bertindak dan bertutur kata dengan kaidah-kaidah tertentu. Jadi, anak-anak diperlengkapi melalui pemberian makanan dan latihan. Demikian pula tentang memperlengkapi orang kudus menurut ekonomi Allah. Orang kudus perlu diberi makan dan dilatih, agar mereka dapat berfungsi dengan keterampilan yang tepat.

Suatu kali, ketika saya mengunjungi suatu tempat, yang dianggap orang sebagai tempat yang cukup rohani, saya ditanya mengapa kita harus mengadakan pelatihan dalam pemulihan Tuhan. Saya menjawab, sebagai manusia kita perlu bertumbuh dan kita pun perlu belajar. Jika kita tidak bertumbuh, kita tidak akan memiliki perawakan untuk melakukan hal-hal tertentu; jika kita tidak belajar, kita akan menjadi “orang barbar”. Misalkan, jika seorang anak kecil tidak diajar makan dengan wajar menggunakan perabot makan yang diperlukan, ia akan menjadi “liar” dan tidak sopan sewaktu berada di meja makan. Jangan mengira asalkan seseorang sudah rohani dalam hayat, ia tidak perlu latihan. Tidak, perkara rohani sama seperti perkara jasmani, perlu ada latihan. Dalam hal kerohanian kita perlu kematangan, yaitu pertumbuhan hayat, dan kita pun perlu keterampilan. Kematangan berasal dari pertumbuhan, sedang keterampilan datang dari latihan. Karena itu, demi memperlengkapi orang kudus kita perlu memberi mereka makan makanan rohani, agar mereka dapat bertumbuh, dan kita pun perlu melatih mereka untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tertentu.

KEPERLUAN AKAN LATIHAN YANG TUNTAS

Sampai saat ini saya masih belum melepaskan beban saya dalam hal pelatihan. Kita perlu dilatih untuk pelaksanaan kehidupan gereja. Ini berarti pelatihan seharusnya memperkaya dan meningkatkan pelaksanaan kehidupan gereja. Walau sampai kini bantuan yang diberikan kepada orang-orang kudus masih jauh dari cukup, kita tidak dapat menyangkal fakta bahwa sejak memasuki pemulihan Tuhan banyak orang kudus yang telah menempuh beberapa pelatihan. Hal ini jelas terbukti ketika kita mendengar kesaksian atau doa mereka dalam sidang. Akan tetapi, kita tetap masih perlu latihan yang lebih tuntas dan sempurna. Beban saya ialah setelah lewat sejangka waktu, mungkin setelah lewat tiga atau empat tahun, semua orang kudus dalam pemulihan Tuhan di Amerika Serikat akan sudah terlatih dengan secukupnya.

Terlatih berarti memiliki suplai Kristus yang kaya, agar kita dapat bertumbuh dan berarti diperlengkapi sehingga kita terampil dalam berbicara, berkontak dengan orang-orang baru, dalam penggembalaan, dan dalam berkhotbah atau mengajar. Jangan berkata Anda tidak bisa berbicara, karena Anda bukan orang yang berbakat sebagai pembicara. Kita semua seharusnya dapat berbicara bagi Tuhan.

JALAN TUHAN

Begitu orang kudus telah diperlengkapi, ke mana pun mereka pergi, mereka akan menjadi para rasul, yaitu utusan bagi tempat itu; mereka pun akan menjadi nabi, penginjil, gembala dan pengajar. Memperlengkapi orang kudus menjadi karunia yang sedemikian bagi Tubuh adalah jalan Tuhan. Bila kita tidak mengikuti jalan ini, Tuhan tidak akan dapat memperoleh apa yang diinginkan-Nya. Betapa kita harus bersyukur kepada-Nya, demi belaskasih-Nya, Ia telah memperlihatkan jalan-Nya kepada kita!

Kita telah nampak bahwa dalam Efesus 4:13-15 Paulus tidak mengecualikan dirinya sendiri, sebaliknya ia berkata, “Sampai kita semua telah mencapai ... sehingga kita bukan lagi anak-anak ... Sebaliknya, dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” Tidak seorang pun di antara kita boleh mengira diri sendiri sudah disempurnakan. Sebaliknya, kita semua memerlukan lebih banyak suplai hayat dan pelatihan lebih banyak. Bila kita mau bertumbuh dan dilatih, kita tidak akan mengulangi sejarah kekristenan. Bila kita setia mempraktekkan apa yang diperlihatkan Tuhan kepada kita, Tuhan akan beroleh jalan di antara kita. Jalan Tuhan tidak pernah berubah. Jalan-Nya ialah memperlengkapi orang kudus untuk melakukan pekerjaan ministri itu bagi pembangunan Tubuh Kristus. Inilah jalan Tuhan untuk memperoleh apa yang Ia inginkan sebagai persiapan yang diperlukan bagi kedatangan-Nya kembali.