← Daftar isi Efesus (1) · bab 17/24

SEMUA ANGGOTA MEMBANGUN, TANPA PANGKAT

Dari abad ke abad orang Kristen telah berpegang pada konsepsi alamiah, yaitu mengira gereja hanya suatu organisasi sosial. Sesungguhnya gereja bukan suatu organisasi. Sebagaimana dikatakan Paulus dalam Surat-surat Kirimannya, gereja adalah Tubuh Kristus. Tubuh jasmani kita, yang menggambarkan Tubuh Kristus yang rahasia, bukanlah satu organisasi, melainkan satu organisme. Sebagai satu organisme, ia mutlak tergantung pada hayat. Bila hayat itu lenyap, tubuh akan menjadi mayat, dan itu dapat dianggap suatu organisasi.

SUATU URUTAN FUNGSI, BUKAN PANGKAT

Konsepsi tentang gereja sebagai satu organisasi sosial telah menyebabkan kerugian dan kerusakan yang besar. Dalam organisasi sosial perlu ada anggota-anggota tertentu yang berada di atas, yakni menjadi pangkat yang tertinggi. Dalam agama diambil bentuk atau sistem hierarki. Akan tetapi dalam tubuh jasmani kita tidak ada sistem hierarki. Memang beberapa anggota tertentu berada di atas anggota lainnya, tetapi itu adalah masalah urutan fungsi, bukan masalah pangkat. Sebagai contoh, untuk tujuan fungsi, hidung lebih tinggi daripada mulut. Kalau mengatakan hidung lebih tinggi pangkatnya daripada mulut, itu tidak masuk akal. Demikian pula, jari-jari kita berada di bawah bahu dan lengan, namun itu tidak berarti jari-jari kita berpangkat lebih rendah. Ini sepenuhnya masalah urutan sesuai dengan fungsinya. Bagaimana jari-jari dapat berfungsi jika ia terletak dekat pada bahu? Karena itu, tubuh jasmani kita adalah satu lukisan organisme hidup dari Tubuh Kristus, padanya tidak ada pangkat atau urutan hierarki, melainkan hanya ada urutan fungsi.

Dulu saya pernah bertemu dengan beberapa wanita yang tidak setuju dengan perkataan Paulus dalam Efesus 5 tentang keharusan istri untuk tunduk kepada suami mereka. Demikian pula, mereka tidak dapat menerima perkataan Paulus dalam 1Korintus 11 tentang laki-laki adalah kepala perempuan. Karena terpengaruh konsepsi modern tentang emansipasi kaum wanita, mereka berta-nya mengapa kaum wanita harus berada di bawah kaum pria. Saya menjawab mereka dengan menunjukkan pengaturan anggota-anggota pada tubuh jasmani kita. Saya mencoba menunjukkan kepada mereka bahwa pengaturan ini bukan suatu masalah pangkat, melainkan masalah fungsi. Misalnya hidung berada pada tempat yang tepat untuk fungsinya yang khusus. Demikian pula semua anggota tubuh. Akan tetapi fakta bahwa hidung lebih tinggi daripada mulut dalam urutan fungsional bukan berarti pangkatnya lebih tinggi daripada mulut. Berpikir tentang masalah pangkat dalam masalah Tubuh Kristus berarti terpengaruh oleh konsepsi manusia yang jatuh. Banyak kegelisahan dan kesulitan timbul disebabkan adanya konsepsi yang sedemikian.

Ketika kita membahas masalah para rasul, nabi, dan penatua dalam Perjanjian Baru, kita perlu menyingkirkan konsepsi alamiah. Bila kita berpegang pada konsepsi alamiah, dengan sendirinya kita akan mengira para rasul, nabi, dan penatua memiliki pangkat yang lebih tinggi. Konsepsi pangkat sama sekali alamiah, yaitu konsepsi yang tidak terdapat dalam Alkitab. Para rasul, nabi, dan penatua melaksanakan fungsi-fungsi tertentu, tetapi fungsi-fungsi itu tidak menempatkan mereka di atas level yang lebih tinggi daripada orang kudus lainnya. Dalam Tubuh ada banyak anggota, dan anggota-anggota ini mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Walau ada perbedaan fungsi, tetapi tidak ada perbedaan pangkat. Dalam organisme tidak ada kesadaran atau perasaan tentang pangkat. Kalau bahu kita dapat berbicara, ia akan berkata bahwa ia tidak pernah memikirkan adanya pangkat apa pun di dalam tubuh, dan ia tidak pernah menganggap dirinya lebih tinggi daripada anggota lainnya.

Ada sementara penatua sangat bangga akan kedudukan mereka dan mengharapkan orang kudus memberi mereka kedudukan. Ada lagi sementara saudara berambisi menjadi penatua. Dalam kehidupan gereja tidak ada tempat bagi ambisi yang sedemikian. Kalau kita mengenal Alkitab, kita akan nampak bahwa seorang penatua adalah seorang budak. Pemikiran tentang pangkat harus disingkirkan bersih. Para rasul dan penatua bukan pejabat-pejabat tinggi. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang menyuplaikan Kristus kepada gereja-gereja dan orang-orang kudus.

MEMPERLENGKAPI ORANG KUDUS

BAGI PEKERJAAN MINISTRI ITU

Beban saya dalam berita ini ialah menunjukkan bahwa semua orang kudus harus menjadi anggota-anggota pembangunan. Efesus 4:11 mengatakan, “Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar.” Orang-orang yang berkarunia ini bukan pejabat-pejabat tinggi yang berpangkat istimewa, melainkan yang diberikan untuk memperlengkapi orang kudus (ayat 12). Orang kudus perlu diperlengkapi dan disempurnakan bagi pekerjaan ministri itu. Pekerjaan ministri itu ialah membangun Tubuh Kristus. Berhubung begitu banyak orang kudus belum lagi melakukan pekerjaan ministri itu, maka mereka perlu diperlengkapi oleh orang-orang yang berkarunia yang disebut dalam ayat 11, agar mereka memenuhi syarat melakukan pekerjaan ministri bagi pembangunan Tubuh Kristus. Hal memperlengkapi atau menyempurnakan ini berkaitan dengan pertumbuhan hayat dan pelatihan keterampilan tertentu.

Terang atas ayat-ayat ini tidak pernah sejelas hari ini. Kita telah nampak bahwa pekerjaan ministri tidak lain adalah pembangunan Tubuh Kristus. Pekerjaan ini tidak seharusnya hanya dilakukan oleh para rasul, para nabi, para pemberita Injil, para gembala dan pengajar, tetapi juga oleh semua anggota. Karena itu, semua orang kudus adalah anggota pembangunan. Kita tidak saja merupakan anggota yang dibangun, tetapi juga yang membangun Tubuh Kristus. Pertama, para rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar menyempurnakan orang-orang kudus, ini berarti mereka membangun orang-orang kudus. Kemudian orang-orang kudus yang disempurnakan itu menjadi anggota pembangunan. Pada hari-hari ini orang-orang kudus sedang diperlengkapi. Setelah sejangka waktu, saya harap orang-orang kudus yang sedang diperlengkapi sekarang ini juga menjadi orang-orang yang membangun.

SAMPAI KITA SEMUA TELAH MENCAPAI

Ayat 13 mengatakan, ”Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, (mencapai) kedewasaan penuh, dan (mencapai) tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.” Perhatikan, dalam ayat ini Paulus berkata “kita”, bukan “kamu”. Ketika Paulus menulis ayat ini, ia sendiri telah matang. Akan tetapi ia menantikan bertumbuhnya orang-orang yang belum matang itu. Dengan kata lain, ia menunggu sampai kita semua mencapai. Paulus tidak mau mencapai tujuan mendahului kaum muda, melainkan ia menunggu sampai kita semua mencapai tiga perkara: kesatuan iman, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Dalam ayat ini, dalam bahasa aslinya ada tiga frase yang diawali dengan kata “mencapai”. Fakta tidak adanya kata sambung menunjukkan bahwa yang kedua sederajat dengan yang pertama, dan yang ketiga sederajat dengan yang kedua. Maka ketiga frase itu sebenarnya ditujukan kepada satu perkara.

Paulus mengharap agar semua orang kudus dapat mencapai standarnya dan menjadi serupa dengannya. Paulus adalah seorang pembangun, kita pun seharusnya menjadi pembangun. Paulus bukan pejabat tinggi apa pun, ia hanyalah satu anggota Tubuh. Perbedaan antara dia dengan kebanyakan kita ialah: Paulus adalah anggota pembangun, sedangkan kebanyakan di antara kita hanya anggota yang dibangun. Tetapi bagaimanapun, suatu hari nanti, mungkin beberapa tahun lagi, kita semua akan menjadi anggota-anggota pembangunan, kita semua akan bersama-sama mencapai sasaran.

PERTUMBUHAN DAN PELATIHAN

Ayat 14 meneruskan, ”Sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaraan, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan.” Seorang anak-anak tidak dapat menjadi pembangun, ia terlebih dulu perlu menjadi seorang yang dibangun. Karena itu, seorang anak-anak rohani perlu bertumbuh. Jika kita ingin menjadi anggota yang terbangun dan khususnya seorang anggota pembangun, kita harus bertumbuh. Lagi pula, kita perlu mengembangkan keterampilan-keterampilan tertentu. Dalam berita terdahulu kita telah menunjukkan bahwa jalan untuk memperlengkapi orang kudus ialah memberi mereka makan, agar mereka dapat bertumbuh dan melatih mereka agar mereka memiliki keterampilan tertentu. Mempelajari ketrampilan berkaitan dengan pertumbuhan hayat. Semakin kita matang, kita akan semakin dapat dilatih. Sebagai contoh, anak yang agak besar dapat mempelajari lebih banyak keterampilan dalam matematika daripada anak yang lebih kecil. Pertumbuhan hayatlah yang memberi kapasitas untuk mempelajari keterampilan tertentu.

Hari ini tidak banyak orang Kristen yang memperhatikan pertumbuhan hayat. Lagi pula, sangat sedikit yang memusatkan perhatian pada masalah pelatihan. Karena itu, di antara kebanyakan orang Kristen hari ini tidak ada pertumbuhan dan tidak ada pelatihan. Itulah sebabnya, seseorang dapat mengikuti apa yang disebut kebaktian gereja beberapa tahun lamanya, namun tetap sebagai anak-anak. Orang-orang yang demikian selamanya tidak mungkin melakukan apa yang dilakukan oleh para rasul dan nabi, sebab ia tidak diberi makan juga tidak dilatih.

Keadaan dalam pemulihan Tuhan harus mutlak berbeda. Kita harus bangkit dan mengumumkan bahwa kita ingin bertumbuh dalam hayat dan mau mengembangkan keterampilan yang diperlukan, agar dapat menjadi anggota-anggota pembangun. Saya harap setelah lewat beberapa tahun, semua orang kudus akan menjadi anggota-anggota pembangun dengan pertumbuhan hayat dan keterampilan. Inilah arti diperlengkapi, disempurnakan, dilengkapi, atau digenapkan.

POTENSI KITA DIKETAHUI MELALUI

PERTUMBUHAN

Ayat 15 mengatakan, ”Sebaliknya, dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” Ayat ini jelas mengatakan tentang pertumbuhan. O, alangkah perlunya kita bertumbuh! Memang baik bila kita terdorong oleh perkataan bahwa kita semua dapat melakukan pekerjaan yang sama dengan yang dikerjakan para rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar. Kita semua memang memiliki potensi untuk ini, namun potensi ini hanya dapat terwujud melalui pertumbuhan. Tanpa pertumbuhan, potensi itu tidak berarti apa-apa. Jika kita ingin bertumbuh, kita perlu masuk ke dalam firman, makan firman, dan melatih roh kita untuk berdoa dan menerima Tuhan setiap hari. Melalui mendapatkan rawatan dari firman Tuhan dan menerima Tuhan, kita akan menerima dirisan dan rawatan yang diperlukan untuk pertumbuhan hayat.

FUNGSI TIAP BAGIAN SESUAI DENGAN KADAR TIAP ANGGOTA

Ayat berikutnya, ayat 16, mewahyukan bahwa Tubuh berasal dari Kepala, ”Dari Dialah seluruh tubuh — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” Ayat ini menunjukkan bahwa Tubuhlah yang menyebabkan pertumbuhan Tubuh dan membangun dirinya sendiri di dalam kasih. Di sini “pelayanan semua bagiannya” dalam bahasa aslinya adalah “suplai yang kaya dari setiap sendi suplai” mengacu kepada orang-orang yang berkarunia khusus, seperti yang disebut dalam ayat 11. Akan tetapi kata “tiap-tiap anggota” mengacu kepada setiap anggota Tubuh. Dalam tiap anggota terdapat suatu fungsi. Ini menunjukkan bahwa setiap anggota adalah anggota pembangunan. Anggota-anggota pembangunan dalam ayat ini adalah mereka yang telah bertumbuh dalam hayat dan yang telah mengembangkan keterampilan dalam fungsi.

PERLUNYA PELATIHAN

Saya sangat berbeban agar kita semua bertumbuh dalam hayat dan menerima pelatihan agar kita dapat berfungsi. Kita di sini mutlak terhadap Tuhan. Sidang-sidang gereja bukan waktu untuk santai atau mencari hiburan. Tuhan memerlukan orang-orang yang ingin bertumbuh, dilatih, dan didisiplin. Maka setiap gereja harus menyisihkan satu malam dalam sepekan untuk mengadakan pelatihan. Jika kita setia kepada Tuhan dalam hal pelatihan, setelah lewat beberapa tahun, semua orang kudus pasti akan berguna dalam tangan-Nya. Semoga kita mau berkata, “Tuhan, kami ingin dilatih. Kami mau mengetahui bagaimana bertumbuh dalam hayat secara riil, dan kami mau mengembangkan semua keterampilan yang diperlukan.”

Kita perlu berlatih bagaimana berbicara, bagaimana memberitakan Injil, dan bagaimana mengajar serta menggembalakan orang lain. Setiap orang Kristen yang normal yang mencapai standar Tuhan seharusnya menjadi seorang utusan, yang berbicara bagi Allah, memberitakan Injil, dan memperhatikan orang lain. Jangan menjadi orang yang hanya beroleh selamat dan hanya menunggu naik surga. Orang-orang yang begitu sebenarnya tidak berbeda banyak dengan orang-orang dunia. Sebaliknya, kita harus menjadi orang yang terus-menerus diutus untuk berbicara bagi Tuhan. Kita harus memberitakan Injil dan menggembalakan mereka yang telah beroleh selamat melalui penginjilan kita. Bila kita demikian, kita akan berbeda baik dengan orang-orang duniawi maupun dengan kebanyakan orang Kristen. Kita harus menjadi orang-orang surgawi yang melaksanakan amanat surgawi.

Jangan menunggu orang lain bangkit menjadi hamba Tuhan dan melakukan pekerjaan ministri. Kita semua harus berfungsi sebagai rasul, nabi, penginjil, gembala dan pengajar. Kita semua harus menjadi dan harus dapat menjadi anggota pembangun. Kita tidak peduli dengan gelar yang hampa atau kedudukan yang kosong. Kita ingin menjadi rasul dan nabi hari ini secara riil. Kita perlu menjadi pemberita sejati dari Injil yang tinggi dan kaya dan menjadi orang yang benar-benar mengerti bagaimana menggembalakan orang-orang beriman yang baru. Semoga kita semua mau datang dan berdoa kepada Tuhan dengan tekun, agar Ia melatih kita menjadi anggota yang sedemikian dalam Tubuh-Nya. Saya tidak dapat beristirahat sebelum melihat semua orang kudus dalam pemulihan Tuhan terlatih sedemikian. Beban kita ialah memperlengkapi orang kudus bagi pekerjaan ministri itu, bagi pembangunan Tubuh Kristus.

MEMBUAT KEPUTUSAN YANG PASTI

Saya percaya Tuhan telah dengan jelas membukakan visi ini kepada kita semua. Sekarang masalah yang penting dan menentukan ialah bagaimana kaum saleh menanggapinya. Saya yakin semua orang di antara kita tulus dan setia terhadap Tuhan. Satu-satunya hal yang ada ialah kita perlu membuat keputusan yang pasti di hadapan-Nya, bahkan bernazar bahwa kita tidak mau tertinggal di belakang, melainkan mau menjadi orang-orang yang menjawab panggilan Tuhan, memuaskan keinginan-Nya, dan menyenangkan Dia. Jika kita tidak untuk ini, hidup kita di bumi akan tidak bermakna.

Mungkin kita tidak bisa berbuat banyak untuk membantu orang-orang Kristen dalam agama hari ini, tetapi melalui rahmat dan anugerah Tuhan kita dapat membantu diri sendiri untuk menjadi anggota pembangun dalam realitas dan dalam praktek. Kita percaya bahwa orang yang terlemah di antara kita pun dapat menjadi satu anggota pembangun. Di satu pihak, orang-orang yang memimpin harus giat berusaha memperlengkapi orang-orang kudus, dan di pihak lain, orang-orang kudus juga harus membuat keputusan yang pasti terhadap Tuhan tentang kesediaan mereka untuk dilatih menjadi anggota pembangun. Jika kita setia dalam kedua aspek ini, Allah akan melakukan banyak hal melampaui doa dan pikiran kita untuk ekonomi-Nya atas Kristus dan gereja.

KRISTUS, PEMIMPIN YANG UNIK

Di antara anggota-anggota pembangun dalam Tubuh Kristus tidak seharusnya ada pangkat. Dalam Matius 23:10 mengatakan, “Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.” Kita semua adalah saudara di dalam Tuhan, dan tidak seharusnya ada pemimpin di antara kita. Firman Tuhan jelas mengatakan, tidak seorang pun di antara kita boleh disebut pemimpin, sebab Dia sendirilah Pemimpin kita yang unik.

MELAYANI DAN MEMIMPIN

Sangat berarti sekali dalam 1Korintus 12:28 Paulus menempatkan “melayani” (membantu) di depan “memimpin” (mengatur). Melayani ditujukan kepada pelayanan para diaken, sedang memimpin ditujukan kepada fungsi para penatua. Dalam ayat ini Paulus sengaja menempatkan pelayanan diaken di muka fungsi penatua. Ia berbuat demikian mungkin untuk memberi kesan kepada orang-orang Korintus tentang fakta bahwa dalam gereja tidak seharusnya ada konsepsi pangkat. Kita tidak boleh menganggap kepemimpinan para penatua sebagai yang lebih tinggi daripada pelayanan diaken.

PENGURUS ANUGERAH ALLAH

Kita telah nampak dalam Efesus 3 Paulus mengatakan bahwa ia telah menerima kepengurusan anugerah Allah. Ia mengatakan hal ini dengan tujuan untuk membantu orang kudus memahami bahwa mereka semua juga menjadi pengurus anugerah Allah. Pemikiran serupa itu terdapat dalam 1Petrus 4:10, yang mengatakan, “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengelola yang baik dari anugerah Allah.” Jadi, semua orang kudus, tidak hanya para rasul saja, harus menjadi pengurus. Para penatua tidak boleh menempatkan diri sendiri dalam kategori yang istimewa, melainkan harus menganggap diri sendiri sebagai para pengurus, seperti halnya semua orang kudus.

BUKAN MEMERINTAH GEREJA

MELAINKAN MENJADI TELADAN

Dalam 1Petrus 5:3, Petrus menganjuri para penatua agar tidak memerintah gereja, seolah gereja adalah milik pribadi mereka. Gereja adalah Tubuh Kristus, bukan harta kekayaan pribadi para penatua. Maka penatua tidak seharusnya menganggap gereja sebagai miliknya sendiri. Namun di tempat tertentu saya tahu ada penatua yang mempunyai sikap demikian. Mereka menaruh gereja dalam “saku” mereka, seolah kepunyaan mereka, dan mereka bertingkah laku sebagai “majikan” gereja. Sikap demikian sama sekali keliru. Para penatua wajib ingat, mereka adalah pengurus di antara sekelompok pengurus.

Selaku pengurus, para penatua harus memberi satu teladan untuk diikuti semua orang kudus. Dalam membaca firman, berdoa, mempersembahkan diri kepada Tuhan, pertumbuhan hayat, pelayanan gereja yang riil, dan semua hal lainnya, mereka seharusnya menjadi teladan. Penatua bukan raja atau tuan, mereka adalah budak dan pelayan; mereka juga pengurus anugerah Allah. Sebagai pengurus yang demikian, mereka harus menjadi contoh bagi orang kudus dalam menggembala, mengajar, dan menginjil. Jika kita semua jelas akan hal ini, tidak mungkin timbul problem di antara kita mengenai kepemimpinan.

SALING TUNDUK

Ada sementara orang bertanya kepada saya, apakah mereka harus tunduk atau patuh kepada para penatua dalam gereja. Tentu saja orang kudus harus tunduk kepada penatua. Dalam 1Petrus 5:5 Petrus berkata, “Demikian juga, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua.” Namun dalam ayat yang sama Petrus selanjutnya berkata, ”Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain.” Ini menunjukkan bahwa tidak saja orang muda harus tunduk kepada orang tua, tetapi yang tua pun harus tunduk kepada yang muda. Baik yang tua maupun yang muda perlu merendahkan diri. Yang muda agak sulit untuk tunduk kepada yang tua, tetapi yang tua lebih sulit lagi untuk tunduk kepada yang muda. Walau demikian, dalam kehidupan gereja seharusnya ada saling tunduk yang sedemikian.

MENGENAI MASALAH WEWENANG

Ada orang lain yang bertanya kepada saya, apakah para penatua memiliki wewenang. Pertanyaan ini timbul dari konsepsi alamiah tentang pangkat. Jika kita tidak berada di bawah pengaruh konsepsi alamiah itu, kita tidak akan mengajukan pertanyaan ini. Saya ulangi, dalam gereja tidak ada masalah pangkat. Sebaliknya, kita semua adalah pengurus anugerah Allah, dan kita merendahkan diri sendiri seorang kepada yang lain. Jika Tuhan telah menempatkan Anda sebagai penatua, janganlah sombong. Jangan mengira diri sendiri lebih tinggi daripada orang lain, dan jangan mencoba menguasai gereja seolah gereja itu milik Anda. Sebaliknya, sebagai pemuka hendaklah Anda memberi teladan bagi orang kudus. Ketika orang kudus melihat teladan itu didirikan bagi mereka oleh para penatua, mereka mungkin akan berkata, “Tuhan, syukur kepada-Mu atas pemberian teladan yang baik ini. Kami ingin meneladani mereka dalam hal berdoa, membaca firman, menginjil, mengajar dan menggembalakan orang kudus.” Melalui memberi contoh dan menuruti contoh, maka pada akhirnya semua akan bersama-sama melayani sebagai pengurus anugerah Allah. Inilah kehidupan gereja yang wajar, tempat yang tidak ada organisasi, pangkat, hierarki, maupun sistem kependetaan.

Agar gereja maju ke depan secara wajar, perlu ada beberapa saudara yang memperhatikan urusan administrasi. Tetapi itu tidak membuat mereka menjadi pejabat tinggi, dan orang kudus lainnya menjadi bawahan mereka. Konsepsi alamiah yang demikian harus dibuang sama sekali. Konsepsi ini tidak ada dalam Kerajaan Allah. Dalam kehidupan gereja, yaitu dalam realitas Kerajaan Allah hari ini, kita memiliki satu Raja, yaitu Tuhan Yesus Kristus, dan kita semua adalah umat milik-Nya.